Anda di halaman 1dari 64

Sistem pencernaan merupakan suatu tatanan yg terbentuk dari adanya hubungan antara bagian yg tergabung dalam saluran pencernaan

& organ asesoris yg bertujuan untuk menyediakan nutrien, elektrolit dan air secara terus menerus bagi kebutuhan tubuh Sistem ini tdd dari saluran cerna (alimentary canal) & organ-organ tambahan (asesoris)

1. 2. 3. 4. 5.

Ingesti : masuknya makanan (bolus) ke dalam saluran pencernaan Sekresi : pengeluaran sekret pencernaan untuk membantu proses digesti, dalam hal ini adalah enzim pencernaan Digesti : penghancuran bolus baik secara mekanik dan kimia menjadi bentuk yg siap diabsorsi oleh villi-villi intestine Absorbsi : penyerapan oleh villi-villi intestine untuk selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi Eliminasi : pembuangan zat-zat sisa

Mulut adalah rongga yg diikat secara eksternal oleh bibir & pipi dan mengarah ke dalam faring Bagian atasnya di bentuk oleh palatum durum & mole, 2/3 bagian anterior lidah mengisi dasar mulut Organ-organ yg terlibat dalam proses pencernaan di rongga mulut : lidah, gigi, kelenjar saliva Daerah pengecap (taste buds) tersebar hampir diseluruh area lidah

Faring adalah rongga dibawah tenggorokan yg merupakan saluran bersama untuk sistem pencernaan & sistem pernafasan Didalam dinding sisi faring terdapat tonsil (organ limfoid yg merupakan bagian dari tim pertahanan tubuh) Motilitas yg berkaitan dengan faring & esofagus adalah menelan (deglution), yg merupakan keseluruhan proses pemindahan makanan dari mulut melalui

Esofagus adalah kanal muskular yg dipersarafi oleh saraf vagus, dengan panjang 25 cm, membentang dari faring ke lambung Terletak mulai dari vertebra servikalis ke-6 & turun melalui mediastinum didepan columna vertebra & dibelakang trachea 2/3 bagian atas adalah otot lurik volunter, 1/3 bagian bawah otot polos involunter Fungsi : sbg saluran sederhana yg mengantarkan makanan dari faring ke dalam lambung

Lambung adalah bagian saluran cerna yg paling lebar & terletak diantara ujung esofagus & pangkal usus halus Terletak dikuadran kiri atas abdomen, panjang 25 cm, lebar 10 cm Terdiri dari 4 bagian : kardia, fundus, korpus & pilorus Dilengkapi dengan 2 sfingter : sfingter kardia (terletak dekat dengan lubang kardia) & sfingter pilorus (dekat dengan pilorus)

Kapasitas lambung pada orang dewasa 1500 ml Pada lapisan mukosa lambung terdapat lipatan-lipatan yg disebut Rugae yg meregang pada saat terjadi penambahan volume /isi lambung Mukosa lambung juga mengandung banyak kelenjar yg mensekresi enzim-enzim pencernaan (getah lambung, yg membuat makanan lebih cair & asam) Kandungan getah lambung : air, garam mineral, lendir, asam hidrochlorida (Hcl), pepsinogen, renin Makanan tetap dalam lambung selama - 3 jam atau lebih, sesuai dengan sifat makanan & muskularitas lambung dan diperlukan 15-30 menit diujung kardia lambung yg bertindak sebagai reservoar

Manfaat asam lambung : Fungsi lambung : Memberi reaksi asamMengaduk makanan, yg diperlukan oleh memecahnya lebih enzim lambung lanjut & mencampurnya Membunuh bakteri dengan sekresi dari Mengontrol pilorus kelenjar lambung Menghentikan kerjaMelanjutkan ptialin pencernaan makanan Mengubah pepsinogen dengan bantuan getah menjadi pepsin lambung Mensekresi faktor intrinsik

Usus kecil adl saluran yg membentang dari sfingter pilorus ke sambungannya dengan usus besar pada katup illeo-seikum Panjang 6 m, berada ditengah & bagian bawah rongga abdomen, biasanya dalam kurva usus besar Tdd 3 bagian : duodenum, jejenum & illeum Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorbsi makanan Membran mukosa usus kecil mempunyai penampilan beludru akibat adanya tonjolan seperti rambut yg disebut villi Setiap villi mengandung pembuluh limfe (lakteal) & pembuluh darah

Merupakan bagian usus yg paling lebar & kaku dengan panjang 25 cm Duodenum berbentuk huruf C Duktus-duktus kandung empedu & hati serta pankreas masuk ke apek medial duodenum melalui ampula hepato-pankreatik, yg dilengkapi otot sfingter

oddi

Jejenum adalah nama yg diberikan untuk 2/5 bagian atas usus kecil, 3/5 bagian bawah adalah illeum (panjang jejenum = 1,5 -2 m, panjang illeum = 2,5 4 m) Keduanya dihubungkan ke dinding abdomen posterior oleh lipatan peritoneum yg disebut mesentrik Peritoneum merupakan membran serosa, pada pria merupakan sakus tertutup yg melapisi abdomen. Pada wanita ujung bebas tuba uterina terbuka ke rongga peritoneum

Usus besar membentang dari ujung illeum sampai ke anus dengan panjang 1,5 m Bagian-bagian usus besar : appendiks vermiformis, sekum, k.asenden, k. transversum, k. desenden, k. sigmoid, rektum & kanal anal yg dilengkapi sfingter anus interna yg melingkari bag atas anus & sfingter anus eksterna yg mengelilingi kanal anus untuk menutup kanal anus lebih kuat secara volunter Pertemuan antara sekum & illeum terdapat katup illeo-sekum, berfungsi mencegah isi sekum masuk kembali ke illeum Terdapat refleks gastro-illeum, yaitu dengan masuknya makanan ke lambung, kontraksi duodenum dimulai diikuti pasase isi illeum ke sekum

Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

Pankreas Pankreas adalah kelenjar berwarna merah muda keabuan dengan panjang 12 15 cm & secara transversal membentang pada dinding abdomen posterior dibelakang abdomen Fungsi : sbg organ eksokrin yg mensekresi getah pankreas yg mengandung enzim amilase, lipase & tripsinogen untuk membantu pencernaan Hati Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh, terletak pada kuadran kanan atas abdomen, dgn berat 15002000 g Fungsi : fungsi metabolik, penyimpanan, sekresi Kandung empedu Kandung empedu merupakan kantung berbentuk buah pear, terletak dibawah lobus kanan hati Fungsi : menyimpan, mengkonsentrasikan empedu, serta berkontraksi untuk mensekresi empedu

(Arif Mansjoer, 2000) Thyfus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, dan gangguan kesadaran. (Jan Tambayong, 2002) Thyfus Abdominalis merupakan penyakit infeksi bakteri yang hebat yang diawali di selaput lendir usus dan jika tidak segera diobati secara progresif dapat menyerbu jaringan diseluruh tubuh. (Rampengan,1990) Thypus Abdominalis adalah suatu penyakit infeksi pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Ngastiyah, 2002) Thyfus Abdominalis (demam typoid, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran.

Penyebab penyakit ini adalah salmonella typhosa yang mempunyai ciri- ciri sebagai berikut : Basil gram negatif yang begerak dengan bulu getar dan tidak berspora. Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 41C (optimum 37C) dan pH pertumbuhan 6 8. Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen yaitu, antigen O (somatiik yang terdiri zat kompleks lipopolisakarida), antigen H (flagella), dan antigen Vi (kapsul). Dalam serum pasien terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. (Nursalam dkk, 2005)

Mingg u1
Keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat. Sifat demam adalah meningkat perlahanlahan dan terutama pada sore hingga malam hari.

Mingg u2
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia relatif (bradikardia relatif adalah peningkatan suhu 1 C tidak diikuti peningkatan denyut nadi 8 kali per menit), lidah yang berselaput (kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delerium, atau psikosis. (Ngastiyah,2005).

Mingg u3
Suhu tubuh mulai turun sampai normal Bisa berhasil diobati tanpa komplikasi Bisa terjadi komplikasi perdarahan dan perforasi.

Mingg u4
Stadium penyembuh an. Dapat dijumpai pneumonia

1.

2.

3. 4.

Minggu pertama, disebut stadium incremasi, yaitu masa menaiknya suhu badan. Pada minggu ini keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing, obstipasi/diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan kadang-kadang epistaksis. Pada akhir minggu pertama biasa timbul bintik-bintik merah sebesar jarum pentul, bila ditekan hilang. Biasanya timbul pada dada bagian bawah, daerah abdomen bagian atas dan menjalar kedaerah perut, bintik merah ini disebut Roseola atau rosesport, bintik ini belum diketahui jelas sebabnya dan biasanya roseola di Indonesia jarang ditemukan. Minggu kedua disebut stadium acme yaitu masa memuncaknya penyakit atau panas menetap yang disebut febris kontinue. Pada stadium ini suhu berkisar antara 4041C. Gejala lainnya seperti nadi relatif bradikardi, lidah yang khas kotor ditengah-tengah, tepi dan ujung merah, lidah bila dikeluarkan tremor. Timbul hepatomigali, splenomegali dan meteorismus. Gangguan kesadaran yaitu klien gelisah, apatis, somnolen, delirium atau psikose, stupor, koma. Minggu ketiga disebut stadium impihibov atau disebut masa sangsi. Biasanya terjadi penurunan suhu yang krisis dan terjadi kenaikan nadi, bila ditemukan gejala ini harus hati-hati menandakan adanya timbul komplikasi seperti perdarahan. Minggu ke empat disebut stadium deternasi yaitu masa penurunan panas suhu berangsurangsur turun, nafsu makan mulai ada, badan merasa enak. Pada akhir minggu ke empat, yang disebut rekofalesent yaitu yang disebut masa penyembuhan. Pada minggu ini keadaan umum pasien baik, badan sudah segar dan kuat, nafsu makan baik.

KOMPLIKASI INTRA INTESTINE


Pada usus halus. Umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering fatal : Perdarahan usus. Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi melena dapat disertai nyeri perut dengan tanda- tanda renjatan. Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritonium, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara di antara hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen yang di buat dalam keadaan tegak . Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang.

KOMPLIKASI EXTRA INTESTINE


Komplikasi kardiovaskuler Kegagalan sirkulasi perifer (Renjatan Sepsis), miokarditis-trombosis dan tromboflebitis. Komplikasi darah Anemia hemolitik, trombositopenia dan atau disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan sindrom uremia hemolitik. Komplikasi paru Pneumonia, empiema dan pleuritis Komplikasi hepar dan kandung empedu Hepatitis dan kolesistis Komplikasi ginjal Glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis. Komplikasi tulang Osteomilitis, periostitis, spondilitis, dan artritis. Komplikasi neuropsikiatrik Delirium, meningismus, meningitis, poli neurotis perifer, sindrom Guillain-Barre, psikosis dan sindrom katatoni (M. Sjaifoellah Noer)

Umumnya prognosis typhus abdominalis pada anak adalah baik, asal klien cepat berobat. Mortalitas pada klien yang dirawat adalah 6%. Prognosis menjadi tidak baik bila terdapat gambaran klinik yang berat seperti: Demam tinggi (hipertireksia) atau febris continue Kesadaran sangat menurun Terdapat komplikasi yang berat misalnya dehidrasi dan asidosis, perforasi.

Kuman salmonella masuk bersama makanan/minuman yang terkontaminasi. Setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limpa. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit RES dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus. Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin. Endotoksin ini merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya zat pirogen

yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam. Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines yang menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem, instabilitas vaskuler, depresi sumsum tulang dan panas. Infiltrasi jaringan oleh makrofag yang mengandung eritrosit, kuman, limfosist sudah berdegenerasi yang dikenal sebagai tifoid sel. Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam usus halus, jaringan limfe mesenterium, limpa, hati, sumsum tulang dan organ yang terinfeksi. Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yaitu hiperplasi (minggu I), nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III). Pada dinding ileum terjadi ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan atau perforasi intestinal. Bila sembuh tanpa adanya pembentukan jaringan parut. (Arif Mansjoer, 2001).

Nn. MW MRS dengan keluhan panas tinggi naik turun, susah makan dan nyeri tenggorokan. Dari pemeriksaan fisik di dapatkan S=38,5C, N=84x/menit, TD=120/80 mmHg, RR=32x/menit, adanya nyeri tekan perut sebelah kanan bawah, lidah kotor dan di dapatkan dari pemeriksaan darah lengkap diperoleh widal 1/200.

PENGKAJIAN
I. Tanggal MRS : 26 Maret 2012 Tanggal Pengkajian : 26 Maret 2012 Jam Pengkajian : 10.00 Data Demografi a) Identitas Klien Nama : Nn. MW Umur : 20 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Pekerjaan : Karyawan hotel Status perkawinan : Belum kawin Pendidikan : SMA Alamat : Paiton, Probolinggo Ruang perawatan : Ruang flamboyan b) Identitas Penanggung jawab Nama : Ny. R Pekerjaan : Ibu rumah tangga Pendidikan : SMP Alamat : Paiton, probolinggo Hubungan dengan klien : Ibu Jam Masuk : 09.30 No. RM : 138414

II. Riwayat Kesehatan a. Keluhan Utama : Klien mengeluh panas b. Riwayat Penyakit Sekarang : Klien mengatakan mengalami panas tinggi naik turun sejak 5 hari yang lalu. Panas turun pada pagi hari dan meningkat saat sore dan malam hari. Kemudian klien beli obat di apotek terdekat. Setelah dua hari pasien masih demam disertai nyeri tenggorokan, sakit perut, mual muntah setiap kali makan dan tidak nafsu makan. Kemudian oleh ibunya klien langsung di bawa ke UGD RSNU kamis, 29 Maret 2012 jam 09.30 WIB.

c. Riwayat Penyakit Dahulu :

Klien mengatakan tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. Penyakit yang pernah dialami klien adalah sakit biasa seperti batuk, pilek dan demam. Biasanya hanya di belikan obat dari apotek dan sembuh. Klien tidak pernah dirawat di RS sebelumnya. d. Riwayat Penyakit Keluarga :
Klien mengatakan bahwa anggota keluarganya tidak ada yang pernah menderita penyakit seperti yang dialami Klien.

III.

Observasi dan Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum :
Kx tampak lemah, bibir kering dan pecah-pecah. Kx tampak berkeringat banyak. Kesadaran : Apatis, E=3 V=5 M=5 TTV : S : 38,5C N : 84x/menit

TD : 120/80 mmHg
RR : 32 x/menit Masalah Keperawatan :

Gg. Keseimbangan suhu tubuh (Hiperthermi)


Pola napas tidak efektif

- Body System

B1 (Breathing) Keluhan : nyeri (-), sesak (+) Batuk : produktif (-), nonproduktif B3 (Brain) (-) GCS : apatis (E=3 V=5 M=5) Bentuk dada : normal Keluhan pusing : ya Pola nafas : 32x/menit Pupil : isokor Irama nafas : tidak teratur Sclera/Konjunctiva : normal Suara nafas : vesikuler Gangguan pandangan : tidak Alat bantu napas : tidak ada Gangguan pendengaran : tidak Masalah Keperawatan : Pola napas Gangguan penciuman : tidak tidak efektif Masalah Keperawatan : B2 (Blood) Keluhan nyeri dada : tidak ada Irama jantung : reguler S1/S2 tunggal : ya Suara jantung : normal - Resiko Cidera

CRT : 2 detik Akral : panas Masalah Keparawatan : tidak ada

BB turun (dari 50kg menjadi 48,5kg) B4 (Bladder) Masalah Keperawatan : Kebersihan : bersih - Perubahan nutrisi kurang dari keb. Produksi urine : 1500 ml/hari Tubuh Kandung kemih : nyeri tekan (-), Membesar (-) B6 (Bone+Integumen) Intake cairan oral : 1500cc/hari Pergerakan sendi : bebas Alat bantu kateter : tidak Kekuatan otot : 4-4, 4-4 Masalah Keperawatan : tidak ada Kelainan ekstremitas : tidak Kelainan tulang belakang : tidak B5 (Bowel) Fraktur : tidak Mukosa : kering Tenggorokan : tidak ada pembesaran Traksi / spalk /gips : tidak tonsil, nyeri saat menelan Kulit : warna sawo matang Lidah : kotor Turgor : buruk Abdomen : nyeri tekan diMasalah Keperawatan : hipokondrium kanan (+) - Intoleransi aktifitas Peristaltik : 29 x/menit BAB : 3x/hari, konsistensi cair Porsi makan : habis porsi Frekuensi : 2x/hari

IV. Pemeriksaan Penunjang


Parameter Hemoglobin Leukosit Diff count Limfosit Monosit

Pemeriksaan darah perifer


Hasil/Satuan 13,8 g/dl 11.100/l Nilai Normal 12-14 4000 11.000 Interpretasi Normal Tinggi

46% 7%

20 40 28

Tinggi Normal

Trombosit

179.000/ l

150.000 400.000

Normal

Uji widal Widal O = 1/200 Widal H = 1/160

DATA

ETIOLOGI

PROBLEM

Ds : Klien mengatakan badannya terasa panas.

Bakteremia
Kuman mengeluarkan

Do: endotoxin Keadaan umum : Bibir tampak kering dan pecah-pecah, klien tampak Merangsang sintesa dan berkeringat banyak. pelepasan zat pirogen TTV : oleh leukosit S :38,5 0C Pemeriksaan fisik : Menstimulasi pusat Akral panas Pemeriksaan darah rutin: termoregulator Leukosit 11.100/l Limfosit 46 % Peningkatan suhu tubuh Uji widal Widal O = 1/200 Gg. Keseimbangan suhu Widal H = 1/160

Gg. Keseimbangan suhu tubuh (hiperthermi)

tubuh (Hiperthermi)

DATA

ETIOLOGI

PROBLEM

Ds : - Klien mengatakan mual dan muntah setiap kali makan - Klien mengatakan tidak nafsu makan
Do: - Keadaan umum Klien tampak lemah - Pemeriksaan fisik Lidah kotor Hanya mampu menghabiskan porsi makan Pola makan 2x sehari BB turun dari 50 kg menjadi 47 kg

Akumulasi sel tifoid di ileum terminal sbg tempat infeksi utama


HCl meningkat Mual, muntah Anoreksia

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gg. Keseimbangan suhu tubuh (hiperthermi) b.d proses peradangan. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh b.d mual muntah.

Intervensi keperawatan 1
HARI/ TGL
Senin, 26 Maret 2012

NO.DIAGNOSA
Diagnosa 1 Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x8 jam suhu tubuh dalam batas normal

INTERVENSI

RASIONAL
1. Agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul. Membantu menurunkan suhu tubuh. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. Pakaian yang tipis akan lebih mudah untuk menyerap keringat, menghilangkan hambatan pengeluaran panas lewat udara. Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. Antipiretik berfungsi langsung ke hipotalamus untuk menurunkan panas dan antibiotik dapat menghambat proses infeksi

Kriteria hasil : - Klien mengatakan badan sudah tidak panas lagi - Suhu aksila oC 36,5-37,5 - Klien minum minimal 8 gelas/hari - Bibir klien tidak kering lagi dan tidak pecah - Akral hangat

1. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh. 2. Lakukan kompres hangat. 3. Beri minum yang banyak 2500cc/hari. 4. Anjurkan klien untuk memakai pakaian tipis dan menyerap keringat. 5. Observasi suhu tiap 4 jam sekali. 6. Kolaborasi : berikan paracetamol kalau perlu dan ceftriaxone 400 Mg pada jam 10.30, 18.30, 02.30

2.

3.

4.

5. 6.

Intervensi keperawatan 2
HARI /TGL NO.DIAGNOSA INTERVENSI
1. 2. 3. Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi. Kaji pola dan nafsu makan klien Anjurkan klien untuk menghabiskan 1 porsi makanan dengan cara di makan sedikit-sedikit dan diberi jeda. Anjurkan klien untuk melakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan Dorong tirah baring dan atau pembatasan aktivitas selama fase sakit akut Kolaborasi : Beri nutrisi sesuai diit bubur saring + tinggi kalori tinggi protein. Kolaborasi : Berikan antasida 3x1 dan vit. B komplek 3x1. 1.

RASIONAL
Meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat. Mengetahui pola dan kebiasaan makan klien dapat menentukan intervensi selanjutnya Menghindari refluks makanan. Memberi rasa segar dan bertujuan untuk menjaga kebersihan sehingga timbul keinginan untuk makan Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi. Meningkatkan asupan nutrisi dan mencegah perforasi usus Antasida mengurangi rasa mual dan muntah. Vit. B komplek memenuhi kebutuhan vitamin dan meningkatkan nafsu makan.

Senin, 26 Maret 2012

Diagnosa 2 Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 3x24 jam kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil : - Klien mengatakan nafsu makan meningkat dan tidak mual - Mampu menghabiskan porsi makan yang di sediakan - Tidak tampak lemah - BB meningkat

2.

4. 5. 6. 7.

3. 4.

5.

6. 7.

Implementasi Keperawatan 1
HARI/T GL NO. DX JAM IMPLEMENTASI 1. Memberikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh. 2. Lakukan kompres hangat. 3. Memberikan paracetamol dan ceftriaxone 400 Mg 4. Anjurkan klien untuk memakai pakaian tipis dan menyerap keringat. 5. Memberi minum yang banyak 2500cc/hari. 6. Observasi suhu tiap 4 jam sekali. TTD Senin, 26 Dx 1 Maret 2012

10.15 10.30 11.15 14.00

Implementasi keperawatan 2
HARI/ TGL
Senin, 26 Maret 2012

NO. DX Dx 2

JAM

IMPLEMENTASI
1. Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi. 2. Mengkaji pola dan nafsu makan klien 3. Menganjurkan klien untuk menghabiskan 1 porsi makanan dengan cara di makan sedikit-sedikit dan diberi jeda. 4. Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan 5. Mendorong tirah baring dan atau pembatasan aktivitas selama fase sakit akut 6. Memberi nutrisi sesuai diit bubur saring + tinggi kalori tinggi protein. 7. Memberikan antasida 3x1 dan vit. B komplek 3x1.

TTD

10.30

12.00 12.30

18.30

Evaluasi Keperawatan 1
HARI/ TGL NO. DX EVALUASI Senin/2 Diagnosa 6 Maret 1 2012

S : Klien mengatakan badannya masih panas O: - Suhu aksila 37,8oC - Klien minum 8 gelas/hari - Bibir klien masih tampak kering dan pecahpecah - Akral masih teraba panas A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi no. 3, 4, 5, 6

Evaluasi keperawatan 2
HARI/ TGL Kamis, 29 Maret 2012 NO. DX EVALUASI Diagnosa 2 S : Klien mengatakan nafsu makan meningkat dan

tidak mual lagi O: - Klien menghabiskan porsi makan yang di sediakan - Klien tidak tampak lemah - BB 49,5 kg A : Masalah teratasi P : Hentikan intervensi

SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok Bahasan : Thypus Abdominalis Sub Pokok Bahasan : Perawatan thypus abdominalis Waktu : Pkl 07.30 08.20 Hari/Tanggal : Jumat, 30 Maret 2012 Tempat : Aula RSNU Tuban Sasaran : Klien dan keluarga di RSNU Tuban Penyuluh : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4 ----------------------------------------------------------------------------------------------A. Tujuan Instruksional 1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat penyuluhan tentang thypus abdominalis selama 30 menit, diharapkan peserta mengerti tentang perawatan pada pasien thypus abdominalis.

2.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan peserta mampu : Menjelaskan tentang pengertian thypus abdominalis Menjelaskan tentang penyebab thypus abdominalis Menjelaskan cara penularan thypus abdominalis Menyebutkan tanda dan gejala thypus abdominalis Menyebutkan pencegahan thypus abdominalis Menjelaskan perawatan di rumah untuk pasien thypoid abdominalis

B. Metode belajar
Ceramah Tanya jawab Brain storming

C. Alat dan Media


Laptop dan LCD Leaflet Flipchart

D. Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Respon Peserta Waktu

1.

Pembukaan -Perkenalan/salam -Penyampaian Tujuan

-Membalas salam -Memperhatikan

5 Menit

2.

a) Penyampaian materi, tentang: Pengertian, - Memperhatikan 30 menit penyebab, cara penularan, tanda gejala, penjelasan dan pencegahan, dan cara perawatan di rumah demonstrasi dengan pada pasien thypoid abdominalis. cermat b) Pemberian kesempatan pada peserta - Menanyakan hal yang penyuluhan untuk bertanya. belum jelas c) Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan - Memperhatikan yang berkaitan dengan materi. jawaban penyuluh Penutup -Tanya jawab (evaluasi) -Menyimpulkan hasil materi -Mengakhiri kegiatan -Mengucapkan salam -Membagikan leaflet Menjawab salam 10 Menit

3.

E. Pengorganisasian dan Job Description


Pembimbing : 1. 2. Moderator : Job Description : - Membuka dan menutup kegiatan - Membuat susunan acara dengan jelas Penyaji : Job Description : - Menyampaikan materi penyuluhan

Observer : Job Description : -Mengobservasi jalannya kegiatan Fasilitator : 1. 2. 3. Job Description : -Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan -Memotivasi audience untuk bertanya -Menjawab pertanyaan audience

F. Kriteria Evaluasi
Evaluasi struktur Klien dan keluarga di RSNU Tuban Penyelenggaraan penyuluhan di aula RSNU Tuban. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh Mahasiswa STIKES NU semester 4. Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan Penyuluhan. Evaluasi proses Peserta antusias terhadap materi penyuluhan. Peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. Peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing. Evaluasi hasil Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian thypus abdominalis Peserta mampu menjelaskan tentang penyebab thypus abdominalis Peserta mampu menjelaskan cara penularan thypus abdominalis Peserta mampu menyebutkan tanda dan gejala thypus abdominalis Peserta mampu menyebutkan pencegahan thypus abdominalis Peserta mampu menjelaskan perawatan di rumah untuk pasien thypoid abdominalis

Pengertian Penyakit Thypus Abdominalus adalah penyakit infeksi akut pada usus halus. Penyebab Bakteri Sallmonela Thypose yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan (mulut).
Cara penularan Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses (tinja).

Minggu 1 Demam Sakit kepala Nyeri otot Tidak nafsu makan Mual dan muntah Diare dan obstipasi Minggu 2 Demam Denyut nadi menurun Lidah tampak kotor (keputih-putihan) Hati dan lympha membesar Gangguan kesadaran

Tanda dan gejala

PENCEGAHAn
Penyediaan air minum yang memenuhi Pembuangan kotoran manusia (BAK dan BAB) yang hygiene Pemberantasan lalat Pengawasan terhadap rumahrumah dan penjual makanan Imunisasi Menjaga kebersihan diri terutama cuci tangan sebelum makan Awasi makanan dan minuman, jangan sampai terkontaminasi oleh bakteri

Perawatan di rumah
Menghindarkan diri sementara dari anggota keluarga yang lain untuk mencegah penularan Istirahat (bedrest total) Banyak minum air putih, dikompres dengan air hangat, dan jangan menutupinya dengan selimut agar penguapan suhu lebih lancar. Berikan makanan yang mengandung banyak cairan dan bergizi seperti sop dan sari buah, juga makanan lunak, seperti bubur. Pembuangan tinja dan air kencing harus dipastikan dibuang ke dalam WC dan disiram dengan air sebanyak-banyaknya. WC dan sekitarnya pun harus bersih agar tidak ada lalat yang akan membawa kuman ke mana-mana. Rendam pakaian si sakit dengan desinfektan sebelum dicuci, dan jangan mencampurnya dengan pakaian yang lain.

1. 2.

3. 4.

5.

Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta. Perawatan Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah, anoreksia dan lain-lain. Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus. Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi dekubitus. Diet makanan yang mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas. Pengobatan Kloramfenikol Kotrimoksasol Bila terjadi ikterus dan hepatomegali: selain kloramfenikkol, diterapi dengan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis. Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila terjadi demam hidrasi dan asidosis diberikan cairan secara intravena dan sebagainya. (Ngastiyah, 1997).