Anda di halaman 1dari 40

DERMATITIS KONTAK IRITAN

Joses Terabunan Alvela 0710100 Perceptor: dr.Prawindra I.,Sp.KK.,M.Kes

Bagian SMF Penyakit Kulit-Kelamin Rs.Imanuel-Fk.Maranatha 2012

identitas
Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pendidikan Pekerjaan Kawin Agama :Ny.T.s : 44 tahun :perempuan :Permata kopo blok c :SMA :Ibu rumah tangga :kawin :islam

Anamnesis
Keluhan utama beruntus-beruntus kemerahan dan keropeng yang terasa gatal, perih,panas di kedua lengan bawah dan punggung tangan

sejak 3 hari yang lalu pasien mengeluh timbul beruntus-beruntus kecil yang terasa gatal, pedih, dan panas di lengan bawah nya serta punggung tangan, kemudian keluhan beruntus-beruntus ini makin lama makin bertambah banyak, lesi dirasakan makin bertambah keluhannya jika terkena air, keringat, sabun Pada anamnesis lebih lanjut didapatkan bahwa kurang lebih 1 bulan yang lalu timbul beruntusberuntus di punggung tangan kanannya, beruntus terasa gatal, karena keluhan gatal itu makan pasien sering menggaruknya sehingga sekarang timbul keropeng di punggung tangan kanannya itu.Pasien mengatakan ia selalu mencuci baju dengan menggunakan tangan, keluhan beruntus-beruntus yang gatal, perih dan panas ini timbul setelah ia terkena bahan pencuci baju yaitu detergen.Pasien menyangkal sering bergonta ganti sabun mandi maupun sabun cuci tangan

Pasien tidak pernah merasakan keluhan seperti ini ketika ia mengenakan accesories di tangan berupa jam, gelang, dsb nya.Pasien tidak memiliki binatang peliharaan di rumah dan pasien juga menyangkal adanya kontak dengan binatang. Pasien sebelumnya juga tidak melakukan aktivitas seperti berkebun,pasien mengatakan ia mandi 2x sehari, selalu mencuci tangan setelah melakukan aktivitas yang membuat tangannya kotor.Pasien juga tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu yang lama dan jamu-jamuan.

Riwayat penyakit dahulu: tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya Riwayat penyakit keluarga:tidak ada anggota keluarga yang sedang sakit kulit/gatalgatal Riwayat alergi:pasien menyangkal adanya alergi obat,makanan.Pasien hanya mengatakan ia alergi terhadap debu Usaha berobat: Pasien telah membeli salep di warung berupa Chloramfecort yang dipake 1x sehari namun tak ada perubahan malah bertambah buruk

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum:
Kesadaran Kesan sakit Pernapasan Tekanan darah Nadi Suhu Status gizi TB BB :compos mentis :sakit ringan :22x/menit :110/80 MmHg :80x/menit :36.2oc :baik :160 cm :65 kg

Status generalis
Kepala
Bentuk dan ukuran simetris Konjungtiva anemis-/ Sklera ikterik -/ Bentuk dan pergerakan simetris Pulmo: VBS ka=ki, rh-/-, wh -/ Cor: BJM reguler, murmur perut datar,soepel,BU +, tymphani, NT-,NL-, Hepar dan lien TTM Akral hangat, CRT<2

Thoraks

Abdomen

Ekstremitas

Status dermatologikus
Distribusi Lokasi Lesi
a) b) c) d) e) f) g) Jumlah Sifat Permukaan Ukuran Susunan Batas Lain-lain : Multiple : kering : menimbul : Milier-2.5x1 cm : diskret : tegas :-

: Regional :a/r kedua lengan bawah dan pungung tangan

Efloresensi

:Papul eritem, crusta

Laboratorium/Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan dengan menggunakan KOH 10% dari bahan pemeriksaan apusan kerokan kulit pada punggung tangan kanan didapatkan hasil negatif

Resume
Pasien seorang wanita berumur 44 tahun datang dengan keluhan papul eritem dan crusta yang terasa gatal, panas dan perih pada kedua lengan bawah dan punggung tangan sejak 3 hari yang lalu Pada anamnesis lebih lanjut didapatkan: papul eritem dan crusta yang terasa pruritus +, panas +, perih +, kontak dengan bahan iritan +,. Hygiene tangan baik. Kontak dengan binatang dan tanaman -, kontak dengan accesories di tangan Rpd:DM-, Rpk:-, R.alergi: debu +, usaha berobat +

Pada pemeriksaan fisik dan status generalis dalam batas normal Status generalis didapatkan distribusi regional a/r kedua lengan bawah dan punggung tangan lesi:jumlah multiple, sifat kering, permukaan menimbul, ukuran milier2.5x1cm, bentuk tidak teratur, susunan diskret, batas tidak tegas, efloresensi papul eritem,crusta Pemeriksaan penunjang didapatkan hasil negatif pada pemeriksaan KOH 10% dengan Bahan pemeriksaan apusan kerokan kulit

DIAGNOSIS BANDING
Dermatitis Kontak Iritan Dermatitis Kontak Alergi Tinea Manus

DIAGNOSIS KERJA
Dermatitis Kontak Iritan

Usul pemeriksaan
Skin prick test Skin patch test

Terapi
Umum
Menjelaskan penyakit dan pengobatan Menghentikan atau mencegah kontak dengan cairan detergen atau menyuruh memakai sarung tangan plastik saat mencuci Tidak menggaruk lesi

Khusus
Topikal Sistemik :Clobetasol propionate salep 0.05% 2x sehari pada lesi : Methylprednisolone 16 mg tab 2x1 selama 7 hari

Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam Quo ad sanationam : ad bonam

DERMATITIS KONTAK IRITAN


Adalah suatu proses inflamasi lokal pada kulit jika berkontak dengan zat yang bersifat iritan Secara umum Dermatitis kontak iritan (DKI) terbagi menjadi 2 macam yaitu
DKI akut DKI kronis/kumulatif

Pada DKI akut kerusakan kulit oleh bahan iritan terjadi hanya dalam 1x pajanan, cthnya:asam pekat,basa pekat, cairan pelarut kuat, zat oksidator dan reduktor kuat Luas kelainan umumnya sebatas daerah yang terkena, berbatas tegas

Pada DKI kumulatif kerusakan terjadi setelah beberapa kali pajanan pada lokasi kulit yang sama, cthnya terhadap zat-zat iritan lemah seperti air detergen, minyak, pelumas Penyebab DKI kumulatif biasanya Multifaktorial Pekerjaan yang berisiko untuk menimbulkan DKI kumulatif antara lain
Tukang cuci Pembersih lantai Montir Kuli bangunan Berkebun Penata rambut

Epidemiologi DKI
DKI dapat diderita semua orang dari berbagai golongan umur, ras, jenis kelamin DKI terutama berhubungan dengan pekerjaan namun angka tepatnya sulit untuk diketahui karena berbagai faktor

Etiologi
Penyebab nya ini adalah bahan iritan misalnya pelarut, detergen, minyak pelumas, asam,alkali Kelainan dari faktor etiologi ini juga ditentukan dari ukuran molekul, daya larut, konsentrasi, vehikulum, serta suhu bahan iritan, lama kontak, kekerapan,suhu dan kelembapan lingkungan Faktor invidu seperti perbedaan ketebalan kulit menyebabkan perbedaan permiabilitas, usia, ras, jenis kelamin, penyakit kulit yang pernah atau sedang diderita

Patogenesis
2 cara
1. Mekanisme kerusakan fungsi sawar kulit yang diperankan oleh stratum korneum dan 2. pelepasan mediator akibat kerusakan keratinosit

Fungsi st.korneum antara lain sebagai lapisan pelindung yang mecegah pelepasan cairan berlebih dari kulit, fungsi integritas kulit bergantung pada kadar kelembapan st.korneum

Kerusakan akibat pajanan bahan iritan dimulai dengan kerusakan lap.lipid dan Natural Moisturizing factor (NMF) kekeringan kulit (desikasi)kulit kehilangan fungsi proteksi nya Hal diatas akan menyebabkan pajanan langsung terhadap sel kulit yang viable terhadap zat iritanzat iritan bisa langsung membran lipid keratinositberdifusimerusak lisosom, Mitokhondria atau inti selmemicu aktivasi enzim fosfolipase

Aktivasi enzim fosfolipase o/ kerusakan keratinosit memicu pelepasan Acid arachidonic (AA), diacylgliseride (DAG), inositides(IP3), palted activated factor (PAF) AAPGs(prostaglandin) dan LTs(leukotrien) DAG akan merangsang ekspresi gensintesis prot spti IL1,GMCSF IL-1 aktivasi Th untuk produksi IL-2 lalu terjadi perangsangan autokrin PGs dan LTs merangsang dilatasi pemb. Darah menyebabkan trandusi komplemen dan aktivasi sistem kinin PGs dan LTs juga berperan dalam proses chemoairactans bagi Neutrofil dan Limfosit serta mengaktivasi sel MastHistamin (perubahan seluler)

Rentetan kejadian tersebut menimbulkan peradangan klasik di tempat terjadinya kontak dikulit berupa eritema, edema, panas, dan nyeri Ada dua jenis bahan iritan yaitu iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menyebabkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang,sedangkan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena depilasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan sel di bawahnya oleh iritan

Manifestasi klinis
Penyebab kerusakan St.Korneum pada DKIK adalah penurunan ambang kulit GK baru terlihat jika kerusakan yang terjadi melebihi ambang manifestasi tertentu yang akan berbeda pada tiap individu Sebelum efek inflamasi dan kulit kering terlihat oleh mata secara histopatologi sudah terjadi kerusakan Krn DKIK disebabkan oleh zat iritan lemah makan kelainan nya bersifat chronis

Efek iritasi bisa diobservasi oleh mata yang jadi GK antara lain:
Eritematosa papul Likenifikasi Ekskoriasi Skuama Hiperkeratosis Kulit pecah dengan batas tak tegas Gatal Panas nyeri

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan jika ada riwayat pajanan terhadap zat iritan Untuk membedakan dengan DKA dilakukan patch test untuk membuktikan adanya DKA dan menemukan alergen penyebabnya bukan untuk diagnosis pasti DKI

Pemeriksaan fisik
Menurut Rietschel dan Flowler, kriteria dignosis primer untuk DKI sebagai berikut:
Makula eritema, hiperkeratosis, atau fisura predominan setelah terbentuk vesikel Tampakan kulit berlapis, kering, atau melepuh Bentuk sirkumskrip tajam pada kulit Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan

Kultur Bakteri
Kultur bakteri dapat dilakukan pada kasus-kasus komplikasi infeksisekunder bakteri.

Pemeriksaan KOH
Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikology pada infeksi jamur superficial infeksi candida, pemeriksaan ini tergantung tempat dan morfologi dari lesi.

Pemeriksaan IgE
Peningkatan imunoglobulin E dapat menyokong adanya riwayat atopi

Pencegahan
Dasar penanganan adalah dengan menghindari pajanan terhadap zat iritan dapat dilakukan dengan cara
Bertukar lingk kerja Proteksi individu (sarung tangan,krim pelindung)

pengobatan
Kompres dingin dengan Burrows solution
Kompres dingin dilakukan untuk mengurangi pembentukan vesikel dan membantu mengurangi pertumbuhan bakteri. Kompres ini diganti setiap 2-3 jam

Glukokortikoid topikal Efek topikal dari glukokortikoid pada penderita DKI akut masih kontrofersi karena efek yang ditimbulkan, namun pada penggunaan yang lama dari korticosteroid dapat menimbulkan kerusakan kulit pada stratum korneum. Pada pengobatan untuk DKI akut yang berat, mungkin dianjurkan pemberian prednison pada 2 minggu pertama, 60 mg dosis inisial, dan ditappering 10mg.

Antibiotik dan antihistamin


Ketika pertahanan kulit rusak, hal tersebut berpotensial untuk terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri Perubahan pH kulit dan mekanisme antimikroba yang telah dimiliki kulit, mungkin memiliki peranan yang penting dalam evolusi, persisten, dan resolusi dari dermatitis akibat iritan, tapihal ini masih dipelajar

Secara klinis, infeksi diobati dengan menggunakan antibiotik oral untuk mencegah perkembangan selulit dan untuk mempercepat penyembuhan. Sedangkan antihistamin mungkin dapatmengurangi pruritus yang disebabkan oleh dermatitis akibat iritan.

Emolien Pelembab yang digunakan 3-4 kali sehari adalah tatalaksana yang sangat berguna. Menggunakan emolien ketika kulit masih lembab dapat meningkatkan efek emolien. Emolien dengan perbandingan lipofilik banding hidrofilik yang tinggi diduga paling efektif karena dapat menghidrasi kulit lebih baik

imunosupresi Oral
Pada penatalaksanaan iritasi akut yang berat, glukokortikoid kerja singkat seperti prednisolon, dapat membantu mengurangi respon inflamasi jika dikombinasikan dengan kortikosteroid topikal dan emolien. Tetapi, tidak boleh digunakan untuk waktu yang lama karena efek sampingnya. Oleh karena itu, pada penyakit kronik, imunosupresan yang lain mungkin lebih berguna. Obat yang sering digunakan adalah siklosporin oral danazadtrioprim

Prognosis
DKIK mempunyai prognosis yang meragukan karena sering terjadi rekurensi akibat kesulitan menghindari faktor iritan sehari-hari Faktor yang memperburuk prognosis jika ada penyakit kulit penyerta seperti dermatitis atopi