Anda di halaman 1dari 30

VII.

Sintesa dan Uji Informasi


1. Dasar-dasar Gigi Tiruan Penuh (GTP) dan Akibat Edentulous :

Gigi tiruan penuh (GTP) adalah gigi tiruan yang dibuat untuk menggantikan semua gigi asli. Full denture (complete denture) atau gigi tiruan lengkap menurut Soelarko dan Herman (1980), adalah suatu gigi tiruan yang menggantikan seluruh gigi pada lengkung rahang sehingga dikenal dengan istilah upper full denture yaitu gigi tiruan penuh rahang atas serta lower full denture yaitu gigi tiruan penuh rahang bawah.

Tujuan pembuatan GTP adalah :


Merehabilitasi seluruh gigi yang hilang Memperbaiki dan mengembalikan fungsi bicara Memperbaiki dan mengembalikan fungsi pengunyahan Memperbaiki dan mengembalikan fungsi estetis dan psikis Memperbaiki kelainan, gangguan dan penyakit yang disebabkan oleh keadaan edentulous. Mencegah pengerutan / atrofi processus alveolaris (residual ridge) Mencegah berkurangnya vertical dimensi yang disebabkan turunnya otot-otot pipi karena tidak ada penyangga dan hilangnya oklusi sentrik.

Indikasi pembuatan GTP antara lain:


Individu yang seluruh giginya telah tanggal atau dicabut Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kerusakan gigi yang masih ada tidak mungkin diperbaiki Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu keberhasilannya Keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosa yang akan diperoleh.

Kontra Indikasi pembuatan GTP antara lain:


Pasien belum siap (fisik dan mental), missal: tidak/belum mau memakai GT) Pasien alergi terhadap material GTP Pasien tidak mau/ tidak tertarik mengganti gigi yang hilang

Keberhasilan pembuatan GTL tergantung dari retensi yang dapat menimbulkan efek psikologis dan dukungan jaringan sekitarnya, sehingga dapat mempertahankan keadaan jaringan normal. Hal ini mencakup : Kondisi edentulous (tidak bergigi) berupa : processu alveolaris, saliva, batas mukos bergerak dan tidak bergerak, kompesibilitas jaringan mukosa, bentuk dan gerakan otototot muka, bentuk dan gerakan lidah. Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut Penetapan atau pengaturan gigi yang benar, meliputi :
Posisi dan bentuk lengkung daratan gigi Posisi individual gigi Relasi gigi dalam satu lengkung dan antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah

Akibat Edentulous :
Fungsi pengunyahan terganggu Makanan kurang lumat pencernaan terganggu sakit local sakit sistemik Rangsangan dan cita rasa terhadap makanan berkurang pada waktu makanan berada di dalam mulut. Pengucapan kurang jelas Ada beberapa huruf yang dimakan labio-dental (f,v), linguo-dental (t,th), bilabial (m, p, b) gigi tidak ada, bibir atas dan bawah kendor huruf yang dihasilkan akan berubah, linguopalatal (d,t). Perubahan penampilan (estetis) Posisi bibir dan pipi tertarik kedalam Didalam posisinya bibir dan pipi didukung/ditopang oleh bentuk lengkung gigi (protrusive, bimax, progeny) Relasi RB terhadap RA terlihat lebih maju dan tertarik ke atas (corpus dan ramus) Sudut mulut turun, sehingga rentan terhadap angular cheilitis.

Kehilangan gigi sebagian maupun seluruhnya dapat menimbulkan dampak, sperti dampak fungsional, sistemik, dan emosional.

2. Pencetakan Anatomis dan Fisiologis GTP :


Mencetak untuk GTP terdiri dari dua tahapan : Cetakan anatomis/ cetakan I / primary impression / cetakan pendahuluan/ preliminary impression Cetakan fisiologis / secondary impression / cetakan akhir / final impression

Cetakan Anatomis : Harus mencakup daerah seluas mungkin 1. Sendok Cetak Digunakan sendok cetak buatan pabrik Stock tray Tidak bersudut tidak bergigi Berlubang/tidak berlubang Bagian permukaan sendok cetak membulat Ukuran sendok cetak lebih besar 3-6 mm dibanding linggir alveolur pasien Sendok cetak RA harus mencakup hamular notch dan vibrating line Sendok cetak RB harus mencakup retromolar pad dan sulcus alveolilingual Apabila sendok cetak terlalu pendek, dapat diperpanjang dengan penambahan wax pada bagian bawah dan belakang sendok cetak

2. Bahan Cetak Tahanan jaringan rendah dan tidak ada undercut : Impression compound (stent)/ Alginate Tahanan jaringan tinggi/ mukosa flabby Alginate/ Gips cetak Undercut di daerah tubermaxillare Alginate/ Rubber base heavy body Processus alveolaris datar Stent (Impression compound)/ Rubber base heavy body

3. Teknik mencetak Bahan cetak alginate dicampur dengan air sesuai petunjuk pabrik, kemudian diaduk hingga merata Bahan cetak diletakkan didalam sendok cetak dan disebarkan secara merata Sejumlah kecil alginate diletakkan pada daerah yang kasar pada palatum keras untuk membantu menahan udara yang terperangkap pada bagian ini Sendok cetak diletakkan ke dalam mulut dan ditekan hingga seluruh daerah yang akan dicetak tercakup Setelah cetakan mengeras, cetakan dapat dilepas dari dalam mulut dalam satu gerakan.

4. Evaluasi hasil cetakan


Perhatikan apakah seluruh daerah pendukung sudah tercakup Hasil cetakan tidak porous dan permukaan cetakan terisi penuh Tepi cetakan harus membulat

5. Hasil cetakan kemudian diisi dengan dental stone sebanyak tiga kali, yaitu :
Untuk rencana perawatan Untuk model anatomis Untuk pembuatan sendok cetak fisiologis

Cetakan Fisiologis: Menggambarkan jaringan pendukung yang mendapat tekanan minimal dengan batas-batas tepi-tepi sesuai dengan pergerakan otot pada waktu berfungsi. a. Sendok cetak Perseorangan : Akrilik Impression compound b. Bahan cetak Zinc oxide eugenol pasta (ZnOE)/ Rubber base light body c. Teknik mencetak Open Mouth Tehnique Single Impression Muko statis/ selective pressure

Tahapan untuk membuat cetakan fisiologis :


1. Pembuatan sendok cetak fisiologis 2. Ujicoba Sendok Cetak Fisiologis 3. Pembuatan Muscle Trimming (Border Morlding) 4. Pembuatan Retensi pada sendok cetak fisiologis

3. Oklusal Rim :
Pembuatan base plate diklasifikasikan dalam 2 golongan (Jehl, 1959), yaitu : Temporer base, bila digunakan untuk perlekatan oklusal rim guna merestorasi facial dari rahang atas dan rahang bawah. Permanent base,berguna untuk mencatat posisi relasi rahang dan menempatkan gigigigi.

Sebelum melakukan penetapan gigit hendaknya perlu diperhatikan:


Profil Mata Telinga Galangan gigit
Galangan gigit digunakan untuk menentukan tinggi bidang oklusal, bentuk lengkung (yang dikaitkan dengan aktivitas bibir, pipi, dan lidah), catatan awal hubungan antar-rahang dalam arah vertikal dan horizontal (termasuk dukungan wajah sementara), dan perkiraan jarak interoklusal. Terletak sejajar dengan garis puncak lingir yang telah digambar. Tinggi galangan gigit sebesar panjang gigi ditambah dengan penyusutan jaringan alveolar yaitu kira kira 10-12 mm. (Zarb, 2002)

Penetapan gigit Pasien diminta duduk dengan enak dan posisi tegak, lalu galangan gigit rahang atas dimasukkan ke dalam mulut pasien dan dilakukan penetapan gigit Pada Rahang Atas
Adaptasi basis Dukungan bibir dan pipi
Estetika Kontur labial dari galangan gigit rahang atas dibentuk untuk mengembalikan bibir atas ke posisi pra pencabutan. (Watt dan McGregor, 1992) Pasien harus nampak normal seakan-akan seperti bergigi. Hal ini dilihat dari sulkus naso-labialis dan philtrum pasien nampak tidak terlalu dalam atau hilang alurnya Bibir dan pipi pasien tidak boleh nampak terlalu cembung (Itjiningsih, 1993)

Tinggi galangan gigit Tingginya sesuai dengan panjang gigi ditambah dengan jumlah penyusutan jaringan alveolar yang telah terjadi. Bibir atas dapat menjadi petunjuk apakah panjangnya memadai. Bidang oklusal posterior dibuat sejajar dengan garis tragusalanasi berdasarkan posisi bidang oklusal yang paling wajar. (Zarb, 2002) Bidang orientasi Bidang orientasi didapat dengan mensejajarkan: Bagian anterior dengan garis antarpupil Bagian posterior dengan garis camper yang ditarik melalui tragus (porion) hingga ala nasi. (Itjiningsih, 1993)

B. Pada Rahang Bawah


Adaptasi basis

Basis harus diam di tempat, tidak boleh mudah lepas atau bergerak karena dapat mengganggu pekerjaan tahap selanjutnya. Pada rahang bawah tidak dapat sebaik rahang atas karena basis lebih sempit serta ada gangguan pergerakan lidah. (Itjiningsih, 1993)
Penetapan dimensi vertikal

Secara Fisiologis Pasien diminta istirahat ketika galangan gigit berada di dalam mulut, dengan duduk tegak dan kepala tidak ditopang. Setelah galangan gigit dipasang dalam mulut pasien, pasien menelan dan mandibula diistirahatkan. Setelah pasien terlihat benar-benar santai, bibir dibuka untuk melihat besarnya ruangan yang tersedia di antara galangan gigit. Pasien harus membiarkan dokter gigi membuka bibirnya tanpa perlu dibantu dan tanpa menggerakkan rahang atau bibirnya. Jarak antar-oklusal pada posisi istirahat ini besarnya harus 2-4 mm dilihat di daerah premolar. (Zarb, 2002) Dengan penerapan rumus Dimensi vertikal = rest position free way space Pertama diukur dimensi / jarak vertikal pasien dalam keadaan istirahat tanpa galangan gigit. Kemudian dikurangi dengan free way space sebesar 2-4 mm. (Itjiningsih, 1993)

Penyesuaian tinggi permukaan bidang oklusal Bila galangan gigit sudah retentif pasien diminta untuk menutup mulut perlahan-lahan dengan kedua galangan gigit terpasang. Dua jari telunjuk ditempatkan pada galangan gigit di daerah premolar bawah dan pada saat pasien menutup mulut dengan perlahan jari digerakkan kearah bukal tetapi tetap berkontak dengan permukaan oklusal dari kedua galangan gigit. Perhatikan dengan cermat titik-titik yang pertama kali berkontak antara galangan gigit atas dan bawah. Bila terjadi kontak pertama, tinggalkan satu jari di antara kedua galangan gigit untuk mempertahankan celah. Kemudian dengan pisau malam digambar garis pada permukaan bukal dari galangan gigit bawah. Garis ini menunjukkan jumlah malam yang harus dibuang dari galangan gigit bawah sehingga dapat berkontak rata dengan galangan gigit rahang atas.

Galangan gigit rahang bawah dilepas dari mulut dan dikurangi sampai garis dengan pisau malam, kemudian permukaannya diratakan. Sebaiknya permukaan oklusal tidak dibuat melampaui molar pertama karena kontak oklusal di atas ujung posterior yang miring akan cenderung menggeser galangan gigit. Akan tetapi basis harus tetap menutup seluruh daerah gigi tiruan. Galangan gigit rahang bawah dimasukkan kembali ke dalam mulut dan pasien diminta untuk menutup dengan lidahnya ditarik ke belakang kearah tenggorokan. Lalu diperiksa apakah kedua galangan gigit berkontak rata. Penyesuaian dilanjutkan dan galangan gigit rahang bawah terus dikurangi sampai didapatkan kontak yang rata. (Watt dan McGregor, 1992)

Kegunaan bite rim adalah : Untuk melekatkan gigi sebelum diganti dengan akrilik Untuk mencatat maxilo-mandibula relationship pada pasien Menentukan dimensi vertical dan mendapatkan dukungan otot-otot pipi dan bibir dari pasien.

Sebelum pembuatan biterim, harus dibuat dasar plat (basis pencatat) pada kedua rahang. Pembuatan plat dasar (basis pencatat) untuk rahang atas dan rahang bawah : Bersihkan seluruh permukaan model Ambil selembar wax, lunakkan di atas lampu spritus Letakkan pada permukaan model yang telah ditandai batas-batasnya, wax dipotong 2-3 mm di depan batas anatomis dan tekan pelan-pelan sampai permukaan wax menempel pada permukaan model Bagian tepi luar dirapikan/dibulatkan

Pembuatan Biterim :
Ambil selembar wax, lunakkan di atas lampu spritus lalu gulung/lipat. Kalau diperlukan panaskan lagi sampai ketinggian yang ditentukan. Lunakkan lalu dibentuk seperti huruf U (berbentuk tapal kuda). Letakkan di atas linggir. Ketinggian biterim di daerah anterior 12 mm, daerah posterior 10-11 mm. Lebar bagian posterior 6-7 mm, anterior 4 mm, panjangnya sampai bagian distal gigi M1. Bentuk oklusal rim di daerah posterior seperti trapezium. Permukaan labial pada daerah insisal dibuat sedikit lebih ke labial dan permukaan dataran oklusal harus merupakan satu bidang datar. Hal ini dapat diperiksa dengan cara meletakkan permukaan oklusal rim di atas glass slab. Pembuatan oklusal rim pada rahang bawah prosedurnya hampir sama dengan oklusal rim rahang atas dengan ketentuan batas distal oklusal rim rahang bawah terletak di daerah M2.

4. Anatomi dan fisiologi rongga mulut yang berhubungan dengan pembuatan GTP :
Batas-batas cetakan Rahang atas
Posterior : meliputi fovea palatina dan lebih ke posterior dari garis vibrasi Lateral : meliputi pterygo-maxillary notch

Rahang bawah
Posterior : meliputi retromolar pad Lateral : sampai external oblique ridge, hingga frenulum buccalis Lingual : seluruh ridge sampai dasar mulut, bila jaringan mulut dalam keadaan relaks.

Anatomi yang harus ada pada model kerja : Rahang Atas


Frenulum labialis dan bukalis Ridge Maxillary tuberosity Daerah sutura palatine, rugae dan papilla incisivus Hamular Notch Fovea Palatina Vestibular

Rahang Bawah
Frenulum labialis dan frenulum bukalis Ridge Retromolar pad Internal Obligue Ridge External Obligue Ridge Frenulum Lingualis Vestibular