Anda di halaman 1dari 12

PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN BAHAN ALAT TANGKAP

MUKHLISA A. GHAFFAR, S.Pi, M.Si

1. PEMELIHARAAN BAHAN ALAT TANGKAP


Penyebab penurunan kekuatan bahan: pengaruh mekanis pengaruh sifat-sifat bahan karena reaksi kimia pengrusakan oleh jasad-jasad renik pengaruh alam

Cara-cara pemeliharaan
1. Penyimpanan di tempat yang aman

2. Menghindarkan alat dari hal-hal yang akan


menimbulkan kerusakan, seperti: a. penyinaran matahari yang terlalu terik b. kotoran-kotoran: bekas-bekas minyak dll. 3. Pemakaian alat tangkap secara hati-hati

4. Memperbaiki kerusakan kecil pada alat sedini mungkin

2. PENGAWETAN BAHAN ALAT TANGKAP

TUJUAN UMUM
1. Mempertahankan alat-alat agar dapat tahan lama 2. Penghematan biaya dan tenaga 3. Meperlancar operasi penangkapan ikan

TUJUAN KHUSUS
Menjaga atau mencegah alat dari segala hal yang mengakibatkan kerusakan, termasuk memberikan perlindungan terhadap hal-hal yang menyebabkan penurunan kekuatan bahan alat tangkap.

Cara pengawetan
1. Pengawetan secara tidak langsung yaitu dengan pemeliharaan sebaik-baiknya

2. Pengawetan secara langsung:


mencegah kontaminasi : menyamak alat tangkap dengan bahan penyamak

cara sterilisasi; - menjemur alat pada panas matahari - perebusan kombinasi penyamakan dan sterilisasi; misalnya mengkombinasikan penyamakan dengan pemanasan dan pengeringan

Bahan-bahan penyamak

Bahan nabati Bahan hewani Bahan kimia

: tingi, turi dll : putih telur, darah : ter, coffer, napthenas

1. Tingi (kulit kayu bakau)

Tingi ditumbuk halus kemudian direbus dengan air tawar


hingga mendidih dengan perbandingan 1 : 5 sampai 1 : 10 Dimasukkan ke dalam bak sedikit demi sedikit bersama-

sama dengan jaring yang akan diawetkan (direndam selama 1 malam lalu dijemur Khusus dilakukan untuk jaring dari bahan kapas (setiap 1 bulan sekali)

2. Turi (kulit pohon turi yang masih basah/bergetah)

Tali pancing dibentangkan kemudian digosok (disamak)

dengan kulit turi sampai halus (getah pada kulit turi tersebut habis) Umumnya dilakukan pada tali pancing dari serat alam

3. Putih telur

Umumnya dilakukan untuk mnyamak bahan alat tangkap



yang belum dibentuk (sebelum dijurai), misalnya benang lawe Putih telur dicampu dengan air dengan perbandingan 10 butir : 2 liter air Bahan alat tangkap disikat atau direndam kedalam campuran putih telur Dikukus selama 10 15 menit kemudian dijemur

4. Darah (umumnya darah kerbau)

Cara penyamakannya sama dengan putih telur Terkadang menjadi lanjutan pengawetan setelah

disamak dengan putih telur Perbandingan bahan yang digunakan 4 kg darah : 4,5 liter air

5. Ter

Ter dilarutkan dengan gasolin kemudian dipanaskan

sampai mencair sambil diaduk-aduk Alat tangkap dicelupokan kedalam cairan ter (jangan terlalu lama) JIka sudah merata, diangkat lalu ditiriskan kemudian direndam dalam air tawar 12 jam Alat tangkap kemudian aiangkat dan ditiriskan kembalisampai kering Dilakukan setiap 3 bulan sekali

6. Coffer dan Napthenas

Perbandingannya 18 liter Cu : 54 liter parafin Alat tangkap dicelup dalam larutan tersebut selama 2
jam kemudian diangkat dan diangin-anginkan