Anda di halaman 1dari 16

SYNDROM CONN/HIPERALDOSTERONISME

Amin Fuadi Dwi Indah P Fandi Fajar Ibrahim Okti Ika Yesi K M. Akrom Sugeng Setiono Tri Adhi Tamtomo Yoga Adigondo Kusumo

Pengertian

Hiperaldosteronisme adalah sekumpulan gejala yang berhubungan dengan hipersekresi dari hormon mineralokortikoid aldosteron.

PATOFISIOLOGI Sistem renin angiotensin merupakan pengatur utama dalam sekresi aldosteron. Renin, diproduksi oleh sel jukstaglomerular, akan merangsang konversi angiotensinogen menjadi angiotensin I. Enzim pengubah angiotensin (angiotensinconverting enzyme / ACE), angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II bekerja melalui reseptor angiotensin untuk menstimulasi pelepasan aldosteron dari korteks adrenal. Sekresi aldosteron juga distimulasi oleh kalium, yang dapat meningkatkan transkripsi dalam sintesis aldosteron.

Peningkatan peresentase konsentrasi kalium dapat menyebabkan sekresi aldosteron. Selain itu, kalium juga secara tidak langsung merangsang sekresi aldosteron dengan mengaktivasi sistem renin-angiotensin lokal di zona glomerulosa.

Etiologi

Penyebab tersering dari hiperaldosteronisme primer adalah tumor pada korteks adrenal (aldosteronproducing adenoma / APA) dan hiperaldosteronisme idiopatik bilateral (bilateral idiopathic hyperaldosteronism / IHA). Pada kasus yang jarang, hiperplasia unilateral atau hiperplasia primer adrenal (primary adrenal hyperplasia / PAH) yang disebabkan oleh hiperplasia mikronodular atau makronodular dari zona glomerulosa pada sebagian besar dari salah satu kelenjar adrenal.

PATOFISIOLOGI
Proses yang mendasari hiperaldosteronisme primer adalah produksi aldosteron yang berlebihan secara otonom oleh korteks adrenal. Sekresi aldosteron yang tidak dapat dihambat dan tidak sensitif terhadap kadar renin plasma. Efek aldosteron adalah meretensi natrium sehingga air pun akan ikut teretensi. Retensi natrium dan air ini akan meningkatkan volume darah ke

Hiperaldosteronisme sekunder dapat disebabkan oleh produksi renin yang berlebihan (reninisme primer) atau produksi renin yang berlebihan karena ada penurunan aliran darah atau tekanan perfusi ginjal. Hipersekresi renin sekunder dapat disebabkan oleh penyempitan satu atau dua arteri utama ginjal karena arterosklerosis atau karena hiperplasia fibromuskular. Produksi renin berlebihan pada kedua ginjal dapat terjadi pada nefrosklerosis arteriolar yang berat atau pada vasokontriksi renal profunda. Produksi renin yang berlebihan ini dipicu karena menurunnya volume darah, yang akhirnya meningkatkan sekresi renin dan aldosteron. Hal tersebut memberi efek retensi natrium dan air.

GEJALA

Kadar aldosteron tinggi bisa menyebabkan kadar potassium rendah. Kadar potassium rendah seringkali tidak menghasilkan gejala tetapi bisa menyebabkan kelemahan, rasa geli, kejang otot, dan periode pada kelumpuhan sementara. Beberapa orang menjadi sangat haus dan sering berkemih.

DIAGNOSIS Pemeriksaan urea dan elektrolit :menunjukan hipokalemia dan hipernatremia. Level renin dan aldosteron: nilai aldosteron tinggi dan renin rendah (jika nilai renin tinggi atau normal, eksklusikan diagnosis hiperaldosteronisme primer). EKG memperlihatkan aritmia akibat ketidakseimbangan elektrolit. CT scan / MRI untuk mendeteksi adenoma adrenal. Pemeriksaan genetik untuk GRA.

Kriteria diagnosis hiperaldosteronisme primer yaitu : Hipertensi diastolik tanpa edema. Hiposekskresi renin (kadar renin plasma rendah) yang gagal meningkat secara proporsional selama penurunan volume (posisi berdiri, terjadi deplesi kalium). Hipersekresi aldosteron yang tidak menurun secara proporsional dalam merespons peningkatan volume.

komplikasi

Komplikasi spesisfik yang berhubungan langsung dengan hiperaldosteronisme adalah hipertensi dan hipokalemi. Hipertensi sekunder akibat hiperaldosteronisme lebih sering menyebabkan komplikasi terhadap kardiovaskular jika dibandingkan dengan hipertensi esensial. Pasien dalam pengobatan penyakit jantung lebih beresiko untuk terkena hipokalemia. Komplikasi lain adalah efek samping yang berhubungan dengan terapi spesifik seperti

PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan keperawatan Mengurangi makanan yang mengandung kolesterol karena dapat memicu terjadinya aterosklerosis pada arteri ginjal. Memberi asupan cairan yang cukup, karena pada keadaan ini klien mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan cairan.

Penatalaksanaan medis Terapi medikamentosa, Spironolakton dan eplerenon, dosis adalah 12,5 25 mg/hari. Diuretik thiazid dosis rendah (12,5 25 mg hidroklorothiazid / hari). Pada pasien hiperaldosteronisme dengan GRA, pilihan terapi adalah dengan glukokortikoid dosis rendah. Karena pertimbangan efek samping penggunaan kortikosteroid jangka panjang, maka dapat dipilih kortikosteroid kerja cepat contohnya prednisone dan hidrokortison. Pasien dengan aldosteronoma yang menderita hipertensi berat atau hipertensi resisten, penggunaan injeksi etanol dan asam asetat pada aldosteronoma.

Terima kasih.