Anda di halaman 1dari 35

Presentasi Tugas :

Abdul Halim 2311201702


Arief Andriarto 2311201701
Dhoni Hartanto 2311201008
Kusyanto 2311201003
Zarra Miantina Putrie 2311201902
Teknik Reaksi Kimia
Kelompok I
Dosen :
Prof. Dr.Ir. Mahfud, DEA.
(Oil Refining and
Processing)
Reforming Unit
Page 3
Over View
Pengenalan
Reaksi Kimia
Katalitik Reforming
Apa yang akan di Reform?
Penutup
Page 4
Pengenalan
Reformer ???
Over View
Page 5
Reformer
Apa Itu Reforming
pada Oil Refining and Processing
Reforming adalah proses
upgrade bensin dari nilai
oktan rendah dikonversikan
menjadi bensin dengan nilai
oktan tinggi
Pada proses ini, rantai
molekul dikonversikan
menjadi olefin dan gas
dengan nilai oktan tinggi
(contoh : n-parafin menjadi
isoparafin, olefin, dan
naptene menjadi aromatik



Over View
Page 6
Mengapa Harus di Reform???
Pada Produk olahan bahan Bakar Jenis
Bensin, Reforming bertujuan untuk
meningkatkan Bilangan Oktan.
Pada Industri Oil & Gas, Reforming Biasanya Di Lakukan
Untuk Meningkatkan Jumlah Produk Yang Di Inginkan, Baik
Dari Segi Kualitas Maupun Kuantitasnya.
Bilangan oktan adalah angka
yang menunjukkan seberapa
besar tekanan yang bisa diberikan
sebelum bensin terbakar secara
spontan.
Page 7
REFORMER???
Reformer dibagi menjadi dua jenis
yaitu :
1. Thermal
2. Catalytic.

Page 8
Thermal Reforming
Refroming dari hidrokarbon
atau petroleum pada
temperatur tinggi

Thermal Reforming terjadi
pada temperatur tinggi pada
(500-600
o
C) dengan tekanan
400 sampai 1000 psi.

Thermal reforming kurang
dipilih karena konversi dan
selektivitas yang rendah.


Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 9
Catalytic Reforming
Refroming dari hidrokarbon atau pertroleum dengan
menggunakan bantuan katalis.

Katalitik reforming dikembangkan khususnya untuk memproduksi
bensin dengan nilai oktan tinggi dan hidrokarbon non-aromatik
C
6
-C
8

Proses katalitik reforming terdiri dari sejumlah reaksi yang
mengkonversi hidrokarbon yang mengandung fraksi nafta
menjadi aromatik monosiklik

Over View
Page 10
Chemical reactions
Terdapat 4 reaksi inti katalitik reforming
(Krane, 1959) :
Over View
Page 11
Chemical reactions
4 reaksi inti katalitik reforming (Krane, 1959) :
1. Dehydrogenasi dari naphta menjadi aromatics

Produk dengan nilai oktan yang paling tinggi
Contoh : pada konversi methylcyclohexane
(naphthene) menjadi toluene
Reaction :
Page 12
2. Dehydrogenasi dan aromatisasi paraffins
menjadi aromatics (biasanya disebut
dehydrocyclization). Contohnya pada konversi
normal heptane menjadi toluene
Chemical reactions
Page 13
Endotermis
Menyebabkan penurunan Suhu
Laju reaksi paling tinggi


Kondisi yang mendukung :
Suhu tinggi
Tekanan rendah
Kecepatan tinggal rendah
perbandingan H
2
/HC rendah


+ H
2



n-C
7
H
16
+ H
2

Dehydrogenation & Dehydrocyclization
Page 14
3. Isomerisasi

n parafin menjadi isoparafin.
Contoh : konversi normal octane menjadi
2,5-Dimethylhexane


Chemical reactions
Page 15
Isomer bercabang
meningkatkan
bilangan oktan
Pengaruh panas
rendah
Reaksi cukup cepat

Kondisi
Suhu tinggi
Tekanan rendah
Waktu tinggal rendah
Ratio H
2
/HC tidak
terlalu signifikan






+ H
2

Isomerisasi
Page 16
TAK DIINGINKAN
4. Hydrocraking paraffins menjadi molekul lebih kecil.
Contohnya cracking dari normal heptane menjadi
isopentane dan ethane.
Page 17
Reaksi eksotermal
Reaksi lambat
Mengkonsumsi
Hidrogen
Menghasilkan gas
ringan
Menghasilkan karbon




+





Hydrocraking
Kondisi Yang Mendukung :
Suhu dan tekanan tinggi
Waktu tinggal rendah
Page 18
Kinetika Reaksi
i i
c
i
N k
w
A
d
dN
r =
|
.
|

\
|
=
Berdasarkan Krane (1959), kinetika
reaksi catalytic reforming :
Velocity Space w
reaction parsial untuk Aktivitas A
C
=
=
feed permol si terkonver yang komponen mol Fraksi N
i
=
Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 19
Konstanta laju reaksi untuk
menghitung kinetika catalytic
reforming menggunakan
metode Krane

A = Aromatik
N = Cycloalkanes
P = Alkana

Konstanta laju reaksi yang
diusulkan Krane valid pada
tekanan 21 bar (300 psig)

Untuk hydrocarbons C
5
C
7

pada suhu konstan 500
o
C dan
C
8
C
10
pada kondisi adiabatis
515 470
o
C
Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 20
Kinetika Reaksi oleh Krane (1959) Pengaruh Tekanan

Pada tekanan yang berbeda, Jenkins dan Stephens menyebutkan :
k
i
= korelasi konstanta laju
k
i
0
= konstanta laju oleh krane pada tekanan 300 psig
p = tekanan sistem (psig)
= koefisien korelasi
Isomerisasi = 0,37
Dehydricyclization = - 0,70
Hydrocracking = 0,433
Hydroalkylation = 0,50
Dehydrogenation = 0,00
i
i
k
o
|
.
|

\
|
=
300
p
k
0
i
Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 21
Kinetika Reaksi oleh Krane (1959) Pengaruh Suhu

Ancheyta Juarez dan Anguilar Rodriguez (1994)
menambahkan pengaruh suhu pada persamaan Jenkins
E
i
= aktivasi energi yang diambil dari Hennigen
T
0
= Suhu reference
T = Suhu operasi
Model yang diusulkan Krane, diimprove oleh Jenkins,
Henningen dan Ancheyta digunakan oleh Aguilar
Rodriguez dan Ancheyta Jaurez dalam simulasi
menggunakan komputer dan menghasilkan hasil yang
sesuai dengan eksperimen.
(

|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
=
T
1
T
1

R
E
exp
21
p
k k
0
i
0
i i
o
Page 22
Tabel Energi aktifasi
Page 23
R
i
dV
dN
r =
Berdasarkan Smith (1957),
Kinetika reaksi catalytic reforming :
f eed mol per i terkonvers yang i komponen mol f raksi N
i
=
jam per feed mol per katalis kg Ratio V
R
) ( =
Kinetika Reaksi oleh Smith (1957)
Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 24
Kinetika Reaksi oleh Smith (1957)
Nilai k untuk dehydrogenasi cycloalkana
Nilai k untuk dehydrocyclization cycloalkana
Nilai k untuk hydrocracking alkana dan cycloalkana
T
19.300
- 23.21
1
2.205. k =
T
33.100
- 35.98
2
2.205. k =
T
34.600
- 42.97
2
2.205. k = Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 25
Henningen dan Bundgard Nielson (1970) mengembangkan model yang
lebih kompleks, untuk menghitung perbedaan kelakuan dari cycloalkanes
dengan 5 dan 6 atam karbon dalam rantai.
Kinetika Reaksi oleh Henningen dan Bundgard Nielson (1970)
Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 26
Kinetika Reaksi oleh Henningen dan Bundgard Nielson (1970)
Improvent besar yang dikembangkan oleh Henningen ini adalah
perbedaan yang dibuat antara cycloalkanes dengan 5 dan 6 atom karbon
dalam cycle dan penambahan persamaan neraca panas. Sehingga,
simulasi reaksi nonisotermal lebih dekat dengan realitas.
Page 27
Kinetika Reaksi oleh Henningen dan Bundgard Nielson (1970)
Dimana :
= waktu reaksi
p
i
= tekanan parsial dari komponen i
C
p
= kapasitas panas
n= ratio hidrogen terhadap hydrocarbon
k
i
= konstanta reaksi dari persamaan Arrhenius
H
i j
= Panas konversi dari konversi i menuju j
Persamaan neraca panas
ditambahkan pada model. Pada
sistem isotermal
Referance :
Thermal and Catalytic Processes in
Petroleum Refining, Serge Raseev
Page 28
Resume Proses Pada Reformer :
Reaksi secara
keseluruhan bersifat
sangat endotermik,
menghasilkan penurunan
temperatur yang sangat
cepat yang
mempengaruhi efisiensi
operasi.
Pada penggunaan fixed
bed reactor, prosesnya
adalah semi-continuous
karena katalis yang harus
diregenerasi (biasanya
sekitar 6 bulan atau lebih
tergantung feed dan
katalis)
Pada umumnya, tiga reaktor yang digunakan dan
pemanasan disediakan antar reaktor (4 reaktor dapat
digunakan sebagai spare reactor untuk menggantikan
reaktor pada regeneration cycle)
Page 29
Reaksi terjadi pada fasa
uap

Feed dikombinasikan
dengan hidrogen yang
diperkaya dengan
recycled gases dan
dikirim menuju furnace
untuk diuapkan
Feed yang terkonversi
sebagian dipanaskan
pada furnace kedua
untuk mencapai
temperatur yang
diinginkan sebelum
masuk ke dalam reaktor
kedua

Akhirnya produk tersebut
dialirkan menuju flash
drum dimana hidrogen
dan gas tidak terkonversi
dan sebagian produk
dipisahkan dan direcycle

Resume Proses Pada Reformer :
Page 30



Produk meninggalkan reaktor kemudian
didinginkan.
flash drum digunakan untuk memisahkan
hidrogen dari produk dari liquid
Produksi hidrogen yang berlebih diambil sebagai
recycle stream.
Kompresor digunakan untuk meningkatkan
tekanan pada recycle stream sebelum memasuki
reaktor pertama
Produk yang dingin dipisahkan pada tower
distilasi dimana gas dan produk yang berat
terpisahkan dipisahkan dari gasoline yang
bernilai oktan tinggi



Resume Proses Pada Reformer :
Page 31
Resume Reforming catalyst
Platina dan rhenim digunakan untuk reaksi
dehydrogenation saat klorinasi aluminium sebagai
tempat asam untuk isomerisasi, siklisasi dan reaksi
hydro-cracking.

Katalis ini umumnya berbentuk spherical atau
cylindrical berukuran (1/16, 1/8, and inch in
diameter).

Katalis baru lebih efisien dan telah diregenerasi
lebih dari dua tahun.


Page 32
Resume Reforming catalyst
Reforming Catalysts di deaktifasi karena deposisi
dari coke diatas sisi aktif

Kehilangan klorin mungkin juga disebabkan
deaktifasi.

Regenerasi katalis dihasilkan oleh pembakaran coke
pada temperatur tinggi melalui klorinasi.


Page 33
Resume Reforming catalyst
Zat yang menjadi racun untuk katalis
Reforming :

Sulfur, Nitrogen, chloride, fluoride dan air beracun
untuk sementara waktu and efeknya secara
langsung

Arsenic, Lead, Copper, Silica and Phosphorous
beracun secara permanen dan bisa memaksa shut
down unit reforming.

Carbon or coke yang terdeposisi di dalam katalis
tidak jatuh, tetapi mempengaruhi aktifitas dan
selektifitas katalis
Page 34
Up to Date : Continuous reforming

Pada proses regenerasi secara kontinyu reaktor
berada diatas dari yang lainnya dan satu furnace
digunakan untuk semua reaktor.

Pada 2006, UOP mengembangkan proses secara
kontinyu dimana nonaktif katalis secara kontinyu
dikeluarkan dari reaktor dan digantikan oleh katalis
baru.

Lebih dari 200 units telah terinstalasi dan
dipopulerkan oleh UOP worldwide.



Page 35
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai