Anda di halaman 1dari 37

EKONOMIKA KELEMBAGAAN

PENGARUH INSTITUSI TERHADAP KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO


Click to edit Master subtitle style

DISUSUN OLEH:

4/17/12

KUSWAN GUNANTO INDYAH KUSUMANINGRUM

Fokus Bahasan

4/17/12

BAB. I PENDAHULUAN

4/17/12

Latar Belakang
Institusi dapat didefinisikan sebagai aturan atau prosedur yang mengatur interaksi antar manusia dan organisasi yang mengimplementasikan aturan-aturan tersebut untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Institusi digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu institusi formal dan non formal. Institusi formal meliputi aturan-aturan yang dituangkan ke dalam bentuk hukum oleh pemerintah, aturan-aturan yang dibakukan dan diadopsi oleh lembaga-lembaga swasta dan organisasi publik atau swasta yang melakukan kegiatannya sesuai undang-undang. Institusi informal merupakan aturan--aturan sosial tidak tertulis seperti sanksi dan norma-norma sosial. Dalam keadaan ketika institusi formal mengalami kegagalan, institusi informal akan mengambil alih perannya untuk mengurangi ketidakpastian dan memberikan kelanjutan bagi individu dan organisasi. Sebaliknya, apabila institusi informal tidak berhasil, institusi formal akan menjalankan peranannya. Membangun institusi formal yang menjadi pelengkap institusi informal membutuhkan upaya yang kuat. Jika tidak memperhatikan norma dan budaya, lembaga formal tidak akan memberikan hasil yang diinginkan.

4/17/12

Tulisan ini menjelaskan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ito (2003) dan Arsyad (2005). Dalam hal ini Ito (2003) memfokuskan penelitiannya pada pola keuangan yang berbasiskan kelompok (group-based) yaitu ROSCAs (Rotating Savings and Credit Assosiations) dan kelompok solidaritas peminjam yang dimodelkan oleh Grameen Bank of Bangladesh. ROSCAs dan Grameen Bank mempunyai keistimewaan dalam hal pola keuangan yang berbasiskan kelompok yang bisa disamakan dengan modal sosial serta sistem kredit yang berhasil melayani rakyat miskin (Ito, 2003).

Sedangkan Arsyad (2005) meneliti tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Bali, khususnya LPD di Gianyar Bali. LPD di Gianyar Bali dibangun ditengah-tengah masyarakat yang memiliki lembaga sosio-kultural yang sangat unik, yaitu berakar dari dua sistem dasar: (1) keluarga besar, komunitas (banjar) dan sistem leluhur, (2) agama Hindu. Pemilihan LPD di Kabupaten Gianyar secara khusus lebih disebabkan karena struktur perekonomian kabupaten Gianyar mirip dengan struktur perekonomian di Bali dan mudah dijangkau oleh peneliti.

4/17/12

Tujua n paper :

Menjelaskan peranan konsep modal sosial dan hubungannya dengan keberhasilan program lembaga keuangan mikro (LKM). Menjelaskan bagaimana institusi formal telah secara tepat dibangun berdasarkan institusi informal Menjelaskan pengaruh institusi (formal dan informal) serta keterkaitan keduanya dalam praktik operasional LPD di Bali Mengukur kinerja LPD Gianyar Bali dan faktor yang mempengaruhi terutama lingkungan institusi.

4/17/12

BAB. II PEMBAHASAN

4/17/12

Peranan Institusi (Modal Sosial) terhadap LKM Definisi modal sosial 1. World Bank 2. J.S. Coleman 3. Serageldin dan Grootaert
4/17/12

ROSCAs, Grameen Bank dan Modal Sosial

ROSCAs, Grameen Bank dan Modal Sosial


Mekanisme kelompok diasosiasikan sebagai modal sosial yang sebagian besar merupakan hasil dari struktur sosial horizontal atau dengan kata lain modal sosial ditunjukkan oleh keberadaan hubungan horizontal diantara para peminjam yang diorganisasikan dalam kelompok-kelompok.

4/17/12

4/17/12

ROSCAs biasanya diorganisasikan oleh penduduk lokal dengan kemauan sendiri, membentuk kelompokkelompok keuangan jangka pendek (shortterm financial arrangement) sedangkan pada Grameen Bank

Putnam (1993 dalam Ito, 2003) menyatakan bahwa dalam ROSCA ini tidak ada sanksi legal untuk anggota yang tidak memenuhi kewajiban atau keluar. Dengan tidak adanya sanksi legal maka sanksi sosial diterapkan pada anggota yang tidak memenuhi kewajiban, 4/17/12

Peer pressure juga diterapkan pada Grameen Bank di Bangladesh. Tidak seperti pada ROSCA, peer pressure di Grameen Bank bekerja melalui mekanisme institusi yang dibuat oleh agen eksternal.

Jika ada anggota kelompok yang gagal memenuhi kewajiban, sisa anggota kelompok tersebut dikemudian hari ditolak aksesnya untuk mendapatkan kredit, sehingga untuk bisa melakukan pembaharuan kredit tergantung dari perilaku membayar anggota lain dalam kelompok tersebut.

4/17/12

Hoff dan Stiglitz (1993) dalam Ito (2003) menyatakan bahwa pengaturan pertanggungjawaban secara bersama (joint liability arrangements) memberikan anggota kelompok insentif untuk memilih anggota lain dari mereka yang sudah mereka ketahui dapat dipercaya.
4/17/12

Pengaturan pertanggungjawaban secara bersama (joint liability arrangements) telah secara luas dinyatakan sebagai inovasi besar dalam bidang kelembagaan untuk mengatasi informasi yang tidak menentu dan sistem ini sudah ditiru di seluruh dunia (Ito, 2003)

Pengaturan pertanggungjawaban secara bersama (joint liability arrangements) dikenal sebagai sistem jaminan sosial (system of sosial collateral) yang mempunyai struktur sosial horizontal dan diasosiasikan dengan modal sosial. Jaminan sosial dan monitoring/tekanan dari sesama anggota sekarang menjadi contoh kesuksesan eksploitasi modal sosial dalam menanggulangi ketidaksempurnaan pasar keuangan di pedesaan di negara-negara berkembang(Ito, 2003).
4/17/12

Hubungan sosial horizontal berdasarkan ide jaminan sosial sepertinya tidak lama lagi akan menjadi komponen yang kritis untuk memastikan pembayaran kredit yang baik. Kemudian apa yang dapat menjamin kesuksesan program keuangan mikro? Jawabannya mungkin terletak pada tekanan dari sesama anggota yang 4/17/12

Aspek positif yang berkembang dari hubungan sosial antara pegawai bank dan peminjam ini juga disebut modal sosial (Ito, 2003). Ledgerwood (1999 dalam Ito, 2003) seperti dikutip dari Banks Microfinance Handbook menyatakan bahwa tidak sekedar hanya transaksi ekonomi, intermediasi keuangan tergantung pada modal sosial karena hal ini bergantung pada kepercayaan antara peminjam dan pemberi pinjaman.
4/17/12 Ito (2003) juga menemukan hubungan

Modal Sosial Vertikal

Van Bastelaer (1999 dalam Ito, 2003) berkesimpulan bahwa penciptaan kembali hubungan tradisional patron-client antara petugas peminjam dan peminjam merupakan modal sosial vertikal yang diadakan untuk memperkuat kedisiplinan peminjam dalam membayar pinjaman.
4/17/12

Pertanyaannya

yang

kemudian

Van Bastelaer (1999 dalam Ito, 2003) menunjukkan bahwa peranan hubungan vertikal dan atau horizontal antara pemberi pinjaman dan peminjam mampu meningkatkan disiplin keuangan belum cukup diteliti. Meskipun demikian pengetahuan tentang hubungan hirarkhis tidak akan cukup untuk memahami 4/17/12 bagaimana program keuangan mikro

Studi Kasus : LPD di Gianyar Bali

4/17/12

Perkembangan LPD
LPD pertama kali didirikan pada tahun 1984. Tujuan pendirian LPD pada setiap desa adat adalah untuk mendukung pembangunan ekonomi pedesaan melalui peningkatan kebiasaan menabung masyarakat desa dan menyediakan kredit bagi usaha kecil untuk menghapuskan bentuk-bentuk eksploitasi dalam hubungan kredit, menciptakan kesempatan kerja yang setara pada tingkat desa dan untuk meningkatkan tingkat monetisasi di daerah pedesaan (Government of Bali, 2002 dalam Arsyad, 2005). Berdasarkan Perda Bali No. 2/1988 dan Perda Bali No. 8/2002 tentang LPD, persyaratan pendirian LPD adalah bahwa sebuah desa adat harus memiliki peraturan adat tertulis (awig-awig) dan mempunyai potensi sosio-ekonomi untuk berkembang (Government of Bali, 2002 dalam Arsyad, 2005). Pengakuan dan pengadopsian institusi informal dalam Perda No. 8/2002 juga terbukti dalam persyaratan yang menyatakan bahwa kegiatan operasional harian LPD harus dapat dipertanggungjawabkan kepada desa adat melalui pemimpinnya (bendesa adat), dan bahwa tim manajemen inti harus direkrut dan dipilih dari anggota-anggota komunitas desa (krama desa) dalam pertemuan desa (paruman desa). Dalam pendirian sebuah LPD baru, pemerintah Provinsi Bali menyediakan modal awal sebesar Rp. 10 juta dan membentuk tim pengawasan dan bimbingan khusus pada tingkatan pemerintahan yang bekerja sama dengan Bank BPD Bali

4/17/12

Perkembangan LPD
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Indikator Jumlah LPD (buah) Jumlah aset (milyar rupiah) Tabungan dan deposito (milyar rupiah) Pinjaman berjalan (milyar rupiah) Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) (milyar rupiah) Ekuitas dan cadangan (milyar rupiah) Jumlah nasabah (orang) Keuntungan (milyar rupiah) Tabungan bank (milyar rupiah) Jumlah karyawan (orang) 1988 157 2,9 1,8 2,5 1,4 0,5 n.a 0,34 0,91 n.a 1995 848 97 70,4 74,6 1,05 16,25 580.707 7,78 17,05 3.532 2000 926 500,7 392,7 355 0,9 64,9 895.512 36,6 122,2 4.533

4/17/12

Pengawasan dan Pembinaan LPD Berdasarkan Perda Bali No. 8/2002 dan Keputusan
Gubernur No. 3/2003, kelompok organisasi yang melaksanakan pengawasan dan pembinaan terhadap LPD di Bali, yaitu : 1. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten 2. Pembina LPD Provinsi (PLPDP) dan Pembina LPD Kota/Kabupaten (PLPDK) 3. Bank BPD Bali

4/17/12

Struktur Organisasi LPD

4/17/12

Prosedur Rekrutmen
Tim pengelola inti direkrut dari desa adat lokal. Mereka dipilih dari anggota komunitas desa (krama desa) dan ditetapkan dalam rapat desa (paruman desa) untuk periode empat tahun dan dapat dipilih kembali apabila dalam mengelola LPD mereka bekerja dengan baik (Government of Bali, 2000 dalam Arsyad, 2005). Proses perekrutan staf baru harus disetujui oleh Ketua Dewan Pengawas LPD yang merupakan pemimpin desa adat (bendesa adat) dan berdasarkan atas tes kemampuan (aptitude) serta sifat/karakter (attitude) pelamar. Terdapat tambahan kriteria proses perekrutan, masing-masing banjar di desa adat harus terwakili oleh anggota staf. Hal ini menunjukkan bahwa LPD ingin selalu mempertahankan hubungan erat dengan semua banjar yang terdapat dalam desa adat. Singkatnya, prosedur perekrutan tersebut menggambarkan pentingnya peran institusi informal dalam tata kelola LPD. Hal ini menggambarkan begitu kuatnya keterikatan LPD dengan lingkungan sosio-kulturalnya

4/17/12

Mekanisme Penyaluran Pinjaman Dewan Calon LPD


peminjam isi formulir Pengawas (bendesa adat)

Kemudahan prosedur penyaluran pinjaman ini juga terlihat pada tipe pinjaman dan pola pengembalian pinjaman. Semua bisa disesuaikan dengan jenis kegiatannya. Tingkat bunga pinjaman LPD berkisar antara 27% hingga 33% per tahun pada tahun 2002, lebih tinggi daripada bank umum yang hanya 22% per tahun pada saat itu. Akan tetapi, LPD menawarkan beberapa keuntungan bagi nasabah mereka, seperti prosedur yang lebih sederhana dan mudah, biaya transaksi yang rendah, pencairan pinjaman yang lebih cepat dan terkadang tidak memerlukan agunan (untuk pinjaman dalam jumlah kecil, kurang dari Rp 500 ribu).

4/17/12

Sistem reward dan punishment pun diterapkan dalam proses ini. Apabila peminjam menunjukkan kinerja yang buruk dalam pelunasan kreditnya, dia dilarang melakukan peminjaman tambahan dan akses terhadap kredit dihapuskan hingga dia melunasi pinjamannya. Sebaliknya, peminjam yang melunasi pinjaman tepat waktu, secara bertahap diijinkan untuk menaikkan jumlah kredit yang diajukan. Dalam kaitannya dengan desa adat, sanksi sosial dapat dikenakan pada nasabah yang melanggar aturan. Peminjam yang gagal melunasi pinjaman dengan sengaja akan dikeluarkan dari komunitasnya, dia dapat kehilangan hak untuk dimakamkan di pekuburan desa. Dia dapat menjadi orang luar yang tidak memperoleh perlindungan komunitas dan harus mencari kehidupan baru jauh dari desanya. Sanksi sosial ini terbukti etektif untuk mengatasi tingkat pelunasan yang rendah, yang seringkali menjadi penyebab utama kegagalan sebuah LKM. Hal inipun berlaku untuk pengelola LPD yang terbukti korupsi, kolusi dan manipulasi.

4/17/12

Sistem Penggajian
Sistem remunerasi LPD secara umum meningkatkan kinerja pengelola LPD. Sistem remunerasi pada tiap-tiap LPD berbeda satu dengan lainnya karena didasarkan pada biaya hidup di desa di mana LPD berada dan kemampuan keuangan (seperti keuntungan) masing-masing LPD. Gaji pokok didasarkan pada upah harian pengukir atau pekerja di desa adat di mana LPD berada. Meskipun sistem penggajian yang berbeda antara LPD dengan LPD lainnya, akan tetapi mempunyai aturan pokok yaitu tidak boleh melebihi dari 30% keuntungan bersih tiap bulan. Sebagai tambahan gaji pokok, staf LPD juga menerima insentif, termasuk asuransi pensiun dan bonus lain. Salah satu jenis bonus adalah bonus akhir tahun (10% dari keuntungan bersih LPD) dan komisi penagihan yang diberikan kepada penagih pinjaman tiap bulannya. Sistem penggajian seperti ini akan meningkatkan semangat dan produktivitas pengelola LPD. Sistem penggajian LPD tersebut telah menerapkan suatu sistem yang disebut skema manajemen kompensasi berdasarkan kinerja (Chaves & Gonzales-Vega, 1996 dalam Arsyad, 2005).

4/17/12

MENGUKUR KINERJA LPD

4/17/12

Kerangk a Penilaia n LKM

4/17/12

Sumber : Yaron dkk (1997) dalam Arsyad (2005)

Teknik penilaian kinerja LKM pendekatan Ledgerwood


WILAYAH Kualitas portofolio INDIKATOR
-

Tingkat pelunasan Rasio kualitas portofolio (tingkat keterlambatan, risiko portofolio, rasio peminjam yang nakal) Rasio kerugian pinjaman Rasio produktivitas (jumlah pinjaman aktif tiap petugas kredit, rata-rata portofolio yang menguntungkan per satuan kredit, jumlah yang dibayarkan tiap periode tiap petugas kredit) Rasio efisiensi (rasio biaya operasional, biaya per unit mata uang yang dipinjamkan, biaya per pinjaman yang diberikan)

Produktivitas dan efisiensi

Kelayakan Keuangan

Sebaran finansial Kemandirian operasional Kemandirian finansial Indeks ketergantungan subsidi Rasio pendapatan atas asset Rasio pendapatan atas usaha Rasio atas ekuitas Pembiayaan dengan utang (rasio utang terhadap modal) Standar kecukupan modal Klien dan staf (jumlah klien, jumlah staf, jumlah cabang, persentase jumlah total target klien yang terlayani, dsb) Jangkauan pinjaman (jumlah peminjam yg sedang aktif, jumlah saldo pinjaman berjalan, portofolio berjalan rata-rata, jumlah rata-rata pinjaman yg diberikan dlm persentase PDR perkapita, nilai pinjaman tiap staf, jumlah pinjaman tiap staf, jumlah rata-rata berjalan dalam persentase PDB perkapita, dsb) Jangkauan simpanan (saldo total rekening simpanan sukarela, jumlah rata-rata tahunan simpanan dalam persentase portofolio pinjaman berjalan rata-rata tahunan, jumlah klien simpanan sukarela sekarang, jumlah penyimpan tiap anggota staf, tabungan simpanan rata-rata dalam persentase PDB perkapita, dsb)

Tingkat keuntungan

Kecukupan modal dan pembiayaan dengan utang Ukuran, jangkauan, dan pertumbuhan

4/17/12

Portofolio, Leverage, & Kecukupan Modal


Indikator Kualitas portofolio Tingkat pengembalian pinjaman Rasio peminjam membayar Leverage yang tidak

1999

2001

95 0,5

97 0,4

Rasio hutang terhadap modal (%) Rasio Kecukupan Modal (CAR) (%)
4/17/12

220 31

210 61

Produktivitas dan Efisiensi


Indikator-indikator Produktivitas Jumlah peminjam tiap staf Pinjaman berjalan tiap staf (juta rupiah) Jumlah penabung tiap staf Jumlah tabungan tiap staf (juta rupiah) Jumlah deposan tiap staf Jumlah deposan berjangka tiap staf (juta rupiah) Efisiensi Rasio Biaya operasional Gaji sebagai persentase rata-rata portofolio berjalan 4/17/12 1999 49 48 108 31 9 31 2001 57 67 111 34 8 35

0,20 0,006

0,22 0,008

Profitabilitas dan Kelayakan Keuangan


Indikator-indikator 199 9 10 23 199 181 Profitabilitas ROA (%) ROE (%) Kelayakan Keuangan Kemandirian Operasional (%) Kemandirian Keuangan (%)
4/17/12

200 1

13,5 52 196 163

Indikator Jangkauan

Indikator-indikator Jangkauan nasabah dan staf Jumlah peminjam Rata-rata peminjam tiap LPD Jumlah penabung Rata-rata penabung tiap LPD Jumlah rekening deposito (deposan) Rata-rata deposan tiap LPD Jumlah Staf Rata-rata jumlah staf tiap LPD Persentase total target nasabah yang dilayani (%) Jangkauan pinjaman Volume pinjaman berjalan Rata-rata pinjaman berjalan tiap LPD (juta rupiah) Rata-rata pinjaman tiap peminjam (juta rupiah) Rata-rata pinjaman tiap peminjam sebagai persentase dari PDRB perkapita Jangkauan tabungan / deposito Volume tabungan (milyar rupiah)

1999

2001

36.454 309 81.178 695 6.820 60 723 10.3

49.593 324 114.994 751 7.948 52 835 5 13.4

36 308 0,9 0,21

89 587 1,6 0,27

4/17/12

22,5 198

50 327

Rata-rata tabungan tiap LPD (juta rupiah)

BAB. III KESIMPULAN

4/17/12

KESIMPULAN
Konsep modal sosial mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan program lembaga keuangan mikro (LKM) seperti ROSCAs dan Grameen Bank of Bangladesh. Namun konsep modal sosial tidak memberitahukan tentang model rancangan dan pelaksanaan LKM yang baik. Sebuah institusi formal (LPD) seharusnya bisa dibangun dan dikembangkan dengan tanpa melupakan institusi informal (norma sosial dsb) sehingga tidak menyebabkan efek negatif karena penolakan masyarakat bahkan bisa didukung oleh masyarakat sekitar. Institusi informal (nilai-nilai, norma, dan sanksi sosial) dan institusi formal (pengawasan dan pembinaan oleh Pemda dan Bank BPD Bali) terbukti mempunyai pengaruh yang positif terhadap praktik operasional LPD di Bali. LPD di Gianyar Bali terbukti mempunyai kinerja yang sangat baik dan bisa dikategorikan sebagai LKM yang sukses. Kesuksesan ini banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan institusi yang ada di Gianyar Bali.

4/17/12

TERIMA
4/17/12