Anda di halaman 1dari 44

Skenario 4: Derita Mantan Pecandu Narkoba

Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat 2011/2012

Anggota Kelompok
Zuhda Febrina Nida Amalia M. Fauzan Anshary Raudah Ayu Asih Pertiwi Noor Hamidah Feryra Putri Ayu Suma Inayati Humairo Maya Sagita Ahmad Habibi Awwalu Hakim Ghea Tri Andini

Derita Mantan Pecandu Narkoba


Laki-laki usia 27 tahun datang ke poli gigi RSU dengan keluhan banyak bercak putih pada rongga mulut yang tidak pernah sembuh sejak 3 bulan yang lalu, terasa terbakar dan tidak bisa makan. Pasien adalah mantan pecandu narkoba dengan suntik. Keadaan umum pasien kurang baik karena mengalami penurunan berat badan lebih dari 10 kg dalam 3 bulan karena dia menderita diare terus menerus dan subfebris selama 3 bulan ini. Setelah mendapat pemeriksaan klinis ekstra oral didapatkan pada kulit terdapat wasting syndrome. Ada banyak lesi yang dapat timbul pada rongga mulut pasien dengan penyakit ini, sehingga wajib diketahui oleh dokter gigi untuk dapat mendeteksi penyakit ini secara dini.

Problem Tree
Definisi Tata Laksana Etiologi

Diagnosis

AIDS

Epidemiologi

Manifestasi RM Gejala Klinis

Patogenesis

Sasaran Belajar
1. Menjelaskan tentang AIDS

2. 3. 4. 5.

Definisi Etiologi Epidemiologi Patogenesis

Gejala klinis Manifestasi oral Diagnosis Tata Laksana

Apa saja komplikasi dari AIDS? Bagaimana gejala klinis Wasting Syndrome pada kulit? Apa yang dimaksud Sarkoma Kaposi? Apa yang menyebabkan rasa terbakar pada rongga mulut pasien? 6. Bagaimana tindakan dokter gigi terhadap pasien HIV/AIDS?

Diagnosa Kasus
AIDS
Pasien mengalami penurunan berat badan >10kg dalam 3 bulan, diare kronis terus menerus dan subfebris selama 3 bulan. Pemeriksaan klinis ekstra oral terdapat wasting syndrome pada kulit Pasien mantan pecandu narkoba dengan suntik Terdapat banyak bercak putih pada rongga mulut yang tidak pernah sembuh selama 3 bulan

Definisi
AIDS (Acquired Immunodefisiency Syndrome) adalah suatu sindrom kumpulan gejala-gejala penyakit infeksi oportunistik, neoplasma sekunder, dan manifestasi neorologik akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. (Hoffmann et al, 2006)

Etiologi
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
HIV 1 : penyebab sindrom defisiensi imun (AIDS) HIV 2 : Lymphadenopaty associated virus type-2

EPIDEMIOLOGI
Menurut centres for disease control (CDC) :
Kaum homoseksual/biseksual adalah 59% Pengguna obat secara intravena 22% Laki-laki homoseksual yang menggunakan obat secara intravena 7%. Wanita berusia 20 - 44 thn adalah kelompok usia terinfeksi yang tercepat. Depkes RI : tahun 2010 tercatat sekitar 20.564 kasus HIV/AIDS di Indonesia

Penularan HIV
Penularan terjadi melalui cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti : Darah Sperma Cairan vagina Air susu ibu

(Murtiastutik, 2008)

PATOGENESIS
HIV (virus RNA) secara selektif menginfeksi sel Limfosit T4 mempunyai CD4 antigen berperan sebagai reseptor dengan enzim reverse transkriptase virus DNA masuk ke dalam inti sel target berintegerasi dengan DNA dari host DNA Provirus ikut mengalami replikasi pada setiap proliferasi sel menghasilkan virus RNA, enzim reverse transkriptase & protein virus begitu terus peristiwa ini berlangsung.

(Pintauli, 2004)

Gejala Klinis
Gejala klinis AIDS terdiri dari dua gejala, yaitu : 1. Gejala mayor Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 Bulan Diare kronis > 1 bulan Demam > 1 bulan Kesadaran menurun dan neurologis (Murtiastutik, 2008)

2. Gejala Minor Batuk > 1 bulan Infeksi umum yang recurent Kandidiasis orofaringeal Infeksi herpes simplek Infeksi harpes zoster dll (Murtiastutik, 2008)

GEJALA KLINIS
Menurut WHO berdasarkan stadium : Infeksi HIV akut Asimptomatik Sindrom retroviral akut (flu-like syndrome) Stadium 1 asimptomatik Persistent generalized lymphadenopathy (PGL) Stadium 2 berat badan menurun <10%, terdapat kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti Dermatitis seroboik, Ulkus yang berulang pada RM dan Kheilitis angularis, Herpes zoster adanya infeksi bakteri rekuren (sinusitis, otitis media, bronchitis, faringitis)

Stadium 3 kondisi tubuh lemah berat badan menurun >10%, diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan Kandidiasis orofaringeal, Oral hairy leukoplakia TB paru dalam 1 tahun terakhir, infeksi bakterial yang berat (Pneumonia , meningitis, empyema, piomiositis) ANUG atau NUP

Stadium IV (AIDS) kondisi tubuh sangat lemah, HIV wasting syndrome Pneumonia Pneumocystis carinii Diare Kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan, Kandidiasis di esophagus, trakea, bronkus, dan paru, Extrapulmonary TB Sarkoma Kaposi Infeksi HSV kronis HIV encephalopathy Disseminated mycosis (histoplasmosis, coccidiomycosis, pennicilliosis) Non-Hodgkins Lymphoma Invasive cervical carcinoma Central nervous system toxoplasmosis

(Biomed, 2010; WHO, 2005)

Manifestasi Oral
Infeksi Bakteri Oral Linear gingival erythema. Gingivitis HIV Bacillary angiomatosis NUP ANUG Infeksi Jamur Oral Kandidiasis Pseudomembra nous Kandidiasis erithematosus Infeksi Virus Oral Keganasan Oral HSV Sarkoma Kaposi NonHodgkin's lymphoma SCC Infeksi lain RAS

Kondiloma Akuminatum

Penyakit kelenjar saliva terkait HIV.

Kandidiasis Hiperplastik Keilitis Angularis

Cytomegalovirus HPV

Gingivitis HIV

Histoplasmosis
cryptococcosis Mucormycosis

Varicella Zoster
Hairy Leukoplakia

(Greenspan,1998; Langlais & Miller, 2000; Tim, 2011)

Infeksi Jamur

Candidiasis pseudomembranous
Kandidiasis erithematosus

Angular cheilitis

Infeksi Bakteri

Gingivitis HIV Bacillary angiomatosis

Linear gingival erythema

NUP

Infeksi Virus

HSV

Hairy leukoplakia

Herpes Zoster

Condiloma acuminatum

Keganasan

SCC

Kaposis Sarcoma

Non-Hodgkin Lymphoma

DIAGNOSIS
Seorang dewasa dicurigai menderita AIDS jika paling sedikit mempunyai 2 gejala mayor dan 1 gejala minor dan tidak terdapat sebabsebab penekanan imun yang lain yaitu seperti kanker, malnutrisi berat atau sebabsebab lain

(Siregar, 2005)

Pemeriksaan
Pemeriksaan HIV yang pertama adalah pemeriksaan antibodi HIV, bertujuan untuk mendeteksi dan mengukur kadar imunoglobulin (IgG tipe 1-4, IgA, IgM, IgD) sebagai respon terhadap adanya HIV. Dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain : 1. Enzim Linked Immunosorbent Assay (ELISA), hasil (+) berarti terjadi ikatan antigen dan antobodi HIV pada serum dan berarti anti-HIV (+) 2. Anti HIV immunoblot/wastern blot, merupakan pemeriksaan konfirmatif setelah ELISA dinyatakan positif. 3. Anti Env dan Anti core secara ELISA, Perubahan atau reaksi warna dan intensitasnya pada proses pemeriksaan berakaitan dg keberadaan anti HIV dalam serum

4. Polymerase chain reaction (PCR) :mendeteksi fragmen DNA dan RNA viral yang spesifik pada orang yang terinfeksi HIV 5. Rapid Antibody test adalah immunoassays kualitatif yang bertujuan untuk sebagai titik uji perawatan untuk membantu dalam diagnosis infeksi HIV. 6. Ora Quick ADVANCE rapid HIV1/2 antibody test merupakan immunoassay sekali pakai untuk mendeteksi antibodi HIV virus type 1 (HIV-1) dan type 2 (HIV-2) pada cairan rongga mulut, darah, dari fingerstick, darah dari venipuncture dan spesimen plasma.

4. Anti HIV-Immunofluoresensi 5. Anti Hiv recombinant neutralization assay blot 6. Immunoassay dengan peptide sintetik
(Biomed et al, 2010; FDA 2004;Sutedjo, 2008)

TATA LAKSANA
Pencegahan HIV ada dengan tiga cara, yaitu : Puasa seks Setia pada pasangan Dan menggunakan pengaman ketika berhubungan.

(Munijaya, 1998)

Tatalaksana
Pengobatan penderita:
terhadap virus, guna menghambat proses infeksi dan replikasi HIV Memperbaiki sistim imunitas pengobatan terhadap keganasan dan infeksi oportunistik 1. Obat-obatan Anti virus :
Zidovudin (AZT) : dosis 500-600 mg /hari Lamivudin (3TC) : dosis 150 mg sehari 2 kali Neviropin : dosis 200 mg sehari selama 14 hari, kemudian 200 mg sehari 2 kali (Kurniawati, 1995; Siregar, 2005)

(WHO, 2005)

2. Terapi gen Menginstroduksikan gen anti-HIV ke dalam sel yang terinfeksi HIV. Gen berupa antisense salah satu enzim untuk replikasi HIV ( Gen Tat)

3. Terapi lainnya:

Candidiasis
Topikal : Clotrimazole troches (10 mg, 5x1 selama 14 hari) Nystatin (4x1 selama 14 hari) Sistemik Fluconazole (100 mg, hari pertama 2x1, selanjutnya 1x1 selama 14 hari) Itraconazole oral suspension (10 mg/ 10 mL, 10 mL per hari selama 7-14 hari) (International AIDS Society-USA, 2005)

Herpes simplex Acyclovir

Untuk dewasa 200mg, 5x1 selama 5 hari Untuk pasien imunokompromi: 400 mg, 4x1 Varicella
Acyclovir

Untuk dewasa 800 mg, 5x1 selama 7 hari Untuk pasien imunokompromi: 800 mg, 4x1 Herpes Zoster
Acyclovir

Untuk dewasa 800 mg, 5x1 selama 7 hari Untuk pasien imunokompromi: 800 mg, 4x1
Famciclovir

pasien imunokompeten: 750 mg 1x1 selama 7 hari atau 250 mg, 3x1 selama 7 hari Pasien imunokompromi: 500 mg 3x1 selama 10 hari

4. Terapi Alternatif VCO (Virgin Coconut Oil)

Asam laurat meningkatkan jumlah sel T helper CD4 dengan cara menstimulasi pembentukan sel T helper di dalam jar limfoid Asam kaprilat bersifat antifungal Memiliki asam lemak rantai sedang( MCFA)
MCFA masuk diserap oleh membran virus membran jadi sobek materi yang terkandung dalam membran keluar sel darah putih membersihkan sisa materi
(Baswordojo, 2005; Darwis 2008)

KOMPLIKASI

komplikasi neurologi aseptik meningitis, ensefalopati akut, polineuropati demyelinasi disfungsi neurobiologi perilaku, kognitif , demensia, myelopati, neuropati sensorik radang oportunistik toksoplasmosis,renitis cytomegalovirus, limfoma primer. Neutropenia kondisi berubahnya fungsi netrofil yang akan meningkatkan kandidiasis
(Center for Disease and Prevention HIV/AIDS Surveiliance,1997; Gupta, 2007)

Wasting Syndrome
Yaitu penurunan berat badan lebih dari 10 % dan diare kronik tanpa diketahui penyebabnya selama lebih dari 1 bulan atau klemahan kronik dan deman tanpa diketahui sebabnya lebih dari 1 bulan. Sehingga menyebabkan badan menjadi kurus dan kulit menjadi keriput.
(Djuanda, 2005)

Sarkoma Kaposi
Sarkoma kaposi : tumor pd jar endotel mikrovaskular disebabkan oleh herpetik 8 pd manusia (HHV 8) . Pd pasien AIDS, penyebaran sarkoma kaposi sering kali merupakan penyebab terjadinya kematian. Tanda-tanda Lesi dapat berbentuk makula/papula/nodula. Biasanya berbentuk lingkaran dan berwarna merah atau keunguan. Bentuknya tidak teratur, dapat tunggal atau multipel Ukurannya bervariasi dari mm-cm Sering ditemukan di palatum, dapat juga kulit kepala dan leher (Birnbaum, 2010; Susetyo, 2005)

Rasa Terbakar
Disebabkan oleh Kandidiasis. Gejala gejala dari kandidiasis :
Ketidaknyamanan ringan. Rasa terbakar Pengecapan yang berubah.
(Langlais & Miller, 2000)

Tindakan dokter gigi terhadap pasien HIV/AIDS


Penjaringan Pasien : dokter gigi harus mampu mengetahui manifestasi HIV/AIDS pd RM Perlindungan Diri : cuci tangan, pemakaian sarung tangan disposable, masker, kaca mata pelindung
(hedrian, 2002; pintauli, 2004; Tissalia 2010)

Dekontaminasi Peralatan : desinfeksi dan sterilisasi pd alat medis dengan autoclave, pemanasan kering, air mendidih,dgn kimia (hipoklorit atau glutaraldehid 2%). Desinfeksi Permukaan Lingkungan Kerja : dengan klorhexidin 0,5 %

Penanganan Limbah Klinik : Pembuangan limbah klinik di bakar atau dikubur sesuai jenis tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Biomed, M, Radji, Maksum. Imunologi & Virologi. Jakarta : PT.ISFI Penerbitan. 2010 : 276 277 Birnbaum, Warrren, Dunne,Stephen M. Diagnosis Kelainan dalam Mulut Petunjuk Bagi Klinisi. EGC. Jakarta. Indonesia. 2010. p259-261. centers for disease control and prevention HIV/AIDS surveiliance report. 1997a;9 (2). Cermin Dunia Kedokteran, januari 2011 Contantia, Febrina. Oral Hairy Leukoplakia sebagai Manifestasi Oral pada Pasien HIV/AIDS. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. 2011 Direktorat Kesehatan Angkatan Darat. PANDUAN PRAKTIS Pedoman Pelayanan Penderita HIV / AIDS di Fasilitas Kesehatan TNI-AD. 2011.Komisi Penanggulangan Aids Nasional. Djuanda, Adhi, Prof. Dr. dr. dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2005. Hal 169-176.

FDA. Summary of Safety and Efectiveness Data. 2004 Gupta G. Current Concepts in HIV Pathogenesis and Treatment.2001 Hadrian D. Skripsi: Pencegahan Infeksi Silang kepada Dokter Gigi dalam Penatalaksanaan pasien AIDS. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Medan. Indonesia. 2002 Hoffmann, Rockstroh, Kamps. HIV Medicine 2006. Flying Pub. Paris. 2006. p.23-94. International AIDS Society-USA. Perspective Oral Manifestations of HIV Disease. Volume 13. Issue 5. December 2005/January 2006 Jusuf B. AIDS, berhubungan dengan penyakit menular seksual lain. cermin dunia kedokteran 1992; 75: 23-5 Kurniati. AIDS dan Kulit. Berbagai Aspek Klinis AIDS dan Penatalaksanaannya. Cermin Dunia kedokteran. Penerbit Grup PT Kalbe Farma. Jakarta.1995. hal 4-12 Langlais, RP & Miller CS. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut yang Lazim. Hipokrates. 2000.p104-107

DAFTAR PUSTAKA Oil (VCO) dalam Nasution FJ. Sripsi: Peranan Virgin Coconut

Menyembuhkan lLesi Oral Penderita HIV/AIDS. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Medan. Indonesia. 2009 Pintauli, Sondang. AIDS dan Pencegahan Penularannya pada Praktek Dokter Gigi. Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Pencegan Kesehatan Gigi Masyarakat. Fakultas Kedokteran Gigi USU. Medan. Sumatera Utara. 2004.p3-4 Sanders GD, Bayoumi AM, Sundaram V. coss-effectiveness of screnning for HIV in the era of highly active antiretroviral therapy.2005:570-585 Singh S. Pharmacology for Dentistry. New Age International (P) Ltd, Publisher. New Delhi. India. 2007. P.337-347 Siregar, RS, Prof. Dr. SpKK(K). Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). EGC. Jakarta. 2005. hal. 126-127 Sutedjo, AY, dr.SpPD (KTPI). Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan imunoserologi. Penerbit Amara Books. Yogyakarta.2008. hal 119

Susetyo, A. HIV/AIDS dan Tindakan Kontrol Infeksi dalam Praktek Dokter Gigi. JITEKGI. 2005. p 27-33. Tissalia A. HIV/AIDS pada Anak Manifestasi dan Penatalaksanaannya. Universitas Indonesia. Salemba. Indonesia. 2010 WHO. Interim WHO linica Staging of HIV/AIDS and HIV/AIDS Case Definitions for Surveillance. African Region. WHO/HIV/2005.02