Anda di halaman 1dari 97

ANALISIS VEGETASI

ANALISIS VEGETASI
Secara garis besar, metode analisis vegetasi dapat dikelompokkan menjadi 2 macam: 1. Metode destruktif Metode ini biasanya dilakukan untuk memahami jumlah materi organik yang dapat dihasilkan oleh suatu komunitas tumbuhan. Variabel yang digunakan bisa berupa produktivitas primer, maupun biomassa (jumlah total benda hidup dalam populasi tertentu organisme).

Metode destruktif umumnya dilakukan untuk bentuk vegetasi yang sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara 1 m2 sampai 5 m2 Penimbangan bisa didasarkan pada berat segar materi hidup atau berat keringnya. Metode ini sangat membantu dalam menentukan kualitas suatu padang rumput terbuka dikaitkan dengan usaha pencarian lahan penggembalaan dan sekaligus menentukan kapasitas tampungnya. Pendekatan yang terbaik untuk metode ini adalah secara floristika, yaitu didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.

2. Metode non destruktif 2.1. Non destruktif non floristika Penelaahan organisme hidup atau tumbuhan tidak didasarkan pada taksonominya. Pada prinsipnya mengungkap vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya. Pembagian dunia tumbuhan secara taksonomi sama sekali diabaikan.

2.2. Non destruktif floristika


Metode ini dapat menentukan kekayaan floristika atau keanekaragaman dari berbagai bentuk vegetasi. Penelaahan dilakukan terhadap semua populasi spesies pembentuk masyarakat tumbuhan tersebut. Jadi dalam hal ini pemahaman dari setiap jenis tumbuhan secara taksonomi adalah mutlak

diperlukan.

Dalam pelaksanaannya sangat ditunjang dengan variabelvariabel yang diperlukan untuk menggambarkan baik struktur maupun komposisi vegetasi, di antaranya adalah: 1. Kerapatan: jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan tertentu, misalnya 100 individu per hektar. 2. Cover (Kelindungan): proporsi permukaan tanah yang ditutupi oleh proyeksi tajuk tumbuhan, dinyatakan dalam satuan persen 3. Frekuensi : jumlah petak contoh di mana ditemukannya jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat, dinyatakan dalam persen.

Contoh perhitungan: 1. Jenis tumbuhan Avicennia marina (api-api) ditemukan dalam 50 petak contoh dari 100 petak contoh yang dibuat. Hitunglah berapa frekuensi. Frekuensi = 50/100 x 100% = 50% 2. Jenis tumbuhan bakau (Rhizophora apiculata) mempunyai proyeksi tajuk seluas 10 m2 dalam suatu petak contoh seluas 100 m2. Hitunglah cover (kelindungan) jenis bakau tersebut. Kelindungan = 10/100 x 100% = 10%

PENARIKAN UNIT CONTOH DALAM KOMUNITAS TUMBUHAN


1. Bentuk Unit Sampling
Bentuk unit sampling dalam survei vegetasi dapat berupa kuadrat, garis dan titik. Umumnya survei vegetasi menggunakan unit sampling berbentuk kuadrat. 2. Ukuran Kuadrat Pertimbangan utama dalam penentuan kuadrat adalah kehomogenan vegetasi dan keadaan morfologi jenis tumbuhan yang diukur.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPERAN TERHADAP PENYEBARAN VEGETASI

KULIAH KE-2 12 MARET 2012

VEGETASI:
Kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh bersama-sama pada suatu tempat di mana antara individu-individu penyusunnya

terdapat interaksi yang erat, baik di antara


tumbuh-tumbuhan hewan yang maupun dengan hewandan

hidup

dalam

vegetasi

lingkungan tersebut.

Vegetasi tidak hanya kumpulan dari individuindividu tumbuhan, melainkan membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling tergantung satu sama lain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan, 1978)

Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai

keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di


suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat lain karena perbedaan faktor lingkungannya.

1. FAKTOR TANAH (EDAFIK)


Tingkat kesuburan tanah merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap penyebaran vegetasi. Makin subur tanah, maka kehidupan tumbuhan makin banyak jumlah dan jenisnya. Faktor tanah meliputi: Morfologi medan, sifat endapan, batuan induk.

Morfologi (bentuk) medan

Bentuk medan yang dijumpai sehari-hari adalah hasil akhir dari dua kekuatan yang berlawanan, yaitu: a. Kekuatan luar: pelapukan, pengikisan, pengendapan b. Kekuatan dalam: tektonik dan volkanisme

Atas dasar kekuatan tersebut, morfologi medan dibedakan : a. Daerah pengikisan b. Daerah pengendapan

Intensitas pengikisan tergantung pada lereng. Makin terjal


lereng, makin besar pengikisan. Pada medan yang tidak berlereng, terjadi pengendapan.

Sifat Endapan

Makin dekat dengan daerah pengikisan, butiran endapan


makin besar, makin jauh dari daerah berlereng, butiran endapan makin halus.

Bahan yang diendapkan di tepi sungai = tanggul sungai


Bahan yang diendapkan di muara sungai = delta Bahan yang diendapkan di alur sungai = beting (gosong) Pengikisan dan pengendapan bergantung pada lereng, maka lereng merupakan faktor pembatas utama.

Batuan Induk Jenis batuan induk menentukan tingkat kesuburan tanah. Bahan batuan induk tanah di Indonesia berasal dari

(1) pelapukan batuan volkanik tua, (2) batuan volkanik


muda, (3) batuan endapan dari zaman tertier dan (4) endapan aluvial.

Selain itu di daerah endapan sungai-sungai besar,


terdapat wilayah yang cukup luas, yang tertutup oleh bahan organik, yang disebut gambut.

2. FAKTOR IKLIM Iklim merupakan faktor dominan yang mempengaruhi

pola penyebaran vegetasi


Wilayah dengan pola iklim ekstrim seperti kutub atau gurun, sangat menyulitkan bagi kehidupan organisme. Oleh karena itu penyebaran vegetasi di kedua wilayah ini sangat minim, baik jumlah maupun jenisnya. Sebaliknya di daerah tropis merupakan wilayah yang optimal bagi kehidupan spesies.

Faktor iklim yang berpengaruh terhadap penyebaran vegetasi antara lain: (1) suhu, (2) kelembaban udara, (3) angin dan (4) curah hujan. (1) Suhu Perbedaan suhu bukan karena musim, tetapi karena perbedaan ketinggian tempat dan perbedaan siang dan malam. Perbedaan suhu mengakibatkan adanya perbedaan dalam pola penggunaan tanah, terutama dalam jenis tanaman yang diusahakan

Junghuhn membuat zonasi (pembatasan wilayah) tumbuh-tumbuhan sbb.

Daerah panas (0 650 m dpl): kelapa, padi, jagung, tebu, karet Daerah sedang (650 1500 m dpl): kopi, tembakau, teh, sayuran Daerah sejuk (1500 2500 m dpl): teh, sayuran, kina, pinus Daerah dingin (> 2500 m dpl): tidak ada tanaman budidaya

Suhu berpengaruh terhadap: Perbedaan waktu umur panen padi di dataran rendah dengan di pegunungan, Tanaman karet tidak menghasilkan getah bila ditanam pada ketinggian di atas 800 m dpl. Di dataran rendah tidak ada perkebunan teh, sebaliknya perkebunan kelapa yang ekonomis hanya terdapat di dataran rendah

Suhu rata-rata tahunan dataran rendah = 26o C Berkurang 0,6o C tiap kenaikan 100 m. Untuk Puncak Jaya Wijaya (5000 m dpl) akan terdapat suhu rata-rata di bawah 0oC

atau suhu yang memungkinkan adanya tutupan salju terusmenerus.

Perbedaan suhu siang hari dan suhu malam hari cukup besar, terutama pada waktu hari cerah di musim kemarau.

Di daerah pegunungan, perbedaan suhu tersebut sering


menimbulkan kerusakan pada tanaman teh.

Perbedaan suhu udara pada ketinggian tempat yang berbeda Beda suhu = 0,006 (X1 X2) x 1o C Contoh: Kota A, ketinggian 5 m dpl, suhu rata-rata 28 oC Kota B, ketinggian 215 m dpl, suhu rata-rata = ....... ? Beda suhu = 0,006 (5 215) x 1oC = -1,2 o C Jadi suhu rata-rata kota B = 28 1,2oC = 26,8 oC

(2) Kelembaban Udara


Kelembaban udara berpengaruh langsung

terhadap pola penyebaran vegetasi. Beberapa


jenis tumbuhan sangat cocok hidup di wilayah kering, sebaliknya terdapat jenis tumbuhan yang hanya bertahan hidup di atas lahan dengan kadar air yang tinggi.

Berdasarkan tingkat kelembaban, berbagai jenis


tumbuhan diklasifikasikan ke dalam 4 kelompok utama, yaitu:

a. Xerophyta, jenis tumbuhan yang tahan terhadap lingkungan hidup yang kering, contoh kaktus, rumput gurun. b. Mesophyta, jenis tumbuhan yang cocok hidup di lingkungan yang lembab, contoh: anggrek, cendawan (jamur). c. Hygrophyta, jenis tumbuhan yang cocok hidup di lingkungan yang basah, contoh: eceng gondok, teratai. d. Tropophyta, jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan musim, contoh: pohon jati

KULIAH KE-3, SELASA, 20 MARET 2012

Lanjutan Faktor Iklim


(3) Angin Angin berfungsi sebagai alat transportasi yang memindahkan benih beberapa jenis tumbuhan dan membantu penyerbukan. Selain itu angin berfungsi untuk mendistribusikan uap air atau awan yang mengandung hujan dari

suatu tempat ke tempat lain.

Sebagai contoh, hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh angin Monson barat. Angin ini membawa uap air yang relatif banyak,

sehingga kemungkinan turunnya hujan lebat di sisi


gunung (sisi barat) datangnya angin akan sangat besar. Contoh: Daerah Kranggan (lereng barat G. Slamet) dengan curah hujan 8.305 mm/tahun (tertinggi di Indonesia)

Sebaliknya, keberadaan vegetasi akan mampu menghalangi pergerakan angin, sehingga dapat meningkatkan curah hujan untuk daerah di

sekitarnya.
Angin pada umumnya mempengaruhi faktor-faktor ekologi lainnya di suatu tempat, misalnya terhadap penguapan air.

Secara fisiologi, angin dapat mengurangi kecepatan pertumbuhan tanaman dengan mengganti udara yang basah dengan udara kering, akibatnya meningkatkan transpirasi.

Hal ini menyebabkan pertumbuhan pohon dan semak umumnya terjadi di tempat yang jauh dari arah tiupan angin.

(4) Curah Hujan Jumlah curah hujan rata-rata per tahun yang

turun di berbagai tempat di Indonesia berkisar


antara 500 mm sampai lebih dari 5.000 mm, sehingga sebenarnya tidak seluruh wilayah Indonesia mempunyai iklim tropis basah. Curah hujan sebesar 500 mm setahun sebenarnya sudah mendekati keadaan gurun untuk daerah panas.

Ada beberapa hal yang menyebabkan terdapatnya iklim hampir gurun di beberapa tempat di

Indonesia.
1. Letak daerah di pesisir yang arah pantainya sejajar dengan arah angin. Contoh: Gilimanuk, Bali Vemasse, Timor Leste

2. Letak di balik bukit Contoh:

- Kota Palu (547 mm/tahun)


terendah di Indonesia - Lombok (726 mm/tahun) - Waingapu (768 mm/tahun) - Waiwerang (753 mm/tahun)

Tempat-tempat yang bercurah hujan besar adalah tempat-tempat yang letaknya di pantai barat atau selatan yang langsung menghadapi

angin barat, misalnya:


Meulaboh Sibolga Padang Bengkulu (3729 mm) (4662 mm) (4453 mm) (3299 mm)

Tempat-tempat lain yang bercurah hujan besar adalah tempat-tempat yang terletak pada lereng gunung yang menghadap ke barat dengan

ketinggian tertentu, misalnya:


Kranggan, lereng barat G. Slamet (8.305 mm/th) Wanayasa, lereng Tangkubanperahu (4543 mm/th) Lereng barat Pegunungan Dieng (6649 mm/th)

Jumlah hujan berkurang, apabila letak suatu tempat melampaui ketinggian tertentu, contoh: Nama tempat Ketinggian (m dpl) Curah hujan (mm)

Batujaya Purwakarta Wanayasa Ciater Puncak Tangkubanperahu

4 82 650 1100 1872

1450 2900 4500 4600 3800

Tidak seluruh Indonesia mengalami musim hujan pada saat musim angin barat. Musim hujan pada musim angin barat terutama terjadi di Indonesia bagian barat. Dari Sulawesi Tenggara ke timur, musim hujan jatuh justru pada saat Indonesia bagian barat sedang musim kemarau yaitu pada bulan Mei Juni.
Kota Cirebon Kendari Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des ------------------ cm --------------------45 36 32 20 15 10 6 2 4 6 15 33 18 17 19 18 21 19 12 6 3 2 7 17

Selain itu terdapat perbedaan waktu jatuhnya musim hujan antara dua tempat, misalnya antara Banyumas dengan Banjarnegara.

Banyumas yang terletak di sebelah barat, lebih sering


mencapai kemantapan musim hujan beberapa hari lebih dulu daripada Banjarnegara. Tenggang waktu musim

hujan terdapat juga dalam sekala yang lebih tinggi


antara tempat-tempat yang terletak di bagian barat Pulau Jawa dengan bagian timurnya.

3. FAKTOR BIOTIK (Manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan)


Manusia mampu mengubah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Misalnya daerah hutan diubah menjadi daerah pertanian, perkebunan atau perumahan dengan melakukan penebangan, reboisasi, atau pemupukan.

Manusia dapat menyebarkan tumbuhan


dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Selain itu faktor hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan.

Misalnya serangga dalam proses


penyerbukan, kelelawar, burung, tupai membantu dalam penyebaran biji tumbuhan.

Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan

kehidupan tumbuh-tumbuhan.
Contohnya bakteri saprophit merupakan jenis tumbuhan mikro yang membantu penghancuran sampah-sampah di tanah sehingga dapat menyuburkan tanah.

Perkembangan penduduk penyebaran penduduk tempat tinggal


Agraris lahan bertani endapan aluvial pemusatan penduduk ketinggian 3 7 m Permukiman (perkampungan) bentuk-bentuk endapan delta, tanggul pantai atau tanggul sungai. Perkampungan di pesisir yang letaknya mengikuti bentuk tanggul sering memanjang sejajar dengan pantai.

Jumlah penduduk yang selalu berubah menimbulkan perubahan pola penggunaan tanah di suatu daerah

Mata pencaharian, tingkat kehidupan dan penyebaran penduduk sangat menentukan corak penggunaan tanah. Hal ini yang menyebabkan adanya perbedaan penggunaan tanah di daerah perkotaan dan pola penggunaan tanah di daerah pedesaan.

KLASIFIKASI VEGETASI

KLASIFIKASI VEGETASI
Ossting (1982), mengklasifikasikan vegetasi terdiri dari 7 macam : 1. Vegetasi Pantai Vegetasi yang terletak di tepi pantai dan tidak terpengaruh oleh iklim serta berada di atas garis pasang tertinggi (Departemen Kehutanan). Salah tanaman yang terdapat di daerah pantai adalah kelapa, merupakan satu jenis tumbuhan dari keluarga Arecaceae.

2. Vegetasi Mangrove/Rawa Definisi menurut FAO (1982): adalah jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh pada daerah pasang surut.

Macam-macam Vegetasi Mangrove a. Vegetasi inti: Jenis ini membentuk hutan mangrove di daerah yang mampu brtahan terhadap salinitas (garam) yang disebut sebagai Halophyta. Kebanyakan jenis mangrove mempunyai adaptasi khusus untuk tumbuh dan berkembang,toleransi terhadap garam tinggi,dapat bertahan pada perendaman pasang surut.

b. Vegetasi marginal: Pada mangrove yang berada di darat, di rawa musiman, pantai dan atau mangrove marginal.

c. Vegetasi fakultatif marginal: Daerah yang banyak ditumbuhi tanaman Meliaceae dengan jenisnya Carapa guianensis, Raphia taedigera, dan

Melaleuca leucadendron.

Vegetasi yang tumbuh di daerah pantai berlumpur dengan jenis-jenis pohon diantaranya pohon bakau (Rhizophora sp), Bruguiera sp., Sonneratia sp., Xylocarpus, dan Avicenia

3. Vegetasi Payau

Adalah areal/bidang tanah yang berupa hutan lebat yang


berawa-rawa, permukaan tanah tergenang selama enam bulan dan kumulatif dalam setahun dan pada kurun waktu tidak terjadi penggenangan (surut) tanah senantiasa jenuh air (Badan Pertanahan Nasional).

Vegetasi payau tumbuh di daerah pertemuan

air sungai dan air laut yang terdapat di muara


sungai. Jenis vegetasi di daerah payau adalah

Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata


tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan

bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia


alba) tumbuh di atas pasir berlumpur.

4. Vegetasi Gambut Tipe vegetasi yang umumnya terdapat pada daerah beriklim A atau B.

Jenis pohonnya antara lain ramin (Gonystylus


bancanus), dan jelutung (Dyera sp).

Lahan gambut sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air.

Tanah gambut terdapat di cekungan, depresi atau bagianbagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi.

Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut

yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang


pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati depresi luas yang menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.

Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk


pertumbuhan tanaman bila ditinjau dari jumlah pori-pori yang berkaitan dengan pertukaran oksigen untuk pertumbuhan akar tanaman. Kapasitas memegang air yang tinggi daripada tanah mineral menyebabkan tanaman bisa berkembang lebih cepat. Akan tetapi dengan keberadaan sifat inheren yang lain seperti kemasaman yang tinggi, kejenuhan basa yang rendah dan miskin unsur hara baik mikro maupun makro menyebabkan tanah gambut digolongkan sebagai tanah marginal (Limin et al, 2000). Untuk itulah perlunya usaha untuk mengelola tanah tersebut dengan semestinya.

Tanaman yang dapat tumbuh di lahan gambut


adalah kelapa sawit, sagu, nanas, cassava, kacang tanah, kedelai, jagung, ubi jalar, asparagus, sayuran, jambu air, mangga, dan rambutan

5. Vegetasi Dataran Rendah


Vegetasi yang tumbuh dibawah ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Daerah ini banyak terdapat tanah aluvial. Vegetasi tanah aluvial secara umum merupakan habitat yang subur dan mempunyai keaneragaman jenis yang tinggi. Jenis

pohonnya antara lain pohon belian/ kayu besi (Eusideroxilon


zwageri).

Beberapa spesies tanaman yang biasanya terdapat


di dataran rendah seperti casuarina dan matoa; tanaman pertanian seperti nanas, melon, dan

pisang; serta sayur mayur dan bijih-bijihan seperti


cabai, ketimun, tomat, padi, buncis dan labu. Tanaman lain yang dapat tumbuh di dataran rendah diantaranya : jagung, ketela pohon, ubi jalar, kacangkacangan, karet, kopi robusta, kelapa sawit, tebu,

cokelat, tembakau, kapuk.

6. Vegetasi Dataran Tinggi

Vegetasi yang tumbuh di ketinggian antara 700 - 1500 m diatas permukaan laut (Badan Pertanahan Nasional).
Tanaman yang tumbuh pada daerah tersebut sifatnya sangat khusus karena harus bertahan untuk hidup pada kondisi sulit. Tanaman yang dapat tumbuh di daerah dataran tinggi diantaranya : cemara (tumbuhan berdaun jarum), ketela pohon, ubi jalar, kopi, dan cokelat.

7. Vegetasi Pegunungan Vegetasi yang tumbuh diketinggian antara 1500-2500 m di atas permukaan laut . Tanaman yang tumbuh antara lain teh dan bunga Eidelweis. Selain itu tanaman kopi dan tembakau dapat tumbuh di daerah ini namun hanya dapat pada musim kemarau.

VEGETASI DAN TATA GUNA LAHAN


DOSEN: 1. JOKO MARYANTO 2. SUWARDI

SILABUS
I. PENDAHULUAN A. Kontrak Pembelajaran B. Pengertian: Vegetasi, Penutup/Liputan Lahan (Land Cover), Tata Guna Lahan/Penggunaan Lahan (Land Use) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEBARAN VEGETASI/TANAMAN A. Faktor Tanah B. Faktor Iklim C. Faktor Manusia dan Tata Kehidupan Masyarakat KLASIFIKASI VEGETASI/TANAMAN DAN KARAKTERISTIKNYA A. Vegetasi Sebagai Bagian dari Penutup Lahan B. Vegetasi Alami dan Non Alami C. Distribusi, Tipe dan Azas Penyebaran Vegetasi D. Analisis Vegetasi

II.

III.

SILABUS
IV.

LINGKUP PENGGUNAAN LAHAN/TATA GUNA LAHAN A. Tata Guna Lahan dan Pembangunan Pertanian B. Stadia Perkembangan Pertanian dan Penggunaan Tanahnya C. Analisa Tata Guna Lahan D. Status dan Pemilikan Tanah METODE INVENTARISASI PENGGUNAAN LAHAN A. Pengumpulan Data dengan Survei Lapang dan Teknik Penginderaan Jauh B. Pengelolaan dan Penyajian Data C. Pemantauan Penggunaan Lahan/Vegetasi

V.

VI.

PERENCANAAN TATA GUNA LAHAN A. Penggunaan Lahan dalam Hubungannya dengan Perencanaan Pembangunan B. Konsep Penatagunaan Lahan C. Metode dan Sistem Perencanaan Tata Guna Lahan

PUSTAKA
1. Jayadinata. 2005. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Perdesaan, Perkotaan dan Wilayah. Penerbit ITB Bandung. 2. Kusmana, C. 1997. Metode Survei Vegetasi. Penerbit IPB. Bogor. 3. Sandy, M. 1985. Penggunaan Tanah di Indonesia. Direktorat Tata Guna Tanah. Dep Dalam Negeri. 4. ----------. Prosedur Perencanaan Tata Guna Tanah. Depdagri.

I. PENDAHULUAN
VEGETASI = LIPUTAN LAHAN = LAND COVER TATA GUNA LAHAN = PENGGUNAAN LAHAN = LAND USE MADE SANDI LAHAN IDENTIK DENGAN LINGKUNGAN FOKUS DARI LINGKUNGAN LAHAN
LAND USE PENGGUNAAN PERMUKAAN TANAH DAN PENGGUNAAN LAHAN PADA SAAT ITU UNTUK KEPENTINGAN MANUSIA LAHAN TIDAK HANYA PERMUKAAN TANAH, NAMUN JUGA GEJALA-GEJALA DAN EFEK DARI PENGGUNAAN LAHAN TERSEBUT

LAND COVER LEBIH DITEKANKAN PADA KENAMPAKAN VISUAL, KENAMPAKAN TAMPAK MATA APA YANG ADA DI PERMUKAAN TANAH TUMBUHAN, HUTAN, RUMPUT, DLL. LAND USE TERMASUK FUNGSI LAHAN, MANFAAT BAGI MANUSIA LEBIH DITEKANKAN TIDAK HANYA KENAMPAKAN VISUALNYA PERTANIAN, DLL.

LAND COVER

PENGGUNAAN LAHAN (LAND USE)

VEGETASI: Istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan VEGETASI: Merupakan bagian makhluk hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Misalnya: hutan, kebun, padang rumput, tundra, dll. VEGETASI: Salah satu komponen ekosistem yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi fakta lingkungan yang mudah diukur dan nyata

VEGETASI:
Kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh
bersama-sama pada suatu tempat di mana antara individu-individu penyusunnya terdapat interaksi yang erat, baik di antara tumbuh-tumbuhan maupun dengan hewan-hewan yang hidup dalam vegetasi dan lingkungan tersebut.

Vegetasi tidak hanya kumpulan dari individuindividu tumbuhan, melainkan membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling tergantung satu sama lain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan, 1978)

PETA LAND USE SAWAH ditanami padi atau jagung tanaman semusim jenis irigasi 1950 land use hanya sebagai kenampakan kasat mata Land Utilization ditekankan pada fungsi dari liputan lahan disamping kenampakan visualnya. Kesimpulan: Land use penggunaan permukaan tanah dan penggunaan lahan untuk kepentingan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

LAND USE
a. Pemanfaatan lingkungan yang ada di suatu tempat untuk kepentingan manusia

b. Segala macam campur tangan manusia baik secara permanen atau siklis terhadap suatu kumpulan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan (lahan) dengan tujuan mencukupi kebutuhan baik material, spiritual atau keduanya

PENGGUNAAN LAHAN PEDESAAN


Menunjukkan aktivitas yang dijalankan untuk keperluan pertanaman (produksi, pangan, dsb.)

OVER USE
Penggunaan lahan yang mengakibatkan degradasi tanah (erosi, penggaraman, kemunduran dan kesuburan tanah)

PERLINDUNGAN LAHAN
Penggunaan dan perlindungan terhadap sumber-sumber produksi dari lahan sejalan dengan prinsip-prinsip menajemen, diperoleh manfaat tertinggi dalam ekonomi.

JAYADINATA:
TATA GUNA TANAH (LAND USE) Pengaturan penggunaan tanah, baik penggunaan permukaan bumi di daratan juga permukaan bumi di lautan. Aguna tidak digunakan Wyaguna penggunaan yang salah (alpa guna) Tuna Guna penggunaan yang kurang benar TGT Tanah dengan unsur alam lain air, iklim, kegiatan manusia dalam kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi.

UN USED --> Keadaan di atas tanah di mana tidak ada penggunaan yang sengaja oleh manusia, misal: tanah kosong, alang-alang, tanak rusak, dsb. PEMANFAATAN TANAH Menunjukkan keadaan nyata yang lebih detail pada suatu jenis penggunaan tanah dalam rangka memperoleh nilai tambah penggunaan tanpa mengubah wujud fisik penggunaannya. Misal: penggunaan tanah diklasifikasi jenisnya sebagai pemukiman pemanfaatan tanahnya dapat berupa tempat tinggal, warung, dll.

JENIS PENGGUNAAN TANAH: 1. PENGGUNAAN TANAH PERKOTAAN Dominasi penggunaan tanah non pertanian: perumahan, jasa, perdagangan, industri. Cirinya: a. Intensitas penggunaan lebih intensif b. Adanya keterkaitan antar unit penggunaan tanah yang sangat erat c. Ukuran unit-unit penggunaan didominasi luasan relatif kecil dibandingkan pedesaan

VEGETASI DAN TATA GUNA LAHAN


DOSEN: 1. JOKO MARYANTO 2. SUWARDI

SILABUS
I. PENDAHULUAN A. Kontrak Pembelajaran B. Pengertian: Vegetasi, Penutup/Liputan Lahan (Land Cover), Tata Guna Lahan/Penggunaan Lahan (Land Use) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEBARAN VEGETASI/TANAMAN A. Faktor Tanah B. Faktor Iklim C. Faktor Manusia dan Tata Kehidupan Masyarakat KLASIFIKASI VEGETASI/TANAMAN DAN KARAKTERISTIKNYA A. Vegetasi Sebagai Bagian dari Penutup Lahan B. Vegetasi Alami dan Non Alami C. Distribusi, Tipe dan Azas Penyebaran Vegetasi D. Analisis Vegetasi

II.

III.

SILABUS
IV.

LINGKUP PENGGUNAAN LAHAN/TATA GUNA LAHAN A. Tata Guna Lahan dan Pembangunan Pertanian B. Stadia Perkembangan Pertanian dan Penggunaan Tanahnya C. Analisa Tata Guna Lahan D. Status dan Pemilikan Tanah METODE INVENTARISASI PENGGUNAAN LAHAN A. Pengumpulan Data dengan Survei Lapang dan Teknik Penginderaan Jauh B. Pengelolaan dan Penyajian Data C. Pemantauan Penggunaan Lahan/Vegetasi

V.

VI.

PERENCANAAN TATA GUNA LAHAN A. Penggunaan Lahan dalam Hubungannya dengan Perencanaan Pembangunan B. Konsep Penatagunaan Lahan C. Metode dan Sistem Perencanaan Tata Guna Lahan

PUSTAKA
1. Jayadinata. 2005. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Perdesaan, Perkotaan dan Wilayah. Penerbit ITB Bandung. 2. Kusmana, C. 1997. Metode Survei Vegetasi. Penerbit IPB. Bogor. 3. Sandy, M. 1985. Penggunaan Tanah di Indonesia. Direktorat Tata Guna Tanah. Dep Dalam Negeri. 4. ----------. Prosedur Perencanaan Tata Guna Tanah. Depdagri.

I. PENDAHULUAN
VEGETASI = LIPUTAN LAHAN = LAND COVER TATA GUNA LAHAN = PENGGUNAAN LAHAN = LAND USE MADE SANDI LAHAN IDENTIK DENGAN LINGKUNGAN FOKUS DARI LINGKUNGAN LAHAN
LAND USE PENGGUNAAN PERMUKAAN TANAH DAN PENGGUNAAN LAHAN PADA SAAT ITU UNTUK KEPENTINGAN MANUSIA LAHAN TIDAK HANYA PERMUKAAN TANAH, NAMUN JUGA GEJALA-GEJALA DAN EFEK DARI PENGGUNAAN LAHAN TERSEBUT

LAND COVER LEBIH DITEKANKAN PADA KENAMPAKAN VISUAL, KENAMPAKAN TAMPAK MATA APA YANG ADA DI PERMUKAAN TANAH TUMBUHAN, HUTAN, RUMPUT, DLL. LAND USE TERMASUK FUNGSI LAHAN, MANFAAT BAGI MANUSIA LEBIH DITEKANKAN TIDAK HANYA KENAMPAKAN VISUALNYA PERTANIAN, DLL.

LAND COVER

PENGGUNAAN LAHAN (LAND USE)

VEGETASI: Istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan VEGETASI: Merupakan bagian makhluk hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Misalnya: hutan, kebun, padang rumput, tundra, dll. VEGETASI: Salah satu komponen ekosistem yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi fakta lingkungan yang mudah diukur dan nyata

VEGETASI:
Kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh
bersama-sama pada suatu tempat di mana antara individu-individu penyusunnya terdapat interaksi yang erat, baik di antara tumbuh-tumbuhan maupun dengan hewan-hewan yang hidup dalam vegetasi dan lingkungan tersebut.

Vegetasi tidak hanya kumpulan dari individuindividu tumbuhan, melainkan membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling tergantung satu sama lain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan, 1978)

PETA LAND USE SAWAH ditanami padi atau jagung tanaman semusim jenis irigasi 1950 land use hanya sebagai kenampakan kasat mata Land Utilization ditekankan pada fungsi dari liputan lahan disamping kenampakan visualnya. Kesimpulan: Land use penggunaan permukaan tanah dan penggunaan lahan untuk kepentingan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

LAND USE
a. Pemanfaatan lingkungan yang ada di suatu tempat untuk kepentingan manusia

b. Segala macam campur tangan manusia baik secara permanen atau siklis terhadap suatu kumpulan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan (lahan) dengan tujuan mencukupi kebutuhan baik material, spiritual atau keduanya

PENGGUNAAN LAHAN PEDESAAN Menunjukkan aktivitas yang dijalankan untuk keperluan pertanaman (produksi, pangan, dsb.) OVER USE Penggunaan lahan yang mengakibatkan degradasi tanah (erosi, penggaraman, kemunduran dan kesuburan tanah) PERLINDUNGAN LAHAN Penggunaan dan perlindungan terhadap sumber-sumber produksi dari lahan sejalan dengan prinsip-prinsip menajemen, diperoleh manfaat tertinggi dalam ekonomi.

JAYADINATA: TATA GUNA TANAH (LAND USE) Pengaturan penggunaan tanah, baik penggunaan permukaan bumi di daratan juga permukaan bumi di lautan. Aguna tidak digunakan Wyaguna penggunaan yang salah (alpa guna) Tuna Guna penggunaan yang kurang benar TGT Tanah dengan unsur alam lain air, iklim, kegiatan manusia dalam kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi.

UN USED --> Keadaan di atas tanah di mana tidak ada penggunaan yang sengaja oleh manusia, misal: tanah kosong, alang-alang, tanak rusak, dsb. PEMANFAATAN TANAH Menunjukkan keadaan nyata yang lebih detail pada suatu jenis penggunaan tanah dalam rangka memperoleh nilai tambah penggunaan tanpa mengubah wujud fisik penggunaannya. Misal: penggunaan tanah diklasifikasi jenisnya sebagai pemukiman pemanfaatan tanahnya dapat berupa tempat tinggal, warung, dll.

JENIS PENGGUNAAN TANAH: 1. PENGGUNAAN TANAH PERKOTAAN Dominasi penggunaan tanah non pertanian: perumahan, jasa, perdagangan, industri. Cirinya: a. Intensitas penggunaan lebih intensif b. Adanya keterkaitan antar unit penggunaan tanah yang sangat erat c. Ukuran unit-unit penggunaan didominasi luasan relatif kecil dibandingkan pedesaan

Beberapa spesies tanaman yang biasanya terdapat


di dataran rendah seperti casuarina dan matoa; tanaman pertanian seperti nanas, melon, dan

pisang; serta sayur mayur dan bijih-bijihan seperti


cabai, ketimun, tomat, padi, buncis dan labu. Tanaman lain yang dapat tumbuh di dataran rendah diantaranya : jagung, ketela pohon, ubi jalar, kacangkacangan, karet, kopi robusta, kelapa sawit, tebu,

cokelat, tembakau, kapuk.

6. Vegetasi Dataran Tinggi

Vegetasi yang tumbuh di ketinggian antara 700 - 1500 m diatas permukaan laut (Badan Pertanahan Nasional).
Tanaman yang tumbuh pada daerah tersebut sifatnya sangat khusus karena harus bertahan untuk hidup pada kondisi sulit. Tanaman yang dapat tumbuh di daerah dataran tinggi diantaranya : cemara (tumbuhan berdaun jarum), ketela pohon, ubi jalar, kopi, dan cokelat.

7. Vegetasi Pegunungan Vegetasi yang tumbuh diketinggian antara 1500-2500 m di atas permukaan laut . Tanaman yang tumbuh antara lain teh dan bunga Eidelweis. Selain itu tanaman kopi dan tembakau dapat tumbuh di daerah ini namun hanya dapat pada musim kemarau.