Anda di halaman 1dari 38

PENETAPAN KADAR ANTIBIOTIK

DISUSUN OLEH:
v v v v v v

Ria Andryani Yuni Sarah Gigin Ginanjar Hari Mahendra Anisa U. R.

(21091054) (21091056) (21091082) (21091085) (21091091) (21091093)

Asri Novi Sahri (21091060)

5/2/12 v Erna Kurnia

Pengertian:

Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi yang dapat menghambat dan membasmi mikroba jenis lain. Suatu antibiotik haruslah memiliki toksisitas selektif setinggi mungkin. Toksisitas selektif artinya, obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba tetapi tidak toksik untuk hospes.

5/2/12

KLASIFKASI ANTIBIOTIK
Berdasarkan sifatnya (Bakterisid dan bakteriostatik) Berdasarkan mekanisme kerjanya (menghambat sintesa dinding sel, menghambat sintesa protein, menghambat sintesa asam nukleat, menghambat sintesa membran plasma dan menghambat sintesa metabolit penting). Berdasarkan spektrum kerjanya (spektrum luas dan sempit ) Berdasarkan struktur kimia. 5/2/12

Mengapa antibiotik ditentukan kadar potensinya?

perlu atau

Efek penggunaan antimikroba yang meningkat, sehingga meningkat pula efek resistensi berbagai mikroba patogen. Mikroba patogen dan virus baru: HIV, Avian flu virus Efektif daya hambat atau daya bunuh anti mikroba sangat tergantung pada jumlah dan kekuatan zat aktifnya.

5/2/12

PENGERTIAN KADAR DAN POTENSI


Kadar merupakan jumlah per satuan berat/ volume. Potensi merupakan ukuran kekuatan/ daya hambat atau daya bunuh zat aktif terhadap mikroorganisme tertentu.

5/2/12

Dalam hal ini ditetapkan potensi antibiotik secara mikrobiologi.


Mengapa harus dengan cara mikrobiologi?

Respon mikroba terhadapa antibiotik berbeda- beda. Spesifik Sensitif

5/2/12

Prinsip uj potensi antibiotik berdasarkan FI IV 1995 Estimasi dari potensi antibiotik melalui perbandingan langsung antara sampel (antibiotik uji) dengan antibiotik standar yang telah disahkan penggunaanya, terkalibrasi dengan baik, dan umum digunakan sebagai rujukan.

5/2/12

Tujuan pengujian Sebagai standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan hilangnya aktivitas (potensi) antibiotik terhadap daya hambatnya pada mikroba.

5/2/12

Metode Umun dalam pengujian:


1. 2.

Lempeng (silinder/ kertas cakram) Turbidimetri (tabung)

5/2/12

Metode Lempeng Silinder Difusi antibiotik dari silinde yang dipasang tegak lurus pada lapisan agar padat dalam cawan petri atau lempeng berisi biakan mikroba uji pada jumlah tertentu Mikroba dihambat pertumbuhannya.

5/2/12

Metode Turbidimetri

Hambatan pertumbuhan biakan mikroba dalam larutan serba sama antibiotik, dalam media cair yang dapat menumbuhkan mikroba dengan cepat bila tidak terdapat antibiotik. Metode turbidimetri digunakan pada sampel yang sulit larut dalam air, contoh: Gramisidin.

5/2/12

Persiapan Uji
Mikroorganisme Bahan Alat

5/2/12

Unit dan Baku Pembanding Potensi Antibiotik

Adalah antibiotik dimana potensinya yang dinyatakan dalam unit atau g aktivitas antibiotik per mg zat kering telah ditetapkan secara nasional (BPFI). g aktivitas dianggap terdiri dari bahan kimia tunggal Unit merupakan baku pembanding apabila terdapat lebih dari satu bahan aktif antibiotik dalam suatu obat antibiotik.

5/2/12

Mikroba Uji dan Inokula

5/2/12

Mikroba Uji
Mikroba

uji untuk antibiotik tertentu, pelihara pada agar miring dan inkubasi Mikroba uji harus merupakan galur murni dan dipindahkan setiap minggu.

5/2/12

Penyiapan Inokula

Inokulasikan biakan segar ke 250 ml media agar dalam tabung Roux, sebarkan secara merata, inkubasikan pada suhu dan waktu tertentu. Larutan biakan ermukaan ke dalam 0 ml larutan NaCl 0,9% steril. Atur perbandingan hingga inokula transmitans 25% terhadapa blangko. mempunyai

Untuk penetapan tubidimetri, optimalkan hubungan antara dosis dan respon. Pada penetapan lempeng silinder, atur larutan suspensi hinga menghasilkan batas daerah hambatan yang memuaskan; yaitu 14mm- 16mm.

5/2/12

Cara Pengujian
1. 2. 3. 4.

Desan penetapan Metode lempeng silinder Metode turbidmetri Cara Perhitungan

5/2/12

Desain Penetapan

Pada penetapan lempeng silinder, perbandingan pokok dibatasi pda ubungan pengukuran diameter hambat antar lempeng. Pada penetapan turbidimetri, perbandingan pokok dibatasi pada hubungan anttara kekeruhan yang diamati pada tiap rakDianjurkan hanya menggunakan satu dois dengan suatu kurva baku dan pengenceran larutan minimal 5 atu lebh.

5/2/12

Penetapan potensi antibiotik secara mikrobiologi dipengaruhi oleh variabel intra dan antar penetapan. dengan penyipan larutan baku dan uji secara terpisah, dan langi pada hari yang berbeda. hasil yang diperoeh berbeda signifikan, lakukan satu atau lebih penetapan tabaha.

Awali

Jika

5/2/12

Metode Turbidimetri
1ml larutan uji dan larutan baku tiap dosis pada 3 tabung reaksi; buat triplo dan simpan secara acak Buat 2 tabung kontrol

Tambahkan 9,0 ml inokulum kedalam tiap tabung

Letakkan tabung pada penangas air atau inkubator suhu (36-37,5)0C selama 2jam

Setelah di inkubasi tambahkan 0,5 ml larutan formaldehid encer

5/2/12

Ukur trasmitans atau serapan pada 530 nm

Metode Lempeng Silinder


Pada cawan petri dibuat lapisan dasar dan licin Tambahkan 4,0 ml lapisan inokula

Jatuhkan 6 buah silinder pada permukaan agar dalam jarak 2,8 cm; pada ketinggian 12mm

Isi silinder selang seling dengan dosis tengah baku (S3); buat triplo

Inkubasi pada suhu 32-25 0C selama 16-18 jam

Ukur diameter hambat yang terbentuk pada agar


5/2/12

Desain Pengujian
Dipilih berdasarkan hasil akhir yang diinginkan presisi atau tidak. Desain yang digunakan : 2+2 : yaitu satu baku pembanding dan satu sampel, masingmasing dengan dua tingkat dosis yang diperlakukan dalam satu lempeng (cawan) agar 3+3 : yaitu satu baku pembanding dan satu sampel, masingmasing dengan tiga tingkat dosis yang diperlakukan dalam satu lempeng (cawan) agar 5+1 : yaitu satu baku pembanding dengan 5 tingkat dosis dan satu sampel dengan satu tingkat yang setara dengan dosis menengah (dosis acuan) baku pembanding

5/2/12

Desain Pengujian 3+3


Larutan baku pembanding :sejumlah tertentu baku pembanding dilarutkan dalam pelarut yang sesuai sedemikian sehingga diperoleh larutan induk yanng setara dengan 100 IU/ml Pengenceran dibuat sehingga diperoleh larutan baku dosis rendah, dosis menengah dan dosis tinggi dengan perbandingan yang relatif sama, misalnya 1:2,2:3 dan 3:4

5/2/12

Larutan uji : ditimbang sejumlah tertentu sampel, dilarutkan dalam pelarut yang sesuai sehingga diperoleh lareutan sampel induk yang setara dengan 1000 UI/ml Pengenceran dilakukan dengan dosis kira-kira sama dengan larutan baku pembanding

5/2/12

Masing-masing larutan dimasukkan kedalam silinder atau serapan pada kertas cakram sebanyak 100 L di atas media agar yang telah diinokulasikan mikroba uji Pre-inkubasi selama 1 jam, lalu inkubasi pada 35370C selama 16-18 jam Setelah masa inkubasi, daerah hambat yang terbentuk diukur garis tengahnya.

5/2/12

Desain Pengujian 5+1


Larutan baku pembanding yang dibuat sama dengan desain 3+3, hanya dibuat pengenceran S1, S2, S3, S4 dan S5 dengan tingkat pembanding 1,25. Dosis tengah ditetapkan dulu, misalnya 10 IU/ml, maka : S2=8,0 IU/ml, S1=6,4 IU/ml, S4=12,5 IU/ml, dan S5=15,6 IU/ml

5/2/12

Larutan uji/sampel dibuat larutan induk dan pengenceran yang sama dengan larutan baku pembanding. Larutan S3 (pembanding dosis temgah) selanjutnya selalu ditempatkan pada media agar yang digunakan,dan dalam silinder pencadangan atau kertas cakram yang digunakan dimasukkan 100 l larutan pembanding lainnya (S1,S2,S4,S5)dan larutan uji (U) , masing-masing triplo
5/2/12

Masing-masing larutan dimasukkan kedalam silinder atau serapan pada kertas cakram sebanyak 100 L di atas media agar yang telah diinokulasikan mikroba uji Pre- inkubasi selama 1 jam, lalu diinkubasi pada 35-37 0C selama 18-24 jam Setelah masa inkubasi, daerah hambat yang terbentuk di ukur garis tengahnya

5/2/12

CARA PERHITUNGAN

5/2/12

Desain Pengujian (3+3)


Cara perhitungan dengan desain 3+3 terdiri pada Farmakope Indonesia edisi III, tahun 1979 Analisis meliputi : analisis variasi, perhitungan proteksi dan batas keyakinan potensi hasil penetapan .

5/2/12

Desain Pengujian 5+1


Sebelum menghitung proteksi, dilakukan terlebih dahulu koreksi garis tengah rata-rata diameter daerah hambat dosis larutan baku S1, S2, S4 dan S5 Cara :
1. 2.

Hitung diameter rata-rata S3 di semua cawan (Y3T) Hitung diameter rata-rata S3 pada masing-masing cawan larut baku S1,2,4 dan 5 (Y31, Y32, Y34 dan Y35) S1,2,4 dan 5 (Y1,Y2,Y4 dan Y5)

3. Hitung diameter 5/2/12

Maka diameter koreksi masingmasing larutan baku adalah :


S1 (a) = Y1 + (Y3T Y31) S2 (b) = Y2 + (Y2T Y32) S3 (c) = Y3T S4 (d) = Y4 + (Y3T Y34) S5 (e) = Y5 + (Y3T Y35)

5/2/12

Untuk kurva baku, dihitung diameter dosis terendah dan tertinggi yaitue : (3a + 2b + c )
YR = 5 (3e + 2d + c a) YT = 5 YR = diameter hambat dosis terenda
5/2/12

YT = diameter hambat dosis tinggi

Selanjutnya di buat kurva baku pada kertas semilog: Sumbu X : log dosis Sumbu Y : diameter hambat Hubungkan titik-titik untuk S1 (YR) sampai S5 (YT)

5/2/12

Cara Perhitungan potensi sampel


Sebelum Perhitungan potensi sediaan uji, dilakukan koreksi diameter larutan smapel U : YU koreksi = YS + (YU Y3U) Y3U = diameter rata-rata S3 pada pengujian larutan U YU= diameter rata-rata U pada cawan larutan U YS= hasil interpolasi S3 pada kurva baku

5/2/12

Perhitungan Potensi Sampel


Potensi sediaan uji ditentukan dengan menginterpolasi YU pada sumbu Y ke garis kurva baku dan tarik garis ke sumbu X (diperoleh XU) Dosis U = XU/S3 x dosis S3 Potensi U = dosis U x faktor pengenceran

5/2/12

Cara Perhitungan
Potensi antibiotik dihitung dengan menggunakan metode garis lurus tranformasi log dengan penyesuaian kuadrat terkecil dan uji linearitas Apabila dilakukan lebih dari satu penetapan potensi dari bahan uji yang sama; maka dapat dirata-ratakan.

5/2/12

TERIMA KASIH

5/2/12