Anda di halaman 1dari 107

PENGENALAN ALAT DAN MESIN PERTANIAN (ALSINTAN) UNTUK KEGIATAN PRAPANEN, PANEN, DAN PASCAPANEN

Prof. Dr. Ir. Santosa, MP Azrifirwan, S.TP, M.Eng Dr. subtitle style Click to edit Master Ir. Sandra, MP Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas Padang Mei 2011
5/8/12

ALAT DAN MESIN PERTANIAN UNTUK KEGIATAN PRAPANEN


5/8/12

Alat Pengolah Tanah

Pengolahan tanah adalah suatu usaha untuk mempersiapkan lahan bagi pertumbuhan tanaman dengan cara menciptakan kondisi tanah yang siap tanam. Walaupun pengolahan tanah sudah dilakukan oleh manusia sejak dahulu kala dan sudah mengalami perkembangan yang demikian pesat baik dalam metode maupun peralatan yang digunakan, tetapi sampai saat ini pengolahan tanah masih belum dapat dikatakan sebagai ilmu yang pasti (eksakta) yang dapat dinyatakan secara kuantitatif. Belum ada metode yang memuaskan yang tersedia untuk menilai hasil olah yang dihasilkan oleh suatu alat pengolah tanah tertentu, serta belum dapat 5/8/12 ditentukan suatu kebutuhan hasil olah yang khusus

Alat Pengolahan Tanah Pertama Alat pengolahan tanah pertama adalah alatalat yang pertama sekali digunakan yaitu untuk memotong, memecah dan membalik tanah. Alat-alat tersebut dikenal ada beberapa macam, yaitu (Shuhada, 2010) : 1. bajak singkal (moldboard plow) 2. bajak piring (disk plow) 3. bajak pisau berputar (rotary plow) 4. bajak chisel (chisel plow)
5/8/12

5. bajak subsoil (subsoil plow)

1. Bajak Singkal Bajak singkal ini dapat digunakan untuk bermacam-macam jenis tanah dan sangat baik untuk membalik tanah. Bagian dari bajak singkal yang memotong dan membalik tanah disebut bottom. Suatu bajak dapat terdiri dari satu bottom atau lebih. Bottom ini dibangun dari bagian-bagian utama, yaitu : 1) singkal (moldboard), 2) pisau (share), dan 3) penahan samping (landside). Ketiga bagian utama tersebut diikat pada bagian yang disebut pernyatu (frog). Unit ini dihubungkan dengan rangka (frame) melalui batang penarik (beam). Bagian-bagian dari bajak singkal satu bottom secara terperinci dapat dilihat pada Gambar 1. 5/8/12

5/8/12

Gambar 1. Bagian Bajak Singkal Satu Bottom (Shuhada, 2010)

5/8/12

Pada saat bajak bergerak maju, maka pisau (share) memotong tanah dan. mengarahkan potongan/keratan tanah (furrow slice) tersebut ke bagian singkal. Singkal akan menerima potongan tanah, dan karena kelengkungannya maka potongan tanah akan dibalik dan pecah. Kelengkungan singkal ini berbeda untuk kondisi dan jenis tanah yang berbeda agar diperoleh pembalikan dan pemecahan tanah yang baik. Penahan samping adalah bagian yang berfungsi untuk menahan tekanan samping dari keratan tanah pada singkal, disamping sekaligus menjaga kestabilan jalannya bajak sewaktu bekerja. Bagian yang paling banyak bersinggungan dengan tanah dari bagian ini adalah bagian belakang yang disebut tumit (heel). Untuk menjaga keausan 5/8/12

Selain bagian di atas, bajak singkal juga diperlengkapi dengan alat yang disebut pisau pemotong (coulter). Bagian ini berfungsi untuk membelah tanah atau tumbuhan atau sampah-sampah yang ada diatas tanah sebelum pisau bajak memotong tanah. Dengan demikian sisasisa tumbuhan diatas tanah dapat dibalik dengan baik dan memperingan pekerjaan pisau bajak. Ada dua bentuk pisau pemotong, yaitu pisau pemotong stasioner (stationary knife) dan pisau pemotong berputar (rolling coulter) seperti terlihat pada Gambar 4. 5/8/12

Gambar 4. Beberapa Jenis Pisau Pemotong (Coulter) pada Bajak Singkal (Shuhada, 2010)
5/8/12

Ukuran bajak adalah lebar bajak, dinyatakan dalam

satuan panjang. Ukuran dari satu bajak adalah dengan mengukur jarak dari sayap (wing) sampai penahan samping. Secara teoritis ukuran ini dapat dianggap sebagai lebar pembajakan atau lebar pemotong tanah. Bajak singkal apabila dilihat dari atas atau samping akan terlihat suatu rongga atau hisapan (suction). Suction ini perlu untuk mencapai kedalaman atau lebar potongan bajak.

Besarnya suction ini beragam dari 1/8 sampai 3/16 inci. Ukuran ini disebut juga celah (clearance). Tempat dari suction ini berbeda untuk bajak yang mempunyai roda belakang (real furrow wheel) dan tanpa roda belakang (Gambar 5 dan 6). Di samping untuk pemotongan tanah, hisapan (suction) ini 5/8/12 berperan juga dalam menstabilkan jalannya bajak.

5/8/12

Bila bajak singkal bekerja memotong dan membalik tanah maka akan terbentuk alur yang disebut furrow. Bagian tanah yang diangkat dan diletakkan kesamping, disebut keratan tanah (furrow slice). Bila pekerjaan dimulai dari tengah areal secara bolak-balik dan arah perputaran ke kanan, maka akan berbentuk alur balik (Back furrow) (Gambar 7). Bila pekerjaan bolak balik dimulai dari tengah dan arah perputaran ke kiri, maka akan terbentuk alur mati (Dead furrow). Pembalikan tanah umumnya kekanan. Dalam operasional bajak dapat digolongkan atas bajak tarik (trailing moldboard plow) dan bajak yang dapat diangkat secara hidrolik (mounted moldboard plow). Dilihat dari hasil kerjanya dapat digolongkan atas bajak satu arah (one way) dan bajak dua arah 5/8/12

2. Bajak Piring Piringan dari bajak ini diikat pada batang penarik melalui bantalan (bearing), sehingga pada saat beroperasi ditarik oleh traktor maka piringannya dapat berputar. Dengan berputaraya piringan, maka diharapkan dapat mengurangi gesekan dan tahanan tanah (draft) yang terjadi. Piringan bajak dapat berada disamping rangka atau berada di bawah 5/8/12 rangka. Bagian-bagian dari bajak piring dapat

Setiap piringan dari bajak piringan biasanya dilengkapi dengan pengeruk (scraper) yang berguna selain untuk membersihkan tanah yang lengket pada piringan, juga membantu dalam pembalikan potongan tanah. Untuk menahan tekanan samping yang terjadi saat bajak memotong tanah, bajak piring dilengkapi dengan roda alur belakang (rear furrow wheel). Beberapa keuntungan menggunakan bajak piring adalah (Shuhada, 2010) : a. Dapat bekerja ditanah keras dan kering b. Dapat untuk tanah-tanah yang lengket
.

5/8/12 c. Dapat untuk tanah-tanah yang berbatu

5/8/12

5/8/12

Ada tiga jenis bajak piring yang ditarik dengan traktor, yaitu ; tipe tarik (trailing), tipe hubungan langsung (direct-connected), dan tipe diangkat sepenuhnya (integral mounted). Tipe tarik dapat dibagi lagi atas biasa (reguler) dan satu arah (one way). Reguler trailing disk plow ditarik di belakang traktor. Alat ini dilengkapi dengan roda yaitu 2 buah roda alur (furrow wheel) dan satu buah roda lahan (land wheel). Kedua roda alur (furrow wheel) berperan untuk menstabilkan jalannya bajak. Pada tanah-tanah berat digunakan heavy way disk plow untuk mendapatkan pengolahan yang dalam. One way disk plow adalah piring bajak yang di susun dalam satu gang melalui suatu poros. Jarak antara piringan adalah 8 sampai 10 inci. Jumlah piringan 5/8/12 dapat beragam dari 2 sampai 35 buah dengan

Tipe hubungan langsung atau disebut juga semi mounted disk plow di bagian depannya dapat diangkat menggunakan sistem hidrolik traktor sehingga memudahkan alat sewaktu berputar. Alat ini dapat berputar pada areal yang sempit dan juga dapat mundur.

Tipe diangkat sepenuhnya ditarik dibelakang traktor dipasang pada tiga titik gandeng dan keseluruhannya dapat diangkat menggunakan sistem hidrolik traktor, sehingga sangat mudah dalam transportasi. Tipe one way disk plow yang kecil dapat juga termasuk Integral mounted, bila dapat diangkat keseluruhannya dengan hidrolik traktor.
5/8/12

3. Bajak Rotari / Pisau Berputar Bajak rotari adalah bajak yang terdiri dari pisau-pisau yang berputar. Berbeda dengan bajak piringan yang berputar karena ditarik traktor, maka bajak ini terdiri dari pisau-pisau yang dapat mencangkul yang dipasang pada suatu poros yang berputar karena digerakan oleh suatu motor. Bajak ini banyak ditemui pada pengolahan tanah sawah untuk pertanaman padi.

5/8/12

Ada tiga jenis bajak rotari yang biasa dipergunakam. Jenis pertama yang disebut dengan tipe tarik dengan mesin tambahan (pull auxiliary rotary engine). Pada jenis ini terdapat motor khusus untuk menggerakkan bajak, sedangkan gerak majunya ditarik oleh traktor (Gambar 11). Jenis kedua adalah tipe tarik dengan penggerak PTO (pull power take off driven rotary plow). Alat ini digandengkan dengan traktor melalui tiga titik gandeng (three point hitch). Untuk memutar bajak ini digunakan daya dari as PTO traktor (Gambar 12). Jenis ketiga adalah bajak rotari tipe kebun berpenggerak sendiri (self propelled garden type rotary plow). Alat ini terdapat pada traktor-traktor roda 2. Bajak rotari digerakkan oleh daya penggerak 5/8/12 traktor melalui rantai atau sabuk. Dapat juga

5/8/12

5/8/12

5/8/12

4. Bajak Chisel Alat ini berbentuk tajak yang disusun pada suatu rangka. Digunakann untuk memecah tanah yang keras sampai kedalaman sekitar 18 inci. Diperlengkapi dengan 2 buah roda yang berguna untuk transportasi dan mengatur kedalaman pemecah tanah. Jarak antara tajak dapat beragam dari 1 sampai 2 inci. Alat ini, tidak membalik tanah seperti bajak yang lain, tapi hanya memecah tanah dan sering digunakan sebelum pembajakan tanah dimulai (Gambar 14).
5/8/12

5/8/12

5. Bajak Subsoil Alat ini hampir sama dengan bajak chisel hanya bentuknya lebih besar dan digunakan untuk pengolahan tanah yang lebih dalam. Menggunakan alat ini dapat memecahkan tanah pada kedalaman 20 sampai 36 inci. Alat ini sering juga digunakan untuk memecahkan lapisan keras didalam tanah (hardpan), atau untuk memperbaiki drainase tanah (Gambar 15).

5/8/12

5/8/12

6. Bajak Raksasa Alat ini sesuai dengan namanya, berbentuk sangat besar dan digunakan untuk membalik tanah pada kedalaman 100 sampai 180 cm. Dengan menggunakan alat ini tanah subur yang ada di dalam tanah dap at diangkat keatas permukaan tanah. Dapat berbentuk bajak singkal atau bajak piringan. Alat Pengolahan Tanah Kedua Pengolahan tanah kedua dilakukan setelah pembajakan. Dengan pengolahan tanah kedua, tanah menjadi gembur dan rata, tata air diperbaiki, sisasisa tanaman dan tumbuhan pengganggu dihancurkan dan dicampur dengan lapisan tanah 5/8/12 atas, kadang-kadang diberikan kepadatan tertentu

Alat pengolah tanah kedua yang menggunakan

daya traktor antara lain: (1) garu (harrow), (2) perata dan penggembur (land roller dan pulverizer), dan (3) alat-alat lainnya.

(1). Garu Beberapa jenis garu yang dipakai pada pengolahan tanah kedua adalah : a) garu piring (disk harrow), b) garu palcu (splice tooth harrow), c) garu pegas (spring tooth harrow), d) garu rotari, dan e) garu khusus (special harrow). a. Garu Piring. Garu ini dapat digunakan sebelum pembajakan untuk memotong rumput-rumput pada permukaan tanah, untuk rnenghancurkan permukaan tanah sehingga keratan tanah ( furrow slice) lebih 5/8/12 berhubungan dengan tanah dasar. Juga dapat

Garu piring dapat mempunyai aksi tunggal (single action) apabila pada saat memotong tanah hanya melempar tanah ke satu arah saja. Juga dapat mempunyai aksi ganda (double action ) apabila piringan yang di depan berlawanan arah dengan yang di belakang dalam melempar tanah. Gambar 16 menunjukkan garu piring aksi tunggal, sedangkan Gambar 17. memperlihatkan garu piring aksi ganda.

5/8/12

Apabila posisi garu piring dalam penggandengannya dengan traktor menyamping, maka garu tersebut disebut garu offset. Bagianbagian dari garu piring adalah : piringan (disk), as gang/arbor bolt), rangka (frame), bantalan (bearing), bumper, kotak pemberat, dan pembersih tanah (scaper). Piringan dapat bersisi rata atau piringan yang bergerigi biasanya digunakan pada lahan yang mempunyai banyak sisa-sisa tanaman. Ukuran umum berkisar antara 45 sampai 60 cm, sedangkan untuk tugas berat (heavy duty) antara 65 sampai 70 cm. Piringan dipasang pada suatu as yang berbentuk persegi dengan jarak antara 15 sampai 22 cm, atau 5/8/12

Masing-masing as (gang) diikat ke rangka melalui standar yang berdiri pada bantalan. Untuk garu yang ringan satu as mempunyai dua bantalan, sedangkan yang berat lebih dari dua bantalan. Pada ujung as di bagian cembung piringan ditempatkan bumber berupa besi tuang yang eukup berat untuk menambah tekanan ke samping. Apabila garu piring tidak cukup berat untuk memecah tanah, maka dapat ditambah beban yang ditempatkan pada kotak pemberat. Untuk membersihkan tanah yang melekat pada piringan, biasanya setiap piringan dilengkapi dengan pengeruk tanah 5/8/12 (scraper) yang diikat pada rangka.

5/8/12

b. Garu paku Garu ini mempunyai gigi yang bentuknya seperti paku terdiri dari beberapa baris gigi yang diikatkan pada rangka. Garu ini digunakan untuk menghaluskan dan meratakan tanah setelah pembajakan. Juga dapat digunakan untuk penyiangan pada tanaman yang baru tumbuh. Bentuk dari garu paku dapat dilihat pada Gambar 18.

5/8/12

c. Garu Pegas Garu pegas sangat cocok untuk digunakan pada lahan yang mempunyai banyak batu atau akar-akar, karena gigi-giginya yang dapat indenting (memegas) apabila mengenai gangguan. Kegunaan garu ini sama dengan garu paku, bahkan untuk penyiangan garu ini lebih baik, karena dapat masuk ke dalam tanah lebih dalam. Bentuk dari garu pegas dapat dilihat pada Gambar 19.

5/8/12

d. Garu Rotari Garu rotari ada dua macam, yaitu : garu rotari cangkul (rotary hoe harrow) dan garu rotari silang (rotary cross harrow). Garu rotari cangkul merupakan susunan roda yang dikelilingi oleh gigi-gigi berbentuk pisau yang dipasangkan pada as dengan jarak tertentu dan berputar vertikal. Putaran roda garu ini disebabkan oleh tarikan traktor. Bentuk dari garu ini dapat dilihat pada Gambar 20.

5/8/12

Garu rotari silang terdiri dari gigi-gigi yang tegak lurus terhadap permukaan tanah dan dipasang pada rotor. Rotor diputar horisontal, yang gerakannya diambil dari putaran PTO. Dengan menggunakan garu ini, penghancuran tanah terjadi sangat intensif. Bentuk dari garu ini 5/8/12 dapat dilihat pada Gambar 21.

e. Garu Khusus Yang termasuk kedalam garu khusus adalah weeder-mulche dan soil surgeon. Weeder-mulche adalah alat yang digunakan untuk penyiangan, pembuatan mulsa dan pemecahan tanah di bagian permukaan. soil surgeon adalah alat yang merupakan susunan pisau berbentuk U dipasang pada suatu rangka dari pelat. Alat ini digunakan untuk memecah bongkah-bongkah tanah di permukaan dan untuk meratakan tanah.
5/8/12

(2). Land Rollers dan Pulverizers Alat ini menyerupai piring-piring atau roda-roda yang disusun rapat pada satu as. Puingan piring dapat tajam atau bergerigi. Digunakan untuk penyelesaian dari proses pengolahan tanah untuk persemaian. Gambar pulverizers disajikan pada Gambar 22.

5/8/12

Alat Tanam
Irwanto (1980) dalam Santosa (2004) mengelompokkan alat / mesin penanam tenaga traktor menjadi empat, yaitu : (a) sistem baris lebar, (b) sistem baris sempit, (c) sistem sebar, dan (d) transplanting. Pada alat penanam sistem baris lebar, jarak baris tanaman satu dengan yang lain cukup lebar, sehingga akan memungkinkan dilakukannya penyiangan dan meningkatkan efisiensi pemanenan, misalnya untuk menanam biji jagung. Purwadi (1990) mendefinisikan peralatan tanam adalah setiap alat yang dioperasikan dengan daya yang digunakan untuk menempatkan biji, potongan biji, atau bagian tanaman ke dalam atau di atas tanah untuk perkembangbiakan, produksi pangan, serat, dan pakan. Ada jenis peralatan tanam yang disebut mesin tanam 5/8/12

Mesin tanam larikan tipe gandengan yang dilengkapi dengan penabur pupuk, herbisida, dan pestisida dapat dilihat pada Gambar 23.

5/8/12

Ada juga mesin tanam jagung terpasang di belakang traktor. Mesin ini disambung langsung dengan traktor dan dapat diangkat serta diturunkan dengan tenaga hidraulik traktor (lihat Gambar 24).

5/8/12

Pada Gambar 25 disajikan gambar mesin tanam jagung dalam paliran empat larik bersambung langsung dengan traktor yang dapat dipasang dengan cepat, dan dilengkapi dengan brujul untuk menanam jagung di tanah yang keras. Mesin ini biasanya dilengkapi dengan telapak brujul berukuran 35,6 cm, piringan penutup, dan alat penyemprot herba. Mesin tanam jagung paliran untuk tanah yang gembur dilengkapi dengan alat pembuka paliran tipe piringan ganda.

5/8/12

Ada empat tipe pelat biji yang digunakan untuk menanam jagung, yaitu biji jatuh pada sisi yang sempit, biji jatuh pada sisi yang rata, lubang bulat biji jatuh pada sisi rata, dan lebih dari satu biji jatuh bersamaan. Pada Gambar 26 ditunjukkan tiga macam tipe pelat biji untuk jagung, yaitu : jatuh miring (atas), jatuh datar (tengah), dan lebih dari satu sekaligus (bawah).

5/8/12

Salah satu komponen pelengkap mesin tanam jagung adalah pembuka paliran. Pembuka paliran diperlukan untuk membuat parit-parit mirip paliran dalam tanah untuk tempat biji bila biji dijatuhkan oleh mesin tanam. Ada empat macam tipe pembuka paliran, yaitu : pemalir lengkung (curved-runner), pemalir tumpul (stub-runner), piringan tunggal (single-disk), dan piringan ganda (double-disk). Tipe pemalir lengkung merupakan tipe yang paling umum digunakan. Tipe pemalir tumpul cocok untuk tanah yang kasar dan berbatu-batu. Berbagai macam tipe kelengkapan pembuat paliran pada mesin tanam jagung dapat dilihat pada Gambar 27. Kelengkapan pembuat dan penutup paliran ditunjukkan pada Gambar 28. Untuk menjaga agar larikan tetap lurus, sejajar, dan jarak antar baris seragam, maka mesin 5/8/12

Gambar 27. Kelengkapan Pembuat Paliran


5/8/12

5/8/12

Ada empat tipe pembuat paliran yang digunakan pada mesin tugal, yaitu tajak (cangkul), paliran dalam, piringan tunggal, dan piringan ganda. Tabung benih menyalurkan benih dari pengisian wadah (tandon) ke dalam pipa penyalur, yang akhirnya benih masuk ke dalam paliran. Pembuat paliran dipasang pada kerangka mesin tugal dengan batang tarik (Gambar 29).

5/8/12

Mesin penanam padi (Rice transplanter) terdiri dari lima bagian pokok, yaitu (a) motor penggerak, (b) bagian transport (roda, dan pelampung), (c) bagian transmisi daya, (d) bagian penanam (planting), dan (e) bagian kontrol / pengaturan. Nama bagian bagian dari transplanter dapat dilihat pada Gambar 30. Transplanter diatur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan kedalaman tanam baku : 2 3 cm. Sebelum bibit padi ditanam dengan transplanter, terlebih dahulu dilakukan penyemaian pada peti pemeliharaan bibit (atau disebut dapok), dengan ukuran panjang x lebar x tinggi adalah 58 cm x 28 cm x 3 cm. Tanah yang dipakai sebagai media pada dapok harus dapat melindungi air dan dapat dilalui air dengan baik. 5/8/12

Urutan cara menyemaikan benih (sowing) pada dapok : (a) meletakkan kertas surat kabar pada alas dapok, (b) memasukkan tanah setinggi dua cm ke dalam dapok sebagai media tanaman, (c) memberikan air pada dapok (sebanyak satu liter), (d) menyebarkan benih padi dengan halus dan rata, (e) menutup kembali dengan tanah setebal 0,5 cm, dan (f) meletakkan kertas surat kabar di atas dapok.

5/8/12

Gambar 30. Nama Bagian Rice 5/8/12

Alat Pendangir dan Alat Pengendali Gulma

Purwadi (1990) mendefinisikan pendangiran sebagai suatu bentuk kegiatan yang membutuhkan semacam alat yang dapat mengaduk permukaan tanah sampai kedalaman yang sedikit saja dengan cara sedemikian rupa sehingga gulma yang masih kecil akan dibinasakan dan pertumbuhan tanaman budidaya dapat ditingkatkan.

Tujuan utama pendangiran tanaman adalah : (a) menahan lengas dengan membasmi gulma, melonggarkan mulsa pada permukaan tanah, dan menahan air hujan, (b) mengembangkan bahan makan tanaman, (c) aerasi tanah yang 5/8/12 memungkinkan oksigen masuk ke dalam tanah, serta

Pada Gambar 31 ditunjukkan alat pendangir (kultivator) yang terdiri dari delapan larik yang dipasang di bagian depan traktor.

5/8/12

Pada Gambar 32 ditunjukkan pendangir yang erpasang di belakang traktor. Biasanya alat ersebut dilengkapi dengan sambungan tiga titik sebagai satu unit. Tiap-tiap rangkaian (gang) dilengkapi dengan roda ukur pengatur kedalaman pendangiran. Pada lahan berbatuan dan masih banyak akar di permukaan lahan, maka perlu diberi komponen pengangkat tangkai. Beberapa tipe pengangkat tangkai adalah : pengangkut pegas spring-trip), pen pemutus, dan gesekan (friksi). Tipe pengangkat tangkai tersebut dapat dilihat pada Gambar 33.

5/8/12

5/8/12

Pengoperasian pendangir ini adalah pada kecepatan 8,0 km/jam atau lebih (Smith, 1976). Sekop pendangir (Gambar 34) terdiri dari beberapa tipe, yaitu : (A) mata tombak untuk selongsong, (B) mata tunggal untuk gigi pegas, (c) mata tunggal untuk selongsong, (d) mata ganda dapat dibalik untuk gigi pegas, (E) mata ganda dapat dibalik untuk selongsong, dan (F) mata tunggal untuk gigi pegas.

5/8/12

Sekop pendangir dan penggaruk harus dioperasikan sedangkal mungkin untuk mencegah pemangkasan akar tanaman yang berakibat melukai tanaman. Tipe penggaruk untuk pendangir disajikan pada Gambar 35.

5/8/12

Lebar sekop kira kira 8,9 cm (ukuran terbesar), sedangkan penggaruk dibuat dengan ukuran lebar yang lebih besar daripada lebar sekop. Ukuran lebar penggaruk 15,2 cm hingga 61,0 cm. Pada Gambar 36 diberikan pandangan depan, belakang, dan samping penggaruk kecepatan tinggi.

5/8/12

Penelitian cangkul untuk penyiangan lahan jagung telah dilakukan oleh Kemala (2004), diperoleh hasil sebagai berikut : - luas lahan = 196 m2 = 0,0196 ha - waktu total rata-rata = 0,805 jam - jumlah tenaga kerja = 5 orang

- waktu penyiangan satu hektar lahan = 0,805 jam / 0,0196 ha = 41,07 jam/ha

- tenaga kerja untuk penyiangan = 41,07 jam/ha x 5 orang = 205,33 JKO/ha

- jika satu hari bekerja 8 jam, dan upah tenaga kerja adalah Rp 30.000,- / HOK, maka upah untuk 5/8/12 penyiangan dengan cangkul pada lahan jagung

Penelitian tentang penyiangan lahan jagung dengan tangan telah dilakukan oleh Kemala (2004), diperoleh hasil sebagai berikut : - luas lahan = 196 m2 = 0,0196 ha - waktu total rata-rata = 1,305 jam - jumlah tenaga kerja = 5 orang

- waktu penyiangan satu hektar lahan = 1,305 jam / 0,0196 ha = 66,58 jam/ha

- tenaga kerja untuk penyiangan = 66,58 jam/ha x 5 orang = 333,33 JKO/ha

- jika satu hari bekerja 8 jam, dan upah tenaga kerja adalah Rp 30.000,- / HOK, maka upah untuk 5/8/12 penyiangan dengan cangkul pada lahan jagung

Penelitian tentang penyiangan lahan jagung dengan mesin penyiang tipe IRRI-M7 telah dilakukan oleh Kemala (2004), diperoleh hasil sebagai berikut :

- kecepatan teoritis = kecepatan maju mesin saat tidak menyiangi gulma = 0,45 m/detik

- kecepatan aktual = panjang lintasan / waktu tempuh = 280 m / 769,21 detik = 0,36 m/detik

- kapasitas kerja teoritis = 0,36 x kecepatan teoritis (m) x lebar kerja penyiangan (m) = 0,36 x 0,45 m/deik x 0,7 m = 0,112 ha/jam

- kapasitas kerja efektif = total luas / total waktu = 0,084 ha/jam - 5/8/12 efisiensi kerja lapang = Kapasitas kerja efektif /

Hasil perhitungan biaya pokok penyiangan lahan jagung dengan mesin penyiang tipe IRRI-M7 (Kemala, 2004), adalah sebagai berikut : Biaya tetap (BT) meliputi penyusutan (D) dan bunga modal (I). D = (P-S)/N = (Rp 4.900.000 Rp 490.000) / 3000 jam = Rp 1.470 / jam I = r (P+S)/ 2n = Rp 661,5 / jam Total biaya tetap = D + I = Rp 2.131,5/jam Biaya tidak tetap (BTT) meliputi biaya operator (Bo), biaya bahan bakar (BB), biaya oli (Oli), dan biaya pemeliharaan dan perbaikan (PP) 5/8/12

Alat Penyemprot Hama / Penyakit Tanaman

Ada tiga jenis alat penyemprot hama / penyakit anaman, yaitu : (a) alat penyemprot tangan / penyemprot gendong (hand sprayer), (b) pengabut bermotor tipe gendong (power mist blower & duster), dan (c) mesin penyemprot bertekanan tinggi (high pressure power sprayer).

Alat penyemprot gendong terdiri dari tiga bagian pokok, yaitu (a) bagian tangki (reservoir), (b) bagian pompa, dan (c) bagian pengabut (unit slang dan pelengkap nozzle). Ada dua bentuk tangki, yaitu : a) bentuk bulat panjang atau silinder (Gambar 37), b) bentuk bulat pipih (penampang melintang), berbentuk elips, dan bagian belakang disesuaikan 5/8/12 dengan lekuk punggung.

5/8/12

Pengabut bermotor tipe gendong (mist blower) terdiri atas tiga bagian pokok, yaitu : (a) unit tangki, (b) unit penghembus (air blower) ,dan (c) bagian / perlengkapan slang, pipa, dan kepala

Nama komponen dari pengabut bermotor dapat dilihat pada Gambar 7.2. Nama komponen tersebut adalah : (1) kepala penghembus, (2) tutup tangki obat, (3) tangki obat, (4) pipa penghembus bengkok, 5) pipa penghembus lurus, (6) keran penutup cairan pada slang cairan obat), (7) pipa penghembus karet fleksibel), (8) pipa pengantar udara (dari penghembus ke tangki), (9) tangki minyak / bahan bakar, (10) tutup tangki bahan bakar, (11) saringan udara, (12) knalpot, (13) blok motor dua tak, (14) karburator, (15) penghembus (blower), (16) rangka penahan unit mesin, (17) plat pemegang tuas pengatur, (18) gelas dan saringan bahan bakar, (19) puli starter, (20) bantalan busa untuk punggung gendongan, (21) sabuk penyandang, (22) slang cairan obat, (23) klem pengeras sambungan pipa penghembus, (24) tuas pengatur pembukaan tepung 5/8/12

5/8/12

Mesin penyemprot bertekanan tinggi mempunyai komponen utama : (a) unit ruang hisap / pemasukan, (b) unit ruang tekan / pengeluaran, (c) unit pompa, (d) bak poros engkol, dan (e) perlengkapan slang, laras, dan komponen nosel. Bagian-bagian dari mesin penyemprot bertekanan tinggi dapat dilihat pada Gambar 39. Komponen tersebut adalah : (1) unit ruang hisap, (2) unit ruang tekan, (3) unit silinder, (4) blok poros engkol / karter, (a) pipa hisap, (b) katup hisap, (c) pipa pengeluaran, (d) katup tekan, (e) manometer, (f) tabung udara, (g) tuas pengatur tekanan, (h) lubang pelimpahan, (i) unit paking gland, (j) mangkuk penggemuk, (k) plunyer, (l) paking oli, (m) batang plunyer, (n) tutup lubang 5/8/12 pengisian oli pelumas, (o) poros engkol, (p) kaca

5/8/12

Yuni (2004) telah melakukan evaluasi teknis mist blower di kebun kelapa sawit, diperoleh : - waktu total = 0,152 jam - luas petakan = 720 m2 = 0,072 ha

- kapasitas kerja efektif = 0,072 ha / 0,152 jam = 0,474 ha/jam

- kapasitas kerja teoritis = 0,36 x Kecepatan (m/detik) x Lebar kerja (m) = 0,36 x 0,340 m/detik x 4,5 m = 0,55 ha/jam. - 5/8/12 Efisiensi kerja lapang = Kapasitas kerja efektif /

pemanenan padi, yaitu : (a) ketepatan saat panen, (b) kondisi lahan, dan (c) ketrampilan tenaga kerja pemanen. Menurut Soemartono et al. (1984), waktu panen padi yang baik adalah pada fase menguning, yaitu bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah yang hijau. Kondisi tersebut berakibat : hasil produksinya tinggi, dan mengurangi rontoknya gabah dibandingkan dengan fase lewat masak.

Alat dan Mesin Pertanian untuk yang perlu diperhatikan dalam Ada tiga hal Kegiatan Panen

Menurut Siregar (1981), saat pemungutan hasil padi yang baik adalah : pada kadar air butir gabah 26 %. Ciri kondisi tersebut adalah : bagian paling bawah dari 5/8/12 gabah telah menguning. Jika padi dipanen pada

Cara panen padi ada dua kelompok, yaitu tradisional dan cara mekanis. Cara tradisional panen padi yaitu dengan ani-ani / ketam, dan sabit. Dengan ani-ani, padi dipotong pada pangkal malainya. Cara ini memerlukan tenaga kerja yang cukup tinggi, yaitu sekitar 240 JKO/hektar.

Pemanenan padi dengan sabit adalah : padi dipotong batangnya kira-kira 10-15 cm di atas permukaan tanah/ Ada dua macam sabit, yaitu sabit biasa dan sabit bergerigi. Sabit biasa berkapasitas kerja 120 JKO/hektar, sedangkan sabit bergerigi biasanya mempunyai kapasitas pemanenan yang lebih besar.
5/8/12

Menurut Irwanto (1980), kelemahan dari penggunaan alat panen tradisional (ani-ani dan sabit) adalah : (a) kebutuhan tenaga orang per hektar yang banyak, (b) kehilangan gabah waktu panen relatif lebih tinggi dibanding dengan cara mekanis, (c) kenyamanan bekerja rendah, (d) kapasitas kerja rendah, dan (e) biaya panen per hektar relatif lebih tinggi dibandingkan dengan cara mekanis, tetapi tanpa biaya awal. Panen dengan cara tradisional ini akan menyebabkan kehilangan gabah di lapangan sekitar 8 sampai 10 persen dari hasil panen per hektar.

Keuntungan penggunaan alat panen tradisional (Irwanto, 1980) : (a) memberikan kesempatan kerja 5/8/12 yang banyak kepada para buruh panen, (b) hasil

Jenis mesin pemanen padi secara mekanis ada empat, yaitu (a) mesin ketam padi (reaper), (b) mesin binder, (c) mesin mini combine, dan (d) mesin combine. Bagian-bagian yang penting pada reaper adalah : (a) motor bakar, (b) tangan pengait, (c) pisau pemotong, dan (d) pelempar otomatis. Gambar reaper dapat dilihat pada Gambar 40.

5/8/12

Motor bakar pada reaper biasanya beupa motor bakar bensin dengan daya 3 5 HP. Tangan pengait bekerja secara otomatis, fungsinya adalah untuk mengait / menarik batang padi ke arah pisau pemotong. Pisau pemotong pada umumnya berupa pisau berputar dan berbentuk lingkaran dengan tepinya bergerigi (seperti gergaji). Jarak potongan dari permukaan tanah antara 10 15 cm. Pelempar otomatis berfungsi untuk melempar batang padi yang telah terpotong dari tempat pengumpulan. Proses pelemparan bekerja secara otomatis setelah padi yang terpotong terkumpul sampai jumlah tertentu. 5/8/12

Dengan demikian, maka kegiatan yang dilakukan oleh reaper adalah : mengait rumpun padi memotong rumpun padi melempar ke sebelah kanan mesin. Proses kerja reaper yang lebih detail adalah : Menegakkan batang padi yang rebah (dilakukan oleh devider) Mengumpankan batang padi ke pisau pemotong (dilakukan oleh devider) Memotong batang padi (dilakukan oleh pisau yang berbentuk lingkaran bergerigi circular saw) Mengumpulkan batang padi yang telah terpotong (dilakukan oleh penyearah pengumpulan dan segitiga penjepit) Melempar kumpulan batang padi yang telah terpotong ke samping kanan (dilakukan oleh 5/8/12 pendorong).

Irwanto (1980) memaparkan hal yang berhubungan dengan reaper ini yaitu : (a) setiap pelemparan batang padi yang telah terpotong ke samping kanan, terdiri dari 3 10 rumpun tanaman padi, tergantung pada jumlah alur pemotongan dari mesin reaper, (b) mesin reaper dioperasikan oleh satu orang dan dibantu 2 3 orang untuk pengikatan ataupun pengarungan, (c) tenaga motor penggeraknya berkisar 2,5 3 HP, (d) kapasitas kerja 30 35 jam/hektar [untuk reaper dengan satu jalur pemotongan], ataupun 18 20 jam/hektar [untuk reaper dengan 3 jalur pemotongan], (e) kelemahan reaper : (i) untuk varietas padi yang mudah rontok maka akan terjadi banyak gabah yang rontok karena getaran atau perlakuan oleh mesin, (ii) biaya awalnya tinggi, yaitu : harga pembelian mesin dan harga bahan bakar, serta (f) keuntungan reaper : (i) kapasitas kerja tinggi, (ii) hanya membutuhkan 2 3 orang untuk panen dalam satu hektar, (iii) biaya panen 5/8/12

Mesin tuai dan pengikat padi (atau binder) mempunyai urutan kerja : memotong padi, mengikat (dengan kawat) rumpun padi yang telah terpotong, dan akhirnya melempar rumpun padi yang telah terikat. Gambar binder disajikan pada Gambar 41. Kapasitas kerja binder lebih tinggi daripada reaper. Binder dengan pemotongan satu jalur (dengan daya motor 3,6 HP) berkapasitas kerja 10 20 jam/hektar. Binder dengan pemotongan dua jalur (dengan daya motor 5 HP) berkapasitas kerja 5 10 jam/hektar. Binder berlebar kerja 1,27 m (daya motor 12 HP) berkapasitas kerja 8,89 jam/hektar.
5/8/12

5/8/12

Bagian utama mesin binder adalah : (a) motor bakar, (b) pisau pemotong, (c) jari penarik, (d) tempat pengumpulan, dan (e) tali pengikat dan tangan penolak. Motor bakar berfungsi sebagai sumber tenaga penggerak. Kisaran daya yang dipakai adalah 3,5 HP 12 HP. Binder 3,5 HP mempunyai satu jalur pemotongan, dengan bahan bakar bensin. Binder 12 HP mempunyai lebar kerja 1,27 m, dengan bahan bakar diesel.

Pisau pemotong pada binder bergerak secara horisontal. Pisau potong tersebut perlu dibersihkan dan ditajamkan setelah dioperasikan selama 500 1000 jam kerja. Jari penarik atau jari pengait pada binder berfungsi untuk mengait dan menarik batang padi5/8/12 arah pisau pemotong. Bagian ini dibantu ke

Komponen tempat pengumpulan pada binder dibuat untuk menampung batang padi yang sudah terpotong. Padi yang sudah terpotong dibawa oleh pita yang menjepit dan kemudian dikumpulkan pada tempat pengumpulan tersebut, sampai pada jumlah tertentu.

Komponen tali pengikat dan tangan penolak pada binder berfungsi sebagai berikut : setelah padi yang terpotong dan terkumpul mencapai jumlah tertentu (ukurannya sudah ditetapkan dari pabrik), maka secara otomatis tali mengikat padi tersebut dan tali diputus, kemudian ikatan tersebut ditolak oleh tangan penolak. Tangan penolak bertugas melempar ikatan padi ke permukaan tanah. Dengan demikian, 5/8/12

Mesin pemanen padi Mini Combine mempunyai urutan kerja : memotong batang padi merontok gabah (batang padi yang terpotong langsung dibawa dan dijepit ke bagian perontok) membersihkan gabah (gabah yang terontok diteruskan ke bagian pembersih dengan sistem penghembusan oleh kipas) mengarungkan gabah (memasukkan gabah ke dalam karung). Gambar mesin pemanen padi Mini 5/8/12 Combine dapat dilihat

Mesin pemanen padi Combine pada prinsipnya sama dengan Mini Combine, perbedaannya adalah bahwa ukuran combine lebih besar. Gambar mesin combine disajikan pada Gambar 43.

5/8/12

5/8/12

Proses yang dikerjakan oleh combine : pemotongan perontokan pembersihan penampungan dalam tangki gabah. Lebar pemotongan combine adalah 4 5 meter, dengan kapasitas kerja 2 4 jam/hektar. Untuk memperoleh efisiensi kerja yang optimum, mesin ini dioperasikan pada lahan seluas 5 12 hektar.

Bagian utama dari mesin combine adalah : (a) gulungan penarik padi (reel), (b) pisau pemotong, (c) kotrek (auger), (d) konveyor kanvas, (e) silinder perontok, (f) unit pembersih / pemisah, (g) konveyor sekrup, (h) konveyor mangkuk (sendokan), dan (i) tangki gabah.
5/8/12

Adapun kegunaan dari komponen komponen tersebut adalah : (a) gulungan penarik padi (reel) : untuk menarik / mengait batang tanaman padi dari posisi tegak ke arah pisau pemotong. (b) pisau pemotong : untuk memotong batang padi. (c) kotrek (auger) : untuk mengumpulkan batang padi yang sudah terpotong ke arah tengah (konveyor kanvas) (d) konveyor kanvas : membawa batang padi ke bagian perontokan
5/8/12 (e) silinder perontok : untuk merontokkan gabah

(f) unit pembersih / pemisah : berfungsi memisahkan butiran gabah yang terontok dari potongan batang, daun, malai, dan benda asing lainnya. Proses pemisahan dan pembersihan ini berlangsung melalui beberapa tahap pemisahan dan penampian. (g) konveyor sekrup : berfungsi untuk membawa gabah pada arah horisontal. (h) konveyor mangkuk (sendokan) : berfungsi membawa butiran gabah ke bagian atas. (i) tangki gabah : berfungsi untuk menampung gabah yang telah bersih.
5/8/12

Alat dan Mesin Pertanian untuk Kegiatan Pascapanen Alat / Mesin Pencacah Jerami
Mesin pencacah jerami, disajikan pada Gambar 44

5/8/12

Hasil kerja mesin pencacah jerami tersebut dapat diamati dari bahan cacahan yang dihasilkan oleh mesin. Evaluasi hasil kerja mesin berdasarkan panjang disajikan pada Tabel 1.

5/8/12

Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa persentase terbesar terdapat pada potongan (<10 mm) dengan perlakuan 3500 rpm yang mencapai 80,32 %, selanjutnya perlakuan 2750 rpm sebanyak 77,02 %, dan 2000 rpm sebanyak 62,2 %. Pada persentase ukuran terpanjang (> 50 mm) didapatkan hasil paling sedikit pada perlakuan 3500 rpm sebanyak 0,27 %, perlakuan 2750 rpm sebanyak 0,57 % dan pada perlakuan 2000 rpm sebesar 3,86 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin cepat putaran mata pisau semakin kecil potongan jerami dan semakin sedikit menyisakan ukuran panjang. Total ukuran 0 50 mm pada setiap perlakuan sebagai berikut, 2000 rpm sebanyak 96,07 %, perlakuan 2750 rpm sebanyak 99,43 % dan 3500 rpm paling besar sebanyak 99,73 %. Berdasarkan RSNI 2008 untuk mesin penghancur (crusher), maka mesin pencacah ini sudah melebihi syarat yang ditetapkan dengan ukuran 0 50 mm melebihi 80 %. Penyebabkan ukuran potongan kecil-kecil adalah jarak 5/8/12

Alat / Mesin Perontok Gabah

Menurut Suryoputro (2009), perontok padi pedal model lipat yang memiliki keunggulan manuverabilitas yang tinggi memungkinkan alat tersebut berpindah dari satu petakan ke petakan yang lain untuk mendekati padi yang akan dirontok dan bukan sebaliknya padi diangkut menuju alat perontok yang memungkinkan adanya butir tercecer.

5/8/12

Susut hasil setelah panen padi akibat pengangkutan ke tempat perontokan berkisar antara 1,4- 8,2%

Rudy Tjahjohutomo dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian mengungkapkan kehilangan hasil pada perontokan dengan cara: diiles mencapai 2,56%, digebot 7,48%, menggunakan perontok padi pedal 4,12% dan perontok bermesin 3,19%. 5/8/12

Berbagai upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan oleh Pemerintah namun demikian secara nasional susut produksi selama pasca panen pada daerah daerah sentra produksi padi selama lebih dari dua dasawarsa terakhir masih tinggi yakni masih berkisar antara 12 - 20 % (Kompas, 2005) dari sejak pemanenan sampai dengan tahap penggilingan dengan kontribusi susut karena perontokan lebih dari 4,8 % (BPS, 1998). Disamping itu pengamatan sebuah lembaga pangan Jepang (1995) menunjukkan bahwa susut hasil berupa butir tercecer yang disebabkan oleh angkutan padi setelah dipanen ke tempat perontokan antara 1,4 8,2 %. Oleh karena itu berkenaan dengan susut hasil yang terjadi pada kegiatan pengangkutan di sawah dan pada proses 5/8/12

Dengan demikian diperlukan alternatif alat perontok padi yang memiliki manuverabilitas yang tinggi artinya bahwa alat perontok tersebut mudah dipindahkan mendekati padi yang akan dirontok maupun berpindah dari satu petakan ke petakan sawah lainnya, ringan, dan bahkan bisa menjadi alat angkut peralatan lainnya yang diperlukan selama perontokan (Gambar 45). Gagasan dasarnya ialah alat perontok yang dapat didorong seperti alat angkut sorong satu roda dan untuk itu konstruksi alat perontok harus bisa dilipat seperti kursi lipat.
5/8/12

5/8/12

Alat / Mesin Pengering

Pengeringan adalah proses pemindahan panas dan uap air secara simultan, yang memerlukan energi panas untuk menguapkan kandungan air yang dipindahkan dari permukaan bahan yang dikeringkan oleh media pengering yang biasanya berupa panas (Taib, Said, dan Sutedja, 1988). Pengeringan merupakan usaha menurunkan kadar air bahan sampai mencapai keseimbangan sesuai dengan tinggkat kadar air yang aman untuk disimpan yaitu kadar air 12 14 %, pada kadar air tersebut aktivitas organisme dapat ditekan (Syarief dan Irawati, 1986). Contoh alat / mesin pengering tipe tunnel disajikan pada Gambar 46 dan 47.
5/8/12

5/8/12

5/8/12

Alat / Mesin Pemberas (Rice Milling Unit)

Secara umum mesin penggiling padi dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu (Santosa, 2005b): (a) Mesin pengupas kulit gabah (husker). Penggilingan gabah menjadi beras sosoh, dimulai dengan pengupasan kulit gabah. Syarat utama proses pengupasan gabah adalah kadar air gabah yang akan digiling. Gabah kering giling berarti gabah kering yang siap untuk digiling. Bila diukur dengan alat pengukur kadar air (moisture analyzer), kekeringan ini mencapai angka 14 15,4 %. Pada kadar ini gabah akan mudah digiling atau dikupas kulitnya (Mulyoto et al.,2000).
5/8/12

Mesin pemecah kulit padi adalah mesin yang memisahkan kulit dari padi. Hasil dari mesin pemecah kulit adalah beras cokelat atau brown rice. Beras ini berwarna kelabu putih, karena masih dilapisi oleh lapisan dedak halus. Untuk menyosohnya menjadi beras sosoh, diperlukan alat lain yang akan memprosesnya lebih lanjut. (b) Mesin penyosoh beras (polisher). Beras pecah kulit yang dihasilkan alat pengupas kulit, berwarna gelap kotor dan tidak bercahaya, karena bagian luarnya masih dilapisi kulit ari. Kulit ari atau lapisan bekatul dapat dilepas dari beras pecah kulit ini, sehingga beras tampak lebih putih, bersih dan bercahaya.
5/8/12

DAFTAR PUSTAKA
Hardjosentono, M., Wijato, E. Rachlan, I.W. Badra, dan R. D. Tarmana. 1985. Mesin-Mesin Pertanian. C.V. Yasaguna. Jakarta. Hardjosoediro, Soekarmanto. 1983. Pertanian. BPLPP & JICA. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. 1978. Strategi Mekanisasi Pertanian. Departemen Mekanisasi Pertanian FATEMETA, Bogor.
5/8/12

Mekanisasi

Kepner, R.A., R. Bainer and E. L. Barger. 1980. Principles of Farm Machinery. Third. Avi Publishing Company. USA. La Cour, Annette M., 1984. Tillage. Fundamentals of Machine Operation. John Deere. Media, Trisa. 2007. Pengeringan Wortel (Daucus carota L.) dengan Sumber Energi Matahari pada Alat Pengering Tipe Tunnel. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang. Nur Shuhada. 2010.
5/8/12

Alat dan Mesin Pengolahan

Santosa. 1990. Alat Pengolah Tanah. Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang. Santosa. 2003. Penerapan Komputer. Jilid I. Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang. Santosa. 2004. Pengantar Teknik Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang. Santosa. 2005a. Aplikasi Visual Basic 6.0 dan Visual Studio.Net 2003 dalam Bidang Teknik dan Pertanian, ISBN : 979-731-755-2, Penerbit Andi, Edisi I Cetakan I, Yogyakarta. 304 hal.
5/8/12

Siregar, H., 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. P.T. Sastra Hudaya. Cetakan Pertama. Smith, H.P. and L. H. Wilkes. 1976. Farm Machinery and Equipment. Sixth Edition, Mc Graw-Hill, Inc.), Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Soemartono, B. Samad, dan R. Hardjono. 1984. Bercocok Tanam Padi. Cetakan ke sepuluh. Penerbit C.V. Yasaguna. Jakarta. Suprodjo. 1980. Cara-cara Menentukan Ukuran Utama dari Traktor untuk Pengolahan Tanah. Bagian Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi 5/8/12 Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Syarief, R. dan A. Irawati. 1986. Teknik Pengolahan Hasil Pertanian. IPB Bogor. Taib, G., G. Said dan S.W.Sutedja. 1988. Operasi Pengeringan pada Pengolahan Hasil Pertanian. PT. MSP. Jakarta. Tarmana, R. Dadang. 1989. Pengolahan Tanah Dengan Traktor. Pusat Pengembangan Teknologi Enjiniring Pertanian Tepat Guna & JICA. Departemen Pertanian. Jakarta. Wandra, Syafni. 2010. Rancang Bangun dan Evaluasi 5/8/12

SEKIA
5/8/12

CATATAN

5/8/12