Anda di halaman 1dari 74

PERISTILAHAN TANAH, AGRARIA DAN HUKUM AGRARIA

TANAH
ADALAH BAGIAN TERATAS KERAK ATAU KULIT BUMI, TEMPAT TERDAPATNYA SUMBER DAYA ALAM YANG DAPAT DIUSAHAKAN ADALAH BAGIAN TERLUAR DARI BUMI / KULIT BUMI YANG DIATASNYA DAPAT DIBERIKAN HAK-HAK ATAS TANAH BAGI PERORANGAN MAUPUN BADAN HUKUM

TEKNIS

TANAH

YURIDIS

TANAH

ADALAH BAGIAN TERATAS TANAH YANG MENDUKUNG PERTUMBUHAN ADALAH PERMUKAAN BUMI, TEMPAT KEGIATAN DALAM PEMBANGUNAN

PERTANIAN

LAHAN :

ADALAH BUMI, AIR, RUANG ANGKASA DAN KEKAYAAN ALAM YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA
ADALAH SEGALA KEGIATAN YANG BERKENAAN DENGAN TANAH MIS: PERUMAHAN, PERTANIAN KEHUTANAN, DSB.

AGRARIA :

PERTANAHAN :

PENGERTIAN AGRARIA DAN HUKUM AGRARIA


PENGERTIAN DALAM BAHASA ASING
AGER : TANAH / SEBIDANG TANAH AGRARIUS : PERLADANGAN, PERSAWAHAN, PERTANIAN AGRARIA : URUSAN TANAH PERTANIAN, PERKEBUNAN

AGRARIAN : TANAH, DIHUBUNGKAN DENGAN USAHA PERTANIAN


AGRARIA (UUPA) : BUMI, AIR, RUANG ANGKASA DAN KEKAYAAN ALAM YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA

PENGERTIAN HUKUM AGRARIA


AGRARIAN LAW (BLACKS LAW DICTIONARY) : PERANGKAT PERATURAN HUKUM YANG BERTUJUAN MENGADAKAN PEMBAGIAN TANAH-TANAH YANG LUAS DALAM RANGKA LEBIH MERATAKAN PENGUASAAN DAN PEMILIKAN TANAH HUKUM AGRARIA (UUPA) : KELOMPOK BERBAGAI BIDANG HUKUM YANG MASINGMASING MENGATUR HAK-HAK PENGUASAAN ATAS SUMBER-SUMBER DAYA ALAM YANG TERMASUK KEDALAM PENGERTIAN AGRARIA. SEPERTI : HUKUM TANAH, PERTAMBANGAN, HUKUM PERIKANAN DLL.

LANDASAN HUKUM AGRARIA

PASAL 33 UUD 1945


1) 2) PEREKONOMIAN DISUSUN SEBAGAI USAHA BERSAMA BERDASAR ATAS ASAS KEKELUARGAAN CABANG-CABANG PRODUKSI YANG PENTING BAGI NEGARA DAN YANG MENGUASAI HAJAT HIDUP ORANG BANYAK DIKUASAI OLEH NEGARA BUMI DAN AIR DAN KEKAYAAN ALAM YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA DIKUASAI OLEH NEGARA DAN DIPERGUNAKAN UNTUK SEBESARBESAR KEMAKMURAN RAKYAT
BUMI, AIR DAN KEKAYAAN ALAM YANG TERKANDUNG DI DALAM BUMI ADALAH POKOK-POKOK KEMAKMURAN RAKYAT, OLEH SEBAB ITU HARUS DIKUASAI OLEH NEGARA DAN DIPERGUNAKAN UNTUK SEBESAR-BESAR KEMAKMURAN RAKYAT

3)

SEJARAH

HUKUM AGRARIA

HUKUM AGRARIA KOLONIAL AW - 1870


1) Politik Pertanahan Kolonial dituangkan dalam Agrarische Wet 1870 (AW) yang diundangkan dalam S 1870 55 2) AW Pelaksanaannya diatur dengan Agrarische Besluit (AB) yang diundangkan dalam S-1870-118-Domein Verklaring 3) Dualisme Hukum Tanah a. Hukum Tanah Barat b. Hukum Tanah Adat - Hak Eigendom - HM Adat - Hak Erfpacht - Hak Ulayat - Hak Opstal 4) Belum ada pendaftaran tanah yang efektif - Legal Cadastre - Fiscal Cadastre

1945
1) Usaha-usaha pembaharuan Hukum Tanah setelah proklamasi dan tindakan-tindakan untuk mengatasi masalah-masalah yang perlu segera diselesaikan 2) Sejarah Pembentukan UUPA

HUKUM AGRARIA NASIONAL UUPA 1960


1) 2) Politik Hukum Tanah Nasional Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 Perencanaan Hk. Adat dalam Pembangunan Hukum Tanah Nasional - Konsepsi - Asas-asas - Lembaga - Sistem Peranan Norma-norma Hukum Tanah Adat yang tidak tertulis sebagai pelengkap Hukum Tanah Positif - disaneer - Pasal 5 UUPA Sumber-sumber Hukum Tanah Nasional

3)

4)

5)

Konsepsi Hk. Tanah Adat : Komunalistik Religius - Pasal 1 ayat (2) UUPA - Hak Bangsa - Hak Menguasai dari Negara - Hak Ulayat Maasyarakat Hk. Adat - Hak-hak Perorangan asta Tanah

USAHA-USAHA PEMBAHARUAN HUKUM TANAH SETELAH PROKLAMASI DAN TINDAKAN-TINDAKAN UNTUK MENGATASI MASALAH YANG PERLU SEGERA DISELESAIKAN 1) Mempergunakan kebijakan, kebijaksanaan dan tafsir baru 2) Penghapusan Desa perdikan UU No. 13 Tahun 1946

3) Meniadakan lembaga feodal: Penghapusan Hak-hak konversi UU No. 13 Tahun 1948 UU No. 3 Tahun 1950 4) Meniadakan lembaga kolonial: Penghapusan Tanah Partikelir UU No. 1 Tahun 1958 5) Perubahan Peraturan Persewaan Tanah Rakyat UU No. 6 Tahun 1952 6) Pengawasan Pemindahan Hak UU No. 24 Tahun 1954 7) Peraturan dan Tindakan mengenai Tanah-tanah Perkebunan UU No. 29 Tahun 1956 8) Kenaikan Canon dan Cijns UU No. 78 Tahun 1957 9) Larangan dan Penyelesaian Soal Pemakaian Tanah Tanpa Ijin UU No. 51 / Prp. / 1960 10) Peraturan Perjanjian Bagi Hasil UU No. 2 Tahun 1960 11) Peralihan dan Pelimpahan Tugas dan Wewenang Agraria UU No. 7 Tahun 1958 Keppres No. 26 / 1988 BPN

SEJARAH PEMBENTUKAN UUPA


1) Panitia Agraria YOGYA
Dibentuk dengan Ketua Dibentuk dengan Ketua : Pen Pres No. 16 Tahun 1948 : Sarimin Reksodihardjo : Keppres No. 36 Tahun 1951

2) Panitia Agraria JAKARTA


: Sarimin R diganti Singgih Prapto Dihardjo

Wakil

: Sadjarwo
: Keppres No. 1 Tahun 1956 : Soewahyo Soemadilogo

3) Panitia SOEWAHYO
Dibentuk dengan Ketua

4) Rancangan SOENARJO 5) Rancangan SOEDJARWO Disetujui tanggal 24 September 1960 dan disyahkan menjadi UU No. 5 Tahun 1960

LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN UUPA


1) B.a.r. mempunyai fungsi yang sangat penting untuk membangun masyarakat adil dan makmur. 2) Hukum Agraria Kolonial bertentangan dengan kepentingan Nasional
3) Adanya dualisme hukum 4) Tidak ada kepastian hukum

DASAR-DASAR HUKUM AGRARIA NASIONAL


1) Prinsip kesatuan dalam Hukum Agraria untuk seluruh wilayah tanah air.

2) Hukum Agraria kolonial bertentangan dengan kepentingan nasional.


3) Fungsi sosial hak atas tanah 4) Pengakuan Hukum Agraria Nasional berdasarkan Hukum Adat dan pengakuan eksistensi Hak Ulayat. 5) Persamaan derajat sesama WNI dan antara laki-laki dan wanita. 6) Pelaksanaan Landreform / hubungan antara manusia dengan tanah atau dengan b.a.r. 7) Rencana umum penggunaan, persediaan, pemeliharaan b.a.r. 8) Prinsip Nasional.

ASAS-ASAS HUKUM AGRARIA NASIONAL


Asas Kebangsaan Pasal 1 ayat (1),(2) dan (3) Asas menguasai dari negara Pasal 2 ayat (1),(2) dan (3) Asas Pengakuan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. Pasal 3

Asas Fungsi Sosial atas Tanah

Pasal 6

Asas Nasionalitas Pasal 9, Pasal 21, Pasal 26 ayat (2) Asas Persamaan Hak Laki-laki dan Wanita serta perlindungan terhadap golongan ekonomi lemah. Pasal 9 ayat (2), Pasal 26 ayat (1), Pasal 11 ayat (1), Pasal 12 ayat (1), Pasal 10 Asas Tanah Pertanian harus diusahakan secara aktif oleh pemiliknya Pasal 13, Pasal 17, Pasal 24, Pasal 41, Pasal 53 Asas Perencanaan Bumi, Air, Ruang Angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Pasal 1 dan Pasal 15 Asas Pendaftaran Tanah Pasal 19

ASAS-ASAS HUKUM ADAT DALAM HUKUM TANAH NASIONAL


1) Asas Religius. Pasal 1

2) Asas Kebangsaan. Pasal 1,2 dan 9 3) Asas Demokrasi. Pasal 9 4) Asas Kemasyarakatan, Pemerataan dan Keadilan Sosial. Pasal 6, 7, 10, 11 dan 13
5) Asas Penggunaan dan Pemeliharaan tanah secara berencana. Pasal 14 dan 15 6) Asas Pemisahan Horizontal tanah dengan bangunan dan tanaman yang ada diatasnya

HAK-HAK PENGUASAAN ATAS TANAH


HAK BANGSA INDONESIA
Pasal 1 UUPA

HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT


Pasal 3 UUPA

HAK MENGUASAI DARI NEGARA


Psl 2 UUPA, Psl 33 (3) UUD

HAK PENGELOLAAN
(Hak-hak atas Tanah dan Hak Jaminan Atas Tanah) Psl. 1, 16 & 53 UUPA ; Psl. 25, 33, 39, 51 & 57 UUPA
A. B. C. D. E. HAK-HAK ATAS TANAH : Primer & Sekunder WAKAF HAK MILIK ATAS SATUAN RUMAH SUSUN PEMILIKAN RUMAH OLEH ORANG ASING HAK JAMINAN ATAS TANAH : Hak Tanggungan

HAK-HAK PERORANGAN

HAK BANGSA INDONESIA


Dasar Hukum : Pasal 1 ayat (1), (2), dan (3) UUPA HAK BANGSA adalah sebutan yang diberikan oleh ilmuwan Hukum Tanah pada lembaga hukum dan hubungan hukum konkret antara bangsa Indonesia dengan bumi, air dan ruang angkasa Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya
Mengandung unsur kepunyaan dan unsur tugas kewenangan Subjek hak Bangsa adalah seluruh rakyat Indonesia sepanjang masa Tanah yang dihaki semua tanah yang ada dalam wilayah negara republik Indonesia Hubungan hukum yang bersifat abadi

HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT


HAK ULAYAT merupakan serangkaian wewenang-wewenang dan kewajiban-kewajiban suatu masyarakat Hk. Adat yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya

KEWAJIBAN UTAMA PENGURUS ADAT ialah : memelihara kesejahteraan dan kepentingan anggota-anggota masyarakat hukumnya, jangan sampai timbul perselisihan mengenai pemakaian tanah

HAK ULAYAT DALAM UUPA


Hak Ulayat diakui dalam UUPA Pasal 3 disertai 2 syarat yaitu : 1. Eksistensinya : diakui sepanjang menurut kenyataannya masih ada 2. Pelaksanaannya : pengakuan Hak Ulayat dalam pelaksanaannya dibatasi oleh kepentingan nasional dan negara, UU dan peraturan yang lebih tnggi
Pengakuan Hak Ulayat dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Pemenag / Ka. BPN No. 5 Tahun 1999 Tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat

MUATAN POKOK & MAKSUD DIKELUARKANNYA PERMENAG /Ka BPN No. 1/1999 1) 2) PENYAMAAN (Pasal 1) PERSEPSI MENGENAI HAK ULAYAT.

KRITERIA DAN PEMANTAUAN MASIH ADANYA HAK-HAK YANG SERUPA DARI MASYARAKAT HUKUM ADAT. (Pasal 2 dan Pasal 5)
PENELITIAN YANG MELIPUTI 3 UNSUR : Unsur Masyarakat Adat Unsur Wilayah Unsur hubungan antara masyarakat tsb dgn wilayahnya DILAKUKAN OLEH PEMERINTAH DAERAH DIDAFTARKA

3)

KEWENANGAN MASYARAKAT TERHADAP TANAH ULAYATNYA. (Pasal 3 dan Pasal 4)

HUKUM

ADAT

HAK MENGUASAI DARI NEGARA PASAL 2 ayat (2) :


HAK MENGUASAI UNTUK :
a. b. c.

DARI

NEGARA

MEMBERI

WEWENANG

Mengatur dan menyelenggarakan peruntukkan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan BAR tsb. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan BAR. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai BAR.

PASAL 2 ayat (2) :

Hak menguasai dari negara tersebut pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan PP HAK PENGELOLAAN

HAK

PENGELOLAAN

HAK MENGUASAI NEGARA TIDAK DAPAT DIPINDAHKAN KEPADA PIHAK LAIN, TAPI PELAKSANAANNYA DAPAT DILIMPAHKAN KEPADA : PEMDA MASYARAKAT HUKUM ADAT BADAN OTORITA PERUSAHAAN NEGARA DENGAN HAK PENGELOLAAN PERUSAHAAN DAERAH Penjelasan Umum UUPA . Negara dapat memberikan tanah yang demikian dalam pengelolaan kepada suatu Badan Penguasa (Departemen, Jawatan, Daerah Swatantra), untuk digunakan bagi pelaksanaan tugasnya

KEDUDUKAN HAK PENGELOLAAN


Dalam sistematika Hak-hak Penguasaan Tanah, HPL tidak masuk dalam golongan Hak-hak atas Tanah karena :

Meskipun pemegang HPL mempunyai hak menggunakan tanahnya untuk keperluan usahanya, akan tetapi tujuan utama pemberian HPL adalah bahwa tanah ybs disediakan untuk penggunaan oleh pihak-pihak lain yang membutuhkan

HPL pada hakekatnya bukan merupakan hak atas tanah, tetapi merupakan bagian dari Hak Menguasai Negara Pasal 1 PP No. 40 Tahun 1996 HPL adalah HMN yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya Dari HPL dapat diberikan : Hak Milik, HGB, Hak Pakai. Pemberian hak-hak tersebut dilakukan oleh pejabat BPN atas usul pemegang HPL

HPL didaftarkan dan diterbitkan sertifikatnya, tetapi tidak dapat dipindah tangankan, sehingga tidak dapat dijaminkan

DASAR HUKUM HAK PENGELOLAAN


PMA No. 9 Th 1965 (Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan atas Tanah Negara dan Ketentuan2 tenang kebijaksanaan selanjutnya) PMA No. 1 Th 1966 (Pendaftaran Hak Pakai dan Hak Pengelolaan) PP No. 8 Th 1953 (Penguasaan Tanah-tanah Negara)

PMDN No. 5 Th 1974 (Ketentuan2 mengenai Penyediaan dan Pemberian Hak untuk keperluan Perusahaan ) PMDN No. 1 Th 1977 (Tata Cara Permohonan dan Penyelesaian Pemberian Hak atas Bagian2 Tanah Hak Pengelolaan serta Pendaftarannya) PMNA / Ka BPN No. 9 Th 1999 (Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan)

WEWENANG

HAK PENGELOLAAN

Pasal 3 PMDN No. 5 Tahun 1974 : 1) Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah. 2) Menggunakan tugasnya. tanah untuk keperluan pelaksanaan

3) Menyerahkan bagian2 tanah HPL itu pada pihak ketiga menurut syarat yang ditentukan oleh perusahaan pemegang hak yang meliputi : segi-segi peruntukan, penggunaan, jangka waktu dan keuangannya, dengan ketentuan : Pemberian hak atas tanah itu dilakukan oleh pejabat2 yang berwenang menurut PMDN No. 6 Tahun 1972 PMNA / Ka BPN No. 3 Th 1999

HAK MILIK

(Pasal 20 27 UUPA)
Fungsi Sosial (Psl. 6)

PEMBATASAN (Psl. 20) Turun Temurun; Terkuat & Terpenuhi;

ALAS HAK SK Pemberian hak (PMNA/Ka BPN No. 3/1999 jo. No. 9 /1999) Ketentuan Konversi; Hak Pengelolaan LUAS : Dibatasi Ketentuan Ceiling (Pembatasan luas tanah) JANGKA WAKTU : Selama diatur dalam UUPA RIGHT TO USE : Luas dibatasi Land Use, Perda, Fungsi Sosial PRINSIP NASIONALITAS (Subjek) WNI (Psl. 9) Badan Hukum tertentu (PP 38/63) RIGHT OF DISPOSAL Dapat dialihkan kepada siapa saja Dapat didirikan HGB; HP diatas HM

Dapat dijadikan objek HT

FORMALITAS R.O. DISPOSAL : Akta PPAT dari daerah Kecamatan letak tanah PENDAFTARAN : Harus didaftarkan (Psl. 23) BERAKHIRNYA HAK Pencabutan Hak Melanggar prinsip nasionalitas Penyerahan sukarela Tanahnya musnah Diterlantarkan

HAK GUNA USAHA (Pasal 28-34 UUPA & Pasal 2-18 PP40/1996)
PEMBATASAN Mengusahakan tanah yg dikuasai negara guna pertanian/perkebunan, perikanan, peternakan ALAS HAK SK Pemberian Hak (PMNA/Ka BPN No. 3/1999 jo. No. 9/1999 jo. Per Ka BPN 16/1990) LUAS : ~ Alas Hak JANGKA WAKTU : UUPA : 25/35 tahun + 25 tahun PP 40/1996 : 30 tahun + 25 tahun + pembaharuan RIGHT TO USE : Pertanian/perkebunan, perikanan, peternakan PRINSIP NASIONALITAS (Subjek) : WNI (Psl. 9) Badan Hukum Indonesia RIGHT OF DISPOSAL Dapat dialihkan asal kepada WNI Dapat dijadikan objek HT

FORMALITAS R.O. DISPOSAL : Peralihan di depan PPAT khusus/pejabat BPN Pembebanan HT didepan PPAT letak tanah PENDAFTARAN : Harus didaftarkan (Psl. 32 UUPA jo Psl 7 PP 40/1996) BERAKHIRNYA HAK Pencabutan Hak Melanggar prinsip nasionalitas Penyerahan sukarela Tanahnya musnah Diterlantarkan

(Pasal 35 - 40 UUPA & Pasal 19 - 38 PP40/1996)


PEMBATASAN : Mendirikan & memp. bangunan diatas tanah bukan miliknya ALAS HAK : SK Pemberian hak (PMNA/Ka BPN No. 3/1999) Hak Pengelolaan Vide (PMDN 1/77 jo. PMDN 6/72 jo. Psl. 22 ayat (2) PP 40/96) Konvensi Ex Hk Adat Konvensi Ex BW Krn perjanjian dg pemilik HM LUAS : ~ Alas Hak PP 40/1996 : 30 thn + 25 thn + pembaharuan JANGKA WAKTU : UUPA : 30 thn + 20 thn

HAK GUNA BANGUNAN

RIGHT TO USE : Mendirikan & memp. bangunan diatas tanah bukan miliknya PRINSIP NASIONALITAS (Subjek) WNI (Psl. 9) Badan Hukum Indonesia (Psl. 36 UUPA; Psl. 19 PP 40/96

RIGHT OF DISPOSAL : Dpt dialihkan asal kpd WNI


FORMALITAS R.O. DISPOSAL : PENDAFTARAN : Harus didaftarkan

Dpt dijadikan objek HT

Di depan PPAT tempat tanah

IZIN PERALIHAN : HGB dari HPL dari pemegang HPL

HGB dari HM dari pemegang HM

BERAKHIRNYA HAK Jangka waktunya berakhir Dihentikan sbl. Waktunya Diterlantarkan Bukan WNI lagi Tanahnya musnah Dicabut unt. Kepent. umum

HAK PAKAI ( KEPERDATAAN / PRIVAT )


DASAR HUKUM : Pasal 41 43 UUPA Pasal 39 58 PP 40/1996
HAK UNTUK MENGGUNAKAN DAN / MEMUNGUT HASIL DARI TANAH : yang dikuasai negara yang dikuasai dengan Hak Milik yang dikuasai dengan Hak Pengelolaan

ALAS HAK 1. PMNA/Ka BPN No. 3/1999 jo. PMNA/Ka BPN No. 9/1999 2. Perjanjian : Pemegang HP (PMDN No. 1/1977) Pemegang HM 3. Konversi
SUBJEK HAK WNI (Psl. 9 UUPA) Badan Hukum Indonesia Orang asing penduduk Indonesia Badan Hukum Asing yang ada izin operasional JANGKA WAKTU UUPA : tidak diatur PP40/1996 : 25 th + 20 th + penambahan DAPAT DIALIHKAN & DAPAT DIJADIKAN OBJEK HAK TANGGUNGAN dengan Akta PPAT Izin Pemindahan Hak (Psl. 43 UUPA) PENDAFTARAN UUPA : tidak diatur PMDN No. 1/1996

HAK PAKAI ( PUBLIKASI / KHUSUS )


DASAR HUKUM : Pasal 49 UUPA Ketentuan Konversi Psl. 1 (2)

HAK UNTUK MENGGUNAKAN TANAH UNTUK PELAKSANAAN TUGASNYA YG BERASAL DARI TANAH YG DIKUASAI NEGARA SUBJEK HAK Departemen/Direktorat Jenderal Lembaga Pemerintah Non. Dept. Lembaga Keagamaan Pemerintah daerah Perwakilan Negara Asing Lembaga Sosial

JANGKA WAKTU Tidak terbatas selama masih dipergunakan (Psl. 45 (10) PP 40/96)
TIDAK DAPAT DIALIHKAN & BUKAN OBJEK HAK TANGGUNGAN WEWENANG HAK : Kanwil BPN PENDAFTARAN UUPA : tidak diatur PMDN No. 1/1996

BERAKHIRNYA HAK : Jika tdk dipergunakan lagi kembali kpd negara

HAK SEWA UNTUK BANGUNAN


( Pasal 44 s/d 45 UUPA )
PEMBATASAN (right to use) Menggunakan tanah milik orang lain untuk keperluan pembangunan Membayar uang sewa tidak boleh dengan pemerasan JANGKA WAKTU : tidak diatur (diperjanjikan ?)

ada yang menerapkan Hak Pengelolaan

PRINSIP NASIONALITAS (Subjek) Warga Negara Indonesia Badan Hukum Indonesia Badan Hukum Asing perwakilan di Indonesia

RIGHT OF DISPOSAL : Dpt dialihkan

Objek HT ?

Izin Pemindahan ?

FORMALITAS R.O. DISPOSAL : Bebas Tetapi sebaiknya dihadapan notaris / camat setempat

HAK MEMBUKA TANAH DAN MEMUNGUT HASIL HUTAN


( Pasal 16 dan Pasal 46 UUPA )
Diatur lebih lanjut dalam PP Diatur dalam UU Pokok Kehutanan (UU 5/1967) Diatur dalam PP Ttg Pengusahaan Hutan dan Hak Pemungutan Hasi Hutan (PP21/1970)

HAK-HAK SEMENTARA (Pasal 16 & 53 UUPA)


Hak-hak yang bersifat sementara, dikatakan bersifat sementara karena mengandung sifat-sifat yang bertentangan dengan UUPA (mengandung unsur pemerasan). Maka hak-hak tersebut diusahakan ada peraturan-peraturan yang baru, sementara ketentuan yang sudah ada dianggap masih berlaku

PENGERTIAN :

HAK-HAK TERSEBUT ADALAH : 1. HAK GADAI Berasal dari Hukum Adat Jual Gadai
Yaitu : penyerahan sebidang tanah oleh pemilik kepada pihak lain dengan membayar uang kepada pemilik tanah dengan perjanjian, bahwa tanah itu akan dikembalikan apabila pemilik mengembalikan uang kepada pemegang tanah

Diatur lebih lanjut dalam UU No. 56/Prp/1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pemerintah
Pasal 7 : barang siapa menguasai tanah pertanian dengan Hak Gadai, sudah berlangsung 7 tahun atau lebih wajib mengembalikan tanah itu kepada pemiliknya dalam waktu sebulan setelah tanaman selesai dipanen, dengan tidak ada hak untuk menuntut pembayaran uang tebusan

2. HAK USAHA BAGI HASIL

Berasal dari Hukum Adat Hak Menggarap


Yaitu : Hak seseorang untuk mengusahakan pertanian diatas tanah milik orang lain dengan perjanjian bahwa hasilnya akan dibagi antara kedua belah pihak berdasarkan persetujuan.

Diatur dalam UU No. 2/1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil, Permenag 8/1964, Inpres 13/1980 3. HAK MENUMPANG
Yaitu : Hak mengijinkan seseorang untuk mendirikan serta menempati rumah diatas tanah pekarangan orang lain dengan tidak membayar kepada pemilik pekarangan tersebut ~ : HP, tetapi sifatnya sangat lemah, karena setiap saat pemilik pekarangan dapat mengambil kembali tanahnya

4. HAK SEWA PERTANIAN


Bersifat sementara karena berkaitan dengan Pasal 10 ayat (1) UUPA yang menghendaki setiap orang / BH yang mempunyai suatu hak atas tanah pertanian pada asasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan

DASAR HUKUM :

UU No. 16 Tahun 1985 PP No. 4 Tahun 1988 Perat Ka BPN No. 2 Tahun 1989 Perat Ka BPN No. 4 Tahun 1989 PMDN No. 3 Tahun 1992 Permen. PU No. 60/PRT/1992 SK Menpera No. 11 Tahun 1994

PENGERTIAN :

Adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang di strukturkan secara fungsional dalam arah horisontal dan arah vertikal dan merupakan satu satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan dihuni secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama

UNSUR-UNSUR :

Sarusun Tanah Bersam Bagian Bersama Benda Bersama

PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN

BUMN /BUMD KOPERASI BUMS SWADAYA MASY.

HAK MILIK HGB HP ATAS TANAH NEGARA HAK PENGELOLAAN (HPL) PEMILIKAN SARUSUN

RUMAH SUSUN HANYA DPT DIBANGUN DIATAS TANAH TANAHNYA SUBJEKNYA

SERTIFIKAT HAK MILIK ATAS SATUAN RUMAH SUSUN PENGALIHAN HAK

BUKTI KEPEMILIKAN WARISAN PERBUATAN HUKUM (Jual Beli, menukar, Hibah) Dilakukan dg akta PPAT

Hak Milik atas satuan rumah susun terjadi sejak didaftarkannya akta pemisahan dengan dibuatnya buku tanah untuk setiap satuan rumah susun yang bersangkutan

JAMINAN
HM sarusun dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani Hak Tangunan

HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK SARUSUN HAK PEMILIK :


Menghuni, memiliki & menggunakan Menyewakan Dijadikan objek Hak Tanggungan Mengalihkan & mewariskan

KEWAJIBAN PEMILIK :
Membentuk perhimpunan penghuni Membentuk badan pengelola

HAPUSNYA HAK MILIK ATAS SARUSUN


Jika jangka waktu hak atas tanah bersama berakhir dan tidak dilakukan perpanjangan / pembahatuan

PEMILIKAN RUMAH TEMPAT TINGGAL ATAU HUNIAN OLEH ORANG ASING YANG BERKEDUDUKAN DI INDONESIA
PP No. 41 Tahun 1996 Permenag / Ka BPN Permenag / Ka BPN No. 8/1996

DASAR HUKUM

ORANG ASING
ORANG ASING YANG KEHADIRANNYA DI INDONESIA MEMBER MANFAAT BAGI PEMBANGUNAN NASIONAL
Memiliki dan memelihara kepentingan ekonomi di Indonesia

2 GOLONGAN ORANG ASING


1. ORANG ASING PENDUDUK INDONESIA : Izin tinggal Tetap 2. ORANG ASING YANG SEWAKTU-WAKTU BERADA INDONESIA : Ijin kunjungan atau ijin keimigrasian lainnya DI

Paspor; Visa

CARA MEMPEROLEH RUMAH


1. Membeli HP atas tanah negara atau HP atas tanah HM beserta rumah yang ada diatasnya. 2. Membeli HP atas tanah negara atau HP atas tanah HM dan membangun sendiri rumahnya IMB 3. Memperoleh HP atas tanah HM atau Hak Sewa untuk bangunan atau persetujuan penggunaan tanah dalam bentuk lain dari pemegang HM dan memperoleh atau membangun diatasnya mengikuti ketentuan UU yg berlaku

BATASAN RMH YG DPT DIPUNYAI ORANG ASING


1. Hanya 1 (satu) rumah 2. Tidak termasuk klasifikasi RS dan RSS 3. Rumah yang berdiri sendiri diatas HPATN atau HP atas tanah HM

4. Satuan rumah susun di atas tanah HPATN

Pasal 3 Perat Ka BPN No. 7/1997


Selama tidak dipergunakan oleh pemiliknya, rumah tersebut dapat disewakan melalui perusahaan Indonesia berdasarkan perjanjian antara orang asing pemilik rumah dengan perusahaan tersebut

Apakah tdk bertentangan dgn peruntukannya ? PEMBEBANAN UUHT

1. Rumah orang asing yang berdiri di atas tanah HPATN . wajib di daftarkan 2. Pemegang HPATN adalah juga pemilik bangunan yang ada di atasnya

PEROLEHAN HAK ATAS TANAH


TERJADINYA HAK MILIK
1. 2. 3. 4. 5. Menurut Hukum Adat Penetapan Pemerintah Karena Undang-undang Perbuatan Hukum Peningkatan Hak : : : : Membuka Hutan Permohonan Hak Konversi Jual-beli; Tukar-menukar, dll.

TERJADINYA HAK GUNA USAHA


1. Penetapan Pemerintah : Permohonan Hak 2. Karena Undang-undang : Konversi 3. Perbuatan Hukum / Pengalihan Hak

TERJADINYA HAK GUNA BANGUNAN DAN HAK PAKAI


1. Penetapan Pemerintah : Permohonan Hak
2. Karena Undang-undang : Konversi 3. Perbuatan Hukum / Pengalihan Hak 4. Perjanjian : Diatas Hak Milik & HPL

SYARAT-SYARAT PERMOHONAN HAT


1. Permenag / Ka BPN No. 3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan
Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara. Permenag / Ka BPN No. 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan. Permenag / Ka BPN No. 4 Tahun 1998 tentang Pedoman Penetapan Uang Pemasukan Dalam Pemberian Hak Atas Tanah Negara. UU No. 21 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2000 tentang Pajak Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

2.

3.

4.

CARA MEMPEROLEH HAK ATAS TANAH BAGI INSTANSI PEMERINTAH DAN BUMN/BUMD
1. 2. 3. 4. Permohonan Hak Jual Beli, Tukar-menukar, dll. Pengadaan Tanah diikuti dg permohonan hak Pencabutan Hak diikuti dg permohonan hak

TANAH YANG DIPERLAKUKAN STATUSNYA :


1. Tanah Negara
2. Tanah Hak Ulayat 3. Tanah Hak : HM; HGU; HGB; HP

PAJAK PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (UU No. 21/1997 jo. UU No. 20/2000)
1. Objek Pajak : Perolehan HAT dan/atau Bangunan yg meliputi Pemindahan Hak dan Pemberian Hak Baru. HAT; HM; HGU; HGB; HP; HPL; HM atas Sarusun 2. Subjek Pajak : Orang/Badan Hukum yang memperoleh HAT dan Bangunan 3. Kecuali : a. Perwakilan Diplomat e. Karena Konbersi b. Negara f. Karena Wakaf c. Badan/Organisasi Internasional d. Digunakan untuk kepentingan ibadah 4. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Terkena Pajak (NPOPTKP) ditetapkan secara regional. a. Maksimal : Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) b. Waris, Hibah, Wasiat kelurga sedarah Rp. 300 Juta c. BPHTB Terutang : NPOPKP X Tarif (NPOP NPOPTKP) X Tarif (NPOP Rp. 60 juta) X 5%

5. Tarif pajak : 5%

PP No. 35 Tahun 1997 tentang Pengenaan Bea Perolehan HAT & Bangunan Karena Hibah Wasiat : 1. Hubungan keluarga sedarah : suami/istri, anak : 0% 2. Selain 1 : 50% dari BPHTB 3. BH tertentu : 50% dari BPHTB
PP No. 36 Tahun 1997 tenteng Pengenaan Bea Perolehan HAT dan Bangunan karena pemberian Hak Pengelolaan. 1. Departemen; LP Non Dep.; Pemda.; Lembaga Pemerintah lainnya dan Perumnas : 0% 2. Selain 1 : 25% dari BPHTB

PERALIHAN HAK ATAS TANAH


Terjadinya karena hukum tidak diperlukan perbuatan hukum tertentu Pewarisan

BERALIH

DIALIHKAN

Diperlukan perbuatan hukum tertentu jual beli, tukar menukar, hibah, hibah wasiat

HGU ; HGB ; HP Pewarisan Jual Beli Tukar Menukar Hibah, Hibah Wasiat

UUPA

Beralih & Dialihkan

HAK MILIK
Psl. 26 UUPA

PP 40/1996 Pewarisan; jual beli ; Tukar menukar

Pasal 19 PP No. 10/1961


Mengharuskan setiap perjanjian yang bermaksud memindahkan hak atas tanah harus dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh dan dihadapan PPAT. PP 24/1997

YANG DAPAT DIANGKAT MENJADI PPAT :


1. Notaris 2. Pegawai & bekas pegawai di lingk. Kantor agraria 3. Pegawai pamong praja yg pernah melakukan tugas PPAT 4. Camat karena jabatannya 5. Kepala Desa PP 24/1997
HARUS LULUS UJIAN YANG DIADAKAN DIRJEN AGRARIA PPAT sementara

Pasal PP No. 48/1994


Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Pengalihan hak atas Tanah dan / atau Bangunan yang dirubah dengan PP No. 27/1996, bahwa atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari pengalihan hak atas tanah dan / atau bangunan pajak wajib dibayar. Pajak Penghasilan Penjualan (WP) Besarnya : 5% dari nilai Penghasilan 2% untuk RS dan RSS

Kecuali : 1. Nilai Pengalihan kurang dari 60 juta. 3. Warisan 2. Hibah kpd kel. sedarah, badan keagamaan, pend., sosial atau pengusaha kecil

KONVERSI
PENGERTIAN
Konvensi adalah penyesuaian hak-hak atas tanah yag pernah tunduk kepada sistem hukum yang lama yaitu hak-hak tanah menurut KUH Perdata dan tanah-tanah yang tunduk kepada Hukum Adat untuk masuk kedalam sistem hak-hak atas tanah menurut Ketentuan UUPA.

DASARNYA
Hanya ada satu sistem Hukum (Unifikasi) Agraria yaitu yang ditetapkan berdasarkan UUPA

PRINSIP-PRINSIP
1. 2. 3. 4. 5. Prinsip Nasionalis Prinsip pengakuan Hak-hak Atas Tanah terdahulu Kepentingan Hukum Penyesuaian kpd Ketentuan Konversi Status quo hak-hak tanah terdahulu

PRANATA HUKUM DALAM KONVENSI


1. Pranata langsung konversi dari hak adat kpd hak-hak yg ada dlm UUPA 2. Konversi tsb merupakan penegasan hak atau tanda bukti hak 3. Pengakuan hak yg tidak ada bukti-bukti haknya

KONVERSI
Terjadinya : 1. DEMI HUKUM
Konversi yg terjadi karena hukum dan terjadi dengan sendirinya tanpa diperlukan suatu tindakan dari suatu instansi Mis : menurut Pasal III ayat (1) KK UUPA Hak Erfpacht untuk perusahaan kebun besar HGU (sisa waktu, max 20 Th)

UUPA Bag. Kedua Pasal I s/d IX

2. DEKLARATOIR
Konversi yg terjadi karena hukum ttp disertai syarat2 tertentu, shg diperlukan suatu tindakan penegasan yg bersifat deklarator Mis : Menurut Pasal I ay. KK UUPA Hak eigendom HM memenuhi syarat2 sbg pemilik

3. KONSTITUTIF
Konversi yg terjadi tidak karena hukum, melainkan memerlukan tindakan khusus bersifat Konstitutif. Mis : menurut Pasal IV KK UUPA HGU Permohonan Ketetapan

Terjadinya :
Untuk Hak Barat : PMA No. 2/1960; No. 5/1960; No. 13/1961; No. 7/1965 PMDN No. 2/1970; SK MDN No. SK53/DDA/1970 Untuk Hak Indonesia : PMA No. 2/1962 dan SKMDN No. 26/1970

IZIN
PENGERTIAN

LOKASI

( Permenag / Ka BPN No. 2 Tahun 1999 )


Izin lokasi adalah izin yang dberikan kepada perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal yang berlaku pula sebagai izin pemindahan hak dan untuk menggunakan tanah tersebut guna keperluan usaha penanaman modalnya. Semua perusahaan yang telah memperoleh persetujuan penanaman modal wajib mempunyai izin lokasi untuk memperoleh tanah yg diperlukan, kecuali : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tanah yg akan diperoleh merupakan inbreng dari para pemegang saham Tanah yg diperoleh sudah dikuasai Perusahaan lain. Melanjutkan Tanah yg akan diperoleh dlm suatu kawasan industri Tanah yg akan diperoleh berasal dari otorita Tanah yg akan diperoleh merupakan perluasan usaha yg sdh berjalan Tanah yg diperlukan 25 ha (pertanian) & 10.000 m2 (non pertanian) Tanah yg akan dipergunakan adalah tanah yg sudah dipunyai oleh perusahaan tersebut.

Object : Tanah yg menurut RTRW diperuntukkan bagi penggunaan yg sesuai dg rencana penanaman modal yg telah disetuji Subjek : Perusahaan yg sudah mendapat persetujuan penanaman modal

Jangka Waktu : 25 ha . 1 Tahun; 50 ha . 3 Tahun;

25 s/d 50 ha. 2 Tahun dpt diperpanjang selama 1 Tahun

HAPUSNYA HAK ATAS TANAH


1. 2. 3. 4. 5. 6. Berakhirnya jangka waktu tanah yg bersangkutan Dilepaskan/diserahkan dengan sukarela Dibatalkan tdk terpenuhinya kewajiban. Mis : Diterlantarkan Hapus karena hukum Pencabutan Hak Tanahnya musnah PP No. 36/1998 Tentang Penertiban Dan Pendayagunaan Tanah Terlantar KRITERIA :

1. Tanah HM, HGB, HGU & HP yg dengan sengaja tdk digunakan oleh pemegang haknya dg keadaannya atau sifat dan tujuan haknya atau tdk dipelihara dg baik.
2. Tanah Hak Pengelolaan yg apabila kewenangan hak menguasai dari negara atas tanah tsb tidak dilaksanakan oleh pemegang HPL sesuai tujuan pemberian pelimpahan kewenangan tsb

3. Tanah yg sudah diperoleh penguasaannya, tetapi belum diperoleh hak atas tanah sesuai ketentuan per-UU-an yg berlaku, tdk dimohonkan haknya atau tdk dipelihara dg baik

Kriteria (1, 2, 3)

Peringatan tertulis 3 X 12 bulan

Diberi kesempatan 3 bln untuk mengalihkan hak atas tanah melalui pelelangan umum

Dinyatakan tanah terlantar tanah yg dikuasai negara

Diberi ganti rugi sesuai harga perolehan dan biaya sarana & prasarana fisik /bangunan

Dikaitkan dg Permenag / Ka BPN No. 3/1998 tentang Kewajiban Pemanfaatan Tanah Kosong Untuk Tanaman Pangan Tanah2 yg dikriteriakan tanah terlantar ~ tanah kosong Pemegang HAT wajib memanfaatkan dg menanami tanaman pangan
(padi, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu dan sayuran musiman)

Wajib mengijinkan pihak lain melalui Pemda atau Instansi Pemerintah lainnya untuk memanfaatkan tanah tersebut Tanah Terlantar

PENDAFTARAN TANAH
DASAR HUKUM
Pasal 19 UUPA PP No. 10/1961 yg sdh disempurnakan & diganti dg PP No. 24/1997

PENGERTIAN
PENDAFTARAN TANAH adalah rangkaian kegiatan yg dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidangbidang tanah yg sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yg membebaninya. DATA FISIK adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas bidang tanah dan satuan rumah susun yg didaftar, termasuk keterangan mengenai adanya bangunan atau bagian bangunan diatasnya.

DATA YURIDIS adalah keterangan mengenai status hukum bidang tanah dan satuan rumah susun yg didaftar, pemegang haknya dan hak pihak lain serta beban-beban lain yg membebaninya. AJUDIFIKASI adalah kegiatan yg dilaksanakan dalam rangka proses pendaftaran tanah untuk pertama kalinya, meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa objek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya. PENDAFTARAN TANAH SECARA SISTEMATIK adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yg dilakukan secara serentak yg meliputi semua objek pendaftaran tanah yg belun di daftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa / kelurahan. PENDAFTARAN TANAH SECARA SPORADIK adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa objek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa / kelurahan secara individual atau massal. BUKU TANAH adalah dokumen dalam bentuk daftar yg memuat data yuridis dan data fisik suatu objek pendaftaran tanah yg sudah ada haknya.

SERTIPIKAT adalah tanda bukti hak untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yg masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yg bersangkutan. SERTIPIKAT CACAT HUKU adalah sertipikat yg terdapat kekeliruan saat menerbitkannya. Sertipikat palsu Sertipikat aspal Sertipikat anda

KEGIATAN PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN TANAH


1. Pendaftaran tanah untuk pertama kali meliputi : Pengumpulan dan pengolahan data fisik Pembuktian hak dan pembukuan hak Penerbitan Sertipikat Penyajian data fisik dan data yuridis Penyimpanan daftar umum dan dokumen 2. Pemeliharaan data pendaftaran tanah meliputi pehdaftaran peralihan dan pembebanan hak, serta pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah lainnya.

ASAS PENDAFTARAN TANAH :


Sederhana, aman, terjangkau, mutakhir, terbuka

TUJUAN PENDAFTARAN TANAH :


Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah, pemilik sarusun dan pemegang hak tanggungan. Dan juga untuk menyediakan informasi kepada pihak yg berkepentingan dan pemerintah untuk memperoleh data tentang sebidang tanah, serta untuk terelenggaranya tertib administrasi pertanahan.

OBJEK PENDAFTARAN TANAH : HM, HGU, HGB, HP, HPL Tanah Wakaf HM atas Sarusun Hak Tanggungan Tanah Negara tanpa sertipikat

SISTEM PENDAFTARAN TANAH


PRINSIP UMUM :
Sertipikat yang sudah diterbitkan Kantor Pertanahan pada azasnya menurut hukum merupakan tanda bukti hak yg sah sepanjang belum dapat dibuktikan sebaliknya.

1. SISTEM POSITIF :
Sertipikat berlaku sebagai alat bukti yang mutlak Terdaftarnya seseorang dlm daftar umum karena memperoleh hak dg itikad baik tidak dapat diganggu gugat. Pemilik sebenarnya akan kehilangan hak dan hanya mendapat ganti rugi

2. SISTEM NEGATIF :
Sertipikat berlaku sebagai alat bukti yang kuat Terdaftarnya seseorang dlm daftar umum sbg pemegang hak tidak mengakibatkan orang yg sebenarnya berhak akan kehilangan haknya. Keterangan2 yg tercantum di dalamnya mempunyai kekuatan hukum dan harus diterima sbg keterangan yg benar, selama dan sepanjang tdk ada alat pembuktian lain yg membuktikan sebaliknya.

3. UUPA menganut Sistem Negatif yg bertendens Positif :


Artinya kelemahan sistem negatif dikurangi dg cara-cara sedemikian rupa sehingga kepastian hukum dapat dicapai

Lembaga Rechsverwerking

Psl. 32 ayat (2) PP No. 24/1997

2.

Hak atas tanah yg berasal dari konversi hak lama dibuktikan dg alat bukti tertulis, berupa :

Grosse akta hak eigendom

Tanda bukti hak yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Swapraja Tanda bukti hak yang diterbitkan berdasarkan PMA No. 9/1959 Akta pemindahan hak disertai kesaksian Kepala Desa/Lurah Akta Ikrar Wakaf/Surat Ikrar Wakaf Risalah Lelang Surat penunjukan pemberian kaveling dari pemerintah Petuk pajak, girik, kikitir dan Verponding Indonesia sebelum berlakunya UUPA Surat Riwayat Tanah yg dibuat oleh Kantor Pelayanan Pajak

3. Hak lama yg bukti tertulisnya tidak ada / tidak lengkap : Bukti tertulis Keterangan saksi Pernyataan tertulis dari ybs. Yg diakui Panitia Ajudikasi / Kantor Pertanahan Penguasaan fisik terus-menerus selama 20 tahun.

CARA PENDAFTARAN TANAH


1. 2. Secara Sistematik : atas prakarsa pemerintah Secara Sporadik : atas permintaan pemegang atau penerima hak secara individu atau massal

PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH


BADAN PERTANAHAN NASIONAL, dibantu oleh : Pejabat Pembuat Akta Tanah Panitia Ajudikasi (secara sistematik)

PEMBUKTIAN
1. Pendaftaran hak atas tanah baru dibuktikan dengan : Penetapan pemberian hak dari pejabat yg berwenang (tanah negara, tanah hak pengelolaan) Asli Akta PPAT (peralihan Hak) Akta Ikrar Wakaf (tanah wakaf) Akta Pemisahan Hak untuk Hak Milik atas Sarusun Akta Pemberian Hak Tanggungan

HASIL PENDAFTARAN TANAH


1. Sertipikat : HM, HGB, HGU, HP, HPL, Hak Milik Sarusun, Wakaf dan Hak Tanggungan Peta Pemilikan (Peta Kadastra) : sebidang tanah (Surat Ukur) banyak bidang (Peta Kadastra) Informasi Pertanahan : Daftar Umum Pemilik Letak tanah Lokasi Pajak Rencana Pembangunan Kota Nilai Tanah Proses Penguasaan Tanah

2.

3.

PENGADAAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN


Acara Pengadaan Tanah Tergantung Pada :
1. 2. 3. Status tanah yang diperlukan Status pihak yang memerlukan tanah Ada atau tidaknya kesediaan pemegang HAT

Status Tanah :
1. Tanah Negara 2. Tanah Hak termasuk Hak Ulayat

Acara Pengadaan Tanah :


1. Tanah Negara Permohonan Hak 2. Tanah Hak :

a. Ada Kesediaan
Jual Beli, Tukar Menukar
Jika hak yg ada boleh dipunyai pihak yg memerlukan tanah UUPA Psl. 19 PP 24/1997

Pelepasan / Penyerahan Hak


Jika hak yg ada tdk boleh dipuinyai pihak yg memerlukan UUPA Psl. 27, 34, 40 KEPPRES No. 55/1993 PERPRES 36/2005; 65/2006

b. Tidak Ada Kesediaan


UUPA Psl. 18 UU No. 20/1961 PP No. 39/1972 INPRES No. 9/1973 KEPPRES No. 55/1993 Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum PMA / Ka BPN No. 1/1994

RUANG LINGKUP KEPPRES NO. 55/1993 Hanya digunakan untuk pelaksanaan Pembangunan untuk kepentingan umum yang :
1. Dilakukan Pemerintah 2. Dimiliki Pemerintah 3. Tidak digunakan untuk mencari keuntungan
Psl. 5 angka 1 Psl. 5 angka 2 14 daftar kegiatan

Memberi peluang untuk kegiatan lain melalui Keppres

Pengadaan tanah oleh pemerintah selain ke 14 kegiatan tersebut dilaksanakan dengan cara :
1. Jual beli 2. Tukar menukar 3. Atau cara lain yg disepakati
Jika tidak dicapai kesepakatan, tidak boleh dipaksakan. Cari lokasi lain

PELAKSANAAN KEPPRES NO. 55/1993


1. KEPENTINGAN UMUM
Psl. 1 angka 3 Keppres 55/1993 Kepentingan seluruh lapisan masyarakat Psl. 18 UUPA Kepentingan Bangsa dan Negara Kepentingan bersama dari masyarakat UU No. 20/1961 Kepentingan Bangsa dan Negara Kepentingan bersama dari masyarakat Kepentingan pembangunan

2. MUSYAWARAH 3. GANTI KERUGIAN

tanpa ada paksaan dan tekanan

DASAR & CARA PERHITUNGAN GANTI KERUGIAN 1) 2) 3) 4) HARGA DIDASARKAN NILAI NYATA NJOP NILAI BANGUNAN DITAKSIR OLEH DINAS PU NILAI TANAMAN DITAKSIR OLEH DINAS PERTANIAN BENTUK & BESARNYA GANTI KERUGIAN DITETAPKAN DALAM MUSYAWARAH GANTI KERUGIAN DIBERIKAN UNTUK : 1. 2. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) HAT BANGUNAN 3. TANAMAN 4. BENDA LAIN

PROSEDUR PENGADAAN TANAH


PELEPASAN / PENYERAHAN HAT DENGAN BANTUAN PANITIA PENGADAAN TANAH UNTUK TINGKAT PERTAMA DENGAN MUSYAWARAH UPAYA MUSYAWARAH TDK TERCAPAI PPAT

TIDAK MENERIMA PUTUSAN KEBERATAN KPD. GUB. GUBERNUR MENGUPAYAKAN PENYELESAIAN UPAYA GUB. TDK DITERIMA PENCABUTAN HAT

MENGELUARKAN PUTUSAN MENGENAI BENTUK & BESARNYA GANTI KERUGIAN

PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM


( PERPRES NO. 36 TAHUN 2005 )

PENGERTIAN
PENGADAAN TANAH adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dg cara memberikan ganti rugi kpd yg melepaskan tanah atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda yg berkaitan dg tanah atau dg pencabutan hak atas tanah. KEPENTINGAN UMUM adalah kepentingan sebagian besar lapisan masyarakat MUSYAWARAH adalah kegiatan yg mengandung proses saling mendengar, saling memberi dan menerima pendapat, serta keinginan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan masalah lain yg berkaitan dg kegiatan pengadaan tanah atas dasar kesukarelaan dan kesetaraan antara pihak yg mempunyai tanah, bangunan dan tanaman, dan benda-benda lain yg berkaitan dg tanah dg pihak yg memerlukan tanah.

GANTI RUGI adalah penggantian terhadap kerugian baik bersifat fisik dan / non fisik sebagai akibat pengadaan tanah kepada yg mempunyai tanah, bangunan, tanaman dan / atau benda-benda yg mempunyai tanah yg dapat memberikan kelangsungan hidup yg lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah.

CARA PENGADAAN TANAH


1. PELEPASAN ATAU PENYERAHAN HAK ATAS TANAH 2. PENCABUTAN HAK ATAS TANAH ( UU No. 20 Tahun 1961 )

PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM YANG DILAKSANAKAN PEMERINTAH MELIPUTI :


1) 2) 3) 4) 5) JALAN UMUM, JALAN TOL, REL KA WADUK, BENDUNGAN, IRIGASI RSU DAN PUSKESMAS PELABUHAN, BANDAR UDARA, STAT. KA, TERMINAL PERIBADATAN 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) PENDIDIKAN, SEKOLAH PASAR UMUM FASILITAS PEMAKAMAN UMUM POS DAN TELEKOMUNIKASI FASILITAS KESEHATAN UMUM

SARANA OLAH RAGA STASIUN PENYIARAN RADIO, TELEVISI KANTOR PEMERINTAH, PEMDA, PERWAKILAN NEGARA ASING, PBB, dll FASILITAS TNI DAN KEPOLISIAN LP ATAU RUMAH TAHANAN 16) RUMAH SUSUN SEDERHANA 17) T P S 18) CAGAR ALAM DAN CAGAR BUDAYA 19) PERTAMANAN 20) PANTI SOSIAL 21) PEMBANGKIT, TRANSMISI, DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

PROSEDUR PENGADAAN TANAH


1) MUSYAWARAH
LOKASI TSB BENTUK DAN BESARNYA GANTI RUGI TIDAK SEPAKAT. ..CARI LOKASI LAIN TIDAK BISA PINDAH LOKASI. . 90 HARI PPT MENETAPKAN BENTUK & BESARNYA GANTI RUGI .. DITITIPKAN KE PN

2) PEMEGANG HAK ATAS TANAH TIDAK MENERIMA PUTUSAN PPT, MENGAJUKAN KEBERATAN KEPADA BUPATI/WALIKOTA ATAU GUBERNUR ATAU MENDAGRI SESUAI KEWENANGAN 3) BUPATI/WALIKOTA, GUBERNUR/MENDAGRI MENGELUARKAN PUTUSAN MENGENAI BENTUK DAN BESARNYA GANTI RUGI 4) UPAYA BUPATI / WALIKOTA, GUBERNUR, MENDAGRI TIDAK DITERIMA OLEH PEMEGANG HAK ATAS TANAH DAN LOKASI TIDAK DAPAT DIPINDAHKAN, MENGAJUKAN USUL PENCABUTAN HAK ATAS TANAH 5) PENCABUTAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN UU NO. 20 TAHUN 1961

PENCABUTAN HAK
Pasal 18 UUPA : Untuk kepentingan umum termasuk kepentingan Bangsa dan Negara serta kepentingan bersama rakyat HAT dpt dicabut dg memberikan ganti kerugian yg layak menurut cara yg diatur dg UU.

UU No. 20 Th 1961 Tentang Pencabutan HAT dan Benda-benda yg ada di atasnya.


PP No. 39 Th 1973 Tentang Pencabutan Ganti Kerugian oleh Pengadilan Tinggi sehubungan dg Pencabutan HAT dan bendabenda yg ada diatasnya. Inpress No. 9 Th 1973 Tentang Pelaksanaan Pencabutan HAT dan benda-benda yg ada diatasnya.
Kasus Kompleks Yen Pin Jakarta dg Keppres No. 2 Th 1970 tentang Pencabutan HAT dan Benda-benda yg ada diatasnya yg terletak di bagian Kec. Taman Sari, Jakarta.

Pencabutan HAT adalah pengambilan tanah kepunyaan salah satu pihak oleh negara secara paksa, yg mengakibatkan HAT itu menjadi hapus, tanpa yg bersangkutan melakukan salah satu pelanggaran atau lalai dlm memenuhi salah satu kewajiban hukum

LANDREFORM
PENGERTIAN : Secara Harafiah
Land Reform : Tanah : Perubahan, Perombakan

Landreform dlm arti luas = Agrarian Reform di Indonesia yg meliputi 5 program, yaitu :
1. Pembaharuan Hukum Agraria 2. Penghapusan hak-hak asing dan konsesi kolonial atas tanah 3. Mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur 4. Perombakan mengenai pemilikan dan penguasaan tanah serta hubungan hukum yg bersangkutan dg penguasaan tanah 5. Perencanaan persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan kekayaan alam yg terkandung di dalamnya secara berencana sesuai dg daya kesanggupan dan kemampuannya

Landreform dalam arti sempit = program no. 4

TUJUAN LANDREFORM
Tujuan Landreform yg diselenggarakan di Indonesia ialah untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup para petani penggarap tanah sbg landasan atau prasyarat untuk menyelenggarakan pembangunan ekonomi menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila

PROGRAM LANDREFORM
1. PEMBATASAN LUAS MAKSIMUM PENGUASAAN TANAH. Pasal 7 & Pasal 17 UUPA Pelaksanaan Pasal 17 UUPA UU No. 56 Prp. Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertania Di daerah-daerah kepadatan Penduduknya / km2 a. Sampai 50 b. 51 s/d 250 c. 251 s/d 400 d. 401 ke atas Digolongka n daerah Tidak padat Krng padat Ckp padat Sngt padat Sawah ha 15 10 7.5 5 Tnh Kering Ha 20 12 9 6

Pengertian Keluarga Kewajiban lapor Larangan pemindahan hak milik tanpa ijin

2. LARANGAN PEMILIKAN TANAH SECARA ABSENTEE ATAU GUNTAI Pasal 10 UUPA Absentee (guntai) : pemilikan tanah yg letaknya diluar tempat tinggal yg punya, kecuali yg sedang menjalankan tugas negara menunaikan kewajiban agama Pegawai Negeri Pejabat Militer

3. REDISTRIBUSI TANAH

PP No. 224 Th. 1961 jo PP No. 41 Th. 1964 Tanah yg akan direstribusikan (objek landreform) adalah :
Tanah selebihnya dari batas maksimum Tanah yg terkena larangan absentee Tanah-tanah Swapraja dan bekas Swapraja Tanah negara (bekas perkebunan besar, tanah bekas tanah partikelir)

Tanah yg dibagi-bagikan diberikan dg hak milik Uang pemasukan dari penerima Ganti kerugian kepada bekas pemilik
4. PENGATURAN KEMBALI GADAI TANAH PERTANIAN Pasal 7 UU No. 58 Prp. 1960 Gadai yg sudah berlangsung selama 7 tahun, pemilik tanah berhak meminta kembali tanahnya, tanpa kewajiban untuk membayar utang tebusan. Gadai yg belum berlangsung selama 7 tahun (7 + 0.5) waktu berlangsungnya gadai X uang gadai 7

5. PENGATURAN KEMBALI PERJANJIAN BAGI HASIL UU No. 2 Tahun 1960 Tujuan : untuk memperbaiki nasib para penggarap tanah milik orang lain

6. PENETAPAN LUAS MINIMUM PEMILIKAN TANAH Pasal 8 UU Prp. Tahun 1960, diperintahkan kpd pemerintah untuk mengadakan usaha2 agar setiap petani sekeluarga memiliki tanah pertanian minimum 2 ha.

7. LARANGAN PEMECAHAN PEMILIKAN TANAH

Pasal 9 UU No. 56 Prp. Tahun 1960, bertujuan untuk mencegah pemecahan pemilikan tanah pertanian menjadi bagian-bagian yg kurang dari 2 ha, karena tanah tdk akan ekonomis lagi dan tdk memberi kemungkinan hidup layak bagi petani ybs .

APARATUR LANDREFORM
a. Panitia Landreform dibentuk dg Keppres No. 131 Tahun 1961 dibubarkan dg Keppres No. 55 Tahun 1980 b. Yayasan Dana Landreform dibentuk berdasarkan PP No. 224 Tahun 1961 dibubarkan dg peratruran Ka BPN No. 1 Tahun 1992 c. Pengadilan Landreform dibentuk dg UU No. 21 Tahun 1964 dihapuskan dg UU No. 7 Tahun 1970

LANDREFORM DEWASA INI


Kebijakan mengenai Pencetakan sawah. Keppres No. 54 Th 1980 Konsolidasi penguasaan tanah dan objek landreform Peraturan Ka BPN No. 3 & 4 Tahun 1991

KONSOLIDASI TANAH
PEGERTIAN
1. Menurut Permenag/Ka BPN No. 4/1991 tentang Konsolidasi Tanah.
Konsolidasi tanah adalah kebijaksanaan pertanahan mengenai penataan kembali penguasaan dan penggunaan tanah, serta usaha pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan, untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumberdaya alam dg melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

2. Menurut Johara T. Jayadinata


Konsolidasi Tanah merupakan salah satu model pembangunan di bidang pertanahan yg mencakup wilayah perkotaan dan wilayah perdesaan (pertanian), yg bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan tanah dalam hubungannya dg pemanfaatan, peningkatan produktivitas dan konservasi bagi kelestarian lingkungan.

3.

Menurut UU No. 4/1992 ttg Perumahan dan Pemukiman


Konsolidasi Tanah Pemukiman yaitu upaya penataan kembali oleh masyarakat pemilik tanah melalui usaha bersama untuk membangun Lingkungan Siap Bangun dan menyediakan Kavling Tanah Matang sesuai dg Rencana Tata Ruang yg ditetapkan Pemda Tk. II.

SASARAN KONSOLIDASI TANAH

1.

Pada Wilayah Perkotaan


a. b. c. d. Wilayah pemukiman kumuh Wilayah pemukiman yg tumbuh pesat secara alami Wilayah pemukiman yg mulai tumbuh Wilayah yg relatif kosong di pinggiran kota yg diperkirakan akan berkembang sbg daerah pemukiman

2.

Pada Wilayah Pedesaan


a. Wilayah yg potensil dapat memperoleh pengairan tetapi belum tersedia jaringan irigasi b. Wilayah yg jaringan irigasinya telah tersedia ttp pemanfaatan nya belum merata c. Wilayah yg berpengairan cukup baik namun masih perlu ditun jang oleh pengadaan jaringan jalan yg memadai

TUJUAN
Untuk memanfaatkan tanah secara optimal, seimbang, lestari dg meningkatkan efisiensi penggunaan tanah di wilayah perkotaan dan meningkatkan produktivitas penggunaan tanah di wilayah perdesaan

MANFAAT

1.
2. 3.

Memperlancar pembangunan baik di perkotaan maupun di perdesaan sesuai dg Rencana Tata Ruang yg ada
Tumbuhnya wilayah permukiman yg memenuhi syarat ATLAS dan wilayah pertanian yg memenuhi syarat LOSS Timbulnya persil-persil tanah yg teratur dan siap bangun di wilayah permukiman dan petak-petak sawah yg teratur dan siap garap di wilayah perdesaan. Penghematan dana pemerintah Naiknya harga tanah setelah dikonsolidasi

4. 5.

PELAKSANAAN 1. 2. Lokasi ditetapkan oleh Bupati / Walikota Hanya dpt dilaksanakan jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah pemilik tanah menyetujui, dg catatan luas tanah yg setuju meliputi 85% dari luas keseluruhan

3.

Kegiatan dilaksanakan oleh Pertanahan Kabupaten / Kota

BPN

melalui

Kantor

KAWASAN SIAP BANGUN


Adalah sebidang tanah yg fisiknya telah dipersiapkan untuk pembangunan perumahan dan pemukiman skala besar yg terbagi dalam satu Lingkungan Siap Bangun atau lebih yg pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dg lebih dahulu dilengkapi dg jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan sesuai dg Rencana Tata Ruang Lingkungan yg ditetapkan oleh Pemda Tk. II dan memenuhi persyaratan pembakuan pelayanan prasarana dan sarana lingkungan

LINGKUNGAN SIAP BANGUN


Adalah sebidang tanah yg merupakan bagian dari Kawasan Siap Bangun ataupun berdiri sendiri yg telah dipersiapkan dan dilengkapi dg prasarana lingkungan dan selain itu juga sesuai dg persyaratan pembakuan tata lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan pelayanan lingkungan untuk membangun Kavling Tanah Matang

KAVLING TANAH MATANG


Adalah sebidang tanah yg telah dipersiapkan sesuai dg persyaratan pembakuan dalam pembangunan, penguasaan, pemilikan tanah, dan rencana tata ruang lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian untuk membangun bangunan

Anda mungkin juga menyukai