Anda di halaman 1dari 24

RUANG 8

Skenario III

Kasus
Lahir bayi laki-laki, BB lahir 1800 gram, panjang badan lahir 40cm. Apgar score 1-3-3-5-7. Tiga puluh menit setelah lahir, bayi tersebut mengalami kejang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kejang tipe fokal, HR 140X/Menit, RR 44X/menit, SB :36,8C , gerakan aktif menurun, tonus menurun. Kepala : PCH (-), Sianosis (-),Caput Succedaneum (-) Thorax : Retraksi (-), cor/pulmo dalam batas normal Abdomen : Datar lemas, tali pusat terawat Ekstremitas hangat, Sianosis (-)

Pertanyaan

Anamnesis
1. 2. 3. 4. Identitas Keluhan utama : kejang Keluhan penyerta : BBLR Riwayat kehamilan : > Bayi kecil > Bayi kurang bulan > Ibu tidak divaksin TT > Ibu menderita DM

Anamnesis
5. Riwayat persalinan > Persalinan dgn tindakan > Persalinan presipitatus > Gawat janin 6. Riwayat kelahiran > Trauma lahir > Lahir asfiksia > Pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril 7. Riwayat penyakit keluarga 8. Riwayat pemakaian obat

Pemeriksaan Fisik
Suhu : 36,8C
RR : 44XMenit HR : 140Xmenit

Kepala : PCH(-),Sianosis(-),Caput Succedaneum (-)

Thorax : Retraksi (-), Cor/pulmo dalam batas normal

Abdomen: Datar lemas, tali pusat terawat Ekstremitas : Hangat, Sianosis (-)

Pemeriksaan fisik (Tambahan)


Keadaan Umum Keaktifan Keadaan gizi Rupa Posisi Kulit

Pemeriksaan fisik (Tambahan)


Genitalia Sering terlihat pembesaran kelenjar mama disertai sekresi air susu baik pada neonatus wanita ataupun pria. Bila ada hipospadia atau epispadia , sebaiknya diperiksa juga kromatin seksnya. Refleks Refleks yang dapat dilihat ialah Moro, Refleks Isap, Refleks Rooting, Refleks Plantar, Refleks Grasp

Pemeriksaan Penunjang

DD & DK
DD: Sepsis neonatorum dan perdarahan intrakranial DK: HIE et causa Asfiksia

Manifestasi klinik
Bentuk Subtle (Hampir tak terlihat) 1. Pergerakan muka, mulut, lidah seperti menyeringai, terkejut, mengisap, mengunyah, menelan, menguap 2. Pergerakan bola mata seperti berkedip deviasi bola mata horizontal, gerakan cepat bola mata 3. Pergerakan anggota gerak berupa mengayuh, berenang. Pergerakan Abnormal 1. Klinik fokal, unilateral, fokal menjadi bilateral dan multifokal berpindah 2. Tonik satu ekstremitas, ekstensi lengan dan tungkai (deserebrasi) ekstensi tungkai, fleksi lengan (dekortikasi) 3. Mioklonik setempat, umum.

Etiologi
1. Oksigenasi yang tidak adekuat dari darah maternal yang disebabkan hipoventilasi selama pembiusan, CHD, Gagal nafas, keracunan CO2 2. Tekanan darah ibu yang rendah karena hipotensi akibat dari anastesi spinal atau tekanan uterus pada vena cava dan aorta 3. Relaksasi uterus kurang karena pemberian oksitosin berlebihan akan menyebabkan tetani. 4. Plasenta terlepas dini 5. Penekanan pada tali pusat atau lilitan tali pusat 6. Vasokontriksi pembuluh darah uterus karena kokain 7. Insufisiensi plasenta karena toksemia dan post date.

Patofisiologi

Penatalaksanaan
Pertama-tama lihat kelainan biokim yang dapat sebabkan kejang 1. Oksigenasi : - Inkubasi trakea - Pengisapan trakea - Re?sivitasi vaskuler - Pijat jantung 2. Terapi anti kejang Lini Pertama : Fenobarbital, ins?asi 20mg/kg Lini Kedua : Lini pertama + Fenitoin 15-20mg/kg IV diikuti 5-10mg/hari Lini ketiga : Lini kedua + Diazepam IV

Komplikasi
Terjadi gangguan Motorik yang parah Disfungsi berbagai organ tubuh seperti gagal ginjal, payah jantung kematian

Prognosis
Prognosis : Prognosis tergantung pada adanya komplikasi baik metabolik dan kardiopulmoner yang dapat diterapi, usia kehamilan dan beratnya derajat HIE. Apgar score rendah pada 20 menit pertama, tidak adanya pernafasan spontan pada 20 menit pertama dan adanya tanda kelainan neurologi yang menetap pada usia 2 minggu dapat digunakan sebagai faktor untuk memprediksi kemungkinan kematian atau defisit neurologi baik kognitif maupun motorik yang berat. Mati otak yang terjadi setelah diagnosis HIE ditegakkan berdasarkan penurunan kesadaran berat (koma), apnea dengan PCO2 yang meningkat dari 40 hingga >60 mmhg dan hilangnya refleks batang otak (pupil, okulocephalic, oculovestibular, kornea, muntah dan menghisap). Gejala klinis tersebut ditunjang dengan hasil EEG

EPIDEMIOLOGI HIE?
Hypoxic ischaemic encephalopathy (HIE) merupakan penyebab penting

kerusakan permanen sel-sel pada Susunan Saraf Pusat (SSP), yang berdampak
pada kematian atau kecacatan berupa palsi cerebral atau defisiensi mental. Angka kejadian HIE berkisar 0,3-1,8%. Australia (1995), angka kematian antepartum berkisar 3,5/1000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian intrapartum berkisar 1/1000 kelahiran hidup, dan angka kejadian kematian masa neonatal berkisar 3,2/1000 kelahiran hidup. Apgar Score 1-3 pada menit pertama terjadi pada 2,8% bayi lahir hidup dan AS 5 pada menit ke 5 pada 0,3% bayi lahir hidup. Lima belas hingga 20% bayi dengan HIE meninggal pada masa neonatal, 25-30% yang bertahan hidup mempunyai kelainan

neurodevelopmental permanent.

Pencegahan & Edukasi


Tujuan utamanya, yaitu mengidentifikasikan dan mencegah fetus & neonatus yang mempunyai resiko afiksia sejak dalam kandungan hingga persalinannya. Pencegahan komprehensif dimulai dari masa kehamilan, persalinan dan beberapa saat setelah persalinan. Pencegahan berupa: - Melakukan pemeriksaan antenatal rutin minimal 4 kali kunjungan. - Melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap pada kehamilan yang diduga beresiko bayinya lahir dengan afiksia neonatorum

- Memberikan terapi kortikosteroid antenatal untuk persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. - Melakukan pemantauan yang baik terhadap kesejahteraan janin dan deteksi dini terhadap tanda-tanda afiksia fetal selama persalinan dengan kardiotokografi. - Meningkatkan keterampilan tenaga obstetri dalam penanganan afiksia neonatorum di masing-masing tingkat pelayanan kesehatan. - Meningkatkan kerjasama tenaga obstetri dalam pemantauan dan penanganan persalinan

- Melakukan Perawatan Neonatal Esensial yag terdiri dari:


Persalinan yang bersih dan aman Stabilisasi suhu Inisiasi pernapasan spontan Inisiasi menyusu dini Pencegahan infeksi dan pemberian imunisasi

TERIMA KASIH