Anda di halaman 1dari 18

Proctitis

ERL

Proctitis adalah inflamasi pada anus dan rektum. Gejala bisa sangat berubah-ubah. Proctitis bisa mengenai 6 inchi trakhir dari rektum dan dapat menyebabkan: Nyeri saat pergerakan usus Sakit di sekitar anus dan rektum Merasa tdk puas saat BAB Spasme involunter dan kejang (usus) selama pergerakan usus Perdarahan, dan bisa keluar Akut atau bisa mjd kronik

Penyebab
Proctitis mempunyai bayak penyebab, tapi STD yg paling banyak mjd penyebabnya. Gonorrhea, syphilis, herpes, papyloma yg palng banyak yg disebabkan oleh STD. Proctits plng banyak dialami oleh homoseksual pd laki2 dan dan pd oral-anal atau anal intercourse dengan banyk partner. Penyebab lainnya : Nonsexually transmitted infections Autoimmune diseases of the colon such as Crohn disease and ulcerative colitis Harmful physical agents Chemicals Foreign objects placed in the rectum Trauma to your anorectal area Radiation (a side effect from treatment for another illness) Antibiotics (a side effect from treatment for another illness)

Gejala
Penderita dengan proctitis biasanya datang dengan gejala dan/atau tanda berikut ini:

1. Perdarahan rektum yang cenderung berwarna merah terang dan menetap/terus-menerus (persistent) namun jarang berat. Perdarahannya dapat bertahan untuk beberapa minggu atau lebih lama lagi. 2. Perubahan kebiasaan buang air besar, biasanya dengan penurunan volume dan peningkatan lendir (mucoid contents). Penderita mengeluh diare ringan disertai banyak lender (mucus). Diare ringan merupakan keluhan yang paling banyak dialami. 3. Penderita dapat melaporkan adanya tenesmus atau fecal urgency. 4. Diare berat umumnya tidak biasa terjadi. 5. Konstipasi dapat terjadi jika terjadi peradangan (inflammation) yang hebat/berat. 6. Penderita dapat juga mengeluh kejang/kram perut (abdominal cramping). Ini disebabkan oleh peradangan pelvis.

Pemeriksaan
Diagnosis dari proctitis berdasarkan penyebab yg dicurigakan. Anamnesa berdasarkan riwayat seksual dan kebiasaan. Bayak kasus curiga proctitis memerlukan prosedur proctosigmoidoscopy. Tabung cahaya dgn kamera yg melewati anus untuk melihat lapisan rektum. Gambaran akan ditampilkan di layar TV dan dgn perbesaran utk mengidentifikasi adanya kelainan. Sebagai tambahan, dokter juga melakukan biopsy pd rektum utk melihat adanya penyakit atau infeksi. Pemeriksaan lab pd discharge utk mengidentifikasi oraganisme yg dihantarkan melalui seksual. Dokter jg seringkali melakukan tes darah utk mendukung diagnosis.

Pemeriksaan lain Proctoscopy Sigmoidoscopy Rectal culture Examination of stool sample

Medikasi
Terapi Proctitis tergantung dari penyebab penyakit. Karena pd umumnya disebabkan akibat STD, berikan antimikroba. Lakukan sex secara aman, seperti menggunakan kondom, jika mempunyai faktor risiko kebiasaan sex yg tinggi. Jika terdpt penyebab lain, seperti ulcerative colitis or Crohn disease, lanjutkan terapi. Terapi mencakup medikasi yg menekan sistem immune, seperti steroid. Steroid diberikan dengan suppositori pada rektum. Terapi lain utk mengontrol gejala juga diperlukan seperti diare.

Terapi medis (medical therapy) merupakan the first-line management. Pembedahan dilakukan dengan indikasi: kegagalan terapi medis, displasi apapun yang tampak pada specimens biopsi, dan kanker. Terapi medis amat ditentukan oleh penyebabnya. Jika tidak diketahui (idiopathic) atau berhubungan dengan inflammatory bowel disease (IBD), dapat digunakan steroids, sulfasalazine, 5-aminosalicylic acid (5ASA) dan bahkan medikasi immunosuppressive. Banyak produk ini yang tersedia dalam bentuk enemas dan suppositories. Jika penyebabnya infeksi, terapinya ditujukan pada organisme pathogen yang bertanggung jawab. Infectious proctitis karena spesies Salmonella biasanya dapat sembuh sendiri (self-limited), sehingga tidak diperlukan antibiotik. Shigella proctitis biasanya juga sembuh sendiri, namun lamanya (durasinya) dapat diperpendek dengan penambahan antibiotik.

Antibiotik untuk 1 minggu meliputi: ampicillin, tetracycline, ciprofloxacin, dan trimethoprim-sulfa (lebih disukai). Yersinia proctitis juga sembuh sendiri dan tidak perlu diberi antibiotik. Bila disertai systemic septicemia, barulah diberi antibiotik (trimethoprim-sulfa, aminoglycosides, tetracycline, atau generasi ketiga cephalosporin) Campylobacter proctitis juga sembuh sendiri. E. histolytica umumnya dirawat dengan pemberian metronidazole dan iodoquinol. C. difficile umumnya dirawat dengan pemberian metronidazole oral atau intravena, atau dapat juga diberikan vancomycin oral. Terapi radiation proctitis adalah dengan steroid atau 5-ASA enemas. Sucralfate enemas dilaporkan juga dapat membantu jika diresepkan 2 x sehari selama 3 bulan. Pada kasus proctitis apapun, antispasmodic agents dapat meringankan/meredakan keluhan-keluhan perut.

Pembedahan
Jika penyakit timbul dari penyakit kronis, pembedahan mungkin diperlukan. Atau rujuk ke dr spesialis.

Follow-up
Follow-up merupakan bag dr terapi proctitis. Pemberian antibiotik hrs diselesaikan. Tdk melakukan hub seksual slm terapi. Mengunjungi dokter stlh 1-2 mggu bahwa peradangan telah membaik atau jika hrs melanjutkan terapi.

Prognosis
Kemungkinan baik dengan dilakukannya terapi

Komplikasi
Severe bleeding Anemia Recto-vaginal fistula (women) Anal fistula

Terima Kasih..

http://www.emedicinehealth.com/proctitis/ar ticle_em.htm http://www.umm.edu/ency/article/001139.ht m