Anda di halaman 1dari 50

Berdasarkan waktunya, ada 3 golongan rhinitis alergi : Seasonal allergic rhinitis (SAR) terjadi pada waktu yang sama

ma setiap tahunnya musim bunga, banyak serbuk sari beterbangan Perrenial allergic rhinitis (PAR) terjadi setiap saat dalam setahun penyebab utama: debu, animal dander, jamur, kecoa Occupational allergic rhinitis terkait dengan pekerjaan

Idham Muhammad Stephanie Nathania Irvan Gideon Lingkan

Disusun oleh: 0610067 0510113 0510127 0510169

Pembimbing: dr. Fari Anada, sp.THT-KL

Berdasarkan lamanya terjadi gejala - Intermiten :


< 4 hari seminggu, atau < 4 minggu setiap saat kambuh

- Persisten
lebih dari 4 hari seminggu, atau lebih dari 4 minggu setiap

saat kambuh Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup - ringan :


tidak mengganggu tidur, aktivitas harian, olahraga, sekolah, atau pekerjaan, tidak ada gejala yang mengganggu

- sedang sampai berat terjadi satu atau lebih kejadian di bawah ini:
1.gangguan tidur, 2.gangguan aktivitas harian, kesenangan atau olahraga, 3.gangguan pada sekolah atau pekerjaan, atau 4.gejala yang mengganggu

Asma

- kesamaan:
- perbedaan:

struktur mukosa sel inflamasi - gejala klinis vaskularisasi (nasal obstruction vs. Bronkospasme) - asma remodelling

Conjunctivitis
Sinusitis Polip

Hidung Otitis media


disfungsi fungsi tuba, infeksi, reaksi inflamasi alergi)

Anamnesis

Untuk mengetahui simptom, dibagi menjadi 2 divisi: sneezer-runner (meler) atau blocker (tersumbat). Tanyakan pula mengenai frekuensi, beratnya penyakit, durasi, persisten atau intermiten, dan waktu terjadinya gejala

Pemeriksaan

hidung: Struktur anatomi hidung, warna dari mukosa, jumlah dan kualitas mukus. Rinoskopi anterior Rinoskopi posterior Nasal endoskopi

Diagnosis

alergi bisa didapat dari pemeriksaan in vivo (allergic skin test) dan in vitro (antigen-spesifik antibodi IgE) Skin test yang sekarang digunakan adalah -prick and puncture test (SPT) direkomendasikan -intradermal skin test

Untuk

menilai obstruksi nasal - rinomanometri - akustik rinometri - rinostereometri - nasal peak flow, peak inspiratory nasal flow (NPIF) dan peak expiratory flow (NPEF)

direkomendasikan kepada pasien rhinitis dengan pengobatan jangka panjang, karena lebih sensitive terhadap perubahan mukosa.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan Foto rontgen polos bukan indikasi CT-scan, bila ada indikasi - Menghilangkan adanya kelainan lain - Mengeliminasi sinusitis kronis - Mengeliminasi adanya komplikasi - Pada pasien yang tidak responsive terhadap pengobatan - Pada pasien dengan rhinitis unilateral MRI jarang dilakukan

Fungsi

mukosiliar Tes mucociliary clearance memiliki peran kecil dalam mendiagnosis rhinitis alergi, namun berguna dalam mencari dd/ rinorea kronis pada anak. penciuman Pada rhinitis alergi penciuman sering terganggu, namun pemeriksaan ini tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini

Tes

Anamnesis

Untuk mengetahui simptom, dibagi menjadi 2 divisi: sneezer-runner (meler) atau blocker (tersumbat). Tanyakan pula mengenai frekuensi, beratnya penyakit, durasi, persisten atau intermiten, dan waktu terjadinya gejala

Pemeriksaan

hidung: Struktur anatomi hidung, warna dari mukosa, jumlah dan kualitas mukus. Rinoskopi anterior Rinoskopi posterior Nasal endoskopi

Diagnosis

alergi bisa didapat dari pemeriksaan in vivo (allergic skin test) dan in vitro (antigen-spesifik antibodi IgE) Skin test yang sekarang digunakan adalah -prick and puncture test (SPT) direkomendasikan -intradermal skin test

Untuk

menilai obstruksi nasal - rinomanometri - akustik rinometri - rinostereometri - nasal peak flow, peak inspiratory nasal flow (NPIF) dan peak expiratory flow (NPEF)

direkomendasikan kepada pasien rhinitis dengan pengobatan jangka panjang, karena lebih sensitive terhadap perubahan mukosa.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan Foto rontgen polos bukan indikasi CT-scan, bila ada indikasi - Menghilangkan adanya kelainan lain - Mengeliminasi sinusitis kronis - Mengeliminasi adanya komplikasi - Pada pasien yang tidak responsive terhadap pengobatan - Pada pasien dengan rhinitis unilateral MRI jarang dilakukan

Fungsi

mukosiliar Tes mucociliary clearance memiliki peran kecil dalam mendiagnosis rhinitis alergi, namun berguna dalam mencari dd/ rinorea kronis pada anak. penciuman Pada rhinitis alergi penciuman sering terganggu, namun pemeriksaan ini tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini

Tes

Alergi

secara klasik disebabkan karena IgE yang dikaitkan dengan inflamasi nasal dengan intensitas yang variable Mekanisme reaksi alergi disebabkan oleh banyak faktor, Contoh :histamine, chemokine, neuropeptidase ,dan molekul adhesi

Karakteristik rhinitis alegika ialah adanya infiltrat inflamasi yang dibuat oleh beberapa sel,contohnya: Kemotaxis,merupakan migrasi sel transendhotelial Lokalisasi dari sel dengan kompartemen yang berbeda dari mukosa hidung Aktivasi dan diferensiasi dari berbagai tipe sel Regulasi lokal dan sistemik IgE sintesis Komunikasi antara sistem imun dan sumsum tulang

Syaraf mukosa hidung terdiri dari : cholinergik dan non adrenergik, sistem non cholinergik (NANC). Sensoris c fiber dari ganglion trigeminus mengandung subtansi P(SP), neurokinin A dan K (NK) dan kalsitonin gene related peptide (CGRP)

Bioaktifitas neurotransmiter: Stimulasi parasimpatis menyebabkan sekresi glandula yang diblok atropine dan menyebabkan vasodilatasi. Stimulasi syaraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan menurunkan tahanan aliran udara. Substansi P dan gastrin releasing peptide dapat menginduksi sekresi glandula namun mebutuhkan dosis yang besar untuk mendapatkan respon yang positif. Peningkatan eosinofil juga membutuhkan dosis subtansi P yang tinggi Intranasal NPY menyebabkan penurunan aliran darah mukosa hidung dan sebagai long acting vasoconstrictor. Efek kolinergik menyebabkan reflex parasimpatis namun vasoaktif intestinal peptidase (VIP) meregulasi pelepasan asetilkolin, penambahan sekresi glandula dapat menyebabkan efek vasodilatasi

1 st 1980, cd 34+, IgE

Berasal
IL-13

dari CD34+
IL-13
IL-4

basofil

LPR(late

phase reaction) Early phase reaction(EPR)

Paul Ehrlich tahun 1879 CD34+ Eosinofil yang matang dapat diketahui dengan adanya nucleus bilobed dan spesifik granul dengan electron inti padat dan crystalloid. Terdiri dari : major basic protein (MBP) eosinophil cationic protein (ECP) eosinophil-derived neurotoxin (EDN) eosinophil peroxidase -glucuronidase.

Eosinofil mensintesis dan melepaskan : Sitokin misalnya: IL-3,IL-5, GM-CSF dan proinflamatory sitokin Chemokines(RANTES, IL-8, MIP-1) dan TGF1 Mediator lipid ( CysLT, PGE1, TXB2, dan PAF) reactive oxygen intermediates enzim-enzim seperti Charcot-Leyden crystal proteins dan histaminase meningkatkan permeabilitas dari pembuluh darah dan sekresi mukus

maturasi

di dalam sumsum tulang. jaringan limfoid (lien, tonsil, dan nodus limfatikus) folikel limfoid untuk berproliferasi pusat germinal

SEL B

IgM ,IgG,IgE,IgA, IgD (plasma) Sel MemoryB

F: sebagai pemapar antigen yangsangat penting pada aktivasi imun respon Makrofag mencapai 90% pada alveolus ,hanya 1-2 % pada epitel hidung namun jumlahnya meningkat setelah adanya rangsang yang tidak spesifik sedangkan dendritik sel kebalikannya APC spesifik pada persentasi antigen pada sel T MHC,sinyal costimulatory seperti CD28 dan B7 atau CD40 eosinofil

sel epitel hanya diketahui fungsinya sebagai barier Dimana sel epitel pada pasien yang alergi didapat: Peningkatan fungsi ICAM-1 dan VCAM-1 Peningktan produksi dan fungsi dari IL-6,IL-8, GMCSF, dan TNF- yang berguna untuk meningkatkan inflamasi pada alergi. Sel Epitel pada asthma atopi dan rhinitis alergika melepas eosinophil chemoattractants seperti RANTES , eotaxin, metalloprotease Sel epitel juga penting untuk faktor ketahanan sel seperti SFC mast sel dan GM-CSF untuk eosinofil

Histamin

diaktifkan setelah Ig-E mengaktivasi mast sel dan basofil FcRI Efek: bersin,pilek, gatal, obstuksi nasi exudasi dan vasodilatasi sekresi glandula

peranan

eicosanoid yang berasal dari 5-LO pathway : CysLTs menginduksi permeabilitas vaskuler dan oedema pada hidung,bronkus dan bronkeolus, dimana dapat menyebabkan obstruksi dan kontraksi dari otot polos, vasodilatasi dan produksi mucus. CysLTs juga berperan dalam pengumpulan leukosit CysLTs mungkin merupakan mediator Rhinitis alergi LTb4 menginduksi pengumpulan eosinofil

Fungsi

sitokin ialah: Pleitropik ( sitokin mempunyai lebih dari satu fungsi) Rebundant( sitokin yang berlainan strukur dapat overlapping dengan fungsi yang lain) Antagonistik Sinergistik

Sitokin

yang diklasifikasikan sebagai Th2 sitokin ialah IL-3,4,dan 5.GM-CSF dilepaskan oleh Th1 dan Th2. IFN- dan IL-12 dilepaskan Th1-berhubungan dengan sitokin. IL-4 dan IL13 penting dalam regulasi IgE seangkan IL-3,5 dan GM-CSF penting dalam progenitor eosinofil dan pengaktifan eosinofil juga dalam maturasi dan masa hidup sel granulosit. Penggunaan glukokortikoid topical dapat menyebabkan IL-5 mRNA dan infiltrasi eosinofil terinhibisi.Pada pasien dengan rhinitis alergika didapat peningkatan Th2 yang berhubungan dengan sitokin

Th2

sitokin IL3,IL5,IL4 Th1 dan TH2 GM CSF Th1 IFN- dan IL-12 Terdapat peningkatan Th2 pada pasien dengan rhinitis alergika

Fase cepat Pelepasan mediator vasoaktif : Histamine,PGD2,CysLTs,tryptase Exudasi plasma, kongesti dan hipersekresi Aktivasi dari sel epitel Neuropeptidase(bersin dan sekresi glandula) Pelepasan faktor kemotaksis

fase lambat: aktivasi sel dan pelepasan mediator pro inflamasi(Neutrofil. Sel ini meninggi pada 3 sampai 8 jam alergi test,Eosinofil,basofil,Macrofag,CysLT,Kinins,PGD2) sitokin,chemokin, dan reaksi fase lambat(. IL-16 memegang peranan pada cd4 dan fase lambat) Molekul adhesi

Pemanasan

mukosa nasi Pemberian histamine atau methakolin pada hidung Udara dingin pada pasien non alergi, rhinitis non infeksius Acrolein Capsaicin Bau yang kuat

Hipereaktivitas

pada hidung juga dapat timbul pada stimulasi non nasal, seperti: Perubahan suhu tubuh Makan makanan yang panas Olahraga

Hipotesa:
Kerusakan

pada barier epitel Peningkatan sensitive irritant reseptor pada mukosa Perubahan sensitivitas reseptor pada sel target atau metabolisme pada inflamasi sel

Hindari Faktor Alergen


Debu halus Rumah Hewan Peliharaan (anjing dan kucing) Lipas Alergen dari luar Dinding dalam rumah Pekerjaan Alergen makanan

Medikasi

Antihistamin H1 Glokokortikoid Chromos Decongestan

ARIA 2007
Intervensi
Dewasa

SAR
Anakanak A A dewasa

PAR
Anakanak A A

PER

Oral H1 Antihistamine Intranasal H1 Antihistamine Intranasal CS Intranasal Cromone LTRAs

A A

A A

A A**

A A

A A (>12 th) A

A A

A A

A**

A**

Subcutaneous SIT Sublingual/Nasa l SIT Menghindari faktor alergen

A
A D

A
A D

A
A A*

A
B B*

A**
A**

SAR - Seasonal Allergic Rhinitis PAR - Parennial Allergic Rhinitis PER Persistant Allergic Rhinitis

* Tidak efektif pada populasi yang padat ** Hasil studi dari SAR/PAR