Anda di halaman 1dari 41

BUDAYA NUSANTARA KEBUDAYAAN AMBON (MALUKU)

BAB 1 IDENTIFIKASI

IDENTIFIKASI
Pulau Ambon merupakan pulau yang terletak di Kepulauan Maluku, di selatan Pulau Seram. Saat ini, kota Ambon menjadi ibukota dari Provinsi Maluku. Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 632 pulau besar dan kecil. Maluku dapat dibagi menjadi Maluku Utara yang meliputi pulau-pulau Morotai, Halmahera, Bacan, Obi, Ternate dan Tidore dan Maluku Selatan yang meliputi Seram, Buru, Ambon, Banda, kepulauan Sulu, Kei, Aru, Tanimbar, dan Barbar.

IDENTIFIKASI

Suku bangsa Maluku merupakan punduduk asli Pulau Ambon, selain suku Buton dari Sulawesi Tenggara dan suku Bugis dari Sulawesi Selatan yang datang untuk bercocok dan berdagang. Suku Ambon masih berkerabat dengan suku bangsa yang mendiami lautan Pasifik lainnya seperti Tonga, Fiji, Hawaii dan lain-lain.

Orang-orang suku Ambon umumnya memiliki kulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat. Profil tubuh mereka lebih atletis dibandingkan dengan suku lain di Indonesia dikarenakan aktifitas utama mereka merupakan aktifitas laut seperti berlayar dan bernenang.

MARGA AMBON
Marga Ambon diambil dari nama keluarga yang digunakan oleh ayah. Nama anak dari sebuah keluarga akan ditambahkan nama keluarga sang ayah di belakangnya. Dari nama-nama marga Ambon ini, dapat dilihat pengaruh Portugis , Belanda, Jazirah Arab , Spanyol dan Bahasabahasa asli Maluku khususnya, yang menunjukkan besarnya pengaruh bangsa-bangsa itu di wilayah ini. Contohnya antara lain Alkatiri, Barnabas, Frainuny,dan masih banyak lagi.

BAHASA
Bahasa yang digunakan di provinsi Maluku adalah Bahasa Melayu Ambon, yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Bahasa yang digunakan di pulau Seram, pulau ibu (Nusa Ina/Pulau asal-muasal) dari semua suku-suku di Provinsi Maluku dan Maluku Utara adalah sebagai berikut: bahasa Wamale (di Seram Barat) bahasa Alune (di Seram Barat) bahasa Nuaulu (dipergunakan oleh suku Nuaulu di Seram selatan; antara teluk El-Paputih dan teluk Telutih) bahasa Koa (di pegunungan Manusela dan Kabauhari) bahasa Seti (di pergunakan oleh suku Seti, di Seram Utara dan Telutih Timur) bahasa Gorom (bangsa yang turun dari Seti dan berdiam di Seram Timur)

SEJARAH ISLAM DI AMBON


Agama Islam masuk ke wilayah Ambon pada abad ke-7. Agama Islam masuk lebih dahulu dibandingkan dengan Protestan dan Khatolik yang baru masuk pada abad ke-15 dan 16. Nama Maluku sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab, yakni al-muluk yang artinya banyak. Hal itu dikarenakan yang membuat peta daerah Maluku adalah para sarjana geografi Arab. Tetapi setelah Belanda masuk, kata al-muluk tersebut diubah menjadi Maluku. Di Maluku, sebelum kedatangan bangsa Eropa, Islam berkembang pesat, kerajaan Islam berdiri tegar, seperti Ternate dan Tidore.

SEJARAH BANGSA ASING DI AMBON


Bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Maluku adalah Portugis (1511). Selain mengeruk kekayaan alamnya, mereka juga memperkenalkan agama Kristen Katolik. Pada tahun 1605, Belanda yang menganut Kristen Protestan merebut benteng Portugis dan mengusir bangsa Portugis. Penduduk Ambon yang mau memeluk Kristen mendapat perlakuan istimewa dari Kolonial Belanda. Mereka lebih berkesempatan dalam pendidikan dan lowongan kerja sebagai tentara dan pegawai Belanda.

MATA PENCAHARIAN
Mata pencaharian orang Ambon pada umumnya adalah pertanian di ladang. Mereka membuka sebidang tanah di hutan, dengan menebang pohonpohon dan dengan membakar dahan-dahan dan batang yang telah kering. Di samping pertanian, kadang-kadang orang Ambon juga memburu rusa, babi hutan dan burung kasuari. Hampir semua penduduk pantai menangkap ikan. Perahu-perahu mereka dibuat dari satu batang kayu dan dilengkapi dengan cadik. Perahu ini dinamakan perahu Semah. Perahu-perahu besar untuk berdagang di ambon dinamakan jungku atau orambi.

BAB 2 SISTEM KEMASYARAKATAN

Sistem Kemasyarakatan: Desa


Biasanya sekelompok rumah yang didirikan sepanjang suatu jalan utama (berdekatan).

Pusat desa ditandai dengan bangunan penting yang letaknya berdekatan (mis. baileu/balai desa dan balai adat, rumah kediaman raja (kepala desa), gereja, mesjid, rumah pendeta, toko-toko dan warung-warung)

Sistem Kemasyarakatan: Organisasi Desa


Kepala desa (raja), dulu turun temurun, sekarang secara resmi harus dipilih rakyat.

Kepala adat yang dianggap menguasai suatu bagian desa (aman).


Kepala bagian desa (kepala soa). Pejabat lainnya: tuan tanah, panglima perang (kapitan), polisi kehutanan (kewang) dan penyiar berita di desa (marinyo).

Tergabung dalam badan saniri negeri.

Merupakan organisasi untuk menghimpun kekuatan politik; dulu organisasi kemiliteran. Pata = bagian, siwa = sembilan, lima = lima. Patasiwa merupakan kelompok orang-orang Alifuru yang bertempat tinggal di sebelah barat sungai Mala sampai ke Teluk Upa-putih, di sebelah selatan Patalima adalah orang-orang yang tinggal di sebelah Timur dari batas-batas tadi

Sistem Kemasyarakatan: Patasiwa dan Patalima

Sistem Kemasyarakatan: Jojaro dan Ngungare


Jojaro dan Ngungare merupakan organisasi masyarakat yang terdiri dari pemuda-pemudi yang sudah dewasa tapi belum kawin.

Sistem Kemasyarakatan: Ikatan Pela


Berasal dari kata "Pila, berarti "buatlah sesuatu untuk bersama".

Merupakan suatu ikatan persaudaraan atau kekeluargaan antara dua desa atau lebih dengan tujuan saling membantu atau menolong satu dengan yang lain dan saling merasakan senasib penderitaan.

Sistem Kemasyarakatan: Ikatan Pela


Pela Keras atau Pela Minum Darah - melalui sumpah pemimpin leluhur kedua pihak dengan meminum darah dicampur minuman keras. Pela lunak atau pela tampa sirih - dengan memakan sirih pinang. Pela ade kaka.

Sistem Kemasyarakatan: Muhabet


Merupakan suatu organisasi masyarakat yang mengurusi segala keperluan yang berhubungan dengan kematian.

BAB 3 SISTEM KEKERABATAN

SISTEM KEKERABATAN
berdasarkan hubungan patrilineal, yang diiringi dengan pola menetap patrilokal Satuan kekerabatan terdiri dari:
Keluarga batih (inti) Matarumah atau fam (kesatuan dari laki-laki dan perempuan yang belum kawin dan para istri dari laki-laki yang telah kawin)

PERKAWINAN
Perkawinan disini bersifat exogami, yaitu seseorang harus kawin dengan seseorang di luar klannya. Mereka mengenal tiga macam cara perkawinan yaitu kawin lari, kawin minta, dan kawin masuk.

KAWIN LARI
adalah sistem perkawinan yang paling lazim disebabkan orang Ambon umumnya lebih suka menempuh jalan pendek, untuk menghindari prosedur perundingan dan upacara. Kawin lari sebenarnya dianggap kurang baik dan kurang diinginkan oleh pihak kaum kerabat wanita. Sebaliknya, dari pihak kaum kerabat pemuda kawin lari itu lebih disukai, karena
pemuda itu hendak menghindari kekecewaan bila ditolak menghindari malu dari keluarga pemuda karena rencana perkawinan anaknya ditolak oleh keluarga wanita

KAWIN MINTA
Terjadi apabila seorang pemuda telah menemukan seorang gadis yang akan dijadikan istri, maka ia akan memberitahukan hal itu kepada orang tuanya. Kemudian mereka mengumpulkan seluruh anggota famili untuk membicarakan hal itu dan membuat rencana perkawinan. Disini diperbincangkan pula pengumpulan kekayaan untuk membayar mas kawin, perayaan perkawinan, dan sebagainya. Kalau semua sudah setuju, dikirimkan surat atau delegasi ke orang tua si gadis untuk minta waktu kunjungan melamar. Orang tua gadis mengirim kabar kembali dengan waktu dan harinya. Apabila orang tua si gadis tidak setuju, maka pendekatan ini dibatalkan. Namun hal ini jarang terjadi, karena biasanya keluarga pria telah memperhitungkan jawabannya. Tentu saja si pemuda dan si gadis sudah ada kepastian bahwa orang tua si gadis itu akan menerimanya.

KAWIN MASUK (MANUA)


Pada perkawinan ini penganten laki-laki tinggal dengan keluarga wanita. Ada tiga sebab utama terjadinya perkawinan ini.
kaum kerabat si pemuda tidak dapat membayar mas kawin secara adat keluarga si gadis hanya beranak tunggal, dan tak punya anak laki-laki, sehingga si gadis harus memasukkan suaminya dalam klan ayahnya dan menjamin kelangsungan klan. ayah dari si pemuda tidak sudi menerima menantu perempuannya, disebabkan oleh perbedaan status atau alasan lainnya.

Orang-orang yang beragama Islam, pada umumnya kawin sesuai dengan hukum Islam. Apabila seseorang suami belum membayar mahar, penganten lakilaki itu harus membayar harta adat. Harta ini dibayarkan berupa sisir mas, gong, dan madalonan. Secara umum poligami diizinkan, kecuali mereka yang beragama Nasrani

BAB 4 PRODUK BUDAYA

Produk Budaya
Produk Budaya dalam pembahasan ini terdiri dari
Busana tradisional Makanan tradisional Alat musik Tarian tradisional Rumah adat Seni suara Pantun Hasil seni pahat dan ukir Upacara adat wisata

Busana tradisional

Pakaian adat untuk bangsawan

Pakaian adat umum masyarakat maluku

Pakaian adat dalam masyarakat ambon untuk bangsawan bisa juga digunakan masyarakat biasa , Namun digunakan untuk ke pesta besar seperti sidi dll

Makanan tradisional
Yang ini disebut sagu, sagu adalah makanan pokok masyarakat ambon maluku Sagu ini dapat digunakan sebagai pengganti beras untuk dimakan Selain itu daun nya bisa digunakan untuk bahan jahitan atau atap rumah

Sagu sebagai salah bahan makanan pokok di Maluku, pohon sagu (Metroxilon sp) dan hasil olahannya hampir dapat ditemukan dimana-mana. Bahan sagu dihasilkan dari isi batang pohon sagu yang ditebang setelah berumur sekitar 15 tahun atau ketika pohonnya mulai berbunga, kemudian dihaluskan, diperas sarinya dengan air dan diendapkan. Hasil endapan itulah yang diambil sebagai bahan pokok berbagai jenis makanan.

PAPEDA

IKAN KOMUASAR

Alat Musik
Tifa Adalah alat musik masyarakat ambon Berbentuk seperti gendang, Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bass.

Totobuang berbentuk seperti gamelan namun memiliki fugsi Untuk mendukung tifa agar menjadi suatu paduan musik yang padu

Orang ambon di indonesia dikenal akan kemampuan bermusik, salah satu yang terkenal adalah likumahuwa bersaudara,glenn fredly,dan musisi jazz lainnya yang di indonesia di dominasi oleh orang ambon. Orang ambon terkenal akan suara yang khas dan memiliki kemampuan musik yang sangat baik

Tarian tradisional
Tarian dalam masyarakat ambon ada 3 yang terkenal yaitu
Tarian sulureka reka (tarian yang menggunakan empat buah gaba-gaba atau pelepah sagu yang dipegang dan dilompati penari lainnya.) Tarian Cakalele bulu ayam (tari perang) Tari poco poco

RUMAH ADAT

Baeleo
Kata "Balai" dan "Baileu yang artinya "balai bersama" . Perubahan dari Balai menjadi Baileu mungkin karena proses "Malukunusasi Berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, tempat upacara adat, sekaligus tempat seluruh warga berkumpul. Bangunan inti dari rumah ini di buat tidak berdinding,hal ini bertujuan agar roh nenek moyang leluasa masuk ke dalam rumah

SENI SUARA

Beberapa lagu daerah khas dari tanah maluku,antara lain : Rasa sayange Nona manis Ayo mama Sarinande Sayang dilale
Kebanyakan dari lagu daerah maluku, liriknya ceria dan mengandung beberapa pesan moral di dalam liriknya. Selain itu masyarakat maluku juga pandai dalam berpantun, karena budaya maluku juga di pengaruhi oleh budaya arab dan melayu.

Upacara adat
Antar Sontong Cuci Negeri (bersih desa) Pukul Manyapu Obor Pattimura Upacara pembayaran kain berkat

UPACARA PUKUL MANYAPU

UPACARA OBOR PATTIMURA

Seni pahat dan ukir


Seni pahat dan seni ukir di daerah Maluku banyak terdapat di Maluku Tenggara yang nampak pada patung-patung keluarga dan patung-patung pemujaan. Seorang anggota keluarga yang meninggal selalu dibuat patungnya sesuai dengan muka dan sifat-sifat orang itu. Seni kerajinan di setiap daerah dapat berkembang, seperti pembuatan tempat air minum, tempat bunga dan lain-lain yang terbuat dari tanah yang dibakar denga pelepah sagu di Maluku Tengah.

PARIWISATA

Maluku memiliki cukup banyak lokasi wisata eksotis, menarik dan bersejarah. Maluku mempunyai banyak benteng karena pada jaman penjajahan maluku merupakan baris pertahanan bangsa portugis. Selain itu maluku juga mempunyai pantai pasir putih yang indah. Lokasi wisata di maluku antara lain :
Benteng Amsterdam Benteng Victoria Benteng Belgica Taman Nasional Manusera Benteng Duurstede

BAELEO

BAB 5 PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI

Sektor pembangunan dan modernisasi masyarakat Ambon ialah pertanian (produksi kopra), perkebunan, dan perdagangan.

Dalam perdagangan mungkin belum bisa dijadikan landasan utama untuk berkembang dengan pesat, karena sarana prasarana masih kurang memadai.

Ditinjau dari keadaan iklim dan alamnya, potensi daerah Maluku terletak pada sektor perikanan. Di laut-laut Maluku terdapat berbagai jenis ikan yang hidup dalam kawanan-kawanan besar yang cukup seragam, seperti jenis-jenis ikan tuna. Walaupun demikian, usaha perikanan ini hanya dapat menjadi landasan untuk menghasilkan modal bagi pembangunan apabila telah didukung dengan peralatan dan metode yang modern.

GEJOLAK KEHIDUPAN DI AMBON


Tragedi Ambon 1998 2000 Kerusuhan Ambon 2011 Republik Maluku Selatan