Anda di halaman 1dari 32

Ilmu Pengetahuan Latin: Siencia kt kerja scire Inggris: Sience Jerman: wissenshaft Artinya: mempelajari, mengetahui

Ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud 1.Penelaahan (study) 2.Penyelidikan (enquairy) 3.Usaha menepukan (attemt to find) 4.Pencarian (search) - research

Metode Ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai: 1.tindakan pikiran, 2.pola kerja, 3.tata langkah 4.Cara tekhnis Untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada

Metode berhubungan dengan pola proseduran meliputi: 1.pengamatan, 2.Percobaan 3.Pengukuhan 4.Survei 5.Deduksi 6.Induksi 7.analisis

Tata langkah meliputi: 1.Penentuan masalah, 2.Perumusan hipotesis 3.Pengumpulan data 4.Penurunan kesimpulan 5.Pengujian hasil

Yang berhubungan dengan tekhnik 1.Daftar pertanyaan 2.Wawancara 3.Perhitungan 4.Pemanasan 5.dll

Yang berhubungan dengan aneka alat 1.Pertimbangan 2.Meteran 3.Perapian 4.Komputer 5.dll

Definisi Ilmu Pengetahuan paling tidak melibatkan 6 komponen 1.Masalah (problem) 2.Sikap (attitude) 3.Metode (method) 4.Ativitas (activity) 5.Kesimpulan (conclusion) 6.Pengaruh (effect)

A. Masalah (problem) Ada tiga kharakteristik yang harus dipenuhi bahwa suatu masalah itu bersifat sientific: 1.Communicability, sesuatu yang dapat dikomunikasikan 2.The sientific attitude meliputi, curiosity, speculativeness, willingnes to be suspend judgment. 3.The sientific method: harus dapat diuji

B. Sikap (attitude) Curiosity: ada rasa ingin tahu tentang bagaimana sesuatu itu ada, bagaimana sifatnya, fungsinya dan bagaimana sesuatu dihubungkan dengan sesuatu yang lain Speculativeness, adanya suatu usaha dan hasrat untuk mencoba memecahkan masalah, melalui hipotesis yang diusulkan Willingness to be objective, adanya hasrat dan usaha untuk bersikap dan

C. Metode (method) Sifat scientific method berkenaan dengan hipotesis yang kemudian diuji. Essensi science terletak pada metodenya. Sience sebagai teori merupakan sesuatu yang selalu berubah. Berkenaan dengan sifat metode scientific, para sientist tidak selalu memiliki ide yang pasti yang dapat ditunjukkan sebagai sesuatu yang absolut atau mutlak.

D. Ativitas (activity) Sience adalah sesuatu lahan yang dikerjakan oleh para scientit, melalui apa yang disebut scientific research, terdiri atas dua aspek, yaitu individual dan sosial. Dari aspek individual, sience adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. Adapun aspek sosial, science has become a vast institutional undertaking. Scientist menyuarakan kelompok orang-orang elite dan sience merupakan a never ending journey atau a never ending

E. Kesimpulan (conclusion) Sience lebih sering dipahami sebagai a body of knoeledge. Body dari ide-ide ini merupakan sience itu sendiri. Kesimpulan yang merupakan pemahaman yang dicapai sebagai hasil pemecahan masalah adalah tujuan dari science, yang diakhiri dengan pembenaran dari sikap, metode dan aktivitas.

F. Pengaruh (effects) Sebagian dari apa yang dihasilkan melalui science pada gilirannya memberi pengaruh. Pertimbangannya dibatasi oleh dua penekanan, yaitu 1.pengaruh ilmu terhadap ekolongi, melalui yang disebut dengan applied science, dan 2.pengaruh ilmu terhadap alam dalam masyarakat serta membudayakannya menjadi bermacam nilai.

Liang Gie Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah mempunyai 5 ciri pokok a.empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan b.Sietematis, berarti keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur c.Objectif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi d.Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan dan peranan dari bagian-bagian itu e.Verfikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun juga.

Daud Yusuf, pengertian ilmu memngacu pada tiga hal, yaitu: a.Produk, yaitu pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuan. Hal ini terbatas pada kenyataankenyataan yang mengandung kemungkinan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji dan dibantah oleh seseorang b.Proses, kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman dunia alami sebagimana adanya, bukan bagaimana kita kehendaki. Metode ilmiah yang khas dipakai dalam proses ini adalah analisis, rational, objectif, sejauh mungkin impersonal dari masalahmasalah yang didasarkan pada percobaan dan data yang dapat diamati c.Masyarakat, artinya dunia pergaulan yang tindak tanduyknya, perilaku dan sikap serta tuturt katanya diatur oleh empat ketentuan yaitu: universalisme, komunalisme, tanpa pamrih dan skeptisisme yang teratur.

Van Melsen mengemukakan ada 8 ciri yang menandai ilmu, yaitu: a.Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus susunan logis b.Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggungjawab ilmuan c.Universalitas ilmu pengetahuan d.Objectivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjectif e.Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan. f.Progressiveness, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan baru dan menimbulkkan problem baru lagi g.Kritis, artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru. h.Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktik.

Demi objektifitas ilmu, ilmuan harus bekerja dengan cara ilmiah. Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat-syarat intinya: a.Ilmu harus mempunyai objek, ini berarti bahwa kebenaran yang hendak diungkapkan dan dicapai adalah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya. b.Ilmu harus mempunyai metode, ini berarti bahwa untuk mencapai kebenaran yang objektif, ilmu tidak dapat bekerja tanpa metode yang rapi. c.Ilmu harus sistematik, ini berarti bahwa dalam memberikan pengalaman, objeknya dipadukan secara harmonis sebagai suatu kesatuan yang teratur. d.Ilmu bersifat universal, ini berarti bahwa kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu tidak mengenai suatu yang bersifat khusus, melainkan kebenaran itu berlaku umum. e.Ilmu harus bersifat dinamis bukan statis itu sebabnya harus dapat diuji kebenarannya.

Logika dan Penalaran A. Prinsip Berfikir analitis (AKSIOMA LOGIS) Terdapat empat aksioma logis sebagai fondasi berpikir. Tiga aksioma pertama berasal dari Aristoteles dan yang keempat berasal dari George Leibniz 1.Aksioma Pertama : Principium identitatis Prinsip Indentitatis Aksioma pertama dikenal dengan Law of Identity. Hukum tersebut berbunyi : Whatever is, is ( A is A : A cat is a cat ) atau if any statement is true, then it is true. Aksioma pertama tersebut berbunyi hukumnya adalah sesuatu itu adalah sesuatu itu atau sesuatu itu adalah dirinya sendiri atau A=A. A adalah merupakan variabel yang dapat diisi oleh sembarang konstanta. Turunan atau konstanta dari variabel A misalnya dapat berbunyi Aku maka akan berlaku :Aku adalah Aku atau Aku adalah Diriku sendiri.

2. Aksioma Kedua: Principium contradictionis - Prinsip Non Kontradiksi Aksioma kedua dikenal The Law of Contradiction. Bunyi hukumnya : A thing can not both be or not be ( A can not B and not B : A cat is not cat ) atau no statement can be both true and false at the same time and the same sense. Aksioma kedua bunyi hukumnya adalah sesuatu itu (berarti aksioma pertama atau prinsip identitatis ), dan tidak akan pernah sama dengan selain sesuatu

3. Aksioma Ketiga : Principium exclusi tertii - Prinsip Tidak Ada Jalan Tengah atau Kemungkinan Ketiga Aksioma ketiga dikenal The Law of Excluded Middle. Bunyi hukumnya : A thing must either be or not be ( A is either B or not- B ) atau A is either B or not- B atau Any statement is either true or false ( this means that there can be no third or middle judgment as A is B and not- B. Aksioma ketiga bunyinya hukumnya adalah sesuatu itu adalah sesuatu itu (berarti aksioma pertama atau prinsip identitatis), serta tidak akan pernah sama dengan selain sesuatu ( berarti prinsip Non Kontradiksi, dan tidak ada jalan tengah atau kemungkinan ketiga ).

4. Aksioma keempat: Principium rationis sufficientis, prinsip cukup alasan. Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup, tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi.

B. Pemahaman Proposisi Kategoris Proposisi adalah pernyataan yang dapat diberi nilai benar atau salah. Di sini perlu ditegaskan bahwa proposisi merupakan pernyataan bukan pertanyaan. Proposisi merujuk pada suatu fakta. Proposisi Tsunami di Aceh terjadi tahun 2004 menunjukan suatu fakta yang oleh karenanya dapat diberi nilai benar atau salah. Berkaitan dengan sifat proposisi yang merupakan sebuah pernyataan maka proposisi senantiasa selalu dapat diberi nilai apakah Benar ( B ) atau Salah ( S ). Dengan demikian jika seseorang menyatakan sesuatu (terlepas apakah seorang raja yang kaya raya atau si pemulung yang hina-dina ) maka proposisi / pernyataannya selalu harus dapat diukur apakah B atau S.

a. Komponen Proposisi Proposisi selalu memiliki 3 (tiga) komponen pokok, yaitu: Ts (Term Subjek ) Kopula (Penghubung) Tp (Term Predikat )

b. Empat Pola Proposisi 1.Pola A ( Universal Positif / U + ) 2.Pola I ( Partikular Positif / P + ) 3.Pola E ( Universal Negatif / U -) 4.Pola O (Partikular Negatif / P + )
1. Pola A ( Universal positif / U+) Semua besi adalah logam U+ (A) 2. Pola I ( Partikular Positif / P+ Sebagian binatang adalah pemakan rumput P+ (I) 3. Pola E (Partikular Negatif/P-) Semua emas bukan besi U- (E) 4. Pola O ( Popular Negatif / P+ ) Sebagai logam bukan besi P- (O)

c. Proposisi Pada Kehidupan Sehari-hari Pada kehidupan sehari-hari tidak secara eksplisit penggunaan bahasa menggunakan sejalan dengan kaidah-kaidah logika. Orang bisa seenaknya saja menyatakan sesuatu. Walau demikian, kita tidak perlu khawatir karena segala apapun yang dinyatakan orang atau terlepas dari siapapun yang menyatakannya agar pernyatannya dapat diberi nilai benar atau salah maka : 1.Setiap proposisi hanya bisa dimasukkan ke salah satu dari keempat pola di atas (apakah A, E , I atau O). 2.Jika tunggal maka akan diperlakukan sebagai U (Universal ) jika jamak maka akan diberlakukan sebagai P ( Partikular ). Bagaimana jika masuk tidak hanya satu pola tapi juga masuk ke pola yang lain? Tetap tidak bisa! Ia hanya boleh masuk ke salah satu saja dari empat pola yang ada. Bagaimana kalau tidak masuk satu pun dari empat pola tersebut? Tetap tidak bisa. Ia dipaksa harus masuk ke salah satu dari empat pola tersebut.

KUANTITAS PROPOSISI Setiap Ts maupun Tp selalu memiliki kuantitas. Kuantitas pada Ts maupun Tp hanya dua kemungkinan apakah U atau P. Walaupun Ts dan Tp dinyatakan selalu memiliki kuantitas, namun harus disadari bahwa kuantitas tersebut tidak selalu muncul atau tampak. Apabila kuantitasnya tidak muncul atau tampak, tugas Anda untuk memunculkannya. Kenapa harus dimunculkan? Alasannya demi kepastian semata, karena kalau sudah bisa dimunculkan maka sudah bisa dipastikan pola dari proposisi yang bersangkutan. A.Kuantitas Ts dan Tp dengan Pola A B.Kuantitas Ts dan Tp dengan Pola I C.Kuantitas Ts dan Tp dengan Pola E D.Kuantitas Ts dan Tp dengan Pola O

Ujung dari suatu proses penalaran adalah membuat suatu kesimpulan. Ternyata untuk sampai pada sebuah kesimpulan yang absah memerlukan ketaatan atas asas-asas, bentuk dan hukum-hukum berpikir lurus. Untuk sampai pada sebuah kesimpulan diperlukan langkah-langkah yang ketat. Penyimpulan dilakukan dari hal-hal yang telah diketahui dan berdasarkan hal-hal yang telah diketahui itu disusun suatu hal yang baru. Penyimpulan secara garis besar terbagi dalam dua bentuk. Pertama, penyimpulan langsung sering pula disebut dengan pembalikan. Kedua, penyimpulan tidak langsung sering disebut pula dengan silogisme. Istilah silogisme tumbuh dalam pemikiran Aristoteles dengan deduksi yang berarti proses penalaran dari kebenaran umum menuju hal-hal yang khusus dari kebenaran itu.

Penyimpulan langsung Pola A hasilnya I Contoh: Semua manusia adalah akan mati (U+) Poroposisi Kesimpulan Sebagian yang mati adalah manusia (P+)

Pola I kesimpulan I Contoh: Sebagian sarja adalah wanita P+ Proposisi kesimpulan Sebagian wanita adalah sarjana P+

Pola E kesimpulan E Contoh: Semua emas bukan besi (U-) Proposisi Kesimpulan Semua besi bukan emas (P-) Pola O kesimpulan tidak dapat diambil Sebagian logam bukan besi (P-)

Poposisi Awal Proposisi kemudian A I I I E E O -

Inferensi tidak langsung (silogisme tidak langsung). Untuk dapat membuat kesimpulan diperlukan premis minor. Contoh: Semua manusia adalah akan mati --- Premis mayor Andi manusia adalah manusia -------- Premis minor Andi adalah akan mati-------------------- Konklusi

Silogisme kategoris, Aristiteles mengajarkan tiga buah proposisi pada silogisme kategoris a.Semua mahasiswa adalah ingin lulus Filsafat Ilmu (Premis Mayor) b.Mercy adalah mahasiswa (Premis minor) c.Mercy adalah ingin lulus Filsafat Ilmu (Konklusi) Silogisme hipotetis terdiri dari tiga jenis a.Silogisme kondisional -Apabila Tuti rajin belajar, ia akan lulus ujian -Tuti rajin bejajar -Tuti akan lulus ujian b. Silogisme disjungtif -Kamu atau saya yang pergi berlomba -Kamu tidak pergi -Maka sayalah yang pergi c. Silogisme konjungtif -Tidak diizinkan seorang mahasiswa kuliah di dua PT negeri dalam waktu yang bersamaan -Boby kulian di PT negeri X -Boby tidak kulai di PT Negeri Y