Anda di halaman 1dari 49

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebagai proses, menulis melibatkan tiga komponen kegiatan, yaitu perencanaan atau

pra penulisan, pengembangan tulisan atau penulisan, dan penyempurnaan tulisan yang meliputi penyuntingan dan perbaikan

Pada bagian ini akan diuraikan

bagaimana merencanakan suatu karangan: menentukan topik, merumuskan tujuan, mengumpulkan bahan karangan, serta menyusun ragangan atau kerangka karangan sederhana.

Topik, Tujuan, dan Manfaat Penulisan


Memulai menulis ternyata tidaklah mudah. Pada

umumnya penulis, terutama penulis pemula, mengalaminya. Mereka bingung sendiri dengan apa yang akan ditulisnya, bahan-bahan yang akan mendukung tulisannya, serta kualitas tulisan yang akan dihasilkannya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memulai menulis. Salah satu cara terbaik adalah dengan mulai merancang atau merencanakan karangan, yaitu menentukan topik, tujuan, manfaat,, mengumpulkan bahan, serta mengorganisasikan ide-ide karangan.

Menentukan Topik Karangan


Langkah pertama dalam mengarang ialah

menentukan topik karangan. Kegiatan ini gampang-gampang susah. Disebut gampang, karena sumber inspirasi topik karangan itu banyak. Topik dapat diperoleh melalui pengalaman diri sendiri atau pengalaman orang lain, bacaan, atau berbagai peristiwa dan gejala yang ada di sekitar kita. Disebut susah, karena topik yang dipilih kadang-kadang terlalu luas atau terlalu sempit. Penulis kebingungan sendiri menentukan fokus atau arah tulisannya.

Topik yang terlalu luas akan menghasilkan

karangan yang terlalu umum dan dangkal. Akibatnya, karangan itu hanya menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak terlalu berarti bagi pembaca. Sebaliknya, topik yang terlalu sempit akan membuahkan karangan yang terlalu detail dan remeh. Inilah salah satu hal yang kadang-kadang membuat penulis pemula frustasi.

Apakah sebenarnya topik itu?


Istilah topik sering dipertukarkan dengan

tema dalam pengertian yang sama. Untuk sementara, dianggap keduanya sama. Topik atau tema adalah pokok persoalan atau inti permasalahan yang merupakan gagasan sentral suatu karangan. Sebagai gagasan sentral, topik akan menjiwai keseluruhan suatu karangan

Bagaimanakah caranya memilih topik? Dalam memilih topik, hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

Kebermaknaan
Maksudnya, pembahasan suatu topik dapat

memberikan manfaat atau arti, baik untuk perluasan wawasan dan pengetahuan pernbacanya, atau demi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Kemenarikan
Bagi penulis itu sendiri, topik yang menarik

minatnya akan memacu semangatnya dalam mengembangkan karangan yang baik. Rasa penasaran akan mendorongnya untuk menyajikan karangan itu sebaik-baiknya. Sementara itu, bagi pembaca, karangan yang memiliki topik yang menarik akan menggelitiknya untuk membaca karangan itu dengan baik.

Ketertanganan
Ketertanganan maksudnya, suatu topik

itu akan dapat dibahas secara mendalam dan tuntas.

Agar topik itu tertangani dalam pengembangannya kelak, dalam pemilihannya hendaknya penulis mempertimbangkan hal-hal berikut ini.
Pertama, topik yang dipilih hendaknya yang sudah

dikenal atau diketahui penulis. Kedua, bahan pendukung tulisan relatif mudah diperoleh. Kelangkaan bahan pendukung, terutama untuk tulisan-tulisan ilmiah, akan menyulitkan penulis dalam mengembangkan karangannya. Ketiga, topik yang dipilih tidak terlalu luas. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang, dan Peranan kesehatan dalam kehidupan, adalah contoh topik yang terlalu luas.

Ketika Anda telah memilih topik, dapat diajukan pertanyaan kepada diri Anda seperti berikut ini.
Apakah manfaat atau kegunaan yang dapat dipetik dari topik?

Apakah yang menarik dari topik ini?


Apakah yang saya ketahui tentang topik ini? Apakah fokus bahasan topik ini?

Apakah bahan-bahan pendukung topik ini mudah ditemukan?


Apakah topik ini tidak terlalu luas atau teralu

sempit?

Topik yang baik hendaknya spesifik,

terarah, dan tidak terlalu luas. Untuk mengetahui apakah topik yang sudah kita pilih itu telah cukup terbatas, dapat diajukan pertanyaan kepada diri sendiri, Apa saja yang ingin saya tulis? Seberapa panjang dan banyak tulisan saya? Ini perlu kita lakukan agar kita menulis tidak terjebak dalam suatu persoalan yang tidak berujung pangkal, serta menulis tanpa fokus dan arah yang jelas.

Lalu, bagaimana cara membatasi topik? Membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan menggunakan rambu-rambu berikut.
Tentukanlah topik yang akan dibahas.
Ajukan pertanyaan, apakah topik itu dapat diperinci lagi? Bila dapat, tuliskanlah rincian-

rincian itu di bawah atau di sekitar topik pertama tadi. Tetapkanlah, rincian mana yang akan dipilih sebagai topik. Ajukanlah pertanyaan, apakah topik tersebut dapat diperinci lagi?

Demikianlah, aktivitas itu dilakukan berulang-ulang sampai benar-benar yakin bahwa topik yang kita pilih itu telah cukup khusus dan terarah.
Bertolak dari rambu-rambu di atas, pembatasan topik dapat dilakukan dengan menggunakan daftar atau diagram. Untuk mempersempit pokok pembicaraan ada beberapa cara yang lasim digunakan.
Cara pertama dengan memecah pokok pembicaraan menjadi bagian-bagian yang makin

kecil. Cara kedua ialah dengan menulis pokok umum dan membuat daftar aspek khusus apa saja dari pokok itu secara berurutan ke bawah. Dari daftar ini dapat dipilih salah satu aspek untuk dijadikan topik karangan. Kedua cara ini dapat

PIRAMID TERBALIK

DIAGRAM AKAR/ARAH JARUM JAM

Merumuskan masalah penelitian dapat dilakukan dalam bentuk pernyataan (research question).

2. Merumuskan Masalah

Contoh : Posyandu di wilayah Kabupaten Minahasa sudah merata, hampir tiap desa telah mempunyai Posyandu. Penyuluhanpenyuluhan tentang imunisasi telah berjalan dengan baik di Posyandu-posyandu. Namun angka drop out imunisasi polio masih tinggi, sekitar 60%. Hal ini berarti kesinambungan imunisasi polio bagi anak-anak balita di Kabupaten Minahasa rendah.

Dari pernyataan penelitian ini kemudian dapat dilanjutkan dengan pertanyaan penelitian.
Mengapa kesinambungan imunisasi polio bagi anak balita di Kabupaten Minahasa masih rendah? b. Faktor-faktor apa yang menyebabkan atau mempengaruhi ketidaksinambungan imunisasi polio bagi anak balita di Kabupaten Minahasa rendah?
a.

3. Menentukan Tujuan
Khusus untuk tulisan ilmiah berbentuk

penelitian tujuan yang di maksudkan adalah indikasi ke arah mana, atau data (informasi) apa yang akan dicari melalui penelitian itu. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang konkret, dapat diamati (observable), dan dapat diukur (measurable).

Contoh:

Tujuan Penelitian ini adalah untuk


memperoleh informasi (data) tentang

jumlah pemeriksaan ibu-ibu hamil di Kecamatan Malalayang. Memperoleh informasi tentang hubungan antara frekuensi pemeriksaan kehamilan dengan berat badan bayi lahir. Apabila dikaitkan dengan problematik, tujuan penelitian dan simpulan akan tergambar sebagai berikut :

Problematik

Problematik Hal yang dipertanyakan

Tujuan Penelitian Jawaban yang ingin dicari

Simpulan Jawaban yang diperoleh

Merumuskan masalah penelitian dapat dilakukan dalam bentuk pernyataan (problem statement) dan juga dalam bentuk pertanyaan (research

question). Contoh: Posyandu di wilayah Kabupaten Minahasa sudah merata, hampir tiap desa telah mempunyai Posyandu. Penyuluhan-penyuluhan tentang imunisasi telah berjalan dengan baik di Posyandu-posyandu. Namun angka drop out imunisasi polio masih tinggi, sekitar 60%. Hal ini berarti kesinambungan imunisasi polio bagi anakanak balita di Kabupaten Minahasa rendah.

Dari pernyataan penelitian ini kemudian dapt dilanjutkan dengan pertanyaan penelitian
Mengapa kesinambungan imunisasi polio

bagi anak balita di Kabupaten Minahasa masih rendah? Faktor-faktor apa yang menyebabkan atau mempengaruhi ketidaksinambungan imunisasi polio bagi anak balita di Kabupaten Minahasa rendah?

4. Menentukan Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan ataupun penelitian tergantung dari tulisan kita. Pemakaian kata penulisan atau penelitian disesuaikan dengan jenis penulisan; apakah tulisan itu berdasarkan hasil penelitian ataukah tidak. Yang dimaksudkan dengan manfaat adalah kegunaan hasil penulisan/penelitian nanti, baik bagi kepentingan pengembangan program maupun kepentingan ilmu pengetahuan.

Contoh Manfaat Penulisan


Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk masukan

dalam rangka meningkatkan upaya-upaya pencegahan diare, khususnya di wilayah kota Manado. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat, khususnya di bidang sanitasi lingkungan (untuk ilmu). Hasil penulisan ini diharapkan agar program penayangan televisi diperhatikan oleh para orang tua agar anak-anak terhindar dari dampak negatif program tersebut. (tulisan ilmiah populer)

Kerangka Karangan
Langkah terakhir pada tahap pra penulisan adalah

pengorganisasian karangan. Dalam pengorganisasian karangan, tujuan penulisan dan bahan penulisan turut menentukan bentuk organisasi karangan itu. Agar organisasi karangan dapat ditentukan, sebelumnya penulis harus menyusun kerangka (out line) karangan dari tulisannya. Menyusun kerangka karangan atau out line merupakan satu cara untuk menyusun suatu rangka yang jelas dan struktur yang teratur dari karangan yang akan digarap.

Bentuk Kerangka
Sebuah kerangka karangan dapat dibedakan

atas kerangka kalimat dan kerangka topik. Kerangka kalimat mempergunakan kalimat berita yang lengkap untuk merumuskan setiap topik, subtopik maupun sub-subtopik, sedangkan kerangka topik setiap butir dalam kerangka topik terdiri dari topik yang berupa frase, bukan kalimat lengkap.

Kerangka Laporan Ilmiah PRAKATA / KATA PENGANTAR

(1) penjelasan/gambaran umum mengenai dalam rangka

menyusun karangan itu, (2) pertanggungjawaban bagaimana karangan itu digarap secara umum; (3) suka-duka penulis dalam pengumpulan data atau pada waktu mengadakan penelitian; (4) siapa-siapa atau badan-badan mana yang telah memberikan bantuan dan uluran tangan; (5) pernyataan terima kasih ; (6) harapan-harapan penulis tentang bermanfaatnya karanganitu, entah bagi pribadi, bangsa, dan perkembangan ilmu pengetahuan (7) penanggung jawab penelitian, ketua pelaksana, ketua tim peneliti, atau penulis.

DAFTAR ISI.
Bagian ini hendaknya merupakan daftar dari keseluruhan pokok isi naskah laporan, mulai dari prakata atau kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, abstrak, bab-bab dan subbab, daftar pustaka hingga lampiran-lampiran

DAFTAR TABEL
Bagian ini berisi daftar tabel yang

dimasukkan ke dalam teks laporan. Tabel atau tabel-tabel yang tidak dimasukkan ke dalam teks hendaknya dilampirkan.

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN Bagian ini berisi lambang atau singkatan yang dipakai dalam penulisan untuk memudahkan pembaca mengerti artinya. contoh:

ABSTRAK
Bagian ini hendaknya merupakan laporan

yang menyatakan masalah pokok, tujuan, teori, metodologi, data, dan simpulan penelitian secara ringkas dan padat sehingga pembaca dapat memahami pokokpokok laporan penelitian tanpa membaca laporan lengkapnya. Panjang abstrak tidak boleh lebih dari tiga halaman.

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah 1.2 Tujuan 1.3 Kerangka Teori 1.4 Ruang Lingkup 1.5 Sumber Data 1.6 Metode dan Teknik

BAB II ANALISIS/PEMBAHASAN
Contoh berikut menggunakan sistem desimal.

Contoh 1: Sistem Lekuk 2.1 . 2.2 .. 2.3 .

2.3.1 .. 2.3.2 .. 2.4 . 2.4.1 . 2.4.1 .

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan
Bagian

ini hendaknya berisi pernyataan-pernyataan simpulan dari tiap satuan dan simpulan dari keseluruhan analisis. Simpulan ini bukanlah merupakan rangkuman atau ikhtisar.

3.2 Saran
Bagian ini hendaknya juga berisi (1) informasi tentang hambatan-hambatan pokok yang antara lain berhubungan dengan penyusunan rancangan dan instrumen penelitian, pengumpulan data di lapangan, pengolahan data, penulisan laporan, dan (2) saran-saran yang bertalian dengan metodologi penelitian, penelitian lanjutan, dan implikasi atau penerapan hasil penelitian dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan bahasa.

DAFTAR PUSTAKA
Bagian ini hendaknya berisi daftar semua

jenis pustaka, yakni buku, naskah, atau artikel dalam majalah atau buku yang dijadikan acuan, pegangan atau landasan penelitian dan penyusunan laporan. Pustaka yang tidak relevan dengan penelitian yang dilaksanakan tidak perlu dicantumkan dalam daftar ini.

LAMPIRAN
Sebagai

pelengkap, laporan harus meyertakan lampiran yang antara lain memuat data, tabel (yang tidak dimasukkan dalam teks), gambar, bagan, peta, instrumen penelitian, transkripsi (rekaman dalam kaset), pegangan kerja, rancangan penelitian, riwayat hidup peneliti dan lain-lain yang dianggap perlu.

Penyusunan Kerangka Karangan


Dengan selesainya penulis menyusun

kerangka karangan maka tergambar apa yang akan penulis tulis. Dari kerangka karangan itu penulis dapat mengumpulkan bahan-bahan tulisan, memilih mana bahan utama dan mana bahan-bahan tambahan.

Contoh: FAUNA PULAU SUMBAWA


1) Binatang buas 2) Mamalia 3) Binatang pemakan daging 4) Binatang yang dapat diternakan 5) Binatang malam. Contoh di atas merupakan contoh kerangka yang kacau. Antara butir 1 - 5 terdapat tumpang tindih. Perincian dari topik ke subtopik tidak berdasarkan kriteria tertentu sehingga pengelompokkan-pengelompokan menjadi kacau.

Jika penulis ingin membuat kerangka yang

baik dan terperinci yang memuat sub-subbagian, mulailah membuat kerangka secara garis besarnya terlebih dahulu. Kerangka ini akan memperlihatkan karangan penulis secara menyeluruh. Setelah itu barulah setiap butir penulis uraikan ke dalam sub-subbagiannya. Pergunakan tanda yang berbeda untuk memperlihatkan tingkatan (hierarki) butir-butir dalam kerangka.

Contoh: PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA

TRIWULAN I TAHUN 2004 DI KABUPATEN MINAHASA

PRAKATA DAFTAR ISI I. Pendahuluan II. Beberapa Pengamatan A. Kedudukan Keluarga Berencana B. Apa yang telah Dirintis dalam rangka Menyukseskan KB. Ill. Masalah-masalah Pelaksanaan Keluarga Berencana IV. Strategi Pelaksanaan Keluarga Berencana A. Strategi Jangka Panjang B. Strategi Jangka Pendek.

Pola Organisasi

Langkah terakhir pada tahap pra penulisan ialah perorganisasian karangan. Dalam hal ini tujuan

dan bahan penulisan turut menentukan bentuknya. Organisasi karangan pada umumnya mengikuti pola ilustratif, analitis, dan argumentatif. Pola-pola ini disusun sesuai dengan arah pembicaraan dan detail pembahasan tertentu.

Jika akan menjelaskan suatu gagasan atau prinsip

umum secara konkret dan khusus, maka penulis menggunakan pola ilustratif. Arah pembicaraan menurut pola ini ialah dari hal yang umum pada yang khusus. Pembahasan dimulai dengan hal-hal yang bersifat umum, kemudian menjadi khusus dan lebih khusus lagi. Dalam pola ini makna kalimat utama dikemukakan melalui ilustrasi. llustrasi itu dapat berupa contoh, perbandingan atau sebuah kontras.

Jika penulis mempergunakan contoh-contoh ilustrasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, contoh yang dipakai harus mempunyai hubungan langsung dengan hal umum yang dijelaskan. Untuk menjelaskan suatu jenis misalnya, pergunakan spesies yang langsung di bawahnya. Kedua, Contoh itu benar-benar dapat menjelaskan kalimat topik yang dikemukakan.

Pola analisis klasifikasi, penulis pergunakan bila pembahasan mengenai pokok pembicaraan yang mengarah pada pembagian-pembagian yang didasarkan pada klasifikasi tertentu.
Contoh: Advokasi atas Hak Asasi Perempuan dan Anak Pendahuluan Hak Asasi Perempuan Hak Asasi Manusia dan seterusnya

Pola analisis proses tentu saja bisa dipergunakan jika

pembahasan mengenai topik atau pembicaraan yang mengarah pada pembagian-pembagian menggambarkan suatu proses. Contoh: Konstitusi Pendahuluan Pengertian Konstitusi Sifat dari Konstitusi Fungsi Konstitusi dan seterusnya

Pola karangan di atas menggambarkan

suatu proses memahami konstitusi sebagai pengertian Sosial Politik. Pemahaman pengertian konstitusi belum merupakan pengertian hukum, ia baru mencerminkan keadaan sosial politik suatu bangsa itu sendiri.