Anda di halaman 1dari 42

KODE: 6-01 Sub Modul: Teori Dasar Manajemen Resiko

A. Konsep Manajemen Risiko

B. Profil Bisnis Mikro

C. Manajemen Risiko Pada Bisnis Mikro

A. Konsep Manajemen Risiko


1. Apa itu Risiko? 2. Jenis Risiko? 3. Definis Manajemen Risiko? 4. Cakupan Manajemen Risiko?

1. APA ITU RISIKO?

Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa (events )tertentu.

2. JENIS RISIKO? Terdapat 8 jenis risiko yang dihadapi oleh bank sesuai dengan ketentuan bank indonesia, yaitu:
Legal Risk Strategic Risk BANKING RISK Credit Risk

Reputation Risk Complianc e Risk

Market Risk

Liquidity Risk Operation al Risk

2. JENIS RISIKO?
1. Risiko Kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan / atau pihak
lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank. 2. Risiko Pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara

keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga


option. 3. Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus

kas dan/ atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat
diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.

2. JENIS RISIKO?
4. Risiko Operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan / atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank. 5. Risiko Kepatuhan adalah risiko akibat Bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku 6. Risiko Hukum adalah risiko akibat tuntunan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.

2. JENIS RISIKO?
5. Risiko Reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Bank. 6. Risiko Stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

3. DEFINISI MANAJEMEN RISIKO


Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan Risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha bank. Identifikasi Melakukan analisis seluruh jenis dan karakteristik risiko yang terdapat pada setiap kegiatan Bank Pengendalian Bertujuan untuk mengelola risiko tertentu yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank

Pengukuran Bertujuan memperkirakan eksposur risiko secara individual maupun portofolio produk dan kegiatan yang dimiliki Bank

Pemantauan Mengevaluasi eksposure risiko yang terdapat dalam seluruh porto folio produk dan kegiatan usaha bank serta efektifitas proses MR

10

4. CAKUPAN MANAJEMEN RISIKO


Situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan mengalami perkembangan pesat yang diikuti dengan semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha perbankan sehingga meningkatkan kenutuhan praktek tata kelola bank yang sehat (good corporate governance) dan penerapan manajemen risiko yang meliputi: 1. Pengawasan aktif pengurus bank 2. Kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko 3. Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, sistem informasi, dan pengendalian risiko, 4. Sistem pengendalian intern

11

5. MANFAAT MANAJEMEN RISIKO


Penerapan manajemen risiko tersebut akan memberikan manfaat kepada perbankan, yaitu: 1. Peningkatan shareholder value 2. Memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank dimasa datang. 3. Meningkatkan metode dan proses pengembalian yang sistematis yang didasarkan atas ketersediaan informasi, 4. Digunakan sebagai dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja bank, 5. Digunakan untuk menilai risiko yang melekat pada instrumen atau kegiatan usaha bank yang relatif kompleks 6. Menciptakan infrastruktur manajemen risiko yang kokoh dalam rangka meningkatkan daya saing Bank. 12

B. Profil Bisnis Risiko


1. Kondisi Makro Usaha Kecil dan Mikro di Indonesia 2. Kriteria Usaha Kecil dan Mikro 3. Karakteristik Bisnis Mikro 4. Pembiayaan Bisnis Mikro Oleh Perbankan

13

1. KONDISI MAKRO USAHA KECIL DAN MIKRO DI INDONESIA


Menurut BPS (Kompas, 4 Juni 2008) usaha besar di indonesia berjumlah 44.038 unit, usaha menengah 152.789 unit, usaha kecil 3,6 juta unit dan usaha mikro 19 juta unit. Dari jumlah usaha kecil dan mikro tersebut, baru sekitar 20% yang telah memperoleh alokasi pembiayaan dari perbankan

Pangsa pasar yang cukup besar bagi pembiayaan sektor mikro

14

2. KRITERIA USAHA KECIL DAN MIKRO


Berdaskan undang undang UMKM (UU UMKM) yang telah ditetapkan pada tanggal 10 Juni 2008, Kriteria usaha mikro kecil dan menengah adalah sebagai berikut:

JENIS USAHA
USAHA MIKRO

KRITERIA
a. Kekayaan bersih paling banya Rp 50 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha b. Hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300 juta a. Kekayaan bersih uta s/d Rp 500 juta tidak termasuk tanah dan bangunan temapat usaha b. Hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 juta s/d Rp 2 miliar a. Kekayaan bersih lebih dari Rp 500 juta s/d Rp 10 miliar tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha b. Hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.2 miliar s/d Rp 50 miliar

USAHA KECIL

USAHA MENENGAH

15

3. KARAKTERSITIK BISNIS MIKRO


1. Mobilitas cukup tinggi sehingga sering berpindah-pindah 2. Belum memiliki administrasi keuangan yang baik 3. Manajemen yang kurang profesional 4. Teknologi masih tradisional

5. Tersebar dimana-mana sehingga monotoring susah


6. Belum adanya kepastian pasar 7. Biaya intermediasi per nilai kredit yang sangat besar 8. Belum mampu menyediakan agunan

16

4. PEMBIAYAAN BISNIS MIKRO OLEH PERBANKAN


Penerapan manajemen risiko tersebut akan memberikan manfaat kepada perbankan, yaitu:

1. Sistem dan mekanisme pembiayaan belum dapat


memenuhi kebutuhan UKM karena kendala akses dan pemenuhan persyaratan (un-bankable) 2. Umumnya persyaratan formal yang sulit dipenuhi oleh UKM, seperti formalitas usaha, tidak ada business plan, laporan keuangan, dan pengalaman usaha 3. Selain itu faktor SDM, karaktersitik bisnis yang bersifat musiman, kondisi geografis dan infrastruktur turut pula mempengaruhi daya tarik lembaga

5C Capital, Caracter, Capacity, Colateral, Conditions

keuangan untuk membiayai UKM

17

C. Manajemen Risiko Pada Bisnis


1. Risiko Kredit Pada Bisnis Mikro 7. 7P Principles of credit

2. 3. 4.
5.

Penyebab Kredit Bermasalah

8. 9. 10.
11.

Monitoring dan Pembinaan

Pencegahan Kredit Bermasalah

Tujuan Monitoring & Pembinaan

Prinsip kehati-hatian

Manfaat Monitoring & Pembinaan

Prinsip Analisis Kredit /Pembiayaan

Sikap SO/RO Dalam Monitoring & Pembinaan

6.
18

5C Principles of Credit

12.

Hambatan dalam monitoring & pembinaan

1. RISIKO KREDIT PADA BISNIS MIKRO


Risiko terbesar yang dihadapi oleh perbankan pada pembiayaan bisnis mikro adalah RISIKO KREDIT yaitu terjadinya kredit Bermasalah / kredit Macet. Kredit dikatakan bermasalah jika terjadi pelanggaran perjanjiankredit yang biasanya diikuti dengan kemacetan kredit Kredit dikatakan bermasalah jika terjadi pelanggaran perjanjian kredit yang biasanya diikuti dengan kemacetan kredit. Kemacetan kredit dimulai dengan debitur tidak bisa memenuhi/ membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada Bank.

19

2.

PENYEBAB KREDIT BERMASALAH


A. Faktor Eksternal Bank: 1. Kondisi Manajemen Debitur 2. Kegagalan usaha Debitur 3. Side Streaming oleh Debitur

4. Itikad kurang baik Debitur


5. Kondisi ekonomi makro (Depresiasi, Devaluasi & Inflasi) 6. Kebijakan Pemerintah (Deregulasi dll) B. Faktor internal Bank:

1. Pertumbuhan kredit yang berlebihan


2. Penyimpangan ketentuan /prosedur 3. Lemahnya sistem monitoring dan pengawasan dari internal Bank
20

2. PENYEBAB KREDIT BERMASALAH


Indikator Terjadinya Kredit Bermasalah 1. Kondisi Keuangan Debitur 2. Kondisi Usaha Debitur 3. Publikasi Melalui Mess Media 4. Reaksi Pihak-Pihak terkait Informal Data untuk Identifikasi: 1. Melihat mutasi rekening di Bank 2. Laporan Keuangan Debitur 3. Hasil Kunjungan ke Debitur 4. Review atau Retaksasi Jaminan

21

3. PENCEGAHAN KREDIT BERMASALAH


Guna mencegah kredit bermasalah maka pembina kredit harus melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Menjaga & memelihara dokumen kredit. Memonitoring kredit & mutasi rekening debitur , termasuk mengawasi cerukan

(Over Draft)
Memonitoring setiap aktivitas usaha debitur. Mewaspadai faktor-faktor Eksternal dan Internal debitur Memberikan perhatian khusus kepada perusahaan/ debitur yang mengalami pertumbuhan luar biasa.

22

4. PRINSIP KEHATI-HATIAN
Agar memberi kredit yang diberikan oleh bank dapat meminimalisir
terjadi risiko kredit, maka setiap proses pemberian kredit yang diberikan harus dijiwai oleh azas kehati-hatian (prudential banking) dengan semangat untuk menghindarkan diri dari pemberian kredit yang

spekulatif dan beresiko tinggi seperti:


Black List, Tanpa informasi Keuangan yang Cukup, Perjudian & Asusila,

Jual Beli Saham,


Pemecahan Kredit

23

5. PRINSIP ANALISA KREDIT /PEMBIAYAAN


Untuk meminimalisir terjadinya risiko kredit tersebut, maka diperlukan pemahaman terhadap dasar-dasar prinsip analisa pembiayaan, antara lain:

5 C Principles of Credit : Character, Capacity, Capital,


Collateral & condition of economics 7 P Principles of credit: people, purpose, payment, Protection, Prospective, Party & Profitability

24

6. 5 C PRINCIPLES OF CREDIT
CAHARACTER

Kemauan dan kemampuan untik membayar Kejujuran, integritas, stabilitas, motivasi Sumber analisa: 1. Daftar riwayat Hidup Calon Debitur 2. Reputasi dalam lingkungan usahanya 3. Bank Information

4. Trade Checking (buyer /seller)

25

6. 5 C PRINCIPLES OF CREDIT
CAPACITY
Melihat sejauh mana kemampuan calon debitur untuk menghasilkan atau mengelola keuangan/kas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya kepada bank/kreditur baik secara finansial maupun

teknis.
Untuk usaha yang sudah beroperasi / berjalan dapat dilakukan melalui Laporan keuangan historis atau masa lalu / past financial

performance
Rencana bisnis dan keuangan masa depan

26

6. 5 C PRINCIPLES OF CREDIT
CAPITAL Bertujuan untuk mengetahui struktur modal calon debitur. Berapa yang bersumber dari dalam perusahaan sendiri dan berapa yang bersumber dari pihak lain (kreditur / supplier)

Paramater penilaian, antara lain:


Perhitungan working capital (current Asset Current Liability) Modal tertanam Debt to Equility Ratio

Faktor capital merupakan faktor yang menentukan dalam menilai


kelayakan pembiayaan. Karena semakin besar struktur modal internal calon debitur lebih tahan terhadap goncangan dari luar yang cenderung tidak dapat diprediksi/unpredictable

27

6. 5 C PRINCIPLES OF CREDIT
COLLATERAL Agunan merupakan barang-barang yang diserahkan oleh debitur sebagai jaminan atas pembiayaan Bertujuan mengamankan bank apabila debitur gagal dalam memenuhi kewajibannya (wanprestasi) Aspek penilaian: Ekonomis Dan Yuridis syarat-syarat collateral: 1. Dapat dididentifikasi 2. Dapat ditentukan nilainya 3. Marketable 4. Tidak mudah rusak/berubah bentuk

28

6. 5 C PRINCIPLES OF CREDIT
CONDITION OF ECONOMIC
Situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat maupun kurun waktu tertentu yang kemungkinannya akan dapat mempengaruhi kelancara usaha calon debitur (positif/ negatif. Contohnya: Kebijaksanaan pemerintah, moneter , perpajakan Sumber informasi: Media, Economic Review, Journal, dll

29

7. 7 P PRINCIPLES OF CREDIT
PEOPLE
Melakukan kegiatan kinerja/performance terhadap calon debitur, dan juga mitra usahanya (customer, supplier, Institutions atau para pihak yang terkait sebagai back-up bisanis calon debitur)

PURPUSE
Penilaian atas maksud dan tujuan permohonan pembiayaan oleh calon debitur Pembiayaan yang disalurkan benar-benar menimbulkan manfaat bagi debitur sendiri (pemohon), masyarakat dan Bank/Kreditur

30

7.

7 C PRINCIPLES OF CREDIT
PAYMENT Penilaian terhadap sumber-sumber pengembalian kredit (source of Repayment), agar penyelesaian kredit sesuai dengan kesepakatan dan dapat dilaksanakan tanpa hambatan Sumber pengambilan kredit dapat terdiri dari: Primer: dari usaha/bisnis utama yang dijalankan/dibiayai Sekunder: dari usaha/bisnis lain yang dimiliki dalam rangka mendukung sumber pengembalian primer

31

7. 7 C PRINCIPLES OF CREDIT
PROTECTION Penilaian atas alternatif penyelesaian kredit, apabila debitur gagal (wansprestasi) dalam memenuhi kewajiban/payment kepada Bank/Kreditur Bank/kreditur harus menguasai agunan, baik fixed asset maupun non fixed asset, disertai dengan perkatan yuridis yang sempurna sesuai dengan ketentuan yang berlaku

32

7.

7 C PRINCIPLES OF CREDIT
PROSPECTIVE Melakukan penilaian atas kondisi usaha calon debitur pada masa mendatang (future performance), baik dari aspekfinansial maupun

teknis.
Usaha yang dapat dilakukan adalah melakukan perbandingan antara Cash flow dari usaha yang akan dibiayai oleh risiko yang dihadapi atas kredit yang akan diberikan

33

7. 7 C PRINCIPLES OF CREDIT
PARTY
Mengklasifikasi debitur berdasrkan: Modal Kebutuhan

Skala usaha
Legalitas, dan lain-lain

Hal tersebut berdampak pada teknis penanganan/pengelolaan debitur Kredit kepala pengusaha kecil sangat berbeda dengan kepada

pengusaha bermodal kuat, baik dari segi harga/pricing, biaya,


maupun persyaratnnya.

34

7. 7 C PRINCIPLES OF CREDIT
PROFITABILITY Menganalisa kemampuan calon debitur dalam menghasilakn Laba/Profit

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah seberapa pengaruh


tambahankredit yang akan diberikan terhadap peningkatan profitabilitas usaha calon debitur

35

8. MONITORING DAN PEMBINAAN


Setelah kredit/pembiayaan diberikan kepada debitur, maka langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya risiko kredit adalah Monitoring dan Pembinan. Monitoring dan pembinaan kredit adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh sales Officer / Relationship Officer untuk memelihara kualitas kredit yang telah diberikan dalam rangka mencegah timbulnya kerugian-kerugianbagi Bank dan meningkatkan pendapatan Bank serta melindungi asset Bank.

36

Persetujuan Kredit

Akad Kredit

Pencairan Kredit

Pelunasan/ Perpanjangan Kredit


37

BERHAS IL Monitoring Pembiaya an


- Aktif -Pasif

-NPL, BDR &Cad.PPA Rendah -Profit Tinggi -Roa Besar -Car Tinggi -Reputasi Baik

RISIKO

Pembinaan
- Masalah - Tidak masalah -NPL, BDR &Cad.PPA Tinggi -Profit Rendah -Roa Rendah -Car Rendah -Reputasi Buruk

GAGAL

38

9. TUJUAN MONITORING DAN PEMBINAAN

Memelihara hubungan baik Bank dengan debitur


Memelihara performance kredit tetap dalam kondisi lancar Identifikasi awal dan klasifikasi atas masalah-masalah potensial kredit Memastikan bahwa jaminan yang dikuasai (sesuai ketentuan) cukup dan diikat secara aman Meningkatkan pengetahuan Accoun Officer mengenai sifat, karakteristik dan kualitas dari portofolio Mengembangkan pemahaman terhadap risiko yang melekat serta pola pengendalian risiko tersebut secara baik dan benar Mengelola risiko yang ada pada potofolio kredit secara keseluruhan sehingga bisa terlihat lebih jelas dan dapat digunakan sebagai alat bantumanajemen dalam mengambil keputusan guna menjaga kelangsungan usaha serta meningkatkan keuntungan perusahaan

39

Memenuhi standar pengelolaan Bank yang sehat.

10. MANFAAT MONITORING DAN PEMBINAAN


Mengetahui secara dini potensi permasalahan yang dihadapi debitur sehingga dapat dilakukan upaya penyelamatan dini baik melalui pola restrukrisassi kredit maupun di take over ke Bank lain Memastikan bahwa bank secara dini menyadari kondisi keuangan secara aktual dari debitur Sumber informasi bagi Sales/Relationship Officer informasi tentang kondisi industri bisnis debitur secara umum, dan juga informasi tentang pihak tertentu yang terlibat dalam dalam industri tersebut. Sales/Relationship Officer dapat mengikuti perkembangan usaha debiturnya secara sistematis Sumber informasi bagi Sales/Relationship Officer pengganti apabila pengelolaan debitur telah dipindah tangankan Melihat potensi/peluang bank yang ada pada nasabah /debitur dalam rangka pemberian kredit lain atau funding sebagai upaya Cross Selling. Meningkatkan pengetahuan Sales/ Relationship Officer mengenai potensi usaha yang dibiayai dibandingkan dengan potensi bisnis secara keseluruhan

40

11. SIKAP SALES /RELATIONSHIP OFFICER DALAM MONITORING & PEMBINAAN

Harus senantiasa menjaga integritas


Harus mampu mengenali karaktersitik usaha, lingkungan bisnis Debitur Harus senantiasa membina hubungan dengan debitur baik pada sat ada masalah maupun tidak ada masalah atas fasilitas kredit yang dinikmati Debitur Harus dapat memposisikan dirinya sebagai mitra dan sekaligus advisor bagi Debitur Harus membekali dirinya dengan pengetahuan dan keahlian terutama untuk bidang yang sesuai usaha Debitur Harus membekali dirinya dengan ketrampilan berkomunikasi dan kemampuan menggali informasi yang lebih dalam diri Debitur Harus mampu bersikap realistis terhadap nasabah sehingga mampu memenuhi kebutuhan nasabah dan bukan membela nasbah

41

12. HAMBATAN /KENDALA DALAM MONITORING DAN PEMBINAAN


Debitur sulit dihubungi/ditemui Kecenderungan sikap SO/RO yang menganggap kurang pentingnya monitoring dan pembinaan kredit Pemahaman teknis SO/RO atas bisnis yang dibiayai Kemampuan komunikasi SO/RO yang terbatas Keengganan SO/RO untuk melakukan aktivitas yang bersifat administratif dan melakukan on the spot Adanya sikap-sikap SO/RO yang didasari oleh keberhasilan masa lalu (experience adjusment) Loading pekerjaan SO/RO terlalu tinggi Belum tersedianya System Operating Procedure monitoring dan pembinaan kredit Kurangnya dukungan supervisi bisnis terhadap pentingnya aktifitas monitoring dan pembinaan kredit Karakter debitur tertutup/tidak kooperatif Lokasi debitur jauh Sarana/prasarana pendukung kurang/tidak memadai

42