Anda di halaman 1dari 20

Humongous Insurance

EDUKASI KELUARGA

Keluarga adalah:
Menurut Departemen Kesehatan RI (1998) : - Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Menurut Salvicion dan Ara Celis (1989) : - Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Menurut Hawari (2003) salah satu kendala dalam upaya penyembuhan pasien gangguan jiwa adalah pengetahuan masyarakat dan keluarga.

Family Psychoeducation therapy


adalah salah satu elemen program kesehatan jiwa keluarga, dengan cara pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi.

Atau
untuk memberi dukungan terhadap anggota keluarga yang lain, dalam mengurangi beban keluarga terutama beban fisik dan mental dalam merawat pasien gangguan jiwa untuk waktu yang lama

Psikoedukasi keluarga adalah pemberian pendidikan kepada seseorang yang mendukung treatment dan rehabilitasi. Terapi Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kemampuan kognitif, karena dalam terapi mengandung unsur untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang penyakit, Dan mengajarkan tehnik yang dapat membantu keluarga untuk mengetahui gejalagejala penyimpangan perilaku, serta peningkatan dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri.

Indikasi dari terapi psikoedukasi keluarga adalah :


anggota keluarga dengan aspek psikososial dan gangguan jiwa. Terapi ini juga dapat diberikan kepada keluarga yang membutuhkan pembelajaran tentang mental, keluarga yang mempunyai anggota yang sakit mental/ mengalami masalah kesehatan dan keluarga yang ingin mempertahankan kesehatan mentalnya dengan training/ latihan keterampilan.

Edukasi Keluarga :
Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap keadaan pasien. Tujuan edukasi keluarga : a. Keluarga merupakan suatu konteks dimana individu memulai hubungan interpersonal sehingga dapat berperan penting terhadap kesembuhan penyakit anggota keluarganya. b. Keluarga mempengaruhi nilai, kepercayaan, sikap dan perilaku pasien.

c.

Keluarga dapat memberikan rasa kasih sayang, rasa aman, rasa dimiliki, dan menyiapkan peran dewasa individu di dalam masyarakat. d. meningkatkan pencapaian pengetahuan keluarga tentang penyakit, mengajarkan keluarga bagaimana tehnik pengajaran untuk keluarga dalam upaya membantu mereka melindungi keluarganya dengan mengetahui gejala-gejala perilaku dan mendukung kekuatan keluarga (Stuart & Laraia, 2005)

Kebanyakan program pendidikan mempunyai batasan dan didesain terbatas terutama untuk pola pikir dan perilaku dari keluarga. Yang paling penting dari program Psikoedukasi keluarga adalah :

- bertemu keluarga berdasarkan pada kebutuhan dan keluarga member kesempatan untuk bertanya, bertukar pandangan dan bersosialisasi dengan anggota yang lain dan profesi kesehatan mental

ILUSTRASI KASUS
Edukasi keluarga pada sindrom down

Seorang ibu membawa anak laki-lakinya berumur 15 tahun (pasien) ke IGD dan meminta untuk anaknya dirawat karena sudah tidak tahan lagi dengan perilaku anaknya. Pasien merupakan anak tunggal, orangtua pasien bercerai 4 tahun yang lalu. Setelah 1 tahun di SLB pasien dibawa pulang ibunya atas permintaan pasien, serta ibunya merasa bersalah karena anaknya retardasi mental dan tidak mampu merawat anaknya di rumah 6 bulan terakhir ini pasien suka merusak alat rumah tangga, memecahkan piring dan kursi ketika mengamuk, dan pasien juga memukul ibunya di lengan. Sang ibu memamerkan memar tersebut ke dokter, dan mengancam akan melaporkan ke walikota bila RS tidak mau menerima anaknya dirawat.

Pada pemeriksaan ditemukan tanda-tanda khas, termasuk fitur wajah tebal, lidah yang sedikit menonjol, adanya lipatan epicanthic pada kelopak mata dan lipatan symian pada telapak tangan. Dengan bicara yang kurang jelas, si anak bersikeras mengatakan bahwa ia tidak berniat untuk menyakiti siapapun.

Edukasi keluarga pada pasien ini:


1. Menjelaskan bahwa anak dengan sindrom down itu memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya, yaitu kasih sayang dan pengasuhan. 2. Menjelaskan penyakit sindrom down. 3. Memberikan penjelasan tentang kromosan dengan istilah sederhana, mengenai informasi tentang risiko kehamilan berikutnya.

4. Risiko tinggi infeksi, hipotonia, peningkatan kerentanan terhadap infeksi pernafasan dengan:
Ajarkan keluarga tentang teknik cuci tangan yang baik untuk meminimalkan pemajanan pada organisme infektif. Tekankan pentingnya mengganti posisi anak dengan sering, terutama penggunaan postur duduk untuk mencegah penumpukan sekresi dan memudahkan ekspansi paru. Dorong kepatuhan terhadap imunisasi yang dianjurkan untuk mencegah infeksi.

5. Anjurkan aktivitas bermain dan olahraga yang sesuai dengan maturasi fisik anak, ukuran, koordinasi dan ketahanan untuk menghindari cedera. 6. Laporkan dengan segera adanya tandatanda kompresi medula spinalis (nyeri leher menetap, hilangnya keterampilan motorik stabil, dan kontrol kandung kemih/usus, perubahan sensasi) untuk mencegah keterlambatan pengobatan.

7. Kurangnya interaksi sosial anak karena keterbatasan fisik dan mental yang mereka miliki kebutuhan akan sosialisasi terpenuhi.
Memberi kesempatan anak untuk bermain dengan teman sebaya agar anak mudah bersosialisasi. Beri keleluasaan atau kebebasan pada anak untuk berekspresi kemampuan berekspresi diharapkan dapat menggali potensi anak.

8. Memberikan lingkungan yang memadai pada anak mendukung anak untuk berkembang. 9. Memberikan latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa kemampuan berbahasa pada anak akan terlatih. 10. Berikan motivasi pada orangtua dalam memberikan latihan pada anak dalam beraktivitas sehari-hari.

TERIMA KASIH