Anda di halaman 1dari 60

SEMINAR PROPOSAL

Oleh: Adi Pratama K11107060

Makassar, 8 Desember 2011

Latar Belakang

Kolam renang dapat menjadi sumber bahaya Semua jenis bakteri dapat hidup di media air tidak terkecuali di air kolam renang Pertumbuhan bakteri dalam air dipengaruhi oleh substrat, pH dan suhu (Manahan, 2007)

Latar Belakang
Infeksi pada permukaan kulit dan telinga telah dikaitkan dengan kolam renang yang tidak memiliki desinfeksi yang memadai. Infeksi ini muncul dari patogen oportunistik yang umumnya ada dalam air dan tanah (WHO, 2007). Salah satu bakteri yang dapat muncul dalam air kolam renang adalah bakteri Pseudomonas Aerugionosa

Latar Belakang
Pseudomonas aeruginosa berada di mana-mana baik di dalam air, vegetasi dan tanah. Meskipun penyebaran dari manusia yang terinfeksi adalah sumber utama, Pseudomonas aeruginosa juga ada di kolam dan kolam air panas (Jacobson,1985 dalam WHO 2006). Efek kesehatan dasar yang dapat terjadi akibat kehadiran Pseudomondas aeruginosa ialah infeksi pada luka dan luka bakar yang menimbulkan nanah hijau kebiruan, infeksi saluran kemih, infeksi pada saluran napas yang mengakibatkan pneumonia yang disertai nekrosis, otitis eksterna ringan pada perenang dan infeksi mata.

Latar Belakang
Bakteri ini sering berkumpul dalam bentuk biofilm di daerah kolam renang yang tidak terawat, lantai dan genangan air di luar kolam. Bakteri ini juga bisa berasal dari tangan dan kaki perenang pada saat berenang pada suhu udara tinggi misalnya pada saat terik matahari. Unit Penyakit Menular suatu daerah di Inggris pada tahun 2002 mendapat laporan dari Pelayanan Laboratorium Kesehatan Umum setempat bahwa terdapat seorang anak dinyatakan positif Pseudomonas aeruginosa pada kulitnya setelah mendapatkan pemeriksaan. Anak ini pernah mendatangi kolam renang di daerah tersebut dan bermain serta berenang pada kolam renang balon (ditiup), kemudian setelah diperiksakan ke perawat ternyata anak tersebut menderita follikulitis. Selanjutnya setelah melakukan identifikasi dan penelitian ditemukan 35 orang dengan kasus yang sama (Tate et al, 2003).

Latar Belakang
Bahan kimia yang sering digunakan dalam disinfeksi air kolam renang ialah klor/klorin. Biasanya dengan kadar 1,0 part per million (ppm) atau lebih, diatur untuk memastikan kontrol yang efektif terhadap mikroorganisme dan juga untuk memenuhi persyaratan kualitas sanitasi umum air kolam renang. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 416/MENKES/ PER/IX/1990 kadar klor dalam air kolam renang 0,2 - 0,5 Mg/L.

Latar Belakang
Penelitian mengenai keberadaan bakteri Pseudomonas aeruginosa dalam air kolam renang telah banyak dilakukan di luar negeri namun penelitian ini masih jarang dilakukan di Indonesia khususnya di Makassar. Kemudian mengenai kandungan klor dalam air kolam renang juga merupakan hal yang penting dalam mencegah terjadinya penyebaran bakteri patogen namun kadang hal yang penting ini tidak mendapatkan perhatian yang baik oleh pengelola kolam renang dalam pelaksanaannya. Untuk itu peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran bakteriologis Pseudomonas aeruginosa, sisaklor, pH dan suhu di kolam renang Stadion Andi Mattalatta dan kolam renang Unhas di Kota Makassar.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, bisa dirumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut, yaitu: bagaimanakah gambaran bakteriologis Pseudomonas aeuruginosa, sisa klor, pH dan suhu pada Kolam Renang Stadion Andi Mattalatta dan Kolam Renang Unhas Kota Makassar tahun 2011?

Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui gambaran bakteriologis Pseudomonas aeuruginosa, sisa klor, pH dan suhu pada Kolam Renang Stadion Andi Mattalatta dan Kolam Renang Unhas Kota Makassar tahun 2011.

2. Tujuan khusus
a.
b. c. d.

Untuk mengetahui keberadaan bakteri Pseudomonas aeruginosa dalam air kolam renang Stadion Andi Mattalatta dan air kolam renang Unhas. Untuk mengetahui sisa klor dalam air kolam renang Stadion Andi Matttalatta dan air kolam renang Unhas. Untuk mengetahui pH dalam air kolam renang Stadion Andi Matttalatta dan air kolam renang Unhas. Untuk mengetahui suhu air kolam renang Stadion Andi Matttalatta dan air kolam renang Unhas.

Manfaat Penelitian
1. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi instansi pendidikan dan kesehatan dalam menentukan kebijakan.

2. Manfaat keilmuan
Hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu pengetahuan dan sebagai bahan bacaan dan sumber informasi bagi peneliti selanjutnya.

3. Manfaat bagi peneliti


Merupakan suatu pengalaman berharga bagi peneliti dalam memperluas wawasan keilmuan dalam, khususnya tentang keberadaan bakteri Pseudomonas aeruginosa, sisa klor, pH dan suhu dalam air kolam renang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum tentang Kolam Renang


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I Nomor : 061/menkes/Per/I/1991 tentang persyaratan kesehatan kolam renang dan pemandian umum dijelaskan bahwa pengertian kolam renang yaitu suatu usaha bagi umum yang menyebabkan tempat untuk berenang, berekreasi, berolah raga, jasa pelayanan lainnya, menggunakan air bersih yang telah diolah.

Syarat-syarat kolam renang (Jafar, 2003) 1. Kolam renang tersebut lokasinya harus strategis. 2. Tempat kolam renang tersebut harus mempunyai sarana dan prasarana yang memadai 3. Kolam renang tersebut harus mudah mendapat persediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan.

Pembagian Kolam Renang


1. Menurut pembuatannya :
a. Pemandian alam (natural bathing place) b. Pemandian buatan (Artificial swimming Pool)

2. Berdasarkan cara pengisian air kolam :


a. Fill and draw pool b. Flow trough c. Rucyculatory pool

3. Berdasarkan pemakaiannya:
a. Kolam pemandian perorangan (Private Swimming Pool) b. Kolam renang untuk umum (Public Swimming Pool)

Pembagian Kolam Renang

4. Menurut letaknya maka kolam renang:


a. Out door swimming pool b. Indoor swimming pool

Persyaratan Kolam Renang

Peraturan MenKes RI dan Keputusan Direktur Jend PPM dan PLP tentang persyaratan kesehatan kolam renang dan pemandian umum tahun 1992

1. Umum 2. Tata Bangunan 3. Konstruksi Bangunan


a. b. c. d. e. f. g. Lantai Dinding Ventilasi Sistem pencahayaan Atap Langit-langit Pintu

Lanjutan...
4. Kelengkapan Kolam Renang dan Pemandian Umum. 5. Persyaratan Bangunan dan Fasilitas Sanitasi
a. Area untuk kolam renang dan kolam pemandian umum b. Bak cuci kaki untuk kolam renang c. Fasilitas Sanitasi

Menurut Permenkes RI no. 061/1991, kolam renang perlu diperhatikan dari segi :
1. Syarat kualitas fisik:
a. Tidak berbau b. Tidak berwarna c. Bebas benda terapung d. Suhu dibawah temperatur sekelilingnya

2. Syarat Mikrobiologi:
a. Angka kuman untuk 1 cc air kurang dari 100 b. Bakteri E. Coli per 100 ml air harus nol

3. Syarat Kimia:
a. pH air : 6,5 8,5 b. Sisa klor : 0,2 0,5 ppm c. Al : 0,2 ppm d. CaCo3 : 50 500 ppm

Lanjutan... 1. Pengolahan air kolam renang


a. Penjernihan dengan cara koagulasi dengan menggunakan
1. 2. 3. 4. Al2 (SO4)3 Ca CO3 Na2CO3 CuSO4

b. Membersihkan dengan mengunakan


1. Gas Klor (Cl2) : 100 % 2. Kaporit Cl2(Ocl)3

Menteri Kesehatan R.I no :

416/MENKES/PER/IX/1990, tanggal : 03 September 1990 tentang persyaratan kualitas air kolam renang yakni dijelaskan pada tabel berikut:

1. Fisika: Bebas dari bau, benda terapung dan tidak berwarna. 2. Kimia:
a. b. c. d. e. f. Aluminium: 0 - 0,2 mg/L Kesadahan (CaCO3) : 50 500 mg/L Oksigen terabsorbsi (O2): 0 1,0 mg/L pH: 6,5 8,5 Sisa Klor: 0,2 0,5 mg/L Tembaga Sebagai Cu: 0 1,5 mg/L

3. Mikrobiologik
a. Koliform total: 0/100 ml b. Jumlah kuman Mangan: 0 200/100 ml

Hubungan air dengan kesehatan


1. Adanya phatogenic organisme di dalam air.
a. b. c. a. b. c. d. e. f. Bakteri (virus kolera, Salmonella typhi, Shighella dysentriae, Salmonella paratyphi, Pseudomonas aeruginosa,dll) Protozea ( Entoniseba histolitica, Amebic dysentri, dll) Virus (Infectius hepatitis, dll) Actinomycetes Algae Coliform Bacteri Fecal streptococci Iron Bacteria Free Living Worms

2. Adanya non-phatogenic organisme

Tinjauan umum Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa merupakan sel Gram negatif, aerob, dan bergerak menggunakan flagel. Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen utama bagi manusia. Bakteri ini kadang-kadang mengkoloni pada manusia dan menimbulkan infeksi apabila fungsi pertahanan inang abnormal. Bakteri ini dapat juga tinggal pada manusia yang normal dan berlaku sebagai saprofit pada usus normal dan pada kulit manusia (Ketchum, 1998;Todar, 2004 dalam Rostinawati, 2009).

Klasifikasi
Pseudomonas aeruginosa memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Divisi : Protophyta Class : Schizomycetes Ordo : Pseudomonadales Sub Ordo : Pseudomonadinae Familia : Pseudomonadaceae Genus : Pseudomonas Species : Pseudomonas aeruginosa (Holti et al., 1994 dalam Rostinawati, 2009).

Karakteristik Pseudomonas aeruginosa adalah batang Gramnegatif berukuran 0,5-0,8 pM oleh 1,5-3,0 pM. Hampir semua strain motil dengan menggunakan satu flagel kutub tunggal.

Patogenesis
Pseudomonas aeruginosa menjadi patogenik hanya jika berada pada tempat dengan daya tahan tidak normal, misalnya di selaput lendir dan kulit yang rusak akibat kerusakan jaringan. Bakteri menempel dan menyerang selaput lendir atau kulit, menyebar dari tempat tersebut, dan berakibat penyakit sistemik. Proses ini dipercepat oleh pili, enzim, dan toksin (Brooks, 2005).

Penyakit Yang Ditimbulkan


Pseudomonas aeruginosa menimbulkan berbagai penyakit diantaranya yaitu :
Infeksi pada luka dan luka bakar menimbulkan nanah hijau kebiruan Infeksi saluran kemih. Infeksi pada saluran napas mengakibatkan pneumonia yang disertai nekrosis. Otitis eksterna ringan pada perenang Infeksi mata

Penyebaran
Pseudomonas aeruginosa dapat dijumpai di banyak tempat di rumah sakit; desinfektan, alat bantu pernafasan, makanan, saluran pembuangan air dan kain pel. Penyebaran Pseudomonas aeruginosa melalui aliran udara, air, tangan tercemar, penanganan dan alat-alat yang tidak steril di rumah sakit. Selain itu, dapat juga lewat hewan (lalat, nyamuk, dsb) yang telah tercemar. Pseudomonas aeruginosa menyebabkan kontaminasi pada perlengkapan anestesi dan terapi pernafasan, cairan intravena, bahkan air hasil proses penyulingan.

Penularan Pseudomonas aeruginosa akan keluar dari sumbernya, mengalami penyebaran dan mempunyai gerbang masuk bagi inang yang rentan. Pseudomonas aeruginosa akan keluar dari saluran yang telah diinfeksinya. Apabila menginfeksi pada saluran pernapasan maka akan meninggalkan saluran tersebut dan berpindah pada inang rentan yang lain.

Gejala 1. Infeksi pada luka atau luka bakar, ditandai dengan nanah biru-hijau dan bau manis seperti anggur. Infeksi ini sering menyebabkan daerah ruam berwarna hitam keunguan dengan diameter sekitar 1 cm, dengan koreng di tengahnya yang dikelilingi daerah kemerahan dan pembengkakan. Ruam ini sering timbul di ketiak dan lipat paha. Hal ini dapat juga dialami oleh penderita kanker.

Gejala
2. Infeksi saluran kemih, biasanya kronis dan terjadi pada orang tua. 3. Pneumonia, pada fibrosis kistik mungkin terjadi kolonisasi kuman strain yang berlendir pada paru-paru. Infeksi paru-paru pada penderita bila menghirup Pseudomonas aeruginosa dalam jumlah besar pada alat bantu pernafasan yang tercemar. Sering menyebabkan gangguan mental, renjatan septik gram negatif dan sianosis yang semakin berat.

Gejala

4. Otitis eksterna maligna, suatu infeksi telinga, bisa menyebabkan nyeri telinga hebat dan kerusakan saraf dan sering terjadi pada penderita kencing manis. 5. Infeksi mata, Pseudomonas bisa menyebabkan koreng pada mata, mencemari lensa mata dan cairan lensa.

Desinfeksi Dengan Senyawa Klor (Chlorine)


Gas klor (Cl2) bila dimasukkan ke dalam air akan terhidrolisa, seperti persamaan berikut : Cl2 + H2 O 4 HOCI + H+ + Cl" Gas Klor Asam Hipoklorit Asam hipoklorit berdisosiasi dalam air, seperti persamaan berikut : HOCI 4 H+ + OCI" Asam hipoklorit Ion Hypoklorit

Secara garis besar proses berjalannya klorinasi dalam pemusnahan mikroorganisme bisa diuraikan sebagai berikut (Rohim, 2006) :

1. Adanya reaksi kimia dan pelepasan ion senyawa klor dalam air 2. Terjadinya kerusakan dinding sel mikroorganisme. 3. Permeabilitas sel mikroorganisme terganggu. 4. Kerusakan molekul protein dan asam nukleat. 5. Aktivasi enzim terhambat. 6. Sintesa asam nukleat terhambat. 7. Sel menjadi pecah dan musnah.

Peranan pH (power of Hidrogen) pada klorinasi


1. Definisi pH: PH adalah merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa sesuatu larutan. Ia merupakan juga satu cara untuk menyatakan konsentrasi ion H+. 2. PH normal memiliki nilai 7 sementara bila nilai pH > 7 menunjukkan zat tersebut memiliki sifat basa sedangkan nilai pH< 7 menunjukkan keasaman. pH 0 menunjukkan derajat keasaman yang tinggi, dan pH 14 menunjukkan derajat kebasaan tertinggi.

Peranan pH... 1. Pada pH rendah (asam) akan menghasilkan asam hipoklorit (HOCl) sedangkan dalam keadaan basa akan menghasilkan ion hipoklorit (OCl) 2. Daya bunuh HOCl lebih kuat daripada OCl, (40-80 kali lebih besar) sehingga klorinasi akan lebih efektif pada pH di bawah 7,2 (Rohim, 2006)

Tinjauan Umum Suhu Suhu adalah besaran fisika yang menyatakan derajat panas suatu benda. Alat ukur untuk mengetahui suhu suatu benda adalah termometer. Beberapa termometer yang menggunakan air raksa adalah termometer berskala Celcius, Reamur dan Fahrenheit (Anonim, 2011).

Sumber Panas
1. Panas dari alam
a. b. Dari cahaya matahari Panas Bumi

2. Panas Buatan Manusia


a. b. c. d. e. f. g. Panas dari proses mekanik Panas dari magnet Panas dari bunyi Panas dari gelombang mikro Panas dari listrik Panas dari radiasi nuklir Panas dari cahaya lampu

Suhu Tubuh Manusia 36o 37o C (normal) 38o (sub febril) 39o (febril/panas) 40o ke atas (kritis)

Penggolongan bakteri berdasarkan suhu lingkungannya 1. Psychrophilic: bakteri yang hanya dapat bertahan pada suhu dibawah 200C 2. Mesofilik: bakteri yang hanya dapat bertahan pada suhu diantara 200C dan 400C 3. Termofilik: Bakteri yang memiliki suhu optimal diatas 45oC.

BAB III KERANGKA KONSEP


1. Kolam renang merupakan tempat yang memiliki manfaat yang besar namun juga dapat membawa efek negatif bagi kesehatan manusia. 2. Efeksifitas desinfektan dalam membunuh bakteri patogen pada kolam renang sangat dipengaruhi oleh pH air dimana desinfeksi akan sangat efektif jika pH berada dibawah 7,2 3. Suhu juga memiliki andil dalam penyebaran bakteri Pseudomonas aeruginosa di kolam renang

Berdasarkan penjelasan di atas, maka pola pikir dari variabel yang diteliti dapat digambarkan sebagai berikut:

pH
Kualitas Air Kolam Renang Stadion Andi Mattalatta dan Air Kolam Renang Unhas

Suhu

Sisa klor
Bakteri Pseudomonas aeruginosa

Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Air kolam renang adalah air yang terdapat dalam bak kolam renang pemandian pada kolam renang Stadion Andi Matalatta dan kolam renang Unhas. 2. Bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri aerobik gram negatif yang terlihat pada hasil laboratorium pada pengujian sampel air kolam renang Stadion Andi Matalatta dan kolam renang Unhas. Kriteria Objektif :
a.

b.

Memenuhi syarat apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tidak terdapat bakteri Pseudomonas aeruginosa Tidak memenuhi syarat apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan terdapat bakteri Pseudomonas aeruginosa

Lanjutan... 3. Sisa klor adalah kadar klor dalam sampel air kolam renang Stadion Andi Matalatta dan air kolam renang Unhas Kriteria Objektif :
a. Memenuhi syarat apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar sisa klor berada antara 0,2 - 0,5 Mg b. Tidak memenuhi syarat apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar sisa kolor tidak berada antara 0,2 - 0,5 Mg

Lanjutan...
4. pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh air kolam renang stadion Andi Mattalatta dan air kolam renang Unhas. Kriteria Objektif :
a. Memenuhi syarat apabila keseimbangan pH (derajat keasaman) sesuai dengan Permenkes No. 416/ Menkes/ Per/ IX/ 1990 Tanggal: 3 September 1990 tentang persyaratan air kolam renang yaitu: 6,5-8,5. b. Tidak memenuhi syarat apabila keseimbangan pH (derajat keasaman) tidak sesuai dengan Permenkes No. 416/ Menkes/ Per/ IX/ 1990 Tanggal: 3 September 1990 tentang persyaratan air kolam renang yaitu: 6,5-8,5.

Lanjutan... 5. Suhu adalah derajat panas pada sampel air kolam renang Stadion Andi Mattalatta dan air kolam renang Unhas. Kriteria Objektif :
a. Memenuhi syarat apabila hasil pemeriksaan menunjukkan suhu air di atas 420 C. b. Tidak memenuhi syarat apabila hasil pemeriksaan menunjukkan suhu air di atas 420 C.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan bakteri Pseudomonas aeruginosa, sisa klor, pH dan suhu dalam air kolam renang dan menjelaskan keterkaitan faktor-faktor lingkungan terdahap keberadaan bakteri tersebut.

Lanjutan... Lokasi penelitian dilakukan di dua kolam renang di Makassar yaitu kolam renang Unhas dan kolam renang Stadion Andi Matalatta dan untuk analisis dari segi bakteriologis dilaksanakan di laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 Januari 2012.

Kolam renang Andi Mattalatta 1. 2. 3. 4. Letak Keadaan lingkungan Sumber Air Karakteristik Pengunjung

Kolam renang Andi Mattalatta

Letak
1 2

Keadaan lingkungan

Sumber Air

Karakteristik Pengunjung

Kolam renang Unhas

Letak
1 2

Keadaan lingkungan

Sumber Air

Karakteristik Pengunjung

Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah air Kolam Renang Stadion Andi Matalatta dan air Kolam Renang Unhas.

2. Sampel
Pengambilan sampel dilakukan sebanyak dua kali yaitu setelah pengurasan (sebelum pemakaian) dan pada saat pemakaian (hari libur). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode composite sampling (sampel gabungan).

Lokasi pengambilan sampel

Lanjutan...

Alat, Bahan dan Cara Kerja


1. Pengambilan sampel
Cara pengambilan sampel air kolam renang : Siapkan botol/ wadah yang telah disterilkan sebelumnya Ambil air sebanyak 1000 ml dengan cara membenamkan botol/jerigen steril kedalam penampungan air. (mulut botol atau jerigen menghadap kepermukaan air). Tambahkan natrium thiosulfat sebanyak 100 mg untuk menetralisir klor dari 1000 ml sampel air. Sterilkan tutup botol dengan alkohol 70 %. Tutup mulut botol hingga rapat untuk mencegah adanya kontaminasi. Pasang label nama/kode, nomor, lokasi sumber air, tanggal dan jam pengambilan.

Pemeriksaan sampel

1. Pemeriksaan Pseudomonas aeruginosa


Penanaman pada media Braint Hert Infision ( BHI ) Pembiakan pada media Mac Conkey Agar Pengecatan Gram

Lanjutan...
2. Pemeriksaan derajat keasaman (pH)
Siapkan 2 buah tabung cuvet. Kedua cuvet dibilas dengan aquades kemudian dibilas kembali dengan air sampel. Selanjutnya, sampel dimasukkan menggunakan pipet ukur kedalam kedua cuvet sebanyak masing-masing 5 ml. Indicator solutionditambahkankedalam cuvet1 sebanyak 6 tetes dan dihomogenkan sampai berubah warna menajdi hijau. Sedangkan, cuvet 2 sebagai kontrol. Selanjutnya, kedua cuvet dimasukkan kedalam komparator. Cuvet yang berisi sampel yang ditambahkan indicator solution di taruh di sebelah kanan. Putar colour disk hingga didapatkan warna yang sama. Kemudian hasil analisa dicatat.

Lanjutan... 3. Pemeriksaan sisa Klor


Untuk pemeriksaan sisa klor air bersih digunakan alat yaitu spektrofotometer, alat ini mempunyai tabung untuk diisi air bersih yang telah diklorinasi dengan dosis yang telah ditentukan, setiap pengujian sisa klor pada masing-masing dosis dilakukan penetralan nilai klor dengan menggunakan tabung yang berisi air aquades, hasil sisa klor sesuai yang tertera pada layar spektrofotometer.

Lanjutan... 4. Pemeriksaan suhu


Pemeriksaan suhu dilakukan di lokasi pengambilan sampel dengan menggunakan termometer yang dicelupkan kedalam air kemudian dicatat suhu yang tertera pada alat.

Pengumpulan Data Data primer diperoleh berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium kesehatan pada masing-masing sampel air.

Penyajian Data
Data yang telah diolah dan dianalisakan disajikan dengan menggunakan tabel dan diuraikan dalam bentuk narasi.