Anda di halaman 1dari 99

PEMERIKSAAN OBSTETRI DAN ASUHANANTENATAL

By. Sherly Amelia.S.kep

ASUHAN ANTENATAL
Program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan.

Pelayanan antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional untuk ibu selama masa kehamilannya, standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.

Tujuan 1. menjaga agar ibu sehat selama masa kehamilan, persalinan dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat. 2. memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan, dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi. 3. menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal.

Melindungi jaringan sekitarnya seperti jaringan otak. Mempertahankan tekanan osmotik normal tubuh. Komposisi utama dari darah. Membantu reaksi kimia (metabolime).

Cairan Tubuh : - Air - Zat terlarut Zat terlarut : Elektrolit = Zat kimia yg menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yg disebut ion jika berada dalam larutan. Non elektrolit = Tidak Terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik.

Non Elektrolit :
Protein Urea Glukosa Oksigen Karbon dioksida Asam-asam organik

Elektrolit :
Natrium (Na+) Kalium (K+) Kalsium (Ca+) Magnesium (Mg+) Chlorida (Cl-) Bikarbonat (HCO3-) Fosfat (HPO4-) Sulfat (SO4-)

Persentase Cairan Tubuh seseorang tergantung kepada : o Usia o Jenis kelamin o Derajat obesitas seseorang.

Komposisi Cairan Tubuh Pada : Pria = 60%BB Wanita = 50%BB Obesitas = 40%BB Atlit = 70%BB Bayi = 75%BB

Total Cairan Tubuh (60%BB)

Cairan Intraselluler (40%BB)

Cairan Ekstraselluler (20%BB)

Plasma darah (5%BB)

Cairan Interstisial (15%BB)

Cairan Transelluler (1-2 liter)=Cairan Sinovial,Peritoneum, Perikardial,Intrakardial,Serebrospinal.

70 kg man

Untuk mempertahankan keadaan homeostasis cairan diatur oleh:


Asupan Cairan Pengaturan hormonal Pengeluaran cairan

CAIRAN TUBUH
ASUPAN : Makanan & minuman=2200ml Hasil metabolisme dlm tubuh=300ml Total =2500ml PENGELUARAN: Keringat=100ml Feses=100ml Urine=1400ml Insensible water loss;mel evaporasi tract.resp.&difusi kulit=900ml Total =2500ml

Asupan Cairan = Pengeluaran Cairan

Water Intake and Output

Figure 26.4
Copyright 2004 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Regulation of Water Intake

The hypothalamic thirst center is stimulated:


By a decline in plasma volume of 10%15% By increases in plasma osmolality of 12% Via baroreceptor input, angiotensin II, and other stimuli

Copyright 2004 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Regulation of Water Intake

Thirst is quenched as soon as we begin to drink water Feedback signals that inhibit the thirst centers include:
Moistening of the mucosa of the mouth and throat Activation of stomach and intestinal stretch receptors

Copyright 2004 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Regulation of Water Intake: Thirst Mechanism

Figure 26.5
Copyright 2004 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Pengeluaran Cairan diatur oleh:


Ginjal Organ utama pengatur cairan, menerima sekitar 180 liter darah/hari untuk disaring. Menghasilkan 1200-1500 cc urine.

Kulit Mengatur cairan melalui sistem saraf simpatisMengaktifkan kelenjar keringatInsensible atau Sensible water loss Pernafasan Saluran pencernaan:

Pengaturan Hormonal
ADH Terdapat di bagian posterior kelenjar hipotahlamus. Disekresikan sebagai respon thd perubahan osmolaritas darah. Permeabilitas renal tubule dan collecting duct air kembali ke sirkulasi sistemikdilusi darahUrine

EXCESS H O INGESTED 2 BODY H2O CONCENTRATION ( BODY FLUID OSMOLALITY) FIRING BY HYPOTHALAMIC OSMORECEPTORS ADH SECRETION PLASMA ADH H2O REABSORPTION

H2O DEFICIT BODY H2O CONCENTRATION ( BODY FLUID OSMOLALITY) FIRING BY HYPOTHALAMIC OSMORECEPTORS ADH SECRETION PLASMA ADH H2O REABSORPTION

H2O EXCRETION

H2O EXCRETION

Mechanisms and Consequences of ADH Release

Figure 26.6
Copyright 2004 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Aldosterone Disekresikan oleh adrenal cortex sbg respon thd peningkatan kalium plasma atau sbg bagian dari mekanisme renin-angiotensin- aldosteron Meningkatkan reabsorpsi air dan Na di tubulus distal & ekskresi ion K & Hidrogen.

Regulation of Sodium Balance: Aldosterone

Copyright 2004 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Figure 26.8

Renin Disekresikan oleh ginjal sbg respon thd penurunan perfusi ginjal. angiotensin Ivasokonstriksi. angiotensin IIvasokonstriksi stimulasi pengeluaran aldosterone dgn rendah sodium.

Komposisi Elektrolit dalam Cairan Tubuh


Kation :
Extracellular = Na+ Intracellular = K+ Anion : Ekstracellular = Cl- & HCO3 Intracellular = protein, as.amino &fosfat

Electrolyte Composition of Body Fluids

Copyright 2004 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Figure 26.2

Plasma

Interstitial Fluid

Intracellular Fluid

Nilai Normal
ECF (Na+)=135 - 145 mEq/l. ECF (K+) = 3,5 5 mEq/l. ECF (Ca2+) = 2,0 2,5 mEq/l.
Osmolalitas = 280 295 mOsm/kg.

Hiponatremia =
bila konsentrasi Natrium < 135 mEq/l. Hipernatremia = bila konsentrasi Natrium > 145 mEq/l.

Penyebab Hiponatremia
Kelebihan air atau kehilangan Natrium; 1. Berkeringat, diare & muntah-muntah. 2. Penggunaan diuretik berlebihan. 3. Peny. Addison (ok penurunan sekresi Aldosteron) shg reabsorbsi Na+ menurun. 4. Overhidrasi hipoosmotik (ok sekresi ADH berlebihan).

Sign & Simptom :


Perubahan kepribadian. Hipotensi postural. Pusing perubahan posisi. Kramp abdomen. Diare. Takikardi, kejang & koma.

Penyebab Hipernatremia
Kehilangan air atau kelebihan Na+. 1. ADH tidak disekresi urin >> (Diabetes insipidus). 1. Ginjal tidak merespon ADH diabetes insipidus nefrogenik. 2. Dehidrasi ok exercise >> & keringat >>. 3. Penambahan NaCl >> pd overhidrasi hipoosmotik.

4. Sekresi Aldosteron >> retensi Na &


air.

Sign & simptom :


Haus Kering Kulit flushing & kering Lidah kotor & mucous membrane

Perpindahan Cairan Tubuh & Elektolit


Ca, zat gizi, cairan & elektrolit diangkut ke

paru-paru dan saluran cerna IVF sistem sirkulasi. IVF & zat-zat terlarut didalamnya secara cepat saling bertukaran dengan ISF melalui membran kapiler semipermeabel. ISF & zat-zat yg ada didalamnya saling bertukaran dgn ICF melalui membran sel yang permeabel selektif.

Perpindahan zat tersbut melalui mekanisme :


Transportasi aktif ; perlu energi ok

melawan perbedaan konsentrasi dan/ muatan listrik. Transportasi pasif ; tidak perlu energi, termasuk diantaranya Difusi dan Osmosis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi


Permeabilitas membran Konsentrasi Potensial listrik Perbedaan tekanan

Difusi : Zat terlarut berpindah dari daerah

dengan konsentrasi lebih tinggi ke daerah dengan konsentrasi lebih rendah sampai terjadi keseimbangan konsentrasi pada kedua sisi membran.

Partikel bermuatan positif cenderung

berpindah ke sisi membran sel yang bermuatan negatif (biasanya didalam sel), dan sebaliknya partikel bermuatan positif cenderung berpindah ke sisi positif (biasanya diluar sel), dalam usahanya untuk mencapai keseimbangan muatan listrik dan karena daya tarik muatan yang berlawanan potensi elektrokimiawi.

Transportasi aktif : perpindahan zat

terlarut melalui membran sel melawan perbedaan konsentrasi dan atau muatan listrik sehingga memerlukan energi. Na-K pump (ATPase sistem). ATPase memompa 3 molekul ion Na keluar dari sel untuk ditukar dengan 2 molekul ion K dan butuh 1 molekul ATP.

Membran sel istirahat bersifat permeabel

selektif thd K dan cukup impermeabel terhadap Na.

Perpindahan air dikendalikan oleh 2 kekuatan :


Tekanan Osmotik : Daya dorong air yang

dihasilkan oleh partikel-partikel zat terlarut didalamnya. Tekanan Hidrostatik : Daya tahan cairan yang menahan difusi air ke arahnya. Osmolalitas:Jumlah osmol per kg larutan (mOsmol/kg) Osmolaritas:Jumlah osmol per liter larutan (mOsmol/liter)

Keseimbangan Osmotik Antara Cairan Ekstraseluler & Intraselluler


Tergantung kepada Membran sel yang bersifat sangat permeabel terhadap air tapi relatif impermeabel terhadap ion.

Osmosis=Besarnya difusi cairan dari tempat yang konsentrasi airnya tinggi ke tempat yang konsentrasi airnya lebih rendah. Kecepatan difusi cairan Kecepatan Osmosis

Satu osmol (Osm)=1mol (6,02x1023)partikel zat terlarut. Jlh partikel zat terlarut sec osmotik dalam suatu larutan. Paling sering dipakai miliosmol(mOsm). 1mOsm=1/1000 osmol. Osmolalitas=osmol per kilogram air Osmolaritas=osmol per liter satuan

Tekanan Osmotik
Adalah besar tekanan yang melawan arah osmosis air semakin tinggi tekanan osmotik suatu larutan, konsentrasi air semakin rendah tapi konsentrasi zat terlarut semakin tinggi. Osmolaritas cairan tubuh = 300 mOsm/liter Tek osmotik total cairan tbh=5443mmHg.

Cairan Isotonik
Jika konsentrasi air dalam cairan intraseluler&ekstraseluler sama, shg zat terlarut tidak dapat masuk atau keluar dari sel dan sel tidak akan mengkerut atau membengkak. Cth : NaCl 0,9% atau Glukosa5%.

Cairan Hipotonik
Jika konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih rendah (<280mOsm liter) shg air akan berdifusi ke dalam sel dan sel membengkak.

Cairan Hipertonik
Jika konsentrasi zat terlarut lebih tinggi sehingga air keluar dari sel dan sel mengkerut.

KESEIMBANGAN ASAM BASA


Asam adalah sekelompok zat yang mengandung hidrogen yang mengalami disosiasi, atau terpisah (terurai), apabila berada dalam larutan untuk menghasilkan H+ bebas.

Asam kuat memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami disosiasi di dalam larutan daripada asam lemah, persentase molekul asam kuat yang terurai menjadi H+ bebas lebih besar.

Contoh : Asam kuat : HCl H+ + Cl Asam lemah : H2CO3 H+ + HCO3-

Basa adalah bahan yang dapat berikatan dengan H+ bebas.

pH arteri = 7,45 & pH vena = 7,45 Rata-rata = 7,4.

Asidosis = pH < 7,35 Alkalosis = pH > 7,45

Konsenkuensi fluktuasi (H+) yang menonjol sbb :


1. Perubahan pada eksitabilitas sel saraf & otot. Asidosis : Penekanan SSP disorientasi. Alkalosis : Eksitabilitas berlebihan sistem saraf, mula2 sistem saraf perifer Sistem saraf pusat.

Contoh : Sensasi geli seperti disentuh jarum & peniti, kedutan otot, spasme otot; kegelisahan (kegugupan) berlebihan.

2. Berpengaruh pada aktivitas enzim. 3. Mempengaruhi kadar K+ didalam darah. D imana pada saat terbentuk filtrat, maka akan dilanjutkan reabsorpsi Na+ dari filtrat tersebut di tubulus ginjal, dengan menukarnya dengan mengeluarkan K+ atau H+.

Dalam keadaan normal, sel-sel tubulus ginjal lebih banyak mengeluarkan K+ daripada H+. Oleh karena hubungan erat antara sekresi H+ & K+ oleh ginjal, maka peningkatan kecepatan sekresi salah satu ion akan disertai penurunan kecepatan sekresi ion yang lain.

Contoh : Apabila H+ lebih banyak dikeluarkan oleh ginjal (asidosis), maka ekskresi K+ lebih rendah daripada biasanya retensi K+ sehingga dapat mempengaruhi fungsi jantung.

1. Pembentuk asam karbonat. 2. Asam anorganik yang dihasilkan selama penggunaan nutrien. Cth : asam fosfat. 3. Asam organik yang dihasilkan metabolisme. Cth : asam lemak & asam laktat.

Sumber H+ yang dikembalikan secara terus menerus ke cairan tubuh (keadaan normal)

3 lini pertahanan yang mengatasi setiap perubahan konsentrasi H+


1. Sistem penyangga (dapar) kimiawi. 2. Mekanisme kontrol pH oleh sistem pernafasan. 3. Mekanisme kontrol pH oleh ginjal.

Sistem Penyangga Kimiawi


Adalah campuran 2 (atau mungkin lebih) senyawa kimia dalam larutan yang memperkecil perubahan pH jika terjadi penambahan atau pengurangan asam atau basa ke/dari larutan tersebut.

Terdiri dari sepasang bahan yang terlibat dalam reaksi reversibel, satu bahan yang dapat menghasilkan H+ bebas ketika [H+] mulai turun, dan bahan lain yang dapat berikatan dengan H+ apabila [H+] mulai naik.

1.

Sistem penyangga H2CO3 ; HCO3- (asam karbonat, bikarbonat). 2. Sistem penyangga protein. 3. Sistem penyangga hemoglobin. 4. Sistem penyangga fosfat.

Sistem penyangga H2CO3 ; HCO3Merupakan sistem penyangga CES yang efektif ok :

1. H2CO3 ; HCO3- banyak terdapat di CES, sehingga sistem ini cepat bekerja untuk menahan perubahan pH. 2. Setiap komponen penyangga ini diatur secara ketat.

Ginjal mengatur HCO3-, sementara sistem pernafasan mengatur CO2 , yang menghasilkan H2CO3 .

H++ HCO3 H2CO3 CO2 + H2O pH = pK + log [HCO ] / [H CO ] pH = pK + log [HCO ] / [CO ] 2
3 2 3 3

Rasio [HCO3-] / didalam CES)

[CO2 ] = 20 : 1 (Normal [CO2 ]

pH = pK + log [HCO3-] /

pH = pK + log 20/1 pH = 6,1 + 1,3 pH = 7,4 (pH plasma normal)

pH ~ [HCO3-]

yang dikontrol ginjal

[CO2 ] yang dikontrol sist. respirasi

Sistem penyangga protein


Merupakan sistem penyangga paling banyak di cairan tubuh termasuk protein intrasel & protein plasma.

Sistem penyangga hemoglobin


Hb menyangga H+ yang dibentuk dari CO2 hasil metabolisme. Dimana Hb tereduksi (tidak teroksigenasi) memiliki afinitas yang lebih besar terhadap H+ daripada HbO2. H+ + Hb

HHb

Sistem penyangga fosfat


Garam fosfat asam (NaH2PO4) yang dapat memberikan sebuah H+ bebas jika [H+] turun. Garam fosfat basa (Na2HPO4) yang dapat menerima H+ jika [H+] naik. Na2HPO4 + H+

Na2HPO4 + Na

Berfungsi sebagai penyangga urin yang baik Kelebihan fosfat yang difiltrasi tidak direabsorbsi, tetapi tetap didalam cairan tubulus untuk diekskresikan, sehingga fosfat tersebut menyangga urin pada saat urin sedang dibentuk dengan menarik H+ yang diekskresikan.

Sistem pernafasan
Mengatur konsentrasi ion hidrogen dengan mengontrol kecepatan pengeluaran CO2 dari plasma melalui penyesuaian ventilasi paru. Jika [H+] arteri meningkat, pusat pernafasan di batang otak secara refleks terangsang, untuk meningkatkan ventilasi paru.

Ginjal
Berperan penting mengontrol keseimbangan asam basa dengan mengontrol konsentrasi ion hidrogen & bikarbonat dalam darah. Ginjal memerlukan waktu beberapa jam sampai hari untuk mengkompensasi perubahan ph cairan tubuh, dibandingkan dengan sistem penyangga kimiawi yang segera dan sistem pernfasan yang memerlukan waktu beberapa menit.

Ginjal mengontrol ph cairan tubuh dengan menyesaikan 3 faktor yang saling berkaitan : 1. Ekskresi H+ 2. Ekskresi HCO3 3. Sekresi ammonia (NH3)

Ekskresi HCO3[HCO ] plasma melalui 2 mekanisme yang saling berkaitan : 1. Reabsorpsi HCO yang difiltrasi kembali
Ginjal mengatur
3

ke plasma. 2. Penambahan HCO3- baru ke plasma.

Setiap kali sebuah H+ disekresikan ke dalam cairan tubulus, secara simultan sebuah HCO3dipindahkan ke dalam plasma kapiler peritubulus. Apabila [H+] plasma meningkat diatas normal, selama asidosis ginjal melakukan kompensasi sebagai berikut:

1.

Meningkatkan sekresi dan kemudian ekskresi H+ di urin, sehingga kelebihan H+ dapat dieliminasi dan [H+] di plasma menurun. 2. Mereabsorpsi semua [HCO3-] yang difiltrasi, disertai penambahan HCO3- baru ke plasma, sehingga [HCO3-] plasma meningkat.

1.

Jika [H+] plasma menurun dibawah normal selama alkalosis, ginjal berespons dengan melakukan hal-hal sebagai berikut : Menurunkan sekresi dan kemudian ekskresi H+ di urin, sehinga terjadi penghematan H+ dan peningkatan [H+] di plasma.

2. Reabsorpsi tidak menyeluruh (inkomplit) HCO3yang difiltrasi dan peningkatan ekskresi HCO3, sehingga [HCO3-] plasma menurun.

Untuk mengkompensasi asidosis, ginjal mengasamkan urin (dengan membuang kelebihan H+) dan membasakan plasma (dengan menyimpan HCO3-). Untuk mengkompensasi alkalosis, ginjal membuat urin lebih basa.

Sekresi ammonia
Ada 2 penyangga urin yang penting : 1. Penyangga fosfat (yang difiltrasi) 2. Ammonia (NH3) yang disekresi. NH3 + H+

NH4

Ketidakseimbangan Asam Basa


Asidosis respiratorik : memiliki rasio kurang dari 20/1 yang terjadi akibat peningkatan [CO2]. Alkalosis respiratorik : memiliki rasio lebih besar dari 20/1 yang terjadi akibat penurunan [CO2].

Asidosis metabolik : memiliki rasio kurang dari 20/1 yang berkaitan dengan penurunan [HCO3-] . Alakalosis metabolik : memiliki rasio lebih besar dari 20/1 yang terjadi akibat peningkatan [HCO3-] .

Asidosis Respiratorik
Akibat retensi CO2 yang berlebihan oleh hiperkapnia. Penyebab : Penyakit paru Penekanan pusat pernafasan Gangguan saraf atu otot pernafasan

Tindakan kompensasi : Mekanisme pernafasan tidak mampu berespons dengan meningkatkan ventilasi karena gangguan aktivitas pernafsanlah yang menjadi penyebab. Sehingga ginjal mengkompensasi asidosis respiratorik dengan cara menghemat semua HCO3- yang difiltrasi

Dan menambahkan HCO3- baru ke plasma sementara secara simultan mensekresikan dan mengekskresikan lebih banyak H+.

Alkalosis respiratorik
Pengeluaran berlebihan CO2 dari tubuh akibat hiperventilasi. Penyebab : Demam, rasa cemas, keracunan aspirin yang semuanya merangsang ventilasi secara berlebihan tanpa memperhitungkan status O2, CO2, atau H+ didalam cairan tubuh.

Asidosis metabolik = asidosis non respiratorik


Semua jenis asidosis selain yang disebabkan oleh kelebihan CO2 dalam cairan tubuh. Penyebab : 1. Diare berat. 2. Diabetes mellitus pembentukan asam-asam keton dari metabolisme lemak.

3. 1.

Olahraga berlebihan glikolisis anaerobik asam laktat meningkat. Asidosis uremik : gagal ginjal berat (uremia) :

Alkalosis metabolik
Reduksi [H+] plasma yang disebabkan defisiensi relatif asam-asam non karbonat. Penyebab : 1. Muntah 2. Ingesti obat-obat alkali, baking soda (NaHCO3)