Anda di halaman 1dari 109

Nama H. MASRIJAL, Amd, SH.

MKn,MH
Nomor HP 081268680909 Tempat Tgl/Lahir Tanjung Balit, 10 Juni 1971 Alamat Jl.Tengku Bey Perum VillaAnggrek No 13, Simpangtiga Pekanbaru. Kantor JL. TuankuTambusai/Nangka No. 34A, Pekanbaru

HUKUM PERBANKAN

BAHAN BUKU AJAR SISTEM LEMBAGA KEUANGAN DAN PERBANKAN (FINANCIAL AND BANKING SYSTEM).

Sejarah Perbankan Dunia Sejak dikeluarkan uang sebagai alat tukar yang resmi maka mulai dikenal dengan system keuangan/monetary atau currencies system. Satu persatu dikenal system pendanaan dan perbankan. Sistem Pendanaan pada 2000 SM di Babilonia (Temples of Babilonia) sedangkan tercatat sebagai perbankan pertama adalah Pada Eropa Selatan pada tahun 1117 telah berdiri Bank Of Genoa, kemudian menyusul di beberapa Negara di Eropa.Munculnya teori-teori jitu oleh Adam Smith dan David Hume mengakibatkan maraknya perkembangan perbankan di belahan dunia. Disertai oleh Amerika Serikat yang pada waktu itu merupakan bagian dari Koloni Inggris dibentuk The First United State Bank 1791.

Keinginan dari Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1920 untuk mengadakan Konferensi di Brussel membahas tentang system pembayaran (currencies) yang kemudian dikonkritkan dengan menyarankan suapaya disetiap Negara-negara membentuk bank sentral dan mengendalikan system keuangan mereka seperti yang dilakukan oleh Bank of England. Kemudian dilanjutkan dengan Konfrensi di Genoa tahun 1922 yang menyarankan kepada setiap Negara untuk membuat matauang kertas sebagai pengganti mata uang koin emas atau perak dikarenakan penghematan cadangan emas dan perak di dunia. Untuk mencegah terjadinya permasalahan currencies maka dibentuklah Bank of International Settlement pada tahun 1929 di Brussel.

Kemudian pada era Bretton Wood (1944), pasca resesi ekonomi dunia dibentuklah The International Bank of Reconstruction and Development/ IBRD atau lebih lazim disebut sebagai Word Bank dan Internasional Monetary Fund/ IMF. Tujuan secara harfiah dari pembantukan system ini, sesuai dengan tulisan ini adalah menyusun perangkat aturan sistem mata uang/currencies dan financial. Komponen yang terdapat pada Work Bank sebagai bagian dari aliansinya adalah International Development Association/ IDA dan The International Finance / IFC.

Sejarah Bank di Indonesia Sejarah perbankan di Indonesia dapat kita bagi dalam beberapa periode: 1. Perbankan zaman penjajahan Belanda Kegiatan perbankan dan pembiayaan dalam hal ini diperkenalkan oleh VOC yang membawa perangkat system keuangan dan pembayaran dalam usaha berdagang dan mencari keuntungan di Indonesia. Perusahaan yang pertama menjalankan misinya sebagai bank Indonesia adalah De Nederlansche handel Maatschappjk (NHM) yang secara resminya adalah perusahaan dagang.

Adapun perusahaan yang benar-benar resmi didirikan untuk menjalankan usaha dagang adalah, yaitu NV. De Javasche bank.Bank tersebut didirikan pada permulaan abad ke 19 terlihat dari materi besluit Nomor 28 tertanggal 11 desember 1827 mengenai Octrooi Reglement voor De Javasche bank, adapun modal dasarnya sebesar satu juta gulden recantum dalam Besluit Nomor 25 tertanggal 24 januari 1828, modal tersebut berasal dari setoran Pemerintah Hindia Belanda dan De Nederlanche Handel Maatschappij (NHM). Dengan berdirinya De Javasche bank oleh pemerintah Hindia Belanda, dalam pelaksanaannya bank ini memonopoli semua sirkulasi keuangan dan memposisikan dirinya sebagai bank sentral yang tidak hanya mengedarkan dan memproduksi uang kertas ,mendiskonto wesel, surat hutang jangka pendek,obligasi dan menjadi pusat kliring sejak tahun 1909.

Dalam hal ini perbankan dalam menjalankan fungsinya bersifat dualistis sehingga menimbulkan kritik sebagai berikut: 1. Dengan bunga yang lebih rendah dibandingkan bank-bank lain maka De Javasche Bank dengan mudah menarik nasbah yang terbaik. 2. Persaingan oleh suatu badan yang karena tugasnya dapat memiliki data-data bank lain sehingga dianggap tidak wajar. Dengan berkembanganya pembangunan serta perdagangan luar negeri berupa ekspor hasil-hasil perkebunan, timbuk kebutuhan pembiayaan untuk kegiatan tersebut. Kemudian sekitar tahun 1857, berdirilah pula sebuah bank swasta yang jdikenal dengan namun N.V. Escompto bank yang bergerak dibidang usaha bank umum yang setelah dinasionalisasi oleh pemerintah maka sekarang dikenal sebagai Bank Dagang Negara (BDN).

Perkembangan selanjutnya tumbuh adanya kebutuhan akan perkreditan maka dibentuklah bank khusus yang melayani penduduk golongan pribumi yaitu bank priyayi , Bank Priyayi ini didirikan pada tanggal 16 Desember 1895 oleh patih Raden Wiriatmadja, sedangkan modalnya berasal dari kas mesjid. Pendirian bank yang melayani masyarakat pribumi kemudian ditambahkan dengan didirikannya Volksbank di Garut pada tahun 1898 ,di Bukittinggi, dan Menado pada tahun 1899 yang bagi masyarakat Minang disebut Lumbung Pitih . Pada tahun 1898 pemerintah Hindia belanda bekerjasama dengan Jawatan pos berdasarkan Stbl 1897 Nomor 296 Oprichting eenerPostpaartbank in Nederlandsch Indie,mendirikan bank tabungan pos sesuai dengan ketentuan pasal 1 ayat (2) nya bank tersebut berkedudukan di Jakarta.

Dasar pendirian bank tabungan pos ini mengalami perubahan pula tahun 1934 melalui Pospaartbank Ordonantie Stb 1934 dan selanjutnya diubah berdasarkan Stb 1937 Nomor 176 dan Nomor 197 serta Stbl 1941 Nomor 295.Pada abad ke 2o berdirilah bank-bank kabupaten yang diprakarsai oleh pamong Raja, setelah itu didirikan kas sentral yang bertugas untuk memberikan modal kerja kepada masyarakat dan berfungsi sebagai lembaga perkreditan rakyat.Krisis ekonomi pada tahun 1929-1932 mengakibatkan beberapa Volkbank menjadi macet, maka pada tahun 1934 di Jakarta berdasarkan Ordonantie Nomor 82 (Stbl.1934) tanggal 19 Februari 1934 didirikanlah suatu bank yang dikenal dengan nama De Algemeene Volksrediet bank (AVB) yang berbadan hukum Eropa berdasarkan ketentuan Artikel Pasal 20 ayat (1) Ordonanti tersebut, disebutkan bahwa bank tersebut bertugas melikuidasi lembaga-lembaga keuangan yang didirikan Koninklijk

Perbankan zaman Penjajahan jepang Perbankan zaman Pemerintahan orde baru Perbankan awal kemerdekaan Perbankan zaman pemerintahan orde lama Perbankan zaman pemerintahan orde baru Sistem keuangan dan financial yang diciptakan oleh organisasi internasional secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi system keuangan internasional/ curencies system dan perbankan di dunia. Termasuk Indonesia yang merupakan anggota dari kedua organisasi internasional tersebut. Maka beberapa peraturan moneter di Indonesia mengikuti apa yang telah ditentukan oleh lembaga ini khususnya IMF.

Hal penting yang harus diketahui oleh mahasiswa dan praktisi yang ingin mempelajari sistem perbankan maka tidak akan lepas dari dua hal yaitu aturan aturan yang diatur oleh kerangka kerja monetary international dan financial. Hukum Internasional juga mempelajari tentang sistem monetary yang berlaku di dunia yang diatur dalam kerangka kerjasama internasional ini, atau aturanaturan yang dikeluarkan oleh dua lembaga internasional tersebut dalam upayanya mengatur sistem tersebut. Sub materi Hukum Internasional yuang mempelajari ini adalah Hukum Moneter Internasional. Sedangkan Sistem financial lebih cendrung kepada aturan-arturan praktis yang dikeluarkan oleh masing-masing bank sesuai dengan praktis dan kelaziman. Sistem keuangan dipengaruhi oleh sistem pembayaran internasional/ Sistem Lalu Lintas Devisa), oleh karena itu ketidak lancaran pembayaran devisa secara internasional mempengaruhi sistem mata uang /currencies system (Anton Rosari; 1998).

Kita akan mengungkapkan satu persatu, dua system penting yang mempengaruhi Lembaga Keuangan dan Sistem Perbankan tersebut sebagai berikut: Monetary System. Di Indonesia pasca krisis ekonomi dan moneter 1997, monetary system diatur oleh Bank Indonesia dengan Undang-undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, disamping itu dalam hal pembayaran Internasional diberlakukan Undang Undang Nomor 24 tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan System Nilai Tukar, sebelumnya diberlakukan undang undang nomor 13 tahun 1968 tentang Bank Sentral dan Undang-undang Nomor 32 tahun 1964 tentang Perturan Lalu Lintas Devisa.

Fungsi Intenational Monetary Fund Sebagai Organisasi Internasional Yang Bertugas Menstabilkan Nilai Tukar Anggotanya (Studi Kasus Indonesia) terdapat hubungan yang jelas antara Bank-Bank Sentral di dunia sebagai anggota dari Dewan Gubernur/The Board of Governor (ibid; 22, 23) yang ikut menentukan setiap keputusan dalam rangka kerjasama internasianal dalam rangka pembentukan currencies system dan system pembayaran internsional (lalu lintas devisa). Bagaimana mekanisme dalam kerangka kerjasama tersebut diatur kedua system tersebut adalah dengan menjalankan fungsi IMF Surveillance/Pengamatan oleh IMF tentang berjalannya system tersebut. Berkaitan dengan krisis moneter akibat fluktuasi mata uang dan mencegah terjadinya kesulitan dalam pembayaran internasional yang dilakukan oleh IMF dengan memberikan Fund (pinjaman) untuk melakukan perbaikan system moneter dan penguatan mata uang apabila terjadi krisis yang amat tajam.

Di Indonesia dalam bidang kerangka penyehatan perbankan banking recovery, telah diberikan bantuan didasari kerjasama The Letter of Intents Between IMF and Indonesia/ LOI IMF-Ind pada era 1998 kepada sejumlah bank melalui mekanisme yang diatur oleh Bank Indonesia, kepada bank-bank yang bermasalah dengan keuangan mereka akibat fluktuasi mata uang. Kerangka kesepakatan LOI maka Indonesia merestrukturisasi system moneternya dengan memberikan kemandirian kepada Bank Sentral untuk mengatur moneter. Yang pada awalnya sitem moneter dan kebijakan moneter dilakukan oleh Dewan Moneter yang terdiri dari Menko Ekuin, Menteri keuangan dan Gubernur Bank Indonesia. Fluktuasi mata uang adalah turun atau naiknya harga matauang/ nilai tukar nasional dibandingkan mata uang asing secara tajam.

Tugas Bank Indonesia Dalam Pasal 4 Ayat (1) UU Bank Indonesia yaitu UU No.23 Tahun 1999 jo UU No.3 Tahun 2004 tugas Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Republik Indonesia. Dalam bahasa sehari-hari kata sentral artinya adalah pusat, maka bank sentral artinya adalah pusat,maka bank sentral merupakan pusatnya perbankan dinegara kita. Bank-bank operasional seperti BNI,BRI,BCA,Lippo Bank, Bank Niaga menginduk kepada bank Indonesia, meskipun demikian arti bank sentral lebih luas dari itu. Menurut UU Bank Indonesia yang disebut dengan bank sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter , mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran , mengatur dan mengawasi sistem perbankan serta menjalankan fungsi sebagai lender of the last resort

Sejalan dengan hal tersebut sebagai bank sentral dengan ruang lingkup kewenangan Bank Indonesia terlihat tidak hanya mengurusi bidang perbankan saja tetapi juga yang menyangkut kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan berperan sebagai penjamin likuiditas perbankan dalam menghadapi krisis keuangan. Dalam menjalankan fungsi sebagai lender of the last resort (penjamin likuiditas terakhir perbankan), mekanisme kerja Bank Indonesia berada berada pada ruang lingkup likuiditas, bukan pada ratio kecukupan modal (capital Adequacy Ratio/CAR).Pada dasarnya lender of the last resort adalah fasilitas pemberian pinjaman pada bank yang mengalami kesulitan likuiditas dan berfungsi untuk menghindarkan krisi keuangan yang sistematik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan , Bank Indonesia dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban pemerintah. Berdasarkan ketentuan Pasal 11 Ayat (1) UU Bank Indonesia,fasilitas pinjaman itu hanya untuk jangka pendek yaitu paling lama 90 hari harus sudah dikembalikan oleh bank yang bersangkutan.

Sebagai peraturan pelaksana fungsi lender of the last resort telah diberlakukan Peraturan Menteri Keuangan RI No.136 /PMK.05/2005 tanggal 30 Desember 2005 dan Peraturan Bank Indonesia No.8 /1/2006 tanggal 3 Januari 2006. Pendanaannya bersumber dari anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Bank Sentral yang ada di Negara kita hanya ada satu yaitu Bank Indonesia. Bank Indonesia didirikan dengan UU Nomor 11 tahun 1953 tentang Ketentuan-ketenmtuan Pokok Bank Indonesia. Lahirnya Bank Indonesia merupakan nasionalisasi De Javasche Bank sebuah Bank Belanda yang pada masa kolonial diberi tugas oleh Pemerintah Belanda sebagai bank sentral pada tahun 1949 hasil konferensi meja bundar. Bank Indonesia sebagai bank sentral,kini membahas Bank Indonesia dalam kedudukannya sebagai lembaga negara yang independence. Dalam pasal 4 Ayat (2) UU bank Indonesia disebutkan bank Indonesia adalah lembaga negara yang indepence dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya,bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak yang lain kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.

Kedudukan bank Indonesia sebagai lembaga yang independence tergambar dalam struktur lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan menurut Undang-undang Dasar 1945 yang telah diamandemen,dimana bank Indonesia kedudukannya tidak dibawah salah satu lembaga negara lainnya seperti lembaga eksekutif,legislatif,maupun yudikatif sehingga bank Indonesia sebagai lembaga negara yang mandiri. Sebagai lembaga negara yang independence tidak dibenarkan adanya campur tangan dari pihak eksekutif maupun pihak lain dalam bentuk intimidasi,ancaman,pemaksaan dan bujuk rayu baik secara langsung atau tidak langsung yang dapat mempengaruhi kebijaksanaan dan pelaksanaan tugas bank Indonesia.Tujuan diberikannya kebebasan tersebut supaya Bank Indonesia dapat melaksanakan tugas dan wewenangnya secara efektif sesuai dengan sistem bank sentral yang berlaku.

Namun kebebasan tersebut bukan berarti tampa batas , dalam Pasal 4 Ayat (2) terdapat pengecualian sepanjang yang diatur secara tegas dalam UU bank Indonesia (selanjutnya ditulis UUBI). Kekecualian yang dimaksud antara lain diatur dalam Pasal 54 dan Pasal 58. Ketentuan Pasal 54 UUBI mengatur tentang pemerintah wajib meminta pendapat bank Indonesia dapat me;laksanakan tugas dan wewenang secara efektif sesuai dengan sistem bank sentral yang berlaku. Namun kebebasan itu bukan berarti tanpa batas, dalam Pasal 4 Ayat (2) terdapat pengecualian sepanjang yang diatur secara tegas dalam UU bank Indonesia (selanjutnya ditulis UUBI). Kekecualian yang dimaksud antara lain diatur dalam Pasal 54 dan Pasal 58. Ketentuan Pasal 54 UUBI mengatur tentang pemerintah wajib meminta pendapat Bank Indonesia dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi,perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan kewenangan bank Indonesia dan bank Indonesia wajib memberikan pendapatnya.Pembatasan ini berkaitan dengan Bank Indonesia dalam hubungannya dengan pemerintah dalam mengurus persoalan negara dibidang ekonomi,perbankan dan keuangan.

Sejak mengalami krisis sebagai pengawas system perbankan seperti diamanat kan oleh Undang-undang nomor 23 tahun 1999 yaitu dengan system preventif dan replesif. Pengawasan yang dilakukan dengan pengawasan langsung terhadap bank dengan menerima laporan oleh perbankan setiap satu tahun sekali. Hal-hal yang perlu diawasi adalah pemeriksaan buku-buku, berkasberkas, warkat, catatan-catatan dokumen dan data elektronik. Hal lainnya yaitu dilakukan pengujian fit and proper bagi berkaitan dengan kemampuan SDM dan kemapuan financial perbankan, dan digunakan azas good corporate government. Kebijakan perkerditan dikeluarkan ketentuan Pedoman Pemberian Kredit yang berisikan batas maksimum pemberian kredit (BMPK). Permodalan Bank Indonesia berasal dari Keuangan Negara/APBN yang telah disetujui oleh DPR. Pasal 63 (3), menyatakan apabila modal Bank Indonesia berkurang dari Rp 2.000.000.000.000,00 (dua triliun) maka pemerintah wajib menutupinya setelah mendapat persetujuan DPR.

Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter di Indonesia, memupnyai kebijakan kebijakan dalam rangka menjamin stabilitas moneter dan nilai tukar, Pengertian yang diambil dari kebijakan moneter berdasakan Pasal 1 angka 10 Undang Undang Nomor 23 tahun 1999 adalah; Kebijakan moneter adalah kebijakan yang ditetapkan dan dilaksanakan oleh Bank Indonesia untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang dilakukan antara lain dengan pengendalian uang beredar dan suku bunga Dalam rangka menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter berdasarkan Pasal 10 UU No 23 /1999 menyatakan Bank Indonesia berwenang; 1. menetapkan sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran lalu lintas yang ditetapkannya; 2. melakukan pengendalian moneter dengan mengunakan cara-cara tertentu seperti operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan, cara cara ini pun dapat dilaksanakan bersadarkan prinsip syariah.

Iswardono menyatakan kebijakan moneter dilaksanakan dengan jalan menggunakan instrument berupa; 1. Bank rate policy atau politik politik dikonto, yaitu dengan kebijakan dimana digunakan untuk mengukur berapa besarnya diskonto yang dikenakan terhadap bank-bank umum. Cara berkerjanya bank rate inis adalah Bank central menentukan besarnya rate tersebut. 2. Operasi pasar terbuka (open market operation) yaitu sebagai kegiatan pembailan atau penjualan surat-surat berharga oleh bank sentral. 3. Perubahan cadangan minimum (reserve requirement) yaitu bank sentral mengatur persyaratan cadangan minimum untuk bank umum. 4. Pengawasan kredit selektif (selective credit control) yaitu pengawasan terhadap praktek perkreditan yang dijalankan oleh perbankan. 5. Moral Suasion yakni instrument kebijakan moneter yang bersifat kualitatif dengan metode penghimbauan kepada banker dan pengusaha agar mengikuti dan menaati kebijakan yang telah ditetapkan bank sentral.

Hal-hal yang akkan diterapkan oleh Bank Indonesia dalam pengendalian moneter berdasarkan Pasal 10 ayat 3, Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999, menyatakan, pengendalian moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan jalan; 1. 2. 3. 4. 5. Tata cara pelaksanaan operasi pasar terbuka di pasar uang rupiah; Tata cara pelaksanaan intervensi valuta asing dalam rangka stabilitas rupiah; Instrument yang digunakan dalam opersi pasar terbuka; Tata cara penetapan tingkat dikonto; Penetapan jenis dan besaran cadangan wajib minimum bagi bank, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing; 6. Penetapan sanksi administrasi terhadap pelanggran cadangan wajib minimum; 7. Pembatasan kredit atau pembiayaan termasuk juga segala bentuk fasilitas pinjaman dana melalui pasar rupiah dan valuta asing; 8. Serta pengatruran yang berdasarkan prinsip syariah pada instrument operasi pasar terbuka, penetapan tingkat dikonto dan pembatasan kredit atau pembiayaan termasuk juga segala bentuk fasilitas pinjaman dana melalui pasar rupiah dan valuta asing.

Tugas melaksanakan kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia, berdasarkan Pasal 5 (1) UU No. 24 / 1999; 1. Apabila memakai system nilai tukar tetap (fix value)maka kebijakannya berupa devaluasi dan revaluasi. 2. Apabila memakai system nilai tukar mengambang (floating system) maka kebijakannya berupa intervensi pasar. 3. Apabila memakai system nilai tukar mengambang terkendali maka kebijakan maka kebijakannya berupa penetapan nilai tukar harian serta lebar pita intervensi. 4. Pasal 5 ayat 3 UU No. 24 / 1999 menyatakan pelaksanaan kebijakan tersebut dilaksanakan dengan Peraturan Bank Indonesia.

Dalam hal melaksanakan kebijakan moneter dalam rangka mengendalikan nilai tukar mata uang serta mengawasi perbankan, Bank Indonesia memperoleh independensi/bebas dari pengaruh dari lembaga Negara manapun, maupun swasta berdasarkan Pasal 67 dan 68, Undang-undang nomor 23 tahun 1999, dalam hal perlaksanan independensinya ini Bank Indonesia wajib melaksanakan pelaporan kepada Dewan Perwakilan Rakyat/ DPR, dan dalam hal akuntabilitasnya diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan/ BPK.

Pengawasan Bank Pembinaan dan Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia bersifat preventif dan replesif. Upaya prefentif dalam bentuk ketentuan-ketentuan, petunjuk, nasehat, bimbingan dan pengarahan. Upaya represif dalam bentuk pemeriksaaan yang disusul dengan tindakan perbaikan.

Usaha-usaha yang dilakukkan oleh Bank Indonesia sesuai dengan UU no 23 tahun 1999 adalah: 1. Menetapkan ketentuan-ketentuan Perbankan yang mememuat prinsip kehati-hatian. (Pasal 25 ayat (1)) 2. Menyangkut perizinan perbankan meliputi kewenangan untuk memberikan izin dan mencabut izin usaha, memberikan izin pembukaan, penutupan, pemindahan kantor; memberikan persetujuan atas kepemilikan dan pengurusan bank; memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegitan-kegiatan uasaha tertentu ( Pasal 26) 3. Melakukan pemeriksaan terhadap bank, baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan juga dapat mencakup pemriksaan terhadap perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait pihak terafiliasi dan debitur bank (Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2)). 4. Memerintahkan bank untuk menghentikan sementara sebagaian atau seluruh kegiatan transaksi tertentu apabila menuurt penialaian bank Indonesia terhadap transaksi patut diduga merupakan tindak pidana dibidang perbankan (Pasal 31 ayat 2). 5. Mengatur dan mengembangkan system informasi antar bank (Pasal 31 ayat 2)

Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan Undang undang nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan menyatakan tentang tugas pembinaan dan pengawasan bank; 1. Menetapkan dan mementukan tentang kesehatan perbankan, tata cara pemebrian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah serta kegiatan usaha lainya dari bank, tata cara penyediaan informasi oleh bank untuk para nasabah (Pasal 29 ayat (5). 2. Memeriksa buku-buku dan berkas pada bank yang dibinanya (Pasal 31) 3. Menugaskan Akuntan Public untuk dan atas nama Bank Indonesia melaksanakan pemeriksaan (Pasal 31A). 4. Melakukan tindakan tertentu terhadap bank yang mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, diperkirakan mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya (Pasal 37 ayat (1)).

5.Mencabut izin usaha dam memerintahkan direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham guna membubarkan badan hukum dan membentuk tim likuidasi terhadap bank yang tidak mampu memperbaiki kinerjanya sehingga membahayakan sector perbankan. 6.Meminta Pemerintah untuk membentuk badan khusus yang bersifat sementara dalam rangka penyehatan perbankan nasional (Pasal 37 A ayat (1)).

7. Mengeluarkan perintah tertulis agar basnk memberikan keterangan dan memperhatikan bukti-bukti tertulis serta surat-surat menegnai keadaan keuangan nasabah penyimpanan tertantu kepada pejabat pajak (Pasal 41 ayat (1)). 8.Memberikan izin kepada pajabat BUPLN/PUPN untuk memproleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau terdakwa pada bank (Pasal 41A) 9.Memberikan izin kepada Polisi, Jaksa, atau Hakim untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau terdakwa pada bank (Pasal 42 ayat (1). 10.Memberikan sanksi administrative kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Sanksi adminsitrasi yang dapat diberikan kepada bank berupa anatar lain; denda uang; teguran tertulis; penurunan tingkat kesehatan bank; larangan untuk turut serta dalam kegiatan kliring; pembekuan kegiatan usaha tertentu, baik untuk kantor cabang tertentu maupun untuk bank secara keseluruhan; mengangkat penganti sementara sampai RUPS atau Rapat angota untuk mengangkat pengganti yang tetap dengan persetujuan Bank Indonesia; pencantuman anggota pengurus,pegawai bank, pemegang saham dalam daftar orang tercela di bidang perbankan (Pasal 52).

11.Menetapkan pengecualian bagi bank Perkreditan Rakyat mengenai ketentuan kewajiban bank untuk mengaudit neraca dan perhitungan laba rugi tahunan untuk di audit oleh akuntan public (Pasal 36 UUNo. 7/1992
Prinsip Kehati-hatian (Asas Prudencial) Azas Prudensial (Prudencial Principle) adalah merupakan azas yang harus ditaati oleh perbankan dalam melaksanakan kegiatan bisnis perbankan. Apabila di ambil dari terminology bahasa Inggris, Prudencial Principle berasal dari dua bentukan kata yaitu Prudencial dan Priciple; Prudencial berasal dari kata sifat Prudence yang artinya bijaksana karena adanya afiksasi dalam tata bahasa Inggris Prudence + ial, dalam terminology bahasa berarti sangat bijaksana, maka dalam kata tersebut terkandung unsur kata bentukan yang bermakna kehati-hatian, sedangkan kata Principle berarti azas atau prinsip.

System bisnis perbankan dikenal sebagai Prudential Banking yang maksudnya perbankan harus beroperasi dengan memperhartikan ramburambu kehati-hatian yang disusun sendiri. Bentuk system yang diciptakan oleh perbankan terutama dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang bertugas untuk mengatur dan mengawasi perbankan untuk melaksanakan pengaturan bank, Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia. Peraturan Bank Indonesia yaitu Ketentuan Hukum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan mengikat setiap orang atau badan hukum dan dimuat dalam lemgaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Bank Indonesia, pada Sistem Pengawasan Perbankan yang mengunakan prinsip kehatihatian didasari Pasal 25 ayat (1), Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, pada penjelasannya menyatakan Ketentuanketentuan perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian bertujuan untuk memberikan rambu-rambu penyelenggaraan kegiatan usaha perbankan, guna mewujudkan sistem perbankan yang sehat. Mengingat pentingnya tujuan mewujutkan system perbankan yang sehat, maka peraturanperaturan di bidang perbankan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia harus didukung oleh sanksi-sanksi yang adil. Pengaturan bank berdasarkan Prinsip Kehati-hatian disesuaikan pula dengan standar yang berlaku secara internasional.

Berdasarkan penafsiran literal maka dapat dinyatakan bahwa asas Prudensial apabila tidak dilaksanakan akan diberikan sanksi yang adil sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang dilanggar oleh Subjek Hukum, didasari oleh sanksi maka meminta ketaatan bagi subjek hukum agar belaku sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Menurut Philope Nonet dan Philip Sezlnick dalam bukunya Law And Society in Transition; Toward Responsive Law, peranaan pemaksaan dari hukum merupakan variabel; dalam kondisi tertentu hukum lebih memaksa dari kondisi lain, maka bentuk pemaksaan dalam bentuk sanksi merupakan ketaatan yang harus diminta oleh hukum terhadap subjek hukum, Menurut mereka ketaatan hukum yang diminta kepada masyarakat (para Subjek Hukum) dikarenakan adanya tingkatan resiko dari suatu pekerjaan atau tangungjawab terhadap perbuatan subjek hukum yang menurut pendapat hukum mempunyai tingkatan resiko tertentu. Dapat diberikan hipotesis apabila pekerjaan atau tanggung jawab perbuatan hukum subjek hukum mempunyai resiko yang tinggi, maka bila terjadi pelanggaran hukum diberikan sanki yang maksimal; demikian pula bila terjadi sebaliknya, bahwa sanksi yang rendah diberikan apabila resiko pekerjaan atau tanggung jawab perbuatan hukum itu rendah.

Teori pertanggung jawaban yang ada maka dikenal beberapa system pertanggung jawaban dengan atas dasar sebagai berikut; 1. Pertangungjawaban yang di dasari oleh Kesalahan (liability based on fault /injury liability), berdasarkan toeri pertanggung jawaban tersebut dikaji kesalahan yang dilakukan secara subjektif dan kesalahan secara objektif, yang diatur oleh peraturan hukum. 2.Pertanggungjawaban didasari oeh resiko (liability based on risk/ strike liability), berdasarkan teori ini maka pertangungjawanan mutlak terhadap pekerjaan yang mempunyai derjat resiko tertentu. 3.Pertangungjawaban secara kemanusiaan (liability for humanity), berdasarkan teori ini maka yang menjadi tanggungjawab karena adanya kesadaran bersama untuk tujuan memulihkan keadaan untuk melindungi umat manusia dan lestarian lingkungan.

Sesuai dengan teori yang digunakan bahwa pelangaran azas prudensial dapat menimbulkan kerugian yang dapat dipastikan diderita oleh perbankan maka disini, Peneliti mengunakan pertangungjawaban mutlak (liability based on risk/ strike liability). Secara normative pertangungjawaban mutlak diterapkan pada Pasal 21, Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lummert menyatakan Pertanggungjawaban mutlak diartikan sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan kerusakan, salah satu ciri utama tanggungjawab mutlak adalah tidak perlu adanya kesalahan (dolus). Pasal 21, Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; . dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya alam tertentu tanggung jawab secara mutlak padfa perusak dan pencemar pada saat terjadinya perusakan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam perturan perundang-undangan yang bersangkutan. Penjelasan Pasal 21 menyatakan tanggungjawab mutlak secara selektif atau kasus yang akan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dapat menertukan jenis dan ketegori kegiatan yang akan terkena ketentuan tersebut.

Tanggung jawab mutlak dapat dimintakan kepada subjek hukum manusia atau badan hukum. berdasarkan penelitian ini institusi yang melalukan pekerjaan maka berlakulah Prinsip Cooperate Liability, sesuai prinsip ini, maka tanggung-jawab dapat dimintakan oleh para pihak /subjek hukum lainnya sebatas tanggungjawab yang diatur oleh Anggran Dasar Perusahaan, terutama sebatas Hak-hak dan Kewajiban yang diatur oleh Anggaran Dasar tersebut. Subjek hukum dapat mewakili perusahaan sesuai teori perwakilan pada badan hukum (representative of legal person theory), oleh karena itu porang yang mewakili perusahaan dapat dimintakan pertangungjawabannya sessui dengan tugas-tugas yang diwakilinya. Perwaklilan pada Bank Indonesia diatur dalam Pasal 16 jo 21 Undang Undang Nomor 13 tahun 1968 tentang Bank Indonesia tentang tugas dan kewajiban direksi dan perwakilan mereka di luar dan di dalam pengadilan. Berdasarkan teori perwakilan dari badan hukum maka yang bertanggung jawab terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Bank Indonesia sesuai dengan tugas dan kewajibannya menurut ketentuan undangundang. Digunakan undang-undang ini adalah karena peristiwa hukum terjadinya BLBI ini masih dalam kerangka hukum yang diatur oleh UU tersebut,. Untuk mencegah pelangaran azas undang-undang tidak berlaku surut (retroaktif).

James E. Kriker menyatakan bahwa doktrin tanggung-jawab mutlak merupakan bantuan yang sangat besar dalam peradilan mengenai kasuskasus lingkungan, karena banyak kegiatan yang menurut pengalaman menimbulkan kerugian terhadap lingkungan merupakan tindakan yang berbahaya, untu mana dapat diberlakukan ketentuan tanggungjawab tanpa kesalahan. Berdasarkan pendapat ini maka Peneliti melakukan interprestasi literal bahwa tindakan yang dapat membahayakan perbankan sehingga menimbulkan kerugian yang besar bagi perbankan akibat dilanggarnya azas prudensial (kehati-hatian), merupakan hal yang dapat dimintakan tanggung jawab mutlak kepada subjek hukum dalam hal ini yang bertugas dan bertindak mewakili perbankan tersebut. Walaupun hal tersebut hanya merupakan azas hukum tetapi efek dari pelanggran azas hukum ini terbukti mengakibatkan resiko yang besar, terutama bagi Bank Indonesia secara institusi (Badan Hukum) dan Negara secara objektif karena Modal Bank Indonesia berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan (Pasal 4 ayat (1), BAB III Modal, Undang-undang Nomor 13 tahun 1968 tentang Bank Sentral).

Tanggung-jawab mutlak kepada Direktur Bank Indoensia berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, walupun ketentuan hukum tersebut, secara hirarkis perundang-undangan dibawah ketentuan Undang-Undang dalam hal ini adalah Undang-Undang Nomor 13 tahun 1968 tentang Bank Sentral, tetapi sesuai dengan adagium hukum lex specialis derograt lex generalis (ketentuan khusus mengabaikan ketentuan umum), maka peraturan Bank Indonesia merupakan ketentuan husus yang mengatur praktek perbankan di Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam hal ini adalah peraturan mencairkan sejumlah dana untuk kebutuhan Bantuan Liquiditas Bank Indonesia (BLBI) yang nota bene merupakan sinonim lain dari kredit (penyedian dana) yang dicairkan oleh Bank Indonesia dalam membantu Penyehatan Perbankan Nasional, didasari oleh interprestasi literal tersebut maka ada beberapa ketentuan uang harus ditaati dan dipraktekan oleh perbankan. Ketentuan Bank Indonesia, berkaitan dengan penerapan azas perudensial (kehati-hatian) dapat kita lihat dari adanya Peraturan Bank Indonesia, mengenai Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor: 31/177/KEP/Dir tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit tangal 31 Desember 1998, yaitu suatu persentase perbandingan batas maksimum penyediaan dana yang diperkenaankan terhadap modal bank., berdasarkan ketentuan tersebut BMPK dikelompokkan sebagai berikut;

1.BMPK untuk pihak tidak terkait ditetapkan setinggi-tingginya 30% (tiga puluh persen) dari modal bank tersebut samapai akhir tahun 2001 dan terus dikurangi setiap tahun 5 % (lima persen) dan awal tahun 2003 harus tinggal 20% (dua puluh persen) dar modal bank. 2.BMPK untuk pihak yang terkait ditetapkan setinggi-tingginya sebesar 10% (sepuluh persen) dari modal. 3. Pelangaran ketentuan BMPK dikenakan sanksi denda serta berakibat pada penilaian kesehatan perbankan yang dinilai dengan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor: 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Perbankan.

Contoh pelanggaran prinsip kehati-hatian; BLBI (Bantuan Linquiditas Bank Indonesia) istilah ini dikenal pada permulaan tahun 1998, istilah ini muncul semenjak Indonesia menjalankan program pemulihan ekonomi dengan dukungan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebutkan fasilitas tadi sebagai Liquidty Support yang di Indonesia akan menjadi Bantuan Liquiditas Bank Indonesia (BLBI). BLBI merupakan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah (secara bersama jajaran Menteri Ekuin) dengan Bank Sentral. Pada saat pencairan dana BLBI tersebut mereka dalam kapasitas sebagai Dewan Moneter, yang diketuai oleh Menteri Keuangan sebagaimana diketahui BLBI juaga merupakan resep ekonomi jitu yang disarankan para begawan ekonomi kepada Pemerintah Indonesia, juga sebagai komitmen mereka menjalankan kebijakan keuangan dan perbankan sesuai Nota Kesepakatan Indonesia-IMF (LOI Ind-IMF). Sebagai bentuk kebijakan yang disokong oleh International Monetary Fund yang dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral, maka bentuk konkrit kebijakan akan dilaksanakan oleh Direktur Bank Indonesia

Berdasarkan input dari kebijakan di bidang BLBI ini peneliti

menyatakan bahwa disini posisi kebijakan sebagai program (policy as program), kualitas tindakankebijakan public yang dilakukan oleh Direktur Bank Indonesia sama bobotnya dengan menjalankan program-pemerintah seperti yang diamanatkan oleh GHBN. Kebijakan BLBI ini merupakan kebijakan baru, tetapi bukan kebijakan yang bernilai derajat tinggi, sehinga butuh aturan baru untuk melegitimasi dan membuat regulasinya, dalam ilmu kebijakan public dinyatakan sebagai kebijakan yang bersifat incremental dalam pengertian pada tingkatan procedural tidak mengubah sesuatu yang fundamental dibidang peraturan (regulasi yang ada) dan hanya menambah sedikit kebijakan dengan aturan pelaksana tentang bagaimana kebijakan BLBI ini tercapai tujuannya.

Landasan hukum yang digunakan pada saat proses dan pencairan BLBI ini adalah; 1. Pasal 29 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (3), Undang-Undang Nomor 13 tahun 1968 tentang Bank Sentral serta penjelasannya, yang pada dasarnya menyebutkan bahwa Bank Indonesia dapat memberikan kredir liquiditas kepada bank-bank untuk mengatasi kesulitan liquiditas kepada bank-bank untuk mengatasi kesulitan liquiditas dalam keadaan darurat. 2. Pasal 37 ayat (2) huruf b, Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, menyatakan bahwa; dalam hal suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, maka Bank Indonesia dapat mengambil tindakan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 3. Pasal 1, Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1998 menyatakan bahwa; pemerintah memberikan jaminan bahwa kewajiban pembayaran bank umum kepada pemilik simpanan dan kreditur nya akan dipenuhi. 4. Pasal 2 Ayat (1) Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1998 menyatakan bahwa; pemerintah memberikan jaminan terhadap kewajiban pembayaran Bank Perkreditan Rakyat. 5. Pasal 2 ayat (1) Keputusan Presiden Nomor 120 tahun 1998 menyatakan Bank Indonesia dapat memberikan jaminan atas jaminan pinjaman luar negeri dan atau atas pembiyaan pedagangan internasional yang dilakukan oleh bank..

Latar belakang dari proses pembuatan kebijakan BLBI ini adalah; 1. Keputusan Sidang Kabinet tanggal 13 September 1997 2. Keputusan Menkeu tentang Liquidasi 16 Bank Nasional; 3. Surat Gubernur Bank Indonesia tanggal 26 Desember 1997 kepada Presiden Tentang Bantuan liquiditas kepada Bank-Bank Swasta Nasional; 4. Surat Menteri Sekretaris Negara Moerdiono kepada Gubernur Bank Indonesia tanggal 27 Desember 1997 perihal bantuan liquiditas Kepada Bank-bank Swasta Nasional; 5. Kepres Nomor 34 tahun 1998 tanggal 5 Maret 1998 tentang Tugas dan Weewnang BPPN; 6. SKB Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Nomor 53/KMK.017/199 dan No. 31/12/KEP/GBI tentang Pelaksanaan Program Rekapitalisasi Bank umum; 7. SKB Gubenur Bank Indonesia dan BPPN Nomor 30/270/KEP/DIR dan Nomor; 1/BPPN/ 1998 tanggal 16 Maret 1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Pemerintah Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor.31/225/KEP/DIR tangal 11 Maret 1999 tentang Penyerahan Bank Kepada BPPN dalam rangka Penyehatan; dan 8. Kepres Nomor 55 tahun 1999 tentang Surat Utang Pemerintah.

Demikian

banyak dokumen yang melatarbelakangi pembuatan BLBI, dapat dikaji secara azas Prudensial (kehati-hatian) dalam pembuatannya, disini dapat di lakukan secara normative tentang bagaimana kebijakan tersebut muncul, dan perlu diteliti sejauh-mana aparatur terkait terutama Direksi BI dalam melaksanakan kebijakan ini. Akibat dari pencairan dana BLBI yanmg tidak hati-hati banyak terjadi penyelewengan dana oleh bank-bank Swasta Nasional dan pencairan dana yang bwerisiko sehingga merugikan Bank Indonesia dan IMF karena menjadi sumber pencairan dana tersebut.

Tanggung- jawab Pelanggaran Prinsip Kehati-hatian

Konsep pertanggung-jawaban. (liability), prtanggungjawaban didasari oleh adanya kerugian yang dihasilkan oleh sebuah pekerjaan atau perbuatan seseorang dan atau sekelompok orang dalam melaksanakan jabatannya. Pernyataan Philip Nonet dan Philip Selznick, tentang ketaatan menyatakan bahwa seseorang yang dimintakan ketaaatan oleh hukum berbanding lurus dengan tingkat resiko dari akibat peristiwa atau perbuatan hukum yang terjadi dikemudian hati. Konsep tanggung jawab ini dapat diaplikasikan dengan tanggung jawab profesional (professional liability). Anton Rosari menyatakan bahwa tanggung jawab profesional ini dapat dimintakan karena adanya wanprestasi (breach of contract) dari pekerjaaan dan perbuatan melawan hukum (law of tort) serta menyalahgunakan keadaan (undue influence) sehingga terjadi cacat kehendak (willgebereken) dalam bercontrak, dalam penelitian Peneliti menginterprestasikan, bahwa tanggung jawab profesional ini dimintakan akibat penyalahgunaan kewenangan (abuse of right) yang diberikan undang-undang dan tidak bersikap hati-hati secara profesional, dengan asumsi bahwa secara objektif dan kenyataan subjek hukum yang melakukan praktek perbankan tersebut merupakan person yang memiliki skill dan pengalaman dalam bidang perbankan maka dapat dipastikan ia tahu secara pasti bila terjadi resiko dari sebuah pekerjaan tersebut, akibat tidak mengindahkan/ mentaati peraturan tersebut.

Konsep tanggung jawab ini mengakibatkan seseorang dapat dijerat oleh sanksi hukum secara formil baik secara pidana maupun administrasi Negara sesuai dengan lapangan hukum yang dilanggarnya, maksudnya seperti dalam lapangan hukum pidana dapat dikatakan tanggungjawab pidana (criminal responsibility) ini dimintakan apabila tercapainya unsur utama dalam penerapan pidana/perbuatan pidana (straaf baar feit) yaitu dengan unsur; diwajibkan adanya subjek hukum yang diancam pidana dan atau dimintakan pertanggung jawaban pidana; dan unsur pidana materil yang dilanggar atau dilakukan memenuhi ancaman pidana yang disyaratkan oleh hukum atau undang-undang dengan azas Nullum delicum nulla poena sine praevia lege (tidal ada delik, tidak ada pidana tanpa peraturan /hukum lebih dahulu) atau Azas Legalitas

Pelangaran administrasi yang dimintakan tanggung jawab karena

perbuatn hukum yang dilakukan melanggar azas pengelolaan perusahan yang baik (good corporate governance principles), pelanggaran azas dalam penelolaan perusahaan yang baik seperti melakukan perbuatan ultra vires, yaitu menyimpang dari apa yang diatur oleh Anggaran Dasar atau aturan lain yang mengikat person di Bank Indonesia tersebut sebagai lex sepecialisnya. Azas pengelolaan perusahan yang baik (good corporate governance principles), disebabkan mereka melakukan bisnis perbankan yang dapat dimintakan pertangungjawaban administrasi adalah pelanggaran azas Prudensial (kehati-hatian). Bank Indonesia dikategorikan sebagai koorporat, sehingga dalam hal ini Bank Indonesia yang menjadi Anggran Dasar yang mengikat bagi Bank Indonesia adalah Undang-undang Nomor 13 tahun 1968 tentang Bank Sentral, yang pada waktu itu diberlakukan sebagai hukum positif.

Sebagai perbandingan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik, kita mengacu kepada penerapan azas pada pemerintahan, untuk menciptakan aparatur yang bersih, efisien dan efektif dan berwibawa serta mepu melaksanakan tanggungjawab sebagai tugas umum pemerintahan dan pembangunan dengan sebaibaiknya, dengan dilandasi oleh semangat dan sikap pengabdian pada Negara dan bangsa maka itu perlu sebuah azas-azas umum pemerintahan yang baik (Algemene Beginselen van Behoorlijk Bestuur) yang diperkenankan pada Panitaia De Monchy di belanda (1950) yang bertujuan menguji perbuatan huum (rechtmatigeheit) penggunaan kekuasaan yang bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum yang lebih baik kepada pada warganya dari tindakan penguasa walaupun azas ini tidak dituangkan dalam Undang-undang. Menurut AROB (Peradilan Administrasi Belanda), yang disebutkan sebagai azas pemerintahan yang baik adalah;

1. azas pertimbangan (motvering beginsel) 2. azas kecermatan (zorgvuldigheidbeginsel). 3.azas kepastian hukum (rechtzekerheidsbeginsel) 4. azas kepercayaan (vetrovenbewginsel of beginsel van opgewekte verwachtingen). 5.azas persamaan (gelijkheidbeginsel) 6.azas keseimbangan (ovenwichtigheidbeginsel). 7.azas kewenangan (behoegheidbeginsel) 8.azas fair play (beginsel van fair play) 9.larangan Detornament depourvoir. 10.larangan bertindak sewenang-wenang (het verbod van willekeur)

Kemudian secara administasi perusahan azas-azas pemerintahan

yang baik-pun digunakan sebagai untuk meningkatkan keinerja dan ketaatan terhadap hukum pada perusahaan tersebut maka dikenallah Azas pengelolaan Perusahaan yang baik (good governance coorporate principles). Financial and Banking System Dalam lembaga keuangan dikenal dengan system perbankan dan lembaga pembiayaan (dahulu disebut sebagai lembaga keuangan bukan bank/LKBB).
System Perbankan.

Sistem perbankan di Indonesia diatur oleh undang-undang perbankan (sekarang oleh Undang Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan.

Fungsi Perbankan berdasarkan Pasal 4 UU No. 7/1992 adalah; Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Jenis usaha bank di Indonesia ada dua yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Defenisi yang diberikan oleh Undang Undang Nomor 10 tahun 1998 pada Pasal 1 angka 3 dan 4; Bank umum adalah bank yang dapat melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatan memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank perkereditan rakyat adalah bank yang dapat melaksanakan kegitan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatanya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Perbedaan diantara keduanya dapat dilihat dari ketentuan Pasal 14 tentang larangan Bank Perkreditan Rakyat memberikan jasa simpanan dalam bentuk giro, dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran. Aktifitas perbankan dalam melaksanakan fungsi perbankan dapat kita lihat pada bank umum sebagai berikut; 1. Mengumpulkan dana yang sementara mengangur untuk dipinjamkan kepada pihak lain, atau membeli surat-surat berharga (financial investment). 2.Mempermudah dalam lalu lintas pembayaran uang. 3.Menjamin keamaan uang masyarakat yang sementara tidak digunakan misalnya menghindari resiko hilang, kebakaran dan lain-lain. 4.Menciptakan Kredit (credited money deposit) yaitu dengan cara menciptakan demand deposit (deposito yang dapat diuangkan) yang sewaktu-waktu dari kelebihan cadangannya (excess reserves).

Bisnis perbankan sangat erat hubungannya dengan peredaran uang dalam rangka melancarkan aktifitas keuangan masyarakat. Bank berfungsi sebagai; 1. Pedagang dana (money lender) yaitu wahana yang dapat menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat secara efektif dan efisien, bank sebagai tempat penitipan dana masyarakat (tabungan) dan menyalurkan dana masyarakat berupa kredit . 2. Lembaga yang melancarkan transaksi perdagangan dan pemabayaran uang, bank dapat bertindak sebagai penghubung anatara nasabah yang satu dengan nasabah yang lainnya jika keduanya melakukan transaksi. Fungsi perbankan sebagai agent of development dinyatakan dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 sebagai berikut; Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka peningkatan pemerataan, pertumbuhan ekonomi , dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak

Dari sisi kepemilikan, pembedaan perbankan terdapat empat jenis yaitu; 1. Bank milik Negara (BUMN) 2. Bank milik Pemerintah Daerah (BUMD) 3. Bank milik swasta dalam dan luar negeri. 4. Bank Koperasi. Pendirian Bank Bank Umum maupum BPR dididrikan danm menjalankan usahanya dengan izin menteri keuangan setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia (Pasal 16 ayat (1), (2) UUno 7 tahun 1992), kemudian ketentuan ini diubah UU N0 10 tahun 1998, izin usaha hanya ada pada Bank Indonesia, menerut pertimbangan pimpinan Bank indonesia, kecuali diatur oleh undang-undang lain. Persyaratan untuk memperoleh izin usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (Pasal 16 ayat 3, setalah diubah oleh UU No 10 1998) adalah;

Susunan organisasi dan kepengurusan. Permodalan. Kepemilikan. Keahlian dibidang perbankan. Kelayakan rencana kerja.

Modal Bank
Modal Bank Umum berdasarkan Pasal 4 Peraturan Pemerintah nomor 30 tahun 1999 jo Keputusan Direksi Bank Indonesia, Nomor 32/33/KEP/DIR mengenai bank umum, menyatakan bahwa modal dasar mendirikan bank umum adalah Rp 3.000.000.000.000,00 (tiga triliun rupiah). Berdasarkan ketentuan PMA di Indonesia, selanjutnya mengenai permitraan dengan pihak asing diizinkan untuk memiliki modal sebesar 99% oleh pihak asing sebagi rasio kepemilikan modal. Modal Bank Prekreditan Rakyat diatur oleh Peraturan Pemerintah nomor 30 tahun 1999 jo Keputusan Direksi Bank Indonesia, Nomor 32/35/KEP/DIR, tentang Bank Perkreditan Rakyat menyatakan; 1. Modal disetor mendirikan Bank Perkreditan Rakyat yang didirikan di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Raya dan Kabupaten/Kotamadya Tanggerang, Bogor, Bekasi dan karawang sekurang-kurangnya Rp 2.000.000.000,00 (dua miliyar rupiah).

2. Modal disetor untuk mendirikan Bank Perkreditan Rayat yang didirkan di wilayah ibukota Propinsi di luar wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya dan Kabupaten/Kotamadya Tanggerang, Bekasi, dan Kerawang, sekurang-kurangnya Rp 1.000.000.000,00 (satu miliayar rupiah).
3. Modal disetor untuk mendirikan Bank Perkreditan Rakyat didirikan di wilayah Ibu Kota propinsi di luar wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Pihak Yang Terafiliasi Pada Bank Pengertian dengan pihak yang terafiliasi pada bank adalah pihak yang mempunyai hubungan dengan kegiatan serta pengelolaan usaha jasa pelayanan yang diberikan oleh bank, hubungan tersebut melalui cara mengabungkan dirinya pada bank tersebut tetapi dengan tidak kehilangan identitasnya. Pengabungan diri tersebut karena keterikatan kepemilikan bahkan adanya keterkaitan hubungan kerja dengan pihak tertentu, pengurusan hubungan kerja biasa seperti kariawan atau karena hubungan kerja dalam rangka memberikan pelayanan atas jasanya kepada bank seperti konsultan hukum. Pasal 1 angka 22 Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 menyatakan pihak-pihak yang terafiliasi adalah; 1 Anggota dewan komisaris, pengawas, direksi atau kauasanya, pejabat atau karyawan bank. 2. Anggota pengurus, pengawas, pengelola atau kuasanya, pejabat atau karyawan bank, khusus bagai bank yang berbentuk hukum koperasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Pihak yang memberikan jasanya kepada bank, natara lain akuntan public, penilai, konsultan hukum, dan konsultan lainnya. 4. Pihak yang menurut Bank Indonesia turut serta mepengaruhi pengelolaan bank, antara lain, pemegang saham dan keluarga direksi dan keluarga pengurus.

Jenis Usaha Perbankan Jenis usaha perbankan dapat pada Bab III tentang jenis usaha bank pada UU Nomor 7 tahun 1992; a. Usaha Bank Umum Pasal 6 yaitu; Usaha Bank Umum meliputi;
Menghipun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan

berupa giro, deposiyo berjangka, sertivikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu; Memberikan kredit; Menerbitkan surat pengakuan hutang;

Membeli,

menjual atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk kepetingan dan atas perintah nasabahnya;

1.

2.

3. 4. 5. 6. 7.

surat-surat wesel termasuk wesel yang diasektasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat yang dimaksud; surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat di maksud; kertas perbendaharaan Negara, dan surat jaminan pemerintah; Sertivikat Bank Indonesia (SBI); Obligasi; Surat dagang berjangka waktu sampai 1(satu) tahun; Instrument surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun.

Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri atau untuk kepentingan nasabah; Menempatan dana pada meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank

lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya; Menerima pembayaran atas tagaihan surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga; Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga; Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan kontrak; Melakukan penempatan dana dari nasabah lainya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatatatdi bursa efek; Membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagaian dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya; Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat; Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagai hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Melakukan kegiatan lain lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini dan peraturan yang berlaku.

Pasal 7 menyatakan; Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Bank Umum dapat pula; melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketantuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; melakukan kegiatn penyertaaan modal pada bank atau perusahaan lain dibidang keuangan seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lemabaga kliring penyelesaian dan penyimpanan dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat, kegagalan kredit, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan ayang ditetapkan oleh Bank Indonesia, dan; bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketantuan dalam peraturan perundang-undangan dana pension yang berlaku.

Pasal 10 menyatatakan; Bank umum dilarang; melakukan penyertaan maodal, kecuali sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf b dan c; melakukan usaha perasuransian; melakukan usaha lain sebagimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7
Usaha Bank Perkreditan Rakyat.

Pasal 13 menyatakan; Usaha Bank Perkreditan Rakyat meliputi; menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka dan atau bantuk lainya yang dipersamakan dnegan itu; memberikan kredit; menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagai hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah; Menempatkan dananya dalam bantuk Sertifikat bank Indonesia, deposito berjangka, tabungan, sertifikat deposito, dan atau tabungan pada bank lain.

Pasal 14 menyatakan; Bank Perkreditan Rakyat dilarang; menerima simpanan berupa giro dan serta ikut serta dalam lalulintas pembayaran; melakukan kegiatan usaha dalam vauta asing; melakukan usaha perasuransian; melakukan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.

Kredit Perbankan Istilah kredit berasal dari Yunani (credere) yang berarti kepercayaan (truth atau faith), berdasarkan pengertian ini maka dasar dari pencairan kredit adalah kepercayaan. Kredit dalam arti ekonomi adalah penundaan pembayaran dari prestasi yang diberikan sekarang, baik dalam bantuk uang, barang maupun jasa.

H.M.A Suelberg; menyatakan kredir mempunyai arti;

sebagai dasar setiap perikatan dimana seseorang menuntut sesuatu dari yang lain; sebagai jaminan dimana seseorang menyerahkan sesuatu pada orang lain dengan tujuan untuk meperoleh kembali apa yang siserahkan. Mr Jalevy menyatakan kredit adalah menyerahkan secara sukarela sejumlah uang untuk dipergunakan secara bebas oleh si penerima kredit, penerima kredit berhak menggunakan pinjaman itu untuk kepentingan dengan kewajiban pengembalian pinjaman kredit

Menurut Pasal 1 angka 12 UU No. 7/1992 menyatakan; Kredit penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Kemudian diamandemen dengan Pasal 1 angka 11 UU No.10 /1998, menyatakan; Kredit penyediaaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman memeinjam anatara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak pemninjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga.

Unsur- unsur dari kredit adalah; 1 .Kepercayaan, yaitu keyakinan pemberi kredit bahwa prestsi yang diberikan (uang, barang atau jasa) akan benar diterimanya kembali dalam waktu tertentu di masa akan datang. 2.Waktu, yaitu suatu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterima pada masa yang akan datang. 3.Degree of risk, yaitu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterima kemudian. 4. Prestasi, atau objek kredit yaitu dalam bentuk uang, barang atau jasa.

Fungsi kredit adalah;


Dapat meningkatkan daya guna uang. Dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang. Sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi. Dapat meningkatkan gairah berusaha. Dapat meningkatkan pemerataan pendapatan. Alat untuk meningkatkan hubungan internasional..reg..

Jenis-jenis kredit dapat ditinjau dari beberapa aspek diantaranya: Kelembaggaanya; Jangka waktu; pengunaan kredit; kelengkapan dan keterkaitan dengan document yang dibutuhkan; aktifitas usaha; jaminannya; atau berbagai criteria lainnya.

Prosedur pemberian kredit secara umum adalah; Permohonan Kredit. Penyidikan dan analisis kredit. Keputusan atas permohonan Kredit (penolakan atau diterima). Pencairan Kredit. Pelunasan/ pembayaran kembali kredit. Prosedur pemberian kredit; ditinjau dari penilaian yang dilakukan bank dalam pemberian kredit ada lima pertimbangan (The Five C (5 C), The Four P (4 P), The Three R (3 R) Credit Analyses) yaitu; The Five C meliputi sebagai berikut; Characteristic (watak); Capasity (kemapuan); Capital (modal); Colaterall (jaminan/ agunan); Condition of economic (prospek usaha debitur).

The Four P meliputi sebagai berikut; Personality (keperibadian debitur); Purpose (tujuan penggunaan kredit); Prospect (masa depan adri kegitan); Payment (cara pembayaran). The Three R meliputi sebgai berikut; Retruns (pengembalian); Repayment (perhitungan pengembalian dana); Risk bearing ability (perhitungan besar pengembalian kredit);

resiko

Dalam praktek pemberian kredit, bank melakukan analisa aspek-aspek sebagai berikut; aspek hukum; aspek menajemen; aspek financial; aspek pemasaran; aspek social ekonomi; aspek lingkungan. Aspek hukum sangat penting dalam pemberian kredit, karena memberi kedudukan yang kuat pada bank apabila kredit tersebut diselesaikan dengan proses litigasi; merupakan tumpuan terakhir dari bank untuk mengamankan kredit.

Analisa terhadap aspek hukum dapat meliputi ; legalitas debitur; legalitas usaha debitur; perjanjian kredit; agunan dan pengikatnya; document kredit; asuransi kredit;
Hal-hal yang dikaji terhadap legalitas debitur adalah; Cakap untuk berbuat

hukum dan bertanggung jawab di depan hukum, cakap berbuat hukum dianalisa terhadap subjek hokum orang atau badan hukum. Perjanjian kredit diatur oleh Pasal 1 ayat 12 UU Perbankan; didasari oleh kesepakatan antara piha bank dengan nasabah. Menurut Marhainus Abdul Muis menyatakan perjanjian kredit telah sering disebut sebagi perjanjian pinjam-meminjam (perjanjian pinjam-menganti) yang disinggung oleh pasal 1754 BW, oleh Wijono Projodikoro menafsirkan Pasal 1754 sebagai perjanian real.

Menurut Mariam Badrul Zaman, perjanjian kredit adalah perjanjian pendahuluan dimana rilnya harus ada penyerahan barang atau uang. Isi dari perjanjian kredir; Jumlah kredit; Jangka waktu; Tujuan Penggunaan/ bentuk dan sifat kredit; bunga kredit dan cara pembayaran; biaya produksi/ administrasi; pembayaran kembali; agunan kredit dan cara pengikatannya; kewajiban debitur sehubungan dengan adanya kredit; hak dan kewenangan atas kredit yang diberikan; penyelisaian pereselisihan.

Fungsi dari perjanjian kredit; perjanjian kredit adalah perjanjian pokok,jika batal perjanjian pokok maka batalpula perjanjian yang mengikutinya; untuk menentukan hak dan kewajiban para pihak (alat pembuktian); memotong kredit; Semua informasi ini harus diminta oleh perbankan sebelum mencairkan kredit berdasarkan Surat Keputusan Bank Indonesia Nomor 28/27/KEP/DIR tangal 10 Juli 1995 tentang Informasi Debitur Bank Umum (Pasal 5).

Pasal 1 angka 23 UU No 10/ 1998 menyatakan; Agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam ranngka pemberian fasilitas kredit atau pembayaran berdasarkan prinsip syariah. Dengan kedudukannya sebagai bentuk jaminan tambahan maka agunan menurut Penjelasan Pasal 8 UU No. 10/1998 adalah berupa; barang, proyek atau hak tagihan yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan. tanah yang kepemilikannya didasarkan pada hukum adat, yaitu tanah yang bukti kepemilikannya berupa geruik, petuk, dan lain-lain yang sejenis dapat juga digunakan sebagai agunan. bank tidak wajib meminta agunan berupa barang yang tidak berkaitan langsung dengan objek yang dibiayai, yang lazim dikenal dengan agunan tambahan.

Menurut Prof Subekti, jamian ideal (baik) tersebut adalah; Dapat secara mudah membantu perolehan kredit oleh pihak yang memerlukannya; Tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pemerima kredit untuk melakukan (meneruskan) usahanya; Memberikan kepastian kepada kreditur dalam arti bahwa yaitu bila perlu mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si debitur. Berdasarkan Penjelasan Pasal 11 ayat (2) UU no 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia maka yang dimaksud dengan aguan yang ideal yaitu agunan yang berkualitas tinggi dan dengan mudah dicairkan meliputi surat berharga dan atau tagihan yang diterbitkan oleh pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai peringkat tingggi berdasarkan hasil penilaian lembaga pemerintah yang berkompetan dan sewaktu-waktu dengan mudah dapat di jual ke pasar untuk dijadikan uang tunai

Jenis agunan; Hipotik; Credit verband Findusia (finsiciare eigendomsoverdracht)

Produk Perbankan (Jasa Keuangan dan Pembiayaan). Diamandemennya Undang-undang Perbenkan dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998, maka jasa perbankan di Indonesia dikenal dengan jasa perbankan konvensional dan jasa perbankan dengan Prinsip Syariah. Berlakunya perbankan syariah terakhir diatur oleh Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34 KEP/DIR tentang Bank Uamum Berdasarkan Prinsip Syariah dan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia dengan nomor 32/36/KEP/DIR tentang Bank Perkreditan Rakyat berdasarkan Prinsip Syariah; sedangkan pedoman pendirian Perbankan syariah diatur oleh Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34 KEP/DIR tentang Bank Uamum Berdasarkan Prinsip Syariah

Ada beberapa persamaan produk perbankan tersebut diantaranya, walaupun belum terdapat persaman jenis produk perbankan lainya, yaitu melekukan kegiatan sebagai berikut; Menghimpun dana dari masyarakat dan swasta. pada perbankan syariah dikenal dengan prinsip Murabahah (meletakkan modal); Memberikan jasa kredit perbankan atau pembiayaan pada perbankan syariah dikenal dengan Prinsip Istina; Menerbitkan surat pengakuan hutang, pada Perbankan Syariah dikenal dengan Al Qard (pemeberin harta kepada orang lain dengan maksud dapat ditagih kembali); Jual-beli surat berharga; Pemindahan uang (transver) pada perbankan syariah digunakan Prinsip Wadiah untuk menitipkan uang untuk kebutuhan nasabah, dan dapat dibayarkan kepada pihak ketiga; Penempatan dana dan peminjaman dana dari sesama bank, pada perbankan syariah dapat digunakan Prinsip Murabaha atau Prinsip Istina; Pembayaran tagihan surat berharga; Penyimpanan barang dan surat berharga, pada Perbankan syariah dikenal dengan Prinsip Wadiah (penitipan); Menerima penitipan untuk kepentingan pihak lain (trust), perbankan syariah juga disebut sebagai Prinsip Wadiah (Penitipan); Penempatan dana dalam bentuk surat berharga; Usaha Anjak Piutang (factoring), kartu kredit; dan kegiatan waliamanat; Melakukan kegiatan dalam valuta asing. Pengurusan dan Pendirian dana Pensiun.

Merger, Kosolidasi dan Akuisisi. Merger adalah suatu proses pengabungan modal dari perusahaan tanpa mengadakan liquidasi, upaya merger yang ditempuh oleh pemilik bank merupakan salah satu cara dalam penguatan modal perbankan agar dapat memberikan sinergi yang kuat agar mampu berkompetisi di pasar nasional dan global. Tujuan lainnya adalah agar dicapai sebuah kesehatan perbankan dan upaya membangun kepercayaan masyarakat. Merger dapat masih berdiri bank sebelum merger tetapi mereka telah melebur modalnya dalam satu aliansi. Akibat dari merger yaitu; pemegang saham yang melakukan merger menjadi pemegang saham hasil merger. aktifa dan pasifa bank (seluruh hak dan kewajiban bank tercatat dalam neraca maupun dalam rekening administrative) yang melakukan merger beralih kepada bank hasil merger.

Konsolidasi

hampir sama dengan merger tetapi kosolidasi, disamping dilakukan peleburan modal, dilakukan upaya pertukaran pengelola bank, dengan cara mendirikan bank baru dan membubarkan bank sebelumnya tanpa melakukan liquidasi (pencairan/pembubaran asset dan modal perbankan). kibat dari hasil konsolidasi adalah dibentuknya bank baru hasil konsolidasi, dan perizinan baru sesuai dengan nama bank yang dibentuk. Akuisisi adalah pengambilalihan modal dan asset bankan secara keseluruhan dari perbankan yang diakusisi oleh akuisitor. Akuisisi mengakibatkan perubahan yang fundamen, karena telah beralih modal dan asset serta modal pendiri, dan pengelolaaan kepada bank yang mengakuisisi. Setiap perubahan yang terjadi dalam hal modal dan mamagement harus dilakukan perubahan Anggaran Dasar perusahaan dan pada perbankan diwajibkan untuk memperbarui izin seperti:

Akuisisi pada Bank Panin, tanggal 17 Agustus 1971 terjadi dikarenakan proses pengabungan tiga bank milik Muktar Riadi dan Mumin Ali Gunawan; dalam hal ini juga pernah terjadi pada Bank Sampoerna yang diakuisisi oleh Bank Danamon berdasarkan izin Bank Indonesia SI 423/MK/92 tangal 4 November 1992. Merger pada Bank Putra Multikarsa ke dalam Solida bank berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-125/KM.17/1997 tanggal 31 Maret 1997. Landasan peraturan yang mengatur mengenai hal ini adalah; Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagai mana telah diubah dengan UU no. 10 tahun 1998. Undang undang Nomor 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1998 tentang Pengabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas. pertauran Pemerintah nomor 28 tahun 1999 tentang Merger, Konsolidasi dan Akuisisi. Peraturan Pemerintah Nomor 29 tentang Pembelian Saham Bank Umum. Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 22/KMK.017/1993 tentang Persyaratan dan Tata Cara Merger Konsolidasi dan Akuisisi

Rahasia Bank. Berkembangnya lembaga perbankan karena adanya dikenal dengan prinsip rahasia bank (secrecy), kerahasiaan informasi yang pada prinsipnya dituukan lebih kepada kegunaan perbankan dan nsabah. Prinsip rahasia dikenal dengan Azas confidensial, menurut undangundang Perbakan Rahasia bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpanan dan simpanannya. Berdasakan teori tentang Rahasia dan dipraktekan oleh perbankan terdapat dua hal yang dapat dikategorikan sebagai rahasia yang mutlak dan rahasia yang relative. Yang banyak di terapkan adalah rahasia perbankan yang bersifat relative, yaitu bank dapat membuka rahasianya apabila untuk sesuatu kepentingan mendesak misalnya untuk kepentingan Negara.

Fund System (Sistem Lembaga Keuangan)


Lembaga Keuangan Bukan Bank/LKBB, berdasarkan Pasal 1 (4) Keputusan

Presiden Nomor 61 tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan adalah; Lembaga Keuangan Bukan Bank adalah badan usaha yang melakukan kegiatan dibidang keuangan yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana dengan jalan mengeluarkan surat berharga dan menyalurkan dana ke masyarakat guna membiayai investasi perusahaanperusahaan. Pengertian lain dapat kita temukan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan Kep-38/ MK/IV/12/ 1970; lembaga keuangan adalah semua badan yang melalui kegitankegiatan dibidang keuangan tersebut dalam Pasal 3, secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana terutama dengan jalan mengeluarkan kertas berharga dan menyalurkan ke dalam masyarakat, terutama guna mebiayai investasi perusahaan.
Berdasarkan

Pasal 1 (2) Undang-Undang Nomor 14 tahun 1967 tentang Perbankan yang dimaksud lembaga keungan bukan bank adalah lembaga perasuransian dan lembaga keuangan lainya yang diatur oleh peraturan lain. Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Pasal 57 menyatakan bahwa; lembaga keuangan bukan bank yang telah mendapat izin dari menteri pada saat undang-undang ini mulai berlaku, dapat menyesuaikan kegiata usahanya sebagi bank berdasarkan ketentuan undang-undang ini, selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) tahun semenjak mulai berlakunya undang-undang ini. Menurut ketentuan ini pada tanggal 25

Modal

dari Lembaga Keuangan Bukan Bank yang telah menyesuaikan diri sesuai Pasal 57, kemudian ditentukan dalam Pasal 24 (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 70 tahun 1992, tentang Bank Umum, persyaratan modal yang harus dipenuhi oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank yaitu modal disetor sekurangkurangnya Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliyar rupiah) untuk Bank Umum Devisa dan Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliyar rupiah) untuk Bank Umum Bukan Devisa Lembaga Keuangan Bukan Bank meliputi bisnis; Perasuransian penyelenggaraan dana pension Perusahaan Keuangan Holding company Perusahaan yang memberikan potongan/diskon Perusahaan pemutar kredit Rumah gadai. (Iswardono: 1991;71)

PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN


Apa modal paling besar lembaga perbankan? Uang? Aset? Menurut

Marzuki Usman, modal utama bank adalah kepercayaan (trust). Karena itu ia bisa kehilangan kepercayaan, bank bisanya langsung goyang dan tidak kokoh. Nasabah tiba-tiba menarik kembali uang yang sudah ditaruhnya di sebuah bank manakala ia mendengar bank itu terancam. Sebenarnya bukan bank yang terancam, tetapi dalam mindset nasabah, merekalah yang terancam. Ancaman-ancaman demi ancaman sebenarnya dari waktu ke waktu sudah melanda perbankan nasional kita. Sejak sejumlah bank ambruk di penghujung orde baru hingga sejumlah isu yang membikin nasabah melakukan rush massal telah menjadi pelajaran berharga bagi para bankir menggelindingkan roda banknya menuju tahuntahun mendatang. Sinar Harapan, 2005

Bahwa kepercayaan adalah suatu yang tidak bisa ditawar-tawar

pula. Kredibilitas memang pertaruhan para bankir untuk membawa banknya sebagai bank sesungguhnya. Kepercayaan itu tidak saja lantaran public menaruh uangnya untuk dikelola para bankir, tetapi juga karena public memanfaatkan uang bank sebagai sebuah pinjaman. Para debitur juga memerlukan rasa yakin dan percayanya pada bank yang memberikan pinjaman apakah kelak pinjaman itu akan menimbulkan masalah antara dia dan banknya. Jika debitur sudah yakin dan percaya pada bank maka jadilah sebuah akad kredit ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dalam praktik perbankan tak jarang hubungan yang semestinya merupakan hubungan saling menguntungkan antara bank dengan nasabahnya tiba-tiba berubah menjadi hubungan yang meruncing. Beberapa diantaranya bahkan menjadi perkara berlarut-larut di pengadilan.

Permasalahan perbankan yang memicu sengketa dimulai produk-produk perbankan:

Penghimpunan dana terbagi atas :


Giro Tabungan. Deposito Antar Bank Lainnya

Penyaluran dana
Kredit /pembiayaan terdiri dari kredit/ pembiayaan investasi, kredit

pembiayaan modal kerja dan kredit pembiayaan konsumsi ( diluar kartu kredit)

Sistem pembayaran terdiri dari:


ATM atau kartu debit kartu kredit kartu prabayar direct debit standing instruction traveller cheque

RTGS elekronik banking remittance lainnya Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/24/DPNP tanggal 18 Juli 2005

Produk kerjasama
bancassurance reksadana lainnya

Produk lainnya

bank garansi trade finance derivative welth managemen save deposit dan lainnya

Sengketa antara Bank dan Nasabah terjadi karena tidak dipenuhinya tuntutan finansial Nasabah oleh Bank dalam penyelesaian pengaduan nasabah.Dari segi kacamata hukum sengketa perbankan dapat terjadi dalam hal hubungan nasabah dan bank.Hubungan nasabah dan Bank ada dua bentuk yaitu Kedudukan nasabah dalam hubungannya dengan pelayanan jasa perbankan, berada pada dua posisi yang dapat bergantian sesuai dengan sisi mana mereka berada. Dilihat pada sisi pengerahan dana, nasabah yang menyimpan dananya pada bank baik sebagai penabung deposan maupun pembeli surat berharga (obligasi atau commercial paper) maka pada saat itu nasabah berkedudukan sebagai kreditur bank. Sedangkan pada sisi penyaluran dana, nasabah peminjam berkedudukan sebagai debitur dan bank sebagai kreditur. Dalam pelayanan jasa perbankan lainnya seperti dalam pelayanan bank garansi, penyewaan save deposit box, transfer uang, dan pelayanan lainnya, nasabah (konsumen) mempunyai kedudukan yang berbeda pula. Tetapi dari semua kedudukan tersebut pada dasarnya nasabah merupakan konsumen dari pelaku usaha yang menyediakan jasa di sektor usaha perbankan. Hubungan nasabah dan bank diatur dengan prinsip:

1.

2.

3.

Hubungan kepercayaan atau fiduciary relation dalam Undang-undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 dalam penjelasan pasal 29 bahwa .bank terutama bekerja dengan dana dari masyarakat yang disimpan pada bank atas dasar kepercayaan . artinya bahwa nasabah menyimpan dana dalam berhubungan dengan bank dalam rangka simpanannya pada bank itu dilandasi oleh kepercayaan bahwa bank tersebut akan berkemauan dan berkemampuan untuk membayar kembali simpanan nasabah penyimpan dana itu pada waktu ditagih. Hubungan kerahasiaan merupakan hubungan antara nasabah dan bank baik itu hubungan antara bank dan nasabah debitur, diliputi oleh ketentuan mengenai rahasia bank. Hubungan kehati-hatian (prudential relation) Undang-undang perbankan 1992 juga menegaskan bahwa perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya. Menggunakan prinsip kehati-hatian (Pasal 2). Bankwajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian ( pasal 29 ayat 3). Dalam memberikan kredit dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib tidak merugikankepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank (Pasal 29 ayat 4). .agar lembaga perbankan di Indonesia mampu melindungi secara baik dana yang dititipkan masyarakat kepadanya .( penjelasan umum). Peningkatan perlindungan dana nasabah yang dipercayakan kepada lembaga perbankan melalui penerapan prinsip kehati-hatian(penjelasan umum).

Hubungan hukum yang terjadi antara bank dengan nasabah dapat

terwujud dari suatu perjanjian yang berbentuk akta di bawah tangan maupun dalam bentuk otentik. Dalam konteks inilah perlu pengamatan yang baik untuk menjaga suatu bentuk perlindungan bagi konsumen namun tidak melemahkan kedudukan posisi bank, hal demikian perlu mengingat seringnya perjanjian yang dilakukan antara bank dengan nasabah telah dibakukan dengan sebuah perjanjian baku. Hal-hal yang menjadi perhatian untuk supaya tidak terjadinya sengketa , yaitu pada proses yang harus ditempuh, dan warkatwarkat yang digunakan dalam pemberian kredit tersebut. Tidak kalah pentingnya pula yaitu saat pengikatan hukum antara bank dengan nasabah di mana secara hukum biasanya menyangkut dua macam pengikatan berupa: perjanjian pokoknya yakni perjanjian kredit, dan perjanjian tambahan yakni perjanjian mengikuti perjanjian pokok berupa suatu perjanjian penjaminan.

Sebagai lembaga pengawas perbankan di Indonesia, maka Bank Indonesia mempunyai peranan yang besar sekali dalam usaha melindungi, dan menjamin agar nasabah tidak mengalami kerugian akibat tindakan bank yang salah. Bank Indonesia diharapkan secara tegas, dengan kewenangannya untuk mengawasi pelaksaan peraturan perundangan-undangan oleh seluruh bank yang beroperasi di Indonesia. Pengawasan yang efektif, dan baik, adalah merupakan langkah preventif dalam membendung, atau setidak-tidaknya mengurangi, kasus kerugian nasabah karena tindakan bank, atau lembaga keuagan lainnya yang melawan hukum.

Sengketa perbankan karena hal-hal sebagai berikut: 1.Adanya anggapan bahwa bargaining power antara bank dan nasabah tidak seimbang jadi bila pihak yang kuat memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lemah mengikuti saja syarat-syarat kontrak yang diajukan para pihak Di satu sisi ketika bank akan mengucurkan dana kepada nasabah maka bank berada diposisi yang kuat tetapi ketika perbankan telah memberikan kredit kepada nasabah maka bank berada di posisi lemah karena kekuatan sebuah perjanjian. 2.Adanya klausul perjanjian kredit yang memberatkan nasabah debitur :
kewenangan bank untuk sewaktu-waktu tanpa alasan apapun dan tanpa pemberitahuan

sebelumnya memberhentikan izin tarik praktik bank. bank berwenang secara sepihak menentukan harga jual dari barang agunan dalam hal penjualan barang agunan, tanah kredit nasabah dari debitur macet.

3. Kewajiban nasabah debitur untuk tunduk kepada segala kewajiban petunjuk dan peraturan bank yang telah ada dan masih akan ditetapkan kemudian oleh bank.

4.Keharusan nasabah debitur untuk tunduk kepada syarat-syarat ketentuan umum hubungan rekening Koran dari bank yang bersangkutan namun tanpa sebelumnya, nasabah diberi kesempatan untuk memahami dan mengetahui syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan umum, hubungan rekening Koran tersebut. 5.Kuasa nasabah debitur tidak dapat dicabut kembali kepada bank untuk dapat melakukan segala tindakan yang dirasa perlu oleh bank. 6.Kuasa nasabah debitur kepada bank untuk mewakili dan melaksanakan hak, nasabah debitur dalam hal setiap rapat umum pemegang saham. 7.Pencantuman klausul eksepsi yang membebaskan bank dari tuntutan ganti kerugian oleh nasabah debitur atas terjadinya kerugian yang diderita olehnya sebagai akibat tindakan bank. 8.Pencantuman klausul eksepsi mengenai tidak adanya hak nasabah debitur untuk dapat menyatakan keberatan atas pembebanan bank terhadap rekeningnya.

9. Pembuktian kelalaian nasabah debitur hanya secara sepihak. 10.Penetapan dan penghitungan suku bunga merugikan nasabah debitur. 11.Denda keterlambatan merupakan bunga terselubung. 12.Perhitungan bunga berganda menurut praktek perbankan bertentangan dengan Pasal 1251 KUHPerdata. 13.Kewajiban pelunasan bunga terlebih dahulu adalah sesuai dengan undangundang ( Pasal 1397 KUHPerdata) tetapi sangat memberatkan nasabah.
Yang dimaksud sengketa perbankan adalah permasalahan yang diajukan oleh nasabah atau perwakilan nasabah kepada penyelenggara mediasi perbankan, setelah melalui proses penyelesaian pengaduan oleh bank sebagaimana diatur dalam peraturan bank Indonesia tentang penyelesaian pengaduan nasabah. Pengaduan nasabah dalam hal ini merupakan ungkapan ketidakpuasan nasabah yang disebabkan oleh adanya potensi kerugian financial pada nasabah yang diduga karena kesalahan atau kelalaian bank.

Sengketa terjadi karena adanya perbedaan kepentingan masing-masing para pihak, yaitu ada interaksi antara dua orang atau lebih, dimana salah satu pihak percaya bahwa kepentingannya tidak sama dengan kepentingan yang lain. Sengketa dalam dunia perbankan berawal dari pengaduan ketidakpuasan yang bisa memicu sengketa perbankan yang lebih luas. Untuk mengantisipasi supaya pengaduan nasabah tidak menjadi sengketa perbankan yang berkepanjangan maka Bank Indonesia dalam hal ini mengeluarkan peraturan Bank Indonesia No.8 /5/PBI/2006. Penyelesaian pengaduan nasabah oleh bank yang diatur dalam peraturan Bank Indonesia Nomor 7/7/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang Penyelesaian Pengaduan nasabah tidak selalu dapat memuaskan nasbah. Ketidakpuasan tersebut dapat diakibatkan oleh tuntutan nasabah yang tidak dipenuhi bank baik seluruhnya ataupun sebagian. Pada gilirannya ketidakpuasan tersebut berpotensi menimbulkan sengketa antara nasabah dengan bank, yang apabila berlarut-larut dan tidak segera ditangani dapat mempengaruhi reputasi bank, mengurangi kepercayaan masyarakat pada lembaga perbanakan dan merugikan hakhak nasabah.

Upaya penyelesaian sengketa antara nasabah dan bank dapat

dilakukan melalui negosiasi, konsiliasi, mediasi, arbitrase dan sebagaimana diatur undang-Undang No 30 'I'ahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternative Penyelesaian Sengketa, maupun melalui jalur peradilan.Bentuk Penyelesaian sengketa menurut Undang No 30 'I'ahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternative Penyelesaian Sengketa adalah: 1. Konsiliasi adalah usaha yang dilakukan pihak ketiga yang bersifat netral, untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bersengketa secara terpisah, dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan, kearah tercapainya persetujuan untuk berlangsungnya suatu proses peyelesaian sengketa. Konsiliasi mensyaratkan adanya pihak ketiga yang dapat diterima oleh para pihak yang bersengketa. Pertemuan, pencatatan, persiapan yang diperlukan, dan kesepakatan pengambilan keputusan.

2. Negosiasi adalah proses yang berlangsung secara sukarela diantara pihak-pihak yang bertatap muka diterima kedua belah pihak mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Negosiasi merupakan salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul. Negosiasi mensyaratkan adanya para pihak yang mampu untuk mengidentifikasi masalah atau isu yang menjadikan mereka beda, saling memahami perbedaan kepentingan dan kebutuhan mereka, mencoba untuk menemukan berbagai pilihan kemungkinan penyelesaian konflik atau dan saling menawarkan mengenai syarat dan kondisi untuk dapat mencapai persetujuan final. Negosiasi adalah suatu upaya untuk memperbaiki atau memperbaharui hubungan yang baru sama sekali.

Negosiasi dalam perbankan menyangkut dua hal yaitu:


Negosiasi Kepentingan

Negosiasi kepentingan ( interest negotiation) merupakan negosiasi yang sebelum bernegosiasi sama sekali tidak mempunyai hak apapun dari satu pihak kepada pihak lain. Akan tetapi mereka bernegosiasi karena masing-masing pihak ada kepentingan untuk melakukan negosiasi tersebut. Karena itu dalam negosiasi kepentingan jika para pihak yang bernegosiasi tidak berhasil menemukan suatu kata sepakat , maka dapat dikatakan secara umum dapat dikatakan tidak suatu pihak pun dapat memaksa dilanjutkan negosiasi.

NegosiasiHak

Sebaliknya dalam negosiasi Hak (right negotiation) sebelum para pihak bernegosiasi, antara para pihak sudah terlebih dahulu mempunyai hubungan hukum tertentu, sehingga antara para pihak tersebut telah menimbulkan hak-hak tertentu yang dijamin pemenuhannya oleh hukum. Kemudian para pihak bernegosiasi bagaimana hak-hak tersebut dapat dipenuhi oleh pihak lawan dalam negosiasi tersebut. Jadi berbeda dengan negosiasi kepentingan dimana dalam negosiasi terbut dimaksudkan untuk menciptakan hubungan hukum tertentu , tetapi dalam negosiasi hak hubungan hukum tersebut justru sudah ada sebelum negosiasi dilakukan.

Jadi negosiasi hak bertujuan untuk menyelesaikan masalah sehubungan dengan pelaksanaan hak yang sebelumnya sudah ada. Di Indonesia negosiasi hak ini dilakukan sebelum ataupun ketika perkara hukum sudah diajukan kepengadilan. Sebab ada kewajiban hakim sebelum memutus perkara untuk meminta para pihak untuk terlebih dahulu melakukan negosiasi dalam hal ini negosiasi hak atau di Indonesia terkenal dengan istilah popular yaitu musyawarah. Negosiasi sangat terkait dengan kebudayaan suatu bangsa mana yang menajdi lawan negosiasinya dan bagaimana kharakteristik dari bangsa yang bernegosiasi. Negosiasi kepentingan dan negosiasi hak mempunyai unsur yang sama: a. Negosiasi diperlukan karena adanya sengketa diantara para pihak yang harus diselesaikan baik yang didasarkan atas hak yang sudah ada sebelumnya seperti yang terjadi dalam negosiasi hak ataupun yang berdasarkan kepentingan para pihak yang terjadi saat negosiasi tersebut ( negosiasi kepentingan) b. Negosiasi bertujuan untuk dapat menyelesaikan sengketa dengan cara yang paling memuaskan kedua belah pihak tanpa perlu membuat kesimpulan yang drastis.

3. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa pihak ketiga atau pihak luar yang tidak memihak (impartial) dan netral bekerja dengan para pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan perjanjian yang memuaskan. Berbeda dengan hakim atau arbiter, mediator tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan sengketa antara para pihak, namun dalam hal ini para pihak mengusahakan kepada mediator untuk membantu mereka menyelesaikan persoalan-persoalan diantara mereka. Namun demikian upaya penyelesaian sengketa melalui arbitrase atau jalur peradilan tidak mudah dilakukann bagi nasabah kecil dan usaha mikro dan kecil mengingat hal tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu penyelesaian nasabah dengan bank bagi nasabah kecil, usaha mikro dan kecil perlu diupayakan secara sederhana, murah dan cepat melalui penyelenggaraan mediasi perbankan agar hak-hak mereka sebagai nasabah dapat terjaga dan terpenuhi dengan baik.

Untuk sengketa tersebut, cara terbaik mencegahnya, agar sengketa tidak terjadi adalah bahwa masing-masing pihak mengetahui apa yang diinginkan pihak lain dan menangkap dengan jelas, misalnya perjanjian tertulis diantara para pihak. Di samping itu, meningkatkan pengetahuan masing-masing pihak tentang kepentingan orang lain akan dapat menurunkan peluang terjadinya suatu sengketa. Perlu diingat bahwa sengketa dapat dengan mudah terjadi, apabila masing-masing pihak tidak saling mengenal antara satu sama lain dan bila mereka memaksakan format bisnisnya yang baru atau bila mereka berasal dari budaya yang berbeda. Setidak-tidaknya ada empat cara untuk menyelesaikan sengketa. Pertama, satu pihak atau lebih sepakat untuk menerima suatu situasi, dimana kepentingan mereka tidak terpenuhi seluruhnya. Kedua, pihak-pihak mengajukan situasi atau persyaratan secara lengkap kepada orang atau panel, yang akan memutuskan kepentingan mana yang harus dipenuhi dan kepentingan mana yang tidak dipenuhi. Pada umumnya, orang atau panel yang tidak memihak tersebut akan merujuk kepada aturan-aturan atau pedoman yang telah ada dan yang telah disepakati oleh semua pihak atau sedikitnya sudah diketahui oleh semua pihak. Ketiga, persepsi satu pihak atau pihak

Apabila musyawarah dan upaya administrasi masih belum menyelesaikan

sengketa maka upaya yang ditempuh adalah dilakukan Bank adalah dengan menyelesaikannya melalui kuasa khusus kepada kejaksaan RI, Dasar Hukum penyelesaian sengketa oleh pihak kejaksaan terdapat dalam Pasa1 30 ayat (2) Undang-Undang No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI yang menyatakan; Dibidang perdata dan tata usaha negara , kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik didalam maupun diluar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.
Penyelesaian Sengketa

Lembaga yang ditunjuk untuk penyelesaian kredit bermasalah oleh Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan .

Lembaga ini diperintahkan pasal 41 A yang berbunyi;

(1).Untuk menyelesaikan piutang bank yang sudah diserahkan kepada Badan urusan piutang dan lelang Negara atau panitia urusan piutang negara , Pimpinan Bank Indonesia memberikan izin kepada pejabat urusan Piutang Negara untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simapanan nasabah debitur. (2)Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan secara tertulis atas permintaan tertulis dari Kepala Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara/Ketua Panitia Urusan Piutang Negara. (3)Permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus menyebutkan nama dan jabatan Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara/ Panitia Urusan Piutang Negara, nama nasabah debitur yang bersangkutan dan alasan diperlukannya keterangan.

Penyelesaian melalui Badan Peradilan Peradilan yang dapat menyelesaikan dan menangani kredit bermasalah yaitu peradilan umum melalui gugatan Perdata dan Peradilan Niaga melalui gugatan Kepailitan. Dalam hal gugatan Perdata bagi Bank milik Negara selain bisa dilakukan personal dari biro Hukum Bank yang bersangkutan dimungkinkan melalui penggunaan jasa Kejaksaan. Peran kejaksaan dalam menangani kredit macet dari bank pemerintah ini adalah sebagai konsultan Hukum atau pengacara Pemerintah dalam hubungan kasus keperdataan. Dalam penggunaan jasa kejaksaan bank tersebut tidak perlu izin siapapun. Penyelesaian melalui Abitrase Menurut Sidharta P Soerjadi, SH pada umumnya di bagian akhir perjanjian Kredit dapat dicantumkan suatu klausula yang menentukan bahwa apabila terjadi sengketa sebagai akibat dari perjanjian tersebut para pihak akan memilih penyelesaian melalui arbitrase (perwasitan).

Dasar penyelesaian sengketa melalui arbitrase sekarang telah

mempunyai landasan yang kuat yaitu berupa peraturan perundangundangan mengenai arbitrase yang dimuat pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternative Penyelesaian Sengketa. Penyelesaian ini dapat dilaksanakan apabila dalam perjanjian kredit sebelumnya timbul sengketa telah dimulai pada klausul abitrase atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbulnya kredit bermasalah tersebut. Cara penyelesaian melalui arbitase ini dilakukan melalui lembaga arbitase yaitu suatu badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan keputusan mengenai sengketa. Penggunaan lembaga ini dalam penyelesaian sengketa perdagangan termasuk menyelesaikan sengketa perkreditan didasarkan beberapa keuntungan tertentu yang tidak diperoleh dari penyelesaian selain arbitrase.

Keuntungannya antara lain: penyelesaian relative tidak memerlukan waktu yang lama dengan sifatnya tertutup maka diharapkan nama baik para pihak terjaga; para pihak dapat memilih arbitrater yang menurut keyakinannya mempunyai pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur dan adil; para pihak dapat menentukan pilihan Hukum untuk menyelesaikan masalahnya serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase; putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui tata cara (prosedur) para pihak dengan melalui tatacara sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan. Kelemahannya tidak ada kemungkinan untuk minta sita jaminan konservatoir seperti halnya pada gugatan perdata biasa.

Penyelesaian Kredit bermasalah melalui BPPN Penanganan piutang Negara oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional terbatas pada piutang yang terjadi karena proses penyehatan perbankan. Hal karena Badan itu sendiri sebagai lembaga yang bersifat sementara didirikan untuk pwenyehatan Perbankan dengan demikian piutang Negara yang ditanganinya hanya menyangkut piutang Negara yang berasal dari kredit yang ada pada Bank dalam penyehatan.

Yang dimaksud piutang pada bank penyehatan termasuk juga piutang yang

sudah dialihkan kepada Bank Penyehatan Perbankan Nasional, piutang yang timbul sehubungan dengan penanggungan hutang, atau penyerahan kekayaan oleh pihak lain kepada bank dalam Penyehatan dan atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Pelaksanaan penagihan dilakukan melalui cara-cara: 1.Penerbitan surat paksa yang formalnya harus mengikuti ketentuan pada pasal 56 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 dengan memenuhi formalitas yang ada maka telah mempunyai kekuatan eksekutorial dan mempunyai kedudukan Hukum yang sama dengan suatu putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan Hukum yang tetap. Penerbitan surat ini dilakukan apabila debitur melalaikan kewajiban membayar atau kewajiban lainnya berdasarkan dokumen kredit dan lain sebagainya. 2.Penyitaan dilakukan dalm waktu satu hari setelah diterima surat paksa, BPPN berhak melakukan sita eksekusi atas kekayaan milik debitur.

3.Pelelangan yaitu penjualan kekayaan milik debitur yang telah disita dilakukan melalui pelelangan, pembagian hasil penjualan dilaksanakan berdasarkan ketentuan hak memperoleh pemenuhan pembayaran lebih dulu yang berlaku atas piutang Negara, sesuai perundang-undangan yang berlaku.
Kewenangan yang dimiliki BPPN dalam penanganan kredit bermasalah ini merupakan sesuatu yang bersifat lex specialis terhadap peraturan perundang-undangan lainnya maka penerapannya perlu dilandasi kehati-hatian serta menjunjung asas keterbukaan. Pemberian kewenangan khusus demikian karena besarnya jumlah uang Negara yang harus dipulihkan.