Anda di halaman 1dari 18

Oleh : M. Ali Akbar M. Haris Fadillah M. Ria Zulfikar M. Ubaid M.

Zaenal Arifin Mas Lulut Basuki (1009045028) (1009045011) (1009045031) (1009045041) (1009045025) (1009045018)

Keragaman atau kemajemukan merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan dalam kehidupan dimasyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan dimasa silam, kini dan diwaktu-waktu mendatang. Sebagai fakta, keragaman sering disikapi secara berbeda. Disatu sisi diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi disisi lain dianggap sebagai faktor penyulit.

Kesetaraan merupakan hal yang inherent yang dimiliki manusia sejak lahir. Setiap individu memiliki hak-hak dasar yang sama yang melekat pada dirinya sejak dilahirkan atau yang disebut dengan hak asasi manusia. Kesetaraan derajat individu melihat individu sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial yang menempel pada dirinya berdasarkan atas asal rasial, suku bangsa, kebangsawanan ataupun kekayaan dan kekuasaan.

Di Indonesia, berbagai konflik antar suku bangsa, antar penganut keyakinan keagamaan, ataupun antarkelompok telah memakan korban jiwa dan raga serta harta benda, seperti kasus Sambas, Ambon, Poso, dan kalimantan Tengah. Masyarakat majemuk Indonesia belum menghasilkan tatanan kehidupan yang egalitarian dan demokratis. Persoalan-persoalan tersebut sering muncul akibat adanya dominasi sosial oleh suatu kelompok. Adanya dominasi sosial didasarkan pada pengamatan bahwa semua kelompok manusia ditunjukkan pada struktur dalam sistem hirarki sosial pada suatu kelompok.

Didalamnya ditetapkan satu atau sejumlah kecil dominasi dan hegemoni kelompok pada posisi teratas dan satu atau sejumlah kelompok subordinat pada posisi paling bawah. Diantara kelompok-kelompok yang ada, kelompok dominan dicirikan dengan kepemilikan yang lebih besar dalam pembagian nilai-nilai sosial yang berlaku. Adanya dominasi sosial ini dapat mengakibatkan konflik sosial yang lebih tajam. Negara Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama, dapat disebut sebagai masyarakat multikultural. Berbagai keragaman masyarakat Indonesia terwadahi dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terbentuk dengan karakter utama mengakui pluralitas dan kesetaraan warga bangsa. NKRI yang mengakui keragaman dan menghormati kesetaraan adalah pilihan terbaik untuk menghantarkan masyarakat Indonesia pada pencapaian kemajuan peradabannya.

Manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu berkaitan dengan konsep kesetaraan dan keragaman. Konsep kesetaraan (equity) bisa dikaji dengan pendekatan formal dan pendekatan substantif. Pada pendekatan formal kita mengkaji kesetaraan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku, baik berupa undang-undang, maupun norna, sedangkan pendekatan substantif mengkaji konsep kesetaraan berdasarkan keluaran atau output, maupun proses terjadinya kesetaraan.

Konsep kesetaraan biasanya dihubungkan dengan gender, status sosial, dan berbagai hal lainnya yang mencirikan pebedaan-perbedaan serta persamaan-persamaan. Sedangkan konsep keragaman merupakan hal yang wajar terjadi pada kehidupan dan kebudayaan umat manusia. Kalau kita perhatikan lebih cermat, kebudayaan Barat dan Timur merupakan landasan dasar yang bertolak belakang. Kalau diBarat budayanya bersifat antroposentris (berpusat pada manusia) sedangkan Timur, yang diwakili oleh budaya India, Cina dan Indonesia menunjukkan ciri teosentris (berpusat pada tuhan).

Dengan demikain konsep-konsep yang lahir dari Barat seperti demokrasi, mengandung elemen dasar serba manusia, manusia-lah yang menjadi pusat perhatiannya. Sedangkan Timur mendasarkan segala aturan hidup, seperti juga konsep kesetaraan dan keberagaman berdasarkan apa yang diatur oleh tuhan melalui ajaran-ajarannya. Penilaian atas realisasi kesetaraan dan keragaman pada umat manusia, khususnya pada suatu masyarakat, dapat dikaji dari unsurunsur universal kebudayaan pada berbagai periodisasi kehidupan masyarakat.

Dengan demikain konsep-konsep yang lahir dari Barat seperti demokrasi, mengandung elemen dasar serba manusia, manusia-lah yang menjadi pusat perhatiannya. Sedangkan Timur mendasarkan segala aturan hidup, seperti juga konsep kesetaraan dan keberagaman berdasarkan apa yang diatur oleh tuhan melalui ajaran-ajarannya. Penilaian atas realisasi kesetaraan dan keragaman pada umat manusia, khususnya pada suatu masyarakat, dapat dikaji dari unsurunsur universal kebudayaan pada berbagai periodisasi kehidupan masyarakat.

Sehubungan dengan itu negara kebangsaan Indonesia terbentuk dengan ciri yang amat unik dan spesifik. Berbeda dengan jernam, inggris, perancis, italia, yunani, yang menjadi suatu negara bangsa karena kesamaan bahasa. Australia, India, Srilanka, Singapura yang menjadi satu bangsa karena kesamaan daratan. Jepang, Korea dan negara-negara di Timur Tengah menjadi satu negara karena kesamaan ras. Indonesia menjadi satu negara meski terdiri dari banyak bahasa, etnik, ras, dan kepulauan tetap dapat menjadi satu negara. Hal itu terwujud karena kesamaan sejarah masa lalu.

Mengenali dan Mengelola Keragaman Masyarakat di Indonesia - Identitas dan Salient Identity - Mengelola keragaman Memahami Masyarakat Multikultural Kesetaraan dalam Kehidupan Bermasyarakat Pengaruh Keragaman Terhadap Kehidupan Beragama, Bemasyarakat, Bernegara, dan Kehidupan Global

a) Terjadinya segmentasi kedalam kelompokkelompok yang seringkali memiliki kebudayaan yang berbeda. b) Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat non komplemeter. c) Kurang mengembangkan konsesus diantara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.

d) Secara relatif sering kali terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan yang lainnya. e) Secara relatif intergrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan didalam bidang ekonomi. f) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.

Problematika Diskriminasi Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku, etnis, kelompok, golongan, status, kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik, usia, orientasi seksual, pandangan ideologi, dan politik serta batas negara dan kebangsaan seseorang.

Manusia Beradab dalam Keragaman Dalam hal ini maka tedapat teori yang menunjukkan penyebab konflik di tengah masyarakat antara lain: 1. Teori hubungan masyarakat, memiliki pandangan bahwa konflik yang sering muncul ditengah masyarakat disebabkan polarisasi yang terus terjadi, ketidak percayaan dan permusuhan diantara kelompok yang berbeda, perbedaan bisa dilatarbelakangi SARA bahkan pilihan ideologi politiknya. 2. Teori identitas yang melihat bahwa konflik yang mengeras di masyarakat tidak lain disebabkan identitas yang terancam yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan masa lalu yang tidak terselesaikan 3. Teori kesalahfahaman antar budaya, teori ini melihat konflik disebabkan ketidakcocokan dalam cara-cara berkomunikasi diantara budaya yang berbeda. 4. Teori transformasi yang memfokuskan pada penyebab terjadi konflik adalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial budaya dan ekonomi.

Pemecahan Masalah

Problematika Keragaman dan Kesetaraan Masyarakat

Kesimpulan Ditengah arus reformasi dewasa ini, agar selamat mencapai Indonesia baru, maka idiom yang harus lebih diingat-ingat dan dijadikan landasan kebijakan mestinya harus berbasis pada konsep bhineka tunggal ika. Artinya, sekalipun berada dalam satu kesatuan tidak boleh dilupakan, bahwa sesungguhnya bangsa ini berbeda-beda dalam suatu keragaman. Kesetaraan bisa diwujudkan dengan pemarataan pembangunan diseluruh wilayah NKRI dan juga keadilan di dalam bidang hukum ( bahwa semua sama di hadapan hokum). Namun jangan sampai kita salah langkah, yang bisa berakibat yang sebaliknya : sebuah konflik yang berkepanjangan. Oleh karena itu keragaman dan kesetaraan harus ditanamkan sejak dini kepada generasi mudah penerus bangsa.

Saran Sebagai makhluk individu yang menjadi satuan terkecil dalam suatu organisasi atau kelompok manusia harus memiliki kesadaran diri terhadap realita yang berkembang ditengah masyarakat sehingga dapat menghindari masalah yang berpokok-pangkal dari keragaman dan kesetaraan sebagai sifat dasar manusia. Kita sebagai mahkluk sosial yang hidup saling bergantung kepada sesama hendaknya menyadari bahwa manusia yang lainnya memiliki hak yang sama walau dalam hal kewajiban berbeda-beda. BHINEKA TUNGGAL IKA