Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI DAN FISIKA BLOK MUSKULOSKELETAL OTOT RANGKA DAN BIOMEKANISME OTOT BISEP 2010-2011

KELOMPOK A.8
Ketua Sekretaris Anggota
Adhito Karistomo Annisa Racmatia Mony Ayu Agustin Aura Rachmawati Fazmial Rakhmawati Febrina Rizkya (1102009008) (1102008037) (1102009048) (1102009047) (1102009110) (1102009111)

: Andika Prayoga : Fatihah Iswatun Sahara

(1102008027) (1102009109)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA 2010

DASAR TEORI Otot adalah spesialis kontraksi pada tubuh. Kontraksi otot rangka menyebabkan tulang tempat otot tersebut melekat bergerak. Kontraksi otot yang menghasilkan panas penting untuk mengatur suhu. Karena kemampuan yang tinggi untuk kontraksi, sel-sel otot mampu memendek dan membentuk tegangan yang memungkinkan mereka menghasilkan gerakan dan melakukan kerja. Sebagai respon terhadap sinyal listrik, otot mengubah energi kimia ATP menjadi energi mekanis yang dapat bekerja pada lingkungan. Otot digolongkan sebagai volunter atau involunter bergantung pada apakah dipersarafi oleh sistem saraf somatik dan berada dibawah pengaruh kesadaran atau oleh sistem saraf otonum dan tidak dibawah kontrol kesadaran. Otot rangka dirangsang untuk berkontraksi melalui pengeluaran asetil kolin ( Ach) di neuromuscular junction antara ujung-ujung akhir neuron motorik dan sel otot. Salah satu ciri menonjol otot rangka adalah banyaknya nukleus di sel otot, banyaknya mikokondria karena tingginya kebutuhan energi suatu jaringan seaktif otot rangka. Ciri struktural yang paling menonjol pada serat otot rangka adalah banyaknya neofibril. Setiap nefibril terdiri dari susunan teratur unsur-unsur sitoskeleton yang sangat terorganisasi yaitu filamen tebal dan filamen tipis. Filamen tebal adalah susunan khusus dari protein miosin. Dalam filamen tebal tersebut, terdapat pita gelap ( anisotrop ) ato lebih dikenal dengan pita A. Didaerah yang lebih terang didalam bagian tengah pita A, terdapat filamen-filamen tipis yang tidak bertemu dikenal sebagai zona H. Pita terang ( isotorp I) hanya berisi filamen tipis. Garis tengah setiap pita i yang memadat terlihat sebuah garis Z vertikal. Daerah antara dua garis Z disebut Sarkomer. Setiap serat otot dipersarafi oleh neuron motorik. Setiap serat otot memiliki ambang rangsang yang berbeda-beda. Oleh karena itu apabila seberkas otot dirangsang dalam arus tertentu yang relatif kecil maka tidak dari semua myofilamen otot berkontraksi karena mempunyai batas treshold dan sub threshold yang berbeda-beda. Serat otot dalam keadaan relaksasi, tidak terjadi kontraksi. Aktin tidak mampu berikatan dengan jembatan silang karena posisi 2 jenis protein di dalam molekul aktin tropomiosin dan troponin. Molekul tropomiosin adalah protein berbentuk benang disepanjang alur spiral aktin yang menutupi bagian-bagian aktin yang berikatan dengan jembatan silang, sehingga molekul ini menghambat interaksi yang akan menghasilkan kontraksi otot. Tropomiosin distabilisasi dalam posisi menghambat ini oleh molekul troponin, troponin adalah suatu kompleks protein yang terdiri dari 3 jenis polipeptida : Yang mengikat tropomiosin adalah troponin T Yang menghambat ikatan aktin dengan miosisn troponin I Yang berikatan dengan ion Ca2+ troponin C

Urutan peristiwa yang terjadi pada kontraksi dan relaksasi otot rangka, tahap-tahap kontraksi: 1. Pelepasan muatan oleh ion motorik

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Pelepasan transmitter (aseltilkolin) di end-plate motorik Pengikatan asetilkolin ke reseptor asetilkolin nikotinik Peningkatan konduktansi Na dan K di membran end plate Pembentukan potensial di end plate Pembentukan potensial aksi di serabut-serabut otot Penyebaran depolarisasi ke dalam sepanjang tubulus T Pelepasan Ca dari sisterna terminalis retikulum sarkoplasma serta difusi Ca ke filamen tebal dan tipis

9.

Pengikatan Ca ke troponin C sehingga membuka tempat pengikatan miosin di molekul aktin

10. Pembentukan ikatan silang (cross linkage) antara aktin dan miosin dan pergeseran filamen tipis pada filamen tebal. Sehingga menghasilkan gerakan Pada tahap relaksasi: 1. 2. 3. Ca di pompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma Pelepasan Ca dari troponin Penghentian interaksi antara aktin dan miosin bergeser

Berdasar teori Sliding-filament Mechanism, filament-filamen tipis dikedua sisi sarkomer

masuk kearah pusat pita A selama kontraksi. Keika bergeser kearah pusat tersebut, filament-filamen tipis menarik garis-garis Z ke tempat filament-filament tersebut melekat mendekat satu sama lain, sehingga sarkomer memendek. Karena semua sarkomer diseluruh serat memendek secara

simultan, keseluruhan serat menjadi lebih pendek dan terjadilah kontraksi otot. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKUATAN KONTRAKSI OTOT 1. Suhu Suhu meningkat suhu atau semakin menurun maka akan menyebabkan reaksi enzimatik

terganggu dan terjadi denaturasi protein, hal ini menyebabkan kekuatan kontraksi menurun.Bila kekuatan kontraksi menurun terjadi penigkatan masa laten, masa kontraksi & masa relaksasi pada mekanomiogram. 2. Initial Length Panjang otot sebelum berkontraksi juga mempengaruhi kekuatan kontraksi otot. Untuk setiap serat otot terdapat panjang optimal.yg pada panjang tersebut dapat dicapai gaya maksimum pada

kontraksi tetanus berikutnya. Hubungan panjang-ketegangan ini dapat dijelaskan oleh mekanisme pengglinciran filament pada kontraksi otot. 3. Jenis Pembebanan a. Pembebanan langsung, beban diberikan langsung pd ujung otot yg bebas .Otot di regang sebelum berkontraksi b. Pembebanan tak langsung, Beban diberikan pd ujung otot yg terfiksasi dengan penumpu .Otot tidak diregang sebelum berkontraksi 4. Cara Perangsangan a. Rangsang langsung, rangsang langsung pd otot tidak melalui syaraf motoriknya.Serat otot yg berkontraksi adalah serat otot yg secara mekanik langsung dipengaruhi oleh stimulator. b. Rangsang tak langsung, perangsangan otot melalui syaraf motoriknya Semua serat otot dgn ambang rangsang terendah dlm 1 motor unit akan berkontraksi. Berbagai faktor mempengaruhi tingkat ketegangan yang dapat dihasilkan. Faktor-faktor tersebut mencakup : 1. Frekuensi rangsangan 2. Panjang serat pada permulaan kontraksi 3. Tingkat kelelahan 4. Ketebalan serat

OTOT RANGKA I TUJUAN 1. 2. Membuat sediaan otot katak sesuai dengan petunjuk umum praktikum. Menggunakan alat stimulator induksi sehingga dapat merangsang sediaan otot dengan berbagai macam kekuatan yaitu arus tunggal buka dan arus tunggal tutup 3. 4. Membuat pencatatan kontraksi otot (mekaniomiogram) pada kimograf dan memfiksasinya Merangsang otot katak dengan beberapa macam kekuatan rangsang yakni rangsang: 5. Bawah ambang (subthreshold) Ambang (threshold) -submaksimal -supramaksimal

Menarik kesimpulan dari hasil latihan ini tentang pengaruh kekuatan rangsang terhadap kekuatan kontraksi otot.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM Alat dan binatang yang diperlukan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kimograf + kertas + perekat Statip + klem + pencatat otot + klem femur + batang kuningan 2 buah sinyal magnet : 1 untuk mencatat waktu,1 untuk mencatat tanda rangsang Stimulator induksi + elektroda perangsang + sakelar + kawat-kawat listrik Papan fiksasi + jarum pentul = penusuk katak + katak Benang + kapas + gelas arlogi Botol plastik berisi larutan Ringer + pipet + Waskom kecil.

TATA KERJA Hubungan antara kekuatan rangsang dan tinggi mekanomiagram akibat kerutan otot 1. 2. Pasanglah semua alat sesuai dengan gambar Buatlah sediaan otot menurut petunjuk umum. Sebelum digunakan bungkuslah sediaan otot tersebut dengan kapas yang dibasahi dengan larutan Ringer dan letakkanlah di gelas arloji 3. Pasanglah sediaan otot sesuai dengan gambar. P.II.1.1 Manakah yang harus diselesaikan lebih dahulu, pemasangan alat atau pembuatan sediaan otot? Jawaban : pemasangan alat dulu, karena sediaan otot harus digunakan sesegera mungkin. 4. Dengan tromol tetap diam, otot dirangsang sehingga terdapat suatu kerutan P.II.1.2 Bila hasil pencatatan kontraksi otot sangat kecil, bagaimana memperbesarkannya? Jawaban : menambah voltase supaya otot dapat berkontraksi secara lebih optimal

P.II.1.3 Bila hanya sebagian kontraksi yang tercatat, apa yang harus diperhatikan atau diperbaiki? Jawaban : Sediaan otot, tidak boleh dibiarkan terlalu lama dan pada waktu tertentu harus diberi cairan Ringer. 5. Pencatatan selalu dilakukan pada tromol yang diam.

Berilah waktu istirahat selama 15 detik sesudah tiap rangsangan. Putarlah tromol sepanjang cm pada tiap kali sesudah pemberian rangsang tutup dan 2 cm pada tiap kali sesudah rangsang buka. P.II.1.4 Mengapa harus diberi waktu untuk istirahat? Jawaban : agar tidak terjadi kelelahan otot (fatigue)dan juga memberika waktu buat otot untuk relaksasi. 6. Rangsanglah sediaan otot dengan rangsang tutup dan rangsang buka berturut-turut dengan kekuatan rangsang yang setiap kali diperbesar v, sehingga didapatkan mekaniomiogram sebagai hasil perangsangan bawah ambang, ambang, submaksimal, maksimal, dan

supramaksimal. P.II.1.5 Apa yang disebut rangsang bawah ambang (subthreshold)? Jawaban : rangsang terkecil yang belum mampu menimbulkan respons kontraksi. P.II.1.6 Mengapa efek fisiologis arus buka lebih besar daripada arus tutup walaupun voltase sama? Jawaban, Karena pada arus buka otot tidak sempat melakukan relaksasi dan terjadi kontraksi yang terus menerus yang membutuhkan energi yang lebih besar. P.II.1.7 Bagaimana kita dapat membedakan rangsang maksimal dengan supramaksimal? Jawaban : maksimal: rangsangan dengan intensitas terbesar, hasil respon maksimal, supramaksimal : rangsangan dengan intensitas yang lebih besar, hasil respon sama dengan rangsang maksimal. HASIL PRAKTIKUM Pada percobaan otot katak tanpa beban, kami mencatat: Kuat arus rangsang <2,5 V 2,5 V 3,5 V 4V 5V Sub Intensitas Rangsangan Threshold/ Rangsang

ambang bawah Threshold/ Ambang rangsang Sub Maksimal Maksimal Supra maksimal

Diskusi: Rangsang di bawah 2,5 V merupakan sub threshold, karena ketika otot katak di rangsang pada rangsangan tertentu di bawah 2,5V otot tidak menimbulkan respons pada kimograf.

Rangsang 2,5 V merupakan rangsang ambang otot karena pada rangsang tersebut merupakan rangsang terkecil yang dapat menimbulkan kontraksi otot sekaligus pergerakan pada kimograf.

Rangsang 3,5 V merupakan rangsang sub maksimal karena dalam rentangan dari 2,5-4 V terdapat variasi rangsang yang makin meninngi rangsang makin meningkat kontraksi otot.

Rangsang 4 V merupakan rangsang maksimal karena pada angka tersebut merupakan rangsang terbesar yang kami berikan sehingga menimbulkan respon yang maksimal. Rangsang 5 V merupakan rangsang supra maksimal karena dengan intensitas rangsang yang lebih besar dari rangsang maksimal otot tetap memberikan konraksi yang sama ketika diberikan rangsang maksimal. 3 2.5 2 1.5 Kekuatan Rangsang 1 0.5 0 1V 2V 2,5V 3,5V 4V 5V

KESIMPULAN Semakin besar arus yang diberikan ke otot maka akan semakin besar pula kontraksi otot, tetapi kontraksi yang supramaksimal ketika ditambah arus yang lebih tinggi otot tetap akan berkontraksi sebagaimana pada arus yang diberikan ketika terjadi kotraksi maksimal.

OTOT RANGKA II TUJUAN Pada Akhir latihan ini mahasiswa harus dapat : 1. Merangsang sediaan otot katak dengan arus faradic dengan berbagai kekuatan rangsang. 2. Membebani sediaan otot katak dengan cara pembebanan langsung dan tidak langsung 3. Mendemonstrasikan hubungan antara panjang awal otot dengan kekuatan konstrasi 4. Menghitung sediaan otot katak 5. Mendemonstrasikan hubungan antara panjang awal otot dengan kerja otot 6. Mengukur kekuatan konstraksi otot ekstensor dan fleksor dalam pelbagai sikap tubuh PELAKSANAAN PRAKTIKUM Alat dan binatang percobaan yang diperlukan 1. Kimograf + kertas + perekat 2. Statit + klem +pencatat otot + klem femur 3. Stimulator induksi + elektroda perangsang 4. Papan fiksasi + jarum-jarum pentul + penusuk katak + katak 5. Beban-beban dan penggantungnya 6. Benang + kapas +gelas arloji 7. Botol plastik berisi + pipet +baskom + kelas beker 8. Dinamometer TATA KERJA I. Pengaruh panjang awal (Initial Length) otot katak terhadap kekuatan kerutan 1. Pasanglah semua alat sesuai dengan gambar. 2. Buatlah sediaan otot menurut petunjuk umum. Sebelum digunakan, bungkuslah sediaan otot tersebut dengan kapas yg dibasahi dengan larutan Ringer dan letakkanlah digelas arloji 3. Pasanglah sediaan otot sesuai dengan gambar. P.II.2.1. Manakah yang harus di selesaikan lebih dahulu, pemasangan alat atau pemasangan sediaan otot? Jawaban : Yang harus disiapkan terlebih dahulu adalah pemasangan alat

karena ketika didahulukan sediaan otot, cenderung otot akan lemah/ mati ketika menunggu persiapan alat. 4. Bebanilah otot dengan beban seberat 20 gram. Kendorkan sekrup penumpu sehingga terjadi pembebanan langsung. Dengan memutar tombol, buatlah garis sepanjang 10 cm dan tulislah : garis dasar 20 pada ujung akhir garis tersebut. P.II.2.2. Apa yang di maksud dengan pembebanan langsung? Jawaban : Pembebanan yang dilakukan dengan mengendurkan sekrup penumpu atau Beban yang diberikan langsung pada ujung otot yang bebas 5. Angkatlah seluruh pembebanan sehingga otot kembali ke panjang semula. Buatlah sekali lagi garis sepanjang 10 cm tepat diatas garis yg pertama dan tulislah garis dasar 0 pada ujung akhir garis tersebut. P.II.2.3. Mengapa setelah beban diangkat otot kembali lagi ke panjang semula? Jawaban : karena saat pemberian beban, otot meregang dan bila beban di angkat, kontraksi otot tidak sebesar saat meregang sehingga otot kembali ke panjang semula. 6. Gantungkanlah lagi beban 20 gram dan dengan sekrup penumpu kembalikan ujung pencatat otot ke garis dasar 0, sehingga terjadi pembebanan tidak langsung P.II.2.4. Apa yang di maksud dengan pembebanan tidak langsung? Jawaban : pemeberian beban yang di berikan secara langsung namun mendapat tumpuan . 7. Dengan melakukan pencatatan pada awal garis dasar 0, carilah kekuatan rangsang faradic maksimal sub.6. untuk perangsangan selanjutnya P.II.2.5. Mengapa harus diberi waktu untuk istirahat? Jawaban : agar kontraksi otot bisep katak dapat menghilangkan beban asam laktat pada sel otot saat di rangsang dan sekaligus memberikan jeda untuk otot relaksasi dan menjadi seperti bentuk awal lagi P.II.2.6 Apa yang dimaksud dengan rangsang faradic maksimal ? Jawaban : Faradic maksimal adalah suatu arus langsung yang mengganggu atau mempengaruhi atau menginduksi suatu zat durasi pendek sehingga zat tersebut dapat mencapai batas tertinggi untuk terinduksi maksimal 8. Gunakan selalu kekuatan rangsang faradic maksimal sub.6 untuk perangsangan selanjutnya. 9. Putarlah tromol sejauh 1 cm setiap kali sesudah perangsangan. Carilah besar pembebanan yang pada perangsangan menghasilkan mekaniogram setinggi 1 cm. Untuk percobaan selanjutnya tetap digunakan beban ini. 10.Putarlah tromol sejauh 2 cm dan catatlah sekali lagi mekaniogram yang terakhir 11.Putarlah tromol sejauh 1 cm dan kemudian turunkanlah ujung pencatat otot sehingga terletak tepat ditengah-tengah antara garis dasar 20 dan garis dasar 0 (gunakan sekrup penumpu). Putarlah lagi sejauh 1 cm dan ulangilah perangsangan dan pencatatan. P.II.2.7. Apa yang kita harapkan terjadi akibat tindakan tersebut? Jawaban : untuk membuktikan apakah panjang awal berpengaruh terhadap kontraksi otot. 12.Putarlah tromol sejauh 1 cm dan turunkanlah ujung pencatat otot sampai garis dasar 20, putar tromol lagi sejauh 1 cm dan ulangilah sekali lagi perangsangan dan pencatatan

II. Pengaruh beban terhadap kerja otot 1. Buatlah garis dasar 0 yg baru sepanjang mungkin 2. Dengan menggunakan kekuatan rangsang sebesar ad.I.6. buatlah mekaniogram pada tromol yg diam. Pencatatan selalu dimulai pada garis dasar 0 dengan mengatur sekrup penumpu. 3. Ulangi perangsangan dan pencatatan,dimulai dengan pembebanan 10 gram, sehingga dicapai beban maksimal. Setiap kali setelah pencatatan, putarlah tromol sepanjang 1 cm dan berilah otot istirahat selama 30 detik. P.II.2.8. Apa yang dimaksud dengan berat maksimal? Jawaban : beban terbesar yang diberikan yang dapat membuat pencacatan kimograf yang paling tinggi. 4. Hitunglah kerja sediaan otot pada setiap pembebanan yg saudara berikan, P.II.2.9. Bagaimana saudara menghitung besar kerja sediaan otot? 5. Simpulkan pengaruh beban kerja terhadap otot. Karena disebabkan keterbatasan waktu kelompok kami tidak berkesempatan untuk melakukan percobaan ini. III. Pengaruh regangan terhadap kekuatan kerutan otot ekstensor dan fleksor pada manusia A. Mengukur kekuatan kerutan otot ekstensor 1. Suruh o.p duduk dipinggir meja alat tersebut dengan membelakangi timbangan dan

dengan tungkai bawahnya tergantung secara bebas 2. Pasanglah ban kulit pada salah satu pergelangan kaki dan hubungkanlah ban kulit tersebut, dengan kawat baja yg dapat menarik timbangan melalui katrol 3. Suruhlah o.p meluruskan tungkainya sekuat tenaga dan catatlah kekuatan kerutan otot ekstensor untuk tiap-tiap sikap berikut ini : a. Duduk tegak b. Duduk sambil membungkukkan badan sejauh-jauhnya c. Berbaring telentang

B. Mengukur kekuatan kerutan otot fleksor 1. Suruhlah o.p duduk dipinggir meja alat tersebut dengan menghadapi timbangan dan dengan tungkai bawah tergantung secara bebas 2. Pasanglah ban kulit seperti pada A.2 Suruhlah o.p membengkokkan tungkainya sekuat tenaga dan catatlah kekuatan kerutan otot fleksor untuk tiap-tiap sikap seperti pada A.3 P.II.2.10. Apakah terdapat perbedaan kekuatan kerutan otot ekstensor dan fleksor pada sikap tersebut? Jawaban : ada karena sikap duduk, nunduk, dan tidur memberikan tegangan kontraksi otot yang berbeda. HASIL PRAKTIKUM OP Depan Tegak lurus Ekstensi 27 17

10 8

Fleksi

30

Belakang

Tegak lurus Ekstensi Fleksi

42 40 27

9 13 7

Posisi fleksor Kekuatan kontraksi otot fleksor paling tinggi adalah pada posisi Fleksi / nunduk (30), karena pada posisi nunduk otot sudah melakukan fleksi yang mendekat ke arah sumbu tubuh, oleh karena itu akan semakin besar juga kekuatan otot fleksornya. Sedangkan pada posisi Ekstensi / tidur otot cenderung bekerja lebih kecil (17). Terdapat pula perbedaan jangkauan otot kaki op dalam melakukan fleksor, hal ini karena dipengaruhi oleh jenis kelamin dari op dan juga kekuatan dan besar otot. Posisi ekstensor Kekuatan kontraksi otot ekstensor paling tinggi adalah pada posisi Ekstensi / tidur (40), karena pada posisi tidur otot tubuh berekstensi sehingga ketika kaki op ketik melakukan posisi ekstensi kontraksi ototpun akan lebih besar. Sedangkan sebaliknya pada posisi nunduk ketika otot melakukan posisi fleksi, kekuatan untuk posisi ekstensi juga akan cenderung lebih kecil. 40 30 20 10 0 Tegak Lurus Ekstensi Fleksi 10 27 17 8 9 30

Kekuatan kontraksi otot kaki OP pada posisi fleksor dalam berbagai posisi.

KESIMPULAN Setelah melakukan percobaan kami dapat menyimpulkan bahwa kekuatan dari otot fleksor maupun ekstensor kaki dipengaruhi oleh posisi tubuh dimana dalam percobaan dilakukan posisi nunduk, duduk, tidur. Untuk otot fleksor akan berkontraksi secara maksimal ketika dalam posisi nunduk, sedangkan untuk otot ekstensor akan berkontraksi secara maksimal ketika dalam posisi tidur.

BIOMEKANIK OTOT BISEP I. Tujuan Percobaan 1. Mengamati kekuatan otot bisep dengan cara pembelokkan siku 2. Mengkalkulasi kekuatan yang diperlukan untuk pegan beban

II.

Alat-alat Percobaan 1. Seperangkat papan yang telah dilengkapi sudut busur 2. Beban yang berbeda-beda

III.

Teori Dasar Ada dua faktor penentu kekuatan otot. Pertama adalah hubungan tegangan panjangnya yang didasarkan pada interaksi serabut-serabut aktin (filamen bagian gelap) dan miosin (filamen bagian terang) yang mikroskopis. Kedua adalah biomekanika dari sistem muskuloskeletal. Aktin Miosin Aktin

Kapan gaya maksimum dihasilkan ? Kekuatan maksmimum dihasilkan ketika keadaan maksimum dari tarik-menarik antara aktin dan miosin dibentuk. Sebagai contoh atlet angkat besi menggunakan hubungan tegangan panjangnya. Otot mereka mempunyai contractile protein-protein lebih untuk saling berhubungan satu dengan yang lain dan lebih banyak tarik-menarik dan membentuk dalam kontraksi otot karena itu banyak kekuatan dihasilkan dalam otot. Secara fisiologis, otot juga dapat memendekkan 50% dari panjangnya biasanya dalam keadaan istirahat

Otot bisep memiliki 2 fungsi, melenturkan lengan tangan dan secondarily supinate lengan tangan (putaran lengan tangan dari sisi telapak tangan hingga menuju ke atas tatapan sisi telapak tangan). Sinergi terjadi ketika dua atau lebih otot-otot bekerja sama untuk menghasilkan suatu gerakan (yang) tidak mungkin ketika setiap otot-otot bertindak sendirian. Artinya sinergi terjadi ketika otot-otot mempunyai tindakan-tindakan bahwa mereka berbagi dan juga tindakan-tindakan yang berlawanan. Contohnya tindakan membentangkan pergelangan tangan. Otot-otot yang dilibatkan adalah extensor carpi radialis dan extensor carpi ulnaris . Biomekanika adalah studi dari tubuh dalam kaitandengan menggunakan istilah pengungkit, dan friksi yang menggunakan prinsip ilmu fisika. Newtonian untuk meneliti gerakan manusia. Suatu cara untuk menjelaskan biomekanika berhubungan dengan otot bisep M x MA = R X RA

Ketika lengan bawah dilenturkan pada sudut 45 MA dan RA berkurang, sedangkan R tetap. MA berubah karena MA ditentukan oleh jarak tegak lurus dari garis aksi kekuatan otot kepada sambungan. RA juga berubah karena RA adalah jarak tegak lurus dari sambungan ke berat/beban. Ada keuntungan mekanis dan fisiologis dalam kontraksi otot dan tegangan maksimum yang dihasilkan oleh otot terjadi pada beristirahat. Ada sudut-sudut optimal dimana momen gaya atau tenaga putaran yang maksimum dapat dihasilkan sepanjang suatu cakupan yang berhubungan dengan gerakan. IV. Prosedur a) Pengukkuran dari Bobot Maksimum pada Otot Bisep Mengukur bobot maksimum dihubungkan dengan sudut-sudut yang berhubungan 1) Dengan bantuan dari busur derajat (10 , 20 , 45 , 60 , 90 ) 2) Taksir bobot maksimum yang dapat di pegang pada OP 3) Tambahkan beban di setiap kenaikan-kenaikan sampai yang mungkin lengan tidak dapat menahan beban tersebut kembali lalu catat bobot maksimum

Tabel 1. Berat Beban Maksimum Pada Tangan Kanan dan Kiri dengan Sudut Berbeda Sudut 0 20 45 60 90 V. Berat beban tangan kanan 3.5 3.5 5.0 5.0 5.0 Beban tangan kiri 3.5 3.5 5.0 5.0 5.0

Diskusi dan Analisa Ternyata dari hasil pengamatan berdasarkan percobaan dan hasil tabel di atas dapat dianalisa bahwa lengan kita memiliki keterbatasan mengakat beban tertentu. Dan beban tersebut berbeda tiap sudut pengangkatan lengan. Ada titik dimana sudut tersebut belum mencapai maksimum (200) tapi titik tesebut hanya mampu mengangkat beban 3,5 kg. Tidak sekuat lengan ketika berada di sudut 900 yang bisa mengangkat bobot hingga 5 kg.
1. Dimana sudut pada otot bisep dapat memegang beban terbesar? 0 0 Jawab : kanan 90 kiri 90

b) Menghitung Gaya Tegang pada Otot Mencatat perubahan jarak beban ke siku (RA) dan perubahan jarak gaya otot ke siku dengan sudut berbeda (MA) Ukur panjang lebgan bawah (RA) kiri dan kanan. Pengukurannya dari epicondyle sampai palmar Ukur panjangnya lengan bawah dengan benar di sumbu-x Ukur panjangnya dari siku dengan tujuan untuk menyisipkan bisep di sumbu-x Lakukan berulang, pada langkah 1-3 dengan sudut berbeda-beda lalu catat jarak RA dan MA (harus tegak lurus dengan arah gaya otot dan beban)

M MA R : besar gaya otot bisep (Newton/N) : jarak otot ke siku (cm) : massa beban yang diangkat (kg)

Beban maksimum (Newton) 10 (5 kg x 10 m/s)= 50 N 20 (5 kg x 10 m/s)= 50 N 45 (5 kg x 10 m/s)= 50 N 60 (5 kg x 10 m/s)= 50 N 90 (5 kg x 10 m/s)= 50 N RA : jarak beban ke siku Angle.

Jarak RA (cm) 36 34 24 17 2

Jarak MA (cm) 5 5 5 5 5

Besar gaya otot bisep (Newton) 360 N 340 N 240 N 170 N 20 N

Tabel 2. Untuk lengan kanan Sudut 10

Sudut 20

Sudut 45

Sudut 60

Sudut 90

Angle. 10 20 45 60 90

Beban maksimum (Newton) (5 kg x 10 m/s)= 50 N (5 kg x 10 m/s)= 50 N (5 kg x 10 m/s)= 50 N (5 kg x 10 m/s)= 50 N (5 kg x 10 m/s)= 50 N

Jarak RA (cm) 37 35 27 19 4

Jarak MA (cm) 5 5 5 5 5

Besar gaya otot bisep (Newton) 370 N 350 N 270 N 180 N 40 N

Tabel 3. Untuk lengan kiri Sudut 10

Sudut 20

Sudut 45

Sudut 60

VI.

Kesimpulan Dari percobaan dan data di atas dapat disimpulkan bahwa, terjadi keuntungan dalam 0 mengangkat beban saat beban tangan berada di sudut 90 karena di sudut tersebut, otot mengalami kontraksi lebih besar dibandingkan sudut lain semakin banyak tenaga yang dihasilkan dalam otot sehingga peraga dapat mengangkat beban lebih maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Penuntun Praktikum Mahasiswa Blok Muskuloskeletal.2009.Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi. Sherwood, Lauralee.Human Physiology From Cells to Systems 5 ed.2004
th