Anda di halaman 1dari 2

Pentas Kepahlawanan Dalam Fenomena Tawuran Suhadi Rembang Saya akan mengulas fenomena tawuran dengan pendekatan yang

sedikit berbeda. Di luar sana, tawuran selalu diposisikan dalam dimensi yang buruk. Ancaman melukai tubuh, penghilangan nyawa, hingga perusakan fasilitas umum menjadi dasar bahwa tawuran itu buruk. Namun kita juga tidak bisa menutup mata dan membungkam mulut kita, bahwa dalam kasus-kasus tertentu, tawuran di luar sana, kehadirannya sungguh diharapkan. Mustahil, ada tawuran, jika tawuran itu tidak diharapkan, walaupun hanya kelompok kecil yang mengharapkan. Dalam hal yang demikian, tawuran termasuk cara dalam menyelesaikan masalah, guna mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Dalam memandang tawuran, menjadi tidak bijak, jika kita hanya terpaku pada pendiskreditan satu hal, bahwa tawuran itu buruk. Mengapa saya berpandangan demikian, karena menurut saya, tawuran itu adalah cara untuk menggapai status. Dan status itu memiliki konsekwensi peranan sosial. Sedangkan tujuan dari tawuran itu adalah pencapaian tujuan hidup yang di idam-idamkan. Dalam hal ini memang perlu pembuktian dengan studi mendalam, bukan hanya dalam bentuk penindakan sanki represif yang menegangkan. Apalagi tindakan solutif yang meneganggkan telah terbukti memproduksi tindakan yang lebih dari tegang. Perkiraan saya, menjadi pemenang, jantan, perkasa, pemberani, keren, dihormati, setia kawan, rela berkorban, menjadi orientasi populer pada pegiat tawuran, yang tidak lain adalah mereka ingin menjadi pahlawan. Hanya saja yang menjadi penting kita diskusikan hari ini adalah caranya dalam menggapai status pahlawan. Perkiraan saya ini belum menjadi bukti, untuk itu perlu dilakukan studi mendalam pula. Dalam masyarakat yang heterogen, Indonesia termasuk didalamnya, beda itu merupakan hal yang biasa. Bahkan perbedaan menjadi simbol diversitas modal sosial dari sebuah kedaulatan. Dengan demikian, beda cara dalam menggapai status apa saja, juga perlu dipandang hal yang biasa. Sehingga yang menjadi penting adalah desain akan bagaimana manusia Indonesia yang heterogen ini, menjadi pahlawan. Dua hal yang saya perkirakan ada relasi maraknya tawuran adalah parameter akan menjadi pahlawan dan kontruksi dasar pendidikan yang kita gunakan. Parameter menjadi sosok pahlawan,sudah satnya diserahkan kepada tiap-tiap kelompok sosial. Jika itu diberlakukan, maka setiap kelompok sosial akan membumikan nilai-nilai kepahlawanan. Namun yang terjadi saat ini adalah sebaliknya. Parameter struktur sosial akan kepahlawanan, telah dimonopoli oleh kekuasaan tunggal. Sehingga yang terjadi adalah perilaku brutal untuk mencapai posisi pahlawan dari tiap-tiap kelompok sosial. Contoh perilaku brutal itu adalah tawuran. Ini memang belum terbukti, makanya perlu studi lanjutan yang mendalam. Selain itu juga, konstruksi dasar pendidikan sebagai instrumen pembangunan nasional, sudah saatnya berbasis sosial. Konsep pembangunan nasionalpun perlu dikonstruksi ulang. Pembangunan nasional bukanlah pembangunan yang dijalankan oleh penguasa

tunggal. Pembangunan nasional adalah hasil dari pembangunan tiap-tiap kelompok sosial yang berbasis nilai-nilai kepahlawanan sosial, mendesak untuk kita tawarkan. Jika itu diterapkan, maka tiap-tiap kelompok sosial, kaya akan nilai-nilai kepahlawanan. Sayangnya, kita tidak pernah yakin kepada kelompok-kelompok sosial untuk berdaulat penuh. Kita selalu hawatir, bahwa lahirnya pahlawan-pahlawan di tingkat lokal, sebagai ancaman. Atau bahkan kita masih ragu, bahwa rasa akan persatuan dan kesatuan dari beragam suku bangsa ini sudah final. Saya kok punya keyakinan, bahwa tawuran itu sebagai perilaku brutal dalam menggapai status kepahlawanan ini disebabkan oleh ketidak-adilan dalam menggunakan sumber daya alam yang terbatas dimuka bumi ini. Sehingga yang terjadi adalah sumber daya alam yang melimpah ini tidak menguntungkan dari tiap-tiap kelompok sosial. Lha, keadaan inilah yang kemudian memancing bangkitnya sikap perlawanan yang ditunjukkan dengan perilaku brutal seperti tawuran. Untuk itu yang perlu ditunjukkan pemerintah adalah keadilan dalam penggunaan sumber daya alam dan kebergunaan sumber daya alam untuk tiap-tiap kelompok sosial. Nilai-nilai kepahlawanan dalam perilaku tawuran adalah modal sosial dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Menurut saya, kita sangat rugi, kalau momentum besar dalam membangkitkan nilai-nilai kepahlawanan yang bersemayam pada diri para pelajar ini kita hanguskan, dan sisi lain bangsa ini dalam keadaan sekarat akan keberlimbahan nilai-nilai karakter kepahlawanan. Kontekstualsiasi nilai kepahlawanan pada diri pelajar, mendesak untuk diaktualsiasikan dalam kekinian. Terimakasih. Rembang, 04 Oktober 2012

Penulis adalah pecinta nilai-nilai kepahlawanan, tinggal di Rembang Jawa Tengah