Anda di halaman 1dari 16

Makna Dari Perbedaan Waktu Lima Shalat Wajib

Setiap waktu shalat bukan hanya awal dari titik balik yang signifikan tetapi juga sebuah cerminan untuk rahmat Allah SWT atas kekuasaan-Nya dan untuk keluasan rahmat-Nya itu. Kita diperintahkan untuk melaksanakan shalat di waktu-waktu yang telah ditentukan ini sehingga dapat lebih memuja dan memuji kepada Zat Yang Maha Kuasa, dan lebih bersyukur kepada-Nya atas semua Rahmat yang telah banyak diberikan diantara dua waktu-waktu tersebut, yang sebenarnya merupakan arti dari ibadah yang sudah ditentukan itu. Untuk sedikit memahami arti yang masih umum dan dalam ini, ada lima poin yang perlu disadari. Poin Pertama Setiap shalat didirikan untuk memuji dan memuja kepada Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya. Yaitu, memuja-Nya melalui pengucapan Subhana-Allah dalam perkataan dan perbuatan dengan kesadaraan akan Keagungan-Nya. Mengagungkan-Nya melalui pengucapan Allahu Akbar, dalam perkataan dan perbuatan dengan kesadaran akan Kesempurnaan-Nya, dan yang ketiga, melalui pengucapan al-hamdu-li-llah, oleh hati, lidah dan seluruh tubuh, untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada-Nya dengan kesadaran akan Kemurahan-Nya. Dapat disimpulkan bahwa puja, puji dan syukur adalah inti dari shalat. Karena alasan inilah ketiga hal tersebut ada dalam setiap bagian sholat, dalam setiap kata-kata dan gerakannya. Lebih jauh, dalam setiap shalat, ketiga kalimat suci ini disebut berulang kali masing-masing sebanyak 33 kali, dalam rangka untuk menjelaskan dan melengkapi objektif dari sholat; makna shalat diucapkan secara berurutan dengan ucapan ringkas ini. Poin Kedua Makna dari ibadah adalah manusia, sebagai hamba Allah, menjadi sadar atas kesalahan, kelemahan dan ketidakberdayaannya dihadapan Allah, sujud dalam cinta dan kekaguman kepada Yang Maha Agung, Yang Maha Besar, Yang Maha Pengasih. Dengan kata lain, kekuasaan dari Yang Maha Agung menuntut kesetiaan dan ketaatan, begitu juga kesucian Zat-Nya membuat kita, makhluk ciptaan-Nya, untuk melihat kesalahan kita dan memohon ampunan-Nya; untuk menyatakan bahwa Zat-Nya bebas dari semua kesalahan, dari semua pendapat yang salah dari orang-orang yang tidak sadar dan dari semua kesalahan yang dilakukan makhluk-Nya. Kesempurnaan Yang Maha Besar membuat hamba-Nya, dalam realisasi atas kelemahan dan ketidakberdayaannya dan semua makhluk lainnya, untuk menyatakan Allah Yang Maha Besar dalam kekaguman dan ketakjuban atas kebesaran karya dari satu-satunya Zat yang pantas disembah, dan, membungkukkan diri dengan penuh rasa hormat dalam kerendahan hati. Dan nikmat yang tak terbatas dari Yang Maha Pengasih sepatutnya membuat hamba-Nya untuk menyatakan kebutuhannya sendiri dan kebutuhan mahluk lainnya dengan berdoa dan memohon pertolongan-Nya, mengucapkan al-hamdu-lillah. Secara singkat, perkataan dan perbuatan dalam shalat memuat makna-makna tersebut, dan karena itu diperintahkan dan diatur oleh Allah. Poin Ketiga Manusia adalah miniatur alam semesta; begitu pula surat pertama dalam Al Quran, Al Fatiha, adalah miniatur ringkasan seluruh kitab tersebut; dan shalat adalah semacam indeks, yang memuat semua cara-cara peribadatan, dan merupakan suatu gambaran atas keanekaragaman ibadah semua spesies mahluk hidup.

Poin Keempat Pergantian siang dan malam, tahun-tahun dan fase-fase kehidupan manusia di dunia adalah potongan waktu yang besar yang masing-masing bagiannya berfungsi seperti roda dan tuas pada sebuah jam yang terus bergerak menghitung detik, menit dan jam. Misalnya : Waktu Fajar, yang ditentukan untuk shalat Subuh, sampai terbit matahari, mungkin dihubungkan dengan awal musim semi, atau waktu ketika sperma berada di dalam rahim yang kokoh, atau dengan hari pertama dari enam hari periode penciptaan langit dan bumi, dan itu mengingatkan kembali akan bagaimana Allah menempatkan Kekuasaan-Nya dan bertindak pada waktu dan kejadian seperti itu. Waktu Zuhur, mungkin dihubungkan dengan penyempurnaan masa muda, atau pertengahan musim panas, atau periode penciptaan manusia dalam kehidupan di dunia. Ini menunjukan manifestasi kasih sayang Allah dan rahmat yang tak terkira pada peristiwa-peristiwa dan waktu-waktu itu. Waktu Ashar, menyerupai musim gugur, dan masa tua, dan waktu bagi Nabi Terakhir, dikenal sebagai waktu kebahagiaan. Mulai berfikir akan takdir Allah dan memohon pertolongan dari Yang maha Penyayang. Waktu Maghrib, mengingatkan tentang hilangnya beberapa hewan pada akhir musim gugur, dan kematian manusia. Hal itu memperingatkan kita tentang kehancuran dunia pada awal Kebangkitan Kembali dan juga mengajarkan kita tentang bagaimana cara memahami manifestasi Keagungan Allah dan membangunkan kita dari tidur nyenyak pengabaian. Waktu Isya, mengingatkan akan dunia yang gelap, yang menyelimuti semua benda di siang hari dengan selimut hitamnya dan musim dingin yang menutupi permukaan bumi yang mati dengan cerement putihnya. Juga mengingatkan bahwa pekerjaan yang belum selesai dari jasad yang mati akan dilupakan semuanya dan menjelaskan sesuatu kepada kita tentang kehancuran yang tak terhindarkan dari dunia, tempat segala cobaan. Dan untuk Waktu malam hari, yang menunjukan musim dingin dan alam kubur dan dunia perantara (antara dunia dan akhirat), mengingatkan manusia akan betapa ruh-ruh membutuhkan pertolongan dari Yang Maha Pengasih. Shalat Tahajjud di akhir dan malam yang sudah larut, mengingatkan betapa membutuhkannya kita akan cahaya shalat dalam kegelapan alam kubur. Dengan jalan ini, dengan memohon rahmat-Nya yang tiada terbatas yang dijanjikan kepada manusia dalam serangkaian kejadian-kejadian khusus seperti ini, manusia mengakui bahwa Zat-Nya patut dipuji dan disyukuri. Pagi berikutnya adalah waktu yang diarahkan kepada pagi pada hari Kebangkitan. Adalah sangat beralasan, sudah seharusnya dan pasti bahwa pagi mengikuti malam, musim semi akan datang setelah musim dingin, jadi pagi pada Hari Kebangkitan atau musim semi yang mengikuti kehidupan perantara juga pasti akan datang. Kini kita jadi mengerti bahwa setiap waktu yang ditentukan untuk shalat lima waktu sehari semalam adalah awal dari titik balik yang vital dan mengingatkan akan revolusi atau titik balik yang lebih besar dalam kehidupan alam semesta. Melalui perdagangan sehari-hari yang luar biasa dengan Kekuasaan Yang Maha Mengabulkan Permohonan, waktu-waktu shalat menyadarkan kita akan keajaiban Kekuasaan Allah dan hadiah ampunan Tuhan di setiap tahun, setiap abad dan setiap zaman. Jadi, shalat yang telah ditentukan, yang merupakan tugas yang kita bawa sejak lahir, dasar bagi semua ibadah yang lain dan kewajiban manusia yang tidak dapat dipertanyakan lagi, adalah paling sah dan paling cocok dilaksanakan pada waktu-waktu ini. Poin Kelima Manusia diciptakan dalam keadaan lemah, padahal segala sesuatunya melibatkan, mempengaruhi

dan menyusahkan dirinya. Dia juga kekurangan kekuatan, padahal bencana dan musuh-musuh yang menyulitkan dirinya menjadi tak terhitung. Dirinya juga sangat miskin dan memiliki banyak kebutuhan. Tambahan, mereka juga malas dan tidak mampu, sedangkan mereka memiliki beban hidup yang sangat berat. Dengan menjadi manusia, dirinya terhubung dengan ciptaan lainnya di dunia, sedangkan kehilangan apa-apa yang dicintainya dan apa-apa yang dekat dengannya, berulangkali menyakitinya. Akhirnya, jiwa dan pikirannya mengarahkan dirinya kepada tujuan agung dan titik akhirnya; pencapaian keabadian, tetapi dirinya tidak mampu, tidak sabar dan tidak memiliki kekuatan, serta hanya memiliki waktu yang sangat singkat untuk itu. Oleh karena itu, dapat dipahami secara jelas betapa pentingnya bagi setiap jiwa dalam keadaan seperti itu di waktu fajar untuk menyatakan suatu permohonan, melalui shalat dan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Penyayang, untuk memohon keberhasilan dan bantuan dari Nya, dan betapa dibutuhkannya dukungan itu sehingga ia bisa sabar dan mampu menyingkirkan bahaya dan rintangan yang mungkin ditemui pada hari itu. Zuhur adalah waktu dimana siang berada pada titik tertinggi dan mulai bergerak menyelesaikannya dan manusia berhenti dari pekerjaannya untuk beristirahat sejenak dari urusan-urusan mereka, dan juga waktu ketika jiwa membutuhkan perhentian sejenak dari kelalaian dan kelupaan yang disebabkan oleh bekerja keras, dan rahmat Allah yang besar sepenuhnya tercurahkan. Dengan demikian, sulit untuk menganggap seseorang adalah manusia sejati jika ia tidak menyadari betapa baiknya, betapa pentingnya, betapa menyenangkannya dan bahwasanya sudah selayaknya manusia mendirikan shalat zuhur, sehingga dirinya, dalam pertolongan dari tekanan hidup seharihari dan dari kelalaian, berdiri dengan kerendahan hati dalam curahan rahmat, menunjukan perasaan syukur dan berdoa untuk memohon pertolongan-Nya. Ia membungkukkan dirinya untuk menunjukan ketidakberdayaannya dihadapan Yang Maha Besar, dan sujud untuk menyatakan kekaguman, cinta dan kerendahan hatinya dihadapan kasing sayang-Nya yang sempurna dan tiada banding di sepanjang masa. Waktu ashar di sore hari menyerupai dan mengingatkan kita akan kesedihan musim gugur dan keadaan duka cita di masa tua, dan periode ketenangan di akhir waktu. Ini adalah waktu ketika tugas-tugas di hari itu perlahan-lahan mulai dilengkapi, dan rahmat Yang Maha Pemurah untuk hari itu, seperti kesehatan, keamanan dan amal soleh, telah dikumpulkan untuk dijumlahkan. Pada waktu ini kita juga menyaksikan tenggelamnya matahari yang membuktikan bahwa segala sesuatunya tiada yang abadi; hari ini sesuatu itu ada dan besok sudah tiada. Kemudian manusia yang merindukan keabadian, yang diciptakan untuk keabadian, dan yang menunjukan penghormatan untuk dianugrahkan kepada dirinya keabadian, kecuali bagi yang merasa sedih atas perpisahan, berdiri, mengambil air wudu, dan mendirikan shalat. Jadi, siapa saja yang termasuk manusia sejati, seharusnya ia memahami betapa terpujinya tugas ini, betapa khususnya ibadah ini, inilah cara yang masuk akal untuk membayar hutang budi, lebih jauh, betapa kesenangan yang tak dapat dipungkiri diperoleh dalam melaksanakan shalat ashar. Untuk mengajukan permohonan pada pengadilan Yang Maha Abadi dan Yang Maha Berdiri Sendiri dalam Keabadian, untuk menjadi budak yang lemah dalam pertolongan-Nya yang tiada terbatas, dan untuk bersyukur atas nikmat-Nya yang tak terhitung, dengan jalan membungkukkan diri dengan penuh rasa hormat dan rendah hati dihadapan Yang Maha Besar dan Maha Terpuji, dan dengan bersujud dengan kerendahan hati yang tulus di hadapan Yang Maha Abadi, dirinya memperoleh ketenangan hati dan menemukan penghibur sejati dan penenang jiwa. Sore hari mengingatkan kita akan awal dari musim dingin dan perpisahan yang sedih dari makhlukmakhluk musim panas dan semi yang lemah; itu juga mengingatkan akan perpisahan yang menyakitkan dengan orang-orang yang dicintai karena kematian. Lagi-lagi hal itu membangkitkan

gambaran tentang waktu ketika lentera matahari yang menyinari bumi, akan dipadamkan dan penduduk bumi berpindah ke dunia yang lain mengikuti keruntuhan yang dihasilkan oleh takdir gempa bumi. Itu juga merupakan suatu peringatan keras bagi siapa saja yang memuja kekasihnya yang tidak abadi dan sementara, yang setiap dari mereka suatu saat pasti akan mati. Pada waktu shalat maghrib, jiwa manusia yang merindukan suatu keindahan abadi, menghadap kepada Zat Yang Abadi, Yang menciptakan dan membangun semua peristiwa dan fenomena ini, Yang memerintahkan suatu badan surgawi yang besar. Ini adalah waktu dimana jiwa manusia menolak untuk mengandalkan diri kepada sesuatu yang terbatas dan berteriak Allahu Akbar yang berarti Allah Maha Besar. Kemudian, dalam kehadiran-Nya, mengucapkan alhamdu li-llah, segala puji hanya bagi Allah, manusia memuji-Nya dengan penuh kesadaran akan kesempurnaan tanpa celah, keindahan dan kelembutan tiada banding, dan ampunan yang tiada batas. Selanjutnya, dengan menyatakan hanya kepada Mu lah kami menyembah dan hanya kepada Mu lah kami mohon pertolongan (Al Fatiha, 1. 5), dirinya mempersembahkan ibadahnya dan mencari pertolongan dari Kekuasaan-Nya yang tidak memerlukan bantuan siapa pun, dari Ketuhanan-Nya yang tidak bersekutu, dari Kedaulatan-Nya yang tidak terbagi. Kemudian manusia membungkuk di hadapan Keagungan Yang Tak Terhingga, Kekuasaan Yang Tak Terbatas, dan di hadapan Kehormatan dan Kemuliaan yang sempurna, untuk menunjukkan, bersama dengan seluruh makhluk, kelemahan dan ketidakberdayaannya, kehinaan dan kemiskinannya, dan berkata Segala Puji Hanya Bagi Allah, Yang Maha Besar. Setelah itu, dirinya sujud dihadapan Zat-Nya dengan kesadaran akan Keindahan dan Kelembutan yang tak akan pernah mati, Sifat-Sifat-Nya yang suci yang tak berubah, dan Kesempurnaan-Nya yang selalu tetap abadi, manusia mengakui, dengan melepaskan ketergantungan kepada selain-Nya, cintanya dan pengabdiannya dalam Kekaguman dan keterhinaan dirinya, dia menemukan Yang Maha Abadi Keindahan-Nya, Yang Maha Penyayang yang Abadi, dengan mengatakan, Segala Puji Hanya Bagi Allah, Yang Maha Terpuji, dirinya menyatakan bahwa Tuhannya Yang Maha Terpuji bebas dari segala kekurangan dan kesalahan. Setelah itu, manusia duduk dengan hormat dan meminta, dalam hitungannya, kepada Yang Maha Abadi, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung pujian dan kemulian semua makhluk, dan memohon kepada-Nya untuk menganugrahi kedamaian dan rahmat atas Rasul-Nya, baginya keselamatan dan rahmat. Dengan melakukan hal itu, dirinya memperbaharui kesetiannya kepada Rasulullah dan menyatakan kepatuhan kepada perintah-perintahnya, memperbaharui dan memperteguh keimanannya, dan dalam pengamatan akan keteraturan yang luar biasa di alam semesta, dirinya memberikan kesaksian atas Keesaan Sang Pencipta dan Kerasulan Muhammad, yang membewa berita kedaulatan Ketuhanan Tuhan, yang menyatakan apa-apa yang disenangi-Nya, dan yang menerjemahkan tanda-tanda atau ayat-ayat dari kitab alam semesta. Bagaimana mungkin seorang bisa menjadi manusia sejati jika tidak menyadari betapa merupakan tugas yang sangat menyenangkan shalat maghrib itu, betapa berharga dab betapa menyenangkannya beribadah, betapa baik dan indahnya bentuk ibadah ini, betapa seriusnya hal ini, dan betapa percakapan dengan Sang Pencipta dan kebahagiaan abadi hal itu di tempat persinggahan sementara ini ? Waktu Isha adalah waktu bagi bekas-bekas jejak siang hari yang tertinggal di langit menghilang, dan malam menyelimuti bumi, menyisakan kita rahmat keagungan Tuhan sebagai Yang merubah malam dan siang, dan aktifitas ketuhanan dari Yang Maha Bijaksana sebagai Yang menundukkan Matahari dan Bulan, diamati ketika mengubah siang terang benderang dengan malam yang gelap gulita, dan ketika mengubah musim panas yang penuh warna dengan hamparan putih di musim dingin. Waktu ini juga mengingatkan akan perbuatan Tuhan sebagai Pencipta Kehidupan dan Kematian dalam alur perjalanan lengkap dari sisa-sisa tugas kematian dari dunia lain dalam bagian waktu. Ini adalah waktu yang mengingatkan tentang rahmat Tuhan dan manifestasi yang lembut dari Tuhan sebagai

Pencipta Surga dan Dunia, setelah kehancuran total dari dunia yang sempit, mortal dan rendah ini oleh teriakan dan gemuruh yang sangat menakutkan dan ketika dibentangkan dunia akhir yang luas, abadi dan agung. Ini juga mengingatkan bahwa Yang Maha Esa, yang kuasa merubah siang menjadi malam, musim dingin menjadi musim panas, dan dunia ini menjadi dunia yang lain, yang pantas menjadi Pemilik dan Penguasa Sejati dari alam semesta adalah satu-satunya Zat yang pantas disembah dan dicintai. Kemudian, pada malam hari, jiwa manusia yang sangat takberdaya dan lemah, sangat miskin dan bergantung, dan terombang ambing kesana kemari oleh berbagai macam keadaan dan masuk pusaran masa depan yang gelap dan tidak menentu, mendirikan shalat Isha. Dia melakukannya dengan maksud : seperti halnya Ibrahim As. manusia berkata: Saya tidak suka pada yang tenggelam (Al An Aam, 6:76) dan melalui shalatnya ia menghamba kepada Zat Yang Hidup Abadi, Yang pantas disembah, dan Yang Maha Penyayang. Dari kehidupan yang sekedar singgah di dunia yang gelap dan cepat dan masa depan yang gelap dirinya memohon kepada Zat Abadi Yang Maha Penyabar dan demi waktu sesaat untuk percakapan yang tiada berujung dan beberapa detik kehidupan abadi, dia memohon rahmat dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan cahaya tuntunan-Nya, yang akan memberikan cahaya baginya di dunia dan menerangi masa depannya dan mengikat penderitaannya akibat penolakan dari temannya dan makhluk lain. Singkatnya, manusia lupa kepada dunia yang telah meninggalkannya dan menyirami kesengsaraan hatinya dengan air mata di hadapan Yang Maha Pengampun. Sebelum dirinya tidur, yang menyerupai kematian, dan karena segala sesuatu mungkin terjadi, dia mempersembahkan tugas ibadah terakhirnya untuk hari itu. Untuk menutup rekaman kegiatan hariannya yang menyenangkan, dia bangun untuk berdoa. Dia bangkit untuk menyambut kehadiran Yang Tercinta dan Yang Disembah daripada segala yang tidak abadi yang telah dicintainya di sepanjang hari, kehadiran Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Pemurah daripada makhluk yang tidak berdaya yang dari mereka dia mengemis setiap hari, kehadiran Pelindung Yang Maha Penyayang dalam harapan untuk diamankan dari kejahatan makhluk yang berbahaya yang telah membuatnya gemetar sepanjang hari. Dia mulai dengan Al Fatiha, Surah Pembuka Al Quran, daripada memuji dan berhutang kepada makhluk yang lemah dan berkebutuhan, yang berbuat dosa, dirinya memanjatkan doa kepada Penguasa dunia, Maha Sempurna dan Maha Mencukupi DiriNya sendiri, Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Kemudian dia melanjutkan dengan menyatakan: hanya kepadaMu lah kami menyembah.

Tak Ada Milik yang Sempurna


Publikasi: 01/04/2004 09:29 WIB eramuslim - Rencana. Hidupku penuh rencana. Meskipun belum semuanya bisa aku rencanakan. Tapi pasti bukan hanya aku yang punya rencana. Aku yakin semua orang juga punya rencana. Bagiku, memiliki rencana berarti harus sekaligus mempersiapkan alternatif-alternatif. Mungkin sama dengan yang dimaksud para pelaku bisnis Ada plan A, plan B, plan C dan seterusnya. Tetapi menurutku itu saja tak cukup. Harus ada plan Z. Artinya, harus ada kesiapan ketika semua yang ada di kepala tidak bisa berlaku lagi. Seperti pesimisme. Mungkin. Tetapi bukannya segala bisa terjadi atas kehendak-Nya. Maha besar Dzat yang segala berada di tangan-Nya. Ku pasang target-target. Dengan begitu otomatis aku menyusun rencana agar target tersebut bisa tercapai. Berusaha, yah, hanya dengan berusaha. Berusaha maksimal. Tak boleh ada kata putus asa. Aahh, begitu besar semangatku. Kalau dengan usaha maksimal kita tidak bisa mencapai target? Ya itulah plan Z. Menyerah? Bukan! Masih ada harapan. Ditangan-Nya lah semua yang tak mungkin terjadi bisa terjadi. Bahagianya, masih mempunyai tempat berharap. Kalau yang terjadi tidak seperti yang kita inginkan? Ya itulah takdir. Terlalu sombong kita bila ingin memaksakan keinginan kita melampaui kehendak-Nya. Qonaah. Mungkin itulah istilah yang lebih tepat. Kita hanya bisa memohon agar apa yang diberikan-Nya kepada kita menjadi hal terbaik demi keselamatan kita di tempat yang abadi. Bukankah kita sering tidak melihat apa hikmah di balik peristiwa yang tidak kita kehendaki? Bukankah kita tidak bisa melihat, kecuali hanya sedikit? Begitu rapi teori itu tersusun di kepalaku. Kalau ada teman bertanyapun mudah sekali menjelaskan alurnya. Tapi bisakah menghadapinya? Demikianlah, termasuk berumah tanggapun aku targetkan. Dengan berbagai pertimbangan, aku ingin menikah pada usia 25, setelah menyelesaikan studiku dan tentu saja bekerja. Kukira keinginan semacam ini hanyalah cita-cita sederhana. Mungkin hampir semua orang juga memilikinya. Bukan hal yang luar biasa. Ketika usiaku menginjak 23 dan aku belum juga mempunyai calon. Meski beberapa kali ada yang mengutarakan keinginannya menikah denganku, entahlah, tidak ada diantara mereka itu yang sesuai dengan kriteriaku. Belum ada yang bisa membuatku jatuh cinta. Jatuh cinta? Apa pula artinya? Sangat mungkin berbeda dengan orang lain. Tetapi bagiku cukup sederhana untuk mengukur apakah aku jatuh cinta atau tidak: yaitu perasaan bisa menerima dia apa adanya tanpa ada tuntutan-tuntutan lagi. Dengan kata lain, semua kriteriaku sudah terpenuhi. Yah, aku belum pernah jatuh cinta.

Maka aku bersiap-siap mencari calon. Pro-aktif. Tentu dengan kriteria-kriteria yang telah kutetapkan. Tabu kata orang timur? Mengapa? Tapi bagaimanapun aku juga menyadari hidup dalam masyarakat timur, yang mau tak mau masuk ke dalam norma-normanya. Kukira tabu yang mereka maksudkan tidak berseberangan dengan syariat Islam. Bahkan mungkin dalam hal tertentu bisa dikatakan mendukung. Di sisi lain, bagiku semua orang diwajibkan berusaha. Jadi bisakah istilah tabu tersebut direkayasa? Yang pasti, bukan pertanyaan itu yang menggelayuti pikiranku. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk mencapai targetku. Silaturahim? Memperbanyak wawasan? Perprasangka baik? Memperbaiki akhlak? Semua ingin kulakukan demi mencapai target dengan kriteriaku tersebut. Sampai suatu sore yang begitu cerah dan lengang. Tenang mungkin istilah yang tepat. Awanawan putih menyibak ketepi mengiringi matahari yang pelan-pelan bergerak semakin condong ke peraduannya. Tenang. Hatikupun terasa bening. Luas. Terasa luas dengan menyibaknya awan-awan putih ke tepi langit. Yang pasti begitulah sore itu. Tapi sepertinya bukan hanya suasana sore itu yang membuat hatiku bening. Aku sedang menyadari bahwa aku sedang jatuh cinta. Indah rasanya menemukan seseorang yang kita inginkan. Kurasa betapa ini semua adalah nikmat yang agung. Dua puluh empat tahun, dan aku belum pernah mempunyai perasaan semacam ini. Ah, sungguh indah. Dalam lubuk hatiku menggelitik kemungkinan-kemungkinan dan harapan- harapan. Bisakah aku mencapai target yang satu ini. Yang jadi masalah adalah bahwa dia tidak tahu perasaanku ini. What to do? Menunggu? Waktu segera memisahkan. Begitulah, karena sore itu adalah akhir sebuah program yang mengikutsertakan kami. Berharap? Ternyata aku tidak berani berharap banyak. Aku cukup mensyukuri mempunyai perasaan yang indah ini. Jujur, aku merasa tidak harus memilikinya. Do something! Yah, tapi aku harus melakukan sesuatu. Terlalu indah untuk dilewatkan. Terlalu indah untuk mempunyai perasaan ini. Bahkan aku tak yakin akan memiliki yang ke dua kalinya. Maka di sore yang bening itu. Kutulis sehelai puisi. Hanya untuk menyampaikan perasaan ini. Maafkan aku harus menyampaikan semua ini. Kau telah melelehkan hati yang selama ini membeku, kaku, membatu. Tapi aku hanya ingin kau tahu. Kau tak harus mempunyai perasaan yang sama. Begitulah kira-kira isinya. Dengan hati bening pula kusampaikan padanya dalam sebuah amplop dan kuminta dibacanya ketika sampai di rumah. Bukan di tempat itu. Begitulah, rasanya nyaman bisa menyampaikan perasaan indah ini. Tanpa harapan sama sekali? Bohong kalau kukatakan begitu. Ada, meskipun tidak banyak. Logikanya, mungkin juga dia mempunyai perasaan yang sama, tapi tidak berani menyampaikan. Who knows? Tapi juga harus diakui bahwa harapanku memang tidak menggebu-gebu.

Benar ternyata logikaku. Keesokan harinya dia mencariku dan mengatakan bahwa dia telah mempunyai perasaan yang sama jauh sebelum aku mengatakannya. Oh, bisa dibayangkan, sebuah keindahan yang hampir sempurna. Bagaikan gayung bersambut. Sayang kami tidak mempunyai waktu bersama lagi. Sayang? Tidak juga. Justru takut juga dengan kebersamaan. Takut fitnah. Takut zina mata, lidah dan lainnya. Hari-hari aku lewati dengan rencana-rencana selanjutnya. Dan pertemuan beberapa kali kami gunakan untuk bicara tentang masa depan dan makna hidup. Sungguh-sungguh indah. Sampai setelah kami tidak bertemu beberapa waktu, dia harus menyampaikan- nya padaku. Sayang ya dik, tidak ada sesuatupun yang bisa mutlak kita miliki. Hanya Allahlah pemilik yang sempurna, katanya seperti biasa, bijaksana, dan ini adalah salah satu yang aku kagumi padanya. Ya, tidak ada milik yang sempurna, jawabku menyetujui pendapatnya, Eh, tapi apa sebenarnya maksudmu. Maafkan aku. Tapi aku harus mengatakannya padamu. Terlalu indah memiliki semua perasaan ini. Tapi aku harus jujur padamu. Aku juga tidak menghendakinya, tapi itulah yang terjadi, katanya panjang. Aku sudah tak sabar dengan apa yang ingin dikatakannya. Maksudmu? Kau tahu kenapa aku tidak menyampaikan perasaanku terhadapmu sejak dulu? Karena.karena sebenarnya aku sudah dijodohkan, katanya perlahan. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Menurutmu apakah orang tuaku salah? tanyanya kemudian. Aku masih diam. Ibuku hanyalah seorang janda yang harus menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Begitulah dik, aku tidak bisa menyalahkan ibuku juga, meskipun jujur aku tidak mencintai gadis itu. Kuhela nafas dalam-dalam. Sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan. Tak percaya dengan apa yang dikatakannya? Tak ada alasan untuk percaya atau tidak. Tetapi kurasa aku tak perlu berburuk sangka dengan tidak mempercayainya. Dia yang kukenal selama ini lebih menguatkan prasangka baikku itu. Tapi sungguh aku tak bisa bicara sepatahpun. Percakapan itu terasa membakar semua harapanku, meskipun tidak mengurangi perasaanku padanya. Akhirnya kukatakan pula dengan segenap kekuatan hatiku agar dia memilih yang terbaik menurutnya. Berat ternyata, tidak semudah teori yang kutata di kepala. Begitulah, semua kami akhiri dengan sehelai surat cinta. Dengan setengah kesadaran, setengah patah semangat. Plan Z. Aku masuk ke plan Z. Biarlah Allah yang memutuskan. Dia maha tahu yang terbaik untukku. Meskipun dia tak boleh jadi milikku, perasaan itu tetap masih menjadi milikku, kecuali dia berubah menjadi seseorang yang tidak lagi berada dalam kriteriaku. Selamat jalan kekasihku. Semoga kita mendapatkan yang terbaik bagi dunia dan akherat kita kelak. Bukankah kita hanya sedikit melihat. Dan Allahlah yang Maha mengetahui segalanya dan maha berkehendak. Benar katamu, tidak ada milik yang sempurna. Allahlah pemilik

mutlak atas segala. Orang tua kita, saudara kita, anak-anak kita, suami/istri kita, kekasih kita, kekayaan kita, semua milik-Nya. Ketika Allah mengambilnya, siapa yang bisa bilang tidak.

JIKA NABI MUHAMMAD DATANG KE RUMAHMU


Jika nabi Muhammad dating kerumahmu Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu Tanpa kabar apa-apa sebelumnya Apakah yang engkau lakukan untuknya? Akankah kau sembunyikan buku duniamu? Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadist di rak buku? Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalah mu Dan kau hiasi mejamu dengan Al-Quran yang telah berdebu? Akankah kau masih melihat film X di TV Atau kau matikan dengan cepat sebelum dilihat nabi? Maukah kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi? Atau dengan cepat rencanamu kau ganti Akankah kamu bahagia jika nabi memperpanjang kunjungannya Atau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya Jika nabi tiba-tiba ingin menyaksikan Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan sehari-sehari yang biasa kau lakukan? Akankah kau berkata-kata seperti apa yang sehari-hari biasa kau katakana? Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu? Seperti halnya jika nabi tidak kerumahmu Sangatlah menarik untuk tahu Apa yang akan kau lakukan Jika nabi Muhammad dating Mengetuk pintu rumahmu.

IBU,CERITAKAN PADAKU TENTANG IKHWAN SEJATI


Seorang remaja pria bertanya pada ibunya Ibu,ceritakan padaku tentang ikhwan sejati Sang ibu tersenyum dan menjawab: Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat kerja

Tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang Tetapi dari hati yang ada dibalik itu Ikhwan sejati bukanklah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja Tetapi dari komitmennya terhadap akhwat yang dicinta Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan Tetapi dari ketabahannya menjalani kehidupan Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya dia membaca Al-Quran Tetapi dari konsistensinya menjalankan apa yang dia baca Setelah itu,ia kembali bertanya Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu,ibu? Sang ibu mengambil sebuah buku seraya berkata Pelajarilah tentang dia. Ia pun mengambil buku itu MUHAMMAD yang tertulis dibuku itu.

MENGAPA WANITA MUDAH MENANGIS?


Suatu ketika,ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. Ibu,mengapa ibu menangis? Ibunya menjawab,Sebab aku wanita. Aku tak mengerti kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat,seraya berkata Nak,kamu memang tak akan pernah mengerti. Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. Ayah,mengapa ibu menangis? Ibu menangis tanpa sebab yang jelas. Sang ayah menjawab, Semua wanita memang sering menangis tanpa sebab yang jelas. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Sampai suatu saat si anak tumbuh menjadi remaja,ia tetap bertanya-tanya mengapa wanita menangis.Hingga pada suatu malam,ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, Ya Allah mengapa wanita mudah sekali menangis? Dalam mimpinya ia merasa seolah-olah Tuhan menjawab, Saat Kuciptaka wanita,Aku membuatnya sangat utama.Kuciptakan bahunya agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya,walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu.Kuberikan

keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan,pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kepada wanita,Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih,walau sakit, walau lelah,tanpa berkeluh-kesah. Kuberikan wanita,perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun.Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap.Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya. Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya.Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak. Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar,saling melengkapi dan saling menyayangi. Dan akhirnya,Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya.Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita,agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan.Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita,walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan.

HIKMAH
Ada dua bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata,Aku ingin tumbuh besar.Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini,dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini.Aku ingin membentangkan semua tunasku,untuk menyampaikan salam musim semi.Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucukpucuk daunku. Dan bibit itu tumbuh,makin menjulang. Bibit yang kedua bergumam.Aku takut.Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah,aku tak tahu apa yang akan aku temui di bawah sana.Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas,bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,dan siputsiput mencoba untuk memakannya? Dan pasti,jika aku tumbuh dan merekah,semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah.Tidak,akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman. Dan bibit itu pun menunggu,dalam kesendirian. Beberapa pekan kemudian,seekor ayam mengais tanah itu,menemukan bibit yang kedua tadi,dan mencaploknya segera. ****** Teman.memang,selalu saja ada pilihan dalam hidup.Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani.Namun,seringkali kita berada dalam kepesimisan,kengerian,keraguan dan kebimbangan yang kita ciptakan sendiri.Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan

untuk tak mau melangkah,tak mau menatap hidup.Karena hidup adalah pilihan,maka hadapilah itu dengan gagah.Dan karena hidup adalah pilihan,maka pilihlah dengan bijak.

KUPU-KUPU
Suatu hari,seseorang menemukan sebuah kepompong.Orang itu mengamati sebuah lobang kecil yang ada pada kepompong itu,tampak seekor kupu-kupu sedang berjuang memaksa dirinya melewati lobang kecil itu.Selang beberapa waktu,kupu-kupu itu berhenti, kelihatannya ia telah berusaha semampunya dan tidak bisa lebih jauh lagi. Terdorong oleh rasa iba,orang itu memutuskan untuk menolong kupu-kupu tsb.Ia mengambil sebuah gunting dan memotong kekangan pada kepompong itu sehingga sang kupu-kupu dapat keluar dengan mudahnya.Namun apa yang terjadi,kupu-kupu itu keluar dengan sayap yang mengkerut,tubuhnya gembung dan kecil.Orang itu terus mengamati,berharap pada suatu saat sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga akan mampu menopang tubuhnya. Namun semuanya tidak akan pernah terjadi,kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak,dengan tubuh gembung dan sayap mengkerut. Kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang. Yang tidak pernah bisa kita mengerti dari kebaikan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lobang kecil adalah jalan Allah untuk memaksa cairan dalam tubuh kupu-kupu itu masuk kedalam sayapsayapnya agar ia bisa terbang begitu ia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut. Kadang-kadang perjuangan adalah hal yang kita perlukan dalam hidup kita.Jika Allah membiarkan kita hidup tanpa hambatan,itu mungkin melumpuhkan kita.Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu.Kita mungkin tidak pernah dapat terbang Ketika saya memohon kekuatan Allah memberi saya kesulitan-kesulitan Ketika saya memohon kebijakan Allah memberi saya persoalan untuk diatasi Ketika saya memohon kemakmuran Allah memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja Ketika saya memohon keteguhan hati Allah memberi saya bahaya untuk diatasi Ketika saya memohon cinta Allah memberi saya orang-orang yang bermasalah untuk ditolong Ketika saya memohon kebaikan Allah memberi saya kesempatan-kesempatan Saya tidak memperoleh segala apa yang saya inginkan Tetapi,saya mendapatkan segala apa yang saya butuhkan

FI SABILILLAH Jangan dilarang Orang yang melayang pandang Ke sabilillah Ia sudah tahu resah nyata semesta Seringai malam bumi kita Jangan ditahan Orang yang ingin melemparkan diri Ke sabilillah Ia sudah tahu ramuan cinta yang firdaus Juga rejam rintangan itu Jangan dinanti Orang yang pergi Ke sabilillah Ia sudah tahu Kemana harus menjual nyawa! (HTR,1992) Mereka bukan orang kebanyakan.Mereka bukan manusia bumi,tapi merekalah manusiamanusia langit.Manusia yang tahu kemana harus menjuaj jiwa. Kagum akan ketulusan,cahaya dan semangat mereka dalam menggapai Allah.Orang-orang ini hidup dalam kebenaran dan tak pernah takut mati.Mereka ada di segenap penjuru dunia. Di negeri-negeri islam yang sedang berjuang. Merekalah manusia-manusia yang membumikan bahasa-bahasa langit.

Anugrah Terindah Milik Kita Ringkih dan renta karena ditelan usia,namun tampak tegar dan bahagia.Ikhlas,memancarkan Selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah.Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian,hingga sekarang mahkota putih tampak anggun menghiasinya.Dekapannya pun tidak berubah,luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan. Jemari itu memang tak lagi lentik,namun selalu fasih menyulam kata pinta,membaluri sekujur tubuh dengan doa-doa.Kaki tampak payah,tak mampu menopang tubuhnya.Telapak tempat surga itu pun penuh bekas darah bernanah,symbol perjuangan menapak sulitnya kehidupan. Ibunda.Adakah saat ini kita terenyuh mengengkannya? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia.Sejak dalam rahim,betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi.Hingga kerelaan,keikhlasan dan kesabaran selama 9

bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa,namun tetap berjuang di jalan Allah SWT. Polesannya adalah warna dasar pada diri kita.Menggores sebuah kanvas putih nan suci dengan goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al-Quran,zikir,tasbih serta tahmid,tentu akan melahirkan kepribadian islam dalam jiwa. Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa.. Namun,ibunda kita dan ibunda mereka adalah sama,sebuah anugerah terindah dari Allah SWT. Saat dewasa,tapak kaki telah kuat menjejak tanah dan tangan pun terkepal ke angkasa,masihkah selalu ingat bunda? Cita-cita telah tergenggam di tangan,popularitas,kemewahan,hingga dunia pun telah takluk menyerah kalah,tunduk karena ketekunan,jerih payah serta kerja keras tiada hentinya.Haruskah sombong dan angkuh hingga kata-kata menyakitkan begitu gampang terlontar? Duhai jiwa,sekiranya engkau sadar bahwa tanpa doa ibunda,niscaya semua masih anganangan belaka.Astaghfirullah...........ampunu diri ini ya,Allah. Duhai ibunda .....Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang,dan lidah yang pernah terucap kata makian hingga membuat luka hatimu.Maafkanlah pula jika kesibukan menghalangi untaian doa terhatur untukmu.Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu bunda. Sungguh,jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh dipangkuan,mendekap tubuh sepuh,serta menangis dipangkaunmu.Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata.Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu.Mengenalkan indahnya tiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu.Buailah dengan doa-doa hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu. Duhai ibunda.........Keindahan dunia takkan tergantikan dengan keindahan dirimu.Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku.Indah....semua begitu indah dalam alunan cintamu,menelisik lembut,membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu akan kasih sayangmu.. Duhai ibunda....... Bukakan pintu ridhomu,hingga Allah pun meridhoiku

KARUNIAILAH AKU SEORANG PUTRI


Tuhanku,karuniailah aku seorang putri Yang cukup kuat untuk mengetahui manakala ia lemah Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya manakala ia takut Putri yang bangga dan tegar dalam kekalahan yang jujur Dan rendah hati serta berbudi dalam kemenangan

Karuniailah aku seorang putri yang mengenal Engkau Dan sadar bahwa mengenal diri sendiri adalah landasan pengetahuan Bimbinglag ia,doaku,bukan dijalan yang mudah dan mulus Melainkan dibawah tekanan,kesulitan dan tantangan Buatlah ia belajar tegar dalam badai Biarkan ia belajar bersimpati kepada mereka yang gagal Karuniailah aku seorang putri yang hatinya bening Yang cita-citanya tinggi Seorang putrid yang sanggup memimpin dirinya sendiri Sebelum ia mencoba memimpin orang lain Seorang yang akan menggapai masa dapan tanpa melupakan masa lalu Dan setelah dia gapai semuanya Aku berdoa,berilah ia rasa humor Sehinnga dia bisa selalu bersikap serius Tapi tidak membuat dirinya terlalu serius Hingga aku,ayahnya,akan sanggup berkata, Hidupku tak sia-sia ! (General Douglas Mc Arthur 1880-1964) Robbi,Mengapa Bundaku Sering Menangis Seorang anak kecil bertanya pada Tuhannya, Robbi,mengapa bundaku sering menangis? Allah menjawab,Karena ibumu adalah seorang wanita Aku menciptakan wanita sebagai makhluk yang istimewa Aku kuatkan bahunya untuk menyangga dunia Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman Aku kuatkan rahimnya untuk melahirkan Aku tabahkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah Aku beri dia rasa sensitive untuk mencintai putra-putrinya Aku tanamkan rasa sayang yang akan meninabobokan dan berbagi cerita dengan putra-putrinya yang beranjak dewasa Aku beri dia kekuatan untuk memikul beban keluarga tanpa mengeluh Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi mesti disakiti oleh putra-putrinya sekalipun Aku beri dia keindahan untuk melindungi batin suaminya Aku beri dia kebijaksanaan untuk mengerti bahwa suami yang baik takkan pernah menyakitinya Bundamu,makhluk yang sangat kuat Jika kau lihat bundamu menangis Karena Aku beri dia air mata yang bisa dia gunakan Untuk membasuh luka batinnya dan memberi kekuatan baru

Munajat di Malam Ramadhan Ya,Rabb-ku, Telah berhenti para pemohon di depan pintu-Mu Telah berlindung orang-orang fakir ke haribaan-Mu Telah berlabuh perahu orang-orang miskin Pada tepian lautan kebaikan dan kemurahan-Mu Dengan harapan menggapai halaman kasih sayang dan anugerah-Mu Ya Allah, Jika sekiranya dibulan ini Engkau hanya menyayangi orang-orang yang ikhlas karena-Mu dalam menjalankan puasa dan shalat malamnya Maka siapakah yang akan menyayangi pendosa yang berbuat salah Bila ia tenggelam dalam lautan dosa dan maksiatnya Ya Rabbi, Jika Engkau hanya menyayangi orang-orang yang taat Maka siapakah yang menyayangi orang-orang yang maksiat Jika Engkau hanya menerima orang-orang yang beramal Maka siapakah yang akan menerima orang-orang yang tidak beramal Ya Allah, Beruntung sudah orang-orang yang berpuasa Berbahagialah orang-orang yang shalat malam Selamatlah orang-orang yang ikhlas Sedangkan kami,adalah hamba-hamba-Mu yang berdosa Maka sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu Dan lepaskanlah kami dari api neraka dengan ampunan-Mu Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih sayang-M, Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi