Anda di halaman 1dari 9

PERBANDINGAN SISTEM PEMERINTAHAN: SUATU PENGANTAR

Islam Abdillah

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu (QS. An Nahl:89)

Allah SWT menurunkan Islam sebagai risalah yg universal, yg mengatur seluruh manusia di setiap waktu & tempat, di samping itu juga Islam merupakan risalah yg memuat aturan lengkap, yg mampu menyelesaikan seluruh problem interaksi di dlm negara dan masyarakat, baik dlm pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan maupun politik, di dlm dan luar negeri; baik yg menyangkut interaksi yg umum, antara negara dan masyarakatnya, atau antara negara dgn umat serta bangsa lain; ketika perang dan damai. Termasuk juga yg menyangkut interaksi secara khusus antara anggota masyarakat satu dgn anggota masyarakat yg lain. Dengan demikian, Islam adalah sistem yg paripurna & menyeluruh (comprehensive) bagi seluruh kehidupan manusia. Karena itulah, kaum muslimin diwajibkan untuk memberlakukannya secara total dlm sebuah tatanan pemerintahan (negara) yg memiliki bentuk tertentu sesuai dgn fikrah dan thoriqoh Islam yg khas, yg tergambarkan dlm sistem kekhilafahan sebagaimana contoh Rasulullah saw serta Khulafaur Rasyidin. Sistem pemerintahan Islam adalah sebuah sistem yang berbeda sama sekali dengan sistem-sistem pemerintahan yang ada di dunia. Baik dari aspek asas yang menjadi landasan berdirinya, pemikiran, konsep, standar serta hukum-hukum yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umat, maupun dari aspek undangundang dasar serta undang-undang yang diberlakukannya, juga aspek bentuk yang menggambarkan wujud negara, maupun hal-hal yg menjadikannya beda sama sekali dari seluruh bentuk pemerintahan yg ada di dunia. Namun, di kalangan kaum muslimin sendiri banyak yg meragukan bahwa Islam memiliki tatanan pemerintahan yg khas. Mereka merasa perlu untuk mengadopsi tatanan pemerintahan dari luar pemikiran Islam. Oleh karenanya, marilah kita cermati sejauh mana kemungkinan pengadopsian itu dilakukan? Apakah sesuai dengan aqidah dan syariat Islam.

Perbedaan Dengan Theokrasi


Theokrasi berasal dari bahasa Yunani Theos (Tuhan) dan kratos (kekuasaan). Istilah theokrasi biasa digunakan untuk menyebut sistem politik yang didasarkan atas kekuasaan Tuhan yang diwakili oleh kekuasaan spiritual sekaligus menguasai kekuasaan politik (Dr. Jamil Shaliba, Al Mu'jam al Falsafi, hal 369). Dlm Ensiklopedi Indonesia (Hassan Sadily, dkk.) theokrasi digunakan oleh kerajaan-kerajaan kuno yg mengaku mendapatkan legitimasi kekuasaan dr dewa atau Tuhan, misalnya kekaisaran Jepang. Disamping

legitimasi kekuasaan dr Tuhan yg tak bisa diganggu-gugat, dlm negara theokrasi pemimpin negara dianggap mendapatkan wewenang utk membuat hkm & sekaligus menariknya kembali kapan saja tanpa koreksi. Menurut Ustadz Syibly Al Isamy, negara theokrasi adalah negara di tangan para pemimpin gereja yg menganggap segala perilaku mereka terjaga dr kesalahan dan suci. Apa yg mereka halalkan di bumi, tentu halal pula di langit. Apa yg mereka batasi di dunia, tentu dibatasi pula di langit. Tak seorang pun manusia boleh berkata kepada para pemimpin gereja itu, "Engkau telah berbuat buruk, engkau telah berbuat salah". Sebab dgn perkataannya itu berarti telah menentang Tuhan yang telah mewakilkan kepadanya (Al-Qardhawy, 1999:81). Bahkan kesucian pemimpin alias penguasa (Imam) itu menurut Imam Khomeini, berada pada martabat yang sangat tinggi, yang tak bisa dijangkau oleh para nabi maupun malaikat muqarrabin (lihat Al Imam Al Khomeini, Al Hukumah Al Islamiyah, hal 52). Dgn demikian, bahwa dlm theokrasi, kekuasaan dimiliki seseorang/sekelompok orang yg mendapatkan legitimasi dr Tuhan bukan dr rakyat. Oleh krn itu rakyat tdk berwenang utk mencabutnya dr kekuasaan. Disamping itu, tatkala penguasa membuat hkm, dia berkedudukan sebagai wakil Tuhan yg berwenang mengatur kehidupan di muka bumi. Dgn demikian berarti kedaulatan (as siyadah/sovereignty) dan kekuasaan (as sulthon/autority) berada di tangan seorang/beberapa orang penguasa theokrasi itu sendiri. Setidaknya ada empat perbedaan antara sistem khilafah dgn sistem theokrasi; Pertama, legitimasi kekuasaan para penguasa dlm sistem theokrasi berasal dari Allah atau Tuhan atau Dewa. Mereka mengaku wakil Tuhan & rakyat cukup hanya menerima pengakuan mereka Dlm sistem khilafah, legitimasi kekuasaan diperoleh oleh seorang khalifah dr umat krn khalifah dipilih oleh umat rakyat secara keseluruhan atau mayoritasnya, baik secara langsung atau melalui perwakilan mereka (majelis umat/syuro). Khalifah bukanlah wakil Allah, melainkan wakil umat. Kesimpulannya, sumber kekuasaan dlm khilafah adalah umat (As Sulthan lil Ummah). Lalu umat menyerahkan pelaksanaan pemerintahan itu kpd seseorang yg mereka bai'at menjadi khalifah utk mewakili mereka. Rasulullah Saw. dan khulafaur Rasyidin mendapatkan baiat dr kaum muslimin utk menjalankan kekuasaan guna menerapkan hkm Islam dlm keidupan bernegara. (An Nabhani, 1997:40) Kedua, hukum yg diterapkan dlm sistem theokrasi adalah hukum yang dibuat sendiri oleh para penguasa yang mengklaim telah mendapatkan legitimasi dan wewenang dari Allah untuk membuat hukum sesuka mereka. Sedangkan dalam sistem khilafah, khalifah yang telah dibai'at oleh umat Islam hanyalah bertugas untuk melaksanakan hukum Allah yang terdapat dalam al Qur'an dan Sunnah. Sedangkan, dalam negara theokrasi, para pemimpin/penguasa membuat hukum sendiri dengan segala kelemahan pengetahuannya sebagai manusia. Ketiga, dlm negara theokrasi, penguasa sebagai wakil Tuhan di muka bumi diklaim tdk bisa berbuat salah. Penguasa ma'shum, dijaga oleh oleh Tuhan dari kesalahan dan dosa. Dlm sistem khilafah, penguasa justru tidak ma'shum. Keempat, karena kemaksuman dlm poin ketiga, maka penguasa dalam sistem theokrasi tidak bisa dikritik dan dikoreksi. Sedangkan dlm sistem khilafah, kritik dan koreksi (muhasabah) adalah hak kaum muslimin sekaligus kewajiban mereka sebagai rakyat yg mewakilkan kekuasaan melaksanakan hukum Allah SWT kepada khalifah. Sebab, khalifah sebagaimana umat adalah manusia yang di dlm melaksanakan hukum Allah SWT mungkin melakukan kekeliruan. Dan pelanggaran hukum Allah SWT atau kemungkaran, apabila dilakukan penguasa, bisa menjadi sebuah bencana yg besar. Karena itu, negara khilafah merupakan negara manusiawi yang dipimpin manusia serta memerintah manusia biasa bukan negara ilahiyah (theokrasi) dimana penguasanya adalah wakil tuhan yang tidak pernah salah. (An Nabhani, 1997:157)

Perbedaan Dengan Kerajaan (Monarki)


Sistem monarki adalah bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh seorang raja. Sistem ini kadangkala mengalami perubahan dari sisi pembuat hukum dan pola pengangkatan raja sehingga ada di antara para pakar politik, antara lain Leon Duguit, yang membagi sistem ini ke dalam tiga bentuk, yaitu: 1. Monarki dengan sistem pemerintahan yang absolut 2. Monarki terbatas 3. Monarki konstitusionil Tanpa perlu memandang perbedaan bentuk monarki itu sendiri, secara substansial ada beberapa hal yang harus dicermati dalam sistem pemerintahan monarki ini, yaitu: Sistem pemerintahannya menerapkan sistem waris, di mana singgasana kerajaan akan diwarisi oleh seorang putra mahkota dari orang tuanya; seperti saat mereka mewariskan harta warisan. Sedangkan sistem pemerintahan Islam tidak mengenal sistem waris. Sistem Islam telah menjadikan kekuasaan adalah milik umat, bukan milik khalifah. Pemerintahan akan dipegang oleh orang yang dibaiat oleh umat dengan penuh ridha dan kebebasan memilih. Umar bin Khatab r.a. pernah berkata: Siapa saja yang menyerahkan kepemimpinan kepada seseorang karena pertimbangan sanak-kerabat atau sahabatnya, padahal ia tahu bahwa di antara kaum muslimin ada yang lebih baik ketimbang dia, maka Allah dan Rasul-Nya benar-benar telah menjadikan seluruh kaum muslimin terhina. (Abdul Qadim Zallum, Nizhamul Hukmi Fiil Islam: 91) Sistem pemerintahan Islam tidak berbentuk monarchi. Bahkan, Islam tidak mengakui sistem monarchi, maupun yang sejenis dengan sistem monarchi. Dalam Islam, pemerintahan akan dipegang oleh orang yang dibaiat oleh umat dengan penuh ridla dan kebebasan memilih. (An Nabhani, 1997:31) Disamping itu, dalam pemerintahan Islam tidak mengenal wilayatul ahdi (putra mahkota). Justru Islam menolak adanya putra mahkota, bahkan Islam juga menolak memperoleh pemerintahan dengan cara waris. Dimana Islam telah menentukan cara memperoleh pemerintahan, dengan baiat dari umat kepada Khalifah atau imam, dengan penuh ridla dan kebebasan memilih. (An Nabhani, 1997:32) Dlm praktiknya, sistem pewarisan kekuasaan yang ternyata menjadi salahsatu faktor yang mempercepat runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah. Juga pada masa Umayyah, sistem putra mahkota yang dipelopori oleh Khalifah Muawiyyah karena telah merampas hak-hak politik rakyat yang sudah ditetapkan dlm Islam. Selain itu pola pewarisan jabatan menyebabkan Khilafah diperintah oleh orang-orang yang kurang matang dan tidak berpengalaman. Sepuluh orang Khalifah pertama pada masa Utsmaniyyah (sampai era Sulaiman The Magnificent, 1520-1566) adalah orang-orang yang matang. Tetapi para Khalifah sesudahnya (kecuali Murad IV, Mustafa III, dan Abdul Hamid II) adalah orang-orang yang kurang matang bahkan ada yang berada di bawah pengaruh ibunya (Sultan Osman II, 1618-1622). Selain itu nepotisme yang merebak di beberapa wilayah telah menyebabkan upaya-upaya pemisahan diri yang menguras konsentrasi Khalifah sehingga menghambat upaya konsolidasi internal. Adanya hak tertentu serta hak-hak istimewa khusus untuk raja saja, yang tidak akan bisa dimiliki oleh yang lain. Sistem ini juga telah menjadikan raja di atas undang-undang, secara pribadi raja memiliki kekebalan hukum. Raja, kadang kala hanya merupakan simbol bagi umat, dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa, seperti raja-raja di Eropa. Atau kadang kala menjadi raja dan sekaligus berkuasa penuh, bahkan menjadi sumber hukum. Dimana raja bebas mengendalikan negeri dan rakyatnya dengan sesuka hatinya, seperti raja di Saudi, Maroko, dan Yordania. (An Nabhani, 1997:31)

Hal ini tampak pada konsep Divine Right of Kings (Hak Suci Raja) yang muncul dalam masa 1500-1700 M, yang digunakan antara lain oleh Raja Spanyol Isabella dan Ferdinand (1479-1516), Raja-raja Bourboun di Perancis, Charles I dan Charles II di Inggris (1588-1679). Hal ini bertolak belakang dengan sistem Islam yang tidak pernah memberikan kekhususan kepada khalifah atau imam dalam bentuk hak-hak istimewa atau hak-hak khusus, karena kedaulatan sepenuhnya ada pada hukum syara. Khalifah memiliki hak yang sama dengan hak rakyat biasa. Tidak ada perbedaan dalam penerapan aturan dan keharusan untuk diatur oleh hukum syara, sebagaimana yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat memperhatikan harta rakyatnya sampai beliau tidak mau mendapatkan uang santunan sebesar dua dirham dari baitul mal. Begitu pula beliau memerintahkan pada keluarga Marwan (sanak keluarganya sendiri) untuk mengembalikan harta yang tidak sah kepada baitul mal atau kepada pemiliknya (Sayyid Qutb, Keadilan Sosial dalam Islam: 287). Raja, kadangkala hanya merupakan simbol bagi umat dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa, atau bahkan berkuasa penuh bahkan menjadi sumber hukum sehingga raja bebas mengendalikan negeri dan rakyatnya sesuka hati. Khalifah tidak memiliki hak, selain hak yang sama dengan rakyat biasa. Khalifah juga bukan hanya sebuah simbol bagi umat, yang menjadi Khalifah namun tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Disamping Khalifah juga bukan sebuah simbol yang berkuasa dan bisa memerintah serta mengendalikan negara beserta rakyatnya dengan sesuka hatinya. Namun, Khalifah adalah wakil umat dalam masalah pemerintahan dan kekuasaan, yang mereka pilih dan mereka baiat dengan penuh ridla agar menerapkan syariat Allah atas diri mereka. Sehingga Khalifah juga tetap harus terikat dengan hukum-hukum Islam dalam semua tindakan, hukum serta pelayanannya terhadap kepentingan umat. (An Nabhani, 1997:31-32)

Perbedaan Dengan Republik


Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem republik. Dimana sistem republik berdiri di atas pilar demokrasi, yang kedaulatannya ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memiliki hak untuk memerintah serta membuat aturan, termasuk rakyatlah yang kemudian memiliki hak untuk menentukan seseorang untuk menjadi penguasa, dan sekaligus hak untuk memecatnya. Rakyat juga berhak membuat aturan berupa undang-undang dasar serta perundang-undangan, termasuk berhak menghapus, mengganti serta merubahnya. Dalam sistem pemerintahan ini, perlu dicermati hal-hal berikut: Istilah demokrasi sendiri berasal dari bahasa Yunani, demos yg berarti rakyat dan kratos/ kratein berarti kekuasaan/berkuasa. Singkatnya demokrasi diartikan rakyat berkuasa, atau government or rule by the people (Prof. Miriam Budiardjo, idem). Gagasan ini memang bermula dr negara kota (city state) Yunani kuno abad 6-3 sebelum masehi, yg berbentuk direct democracy. Hak membuat keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur mayoritas. Ini dpt diselenggarakan efektif krn kondisi yg sederhana, wilayahnya terbatas serta jumlah penduduk pun masih sedikit. Tentu ini akan berbeda dgn kondisi negara modern seperti sekarang dimana kompleksitas masalah yg luas, dan populasi rakyat sangat besar. Ketika memasuki abad pertengahan dgn ciri struktur sosial feodal (hub. antara vassal dan lord), gagasan ini boleh dibilang hilang dr Eropa. Muncul kemudian monarki-monarki absolut pd masa 1500-1700 M, dimana para raja menganggap dirinya berhak atas tahta berdasar konsep devine rights of kings (hak suci raja). Eksploitasi & penindasan rakyat atas nama agama (Nashrani) oleh para raja tadi menimbulkan berbagai ketidakpuasan. Naiknya gol. menengah yg memiliki kedudukan ekonomi kuat dan berpendidikan, menyuarakan kecaman-kecaman terhadap model absolutisme. Akhirnya mrk mendobrak kedudukan raja-raja absolut dgn

mengedepankan teori rasionalitas atau kemudian dikenal sebagai social contract. Salah satu asas gagasan ini adalah bahwa dunia dikuasai oleh hukum yg timbul dr alam yg mengandung prinsip-prinsip keadilan yg universal, artinya berlaku utk semua waktu serta semua manusia. Hukum ini kemudian dinamakan natural law (hukum alam). Para filusuf pencetus gagasan ini John Locke dari Inggris (1632-1704) dan Montesquieu, filusuf Prancis yang hidup antara tahun 1689-1755. Menurut mrk hak-hak politik mencakup hak atas hidup, kebebasan dan hak milik (life, liberty, property). Lalu disusunlah suatu sistem politik yg sangat terkenal, trias politica. Berbagai revolusi sosial kemudian bergolak disulut oleh ide-ide tadi di Eropa, seperti yg terjadi di Prancis (akhir abad 18) dan revolusi Amerika atas Inggris. Baru pada akhir abad ke-19 lah gagasan-gagasan demokrasi mendapat wujud yg kongkrit sebagai program dan sistem politik. Meski pada tahap awal hanya mendasarkan pada asas-asas kemerdekaan individu, kesamaan hak (equal rights), serta hak pilih utk semua warga negara (universal suffrage). Kini demokrasi menjadi barang dagangan yg dijajakan Barat (baca: Amerika) ke seluruh dunia dgn gencar, termasuk ke negeri-negeri muslim. Ide ini disambut gempita oleh rakyat, terlebih bila di tengah-tengah mereka berlangsung alam kehidupan yg cenderung absolut dan represif dari penguasa. Demokrasi sebagai asas penegakkannya bertentangan dgn Islam krn dlm demokrasi kedaulatan sepenuhnya berada pd tangan rakyat, sementara Islam yg pilar penegaknya adalah aqidah Islam dan hukum syara, memberikan kedaulatan berada pd hukum syara, artinya yg berhak membuat aturan hanya Allah SWT, tdk ada campur tangan manusia. Khalifah hanya memiliki hak utk mengadopsi hukum yg akan dijadikan sebagai UUD serta perundang-undangan dr Kitabullah & Sunnah Rosul-Nya. Begitu pula umat tdk berhak memecat Khalifah, krn yg berhak hanyalah hkm syara, dlm arti bahwa ketika ia tdk dpt menjaga dan penerapan aturan Allah, maka ia wajib dipecat. Akan tetapi, umat tetap berhak utk mengangkat khalifah. Sebab Islam telah menjadikan kekuasaan di tangan umat. Sehingga umat berhak mengangkat siapa saja yg mrk pilih dan mrk baiat utk menjadi wakil mrk dlm memberlakukan dan melaksanakan aturan Allah SWT. (An Nabhani, 1997:32) Beberapa prinsip mendasar sistem demokrasi, antara lain: Demokrasi adalah buatan akal manusia dan bukan berasal dari Allah SWT. Demokrasi tidak bersandar pada wahyu dan tidak memiliki hubungan dengn agama (Islam) yang diturunkan Allah SWT. Hal ini disebabkan demokrasi berasal dari sejarah gelap Eropa pada masa Aufklarung (pencerahan pemikiran). Demokrasi lahir dari aqidah faslud diin anil hayah (pemisahan agama dari realita kehidupan), yang selanjutnya berimpliksi pada pemisahan agama dari negara dan pemerintahan. Asas demokrasi berlandaskan dua ide dasarnya, yaitu kedaulatan yang tertinggi di tangan rakyat dan rakyat sebagai sumber kekuasaan. Demokrasi adalah sistem pemerintahan mayoritas. Pemilihan penguasa dan anggota lembaga legislatif diselenggarakan berdasarkan suara mayoritas para pemilih. Hal ini berimplikasi pada semua keputusan dalam lembga-lembaga legislatif tersebut diambil berdasarkan pendapat mayoritas. Demokrasi bertumpu pada empat macam kebebasan yang harus dijamin bagi setiap individu, yaitu: Kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan berpendapat (freedom of speech), kebebasan kepemilikan (freedom of ownership), dan kebebasan berprilaku (personal freedom). Dalam sistem republik dengan bentuk presidensilnya, seorang presiden memiliki wewenang sebagai seorang kepala negara serta wewenang sebagai seorang perdana menteri, sekaligus. Karena tidak ada perdana menteri, sementara yang ada hanya para menteri, semisal presiden Amerika. Sedangkan dalam sistem republik dengan bentuk parlementernya, terdapat seorang presiden sekaligus dengan perdana menterinya. Dimana wewenang pemerintahannya dipegang oleh perdana menteri, bukan presiden, misalnya Republik Prancis dan Jerman Barat. (An Nabhani, 1997:32-33)

Sedangkan di dlm sistem khilafah tdk ada menteri maupun kementerian bersama seorang Khalifah sebagaimana dlm konsep demokrasi, yg memiliki spesialisasi serta departemen-departemen tertentu. Yg ada dlm sistem khilafah hanyalah para muawin (pembantu Khalifah) yg senantiasa dimintai bantuan oleh Khalifah. Tugas mereka adalah membantu Khalifah dalam tugas-tugas pemerintahan. Mereka adalah para pembantu dan sekaligus pelaksana. Ketika Khalifah memimpin mereka, maka Khalifah memimpin mereka bukan dengan kapasitasnya sebagai perdana menteri atau kepala lembaga eksekutif, melainkan hanya sebagai kepala negara. Sebab dalam Islam tidak ada kabinet menteri yang bertugas membantu Khalifah dengan memiliki wewenang tertentu. Sehingga muawin tetap hanyalah pembantu Khalifah untuk melaksanakan wewenang-wewenangnya. Selain dua bentuk tersebut, baik presidensil maupun parlementer dalam sistem republik, presiden bertanggung jawab di depan rakyat atau yang mewakili suara rakyat. Dimana rakyat beserta wakilnya berhak untuk memberhentikan presiden, karena kedaulatan di tangan rakyat. Kenyataan ini berbeda dengan sistem kekhilafahan. karena seorang amirul mukminin (Khalifah), sekalipun bertanggung jawab di hadapan umat dan wakil-wakil mereka, termasuk menerima kritik dan koreksi dari umat serta wakil-wakilnya, namun umat termasuk para wakilnya tidak berhak untuk memberhentikannya. Amirul mukminin juga tidak akan diberhentikan kecuali apabila menyimpang dari hukum syara dengan penyimpangan yang menyebabkan harus diberhentikan. Adapun yang menentukan pemberhentiannya adalah hanya mahkamah madzalim. (An Nabhani, 1997:33) Jabatan pemerintahan (presiden atau perdana menteri) dalam sistem republik, baik yang menganut presidensil maupun parlementer, selalu dibatasi dengan masa jabatan tertentu, yang tidak mungkin bisa melebihi dari masa jabatan tersebut. Sementara di dalam sistem khilafah, tidak terdapat masa jabatan tertentu. Namun, batasannya hanyalah apakah masih menerapkan hukum syara ataukah tidak. Karena itu, selama Khalifah masih melaksanakan hukum syara, dengan cara menerapkan hukum-hukum tersebut kepada seluruh manusia di dalam pemerintahannya, yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka dia tetap menjadi Khalifah, sekalipun masa jabatannya panjang dan lama. Dan apabila dia telah meninggalkan hukum syara serta menjauhkan hukum-hukum tersebut, maka berakhirlah masa jabatannya, sekalipun baru sehari semalam. Sehingga tetap wajib diberhentikan. (An Nabhani, 1997:33-34) Dlm sistem demokrasi memang ada kritik dan koreksi, dan ini biasanya dilakukan oleh pihak oposisi untuk kepentingan politik dari pihak oposisi, misalnya memenangkan pemilu berikutnya, bahkan menjatuhkan kekuasaan. Dalam sistem khilafah, kritik dan koreksi dilakukan oleh partai politik maupun perorangan (ulama) untuk meluruskan jalannya pemerintahan tanpa kepentingan politik, karena partai dlm sistem politik Islam tidak melakukan aktivitas pemerintahan maupun oposisi. Partai dalam sistem Islam hanya amar ma'ruf nahi mungkar. Juga dlm sistem demokrasi, kritik dan koreksi itu menggunakan standar hukum-hukum kufur yg diadopsi oleh sistem demokrasi. Sedangkan dlm sistem khilafah, standar kritik & koreksi adalah hukum Allah SWT. Oleh karena itu, dlm sistem demokrasi tidak ada amar makruf nahi munkar. Sebab, standar amar makruf nahi mungkar itu adalah hukum syari'at Islam yg justru tidak diinginkan berlakunya oleh sistem demokrasi.

Perbedaan Dengan Kekaisaran


Sistem kekaisaran adalah sistem pemerintahan yang membedakan antara ras satu dengan yang lainnya dalam hal memberlakukan hukum di dalam wilayah kekaisaran seperti yang pernah terjadi pada kekaisaran Romawi Kuno yang menggunakan sistem divide et impera untuk menguasai dan mengembangkan wilayah

kolonialnya (lihat Soehino, Ilmu Negara: 43). Sistem ini telah memberikan keistimewaan dalam bidang pemerintahan, keuangan dan ekonomi di wilayah pusat. Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem kekaisaran, bahkan sistem kekaisaran amat jauh dari ajaran Islam. Sebab wilayah yg diperintah dengan sistem Islam, sekalipun ras & sukunya berbeda serta dlm masalah pemerintahan, menganut sistem sentralisasi pada pemerintah pusat, tidak sama dgn wilayah yg diperintah dgn sistem kekaisaran. Bahkan, berbeda jauh dgn sistem kekaisaran tersebut. (An Nabhani, 1997:34) Sedangkan tuntunan Islam dalam bidang pemerintahan adalah menganggap sama antara rakyat yang satu dengan rakyat yang lain dalam wilayah-wilayah negara. Islam juga telah menolak ikatan-ikatan kesukuan (ras). Bahkan, Islam memberikan semua hak-hak rakyat dan kewajiban mereka kepada orang non Islam yang memiliki kewarganegaraan. Dimana mereka memperoleh hak dan kewajiban sebagaimana yang menjadi hak dan kewajiban umat Islam. (Lihat Al Mughni jilid V hal 516, Ibnu Qudamah) Lebih dari itu, Islam senantiasa memberikan hak-hak tersebut kepada masing-masing rakyat, apapun madzhabnya, yang tidak diberikan kepada rakyat negara lain, meskipun muslim. (An Nabhani, 1997:34-35) Dengan adanya pemerataan ini, jelas bahwa sistem Islam berbeda jauh dengan sistem kekaisaran. Dalam sistem Islam, tidak ada wilayah-wilayah yang menjadi daerah kolonial, maupun lahan eksploitasi serta lahan subur yang senantiasa dikeruk untuk wiilayah pusat. Karena wilayah-wilayah tersebut tetap dianggap menjadi satu kesatuan, sekalipun sedemikian jauh jaraknya antara wilayah yang satu dengan ibukota daulah Islam. Begitu pula masalah keragaman ras warganya. Sebab, setiap wilayah dianggap sebagai satu bagian dari tubuh negara. Rakyat yang lainnya juga sama-sama memiliki hak sebagaimana hak rakyat yang hidup di wilayah pusat, atau wilayah-wilayah lainnya. Dimana otoritas pejabat pemerintahannya, sistem serta perundangundangannya sama semua dengan wilayah-wilayah yang lain. (An Nabhani, 1997:35)

Perbedaan Dengan Federasi


Sistem pemerintahan federasi adalah sistem yang membagi wilayah-wilayahnya dalam otonominya sendiri-sendiri, dan bersatu dalam pemerintahan secara umum (Budihardjo, 1998:138-146). Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem federasi, yang membagi wilayah-wilayahnya dengan otonominya sendiri-sendiri, dan bersatu dalam pemerintahan secara umum. Tetapi sistem pemerintahan Islam adalah sistem kesatuan. Sebagaimana yang pernah dikenal dengan sebutan mudiriyatul fuyum (semacam kabupaten) ketika ibukota Islam berada di Kairo. Kekayaan seluruh negeri Islam dianggap satu. Begitu pula anggaran belanjanya akan diberikan secara sama untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa melihat daerahnya. Kalau seandainya ada wilayah telah mengumpulkan pajak, sementara kebutuhannya kecil, maka wilayah tersebut akan diberi sesuai dengan tingkat kebutuhannya, bukan berdasarkan hasil pengumpulan hartanya. kalau seandainya ada wilayah yang pendapatan daerahnya tidak bisa mencukupi kebutuhannya, maka daulah Islam tidak akan mempertimbangkannya. Tetapi, wilayah tersebut tetap akan diberi anggaran belanja dari anggaran belanja secara umum, sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Baik pajaknya cukup untuk memenuhi kebutuhannya, ataupun tidak. (An Nabhani, 1997:35) Sistem pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan sentralisasi, dimana penguasa tertinggi cukup di pusat. Pemerintahan pusat mempunyai otoritas yg penuh terhadap seluruh wilayah negara, baik dlm masalahmasalah yg kecil maupun yg besar. Daulah Islam juga tdk akan sekali-kali mentolelir terjadinya pemisahan salah satu wilayahnya, sehingga wilayah-wilayah tersebut tdk akan lepas begitu saja. Negaralah yg akan mengangkat para panglima, wali, dan amil, para pejabat dan penanggung jawab dlm urusan harta dan ekonomi.

Negara juga yg akan mengangkat para qadli di setiap wilayahnya. Negara juga yg mengangkat orang yg bertugas menjadi pejabat pemerintahan (hakim). Disamping negara yg akan mengurusi secara langsung seluruh urusan yg berhubungan dengan pemerintahan di seluruh negeri. (An Nabhani, 1997:36)

Penutup
Dari gambaran global di atas, nampak bahwa sistem pemerintahan yang ada di negara-negara saat ini, tidak ada yang mewakili sistem pemerintahan Islam secara murni meskipun dengan embel-embel Negara Islam. Karena bagaimana pun sebagai mabda, Islam harus utuh dimaknai sebagai kesatuan fikrah dan thariqah. Marilah kita kembali renungkan firman-firman-Nya berikut ini:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah SWT. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (QS. Al Maidah:49)

Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir?. (QS. Al Maidah:44)

Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim . (QS. Al Maidah:45)

Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik . (QS. Al Maidah:47) Hanya kepada Allahlah kita menyandarkan diri dan menyerahkan segala urusan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Yaa Allah tolonglah kami kaum muslimin. **

Referensi Buku Teks Abdurrahman, Hafidz. 1998. Islam: Politik dan Spiritual. Singapore: Lisan Ul-Haq Al-Bahnawasi, Salim Ali. 1995. Wawasan Sistem Politik Islam. terjemahan Mustolah Maufur. Jakarta: Pustaka al-Kautsar Al-Maududi, Abul Ala. 1990. Hukum dan Konstitusi: Sistem Politik Islam. Bandung: Mizan ____________________. 1996. Al-Khilafah wa Al-Mulk. terjemahan Muhammad Al-Baqir. Bandung: Mizan. Al-Qardhawy, Yusuf. 1999. Min Fiqhid Daulah Fil Islam. terjemahan Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al Kautsar An Nabhani, Taqiyuddin. 1995. al-Khilafah. terjemahan Muhammad Al Khaththath. Jakarta: Khazanah Islam ____________________. 1997. Nidhamul Hukmi fil Islam. terjemahan Moh Maghfur Wachid. Bangil: Al Izzah Anonim. 1997. Miitsaaqul Ummah. terjemahan Abu Afif dan M. Maghfur. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah Az Zain, Samih Athif. 1981. al-Islam Khuthuthun Aridhah: al-Iqtishad al-Hukm al-Ijtima. terjemahan Mudzakir As. Bandung: Husaini Budiardjo, Miriam. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Rais, M. Amien. 1991. Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta. Bandung: Mizan Artikel Esposito, John L. dan Piscatori, James P. 1994. Islam dan Demokratisasi. Artikel dalam Jurnal Dialog Pemikiran Islam Islamika. Bandung: Mizan. Kurnia, MR. 2002. Negara Khilafah vs Negara Demokrasi. Artikel dalam Jurnal Politik dan Dakwah Al Waie. Bogor: Hizbut Tahrir Indonesia Internet http://aljawad.tripod.com/artikel/khalifah.htm http://www.al-islam.or.id/artikel.php3