Anda di halaman 1dari 2

RIKO RINALDI 1010411018

Neutrino adalah suatu partikel dasar. Neutrino mempunyai spin 1/2 dan oleh sebab itu merupakan fermion. Massanya sangat kecil, walaupun eksperimen yang terbaru menunjukkan bahwa massanya ternyata tidak sama dengan nol. Neutrino hanya berinteraksi lewat interaksi lemah dan gravitasi, tak satu pun lewat interaksi kuat atau interaksi elektromagnetik. Neutrino tercipta sebagai hasil dari beberapa jenis peluruhan radioaktif tertentu atau sebagai karena reaksi nuklir seperti yang terjadi di Matahari, pada reaktor nuklir, atau ketika sinar kosmikmembentur sekelompok atom. Terdapat tiga jenis dari neutrino: neutrino elektron, neutrino muon, dan neutrino tauon (atau tau neutrino); dan masing-masing jenis juga memiliki antipartikel yang sesuai, yang disebut antineutrino. Neutrino (atau antineutrino) elektron dihasilkan ketika suatu proton berubah menjadi neutron (atau suatu neutron menjadi proton), yaitu dua bentuk dari peluruhan beta. Interaksi yang melibatkan neutrino dimediasi melalui proses interaksi lemah. Karena dalam proses interaksi lemah penampang nuklir sangat kecil, neutrino dapat melewati materi nyaris tanpa halangan. Untuk neutrino-neutrino tipikal yang dihasilkan di dalam Matahari (dengan energi beberapa MeV) diperlukan kira-kira satu tahun cahaya (~1016m) timbal untuk memblok setengah dari jumlahnya Efek fotoelektrik adalah fenomena terlepasnya electron logam akibat disinari cahaya atau gelombang elektromagnetik pada umumnya. Elektron yang terlepas padap efek fotolistk disebut electron foto (photoelectron). Fenomena ini pertama kali diamati oleh hendrich herzt (1886-1887) melalui percobaan tabung lucutan. Herzth melohat bahwa lucutan elektrik akan menjadi lebih muda jika sinar ultraviolet dijatuhkan pada elektroda tabung lucutan (sebagai bahan elektroda digunakan natrium. Ini menunjukkan bahwa sinar ultra violet dijatuhkan pada tabung elektroda dapat melepaskan electron dari permukaan logam atau sekurang-kurangnya memudahkan electron terlepas dari logam. Konsep energi yang terkuantisasi oleh planck digunakan oleh Einstein untuk menjelaskan tejadinya efek fotolistrik. DI sini, cahaya dipandang sebagai kuantum energy yang hanya memiliki energy yang diskrit bukan kontinu yang dinyatakan sebagai E =hf. Konsep penting yang dikemukana oleh Einstein sebagai latar belakang terjadinya efek fotolistrik adalah bahwa satu electron menyerap satu kuantum energy. Satu kuantum energy yang diserap electron digunakan untuk lepas dari logam dan untuk bergerak ke pelat logam yang lain. Hal ini dapat dituliskan sebagai Energi cahaya = Energi ambang + energy kinetic maksimum

E = WO + Ekm Hf =hfo + Ekm Ekm = hf - hfo Ekm = h(f fo)


Energi kinetik adalah positif, jadi kita harus memiliki f> f 0 untuk efek fotolistrik terjadi

Pada efek fotolistrik, dari Einstein menyatakan cahaya dapat dipandang sebagai kuantum energy dengan energy yang diskrit (terpisah). Kuantum energy tidak dapat digambarkan sebagai gelombang tetapi lebih mendekati sifat partikel. Paket paket energy ini disebut sebagai foton. Pandangan ini diperkuat lagi oleh oleh gejala efek Compton atau efek penghamburan cahaya. Dengan demikian cahaya dapat dipahami sebagai partikel dalam hal ini De Broglie mempostulatkan bahwa persamaan photon memiliki energi E=hf, momentum p=h/ dan panjang gelombang =h/p. berlaku juga untuk partikel. Secara khusus, partikel dengan masa m dan momentum p memiliki panjang gelombang de Broglie

=
Jika partikel bergerak cukup cepat sehingga perhitungan relativistik diperlukan, maka gunakan persamaan relativistik momentum:

Dari sini didapatkan hipotesis gelombang dari partikel . Melalui hasil kerja Albert Einstein, Louis de Broglie dan lainnya, sekarang ini diterima bahwa seluruh objek memiliki sifat gelombang dan partikel meskipun fenomena ini hanya dapat terdeteksi dalam skala kecil, seperti atom.