Anda di halaman 1dari 7

RANGKUMAN MATERI SOSIOLOGI SMT 2 1.

DEFINISI SOSIALISASI - Koentjaraningrat -> suatu proses, yaitu proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial -Soerjono Soekanto -> proses mengomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru -Sukandar Wiraatmaja -> proses belajar mulai bayi untuk mengenal dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan, dan tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat - Charlotte Buhler -> proses yang membantu individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berpikir kelompoknya agar dia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya - Peter Berger -> suatu proses di mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat - Hassan Shadly -> suatu proses seseorang yang mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat suatu masyarakat dan lambat laun dia merasa menjadi bagian dari masyarakat tersebut - Bruce J. Cohen -> proses-proses manusia mempelajari tara cara kehidupan dalam masyarakat, untul memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota suatu kelompok - Paul B. Horton -> suatu proses di mana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya - KBBI -> suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya - Vembriarto: 1. Sosialisasi adalah proses belajar, yaitu proses akomodasi di mana individu menahan, mengubah impuls-impuls dalam dirinya, dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya 2. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, polapola nilai dan tingkah laku, dalam masyarakat tempat ia hidup 3. Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri pribadinya 2. PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN Beberapa teori kepribadian menurut para ahli : 1) Teori Psikodinamika : Berfokus pada pergerakan energi psikologis di dalam manusia dalam bentuk kelekatan, konflik, dan motivasi. 2) Teori Diri Antisosial (Sigmund Freud) : Kepribadianterdiri dari tiga sistem utama yaitu id (pusat nafsu serta dorongan yang bersifat naluriah, tidak sosial, rakus, dan antisosial), ego (bagian yang bersifat sadar dan rasional yang mengatur pengendalian superego terhadap id. Secara kasar ego dapat disebut sebagai akal pikiran), dan superego (kompleks dari cita-cita dan nilai-nilai sosial yang dihayati seseorang serta membentuk hati nurani atau disebut sebagai kesadaran sosial) 3) Teori Tabula Rasa (John Locke) : Manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya

4) Teori Cermin Diri/The Looking Glass Self (Charles H. Cooley) : Gambaran bahwa seseorang hanya bisa berkembang dengan bantuan orang lain.Setiap orang menggambarkan dirinya sendiri dengan cara bagaimana orang lain memandang mereka. 5) Teori Ralph dan Conton: Setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh di bawah kebudayaan itu. 6) Teori Subkultural (Soerjono Soekanto): Teori ini mencoba melihat kaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit yaitu subbudaya khusus. Dia menyebutkan ada beberapa kebudayaan khusus yang mempengaruhi kepribadian yaitu sbb: - Kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan - Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda - Kebudayaan khusus kelas sosial - Kebudayaan khusus atas dasar agama - Kebudayaan khusus atas dasar pekerjaan atau keahlian 3. FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK KEPRIBADIAN a) Menurut F.G. Robbins: - Sifat dasar : keseluruhan potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya. - Lingkungan prenatal : lingkungan dalam kandungan ibu. Pada periode prenatal ini, individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu. Pengaruhpengaruh tersebut antara lain: * Struktur tubuh ibu (daerah panggul) * Beberapa jenis penyakit yang diderita ibu * Gangguan endokrin * Shock pada saat melahirkan - Perbedaan individual atau perorangan - Lingkungan, meliputi lingkungan alam, sosial, dan kebudayaan - Motivasi : kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkannya untuk berbuat sesuatu. Motivasi dibagi menjadi dua yaitu: * Dorongan : keadaan tidak seimbang dalam diri individu karena pengaruh dari dalam dan luar dirinya. * Kebutuhan : dorongan yang telah ditentukan secara personal, sosial, dan kultural. b) Faktor-faktor pembentuk kepribadian menurut pendapat lainnya: - Faktor biologis - Faktor geografis - Faktor kebudayaan khusus - Faktor pengalaman kelompok (kelompok acuan & majemuk) - Faktor pengalaman unik 4. PENGARUH KEBUDAYAAN & SOSIALISASI TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN a) Kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni: 1) Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan

Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar. 2) Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life ) Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense of value ) 3) Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas social Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa seharihari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu. 4) Kebudayaan khusus atas dasar agama Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya. 5) Kebudayaan berdasarkan profesi Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat tinggal. b) Pengaruh Sosialisasi dalam Pembentukan Kepribadian Kepribadian atau personalitas dapat didefinisikan sebagai ciri watak seorang individu yang konsisten memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khas. Kepribadian merupakan organisasi dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis, yang unsur-unsurnya adalah: pengetahuan, perasaan, dan naluri. 1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan unsur yang mengisi akal-pikiran seseorang yang sadar, merupakan hasil dari pengalaman inderanya atau reseptor organismanya. Dengan pengetahuan dan kemampuan akalnya manusia menjadi mampu membentuk konsepkonsep, persepsi, idea atau gagasan-gagasan. 2. Perasaan Kecuali pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan, yaitu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai positif atau negatif. Perasaan bersifat subjektif dalam diri manusia dan mampu menimbulkan kehendak-kehendak. 3. Dorongan naluri (drive) Naluri merupakan perasaan dalam diri individu yang bukan ditimbulkan oleh pengaruh pengetahuannya, melainkan sudah terkandung dalam organisma atau gennya. 5. PENGERTIAN SEMPURNA PERILAKU MENYIMPANG SEBAGAI HASIL SOSIALISASI TIDAK

Sosialisasi yang tidak sempurna terjadi karena seseorang bersosialisasi dengan nilai sub budaya yang menyimpang. Nilai sub budaya menyimpang yaitu bagian dari budaya yang memiliki norma sendiri, yang dianggap benar oleh sebagian orang, yang bertentangan dengan norma secars umum.

6. CARA MENANGGULANGI TERJADINYA PERILAKU MENYIMPANG

Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasi terjadinya penyimpangan sosial:

1) Di lingkungan keluarga: a) Menciptakan suasana harmonis, perhatian, dan penuh rasa kekeluargaan b) Menanamkan nilai-nilai budi pekerti, kedisiplinan, dan ketaatan beribadah c) Mengembangkan komunikasi dan hubungan yang akrab dengan anak d) Selalu meluangkan waktu untuk mendengar dan menghargai pendapat anak, sekaligus mampu memberikan bimbingan atau solusi jika anak mendapat kesulitan e) Memberikan punish and reward

f) Memberikan tanggung jawab kepada anak sesuai tingkat umur dan pendidikannya 2) Di lingkungan sekolah: a) Mengembangkan hubungan yang erat dengan anak didiknya agar dapat tercipta komunikasi timbal balik yang seimbang b) Menanamkan nilai-nilai disiplin, budi pekerti, moral, dan spiritual sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing c) Selalu mengembangkan sikap keterbukaan, jujur, dan saling percaya d) Memberi kebebasan dan mendukung siswa untuk mengembangkan potensi diri, sejauh potensi tersebut bersifat positif e) Bersedia mendengar keluhan siswa serta mampu bertindak sebagai konseling untuk membantu siswa mengatasi berbagai permasalahan, baik yang dihadapinya di sekolah atau yang dihadapinya di rumah 3) Di lingkungan masyarakat a) Mengembangkan kerukunan antarwarga masyarakat b) Membudayakan perilaku disiplin bagi warga masyarakat

7. PENGERTIAN PENGENDALIAN SOSIAL - Peter L. Berger : berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang - Joseph S. Roucek : istilah kolektif yang mengacu pada proses terencana di mana individu dianjurkan, dibujuk atau pun dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup suatu kelompok - Bruce J. Cohen : cara-cara atau metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat luas - Soerjono Soekanto : suatu proses, baik yang direncanakan ataupun yang tidak direncanakan, yang berjuang untuk mengajak, membimbing, atau bahkan memaksa masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku

8. LEMBAGA-LEMBAGA PENGENDALIAN SOSIAL Lembaga pengendalian sosial formal:

- Kepolisian: merupakan aparat resmi pemerintah untuk menertibkan keamanan. Bertugas memelihara ketertiban masyarakat, menjaga dan menahan setiap anggota masyarakat yang dituduh atau dicurigai melakukan kejahatan yang meresahkan masyarakat - Pengadilan: bertugas menyelenggarakan pengadilan terhadap orang yang diduga atau dituduh melakukan kejahatan dan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku - Sekolah: sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peranan dalam pengendalian sosial. Guru-guru senantiasa mendidik dan menegur murid-muridnya agar mau menaati tata tertib yang berlaku di sekolah. Lembaga pengendalian sosial informal: - Tokoh adat : tokoh adat berperan dalam membina dan mengendalikan sikap dan tingkah laku warga masyarakat agar sesuai dengan ketentuan adat - Tokoh agama : tokoh agama sangat berpengaruh dalam lingkungan karena nilai dan norma yang ditanamkannya berkaitan dengan perdamaian, kasih sayang, menghargai, dan mencintai. Pengendalian yang dilakukan tokoh agama terutama menentang perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma agama - Tokoh masyarakat: bentuk pengendalian yang dapat dilakukan tokoh masyarakat, antara lain pembinaan hubungan sosial masyarakat dan menggalang gotong royong 9. CARA PENGENDALIAN SOSIAL a) Secara formal: - Melalui hukuman fisik - Melalui lembaga pendidikan - Berdasarkan ajaran agama b) Secara informal: - Desas desus/gossip - Pengucilan - Celaan - Ejekan Cara pengendalian sosial: 1) Sosialisasi: sosialisasi dilakukan agar anggota masyarakat bertingkah laku seperti yang diharapkan tanpa paksaan

2) Tekanan sosial: tekanan sosial perlu dilakukan agar masyarakat sadar dan maj menyesuaikan diri dengan aturan kelompok. Pengendalian sosial melalui tekanan ini dibagi menjadi dua yaitu: * Pengendalian sosial kelompok primer: merupakan sekelompok masyarakat kecil yang sifatnya akrab dan informal. Biasanya bersifat informal, spontan, dan tidak direncanakan * Pengendalian sosial kelompok sekunder: kelompok masyarakat yang lebih besar yang tidak bersifat pribadi dan mempunyai tujuan yang khusus. Alat pengendalian sosial berupa peraturan resmi dan tata cara yang standar, kenaikan pangkat, pemberian gelar, imbalan dan hadiah dan sanksi serta hukuman formal. 3) Kekuatan dan kekuasaan: dilakukan jika sosialisasi dan tekanan sosial gagal. Pengontrolan dilakukan melalui kekuatan lembaga-lembaga yang diberi wewenang secara resmi untuk melakukan pengendalian sosial Menurut Roucek dan Warren cara pengendalian sosial yaitu sbb: Institusi & non institusi Lisan & simbolik Kekerasan Formal & informal Imbalan & hukum