Anda di halaman 1dari 13

Lobbying of the International Accounting Standards Board (IASB): An Empirical Investigation

I.

Introduction
Meluasnya pengadopsian International Financial Reporting Standards (IFRS) menunjukkan permintaan terhadap satu set tunggal standar akuntansi internasional yang berkualitas tinggi. Hal tersebut sesuai dengan salah satu tujuan IASB dan badan pengaturnya, International Accounting Standards Committee Foundation (IASCF). Namun, penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan mengenai permintaan terhadap properti-properti/ sifat akuntansi antara rezim hukum dan ekonomi. Perbedaan permintaan tersebut merupakan tantangan untuk IASB dalam menciptakan standar yang dapat diterima di seluruh negara. Oleh karena itu, dalam papernya, penulis memberikan bukti mengenai bagaimana IASB menyeimbangkan permintaan tersebut dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi perkembangan IFRS di masa mendatang. Penulis menguji 2 teori di bidang ekonomi dan ilmu politik untuk menjelaskan keberhasilan dari IASB lobbyist. Hipotesis pertama adalah hipotesis informasi, yang menempatkan keberhasilan lobbying sebagai fungsi dari kemampuan lobbyist untuk mengirimkan informasi kepada regulator. Hipotesis kedua adalah hipotesis kelangsungan hidup, yang menempatkan keberhasilan lobbying sebagai fungsi dari dampak potensial lobbyist terhadap kelangsungan hidup regulator. Penulis melakukan studi ini menggunakan data yang dikumpulkan dari comment letter terhadap 5 exposure draft (ED) terakhir yaitu ED 2 hingga ED 6 yang diterbitkan oleh IASB dan IFRS terakhir yang diterbitkan dalam kaitannya dengan ED tersebut. Berbagai jenis isu menegai akuntansi dalam ED itu meningkatkan generalisasi penemuan penulis.

Penulis menggunakan 2 ukuran kemampuan lobbyist untuk mentransfer informasi kepada IASB. Ukuran pertama, penulis menampilkan isi analisis dari comment letter yang telah disampaikan. Penulis menemukan bahwa keberhasilan lobbying berkaitan dengan tingginya kualitas informasi dan kredibilitas informasi tersebut juga sangat penting. Ukuran kedua adalah jumlah anggota dewan IASB dari negara asal si lobbyist. Penulis tidak menemukan bukti bahwa peluang keberhasilan lobbying terkait dengan adalah jumlah anggota dewan IASB dari negara asal si lobbyist. Akan tetapi, dalam pengujian robustness, penulis menemukan bahwa pendapat dissenting anggota dewan IASB terkait dengan preferensi lobbyist dari negara asalnya. Penulis juga menggunakan 2 ukuran kemampuan lobbyist untuk mempengaruhi kelangsungan hidup IASB yaitu tingkat kontribusi keuangan yang diberikan lobbyist kepada IASCF dan ukuran pasar modal pada negara asal si lobbyist. Penulis menemukan bahwa keberhasilan lobbying terkait dengan keduanya. Hasil ukuran tersebut mendukung hipotesis informasi dan hipotesis kelangsungan hidup. Namun, penulis mampu membedakan mana yang lebih kuat antara hipotesis-hipotesis tersebut dengan berfokus pada isu-isu dimana lobbyist tidak setuju dengan perlakuan akuntansi yang diusulkan IASB dalam exposure draft dan IASB membuat perubahan antara exposure draft dan IFRS akhir. Dalam subsampel itu, penulis menemukan dukungan untuk hipotesis informasi, tetapi tidak untuk hipotesis kelangsungan hidup. Struktur lobbying di IASB memungkinkan penulis untuk mengatasi tantangan yang signifikan di dalam literatur lobbying. Untuk keperluan penelitiannya, penulis mendefinisikan lobbyist menjadi semua pihak yang menyerahkan comment letter dalam menanggapi exposure draft IASB. Definisi tersebut membatasi penelitian dalam beberapa hal karena tidak memperhitungkan pertimbangan lobbyist secara pribadi.

Semua exposure draft yang diinvestigasi penulis akhirnya menjadi IFRS, menunjukkan bahwa banyak ketidakpastian tentang perjalanan mereka itu diselesaikan sebelum penerbitan exposure draft. Ketika lobbying secara pribadi dan kemungkinan besar pra-exposure draft lobbying muncul untuk mendominasi keputusan mengeluarkan IFRS, comment letter memiliki dampak yang signifikan pada bentuk standar akhir ini. Selain itu, memfokuskan pada pertanyaan yang diajukan oleh IASB memungkinkan adanya suatu peluang bahwa beberapa lobbyist menentang exposure draft pada isu tertentu yang berhasil, sementara yang lain tidak setuju dengan masalah yang sama yang tidak berhasil. Kemampuan untuk membedakan antara lobbyist yang berhasil dan tidak berhasil tersebut memungkinkan penulis untuk lebih tepat dalam membedakan antara dua hipotesis yang telah disebutkan sebelumnya.

II.

Hypothesis Development
Penulis mengembangkan hipotesis berdasarkan teori di dalam bidang ekonomi dan ilmu politik mengenai atribut lobbyist yang memungkinkan untuk dikaitkan dengan keberhasilan lobbying. Teori dalam bidang ekonomi menyatakan bahwa keberhasilan lobbyist merupakan hasil dari kemampuannya mentransfer informasi kepada regulator. Pernyataan tersebut secara umum direpresentasikan oleh model signaling yang bergantung pada anggapan bahwa regulator penuh dengan kebaikan atau lebih realistis. Ketika kemampuan mentransfer informasi kepada regulator merupakan hal yang penting, kredibilitas dari informasi tersebut juga sangat penting. Teori itu menghasilkan hipotesis pertama disebut hipotesis informasi yang terdiri dari H1A yaitu terdapat

pengaruh positif antara kemampuan lobbyist untuk mentransfer informasi kepada IASB terhadap keberhasilan lobbying dan H1B yaitu hubungan antara keberhasilan lobbying dan informasi yang terdapat dalam comment letter akan lemah untuk lobbyist yang kurang kredibilitasnya. Dari sudut pandang ilmu

politik, regulator semata-mata bertindak dalam kepentingannya dan mengambil ukuran yang bermanfaat pada tingkat yang lebih luas. Anggapan tersebut berdasarkan model agen tunggal atau multiple principal dimana utilitas agen/ regulator dan principal/ lobbyist merupakan fungsi dari keputusan agen. Namun, ada anggapan lain bahwa faktor utama dalam keberhasilan lobbying adalah kemampuan berkontribusi pada kelangsungan hidup regulator dalam aspek keuangan dan operasional. Oleh karena itu, muncullan hipotesis kedua yang disebut hipotesis kelangsungan hidup, H2 yaitu terdapat pengaruh positif antara kemampuan lobbyist untuk mempengaruhi kelangsungan hidup IASB terhadap keberhasilan lobbying.

III.

Sample Selection and Description


Penulis menggunakan comment letter yang diterima dari IASB mengenai 5 exposure draft (ED2 hingga ED6). Exposure draft ini diterbitkan oleh IASB antara November 2002 dan January 2004. Tabel 1 mencakup rincian dari comment letter yang diterima untuk setiap exposure draft, serta comment letter yang tersedia di website IASB. IASB mengindikasikan bahwa totalnya terdapat 655 comment letter yang diterima. Jumlah comment letter yang tersedia di situs IASB adalah 630, mengindikasikan bahwa setidaknya 25 comment letter tidak tersedia karena terjadinya suatu kesalahan, masalah teknis, atau kemungkinan besar atas permintaan dari submitter. Jumlah yang terbesar adalah untuk ED 2 sebesar 243 comment letter dan jumlah terkecil pada ED 6 sebesar 55 comment letter. Tabel 2 menyediakan daftar comment letter yang dimasukkan dalam sampel penulis berdasarkan exposure draft dan negara. Lobbyist berasal dari 39 negara yang berbeda. Tiga negara yang paling mewakili adalah Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, yang memiliki hukum yurisdiksi umum. Namun, kodehukum yurisdiksi Swiss, Jepang, Jerman, dan Prancis juga terwakili. Berbagai konstituen juga mengajukan comment letter, dimana perusahaan mengajukan

jumlah comment letter yang terbesar yaitu 187 comment letter atau mewakili sekitar 30% dari sampel.

IV.

Variable Definitions
Pada bagian ini, penulis mendefinisikan proxy yang digunakan untuk menguji hipotesis sdan memperkenalkan variabel kontrol yang dimasukkan dalam analisisnya. Penulis mengkodekan respon lobbyist untuk setiap pertanyaan yang diajukan oleh IASB (Response) sebagai variabel biner, 1 untuk dukungan posisi lobbyist dalam eksposure draft dan 0 untuk lobbyist yang menentang. Kemudian penulis membandingkan IFRS final yang telah dirilis dengan comment letter untuk mengkodekan hasil dari upaya lobbyist. Penulis menggunakan 2 ukuran yang eksplisit dan implisit dari pentransferan informasi antara lobbyist dan IASB. Secara eksplisit, mengukur transmisi informasi yang dikumpulkan dengan beberapa pengukuran kualitas pendapat dalam comment letter. Kemudian dilakukan analisis faktor-faktor pada langkah-langkahnya dan menggunakan faktor yang dihasilkan sebagai proxy untuk kualitas informasi secara keseluruhan dari setiap comment letter. Penulis menggunakan panjangnya letter dalam jumlah halaman sebagai proxy untuk kualitas respon. Hal itu mengukur jumlah data yang disertakan dalam comment letter dan merupakan proxy untuk jumlah informasi dalam comment letter. Selanjutnya, referensi kerangka konseptual, konstitusi IASB, atau IFRS menandakan upaya yang lebih besar oleh responden untuk memahami bagaimana standar yang diusulkan berkaitan dengan standar yang ada dan sesuai dengan metode IASB yang menyatakan untuk mengevaluasi standar. Akhirnya, mengacu pada standar akuntansi nasional menunjukkan bahwa lobbyist yang dikeluarkan merupakan upaya untuk menentukan bagaimana exposure draft dibandingkan dengan alternatif yang ada (tercantum pada tabel 3). Penulis juga menggunakan jumlah anggota dewan dari negara asal lobbyist itu, sebagai proxy kemampuan lobbyist untuk mentransfer informasi kepada IASB.

Seleksi IASB didasarkan pada keahlian teknis dan pengalaman yang relevan. Hipotesis 1B menyatakan bahwa keberhasilan lobbying akan tergantung pada kemampuan lobbyist untuk memberikan informasi yang kredibel. Penulis menguji hipotesis ini dengan berfokus pada 2 kelompok konstituen yaitu konsultan dan asosiasi bisnis, yang cenderung kurang memiliki kredibilitas, ceteris paribus. Penulis mengukur lobbying yang tersembunyi tersebut menggunakan variabel indikator sama dengan 1 jika lobbyist adalah asosiasi bisnis atau konsultan dan 0 untuk yang bukan keduanya. Penulis menguji hipotesis 1B menggunakan interaksi ukuran informasi yang terdapat dalam comment letter. Penulis menggunakan 2 proxy kemampuan lobbyist untuk mempengaruhi kelangsungan hidup IASB yaitu ukuran dari kontribusi keuangan lobbyist kepada dewan pengawasan IASB, IASCF dan ukuran dari pasar modal di negara asal lobbyist itu. Selain itu, penulis juga memasukkan 5 variabel kontrol dalam analisisnya.

V.

Methodology and Descriptive Statistics


Penulis menggunakan model regresi logit untuk menguji hipotesis yang telah dikembangkan. Pengujian utama tersebut memasukkan setiap pertanyaan dari masing-masing comment letter sebagai suatu observasi. Analisis utama penulis memasukkan 4.587 pertanyaan pengamatan lobbyist, termasuk di dalamnya adalah lobbyist yang mendukung dan menentang. Namun, spesifikasi tersebut tidak selalu memberikan sampel terbaik untuk validitas hipotesis informasi dan kelangsungan hidup. Untuk memberikan pengujian yang lebih terfokus pada hipotesis tersebut, penulis mengulangi analisisnya dengan berfokus pada subsampel yang memenuhi 2 kondisi tertentu. Pertama, penulis membatasi sampel untuk isu-isu dimana lobbyist menentang perlakuan akuntansi IASB yang diusulkan dalam exposure draft. Kedua, penulis hanya menyertakan isu-isu dimana perubahan dibuat antara exposure draft dan IFRS akhir yang cocok

dengan preferensi dari beberapa lobbyist yang menentang. Subset ini karena berfokus pada metode lobbying manakah lebih efektif apabila lobbyist menginginkan perubahan dalam metode akuntansi dan beberapa perubahan yang dibuat. Tabel 4 menampilkan ringkasan statistic untuk variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian penulis. 30% dari sampel mendukung exposure draft yang diusulkan. Sekitar 70% dari observasi berasal dari lobbyist di negara-negara yang telah mengadopsi atau mengumumkan rencana untuk mengadopsi IFRS sebelum terbitnya exposure draft. Banyaknya comment letter dari negara-negara itu karena proyek konvergensi yang sedang berlangsung antara IASB dan beberapa penetap standar nasional, khususnya FASB, telah menarik perhatian banyak lobbyist dan banyak comment letter dari negara-negara itu berasal dari perusahaan-perusahaan besar, yang lebih mungkin untuk memerlukan akses ke pasar modal global sehingga mereka mungkin perlu mematuhi IFRS untuk menarik modal asing meskipun kepatuhan tersebut tidak diperlukan oleh regulator lokalnya. Tabel 5 menampilkan korelasi variabel dependen dengan variabel independen. Korelasi yang ada pada tabel tersebut mengindikasikan bahwa seleksi IASB berkaitan dengan pengalaman di dalam pasar modal yang berhasil.

VI.

Results
Hasil analisis penulis ditunjukkan pada tabel 6. Efek terbesar adalah untuk variabel kontrol Response karena IASB mempertahankan posisi semula pada sebagian besar waktu. Oleh karena itu, comment letter mendukung posisi yang jauh lebih mungkin untuk memiliki hasil positif, terlepas dari isi comment letter atau karakteristik lobbyist tersebut. Bukti mengenai hipotesis informasi digabungkan. Bukti pada hasil analisis tersebut mendukung hipotesis informasi, bahwa kemungkinan seorang lobbyist mencapai hasil yang diinginkannya secara positif berkaitan dengan informasi yang ditransfer ke IASB. Kemudian terdapat

hasil yang menunjukkan bahwa lobbyist tidak memiliki akses yang lebih besar untuk anggota dewan dari negara asal mereka atau bahwa mereka tidak mendapatkan keberhasilan lobbying yang lebih besar dari akses ini sebagai akibat dari berbagai negara asal anggota dewan itu datang. Terdapat pula bukti lain yang mendukung hipotesis informasi yaitu nilai informasi tergantung pada kredibilitas lobbyist karena dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara informasi dalam comment letter yang disampaikan lobbyist dan hasilnya yang pada dasarnya diingkari lobbyist Penulis juga menenmukan bukti yang konsisten untuk mendukung hipotesis kelangsungan hidup. Penulis menemukan bahwa tingkat kontribusi keuangan oleh lobbyist kepada IASCF keberhasilan lobbying. Pasar ekuitas global yang terkandung di negara asal lobbyist juga berkaitan dengan peluang keberhasilan lobbying. Penulis juga menemukan bahwa lobbyist dari negaranegara yang telah mengadopsi atau berencana untuk mengadopsi IFRS memiliki peningkatan dalam odd ratio-nya, yang relatif terhadap lobbyist lainnya. Hasil ini secara statistik signifikan yang menunjukkan bahwa proxy ini memberikan ukuran yang valid mengenai lobbying secara pribadi. Namun, ukuran yang lainnya menggenai insentif dari lobbyist untuk melakukan lobbying secara pribadi (jumlah comment letter disampaikan) secara statistik tidak signifikan. Secara keseluruhan, bukti tersebut memberikan dukungan yang kuat pada hipotesis kelangsungan hidup dan dukungan campuran untuk hipotesis informasi. Model ini menjelaskan sejumlah besar variasi dalam variabel dependennya. Lebih lanjut, dalam tabel 6 juga mengindikasikan bahwa nilai informasi bahkan lebih penting ketika lobbyist mencoba untuk mengubah keyakinan dari anggota dewan IASB dan pada dasarnya nilai informasi dihilangkan lobbyist. Sejauh mana lobbyist dapat mempengaruhi kelangsungan hidup IASB tidak cukup untuk mengubah posisi semula IASB. Oleh karena itu, hipotesis informasi muncul untuk mendominasi hipotesis kelangsungan hidup dalam kasus dimana lobbyist sedang berusaha untuk memiliki standar yang direvisi.

Hasil analisis utama menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keberhasilan lobbying dan jumlah anggota dewan dari negara asal lobbyist itu. Hasil ini mungkin menunjukkan bahwa lobbyist tidak lebih mampu mentransfer informasi kepada anggota dewan dari negara asal mereka atau adanya keragaman kemampuan anggota dewan. Untuk membedakan antara peluang alternatif, penulis mengambil keuntungan dari perbedaan pendapat yang diterbitkan dalam Basis for Conclusions dari masing-masing IFRS. Ada kemungkinan bahwa lobbyist lebih mampu berkomunikasi dengan anggota dewan dari negara asal mereka (sesuai dengan hipotesis pertama), tetapi distribusi anggota dewan selama periode sampel penulis juga mengimbangi akses tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa keberhasilan lobbying tidak terkait dengan jumlah anggota dewan dari negara asal lobbyist itu dapat mengubah komposisi perubahan IASB. Temuan itu juga akan memberikan pembenaran untuk keputusan terbaru secara khusus memerlukan keragaman geografis di antara anggota dewan. Secara khusus, untuk setiap pertanyaan anggota dewan, penulis membuat variabel Dissent, yang mengambil nilai 1 jika dissenting opinion anggota dewan menyatakan bahwa perbedaan pendapat mereka terkait dengan isu-isu yang dibahas dalam pertanyaan itu. Hasil analisis variabel itu (untabulated) menunjukkan bahwa lobbyist cenderung memiliki kemampuan lebih besar untuk mentransfer informasi kepada anggota dewan dari negara asal mereka.

VII.

Robustness Test
Uji robustness dilakukan penulis untuk memverifikasi dan menginvestigasi hasil pengujian sebelumnya secara lebih detail. Pertama, penulis menggunakan ringkasan ukuran dari hasil lobbying yang berasal dari comment letter sebagai metode alternatif untuk mengendalikan adanya korelasi yang potensial terhadap observasi dari comment letter yang sama. Kedua, penulis memverifikasi robustness dari ukuran kualitas informasi pada sebuah ukuran

alternatif. Pada akhirnya, analisis utamanya meliputi langkah-langkah beberapa negara tertentu yang dikaitkan dengan keberhasilan lobbying. An Alternative Measure of Lobbying Success Untuk mengurangi potensi kekhawatiran mengenai ketergantungan crosssectional antara observasi dalam setiap comment letter, penulis kemabali melakukan analasis dengan menggunakan ringkasan ukuran kinerja. Untuk setiap comment letter, penulis menghitung persentase dari pertanyaan yang dijawab oleh setiap lobbyist yang mencapai hasil yang diinginkan dan menggunakan variabel tersebut. Tabel 7 menunjukkan hasil analisis tersebut. Hipotesis mengenai hubungan positif antara informasi yang terdapat dalam comment letter dan keberhasilan lobbying tidak kuat untuk spesifikasi ini. Namun, penulis tidak menemukan hasil yang tidak sesuai dengan temuan sebelumnya, dan kemungkinan bahwa temuan yang lemah dalam tabel tersebut berhubungan dengan ukuran sampel yang berkurang. Hipotesis bahwa keberhasilan lobbyist berkaitan dengan kredibilitas informasi yang diberikan kepada IASB adalah kuat untuk spesifikasi ini. Selain itu, hasil yang berkaitan dengan hipotesis kelangsungan hidup juga kuat untuk pengujian ini. Peneliti menemukan bahwa persentase dari pertanyaan dimana lobbyist mencapai hasil yang diinginkan adalah positif dan signifikan, terkait dengan kontribusi keuangan lobbyist untuk IASCF. An Alternative Measure of Information Quality Sesuai dengan hipotesis informasi penulis bahwa ukuran kualitas informasi berpengaruh positif terhadap hasil dari lobbyist. Penulis mengukur variabel tersebut dengan membandingkan pendapat yang dikutip dari Basis for Conclusions dengan pendapat yang dibuat oleh lobbyist dalam comment letter. Hasil analisisnya tercantum di dalam tabel 8. Hasilnya berkaitan dengan hipotesis informasi yang kuat untuk alternatif ini. Pendapat berkualitas tinggi, diukur

10

dengan kutipan oleh IASB, yang positif dan sangat terkait dengan keberhasilan lobbying. Adannya perubahan kemungkinan menunjukkan bahwa jika lobbyist menyatakan pendapar yang kemudian dikutip di Basis For Conclusions dari IFRS kemungkinan meningkatkan keberhasilan lobbying. Namun, interaksi variabel ini dengan variabel indikator HiddenLobbier tidak signifikan. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa IASB mempertimbangkan penilaian terhadap kredibilitas pendapat lobbyist dalam keputusannya sebagai referensi pendapat. Koefisien pada Contributor and MarketDev juga tetap positif dan signifikan dalam analisis ini, memberikan dukungan lebih lanjut dari ketahanan hipotesis kelangsungan hidup. Analysis Including International and Multinational Organizations Analisis utama penulis membutuhkan ukuran negara tertentu. Persyaratan ini menghilangkan semua pengamatan dari entitas multinasional dan global. Namun, entitas tersebut merupakan lobbyist yang aktif dalam IASB. Penulis mengulangi analisisnya dengan hanya memasukkan variabel yang tersedia untuk entitas tersebut. Hasil (untabulated) untuk sampel yang diperluas ini memberikan dukungan lebih lanjut untuk hipotesis informasi. Penulis menemukan bukti bahwa peningkatan standar deviasi berkaitkan dengan peningkatan kemungkinan lobbyist mencapai hasil yang diinginkan. Selanjutnya, nilai dari informasi ini secara substansial berkurang untuk lobbying oleh asosiasi bisnis dan konsultan. Penulis juga menemukan bukti untuk mendukung hipotesis kelangsungan hidup dengan menggunakan data ini. Koefisien Contributor secara signifikan positif dan perubahan kemungkinan menunjukkan bahwa peningkatan dari satu tingkat kontribusi ke depan berkaitkan dengan peningkatan dalam peluang keberhasilan lobbbying.

11

VIII.

Conclusion
Dalam penelitiannya, penulis menyelidiki proses penetapan standar akuntansi internasional. Penulis mengembangkan hipotesis mengenai hubungan antara karakteristik lobbyist dan hasil lobbying. Penulis berpendapat bahwa lobbyist yang lebih mampu memberikan informasi kepada IASB dan lobbyist yang memiliki dampak yang lebih besar pada kelangsungan hidup IASB lebih mungkin untuk memiliki keberhasilan lobbying. Penulis menemukan bukti bahwa hubungan antara posisi masing-masing lobbyist yang diinginkan dan atau hasilnya secara positif berkaitan dengan kualitas informasi yang disertakan dalam comment letter. Bagaimanapun, hal itu bergantung pada kredibilitas lobbyist tersebut. Penulis menemukan bukti bahwa manfaat lobbying pada dasarnya dihilangkan oleh asosiasi bisnis dan konsultan. Sebaliknya, penulis tidak menemukan bukti bahwa keberhasilan lobbying dikaitkan dengan jumlah anggota dewan dari negara asal lobbyist itu. Namun, pengujian tambahan menunjukkan bahwa anggota dewan lebih cenderung menyampaikan dissenting vote ketika standar akhir bertentangan dengan preferensi lobbyist dari negara asal mereka. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi lobbyist berkaitan dengan tindakan anggota dewan dari negara asal mereka, tetapi ukuran dan atau komposisi IASB cukup untuk mengurangi dampak dari hubungan tersebut. Penulis juga menemukan bahwa keberhasilan lobbying secara positif berhubungan dengan kehendaknya berkontribusi kepada IASCF dan dengan ukuran pasar modal di negara asal lobbyist. Peneliti menafsirkan hubungan ini untuk menunjukkan bahwa keberhasilan lobbying yang dikaitkan dengan kemampuan lobbyist dalam mempengaruhi kelangsungan hidup IASB. Namun, ketika penulis hanya berfokus pada situasi dimana posisi lobbyist itu, sebagaimana yang dinyatakan di dalam comment letternya, berbeda dari exposure draft IASB, penulis tidak menemukan dukungan untuk hipotesis kelangsungan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis informasi mendominasi hipotesis

12

kelangsungan hidup ketika lobbying yang paling penting (yaitu, ketika pelobi tidak setuju dengan posisi penetap standar yang asli). Penetapan standar akuntansi merupakan arena politik dan sering diperdebatkan dan ada berbagai metode yang dapat digunakan entitas untuk melakukan lobbying terhadap standar yang mereka sukai. Hasil dari penelitian penulis memberikan kerangka awal yang dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai proses penetapan standar akuntansi. Namun, penelitian penulis ini tidak membahas seluruh metode yang mungkin dapat digunakan untuk melakukan lobbying.

13