Anda di halaman 1dari 32

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI RS PENDIDIKAN: RSUD BUDHI ASIH STATUS KEPANITERAAN KLINIK

Nama mahasiswa: Nur Atiqah Binti Mohamed Nasir Dokter Pembimbing: Prof. Muzief Munir,Sp A IDENTITAS A. Pasien Nama Agama Alamat Rumah : An. M : Islam : Cipinang,Jakarta Timur NIM:030.07.321

Tempat dan Tanggal Lahir: Puskesmas Jatinegara,12 Juni 2011 Umur: B. Orang Tua Pasien Ayah Nama Agama Alamat Pekerjaan Penghasilan : Abdul Rahman : Islam : Cipinang,Jak. Timur : Sekuriti : Rp 2,000,000 Ibu Eka Winarsih Islam Cipinang, Jak. Timur Ibu Rumah Tangga Tidak ada : 8 bulan

Hubungan dengan orang tua: Anak kandung Suku bangsa: Jawa

ANAMNESIS Anamnesis dilakukan pada tanggal 31 Januari 2012 pukul 15.00 WIB secara alloanamnesis dengan ibu pasien. Keluhan Utama: BAB mencret sejak 4 hari SMRS Keluhan Tambahan: Muntah sejak 4 hari SMRS RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT Pasien anak berusia 8 bulan datang ke UGD RSUD Budhi Asih dibawa ibunya dengan keluhan BAB mencret sejak 4 hari SMRS. Menurut ibu pasien,pasien mencret sebanyak 5 kali sehari dengan jumlah yang banyak dan berkonsistensi cair sehingga ibu pasien harus mengganti pampers sebanyak 5 kali sehari. BAB berupa air dan mengandung ampas bewarna kuning dan berbau busuk. Kali terakhir pasien BAB mencret sekitar 1 jam SMRS. Ibu pasien menyatakan keluhan ini merupakan yang pertama kali sejak pasien lahir. Selain itu,pasien juga mengalami muntah-muntah sejak 4 hari SMRS. Pasien muntah 10 kali dalam sehari dengan jumlah yang berbeda-beda tergantung cairan yang diminum pasien. Sekiranya pasien meminum ASI, muntah pasien didapatkan kira-kira 1 aqua gelas namun jika aqua dan makanan lain, muntah pasien didapatkan kira-kira aqua gelas. Muntah pasien berisi makanan dan cairan yang dikonsumsi pasien tanpa disertai darah. 3 hari SMRS ibu mengeluh pasien mengalami panas tinggi dan terus-menerus namun suhunya tidak diukur oleh ibu pasien. Panas naik sedikit demi sedikit tanpa disertai menggigil. Ibu pasien membawa pasien ke puskesmas dan diberikan obat penurun panas dan antibiotik. Ibu mengaku obat diberikan sesuai aturan, namun keluan BAB mencret pasien masih tetap berlanjut walaupun demam sudah tidak ada. Sejak pasien sakit, pasien semakin rewel dan sering menangis. Pasien juga sering kehausan dan semakin kerap minum ASI dibandingkan dengan keadaan sebelum sakit. Sepanjang periode pasien sakit pasien telah mengalami penurunan berat badan sebanyak 500 g dari 8.5kg sebelum sakit menjadi 8 kg saat sakit. Ibu pasien juga mengaku pasien mempunyai tabiat mengambil barang,mainan atau makanan yang berada dilantai dan dimasukkan kedalam mulut. BAK pasien

normal dan masih seperti sebelum pasien sakit yaitu 5 kali dalam sehari. Ibu pasien menyangkal adanya riwayat batuk, pilek dan kembung perut.Ibu pasien mengaku adanya anak seusia pasien di lingkungan pasien yang menderita infeksi gastrointestinal. Ibu pasien menyangkal adanya riwayat jajan di luar. RIWAYAT KEHAMILAN/KELAHIRAN KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Selama kehamilan, ibu pasien tidak menderita penyakit,tidak merokok dan tidak

menkonsumsi obat-obatan. Perawatan Antenatal Rutin periksa ke dokter, vaksin TT (+) KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong Persalinan Cara persalinan Puskesmas Jatinegara Bidan Spontan Penyulit Kelainan (-) Tindakan (-) Masa gestasi Keadaan Bayi Lebih bulan Berat lahir: 3.6 kg Panjang : 52cm Lingkar kepala:Ibu kurang ingat Pucat(-) Biru (-) Kuning (-) Kejang (-) Nilai apgar :9/10 Kelainan bawaan: -

RIWAYAT PERKEMBANGAN Pertumbuhan gigi: Psikomotor Tengkurap : 3 bulan Duduk Berdiri : 4 bulan : 6 bulan Berjalan : Bicara :-

Membaca dan menulis : -

Perkembangan pubertas Rambut pubis: Payudara Menarche ::-

Gangguan perkembangan mental/emosi ( -) Kesimpulan Riwayat Perkembangan Perkembangan baik (Perkembangan sesuai usia) RIWAYAT MAKANAN Umur (bulan) 0-2 ASI/PASI + Buah/ Biskuit Bubur Susu + (1bulan) 24 46 68 10 - 12 Kesulitan makan: Tidak ada + + + + + + + + + + Nasi Tim

Kesimpulan Riwayat Makanan: Pasien mendapatkan ASI sesuai dengan usianya namun pemberian makanan tambahan bubur susu terlalu awal buat umur pasien ini. RIWAYAT IMUNISASI VAKSIN BCG DPT POLIO CAMPAK HEPATITIS MMR TPA Kesimpualan Riwayat Immuniasi Immunisasi dasar pasien tepat waktu namun masih belum lengkap karena masih belum mendapatkan immunisasi campak. RIWAYAT KELUARGA a.Corak Reproduksi No Tgl. lahir Jenis Kelamin 1 2 18/07/2009 12/06/2011 Perempuan Laki-laki + + Hidup Lahir mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sehat Pasien DASAR (UMUR) 0 bulan 2 bulan 2 bulan 0 bulan X 4 bulan 3 bulan X 2 bulan X 6 bulan 4 bulan X 4 bulan Ulangan (Umur)

b.Riwayat Pernikahan Ayah Nama Perkawinan ke Umur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Keadaan Kesehatan Kosanguinitas Penyakit Kesimpulan riwayat keluarga: Baik c.Riwayat Keluarga orang tua pasien: Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan seperti pasien. Tidak ada riwayat asthma,alerg,kencing manis dan hipertensi. d.Riwayat anggota keluarga lain yang serumah Tidak ada anggota seruma dengan keluhan seperti pasien. Tidak ada riwayat asthma,alergi,kencing manis dan hipertensi. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Perumahan : Menyewa Keadaan rumah: Rumah 2 lantai dengan 4 kamar tidur dan 2 kamar mandi,jendela terletak di depan dan disamping rumah dibuka setiap pagi dan sore,sinar matahari dapat masuk, dapur terdapat didalam rumah. Sumber air dari jet pump untuk mandi dan sumber air minum aqua. Daerah/lingkungan: Jarak antara rumah satu dengan rumah lain berdekatan, aliran got kurang lancar, sampah dibuang tiap ari dan diambil setiap hari. Abdul Rahman Pertama 25 tahun SMA Islam Jawa Sehat Ibu Eka Winarsih Pertama 24 tahun SMA Islam Jawa Sehat -

Kesimpulan Keadaan Lingkungan: Lingkungan rumah kurang sehat RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DI DERITA Penyakit Alergi Cacingan Demam berdarah Demam tifoid Otitis Parotis Kejang Morbili Operasi Radang Paru TBC Lain-lain Umur Penyakit Difteria Diare Kecelakaan Umur 6 bulan Penyakit P.jantung P.ginjal P.darah Umur -

Kesimpulan Penyakit Dahulu: PEMERIKSAAN FISIK (tanggal: 31 Januari 2012 Pukul: 15:00) Keadaan umum: Tampak sakit sedang Kesadaran: Compos mentis Data antropometri: BB: 8 kg Tinggi Badan: 70 cm Lingkar lengan atas : 14 cm Status gizi: BB/U = 8/9 X 100% = 88.9 % - STATUS GIZI BAIK BB/TB= 8/9 X 100% = 88.9 % STATUS GIZI BAIK Lingkar kepala: 44 cm Lingkar dada: 46 cm

TB/U=70/70 X 100% =100% Tinggi normal Tanda vital Frekuensi Nadi : 144x/menit Frekuansi Napas: 52x/menit Suhu Tubuh:36.9

KEPALA Bentuk kepala Rambut Wajah Mata : Normosephali,ubun-ubun cekung (+) : Hitam, distribusi merata,cukup lebat dan tidak mudah dicabut : Simetris, tidak ditemukan benjolan, tidak ditemukan hiperemis. : Oedem palpebra -/-,mata cekung +/+ Alis mata hitam dan tersebar merata Palpebra tidak ditemukan ektropion dan entropion Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/Tidak ditemukan strabismus Tidak ditemukan sekret pada mata Pupil isokor 3 mm, bulat, reflek cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+ Tidak ada kekeruhan pada lensa mata Tekanan bola mata normal Telinga : Pada telinga luar tidak ditemukan oedem, hiperemis, sikatrik Tidak ada nyeri tekan pada telinga luar Tidak ditemukan nyeri tarik pada telinga Tidak ditemukan nyeri tekan pada mastoid Tidak ditemukan nyeri tekan pada trgus Membran timpani sulit dinilai Reflek cahaya telinga sulit dinilai Serumen +/+ minimal Hidung : Bentuk simetris Tidak ditemukan deviasi septum Pernapasan cuping hidung -/Konkha nasalis tampak tidak hiperemis Tidak ditemukan nyeri tekan sinus frontalis 8

Tidak ditemukan nyeri tekan sinus maksilaris Mulut : Bibir kering,tidak sianosis. Gusi baik dan tidak berdarah. Tidak didapatkan pertumbuhan gigi.

Lidah

: Normoglosia,papil normal,tidak didapatkan tremor dan tidak didapatkan coated tounge

Tonsil

: Tidak dapat dinilai

Tenggorokan LEHER Trakea Kaku kuduk Tiroid KGB

: Tidak dapat dinilai

: Trakea terletak ditengah : Tidak terdapat kaku kuduk : Tiroid teraba normal tanpa pembesaran, tidak teraba benjolan : Tidak teraba pembesaran pada KGB submental, submandibular, preaurikular, retroaurikular, servical, dan supraklavikular.

THORAKS Inspeksi : Bentuk thorax simetris pada saat statis dan dinamis, Tidak ditemukan eflouresensi atau kelain kulit Retraksi sela iga (-), sela iga melebar (-) Pernapasan abdominal thorakal dan tidak ada pernapasan yang tertinggal, ictus cordis tidak tampak. Palpasi : gerakan napas simetris pada kedua hemitoraks, fremitus kanan dan kiri sama kuat, ictus cordis tidak teraba, thrill (-) Perkusi Auskultasi : Paru Perkusi sonor pada kedua hemithoraks : Suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/BJ I, BJ II regular, tidak terdengar murmur, tidak terdengar gallop Bunyi jantung tambahan (-)

ABDOMEN Inspeksi : Bentuk perut buncit, simetris 9

Tidak terdapat eflouresensi Auskultasi : BU + meningkat 6x/menit Tidak terdengar artrial bruit Tidak terdengar venous hum Perkusi Palpasi : Timpani : Hangat, supel, nyeri tekan (-) di daerah epigastrium tidak ada hepatosplenomegali. GENITALIA : Tidak ada kelainan pada anus dan sekitarnya Jenis kelamin laki-laki, tidak tampak tanda radang, belum ada pertumbuhan rambut pubis EKSTREMITAS ATAS Simetris, warna kulit sawo matang, hangat Tidak terdapat atrofi, eflorosensi (-), sianosis (-) Gerakan involunter (-), petekie (-)

EKSTREMITAS BAWAH Simetris, warna kulit sawo matang, hangat Tidak terdapat atrofi, eflorosensi (-), sianosis (-) Gerakan involunter (-), petekie (-)

TULANG BELAKANG:Kelainan tulang belakang (-) : Rambut (-) SUSUNAN SARAF: PemeriksaanNeurologis Tanda rangsang meningeal:Kaku kuduk (-),Brudzinsky I(-),Kernig (-) Refleks fisioligis: Tidak dapat dilakukan Refleks patologis: Tidak dapat dilakukan KULIT: Warna kulit putih,bersih,tidak ada ikterik,petekie(-) pada keempat ekstrimitas.

10

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan Darah (31 Januari 2012) Jenis Pemeriksaan Hematologi Rutin 2 Jum.Lekosit Hemoglobin Jum. Hematokrit Jum. Trombosit Glukosa Sewaktu Elektrolit Natrium Kalium Klorida 141 4 113 mEg/l mEg/l mEg/l 135-153 3.5-5.3 98-109 85 mg/dl <180 18.1 13.2 39 403 ribu/ul g/dl % ribu/ul 5-10 13-16 40-48 150-400 Hasil Satuan Nilai Normal

Pemeriksaan Tinja(31 Januari 2012) Jenis Pemeriksaan Makroskopis Warna Konsistensi Lendir Darah Mikroskopis Leukosit Eritrosit Negatif Negatif Kuning Lunak Negatif Negatif Hasil Satuan Nilai Normal

11

Amoeba Coli Amoeba Histolytica Telur cacing Pencernaan Lemak Amilum Sel Ragi Serat

Negatif Negatif Negatif

Negatif Negatif Negatif Negatif

RESUME Pasien anak berusia 8 bulan datang dengan keluhan BAB mencret sejak 4 hari SMRS. Pasien mencret sebanyak 5kali,jumlah tinja banyak,konsistensi cair,mengandung ampas dan berbau busuk. Pasien juga muntah-muntah 4 hari SMRS. Muntah 10 kali dalam sehari dengan jumlah kira-kira -1 aqua gelas tergantung cairan yang diminum. Muntah berisi makanan dan cairan yang dikonsumsi tanpa disertai darah. Pasien semakin rewel dan sering menangis. Pasien juga sering kehausan dan kerapminum. Pasien mengalami penurunan BB sebanyak 500 g. Pasien mempunyai tabiat memasukkan makanan,barang dan mainan ke dalam mulut. Ada anak seusia pasien yang mempunyai keluhan yang sama di lingkungan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ubun-ubun cekung,mata cekung,bibir kering dan bising usus positif meningkat. Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan jumlah lekosit 18 ribu/ul,jumlah trombosit 403 ribu/ul dan klorida 113 mEg/l.

DIAGNOSIS BANDING Gasrtroenteritis akut dengan dehidrasi sedang DIAGNOSIS KERJA Gastroenteritis Akut dengan dehidrasi sedang

12

ANJURAN PEMERIKSAAN Biakan kuman Tes Resistensi Antibiotik PENATALAKSANAAN IVFD RL 4cc/kgBB/jam Inj. Ampi 4x200mg Dialac 3x1/2 sct PCT 60mg 4x1 (bila panas) Vometa 3x8 tts PROGNOSIS Ad Vitam: Dubia Ad Bonam Ad Fungsionam: Dubia Ad Bonam Ad Sanationam: Dubia Ad Bonam

FOLLOW UP 01 Februari 2012 BAB mencret (+) 3 kali. Isinya air,ampas -,jumlah banyak ( 6 kali ganti pampers) Muntah + 3 kali S kira-kira aqua gelas,warna putih ASI,isinya ASI, darah (-) Panas(-) BAK normal KU/Kes : TSS/CM N : 144x/menit RR : 52x/menit O S : 36,9 C Kepala : normocepali,ubunubun cekung Mata : CA-/-, SI 02 Februari 2012 BAB mencret (+) 5 kali. Isinya air > ampas ,ampas bewarna kuning Muntah + 3 kali kurang aqua gelas,isinya air darah (-) Panas(-) BAK normal 03 Februari 2012 BAB mencret (+) 3 kali. Isinya air > ampas ,ampas nya bewarna kuning. 3 kali ganti pampers Muntah(-) Panas(-) BAK normal 04 Februari 2012 BAB mencret (+) 2 kali. Isinya air,ampas -,3 kali ganti pampers Muntah (-) Panas(-) BAK normal

KU/Kes : TSR/CM N : 144x/mnt RR : 48x/mnt S : 36 .7C Kepala : normocepali,ubunubun cekung(-) Mata : CA-/-, SI -

KU/Kes : TSR/CM N : 128x/mnt RR : 48x/mnt S : 35,8 C Kepala : normocepali,ubunubun cekung (-) Mata : CA-/-, SI -

KU/Kes : TSR/CM N : 120x/mnt RR : 40x/mnt S : 36,0 C Kepala : normocepali,ubunubun cekung (-) Mata : CA-/-, SI 13

/-,mata cekung Mulut : Bibir kering Leher : KGB ttm. Paru : SN vesikuler Rh -/-, Wh -/Jantung : S 1,2 reg. M(-), G(-) Abdomen :buncit, supel, BU (+) meningkat 6x/mnt, Ekstremitas : akral hangat, petechie () Maurice King Score Score = 6 GEA dengan A deidrasi sedang IVFD RL 4cc/kgBB/jam Inj.Ampi 4x200mg Dialac 3x1/2 sct P

/-,mata cekung (-) Mulut : Bibir kering (-) Leher : KGB ttm. Paru : SN vesikuler, Rh -/-, Wh -/Jantung : S 1,2 reg. M(-), G(-) Abdomen :buncit, supel, BU (+) meningkat 7x/mnt, Ekstremitas : akral hangat, petechie () Maurice King Score Score=2 GEA dengan dehidrasi ringan IVFD RL 4cc/kgBB/jam Inj.Ampi 4x200mg Dialac 3x1/2 sct

/-,mata cekung (-) Mulut : Bibir kering (-) Leher : KGB ttm. Paru : SN vesikuler, Rh -/-, Wh -/Jantung : S 1,2 reg. M(-), G(-) Abdomen :buncit, supel, BU (+) , Ekstremitas : akral hangat, petechie ()

/-,mata cekung (-) Mulut : Bibir kering (-) Leher : KGB ttm. Paru : SN vesikuler, Rh -/-, Wh -/Jantung : S 1,2 reg. M(-), G(-) Abdomen :buncit, supel, BU (+) , Ekstremitas : akral hangat, petechie ()

Maurice King Score Score=1 GEA dengan dehidrasi ringan IVFD RL 4cc/kgBB/jam Inj. 4x200mg

Maurice King Score Score=1 GEA dengan dehidrasi ringan IVFD RL 4cc/kgBB/jam Ampi

Ampi Inj. 4x200mg

Dialac 3x1/2 sct

Dialac 3x1/2 sct

PCT 60mg 4x1 PCT 60mg 4x1 PCT 60mg 4x1 PCT 60mg 4x1 bks(bila panas) bks(bila panas) bks(bila panas) bks (bila panas) Vometa 3x8 tts Vometa 3x8 tts Candistin 4 x 0.5 Candistin 4 x 0.5 mg mg

Candistin 4 x 0.5 Candistin 4 x 0.5 mg mg

14

TINJAUAN PUSTAKA

DIARE

PENDAHULUAN
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di negara yang sedang berkembang. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah Tangga diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian bayi di Indonesia . Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang terjadi karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili dapat menimbulkan keadaan maldiges dan malabsorpsi . Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) .

I.

DEFINISI
Diare adalah buang air besar dengan peningkatan frekuensi tiga kali atau lebih dalam 24 jam

dengan konsistensi lembek atau bahkan dapat berupa air saja, dengan atau tanpa darah dan lendir,dan dapat disertai gejala lain seperti mual, muntah, demam, atau nyeri perut. Diare dibagi menjadi 3 jenis yaitu: 1. Diare akut Diare yang bersifat mendadak dan berlangsung kurang dari 2 minggu 2. Diare persisten Diare dengan atau tanpa disertai darah yang akut dan berlangsung selama 14 hari 3. Diare kronis Diare dengan atau tanpa disertai perdarahan dan berlangsung lebih dari 14 hari

15

II.

EPIDEMIOLOGI

Setiap tahun diperkirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kasus kematian sebagai akibatnya. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang berkisar 3,5 7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 5 episode per anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2002 menunjukkan bahwa angka kesakitan diare berdasarkan propinsi terjadi penurunan dari tahun 1999-2001. Pada tahun 1999 angka kesakitan diare sebesar 25,63 per 1000 penduduk menurun menjadi 22,69 per 1000 penduduk pada tahun 2000 dan 12,00 per 1000 penduduk pada tahun 2001.6 Sedangkan berdasarkan profil kesehatan Indonesia 2003, penyakit diare menempati urutan kelima dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dan menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di Rumah Sakit. Berdasarkan data tahun 2003 terlihat frekuensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit diare sebanyak 92 kasus dengan 3865 orang penderita, 113 orang meninggal, dan Case Fatality Rate(CFR) 2,92%.7 Kasus diare akut yang ditangani di praktek sehari-hari berkisar 20% dari total kunjungan untuk usia di bawah 2 tahun dan 10% untuk usia di bawah 3 tahun .

III.

ETIOLOGI
Selama 2 dekade, penelitian menunjukkan karakteristik dari diare akut. Pada awal 1970 agen

penyebab dapat diidentifikasi dalam 15-20% episode diare. Sekarang, dengan semakin berkembangnya teknik diagnostik, dapat ditemukan agen penyebab dalam 60-80%.3 Sebagian besar penyebab infeksi diare adalah Rotavirus, disamping virus lainnya seperti Norwalk Like Virus, Enteric Adenovirus, Astovirus, dan Calicivirus. Beberapa patogen bakteri seperti Salmonella, Shigella, Yersinia, Campylobacter, dan beberapa strain khusus E.Coli. Beberapa parasit yang sering menyebabkan diare meliputi Giardia, Crytosporidium, dan Entamoeba Histolytica. Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu : 1. Faktor infeksi a) Infeksi enteral yaitu : infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama pada anak. Infeksi enteral meliputi : Infeksi bakteri : Vibrio, E coli, Salmonela, Shigella, Campylobacter, Yersinia, aeromonas dan sebagainya. Infeksi Virus : Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, astovirus dan lain-lain. Infestasi parasit : Cacing (ascaris, Trichiuris, Oxyuris), Protozoa ( E. Histolytica, Giardia lambia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida albicans). b) Infeksi paraenteral yaitu : infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti Otitis media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopnemonie, Enchepalitis dan sebagainya.

16

2. Faktor Malabsopsi a) Malabsobsi karbohidrat b) Malabsobsi lemak c) Malabsobsi protein 3. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan. 4. Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas, walaupun jarang menimbulkan diare terutama pada anak besar.

IV.

PATOFISIOLOGI

Ada beberapa mekanisme patofisiologis yang terjadi, sesuai dengan penyebab diare. Virus dapat secara langsung merusak vili usus halus sehingga mengurangi luas permukaan usus halus dan mempengaruhi mekanisme enzimatik yang mengakibatkan terhambatnya perkembangan normal vili enterocytes dari usus kecil dan perubahan dalam struktur dan fungsi epitel. Perubahan ini menyebabkan malabsorbsi dan motilitas abnormal dari usus selama infeksi rotavirus . Bakteri mengakibatkan diare melalui beberapa mekanisme yang berbeda. Bakteri non invasive (vibrio cholera, E.coli patogen) masuk dan dapat melekat pada usus, berkembang baik disitu, dan kemudian akan mengeluarkan enzim mucinase (mencairkan lapisan lendir), kemudian bakteri akan masuk ke membran, dan mengeluarkan sub unit A dan B, lalu mengeluarkan cAMP yang akan merangsang sekresi cairan usus dan menghambat absorpsi tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel. Tekanan usus akan meningkat, dinding usus teregang, kemudian terjadilah diare . Bakteri invasive (salmonella spp, shigella sp, E.coli invasive, campylobacter) mengakibatkan ulserasi mukosa dan pembentukan abses yang diikuti oleh respon inflamasi. Toksin bakteri dapat mempengaruhi proses selular baik di dalam usus maupun di dalam usus. Enterotoksin Escherichia coli yang tahan panas akan mengaktifkan adenilat siklase, sedangkan toksin yang tidak tahan panas mengaktifkan guanilat siklase. E.coli enterohemoragik dan Shigella menghasilkan verotoksin yang menyebabkan kelainan sistemik seperti kejang dan sindrom hemolitik uremik .

V. GEJALA KLINIS
Gejala klinis yang timbul pada anak yang diare adalah cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada nafsu makan. Tinja mungkin mengandung darah dan/atau lendir. Meningkatnya asam laktat akibat fermentasi laktosa dalam usus besar menyebabkan tinja menjadi asam yang dapat mengiritasi anus dan sekitarnya sehingga lecet. Muntah dapat terjadi sebelum diare.

17

Kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi berat, berat badan turun, ubunubun besar cekung pada bayi, tonus dan turgot kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir tampak kering. Kehilangan elektrolit dan cairan yang berlebihan dapat menimbulkan gejala klinis sesak, kejang, dan kesadaran menurun.

VI. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosis (kausal) yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula. Pemeriksaan yang perlu dikerjakan : 1. Pemeriksaam tinja a) Makroskopis dan mikroskopis. b) Biakan kuman untuk mencari kumam penyebab. c) Tes resistensi terhadap berbagai antibiotika. d) pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat intoleransi glukosa. 2. Pemeriksaan darah a) Darah lengkap. b) pH, cadangan alkali dan elektrolit untuk menentukan gangguan keseimbangan asam basa. c) Kadar ureum untuk mengetahui adanya gangguan faal ginjal. 3. Pemeriksaan Elektrolit Terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita yang disertai kejang). 4. Pemeriksaan intubasi duodenal Untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

VII. KOMPLIKASI
Sebagai akibat diare akut maupun kronik akan terjadi : 1. Kehilangan air (dehidrasi) Dehidrasi terjadi kehilangan air (output) lebih banyak daripada pemasukan (input). 2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis) Terjadi karena :

18

a) Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja b) Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh. c) Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoreksia jaringan. d) Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria). e) Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan, pernafasan bersifat cepat, teratur dan dalam (pernafasan Kuszmaull) 3. Hipoglikemia Hal ini terjadi karena : a) Penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu. b) Adanya gangguan absopsi glukosa (walaupun jarang). Gejala hipoglikemi akan muncul jika kada glukosa darah menurun sampai 40 mg % pada bayi dan 50 mg % pada anak-anak. Gejala hipoglikemi tersebut dapat berupa : lemas, apatis, peka rangsang, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma. 4. Gangguan Gizi Hal ini disebabkan : a) Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare dan / muntahnya akan bertambah hebat. b) Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengenceran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama. c) Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsopsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. 5. Gangguan sirkulasi Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa renjatan (shock) hipovolemik.Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan pendarahan dalam otak, kesadaran menurun (soporokomatosa) dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal .

19

VIII. PENATALAKSANAAN
Terdapat lima lintas tatalaksana, yaitu : 1) Rehidrasi 2) Dukungan nutrisi 3) Suplementasi Zinc 4) Antibiotik selektif 5) Edukasi orang tua

1. REHIDRASI (Rehidrasi dibahas pada Terapi Dehidrasi halaman 28 32) 2. DUKUNGAN NUTRISI Makanan tetap diteruskan sesuai usia anak dengan menu yang sama pada aktu anak sehat sebagai pengganti nutrisi yang hilang, serta mencegah tidak terjadi gizi buruk. ASI tetap diberikan pada diare cair akut (maupun pada diare akut berdarah) dan diberikan dengan frekuensi lebih sering dari biasanya. 3. SUPLEMENTASI ZINC Pemakaian zinc sebagai obat pada diare didasarkan pada alasa ilmiah bahwa zinc mempunyai efek pada fungsi kekebalan saluran cerna dan berpengaruh pada fungsi dan struktur saluran cerna serta mempercepat proses penyembuhan epiel selama diare. Kekurangan zinc ternyata sudah pandemik pada anak anak di negara sedang berkembang. Zinc telah diketahui berperan dalam metallo-enzymes, polyribosomes, membran sel, fungsi sel, dimana hal ini akan memacu pertumbuhan sel dan meningkatkan fungsi sel dalam sistem kekebalan. Perlu diketahui juga bahwa selama diare berlangsung zinc hilang bersama diare sehingga hal ini bisa memacu kekurangan zinc ditubuh. Bukti bukti yang telah disebar luaskan dari hasil penelitian bahwa zinc bisa mengurangi lama diare sampai 20% dan juga bisa mengurangai angka kekambuhan sampai 20%. Bukti lain mengatakan dengan pemakaian zinc bisa mengurangi jumlah tinja sampai 1859%. Dari bukti-bukti juga dikatakan tidak ada efek samping pada penggunaan zinc, jika ada ditemukan hanya gejala muntah. Pada penelitian selanjutkan didapatkan bahwa zinc bisa digunakan sebagai obat pada diare akut, diare persisten, sebagai pencegahan diare akut dan persisten serta diare berdarah. Dalam penelitian biaya untuk diare dengan menggunakan zinc dikatakan zinc bisa menekan

20

biaya untuk diare. Pemberian zinc untuk pengobatan diare bisa menekan penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Efek zinc antara lain sebagai berikut : o Zinc merupakan kofaktor enzim superoxide dismutase (SOD). SOD akan merubah anion superoksida (merupakan radikal bebas hasil sampingan dari proses sintesis ATP yang sangat kuat dan dapat merusak semua struktur dalam sel) menjadi H2O2, yang selanjutnya diubah menjadi H2O dan O2 oleh enzim katalase. Jadi SOD sangat berperan dalam menjaga integritas epitel usus. o o Zinc berperan sebagai anti-oksidan, berkompetisi dengan tembaga (Cu) dan besi (Fe) yang dapat menimbulkan radikal bebas. Zinc menghambat sintesis Nitric Oxide (NO). Dengan pemberian zinc, diharapkan NO tidak disintesis secara berlebihan sehingga tidak terjadi kerusaan jaringan dan tidak terjadi hipersekresi. o o Zinc berperan dalam penguatan sistem imun. Zinc berperan dalam menjaga keutuhan epitel usus, berperan sebagai kofaktor berbagai faktor transkripsi sehingga transkripsi dalam sel usus dapat terjaga. 4. ANTIBIOTIK SELEKTIF Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut, kecuali dengan indikasi yaitu pada diare berdarah dan kolera. 5. EDUKASI ORANG TUA Nasihat pada ibu atau pengasuh untuk kembali segera jika ada demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan / minum sedikit, sangat haus, diare semakin sering, atau belum membaik dalam tiga hari. Indikasi rawat inap pada penderita diare akut berdarah adalah malnutrisi, usia kurang dari satu tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir, adanya dehidrasi dan disentri yang datang sudah dengan komplikasi.

PROBIOTIK
Probiotik adalah mikroorganisme hidup, yang jika diberikan dalam jumlah yang adekuat akan memberi keuntungan menyehatkan pada individu. Pemberian makan disertai susu fermentasi yang mengandung lactobacillus casei atau lactobacillus acidophilus dapat memproduksi imunostimulasi pada host dengan mengaktivasi makrofag dan limfosit. Hal ini berhubungan dengan bahan yang diproduksi oleh organisme-organisme ini selama proses fermentasi yaitu beberapa bahan metabolit, peptide dan enzim.

21

Pada anak dengan malnutrisi, diare akut menyebabkan perubahan keseimbangan mikroflora secara drastis, pada kasus ini pemberian produk yang difermentasi dapat membantu rekolonisasi. Susu formula bayi yang mengandung Bifidobacterium lactis atau Lactobacillus reuteri, dapat menurunkan resiko diare, gejala gangguan saluran pernapasan, demam dan parameter kelainan lainnya. Anak-anak yang mempunyai resiko terhadap penyakit ini seperti anak-anak di TPA, dapat diberikan formula probiotik profilaksis secara teratur. Beberapa penulis melaporkan adanya penurunan episode penyakit dan jumlah hari kesakitan akibat diare dan demam. Pada saluran cerna manusia, probiotik menginduksi kolonisasi dan dapat tumbuh secara in situ di lambung, duodenum dan ileum. Pada epitel ileum manusia, mikroorganisme ini dapat menginduksi aktivitas immunomodulatory, termasuk pengambilan CD4+ T Helper cells. Probiotik menginduksi sistem imun, produksi musin, down regulation dari respon inflamasi, sekresi bahan antimikroba, pengaturan permeabilitas usus, mencegah perlekatan bakteri patogen pada mukosa, stimulasi produksi immunoglobulin dan mekanisme probiotik lainnya. 2 Enzim akan memproduksi bakteri asam laktat yang dapat mempengaruhi proses metabolisme host. Yogurt mempunyai aktivitas laktase yang tinggi, yang dapat membantu keadaan malabsorbsi laktosa. Selama proses fermentasi susu, secara umum, mikroorganisme akan menggunakan laktosa sebagai substrat. Hasilnya, konsentrasi laktosa dalam yogurt akan lebih rendah daripada susu yang tidak difermentasi. Malabsorbsi laktosa dapat mempengaruhi mekanisme diare dengan memproduksi tekanan osmotic intraluminal sehingga mendorong air dan elektrolit ke dalam lumen usus, akibatnya karbohidrat yang tidak diabsorbsi dapat menyebabkan kolonisasi bakteri di usus kecil. Dosis probiotik yang dianjurkan adalah 10 pangkat 7 hingga 10 pangkat 9. Rekomendasi dari Mitsuoka untuk bakteri Lactobacillus memang sekitar 10 pangkat 6. Jika kita memberikan kurang dari itu, maka proses keseimbangan tidak tercapai yang berarti tidak bisa disebut probiotik. Oleh karena itu, preparat probiotik Lactobacillus umumnya diberikan pada dosis 10 pangkat 7 hingga pangkat 9.

IX. PENCEGAHAN
1) Penggunaan ASI Feachem dan koblinsky (1983) telah mengumoulkan data penelitian dari 14 negara mengenai dampak pemberian ASI terhadap morbiditas dan mortalitas dan menyimpulkan bahwa peningkatan penggunaan ASI akan menurunkan morbiditas sebesar 6-20 % dan mortalitas 24 27 % selama 6 bulan pertama kehidupan. Untuk bayi dan anak balita penurunan morbiditas sebesar 1-4 % dan mortalitas 8 9 %. 2) Perbaikan pola penyapihan

22

Hal ini disebabkan karena (1) tercemarnya makanan dan minuman oleh bakteri, (2) rendahnya kadar kalori dan protein, (3) tidak tepatnya pemberian makanan, (4) kurang sabarnya ibu memberikan makanan secara sedikit-sedikit tetapi sering. 3) Imunisasi campak Program imunisasi campak mencakup 60 % bayi berumur 9 11 bulan, dengan efektivitas sebesar 85 %, dapat menurun morbiditas diare sebesar 1,8 % dan mortalitas diare sebesar 13 % pada bayi dan anaki balita. 4) Perbaikan higiene perorangan Amerika serikat menunjukan bahwa kebiasaan mencuci sebelum makan, dan sebelum masak dan setelah buang air kecil atau buang air besar dapat menurunkan morbiditas diare sebesar 14 48%.

23

DEHIDRASI
Semua akibat diare cair diakibatkan karena kehilangan air dan elektrolit tubuh melalui tinja salah satunya adalah dehidrasi. Dehidrasi adalah keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan volume darah (hipovolemia), kolaps kardiovaskular dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Ada tiga macam dehidrasi : 1. Dehidrasi isotonik Ini adalah dehidrasi yang sering terjadi karena diare. Hal ini terjadi bila kehilangan air dan natrium dalam proporsi yang sama dengan keadaan normal dan ditemui dalam cairan ekstraseluler. 2. Dehidrasi Hipertonik Beberapa anak yang diare, terutama bayi sering menderita dehidrasi hipernatremik. Pada keadaan ini didapatkan kekurangan cairan dan kelebihan natrium. Bila dibandingkan dengan proporsi yang biasa ditemukan dalam cairan ekstraseluler dan darah. Ini biasanya akibat dari pemasukan cairan hipertonik pada saat diare yang tidak di absopsi secara efisien dan pemasukan air yang tidak cukup. 3. Dehidrasi Hipotonik Anak dengan diare yang minum air dalam jumlah besar atau yang mendapat infus 5 % glukosa dalam air, mungkin bisa menderita hiponatremik. Hal ini terjadi karena air diabsopsi dari usus sementara kehilangan garam (NaCl ) tetap berlangsung dan menyebabkan kekurangan natrium dan kelebihan air.

GEJALA KLINIS
Mula-mula bayi/anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin mengandung darah dan/ atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama makin menjadi asam akibat banyaknya asam laktat, yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering. Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan :

24

a. Kehilangan berat badan Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2 %. Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan berat badan 2 - 5 %. Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan berat badan 5 10 %. Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan berat badan 10 %.

b.Skor Maurice king Tabel I. Penentuan derajat dehidrasi berdasarkan sistem Maurice king Bagian tubuh yang Nilai Untuk gejala yang ditemukan diperiksa 0 Keadaan umum Sehat 1 Gelisah, 2 cengeng, Mengigau, atau syok Sangat kurang koma

apatis, ngantuk Sedikit kurang Kekenyalan kulit Normal

Sedikit cekung Mata Normal

Sangat cekung

Sedikit cekung Ubun-ubun besar Mulut Denyut nadi / menit Normal Kering Normal Sedang (120-140) Kuat < 120

Sangat cekung Kering dan sianosis Lemah > 140

Ket : Nilai 0-2 = dehidrasi ringan, nilai 3-6 = dehidrasi sedang, nilai 7-12 = dehidrasi berat Pembagian dehidrasi menurut Modul Pelatihan Diare. Kategori Dehidrasi Berat Tanda dan Gejala Dua atau lebih tanda berikut: Letargi atau penurunan kesadaran Mata cowong

25

Tidak bisa minum atau malas minum Cubitan perut kembali dengan sangat lambat ( 2 detik) Dehidrasi Tak Berat Dua atau lebih tanda berikut: Gelisah Mata Cowong Kehausan atau sangat haus Cubitan kulit perut kembali dengan lambat Tanpa Dehidrasi Tidak ada tanda gejala yang cukup untuk mengelompokkan dalam dehidrasi berat atau tidak berat

c. Menurut WHO (1980) Tabel II. Modifikasi petunjuk dalam menentukan derajat dehidrasi menurut WHO (1980). Tanda dan Gejala 1.Keadaan umum dan kondisi : - Bayi dan anak Kecil Haus, gelisah sadar, Haus, gelisah, atau Mengantuk, lemas, ektremitas dingin, letargi iritabel Biasanya sadar, gelisah, ektremitas Haus, Haus, - Anak lebih besar dan dewasa gelisah sadar, merasa sadar, dingin, berkeringat dan sianotik, kulit pusing jari-jari tangan dan kaki berkeriput, kejang otot. tetapi berkeringat, sianotik, mungkin koma. Dehidrasi ringan Dehidrasi sedang Dehidrasi berat

pada perubahan

2.Nadi radialis

Normal

Cepat dan lemah

Cepat, halus, kadang-kadang tidak teraba.

3.Pernafasan

Normal

Dalam dan cepat Dalam, mungkin

26

cepat 4.Ubun-ubun besar 5.Elastisitas kulit Normal Pada Cekung Sangat cekung Sangat lambat ( >2 detik)

pencubitan, Lambat

elsatisitas kembali segera Normal 6.Mata 7.Air mata 8.Selaput lendir 9.Pengeluaran urin Ada Lembab Normal Cekung Kering Kering Berkurang warna tua Sangat cekung Sangat kering Sangat kering dan Tidak ada urin untuk beberapa jam, kandung kencing kosong

10.Tekanan darah sistolik

Normal Normal-rendah < 80 mmHg, mungkin tidak teratur

% berat

kehilangan

45% 6-9% 10 % atau lebih

Perkiraan kehilangan cairan 40 50 ml/kg 60 90 ml/kg 100 110 ml/kg

TERAPI DEHIDRASI
REHIDRASI 1. Rencana Terapi A : Diare Tanpa Dehidrasi Terapi dilakukan di rumah. Menerangkan 4 cara terapi diare di rumah : a. Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi b. Berikan tablet Zinc. Dosis yang digunakan untuk anak-anak :

27

Anak dibawah usia 6 bulan Anak diatas usia 6 bulan

: 10 mg ( tablet) per hari : 20 mg (1 tablet) per hari Cara

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, walaupun anak sudah sembuh.

pemberian tablet zinc pada bayi, dapat dilarutkan dengan air matang, ASI, atau oralit. Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit. c. Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi. Teruskan ASI / berikan susu PASI Bila anak 6 bulan / lebih, atau telah mendapatkan makanan padat : Berikan bubur, bila mungkin campur dengan kacang-kacangan, sayur, daging / ikan. Tambahkan 1-2 sendok teh minyak sayur sop tiap porsi Berikan sari buah / pisang halus untuk menambah kalium Berikan makanan segar, masak dan haluskan / tumbuk dengan baik Bujuklah anak untuk makan Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti, dan berikan makanan tambahan setiap hari selama 2 minggu d. Bawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau menderita sebagai berikut : Buang air besar cair lebih sering Muntah terus menerus Rasa haus yang nyata Makan atau minum sedikit Demam Tinja berdarah

Anak harus diberi oralit dirumah apabila : Setelah mendapat Rencana Terapi B atau C Tidak dapat kembali ke petugas kesehatan bila diare memburuk Memberikan oralit kepada semua anak dengan diare yang datang ke petugas kesehatan merupakan kebijakan pemerintah. Berikan oralit formula baru sesuai ketentuan yang benar. Formula oralit baru yang berasal dari WHO dengan komposisi sbb : Natrium Klorida : 75 mmol/L : 65 mmol/L

28

Glukosa, anhidrous : 75 mmol/L Kalium Sitrat : 20 mmol/L : 10 mmol/L

Total Osmolaritas : 245 mmol/L Ketentuan pemberian oralit formula baru : Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 L air matang, untuk persediaan 24 jam. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali BAB, dengan ketentuan sebagai berikut : Untuk anak usia < 2 tahun Untuk anak usia > 2 tahun : : berikan 50-100 mL tiap kali buang air. berikan 100-200 mL tiap kali buang air.

Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa larutan itu harus dibuang.

2.

Rencana Terapi B : Diare Dengan Dehidrasi Tidak Berat Pada dehidrasi tidak berat, cairan rehidrasi oral diberikan dengan pemantauan yang dilakukan

di Pojok Upaya Rehidrasi Oral selama 4-6 jam. Ukur jumlah rehidrasi oral yang akan diberikan selama 4 jam pertama. Usia < 4 bln 4 11 bln 12 23 bln 2 - 4 thn 5 14 thn 15 thn BB (Kg) <5 5 7,9 8 10,9 11 15,9 16 29,9 30 Jmlh (mL) 200 400 400 600 600 800 800 1200 1200 2200 2200 4000

Jika anak minta minum lagi, berikan. a) Tunjukkan kepada orang tua bagaimana cara memberikan rehidrasi oral o o o Berikan minum sedikit demi sedikit. Jika anak muntah, tunggu 10 menit lalu lanjutkan kembali rehidrasi oral perlahan. Lanjutkan ASI kapanpun anak minta.

29

b) Setelah 4 jam : o o o Nilai ulang derajat dehidrasi anak. Tentukan tatalaksana yang tepat unuk melanjutkan terapi. Mulai beri makan anak di klinik.

c) Bila ibu harus pulang sebelum rencana terapi B : o o o Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam 3 jam dirumah. Berikan oralit untuk rehidrasi selama 2 hari lagi seperti dijelaskan dalam Rencana Terapi A. Jelaskan 4 cara dalam Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah 3. Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya. Beri tablet zinc. Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi. Kapan anak harus dibawa kembali ke petugas kesehatan.

Rencana Terapi C : Diare Dengan Dehidrasi Berat Ikuti arah anak panah berikut sesuai keadaan pasien :

Apakah saudara dapat menggunakan cairan IV segera?

Ya

Tidak

- Mulai beri cairan IV segera. Bila penderita bisa minum, berikan oralit, sewaktu cairan IV dimulai. Berikan 100 mL/kgBB cairan RL (atau NS, atau Ringer Asetat) sebagai berikut : Usia Pemberian 1 Kemudian 30 mL/kgBB 70 mL/kgBB By < 1 thn : 1 jam 5 jam Anak 1-5 thn : 30 menit 2 jam - Ulangi bila denyut nadi lemah atau tidak teraba. - Nilai kembali penderita tiap 1-2 jam. Bila rehidrasi belum tercapai, percepat tetesan IV. - Juga berikan oralit (5 mg/kgBB/jam) bila penderita masih bisa minum, biasanya setelah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak). - Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak), nilai ulang penderita menggunakan tabel penilaian. Lalu pilihlah rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C) untuk melanjutkan terapi.

30

Apakah ada terapi IV terdekat (dalam 30 menit) ?

Ya

- Kirim penderita untuk terapi intravena. - Bila penderita bisa minum, sediakan oralit dan tunjukkan cara memberikannya selama perjalanan.

Tidak

Apakah saudara dapat menggunakan pipa nasogastrik untuk rehidrasi ?

Tidak

- Mulai rehidrasi mulut dengan oralit melalui pipa nasogastrik atas mulut. Berikan 20 mL/kgBB/jam selama 6 jam (total 120 mL/kgBB). - Nilailah penderita tiap 1-2 jam : Bila muntah / perut kembung, berikan cairan perlahan. Bila rehidrasi tidak tercapai selama 3 jam, rujuk penderita untuk terapi IV. - Setelah 6 jam, nilai kembali penderita dan pilih rencana terapi yang sesuai.
Catatan :

Segera rujuk anak untuk rehidrasi melalui NGT atau IV

Bila mungkin, amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan bahwa ibu dapat mengembalikan cairan yang hilang dengan memberi oralit. Bila usia > 2 thn, pikirkan kemungkinan kolera dan berikan antibiotik yang tepat secara oral setelah anak sadar.

31

Daftar Pustaka
1. Firmansyah A, Boediarso AD, Hegar B, Jufrie M, Prasetyo D, Oswari H,et al. Tatalaksana Diare pada Anak. Jakarta: Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia;2007 2. Sastroasmoro, Sudigdo. Panduan Pelayanan Medik Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Hal 75-84. 2007. Jakarta: RSUP. Nasional DR. Cipto Mangunkusumo 3. Soenarto, Yati, dkk. 2007. Pelatihan Tatalaksana Diare pada Anak. Lokakarya Tatalaksana Diare, Medan 4. Behraman RE, Kliegman RM, Arvin HB. Gastroenteritis. Nelson. 17th edition. EGC, 2004. hal 1272-76 5. Price, Sylvia A, Wilson LM. Konsep Klinis Patofisiologi Penyakit. Edisi 6. EGC, 2003. 6. Guandalini S. Diarrhea. Available at http://emedicine.medscape.com/article/928598-

overview. Accessed on 4 February 2012. 7. Khan SA, Ahmed A. Diarrhea Due To Rotavirus and Probability of Sewage Contamination . Available at http://www.medicaljournal-ias.org/5_2/Khan.pdf. Accessed on 4 February 2010. 8. Brown KH. Diarrhea and Malnutrition. Available at

http://jn.nutrition.org/cgi/content/full/133/1/328S. Accessed on 4 February 2012 9. Zein U. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Available at

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/3371. Accessed on 4 February 2012 10. Bartlett JG. Antibiotic Ascociated Diarrhea. Available at

http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMcp011603. Accessed on 4 February 2012.

32