Anda di halaman 1dari 2

31

BAB III PENUTUP

Sungai merupakan bagian muka bumi yang paling rendah bila dibandingkan dengan daerah sekitarnya sehingga sungai menjadi tempat mengalirnya air, sedimen dan polutan yang akan dialirkan menuju muaranya. Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es atau salju. Sungai memiliki bentuk-bentuk yang berbeda antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Secara umum, sebuah sungai dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian atas (hulu), tengah, dan bawah (hilir), dimana setiap bagiannya itu memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Selain itu sungai dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan sumber airnya, arah aliran yang dilaluinya, volume atau debit airnya, dan struktur lapisan batuannya. Berdasarkan sumber airnya, sungai dibedakan menjadi sungai hujan, sungai gletser, dan sungai campuran. Berdasarkan arah aliran yang dilaluinya sungai dibedakan menjadi sungai konsekuen, sungai subsekuen, sungai obsekuen, sungai resekuen, dan sungai insekuen. Berdasarkan volume atau debit airnya, sungai dibedakan menjadi sungai periodik, sungai ephermal, dan sungai permanen. Berdasarkan struktur lapisan batuannya, sungai dibedakan menjadi sungai anteseden dan sungai epigenesa. Berdasarkan pola alirannya sungai juga dapat dibedakan menjadi beberapa macam, dimana pola aliran tersebut sangat berhubungan dengan jenis batuan, struktur geologi, kondisi erosi dan sejarah bentuk bumi. Menurut Howard (1967) pola pengaliran dibedakan menjadi pola pengaliran dasar dan pola pengaliran modifikasi. Dalam perkembangannya, Tahapan perkembangan suatu sungai dapat dibagi menjadi 5 (lima) stadia, yaitu stadia sungai awal, stadia muda, stadia dewasa, stadia tua, dan stadia remaja kembali (rejuvination). Pada tahap stadia sungai awal, sungai belum memiliki orde dan belum teratur seperti lazimnya suatu

32

sungai. Pada tahapan stadia muda sungai, aktivitas aliran sungainya mengerosi kearah vertikal, dimana aliran sungainya menempati seluruh lantai dasar suatu lembah. Tahapan yang ketiga yaitu stadia dewasa, pada tahapan ini diawali dengan ciri-ciri mulai adanya pembentukan dataran banjir secara setempatsetempat, yang semakin lama akan semakin lebar dan akhirnya terisi oleh aliran sungai yang berbentuk meander. Tahapan selanjutnya yaitu stadia tua, Pada tahapan ini dataran banjir diisi sepenuhnya oleh meander dan lebar dari dataran banjir akan beberapa kali lipat dari luas meander belt. Pada umumnya dicirikan oleh danau tapal kuda (oxbow lake) dan rawa-rawa (swampy area). Setiap saat dari perkembangan suatu sungai dari satu tahap ke tahap lainnya, perubahan mungkin terjadi dimana kembalinya dominasi erosi vertikal sehingga sungai dapat diklasifikasi menjadi sungai dalam tahapan muda. Seperti halnya suatu sungai dewasa dapat mengalami pengikisan kembali ke arah vertikal untuk kedua kalinya karena adanya pengangkatan. Pada kasus tersebut sungai tersebut dapat dikatakan sebagai proses peremajaan sungai. Jadi proses peremajaan sungai itu adalah proses terjadinya erosi ke arah vertikal pada sungai berstadia dewasa akibat pengangkatan dan stadia sungai kembali menjadi stadia muda. Morfologi sungai adalah bentuk-bentuk bentangalam yang terbentuk oleh aktivitas dan proses fluviatil. Beberapa bentuk bentangalam (morfologi) hasil dari proses fluviatil (sungai) tersebut adalah: Morfologi Kipas Aluvial (Alluvial Fan), Morfologi Sungai Bersirat (Braided-streams), Morfologi Tekuk Sungai (Pointbar Rivers), Morfologi Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake), Morfologi Gosongpasir (Bar rivers), Morfologi Gosongpasir (Bar rivers), Morfologi Undak Sungai (Terrace Rivers), Morfologi Tanggul Alam (Levee).