Anda di halaman 1dari 38

Bab Adab-Adab Makan dan Minum

Allah ta’ala berfirman :


“ Wahai para Rasul makanlah kalian dari makanan-makanan yang baik-
baik dan kerjakanlah amal-amal yang shalih , sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang kalian perbuatan “ (Al-Mukminun : 51 )
Dan Allah ta’ala berfirman :
“ Makan dan minumlah kalian dari rizki Allah dan janganlah kalian
berlebihan dimuka bumi sebagai orang-orang yang berbuat kerusakan “ – Surah
al-Baqarah : 60 –
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Wahai anak kecil, makanlah dengan menyebut Bismilah, makanlah
dengan tangan kananmu dan makanlah yang terdekat denganmu “1
Diantara adab-adab makan dan minum, sebagai berikut :

1. Larangan Makan dan Minum pada bejana yang terbuat dari emas dan
perak.
Ada beberapa hadits yang berisikan ancaman yang amat keras bagi seseorang
yang makan di Bejana emas dan perak, ataukah makan dari piring yang
terbuat dari emas dan perak. Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu , beliau
berkata : Saya telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Janganlah kalian mengenakan pakaian dari sutra, dan juga pakaian
yang bercampur dengan sutra, dan janganlah kalian minum dari bejana yang
terbuat dari emas dan perak, dan janganlah kalian makan dari piring yang
terbuat dari emas dan perak. Karena sesungguhnya bejana dan piring seperti
itu bagi mereka – ahli kitab – didunia dan bagi kita di surga “2
1
HR. Al-Bukhari ( 5376 ) dan ini merupakan lafazh Al-Bukhari, dan Muslim
( 2022 ), Ahmad ( 1589 ), Abu Daud ( 3777 ), Ibnu Majah ( 3276 ), Malik
( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 )
2
HR. Al-Bukhari ( 5426 ), Muslim ( 2067 ), Ahmad ( 22927 ), At-Tirmidzi
( 1878 ), An-Nasa`I ( 5301 ), Abu Daud ( 3723, Ibnu Majah ( 3414 ) dan Ad-
Dari Ummu Salamah – istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam - mengatakan :
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Seseorang yang minum dari bejana perak, maka sesungguhnya akan
dituangkan ke dalam perutnya3 api neraka jahanam “4
Para Ulama sepakat bahwa tidak diperbolehkan minum dari bejana tersebut5.
Dan tidak ada satupun nash yang menerangkan sebab dari larangan ini. Dan
seorang muslim apabila telah mengetahui suatu dalil dari Al-Qur`an dan As-
Sunnah yang shahih tidak sepantasnya dia melanggarnya walau sekecil
apapun juga. Dan tidak selayaknya berupaya untuk mentakwilkannya
dengan tujuan mendapatkan pembolehan dalam pengerjaannya.
Para Ulama telah mengupas hikmah yang terkandung di dalam larangan ini
dan mereka berbeda persepsi : Diantara hikmah larangan tersebut :
Keserupaan dengan penguasa-penguasa yang angkuh dan raja-raja
asing,sikap berlebihan dan sombong, karena akan menyakiti hati orang-
orang yang shalih dan kaum fakir miskin yang tidak mempunyai sesuatu
untuk memenuhi kebutuhan mereka itu. Sebagaimana hal tersebut
dinyatakan oleh Ibnu Abdil Barr.6
Faedah : Al-Isma’ili mengatakan : Sabda beliau : “ Dan bagi kalian di akhirat
“ [ pada riwayat lainnya ] : Maksudnya bahwa kalian akan
mempergunakannya sebagai penyeimbang karena telah meninggalkannya
didunia. Dan mereka dilarang sebagai balasan bagi mereka karena telah
berlaku maksiat dengan mempergunakannya - yaitu didunia, pen -.
Saya ( Ibnu Hajar ) berkata : Dan ada kemungkinan bahwa hadits diatas
mengisyaratkan bahwa siapa saja yang mempergunakan hal itu didunia

Darimi ( 2130 )
3
Makna al-jarjarah, di dalam Lisan Al-Arab adalah suara.
4
HR. Al-Bukhari ( 5634 ), Muslim ( 2065 ), Ahmad ( 26028 ), Ibnu Majah
( 3431 ), Malik ( 1717 ) dan Ad-Darimi ( 2129 ).
5
Diantara yang mengutip adanya ijma’ ini Ibnu Abdil Barr didalam At-Tamhid
( 16/ 104 ) dan Ibnu Al-Mundzir, lihat didalam Fathul Bari ( 10 / 97 ). Dan tidak
disangsikan bahwa makan serupa hukumnya dengan minum.
6
At-Tamhid ( 16 / 105 ) dan lihat pula Fathul Bari (10 / 97 )
maka dia tidak akan mempergunakannya di akhirat, sebagaimana yang telah
terdahulu disebutkan pada pembahasan minum khamar.7

2. Larangan makan sambil bertelekan atau menelungkupkan wajahnya.


Abu Juhaifah meriwayatkan , bahwa beliau berkata : “ Saya pernah berada
disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka beliau bersabda kepada
seseorang yang berada disampingnya : Tidaklah sekali-kali saya makan
sambil bertelekan “8
Ibnu Hajar mengatakan : “ Cara betelekan yang dilarang telah terjadi
perbedaan pendapat, ada yang mengatakan : Dengan bersandar sewaktu
makan dengan posisi apapun juga. Ada yang berpendapat : Duduk serong
kesalah satu sisi tubuhnya . Ada yang berpendapat : Duduk dengan
menopang kepada tangan kirinya diatas tanah …
Beliau berkata : Ibnu Adiy meriwayatkan dengan sanad yang dha’if : “
Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bersandarkan
dengan tangan kirinya ketika makan “
Malik berkata : “ Ini adalah salah satu bentuk bertelekan “
Saya – Ibnu Hajar – berkata : “ Dan ini adalah isyarat dari Malik bahwa
makruh setiap yang termasuk dalam bertelekan sewaktu makan, dan tidak
mengkhususkannya dengan posisi tertentu …
Ibnu Hajar mengatakan : “ Dan apabila hal ini suatu ketetapan bahwa
makruh atau termasuk khilaf aula – menyalahi amalan yang utama - , maka
posisi duduk yang sunnah disaat makan adalah dengan duduk berjingkat
pada lutut dan menegakkan tumit, dengan melipat kaki kanan dan duduk
diatas kaki kiri “9
7
Fathul Bari ( 10 / 98 )
8
HR. Al-Bukhari ( 5399 ), dan lafazh diatas adalh lafazh hadits Al-Bukhari,
Ahmad ( 18279 ) , At-Tirmidzi ( 1830 ), Abu Daud ( 3769 ), Ibnu Majah ( 3262 )
dan Ad-Darimi ( 2071 ).
9
Fathul Bari ( 9 / 452 ), Saya berkata : Posisi ini yaitu dengan menegakkan
kaki kanan dan duduk diatas kaki kiri, diriwayatkan oleh Abu Al-Hasan Al-
Muqriy didalam Asy-Syamail dari hadits beliau – Abu Juhaifah - :” Apabila
Dan tinjauan makruhnya posisi duduk ini dikarenakan merupakan posisi
duduk para penguasa yang angkuh dan raja-raja negeri asing. Dan
merupakan posisi duduk orang-orang yang berkeinginan memperbanyak
makannya.10
Dan posisi yang kedua dari cara makan seseorang yang terlarang adalah
makan sambil duduk bersandar/bertelungkup di atas perutnya.
Dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu , beliau berkata : Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang orang-orang berbuat tamak, dan
melarang duduk diatas meja yang terhidang khamar, dan melarang
seseorang duduk bertelungkup diatas perutnya “11
Faedah : Cara duduk ketika makan : Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
makan dengan posisi muq’in dan disebutkan dari beliau, bahwa beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk ketika makan dengan duduk tawarruk,
yaitu duduk diatas kedua lutut dan meletakkan telapak kaki kiri beliau atas
punggung kaki kanan beliau, sebagai bentuk sikap tawadhu’ – rendah diri –
kepada Rabb-nya ‘azza wajalla. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul
Qayyim12.
Adapun posisi duduk ketika makan yang pertama adalah sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Anas bin Malik, belaiu berkata : “ Saya telah melihat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dengan posisi muq’in13, sedang
memakan kurma “14

beliau duduk, maka beliau melipat lututnya yang kiri dan menegakkan kaki
kanannya … “ Sanadnya dha’if. Al-‘Iraqi mengatakannya didalam Takrij Ihya’
‘Ulumuddin 2 / 6, cet. Daar Al-Hadith, cet. I 1412.
10
Lihat : Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 222 ) dan Fathul Bari ( 9 / 452 )
11
HR. Abu Daud ( 3774 ) dan Al-Albani menshahihkanya dan juga
diriwayatkan oleh Ibnu Majah ( 3370 )
12
Zaad Al-Ma’ad ( 4/ 221 )
13
Yaitu duduk diatas kedua dubur nya dengan menegakkan kedua lutut
beliau. Syarh Muslim Jilid 7 ( 13/ 188 )
14
HR. Muslim ( 2044 ), Ahmad ( 12688 ), Abu Daud ( 3771 ) dan Ad-Darimi
( 2062 )
Adapun posisi duduk yang kedua : Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr
radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : “ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi
hadiah seekor kambing, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bertopang dengan kedua lututnya menyantap kambing tersebut. Maka
seorang Arab Badui berkata kepada beliau : Posisi duduk apakah ini ?. Beliau
bersabda : Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai seorang hamba yang
mulia dan tidak menjadikan aku sebagai seorang penguasa angkuh lagi
pembangkang “15

3. Mendahulukan makan dari pada shalat ketika makanan telah


dihidangkan
Pada hadits Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
beliau bersabda :
“ Apabila hidangan makan malam telah dihidangkan dan shalat telah
didirikan makan kalian mulailah denan makan malam “16
Dari Ibnu Umar radhiallahu ;anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Apabila makan malam salah seorang diantara kalian telah dihidangkan
sementara shalat telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam kalian
dan janganlah seseorang tergesa-tergesa hingga dia selesai dari makannya “17
Dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma , apabila dihidangkan makan malam
beliau sementara waktu shalat telah datang, beliau tidak beranjak dari makan
malamnya hinga menyelesaikannya. Imam Ahmad meriwayatkan didalam
Musnad-nya dari Nafi’ bahwa Inu Umar seringkali mengutus beliau
sementara beliau dalam keadaan berpuasa, dan dihidangkan kepada beliau
15
HR. Ibnu Majah ( 3263 ) dan lafazh hadits tersebut lafazh riwayat Ibnu
Majah. Ibnu Hajar didalam Al-Fath ( 9 / 452 ) menghasankan sanadnya. Al-
Albani berkata : Shahih ( 5464 ). Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Abu
Daud ( 3773 ) tanpa menyebutkan kedua lutut.
16
HR. Al-Bukhari ( 5464 ), Muslim ( 557 ), Ahmad ( 12234 ), At-Tirmidzi
( 353 ), An-Nasa`I ( 853 ) dan Ad-Darimi ( 1281 )
17
HR. Al-Bukhari ( 673 ), Muslim ( 559 ), Ahmad ( 5772 ), At-Tirmidzi ( 354 )
makan malamnya sementara panggilan shalat maghrib telah
dikumandangkan, lalu kemudian iqamah shalat dan beliau
mendengarkannya, namun beliau tidaklah meninggalkan makan malam
beliau dan tidak juga trgesa-gesa hingga beliau menyelesaikan makan
malamnya, lalu beliau keluar untuk mengikuti shalat . Dan beliau berkata :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah bersabda :
“ Janganlah kalian tergesa-gesa menyantap makan malam kalian apabila
telah dihidangkan bagi kalian “18
Dan sebab dari hal tersebut, agar jangan sampai seseorang mengerjakan
shalat namun hatinya teringat akan makanannya yang mana akan
menyebabkan kerisauan yang menghilangkan rasa khusyu’nya.
Ibnu Hajar mengatakan : Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah
meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari hadist Abu Hurairah dan Ibnu
Abbas: “Bahwa mereka berdua tengah menyantap makanan
dipemanggangan. Lalu muadzdzin hendak meng-iqamahi shalat, maka Ibnu
Abbas berkata kepadanya : Janganlah engkau tergesa-gesa agar kami tidak
berdiri mengerjakan shalat sementara pada hati kami ada ganjalan “Dan
pada riwayat Ibnu Abi Syaibah : “ Agar tidak memalingkan kami disaat
mengerjakan shalat “19
Dan perintah semacam ini tidaklah khusus sebatas pada makan malam saja,
melainkan pada setiap makanan yang mana hati tertarik untuk
menyantapnya. Dan yang menguatkan hal tersebut adalah larangan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat disaat makan telah
dihidangkan, dan disaat menahan air kencing dan buang air besar. Dan
sebabnya sangatlah jelas.

18
Al-Musnad ( 6323 )
19
Fathul Bari ( 2 / 189 )
Dari Aisyah – ummul mukminin - radiallahu ‘anha, beliau berkata : Saya
telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau
bersabda :
“ Tidak sempurna shalat disaat makanan telah dihidangkan dan tidak
sempurna jikalah seseorang dalam keadaan menahan kencing dan hajat besar
“20
Faedah : Sebagian ulama mengatakan : Bagi siapa yang makanannya telah
dihidangkan kemudian shalat di-iqamahi, maka sepatutnya dia memakan
beberapa suap untuk mengatasi rasa laparnya. An-Nawawi membantah hal
tersebut , dan beliau mengatakan : “ Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
; Da janganlah seseorang tergesa-gesa hingga menyelesaikan makannya,
adalah dalil yang menunjukkan bahwa dia makan menyelesaikan
kebutuhannya dengan menyempurnakan makannya. Dan inilah pendapat
yang shahih. Adapun penafsiran sebagian dari ulama Asy-Syafi’iyah bahwa
dia cukup makan sesuap untuk mengatasi rasa laparnya yang amat sangat,
bukanlah pendapat yang shahih. Dan hadits ini sangat jelas menolaknya.”21
Masalah : Apabila makanan telah dihidangkan sementara shalat telah di-
iqamahi, apakah wajib untuk makan terlebih dahulu berdasarkan zhahir
hadits ataukah perintah pada hadits sebatas menunjukkan suatu yang
Sunnah ?
Jawab : Amalan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, pada riwayat Ahmad dan
selainnya menunjukkan pendahuluan makan secara mutlak. Dan sebagian
ulama mengkhususkan hal itu apabila hati tertarik dan terbayang dengan
makanan tersebut. Apabila hatinya terbayangkan akan makanan tersebut
maka yang lebih utama baginya adalah mengambil makanan tersebut hingga
dia mengerjakan shalat dalam keadaan khusyu’. Dan juga diriwayatkan dari
hadits Abu Ad-Darda`a radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “ Diantara bentuk

20
HR. Muslim ( 560 ), Ahmad ( 23646 ) dan Abu Daud ( 89 )
21
Muslim dengan Syarh An-Nawawi Jilid 3 ( 5 / 38 )
pemahaman seseorang adalah dengan menyelesaikan hajatnya hingga dia
menuju shalat dengan hati yang tenang “22
Pendapat yang tepat berkaitan dengan masalah itu adalah yang disebutkan
oleh Al-Hafidz Ibnu Haja - dimana setelah beliau mengutip atsar Ibnu Abbas
dan Atsar Al-Hasan bin Ali : “ Makan malam sebelum mengerjakan shalat
akan menghilangkan hati yang tercela“, beliau mengatakan : Pada atsar ini
semuanya mengisyaratkan bahwa sebab pengutamaan makan dari pada
shalat itu adalah karena bayangan maka sepatutnyalah hukum diikutkan
pada sebabnya, baik ketika sebab itu ada atau tidak, dan tidak terikat dengan
seluruhnya atau sebagiannya.23

4. Mencuci kedua tangan sebelum dan sesudah makan


Saya tidak menjumpai adanya Sunnah yang shahih yang diriwayatkan secara
marfu’ hingga ke Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang menerangkan
perihal membasuh kedua tangan sebelum makan. Al-Baihaqi mengatakan : “
Hadits tentang membasuh kedua tangan setelah makan hadits yang hasan,
dan tidaklah shahih hadits tentang membasuh kedua tangan sebelum
makan24. Akan tetapi disenangi hal itu untuk menghilangkan kotoran yang
melekat pada kedua tangan dan yang semisalnya yang akan memberi
mudharat kepada tubuh. Dan Imam Ahmad berkaitan dengan masalah itu
terdapat dua riwayat dari beliau. Yaitu riwayat yang menganggap hal itu
makruh dan yang satunya sebagai Sunnah. Dan Imam Malik merinci hal itu,
dan mengkaitkan membasuh kedua tangan sebelum makan apabila ada
kotoran. Adapun amalan Ibnu Muflih didalam kitab Al-Adab karya beliau,

22
Diriwayatkan secara mu’allaq oleh Al-Bukhari didalam Kitab Al-Adzan, bab.
Idzaa Hadhara Ath-Tha’am wa Uqiimat Ash-Shalat. Ibnu Al-Mubarak
meriwayatkan atsar ini secara maushul didalam kitab Az-Zuhd. Dan
Muhammad bin Nashr Al-Marruzi meriwayatkannya didalam Kitab Ta’dziim
Qadri Ash-Shalat, dari jalan Ibnu Al-Mubarak. Sebagaimana pernyataan Ibnu
Hajar didalam Fathul Bari ( 2 / 187 )
23
Fathul Bari ( 2 / 189 – 190 )
24
Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 214 )
menunjukkan bahwa beliau cenderung berpendapat bahwa amalan tersebut
Sunnah sebelum makan, dan ini adalah pendapat sejumlah besar ulama25.
Dan permasalahan ini suatu yang lapang walhamdu lillah Rabbil ‘Alamiin.
Adapun membasuh kedua tangan setelah makan, tentang hal itu telah
diriwayatkan beberapa atsar yang shahih, diantaranya, hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhialahu ‘anhu, bahwa beliau berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang tidur
dan pada tangannya masih melekat ghamar26 dan tidak membasuhnya
kemudian dia terkena sesuatu makan janganlah dia menyesali kecuali pada
dirinya sendiri “27
Dan dari abu Hurairah, beliau berkata :
“ Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan bagian
punggung kambing, kemudian beliau berkumur-kumur dan membasuh
kedua tangannya lalu shalat “28
Dan dari Aban bin ‘Utsman, bahwa ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu
pernah makan roti dengan danging kemudian berkumur-kumur dan
membsuh kedua tangannya lalu membasuh wajahnya, dan kemudian beliau
mengerjakan shalat tanpa berwudhu’ lagi “29
Faedah : Sebagian ulama menganggap sunnah wudhu’ yang syar’i sebelum
makan apabila dalam keadaan junub. Dan hal itu disebutkan dalam sebuah
hadits dan sebuah atsar. Adapun hadits yang dimaksud adalah hadits dari
‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata : Apabila Rasulullah Shallallahu

25
Lihat : Al-Adab ( 3 / 212 )
26
Didalam LisanArab : Al-Ghamar yaitu bau daging dan lemak yang melekat
pada tangan ( 5 / 32 ) , pada pembahasan ; Ghamara
27
HR. Ahmad ( 7515 ),Abu Daud ( 3852 ), Al-Albani menshahihkannya. Dan
juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi ( 1860 ), Ibnu Majah ( 3297 ) dan Ad-Darimi
( 2063 )
28
HR. Ahmad ( 27487 ), Ibnu Majah ( 493 ) dan Al-Albani menshahihkannya
( 498 )
29
HR. Malik ( 53 )
‘alaihi wa sallam junub dan hendak makan atau tidur beliau terlebih dahulu
berwudhu’ sebagaimana wudhu’ untuk shalat “30
Adapun atsar , adalah asar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa apabila beliau
hendak tidur atau makan dalam keadaan junub, beliau mencuci wajahnya,
kedua tangannya hingga sampai ke siku, dan membasuh kepadalnya, lalu
beliau makan atau tidur “31
Asy-Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah mengatakan : “ Dan kami tidak
mengetahui seorangpun yang beranggapan sunnahnya berwudhu’ sebelum
makan, kecuali apabila dia dalam keadaan junub.32
Perhatian :Al-Muhadist Al-Albani beragumen denga hadits ‘Aisyah : “
apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur dalam keadaan
junub maka beliau berwudhu’ dan apabila hendak makan maka beliau
membasuh kedua tangannya “33
Bahwa disyariatkan untuk membasuh kedua tangan sebelum makan secaa
mutlak berdasarkan hadits ini34.
Akan tetapi hukum secara mutlak ini perlu diteliti lagi, dikarenakan
beberapa hal :
Pertama : Hadits tersebut menerangkan tentang amalan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam disaat beliau junub ketika tidur, makan dan minum.
Kedua : Sebagian riwayat-riwayat hadits tersebut datang dengan lafazh
wudhu’ dan sebagian lainnya dengan penyebutan membasuh kedua tangan
yang menerangkan boleh kedua amalan itu. As-Sindi didalam Hasyiyah-nya
mengatakan : “ Sabda beliau : (( membasuh kedua tangan )) yaitu terkadang

30
HR. Al-Bukhari ( 286 ), Muslim ( 305 ), dan lafazh hadits ini adalah lafazh
riwayat Muslim, Ahmad ( 24193 ), An-Nasa`I ( 255 ), Abu Daud ( 224 ), Ibnu
Majah ( 584 ) danAd-Darimi ( 757 )
31
HR. Malik ( 111 )
32
Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 214 )
33
HR. An-Nasa`I ( 256 ), Ahmad ( 24353 ) dan selain mereka berdua.
34
Lihat : As-Silsilah Ash-Shahihah ( 1 / 674 ) no. ( 390 ).
beliau mencukupkannya dengan hal itu untuk menerangkan pembolehan,
dan terkadang beliau berwudhu’ sebagai keadaan yang lebih sempurna “35
Ketiga : Bahwa para Imam Ahlul Hadist, seperti Malik, Ahmad, Ibnu
Taimiyah, An-Nasa`I rahimahumullah 36
dan juga selain mereka – dan kami
telah mengutip perkataan mereka – tidaklah berpendapat bahwa hadits
Aisyah diatas berlaku secara mutlak sebagaimana pendapat Al-‘Allamah Al-
Albani – rahimahullah - yang menganggap berlaku secara mutlak, sedangkan
mereka meriwayatkan hadits ini, yang menguatkan bahwa permasalahan ini
menurut mereka hanya berlaku pada saat junub, sehingga wudhu’ dan
membasuh tangan sebelum makan pada hadits ini berlaku hanya pada saat
junub. Wallahu a’lam.

5. Membaca Basmalah diawal memulai makan dan minum, dan membaca


Alhamdulillah setelah selesai.
Diantara Sunnah, seseorang yang ehndak makan dan minum sebelum
makan dan minum hendaknya membaca basmalah dan membaca
Alhamdulillah ta’ala setelah selesai makan dan minum.
Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan : “ Membaca basmalah diawal makan
dan minum dan membaca Alhamdulillah setelah selesai, mempunyai
pengaruh yang sangat mengagumkan baik pada manfaatnya, kebaikan dan
dalam mencegah kemudharatan. Imam Ahmad mengatakan : Apabila dalam
makanan telah terkumpul empat hal, maka telah sempurna : Apabila

35
Syarh Sunan An-Nasa`I karya As-Suyuthi dan Hasyiyah As-Sindi, Daar Al-
Kitab Al-Arabi ( 1 / 138 – 139 )
36
Yang mencantumkan hadits ini pada tiga judul bab, yaitu : Pertama :
Wudhu’ seorang yang junub apabila hendak makan. Kedua : Seorang yang
junub mencukupkan dengan membasuh kedua tangan apabila hendak
makan. Ketiga : Seorang yang junub mencukupkan mencuci kedua tangan
apabila hendak makan atau minum. Lhat : Kitab Ath-Thaharah pada Sunan
An-Nasa’i
menyebut nama Allah diawal makan, Alhamdulillah setelah makan, makan
berjama’ah dan dari makanan yang halal37.
Faedah membaca Basmalah : sebelum makan yaitu bahwa syaithan
diharamkan bergabung dalam makanan dan dalam meraih makanannya.
Dari Hudzaifah radhiallhu ‘anhu, beliau berkata : “ apabila kami hadir
bersama dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kami
meletakkan tangan kami hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai,
maka barulah kami meletakkan tangan kami. Dan suatu saat kami
menghadiri makan bersama dengan beliau , lalu seorang anak wanita,
sepertinya dia dipanggil dan kemudian datang dan meletakkan tangannya,
lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meraih tangannya. Kemudian
datang seorang arab badui, sepertinya dia dipanggil namun tangannya diraih
oleh beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “
Sesungguhnya syaithan memasuki makanan yang tidak disebut nama allah.
Dan syaithan datang dengan anak wanita ini untuk bergabung , maka saya
menari tangannya. Dan datang dengan arab badui ini juga untuk bergabung
dengannya, maka saya juga menarik tangannya. Dan demi dzat yang jiwaku
berada ditangan-Nya sesunguhnya tangan syaithan bersentuhan dengan
tanganku besamaan dengan tangan anak wanita tersebut “38
Lafazh Basmalah : Adalah dengan mengucapkan Bismillah. Dari Umar bin
Abu Salamah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Saat itu saya
seoranganak keil yang berada didalam kamar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam , dan tanganku meraih yang ada didalam piring, maka
RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Wahai anak kecil, bacalah
bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang
terdekat denganmu, maka hal itu menjadi makananku berikutnya “39
37
Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 232 )
38
HR. Muslim ( 2017 ), ahmad ( 22738 ) dan Abu Daud ( 3766 )
39
HR. Al-Bukhari ( 5376 ) dan lafazh hadits tersebut adalah lafazh beliau,
Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 15895),Abu Daud ( 3777 ), ibnu Majah ( 3267 ),
Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 )
An-Nawawi didalam Kitab Al-Adzkar karya beliau memilih bahwa yang
paling utama adalah mengucapkan : Bismillahirrahmanirrahim, dan apabila
mengucapkan : Bismillah, maka sudah cukup dan sudah mengamalkan
Sunnah40.
Ibnu Hajar menyaggah pendapat tersebut, beliau berkata : “ Saya tidak
melihat adanya dalil khusus yang menguatkan pernyataan beliau.
Saya berkata : Sebagian besar nash-nash yang ada menerangkan hanya
dengan lafazh : BIsmillah , dan selain itu tanpa tambahan : Ar-Rahman Ar-
Rahim. – dari hadits Amru bin Abi Slaamah, beliau berkata :Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Wahai anak kecil, apabila engkau
makan maka sebutlah bismillah, makanlah dengan tangan kanamu dan
makanlah yang terdekat denganmu. “41
Dan apabila seseorang yang makan lupa mengucapkan : bismilah
sebelum makan kemudian dia teringat disaat dia tengah makan, maka
hendaknya dia mengatakan : Bismillahi Awwalahu wa Akhirahu , atau
mengatakan : Bismillahi fii Awwalihi waakhirihi. Dari Aisyah Ummul
Mukminin radhiallahu ‘anha, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “ Apabila salah seorang diantara kalian makan
hendaknya dia menyebut : Bismillah ta’ala. Dan apabila dia lupa menyebut
Bismillah ta’ala diawal makan, maka hendaknya dia mengucapkan :
Bismillah Awwalahu wa Akhirahu “42
Adapun ucapan Alhamdulillah ta’ala, setelah menyelesaikan makan
atau minum, maka pada ucapan ini mempunyai keutamaan yang sangat
agung, yang Allah anugrahkan kepada segenap hamba-Nya. Anas bin Malik
meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
40
Al-Adzakr karya An-Nawaw ( 334 )
41
HR. Ath-Thabrani didalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dan Al-Albani
memasukkannya didalam Silsilah Ash-Shahihah, dan beliau ebrkata : Sanad
ini shahih sesuai dengan kriteria hadits Asy-Syaikhain ( 1 / 611 ) no. ( 344 ).
42
HR. Abu Daud ( 3767 ), dan lafazh diatas adalah lafazh Abu Daud, Al-Albani
menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Ahmad ( 25558 ), At-Tirmidzi
( 1858 ), Ibnu Majah ( 3264 ) dan Ad-Darimi ( 2020 ).
“ Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba yang ketka makan suatu
makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum
suatu minuman maka diapun mengucapkan : Alhamdulillah. “43
Ada banyak lafazh Alhamdulillah setelah selesai dari makan dan minum,
diantaranya :
a. “ Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa
muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Rabbana “
b. “ Alhamdulillah Alladzi kafaanaa wa arwaanaa ghaira makfiyyin wa laa
makfuurin “
Abu Umamah radhiallahu ‘anhu meriwayakan , beliau berkata : bhwa
Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari
menyantap makanannya, beliau sekali waktu mengucapkan :
“ Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa
muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Rabbana “44
c. “ Alhamdulillah alladzi ath’amaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin
minni walaa quwwatin.
Dari Mu’adz bin Anas dari bapak beliau, beliau berkata : Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Barang siapa yang makan suatu makanan, kemudian dia mengucakan :
Alhamdulillah alladzi ath’amaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin
minni walaa quwwatin , segala dosanya yang telah lampau akan diampuni
“45
d. “ Alhamdulilah alladzi ath’ama wa saqaa wa sawwaghahu wa ja’ala lahu
makhrajan “

43
HR. Muslim ( 2734 ), Ahmad ( 11562 ) dan At-Tirmidzi ( 1816 )
44
HR. Al-Bukhari ( 5459 ) dan lafazh diatas adalah lafazh Al-Bukhari, Ahmad
( 21664 ), At-Tirmidzi ( 3456 ), Abu Daud ( 3849 ), Ibnu Majah ( 3284 ), Ad-
Darimi ( 2023 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 2828 )
45
HR. At-Tirmidzi ( 3458 ), dan beliau berkata : Hadits ini hasan gharib “. Dan
Ibnu Majah ( 3285 ) dan Al-Albani menghasankannya ( 3348 )
Abu Ayyub al-Anshari meriwayatkan, beliau berkata : “ Apabila Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ma\kan atau minum, beliau mengucapkan :
Alhamdulillah alladzi ath’ama wa saqaa wa sawwaghahu wa ja’ala lahu
makhrajan “46
e. “ Allahumma ath’amtu wa asqaitu wa aqnaitu wa hadaitu wa ahbabtu,
falillailhamdu ‘ala maa a’thaitu “
Dari Abdurrahman bin Jubair, bahwa seseorang yang telah melayani
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun menceritakan
kepadanya, bahwa dia telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam apabila beliau disodorkan makanan, beliau mengucapkan :
“ Bismillah “ , dan apabila beliau selesai beliau mengucapkan :
“ Allahummah ath’amtu wa asqaituwa aqnaitu wa hadaitu wa ahyaitu
falillahilhamdu ‘ala maa a’thaitu “47
Faedah : Disenangi untuk mempergunakan lafazh-lafazh Alhamdulillah yang
ada didalam As-Sunnah setelah selesai makan. Dengan sesekali
mengucapkan lafazh yang ini dan sesekali dengan lafazh lainnya, sehingga
denga demikian dia telah menjaga As-Sunnah dari segala sisiknya. Dan dia
akan mendapatkan berkah dari doa-doa ini. Bersamaan dengan itu seseorang
akan merasakan didalam hatinya penghadiran makna-makna dari doa-doa
ini ketika dia mengucapkan lafazh ini tsesekali waktu dan lafazh lainnya
diwaktu yang lain. Dikarenakanhati seseorang apabila telah terbiasa dengan
perkara tertentu – seperti berulang-ulang menyebutkan dzikir tertentu –
maka dengan banyaknya pengulangan , biasanya penghadiran makna-makna
dari doa tersebut akan semakin berkurang karena seringnya diulangi.

46
HR. Abu Daud ( 3851 ), al-Albani mengatakan : Shahih.
Al-Albani mengatakan didalam As-Silsilah Ash-Shahihah ( 1 / 111 ) : HR.
47

Ahmad ( 4 / 62 , 5 / 375 ) dan Abu Asy-Syaikh didalam Akhlaq An-Nabi


Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian beliau menyebutkan sanadnya dan
mengatakan : Sanad ini shahih kesemua perawinya tsiqat dan merupakan
para perawi yang dipergunakan oleh Muslim .
Faedah lainnya : Ibnu Abbas – radhiallahu’anhuma - meriwayatkan , bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Barang siapa yang Allah telah memberikan makanan baginya, hendaknya
dia mengucapkan : Allahumma barik lana war-zuqnaa khairan minhu. Dan
barang siapa yang Allah telah memberinya minum, hendaknya dia
mengucapkan : Allahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa fiihi. Karena
sesungguhnya saya tidak mengetahui ada makanan dan minuman yang akan
memuaskan selain susu “48

6. Makan dan minum dengan mempergunakan tangan kanan dan


larangan mempergunakan tangan kiri
Telah kita sebutkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada
Umar bin Abi Salamah :
“ Wahai anak kecil, makanlah dengan menyebut Bismillah, makanlah
dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat
denganmu “49
Dan dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata :
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Janganlah kalian makan dengan mempergunakan tangan kirimu karena
sesungguhnya syaithan makan dengan mempergunakan tangan kirinya
“50
Dan pada hadits Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

48
HR. At-Tirmidzi ( 3455 ), dan beliau berkata : Hadits ini Hasan Shahih, dan
juga diriwayakan oleh Ibnu Majah ( 3322 ) dan Al-Albani menghasankannya
( 3385 ).
49
HR. Al-Bukhari ( 5376 ) danlafazh diatas adalah lafazh riwayat Al-Bukhari,
Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 15895 ), Abu Daud ( 3777 ), Ibnu Maja ( 3267 ),
Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 ).
50
HR. Muslim ( 2020 ) danlafazhnya adalah lafazh riwayat Muslim , Ahmad
( 14177 ), Ibnu Majah ( 3268 ) dan Malik ( 1711 ).
“ Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaknya dia makan
dengan mempergunakan tangan kanannya dan apabila minum
hendaknya dengan mempergunakan tangan kanannya. Karena
sesungguhnya syaithan makan dengan tangan kirinya dan minum
dengan tangan kirinya “51
Ibnul Jauzi mengatakan : “ Ketika tangan kiri dijadikan untuk ber-istinja’
dan menyentuh hal-hal yang najis, sementara tangan kanan untuk
mengambil makanan, maka tidaklah shahih salah satu dari keduanya
dipergunakan pada pekerjaan tangan yang lainnya, dikarenakan ini
merupakan perendahan suatu yang memiliki kedudukan serta
meninggikan suatu yang direndahkan kedudukannya. Barang siapa yang
menyalahi tuntunan hikmah syaa’ berarti telah menyepakati syaithan “52
Sedangkan hadits-hadits tersebut dalam permasalahan ini adalah hadits-
hadits yangmasyhur yang tidak lagi tersembunyi oleh khalayak awam,
hanya saja sebagian kaum muslimin – semoga Allah memberi mereka
hidayah – masih saja bersikeras dengan sifat yang tercela ini, yaitu makan
dan minum dengan mempergunakan tangan kiri. Dan apabila dikatakan
kepada mereka tentang hal itu, mereka menjawab : Hal ini telah menjadi
kebiasaan kami dan sangat sulit untuk merubahnya. Demi Allah
sesungguhnya jawaban ini merupakan kemilau rayuan syaithan bagi
mereka, dan penghalang bagi mereka untuk mengikuti syara’. Dan secara
umum, ini merupakan bukti akan kurangnya iman ddidalam hati mereka.
Jika tidak maka apa makna dari penyelisihan perintah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan larangan beliau !
Dan lebih buruk dan lebih keji dari itu, adalah mereka yangmelakukan
hal itu dengan kesombongan dan keangkuhan.

51
HR. Muslim ( 2020 ), Ahmad ( 4523 ), At-Tirmidzi ( 1800 ), Abu Daud
( 3776 ), Malik ( 1712 ) dan Ad-Darimi ( 2020 )
52
Kasyful Musykil 2 / 594 ) ( 1227 )
Salamah bin al-Akwa’ radhiallahu ‘anhumeriwayatkan : “ Bahwa
seseorang makan disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
mempergunakan tangan kirinya. Maka beliau bersabda : “ Makanlah
dengan tangan kananmu “ Orang itu berkata : Saya tidak sanggup. Beliau
bersabda : Engkau tidak sanggup ? Tidak ada yang menghalangimu
kecuali rasa sombong. Maka diapun tidak sanggup mengangkat
tangannya kemulutnya “ Pada riwayat Ahmad : “ Maka tangan kanannya
tidak sanggup lagi dia angkat kemulutnya selamanya “53
An-Nawawi mengatakan : “ Pada hadits ini menunjukkan bolehnya
seseorang mendoakan siapa saja yangmenyalahi hukum syara’ tanpa
adanya udzur. Dan pada hadits ini juga menunjukkan perintah untuk
menjalankan Amar Makruf dan Nahi Munkar disetiap keadaan hingga
disaat makan sekalipun. Dan disenangi unum mengajarkan seseorang
yang makan dengan adaz-dab makan apabila dia menyalahinya54.
Peringatan : Apabila ada udzur mempergunakan tangan kanan untuk
makan, seperti karena sakit atau luka dan selainnya, maka tidaklah
mengapa makan dengan mempergunakan tangan kiri. Dan Allah tidak
membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya.

7. Makan dengan makanan yang terdekat


Disalah satu riwayat pada hadits Umar bin Abi Salamah, bahwa beliau
mengatakan : Saya makan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pada suatu hari, lalu saya mengambil daging yang ada di seberang piring.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Makanlah makanan yang terdekat denganmu “55
Sebab dari larangan itu, dikarenakan makan dia makan ditempat orang lain
mengambil makan dengan adab yang jelek. Dan orang-orang yang makan

53
HR. Muslim ( 2021 ) dan Ahmad ( 16064 )
54
Syarh Shahih Muslim Jilid 7 ( 14 / 161 )
55
HR. Muslim ( 2022 ), takhrijnya telah disebutkan sebelumnya.
bisa saja merasa jijik dengan perbuatan ini – dan ini yang kebanyakan terjadi
-.
Akan tetapi mungkin ada yang menyanggah kepada kami, danmengatakan :
Lalu apa yang kalian katakan tentang hadits Anas , dimana beliau berkata : “
Sesungguhnya seorang penjahit mengajak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk menyantap makan sajiannya, maka saya berangkat bersama
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan dia menyuguhkan roti dari tepung
dan maraq – kuah daging – yang bercampur labu dan dendeng. Saya melihat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil labu yang ada
diseberang piring “56
Jawaban atas sanggahan ini : Kedua hadits ini tidaklah saling bertentangan ,
dan kami menjawabnya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr : “
Bahwa al-maraq, al-idam dan makanan lainnya apabila terdiri atas dua jenis
atau banyak, maka tidak mengapa menjulurkan tangan untuk
mengambilnya, karena bolehnya memilih makanan yang dihidangkan di
meja makan… Kemudian beliau berkata – mengomentari sabda beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Dan makanlah dengan makanan yang
terdekat denganmu “ - : Dan sesungguhnya beliau memerintahkan
kepadanya untuk makan dengan makanan yang terdekat, karena makanan
yang ada waktu itu hanya satu jenis. Wallahu a’lam. Demikianlah yang
ditafsirkan oleh para ulama57 . Dan dengan begitu jelaslah penyesuaian kedua
hadits tersebut – Wallahu Al-Muwafffiq -.

56
HR. Al-Bukhari ( 5436 ) dan lafazh diatas adalah lafazh pada riwayat Al-
Bukhari, Muslim ( 2041 ), Ahmad ( 12219 ), At-Tirmdzi ( 1850 ), Abu Daud
( 3782 ), Malik ( 1161 dan Ad-Darimi ( 2050 ).
Ad-dibaa`u adalah sejenis buah yang sebesar labu. Pada ini ditegaskan pada
riwayat Ahmad, beliau berkata : “ Dan disuguhkan kehadapan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam semangkuk labu, beliau berkata : Dan beliau
sangat menyenangi labu. Beliau berkata : Dan beliau mengemil labi dengan
jari atau dengan jari jemari beliau “. Sedangkan al-qadiid adalah daging yang
diberi garam kemudian dikeringkan dibawah terik matahari.
57
At-Tamhid ( 1 / 277 )
8. Disenangi makan dari pinggiran piring bukan bagian atasnya
Disebutkan pada hadits Ibnu Abbas – radhiallahu ‘anhuma -, bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Apabila salah seorang diantara kalian makan suatu makanan maka
janganlah dia makan pada bagian atasnya, akan tetapi hendaknya dia makan
pada bagian pinggirnya, karena sesungguhnya berkah turun dari bagian
atasnya “. Pada lafadz riwayat Ahmad : “ Makanlah kalian pada bagian
pinggir piring, dan janganlah kalian makan dari bagian tengahnya, karena
berkah turun pada bagian tengahnya “58
Bagian tengah diberi kekhususan dengan turunnya berkah, karena tempat itu
adalah tempat paling adil. Dan sebab dari larangan tersebut agar seseorang
yang makan tidak terharamkan baginya berkah yang berada dibagian
tengah. Dan juga termasuk didalam hadits ini apabila yang makan lebih dari
seseorang – berjama’ah -, karena seseorang diantara mereka yang
mendahului mengambil dibagian tengah makanan sebelum bagian
pinggirnya, telah melakukan adab yang jelek kepada mereka, dan
mementingkan diri sendiri untuk suatu yang baik selain dari mereka,
Wallahu a’lam59.

9. Disenangi makan dengan mempergunakan tiga jari dan menjilati jari


setelah makan.
Diantara Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau makan
dengan mempergunakan tiga jari. Dan juga menjilati jarinya setelah makan.
Didala hadits Ka’ab bin Malik dari bapaknya, beliau berkata : “ Rasulullah

58
HR. Abu Daud ( 3772 ) lafaadz hadits diatas adalah lafazh pada riwayat
Abu Daud, Ahmad ( 2435 ), At-Tirmidzi ( 1805 ), dan beliau berkata : Hadits
ini hadits hasan shahih , Ibnu Majah ( 3277 ) dan Ad-Darimi ( 2046 )
59
Lihat : ‘Aun Al-Ma’ud jilid 5( 10 / 177 )
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika makan beliau mempergunakan tiga jari
dan menjilati jarinya sebelum mengelapnya “60
Ibnul Qayyim mengatakan : “ Dikarenakan makan dengan satu atau dau jari
tidaklah menjadikan seorang yang makan menikmatinya dan tidak juga
memuaskannya dan tidak mengenyangkannya kecuali setelah lama berselang
dan juga tidak mengenakkan organ mulut dan pencernaan dengan yang
masuk kedalamnya dari setiap makanan … Sedangkan makan dengan lima
jari dan telapak tangan akan menyebabkan makan memenuhi organ mulut
dan juga pencernaan. Dan terkadang akan menyumbat saluran makan dan
memaksakan organ-organ makan untuk mendorongnya dan juga pencernaan
akan terbebani. Dan dia tidak akan mendapatkan kelezatan dan juga
kepuasan. Dengan begitu maka cara makan yang paling bermanfaat adalah
cara makan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan cara makan yang
meneladani beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan
mempergunakan tiga jari “61
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka janganlah dia
membasuh tangannya hingga dia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang
lain “. Dan pada riwayat Ahmad dan Abu Daud :
“ Janganlah dia mengelap tangannya dengan kain lap, hingga dia menjilatnya
atau dijilatkan kepada orang lain “62
Dan sebab hal itu diperintahkan dfiterangkan pada hadits Jabir bin Abdullah
radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan untuk menjilat jari dan piring makanan, beliau

60
HR. Muslim ( 20232 ), Ahmad ( 26626 ), Abu Daud ( 3848 ) dan Ad-Darimi
( 2033 )
61
Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 222 ), dengan sedikit perubahan.
62
HR. Al-Bukhari ( 5456 ), Muslim ( 2031 ), Ahmad ( 3224 ), Abu Daud
( 3847 ), Ibnu Majah ( 3269 _ dan Ad-Darimi ( 2026 )
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya kalian tidak
mengetahui dimanakah turunnya berkah “63
Dan pada sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“ Kalian tidak mengetahui dimanakah turunnya “ , maknanya – wallahu
a’lam – bahwa makanan yang berada dihadapan seseorang mengandung
berkah, dan dia tidaklah mengetahui apakah berkar itu yang dimakannya
ataukah yang tersisa dijari-jarinya atau yang tersisa dibagian bawah piring
ataukah pada butiran makanan yang terjatuh. Maka sepatutnyalah seseorang
menjaga hal ini semuanya agar dia mendapatkan berkah. Dan asal suatu
berkah adalah tambahan dan kebaikan yang selalu ada serta senantiasa
dirasakannya. Dan yang dimaksud disini –wallahu a’lam – adalah yang
dapat mengenyangkan dan akhirnya memberi keselamatan dari segala
gangguan dan memperkuat ketaatan kepada Allah dan lain sebagainya,
sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi64.

10. Disenangi mengambil butiran yang terjatuh, membasuh yang


menempel padanya lalu memakannya.
Dijelaskan pada hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau
berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Apabila butiran makanan seseorang diantara kalian terjatuh, hendaknya dia
mengambilnya, lalu membersihkan kotoran yang menempel kemudian
memakannya dan jangan dia membiarkannya sebagai makanan syaithan …
al-hadits “ Pada riwayat lainnya :
“ Sesungguhnya syaithan ikut menghadiri makanannya. Maka apabila salah
seorang diantara kalian terjatuh makanannya maka hendaknya dia
membersihkan kotoran yang menempel padanya kemudian memakannya
dan tidak menyisakannya untuk syaithan. Dan apabila dia telah

63
HR. Muslim ( 2033 ) dan lafazh hadits diatas adlah lafazh beliau, Ahmad
( 13809 ), dan Ibnu Majah ( 3270 ).
64
Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 172 )
menyelesaikan makannya hendaknya dia menjilat tangannya karena
sesungguhnya dia tidak mengetahui makanan manakah yang ada berkahnya
“65
Pada hadits ini ada beberapa faedah diantaranya :
Bahwa syaithan selalu mengawasi manusia dan mengiringinya dan berusaha
untuk mempengaruhinya. Dan berupaya untuk berkumpul dengan manusia
hingga disaat makan dan minum.
Diantaranya pula bahwa menghilangkan kotoran yang menempel baik
berupa tanah dan selainnya pada makanan yang terjatuh kemudian
memakannya dan pengharaman syaithan dari makanan tersebut, karena
syaithan adalah musuh, dan seorang musuh seharusnya di jauhkan dan
berlindung darinya.
Diantaranya, bahwa berkah makanan bisa jadi ada pada makanan yang
terjatuh makan janganlah melalaikannya.
Diantaranya : Sesungguhnya syaithan hadir dan selalu menyertai manusia,
dan akal tidak punya hak untuk mengingkari kehadiran syaithan
sebagaimana yang disangkakan oleh orang-orang yang memiliki akal yang
sakit.

11. Larangan mengambil dua kurma bersamaan


Larangan ini berlaku bagi jama’ah, bukan bagi yang makan sendiri. Dan
tentang hal ini ada beberapa hadits yang shahih.
Diantaranya dari jalan Syu’bah dari Jabalah, beliau berkata : Kami pernah
berada di Madinah bersama dengan beberapa penduduk Irak, dan paceklik
telah menimpa kami. Maka Ibnu Az-Zubair memberi kami rizki berupa
kurma. Dan Ibnu Umar melintasi kami lalu berkata “ Sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang mengambil

65
HR. Muslim ( 2033 ) dan Ahmad ( 14218 )
bersamaan lebih dari satu, kecuali seseorang diantara kalian telah meminta
izin kepada saudaranya “66
Ibnul Jauzi didalam Al-Musykil berkata : “ Adapun hukum hadits tersebut,
bahwa hukum ini berlaku pada jama’ah beberapa orang. Dan kebiasaan yang
berlaku adalah mengambil kurma satu persatu. Apabila seseorang
mengambil bersamaan maka akan menjadikan jatah mereka berkurang dan
akan mempengaruhi mereka, olehnya itu dibutuhkan izin dari mereka. “67
Larangan pada hadits ini dapat menunjukkan pengharaman dan juga dapat
berarti suatu yang makruh, dan masing-masingnya telah dinyatakan oleh
ulama. An-Nawawi berpendapat bahwa perlu ada detail pada masalah ini,
beliau mengatakan : “ Yang benar perlu diperinci, apabila makan tersebut
mereka diantara mereka bersamaan, maka mengambil lebih dari satu
bersamaan hukumnya haram, kecuali jikalau mereka meridhainya, dan ini
dengan dapat dengan pernyataan mereka yang jelas, atau yang sederajat
dengan pernyataan tersebut baik berupa indikasi keadaan atau isyarat dari
mereka semuanya, dimana dapat diketahui dengan pasti atau dengan
persangkaan yang kuat bahwa meeka meridhainya. Kapan dia ragu atas
keridhaan mereka, maka hukumnya haram. Dan apabila makanan tersebut
untuk selain mereka atau untuk salah seorang diantara mereka mesti
disyaratkan keridhaannya sendiri, apabila dia mengambilnya tanpa
keridhaannya maka hukumnya haram. Dan disenangi untuk meminta izin
kepada orang-orang yang menyertainya makan namun tidaklah wajib. Dan
apabila makanan tersebut untuk dirinya sendiri dan dia menjamu mereka
sebagai tamu maka tidaklah diharamkan mengambil lebih dari satu
bersamaan. Kemudian apabila makanan tersebut jumlahnya sedikit maka
66
HR. Al-Bukhari ( 2455 ), Muslim ( 2045 ), Ahmad ( 5017 ), At-Tirmidzi ( 1814
), Abu Daud ( 3834 ), Ibnu Majah ( 3331 ). Sabda beliau : “ Kecuali seseorang
diantara kalian meminta izin kepada saudaranya “ Syu’bah berkata : Saya
tidak mengetahui kecuali kalimat ini berasal dari perkataan Ibnu Umar, yaitu
perkataan “ meminta izin “. Lihat riwayat Muslim dan Ahmad tentang hadits
ini.
67
Kasyful Musykil min Hadits Ash-Shahihain ( 2 / 565_ no. ( 1165 )
disukai untuk tidak mengambil lebih dari satu bersamaan, karena hanya
mencukupi mereka. Dan apabila jumlahnya banyak, dimana melebihi jumlah
mereka maka tidak mengapa mengambil lebih dari satu sekaligus. Akan
tetapi adab yang berlaku secara mutlak dan kesopanan dalam makan dan
meninggalkan sikap rakus kecuali jikalau dalam keadaan tergesa-gesa dan
semakin terburu-buru lagi jika ada pekerjaan yang lain68.
Masalah : Apakah jenis-jenis makanan lainnya yang dapat diambil satu
persatu dapat dianalogikan dengan kurma ?
Jawab : Iya, dapat dianalogikan kepada kurma, apabila kebiasaan yang
berlaku makanan tersebut diambil satu demi satu. Ibnu Taimiyah
mengatakan ; “ Dan dapat dianalogikan larangan mengambil sekaligus lebih
dari satu semua makanan yang kebiasaannya diambil satu persatu”69

12. Disenangi memakan suatu makanan setelah tidak panas lagi.


Dari Asma` binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma, apabila beliau membuat
tsariid – sejenis makanan – belaiu menutupnya dengan sesuatu hingga tidak
mendidih, lalu beliau berkata : Sesungguhnya saya telah mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Sesungguhnya yang demikian itu lebih besar berkahnya “70
Abu Hurairah radhgiallahu ‘anhu berkata : “ Tidaklah menyantap makanan
hingga panasnya hilang “71
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyantap makanan disaat
makanan itu sangat panas. Ibnul Qayyim72mengatakan : Dan makna yang
paling tepat dengan kalimat berkah pada padist ini adalah yang dapat
mengenyangkan dan selamat dari sakit yang timbul diakhirnya, dan
68
Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 190 )
69
Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 158 )
70
HR. Ad-Darimi ( 2047 ), al-Albani memasukkan hadits ini didalam Silsilah
Ash-Shahihah no. ( 392 ) dan Ahmad ( 26418 ).
71
Al-Albani mengatakan didalam Irwa’ Al-Ghalil ( 1978 ) : Shahih,
diriwayatkan oleh Al-Baihaqi ( 7 / 2580 )
72
Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 233 ).
menguatkan ketaatan kepada Allah dan lain sebagainya. Sebagaimana yang
dikatakan oleh An-Nawawi73

13. Larangan mencela makanan dan menghinanya


Disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :
“ Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela makanan
sekalipun juga. Apabila beliau menghendaki suatu makanan maka beliau
akan memakannya dan apabila beliau tidak menyukainya maka beliau
meninggalkannya “74
Mencela makanan seperti dengan mengatakan : Terlalu asin, atau kurang
asin, kecut, tipis, keras, kurang matang, dan lain sebagainya, sebagaimana
diaktakan oleh An-Nawawi75
Dansebab larangan itu, dikarenakan makanan adalah ciptaan Allah yang
tidak boleh dicela. Dan ada alasan lainnya yaitu bahwa mencela makanan
akan menyakiti perasaan pembuat makanan hingga dia bersedih dan
tersinggung, dikarenakan dialah yang mempersiapkan dan menyajikannya.
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup pintu ini agar jangan rasa
sedih mendapati pintu untuk masuk kedalam hati seorang muslim Dan
Syariat Islam selalu datang dengan hal serupa ini.
Masalah : Apakah hadits ini bertentangan dengan keengganan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dhabb – kadal gurun -76. Dan apakah
sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dhabb yakni : “ Saya
merasa kasihan kepadanya ‘ dan dalam riwayat lainnya : “ Daging serupa ini
saya tidak makan sama sekali “, tergolong mencela makanan ?

73
Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 172 )
74
HR. Al-Bukhari ( 5409 ) , Muslim ( 2064 ), ahmad ( 9882 ), At-Tirmidzi ( 2031
), Abu Daud ( 3763 ), Ibnu Majah ( 3259 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-
Sunnah ( 2843 ).
75
Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 22 )
76
HR. Al-Bukhari ( 5537 ), Muslim ( 1946 ), Ahmad ( 6678 ), An-Nasa`I
( 4316 ), Abu Daud ( 3794 ), Ibnu Majah ( 3241 ) , Malik ( 1805 ) dan Ad-
Darimi (2087 ).
Jawab : Bahwa tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut. Dan
perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dhabb tidak tergolong
mencela makanan. Melainkan pemberitahuan sebab mengapa beliau tidak
memakannya. Yaitu bahwa beliau tidak menyukai makan jenis ini dan
bukan kebiasaan beliau memakannya. An-Nawawi mengatakan : “ Adapun
hadits bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan memakan
dhabb bukan termasuk dalam kategori mencela makanan, melainkan
merupakan pemberitahuan bahwa ini adalah makan yang spesifik yang
beliau tidak menyukainya77

14. Hukum minum dan makan sambil berdiri


Para ulama berbeda persepsi tentang hukum mnum sambil berdiri. Dan
perbedaan persepsi diantara mereka bermuara pada sejumlah hadits-hadits
yang shahih yang secara zhahirnya bertentangan. Sebagian diantara hadits-
hadits tersebut menerangkan larangan minum berdiri sedangkan sebagian
lainnya adalah sebaliknya. Dan kami akan melampirkan sebagian
diantaranya :
1. Anas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan , bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam melarang minum sambil berdiri “. Dan pada riwayat lainnya :
“ Melarang seseorang minum sambil berdiri “78
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhialahu ‘anhu beliau berkata : “ Bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari minum sambil berdiri “79
3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Dan janganlah sekali-kali salah

77
Syarh Muslim jilid 7( 14 / 22 )
78
HR. Muslim ( 2024 ), Ahmad ( 11770 ), At-Tirmidzi ( 1879 ), Abu Daud
( 3717 ), Ibnu Majah ( 3424) dan Ad-Darimi ( 2127 ).
79
HR. Muslim ( 2025 ),ahmad ( 10885 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-
Sunnah ( 3045 )
seorang diantara kalian minm smabil berdiri, barang siapa yang lupa
maka hendaknya dia memuntahkannya “80
Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya minum sambil berdiri :
1. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Saya menuangkan
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari air zam-zam, lalu
beliau minum sambil berdiri “81
2. Dari An-Nazzal, beliau berkata : “ Ali radhiallahu ‘anhu datang menuju
pintu Ar-Rahbah, lalu beliau minum sambil berdiri. Beliau berkata :
Sesungguhnya beberapa orang tidak menyukai salah seorang diantara
mereka minum sambil berdiri. Dan sesungguhnya saya telah melihat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya sebagaimana
kalian telah melihatku melakukannya “ pada lafazh riwayat Ahmad : “
beliau berkata : Bagaimana pendapat kalian jika saya minum sambil
berdiri, karena sesungguhnya saya telah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam minum sambil berdiri. Dan jika saya minum sambil duduk,
sesungguhnya saya tleah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
minum sambil duduk “82
3. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Kami dizaman
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan kami
makan sambil berjalan “83
4. Atsar dari Aisyah, Sa’ad bin Abu Waqqash, bahwa mereka berdua
membolehkan seseorang minum sambil berdiri. Ibnu Umar dan Ibnu Az-
Zubair juga terlihat minum sambil berdiri84.
Berdasarkan hadits-hadits ini yang secara kontekstual kontradiktif dengan
selainnya, ulama berselisih dalam menerangkan hukumnya. Pendapat yang
80
HR. Muslim ( 2026 ), Ahmad ( 8135 ), tanpa sabda beliau : “ hendaknya dia
memuntahkannya “.
81
HR. Al-bukhari ( 1637 ), Muslim ( 2027 ), Ahmad ( 1841 ), At-Tirmidzi ( 1882
), An-Nasa`I ( 2964 ) dan Ibnu Majah ( 322 ).
82
HR. Al-Bukhari ( 5615 ), Ahmad ( 797 (, An-Nasa`i ( 130 ) dan Abu Daud ( 3718 )
83
HR. Ahmad ( 4587 ), Ibnu Majah ( 3301 ), Al-Albani menshahihkannya ( 3364 ), Ad-Darimi ( 2125 )
84
Al-Muwaththa’ ( 1720, 1721, 1722 )
paling tepat menurutku adalah yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah didalam
Fatawa beliau, beliau mengatakan : “ Akan tetapi menyelaraskan hadits-haits
tersebut dengan menyatakan adanya keringanan di saat mempunyai udzur.
Hadits-hadits larangan minum berdiri yang berada didalam As-Shahih seperti: “
Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri “,
hadits yang diriwayatkan oleh Qatadh dari Anas : “ bahwa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melarang minum smbil berdiri “. Qatadah berkata : Bagaimana
dengan makan ? Beliau berkata : Hal itu lebih buruk dan jelek.
Sedangkan hadits-hadits yang memberi keringanan, semisal hadits yang
diriwayatkan didalam Ash-Shahihain dari Ali dan Ibnu Abbas , beliau berkata ; “
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam minum air zam-zam sambil berdiri .“ Dan
yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ali : Bahwasanya Ali berada di tanah
lapang yang berpasir dan dia minum dalam keadaan berdiri, kemudian beliau
berkata : Sesungguhn ya manusia dimakruhkan minum sambil berdiri, dan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammelukukan seperti apa yang aku
lakukan. Dan hadits Ali ini telah diriwayatkan padanya ada atsar bahwasanya
Rasulullah melakukan hal itu saat minum air zam-zam, sebagaimana datang
pada hadits Ibnu ‘Abbas, hal ini adalah ketika berhaji, dan orang-orang disana
melaksanakan thawaf dan minum dari air zam-zam, mereka mengambil air serta
meminta minum darinya, dan tidak ada tempat untuk duduk , bersamaan
dengan ini beliau lakukan selang waktu sedikit sebelum beliau meninggal,
jadilah hal ini dan yang semisalnya dikecualikan dari hal tersebut sebagai
larangan. Dan hal ini datang dari perkara syariat : Bahwa larangan dari sesuatu
diperbolehkan ketika ada hajat, bahkan dia lebih ditekankan hukum
pembolehannya dari sekedar dibolehkan ketika ada hajat, bahkan pula perkara
haram yang diharamkan dia dimakan dan diminum, seperti bangkai dan darah
yang diperbolehkan dalam keadaan darurat.85

85
Al-Fatawa ( 32/209-210)
15. Tidak disenangi bernafas dalam bejana dan meniup padanya.
Termasuk adab-adab ketika minum adalah seorang yang minum sebaiknya
tidak bernafas dalam bejana dan tidak pula meniupnya, padanya ada hadits-
hadits yang shahih, diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari
hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : Apabila salah seorag diantara kalian minum maka janganlah dia
bernafas dalam bejana …Al-Hadist.86Dan diantaranya pula hadits Ibnu
‘Abbas : Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang
bernafas dalam bejana dan meniupnya.87Larangan bernafas dalam bejana ini
adalah salah satu adab yang mana ditakuti akan mengotorinya dan
menjadikan bau busuk serta terjatuhnya sesuatu dari mulut dan hidung
padabejana dan sejenisnya, Hal ini adalah pendapat Imam An-Nawawi.88
Adapun meniup minuman, maka padanya akan diperoleh dari mulut yang
meniup bau yang tidak sedap yang memuakkan karenanya. Terlebih lagi jika
yang minum bergantian dan berbilang, maka nafas-nafas yang meminum
akan mencampur-adukkannya, oleh karena itu Rasulullah menggabungkan
antara larangan dari bernafas dalam bejana dan meniupnya, demikianlah
pendapat Ibnu Al-Qayyim.89
16. Disenangi mengambil nafas sebanyak tiga kali ketika minum, dan
bolehnya minum dengan sekali tegukan
Disebutkan didalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata
: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya mengambil nafas
sebanyak tiga kali sewaktu minum, dan beliau bersabda :

86
HR. Al-Bukhari ( 5630 ), Muslim ( 267 ), Ahmad ( 22059 ), At-Tirmidzi ( 1889
), An-Nasa`i (47), dan Abu Daud ( 31 ).
87
HR. At-Tirmidzi ( 1888 ), dan beliau berkata : Hadits hasan shahih,Dan HR.
Abu Daud ( 3728 ), dan syaikh Al-Albani menshahihkannya, HR. Ibnu Majah
( 3429 ) tanpa penyebutan at-tanaffus.
88
Syarh Shahih Muslim jilid kedua ( 3/130)
89
Zaadu Al-Ma’aad ( 4/235).
“ Sesungguhnya hal ini akan lebih menghilangkan rasa dahaga, lebih
menjaga dan lebih bermanfaat “ Anas berkata : Maka saya mengambil nafas
tiga kali ketika minum “90
Yang dimaksud dengan mengambil nafas ketika minum sebanyak tiga
kali adalah dengan menjauhkan bejana air dari mulut sipeminum, lalu dia
mengambil nafas tiga kali, karena mengambil nafas dibejana suatu yang
dilarang.
Dan diperbolehkan meminum dengan sekali tegukan dan bukan suatu yang
makruh. Dan ini ditunjukkan pada hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu
‘anhu, bahwa beliau mengunjungi Marwan bin Al-Hakam, dan dia berkata
kepadanya : “ Apakah anda telah mendengar jikalau Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah melarang menghembuskan nafas didalam bejana air ?
Abu Sa’id berkata : Benar. Maka seseorang berkata : Wahai Rasulullah
sesungguhnya dahafa saya tidak hilang hanya dengan sekali tegukan. Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda : “ Jauhkanlah cerek air dari
mulutmu kemudian ambillah nafas “. Orang itu berkata : Namun
sesungguhnya saya melihat ada kotoran pada cerek tersebut . Beliau
bersabda : “ Maka buanglah “91
Malik mengatakan : “ tidak mengapa seseorang minum hanya dengan
sekali mengambil nafas. Dan saya berpendapat ini adalah
rukhshah/keringanan dari penjelasan yang ada pada hadits : “
Sesungguhnya dahaga saya tidaklah hilang hanya dengan sekali mengambil
nafas “92

90
HR. Al-Bukhari ( 45631 ), Muslim ( 2028 ) dan lafazh diatas adalah lafazh
riwayat Muslim , Ahmad ( 11776 ), At-Tirmidzi ( 1884 ), Ibnu Majah ( 3416 ),
dan Ad-Darimi ( 2120 ), Ibnu Majah dan At-Tirmidzi tidak menyebutkan
potongan kedua yang ada pada hadits tersebut.
91
HR. At-Tirmidzi ( 1887 ), danbeliau berkata : hadits ini hadits hasan shahih ,
ahmad ( 10819 ), Malik ( 1718 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat Malik,
dan Ad-Darimi ( 2121 ).
92
At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr ( 1 / 392 )
Syaikhul Islam mengatakan : “ Hadits ini merupakan dalil – hadits diatas –
bahwa sekiranya rasa dahaganya telah hilang hanya dengan sekali
mengambil nafas dan tidak lagi butuh untuk mengambil nafas, maka hal
tersebut diperbolehkan. Dan saya tidak mengetahuiada imam yang
mewajibkan mengambil nafas tiga kali, dan mengharamkan minum hanya
dengan sekali tegukan “93

17. Makruh minum dimulut bejana/cerek air


Tentang permasalahan ini ada beberapa hadits yang shahih. Dari abu
Hurairah radhiallahu ‘anha beliau berkaa : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah melarang minum dimulut al-qirbah – sejenis botol penyimpan
air dari kulit – dan cerek, dan melarang tetangganya menancapkan kayu
didindingnya “94
Dan dari Ibnu Abbas – radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang minum dimulut
bejana “95
Pada kedua hadits tersebut berisikan larangan yang sangat jelas dari minum
dimulut al-qirbah dan cerek. Dan yang semestinya adalah dengan
menuangkan minuman tersebut ketempat air lalu minum darinya. Larangan
ini oleh sebagian ulama memahaminya sebagai suatu larangan, dan sebagian
lainnya menganggapnya hanya sebatas makruh, dan ini merupakan
pendapat mayoritas ulama. Diatara mereka menjadikan hadits-hadits

93
Al-Fatawa ( 32 / 209 )
94
HR. Al-Bukhari ( 5627 ), Ahmad ( 7113 ) tanpa penggalan kedua hadits
diatas. Dan Ahmad meriwayatkan penggalan kedua hadits diatas pada
riwayat lainnya. Juga diriwayatkan oleh Muslim ( 1609 ), At-Tirmidzi ( 1353 ),
Abu Daud ( 3634 ), Ibnu Majah ( 2335 ), Malik ( 1462 ) dan kesemuanya
menyebutkan penggalan kedua dari hadits diatas selain pengglan yang
pertama.
95
HR. Al-Bukhari ( 5629 ), ahmad ( 1990 ), At-Tirmidzi ( 1825 ), An-Nasa`I
( 4448 ), abu Daud ( 3719 ), ibnu Majah ( 3421 ) dan Ad-Darimi ( 2117 ).
larangan sebagai nasikh – yang menghapuskan hukum – hadits-hadits yang
membolehkan96.
Para ulama menyebutkan beberapa kandungan hikmah yang menyebabkan
larangan ini, dan kami akan menyebutkan sebagian diantaranya :
Seringnya nafas orang yang minum melalui mulut cerek akan menyebabkan
bau busuk dan tidak sedap yang akan menjadikan perasan muak.
Dan juga terkadang didalam qirbah atau cerek ada serangga atau hewan
atau kotoran atau selainnya yang tidak disadari oleh yang minum, lalu
masuk kedalam kerongkongannya dan menimbulkan mudharat kepadanya.
Diantaranya terkadang air akan bercampur dengan liur yang minum yang
menjadikan orang lain merasa jijik97.
Terkadang liur dan nafas yang minum akan menyebabkan penyakit kepada
orang lain, dimana meurut para pakar kedokteran bahwa bibit penyakit bisa
saja berpindah melalui liur dan nafas.
Masalah : Telah shahih, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam minum
dari mulut qirbah yang tergantung. Maka Bagaimanakah menyesuaikan
perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan pemboleha
minum dimulut qirbah dengan larangan beliau dari ucapannya ?
Jawab : Ibnu Hajar mengatakan : “ Syaikh kami didalam Syarh At-Tirmidzi
mengatakan : Sekiranya dibedakan apabila dalam keadaan yang ada udzur,
seperti misalnya qirbah yang tergantung, dan seseorang yang butuh untuk
minum tidak mendapatkan wadah dan tidak mampu untuk menjangkau
dengan tangannya, maka pada keadaan tersebut tidaklah makruh, dan
kepada keadaan itulah, hadits-hadits yang telah disebutkan diatas tersebut
dipahami. Dan antara seseorang yang tidak mempunyai udzur, maka hadits-
hadits larangan dipahami pada keadaan ini. “

96
Lihat : Fathul Bari ( 10 / 94 )
97
Lihat : Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 233 ), Fathul Bari ( 10 / 94 ) dan Al-Adab Asy-
Syar’iyah ( 3 / 166 )
Saya – yang berkata adalah Ibnu Hajar – “ Dan pendapat tersebut dikuatkan
pula, bahwa hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan semuanya
menunjukkan bahwa qirbah tersebut dalam keadaan tergantung, dan minum
dari qirbah yang tergantung lebih khusus daris ekedar minum dari qirbah.
Dan tidak ada argumen dari hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan
secara mutlak, melainkan hanya pada keadaan ini saja. Dan memahami
pembolehan tersebut pada keadaan darurat sebagai upaya menyelaraskan
kedua hadits tersebut lebih utama dari pada menggiringnya sebagai nasikh ,
Wallahu a’lam98

18. Disenangi bagi seorang yang menuang minuman, sebagai orang


terakhir yang minum
Dalil akan masalah itu adalah hadits Qatadah radhiallahu ‘anhu yang
panjang : “ … Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuang
minuman kepada wadah mereka hingga tidak ada lagi yang tersisa selain
saya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berkata :
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuangkan kepadaku,
dan berkata : Minumlah. Saya berkata : Saya tidak minum hingga anda
minum wahai Rasulullah . Beliau bersabda :
“ Sesungguhnya yang menuangkan minum adalah yang palingterakhir
minum”
Beliau berkata : Maka sayapun minum dan Rasulullah kemudian juga minum
… al-hadits “99
Penunjukan pada hadits ini sangatlah jelas, bahwa yang bertanggung jawab
menuangkan minum kepada suatu kaum , maka dia mendahulukan mereka

98
Fathul Bari ( 10 / 94 )
99
HR. Muslim ( 681 ), Ahmad ( 22040 ), At-Tirmidzi ( 1894 ), Ibnu Majah
( 3434 ), Ad-Darimi ( 2135 ), sebagianya meriwayatkan secara panjang dan
sebagian hanya meringkas pada lafazh syahid saja. Dan sebagian lagi
meriwayatkannya dengan kedua lafazh tersebut
dari dirinya sendiri, dan dia adalah orang yang paling akhir minum, untuk
meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

19. Disenangi berbicara ketika menghadapi makanan


Sebagai bentuk penyelisihan akan kebiasaan orang asing, dimana mereka
tidak berbicara sama sekali ketika makan100.
Ibnu Muflih mengatakan : “ Ishaq bin Rahawaih mengatakan , saya pernah
sekali waktu makan malam bersama Abu Abdillah ( Ahmad bin Hanbal ) dan
beberapa kerabat beliau. Dan kami tidak berbicara sedikitpun sementara
beliau makan dan mengatakan : Alhamdulillah, bismillah, kemudian beliau
mengatakan : Makan, memuja lebih baik dari pada makan smabil berdiam
diri. Dan saya tidak menjumpai dari Imam Ahmad yang menyelisihi riwayat
ini dengan penyelisihan yang jelas. Dan juga kami tidak menjumpai riwayat
tersebut pada mayoritas perkataan para ulama Hanabilah. Zhahirnya Imam
ahmad rahimahullah mengikuti atsar dalam perkataan beliau itu, karena
diantara jalan dan kebiasaan beliau adalah memfokuskan pada ittiba’ atsar101.

20. Disenangi makan berjam’ah


Diantara adab kenabian, adalah disukainya makan sabil berjama’ah –
bersama-sama -, dan makan berjama’ah ini adalah sebab diliputinya
makanan tersebut dengan berkah. Setiap kali jumlah yang makan bertambah
maka berkahnya akan bertambah. Pada hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu
‘anhuma, beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda :

100
Lihat : Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali ( 2 / 11 ), Daar Al-Hadist cet. 1
1412 H
101
Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 163 )
“ Makanan untuk seorang cukup untuk dua orang, makanan dua orang
cukup untuk empat orang dan makanan empat orang cukup untuk delapan
orang “102
Ibnu Hajar mengatakan : “ Pad riwayat Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Umar,
berisi tuntunan akan sebab dari hal itu, dimana pertamanya :
“ Makanlah kalian semua berjam’ah dan janganlah kalian bercerai berai,
karena sesungguhnya makanan untuk seseorang akan mencukupi dua orang
“ al-hadits.
Dapat diambil faedah dari hadist ini bahwa kecukupan adalah hasil yang
muncul sebagai akibat makan berjama’ah. Dan jumlah yang makan ketika
semakin banyak akan berkahnya semakin bertambah “103
Dari Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata : Para
sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : Wahai
rAsululah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang. Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Mungkin kalian makan sambil
tercerai berai. Mereka mengatakan : Benar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
“ Berkumpullah kalian pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah
niscaya makan kalian akan diberkahi”104

21. Dibenci rakus dalam makan dan juga sedikit karena akan melemahkan
tubuh
Rakus dalam mengambil makanan akan menyebabkan tubuh menjadi sakit,
dan akan menyebabkannya tersebrang banyak penyakit, dan juga akan
menyebabkan tubuh terasa penat dan malas, sehingga terasa berat untuk

102
HR. Msulim ) 2059 ), Ahmad ( 13810 )At-Tirmidzi ( 1820 ), Ibnu Majah
( 3254 ) dan Ad-Darimi ( 2044 ).
103
Fathul Bari ( 9 / 446 )
104
Hr. Abu Daud ( 3764 ) Al-Albani menshahihkannya, ( Ahmad ( 15648 ) dan
Ibnu Majah ( 3286 )
mengerjakan amal-amal ketaatan. Dan juga akan mewariskan hati yang kera
– semoga Allah melindungi kita dari hal itu -.
Dan sebaliknya, sedikit makan juga akan melemahkan tubuh dan akan
melemahkannya dari ketaatan kepada Allah. Dan kami tidak menjumpai ada
obat yang majur sebagaimana obat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
seandainya kita meneladani beliau, tentula kita tidap perlu beroba tkedokter
pada sebagian besar keberadaan kita.
Dari Miqdam bin Ma’diy karib, beliau merkata : Saya telah mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ tidaklah seorang anak Adam memenuhi penampang kejelekan selain
perutnya. Cukuplah makanan bani Adam itu untuk menegakkan tulang
belakangnya, jikalau memang harus, maka sepertiga untuk makananya,
sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya “105
Dan para Ulama As-Salaf pada persoalan ini ada beberapa anggapan,
yang bagus untuk kita ketahui. Ibnu Muflih mengatkan : ibnu Abdil Barr dan
yang lainnya menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khaththab suatu hari
khutbah, dan mengatakan: “ Hati-hatilah kalian dengan – pemenuhan –
perut kalian, karena akan menjadikan malas menuju shalat, dan menjadi
penyakit bagi tubuh. Dan wajib bagi kalian untuk berlaku pertengahan
dalam makanan kalian, karena sesungguhnya hal tersebut akan menjauhkan
kalian dari kufur nikmat dan akan enyehatkan bagi badan dan akan
menguatkan kalian untuk beribadah. Dan sesungguhnya seseorang tidak
akan celaka hingga syahwatnya mempengaruhi agamanya “.
Ali radhiallahu ‘anhu mengatakan : “ lambung adalah telag abagi tubuh, dan
setiap usus bermuara kepadanya dan darinya. Apabila lambung itu sehat,
maka usus yang bermuara darinya akan sehat. Dan apabila lambung sakit
maka usus yang bermuara darinya akan sakit “.
105
HR. At-Tirmidzi ( 2380 ), dan beliau mengatakan : Hadits ini hasan shahih,
Ahmad ( 16735 ), Ibnu Majah ( 3349 ) dan Al-Albani menshahihkannya
( 2720 ).
Al-Fadhl bin ‘Iyadh mengatakan : “ Ada dua hal yang akan mengeraskan hati
: Banyak berbicara dan banyak makan “.
Al-Khallal meriwayatkan didalam Jami’ beliau dari Ahmad, bahwa beliau
berkata : “Ada yang bertanya kepada beliau : Mereka inilah orang-orang
yang makan sedikit dan sedikit menghidangkan makanan ? Beliau
mengatakan : Tidaklah mengherankan aku ! Saya telah mendengar
Abdurrahman bin Mahdi mengatakan : Suatu kaum melakukan hal
demikian, maka menjadikan mereka terputus dari ibadah yang wajib “106

22. Dilarang duduk dimeja yang dihidangkan khamar


Berkaitan dengan hal tersebut diriwayatkan dari hadits Uma rbin al-
Khaththab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam melarang dua hidangan makanan. Duduk dimeja yang ada
khamar diminum, dan seseorang yang makan sambil telungkup diatas
perutnya “107
Dan pada riwayat Ahmad108 dengan lafazh : “ Barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir , maka janganlah dia duduk di meja yang
terhidang khamar diatasnya … al-hadits “
Dan hadits tersebut dengan sangat jelas menerangkan larangan, dan sebabdari
larangan itu, bahwa duduk dengan adanya kemungkaran itu menyiratkan
keridhaan dan pembenaran terhadapnya109

106
Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 183, 184 dan 185 ) dengan beberapa
pendahuluan dan pengakhiran.
107
HR. Abu Daud ( 3774 ) dan Al-Albani menshahihkannya, Ibnu Majah
( 3370 ) tanpa menyebutkan penggalan yang pertama dari hadits diatas.
108
Dari jalan yang lainnya ( 14241 ), dan riwayat ini juga diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi ( 2801 ) dan Ad-Darimi ( 2092 )
109
Lihat : ‘Aun Al-Ma’bud jilid 5 ( 10 / 178 )