Anda di halaman 1dari 37

Status Gizi Pada Pasien ASD

PRESENTASI KASUS

STATUS GIZI PADA PENDERITA ASD

Tutor : dr. Huinny Tjokrohusodo, Sp.A Moderator : dr. D. F. Amirani, Sp.A Disusun Oleh: Irvan Kurniawan 1102007153 FK YARSI Dipresentasikan Tanggal : Kamis, 29 November 2012 KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK PERIODE 22 OKTOBER 29 DESEMBER RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO DITKESAD JAKARTA 2012

Status Gizi Pada Pasien ASD

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa menganugerahkan kesehatan dan keselamatan. Dengan nikmat itulah pada akhirnya penulis mampu menyelesaikan presentasi kasus yang berjudul Status Gizi Pada Penderita Arterial Septal Defect dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto DITKESAD. Dalam penyusunan presentasi kasus ini, penulis memperoleh bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. dr. Huinny Tjokrohusodo,Sp.A sebagai tutor penulis dalam penyusunan presentasi kasus ini 2. dr.D.F.Amirani,Sp.A sebagai moderator penulis dalam presentasi kasus ini 3. Kedua orang tua penulis yang senantiasa mendoakan dan memberikan semangat setiap saat kepada penulis 4. dr.Diana, dr.Novita D, dr.Amalia, dr.Fenny, dr.Vanda serta dr.Novita yang telah meluangkan waktunya untuk membagi ilmu kepada penulis 5. Seluruh teman-teman Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak periode, semoga kita semua mendapatkan hasil yang maksimal atas usaha kita Penulis berharap agar presentasi kasus ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh setiap orang yang membaca dan dapat menjadi bekal dalam praktek klinik nanti. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan presentasi kasus ini, oleh karena itu penyusun mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya dan sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Jakarta, November 2012

Penulis

Status Gizi Pada Pasien ASD

BAB I IDENTITAS PASIEN

Identitas pasien Nama Pasien Jenis Kelamin Alamat Tempat/ Tanggal Lahir Usia Tanggal masuk RS No.Rekam Medik Orang Tua Ayah Nama Pekerjaan Pangkat Ibu Nama Pekerjaan : Ny.BI :Ibu Rumah Tangga : Tn.S : Prajurit TNI AD : KAPTEN : An. SAS : Perempuan : RT 19/07 Maulafa Kota Kupang, NTT : Kupang, 25 Februari 2012 : 7 bulan 2 hari : 27 September 2012, pukul 15.25 WIB : 39.97.07

Hubungan Dengan Orang Tua : Anak Kandung

ANAMNESIS (Alloanamnesis dengan ibu pasien 30 Oktober 2012, pukul 15.00 WIB)

Status Gizi Pada Pasien ASD

Keluhan Utama : Sesak Keluhan Tambahan : Berat badan tidak naik Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien Rujukan dari RS Tk IV Kupang masuk ke IGD RSPAD dengan keluhan sesak berulang. Keluhan sesak disertai kesulitan pada saat menyusu disadari ibu pasien ketika pasien berumur 1 bulan, ibu pasien mengatakan anaknya menetek hanya sebentar lalu setelah menetek nafas pasien menjadi cepat dan pasien terlihat kecapekan. Keluhan sesak tidak disertai dengan batuk pilek sebelumnya. Riwayat pasien menjadi biru pada sekitar bibir setelah menyusu disangkal orang tua pasien. Riwayat sakit paru berulang seperti batuk yang lama disangkal. Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa besar anaknya tidak sama dengan bayi lain yang seusianya. Ibu pasien juga mengatakan bahwa anaknya seperti tengkorak, yaitu tulang dada yang jelas terlihat, kulit pasien yang keriput tanpa daging. Rambut yang tumbuh sangat halus juga dikeluhkan ibu pasien. Menurut ibu pasien, anaknya selalu ingin minum susu dan selalu lapar. Riwayat kehamilan pada pasien ini disertai dengan tekanan darah yang tinggi dari awal kehamilan, pemeriksaan kehamilan rutin dilakukan. Riwayat kelahiran secara sectio pada usia kehamilan 32-33 minggu karena adanya perdarahan, dilakukan dirumah sakit ditolong oleh dokter. Berat badan lahir 2000 gr dengan panjang badan 48 cm. Riwayat makan dan berat badan pada pasien ini adalah susu formula untuk prematur dari mulai kelahiran pasien sampai usia 17 hari, dengan berat badan masih sama dengan berat lahir pada saat keluar dari perawatan di inkubator. Setelah perawatan 17 hari dalam inkubator, pasien pulang dan mendapatkan asi ditambah dengan susu prematur sampai usia pasien 2 bulan, berat badan pasien saat 2 bulan adalah 2200 gr. Selanjutnya pasien hanya meminum asi penuh dari ibunya. Perkembangan berat badan pada saat pasien berusia 4 bulan adalah 3000 gr dengan panjang badan 52 cm. Memasuki bulan ke 5 pasien masih meminum asi penuh dan didapatkan berat badan pasien 3200 gr. Pada bulan ke 6 berat badan pasien 3500 gr. Pada usia 7 bulan, pasien mengalami batuk pilek dan sesak lalu

Status Gizi Pada Pasien ASD

dibawa ke RST Kupang, berat badan pasien saat masuk RST Kupang 3900 gr. Pasien mendapatkan perawatan selama 3 minggu lalu pasien dirujuk ke RSPAD. Pada saat di RSPAD berat pasien 4000 gr dengan panjang badan 62 cm. Riwayat pemeriksaan di RST Kupang adalah EKG dengan hasil RAD + RVH, dan echocardiogram didapatkan diameter ASD sebesar 0,5 cm.

Penyakit sebelumnya yang ada hubungannya dengan penyakit sekarang : Tidak ada penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan penyakit sekarang Riwayat penyakit dalam keluarga/sekitarnya yang ada hubungannya dengan penyakit sekarang: Tidak ada penyakit dalam keluarga yang berhubungan dengan penyakit sekarang

Pengobatan yang telah diperoleh : MgSO4 (1 cc IM selama 7 hari) F-75 (12 x 45 cc) Vit A 50.000 IU (per-oral)

Keluhan lain yang tidak ada hubungannya dengan penyakit sekarang : Tidak ada keluhan yang tidak berhubungan dengan penyakit sekarang Riwayat Kehamilan : Pasien merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Saat masa kehamilan ibu pasien memiliki riwayat hipertensi. Tidak ada riwayat penyakit jantung dan infeksi. Selama kehamilan ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya tiap trimester. Riwayat Kelahiran : Pasien dilahirkan di rumah sakit dengan pertolongan dokter dengan masa kehamilan 32-33 minggu. Lahir secara caessar atas indikasi perdarahan, bayi tidak langsung menangis, bayi kurang bulan. Berat

Status Gizi Pada Pasien ASD

badan lahir 2000 gr dan panjang lahir 48 cm. Riwayat Perkembangan : Pertumbuhan gigi pertama : Perkembangan psikomotor : Bereaksi terhadap suara/bunyi : 1 bulan Tertawa dan menjerit gembira bila di ajak bermain : 3 bulan Tengkurap dan berbalik sendiri : 7 bulan Dapat duduk sendiri tanpa dibantu : Dapat berdiri sendiri : Berjalan dengan dituntun : Berjalan : Bicara : Membaca dan menulis : Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan pasien baik Riwayat Makanan : UMUR 0-2 bulan ASI/ PASI Merk/ Takaran ASI + PASI 1 sendok 2-4 4-6 6-8 bulan bulan bulan takar untuk 30 cc ASI ASI Umur 6 bulan meminum ASI Buah/ biskuit Bubur susu Nasi Tim -

8-10 bulan 10-12 bulan

Kesan : Secara kualitatif dan kuantitatif kebutuhan makan pasien cukup baik Riwayat Imunisasi Jenis Imunisasi Dasar Ulangan

Status Gizi Pada Pasien ASD

BCG

usia 4 bulan saat usia 5 saat bulan bulan

DPT/ DT

saat usia

usia 6 7 bulan usia bulan

POLIO

bulan

usia 5 usia

6 bulan 7

CAMPAK HEPATITIS B

bulan -

usia

usia 4 usia LAINNYA

5 bulan 7 bulan -

Kesan : Riwayat imunisasi dasar lengkap, jadwal tidak sesuai umur Riwayat imunisasi ulangan tidak lengkap

RIWAYAT KELUARGA : Corak reproduksi ibu : P4A0 No. Tanggal lahir 1. 2. 3. 4. ( umur ) 22-05-1993 22-05-1997 27-11-2002 25-02-2012 Laki-laki Perempuan Perempuan Perempuan Kelamin Hidup Lahir mati Tentara / Sehat SMA Sehat SD / Sehat Pasien / Abortus Mati/sebab Keterangan

Anggota keluarga yang serumah : Tidak ada

Status Gizi Pada Pasien ASD

Perumahan : Milik sendiri Keadaan rumah : Bersih, ventilasi cukup Daerah Lingkungan : Rumah tidak dekat pabrik, ataupun tempat pembuangan sampah

Data orang tua Umur sekarang Perkawinan ke Umur saat menikah Pendidikan terakhir ( tamat/ sampai kelas) Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan Penyakit, bila ada Konsanguinitas

Ayah 50 tahun I 29 tahun SMA ( tamat ) Islam NTT Sehat -

Ibu 41 tahun I 19 tahun SMA ( tamat ) Islam NTT Sehat -

Riwayat Penyakit yang pernah diderita : Tidak ada riwayat alergi yang pernah diderita PEMERIKSAAN FISIK : Dilakukan pada tanggal : 30 Oktober 2012 Pukul 15.00 WIB Keadaan umum Keadaan Kesadaran Status mental Pernapasan Sirkulasi Tanda vital Tekanan darah Frekuensi nadi : tidak dilakukan : 145x/menit : Tampak sakit sedang : Compos mentis : Cengeng dan rewel : Normal : Perabaan kulit hangat, perabaan nadi cukup, regular

Status Gizi Pada Pasien ASD

Frekuensi napas Suhu tubuh

: 42x/menit : 36,5OC

Data antropometri saat ini (Tanggal 30 Oktober 2012, usia setelah koreksi 6 bulan 5 hari) Berat badan Tinggi badan : 5 kg : 64 cm

Perhitungan berdasarkan WHO Growth Chart dilakukan dengan pertimbangan kelahiran pada 32 minggu dan masa koreksi kelahiran sampai usia 40 minggu. Umur saat ini 8 bulan dikurangi masa koreksi 8 minggu/ 2 bulan, sehingga usia perhitungan pada pasien ini pada umur 6 bulan. Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-5 tahun menurut gender perempuan Berat Badan Ideal (BB/U) : BB/U = 5/7,2 x 100 % = 69.44% Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-5 tahun menurut gender perempuan Tinggi Badan Ideal (TB/U) : TB/U = 64/65,5 x 100% = 97.7 % Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-2 tahun menurut gender perempuan (BB/TB) : BB/TB = 5/6.9 x 100 % = 72.4% Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-5 tahun menurut gender perempuan dan berdasarkan Reference Growth Chart Lokakarya Antropometri Depkes 1974 & Puslitbang Gizi 1978 didapatkan : Status Gizi : Status Gizi Kurang

Berdasarkan interpretasi indikator pertumbuhan WHO: Height for age : normal Weight for age : Severely Underweight Weight for height : Severely Wasted BMI for age : Severely Wasted

Status Gizi Pada Pasien ASD

Kebutuhan kalori anak usia 6 bulan dengan berat badan ideal 7,2 kg adalah 864 kkal (berdasarkan RDA kalori)

Status Gizi Pada Pasien ASD

Status Generalis Kepala Bentuk kepala Rambut Kulit Ubun-ubun Wajah Mata Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil bulat, isokor dengan diameter 3mm/3mm, refleks cahaya langsung (+/+), reflex cahaya tidak langsung (+/+) THT Telinga Hidung Tenggorokan Mulut Mukosa bibir tampak lembab, lidah kotor (-), caries dentis (-), stomatitis pada bibir, gusi dan lidah (-) Kelenjar Getah Bening Occipital Retroaurikuler Prearikuler Submandibula Submental Cervical anterior posterior Supraclavikula Axilla Inguinal Thoraks : tidak teraba : tidak teraba : tidak teraba : tidak teraba : tidak teraba : tidak teraba : tidak teraba : tidak teraba : tidak teraba : Normotia, secret (-/-) : Deviasi septum (-), secret (-/-) : Faring hiperemis (-) : Normocephal, deformitas (-) : Rambut sangat halus dan tipis, warna hitam, tumbuh merata : Tidak ada kelainan : Belum menutup : Tampak seperti orang tua

Status Gizi Pada Pasien ASD

Tampak iga menggambang Simetris dalam keadaan statis dan dinamis kanan dan kiri Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Simetris kanan dan kiri : Fremitus vocal kanan=kiri, krepitasi (-) : Tidak dilakukan : Suara napas dasar vesikuler (+/+), suara napas tambahan : Rhonki (-/-), wheezing (-/-) Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus cordis terlihat pada ICS V linea midclavicula sinistra : Iktus cordis teraba di intercostal V linea midclavicula sinistra, tidak kuat angkat : Batas atas : ICS III linea parasternalis sinistra Batas Kanan ; ICS V, IV, III linea sternalis dextra Batas Kiri : ICS IV, V linea midclavicula sinistra Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Hepar Lien Ginjal Lain-lain Perkusi Ekstremitas Superior Inferior : Akral hangat, edema (-/-), CRT< 3 : Akral hangat, edema (-/-) : Datar, darm contour (-), darm steifung (-), sikatrik (-), venektasis (-) : Bising usus (+) Normal, metallic sound (-) : Nyeri tekan (-), turgor baik : Tidak teraba : Tidak teraba : Ballotement renal (-) : Asites (-) : Tympani diseluruh lapang abdomen, nyeri ketok (-) : Bunyi jantung I-II regular, murmur (+), gallop (-)

Status Gizi Pada Pasien ASD

Refleks Fisiologis Patologis : Lutut (+/+) Normal, Tumit (+/+) Normal, Biceps (+/+) Normal, triceps (+/+) Normal : Refleks babinski (+), Refleks Oppenheim (+), Refleks Chaddock (+), Refleks Gordon (+) Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium Tanggal 28-09-2012 Jenis Pemeriksaan Hematologi Lengkap Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit Hitung Jenis: Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit MCV MCH MCHC RDW Jenis Pemeriksaan Hematologi Lengkap 0 5* 4 44* 45* 2 73* 25* 34 15.40* 0 4* 2 50 36 8 74* 25* 33 15.60* Hasil
15-10-2012 22-10-2012

Hasil
28-09-2012 08-10-2012

Nilai Rujukan

12,1 36* 4,9 12640* 310000

11.6* 35* 4,7 15480* 416000*

12-16 g/dl 37-47 % 4,3-6,0 juta/L 4800-10800/L 150000-400000/L 0.1 % 1.3 % 2-6 % 50-70% 20-40 % 2-8 % 80-96 fl 27-32 pg 32-36 g/dL 11.5 -14.5 % Nilai Rujukan

Status Gizi Pada Pasien ASD

Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit Hitung Jenis: Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit MCV MCH MCHC RDW Jenis Pemeriksaan

12,1 37* 5.0 16600* 432000* 0 3 2 48* 39 8 74* 24* 33 15.60*

11.4* 35* 4,8 13780* 316000 0 3* 3 32* 53* 9* 73* 24* 33 15.40* Nilai Rujukan

12-16 g/dl 37-47 % 4,3-6,0 juta/L 4800-10800/L 150000-400000/L 0.2 % 1.4 % 2-6 % 50-70% 20-40 % 2-8 % 80-96 fl 27-32 pg 32-36 g/dL 11.5 -14.5 %

31-10-2012

Hematologi Lengkap Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit Hitung Jenis: Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit 0 3 3 28* 57* 0.3 % 1.5 % 2-6 % 50-70% 20-40 % 11,4* 34* 4,9 14270* 330000 12-16 g/dl 37-47 % 4,3-6,0 juta/L 4800-10800/L 150000-400000/L

Status Gizi Pada Pasien ASD

Monosit MCV MCH MCHC RDW

9* 71* 24* 33 15.20*

2-8 % 80-96 fl 27-32 pg 32-36 g/dL 11.5 -14.5 %

2. Pemeriksaan di RST Kupang adalah EKG dengan hasil RAD + RVH, dan echocardiogram didapatkan diameter ASD sebesar 0,5 cm. 3. Pemeriksaan Thorax foto tanggal 28 September 2012 di RSPAD dengan kesan: Cor dalam batas normal, pulmo suspek proses spesifik paru 4. Pemeriksaan Echocardiography tanggal 3 November 2012 di RSPAD dengan hasil defek pada septum secundum atrial diameter 0,85 cm RESUME : Anak P perempuan usia 7 bulan 2 hari, BB 4 kg, datang dengan keluhan sesak. Ibu pasien juga mengeluhkan berat badan anaknya tidak naik, menetek hanya sebentar, setelah menetek nafas pasien menjadi cepat dan pasien terlihat kecapekan. Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa besar anaknya tidak sama dengan bayi lain yang seusianya. Ibu pasien juga mengatakan bahwa anaknya seperti tengkorak, yaitu tulang dada yang jelas terlihat, kulit pasien yang keriput tanpa daging. Rambut yang tumbuh sangat halus juga dikeluhkan ibu pasien. Menurut ibu pasien, anaknya selalu ingin minum susu dan selalu lapar. Tanda-tanda vital : Nadi : 145x/menit isi cukup, regular RR : 42x/menit Suhu : 36,5OC

Pemeriksaan fisik :

Status Gizi Pada Pasien ASD

- Status mental cengeng dan rewel - Rambut tampak sangat halus dan tipis - Pada wajah tampak seperti orang tua - Pada auskultasi terdengar bunyi murmur Pemeriksaan Penunjang: Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan Ht, Segmen, MCV, MCH, leukositosis, peningkatan eosinophil,limfositosis, dan peningkatan RDW Pemeriksaan di RST Kupang adalah EKG dengan hasil RAD + RVH, dan echocardiogram didapatkan diameter ASD sebesar 0,5 cm. Pemeriksaan Thorax foto tanggal 28 September 2012 di RSPAD dengan kesan: Cor dalam batas normal, pulmo suspek proses spesifik paru Pemeriksaan Echocardiography tanggal 3 November 2012 di RSPAD dengan hasil defek pada septum secundum atrial diameter 0,85 cm

DIAGNOSIS KERJA 1. 2. ASD Gizi kurang

RENCANA PEMERIKSAAN Darah Lengkap

PENATALAKSANAAN MgSO4 (1 cc IM selama 7 hari) F-75 (12 x 45 cc) Vit A 50.000 IU (per-oral) Meningkatkan asupan makanan

PROGNOSIS - Quo ad vitam : ad Bonam

Status Gizi Pada Pasien ASD

- Quo ad Functionam : ad Bonam - Quo ad Sanationam : ad Bonam

Status Gizi Pada Pasien ASD

Follow up Tanggal 1 November 2012 S: Demam (-), batuk (-), sesak (-), terpasang NGT, BAB dan BAK tidak ada keluhan, BB 5 kg O: Keadaan umum : Gerak aktif Kesadaran : Menangis kuat Tanda vital HR : 130x/menit RR : 30x/menit Suhu : 36,7OC Status generalis : Mata : conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/THT : Sekret (-), Napas Cuping Hidung (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorax : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-) Jantung : BJ I-II regular, murmur (+), gallop (-) Paru : Suara napas vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing -/Abdomen : Datar, supel, Bising usus (+) Normal, Hepar Lien tidak teraba Tanggal 5 November 2012 S: Demam (-), batuk (+), sesak (-), terpasang NGT, BAB dan BAK tidak ada keluhan, BB 5,1 kg O: Keadaan umum : Gerak aktif Kesadaran : Menangis kuat Tanda vital HR : 136x/menit RR : 34x/menit Suhu : 36,6OC Status generalis : Mata : conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/THT : Sekret (-), Napas Cuping Hidung (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorax : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-) Jantung : BJ I-II regular, murmur (+), gallop (-) Paru : Suara napas vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing -/Abdomen : Datar, supel, Bising usus (+) Normal, Hepar Lien tidak teraba Tanggal 9 November 2012 S: Demam (-), batuk (+), pilek (-), sesak (-), terpasang NGT, BAB dan BAK tidak ada keluhan, BB 5,2 kg O: Keadaan umum : Gerak aktif Kesadaran : Menangis kuat Tanda vital HR : 138x/menit RR : 46x/menit Suhu : 37,4OC Status generalis : Mata : conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/THT : Sekret (-), Napas Cuping Hidung (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorax : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-) Jantung : BJ I-II regular, murmur (+), gallop (-) Paru : Suara napas vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing -/Abdomen : Datar, supel, Bising usus (+) Normal, Hepar Lien tidak teraba

Status Gizi Pada Pasien ASD

A : -ASD -Gizi kurang P : F-100 (4x110cc) Bubur susu (3x150 kal) Biskuit (3x1 keping) Buah (1x1 buah)

A : -ASD -Gizi kurang P : Pulv batuk (3x1) Pulv (1x1) F-100 (4x110cc) Bubur susu (3x100 kal) Biskuit (3x1 keping) Buah (1x1 buah)

A : -ASD -Gizi kurang P : Pulv batuk (3x1) Pulv (1x1) F-100 (4x110cc) Bubur susu (3x100 kal) Biskuit (3x1 keping) Buah (1x1 buah)

Tanggal 12 November 2012 S: Demam (-), batuk (+), pilek (+) sesak (-), terpasang NGT, BAB dan BAK tidak ada keluhan, BB 5,2 kg O: Keadaan umum : Gerak aktif Kesadaran : Menangis kuat Tanda vital HR : 128x/menit RR : 38x/menit Suhu : 37,7OC Status generalis : Mata : conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/THT : Sekret (-), Napas Cuping Hidung (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorax : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-) Jantung : BJ I-II regular, murmur (+), gallop (-)

Tanggal 14 November 2012 S: Demam (-), batuk (+), pilek (+) sesak (-), terpasang NGT, BAB dan BAK tidak ada keluhan, BB 5,2 kg O: Keadaan umum : Gerak aktif Kesadaran : Menangis kuat Tanda vital HR : 136x/menit RR : 37x/menit Suhu : 36,6OC Status generalis : Mata : conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/THT : Sekret (-), Napas Cuping Hidung (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorax : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-) Jantung : BJ I-II regular, murmur (+),

Tanggal 23 November 2012 S: Demam (+), batuk (+), pilek (+), sesak (-), terpasang NGT, BAB dan BAK tidak ada keluhan, BB 5,4 kg O: Keadaan umum : Gerak aktif Kesadaran : Menangis kuat Tanda vital HR : 120x/menit RR : 60x/menit Suhu : 38,1OC Status generalis : Mata : conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/THT : Sekret (-), Napas Cuping Hidung (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorax : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-) Jantung : BJ I-II regular, murmur (+), gallop (-)

Status Gizi Pada Pasien ASD

Paru : Suara napas vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing -/Abdomen : Datar, supel, Bising usus (+) Normal, Hepar Lien tidak teraba

gallop (-) Paru : Suara napas vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing -/Abdomen : Datar, supel, Bising usus (+) Normal, Hepar Lien tidak teraba

Paru : Suara napas vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing -/Abdomen : Datar, supel, Bising usus (+) Normal, Hepar Lien tidak teraba

A : -ASD -Gizi kurang P : Pulv batuk (3x1) Pulv (1x1) F-100 (4x110cc) Bubur susu (3x100 kal) Biskuit (3x1 keping) Buah (1x1 buah)

A : -ASD -Gizi kurang P : Pulv batuk (3x1) Pulv (1x1) F-100 (4x110cc) Bubur susu (3x100 kal) Biskuit (3x1 keping) Buah (1x1 buah)

A : -ASD -Gizi kurang P : Pulv batuk (3x1) Pulv (1x1) F-100 (4x120cc) Bubur susu (3x100 kal) Biskuit (3x1 keping) Buah (1x1 buah)

Status Gizi Pada Pasien ASD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Defek Septum Atrium


Defek septum atrium merupakan lebih kurang 10% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada anak perempuan dibanding anak laki-laki (rasio perempuan : laki-laki = 1,5 sampai 2:1) Secara embriologi, antara minggu keempat sampai keenam kehamilan, rongga atrium yang semula tunggal akan terbagi dua menjadi atrium kanan dan kiri. Proses ini diawali dengan tumbuhnya jaringan tipis yang disebut septum primum yang berasal dari dinding dorsal atrium dan tumbuh kearah bantalan endokardium. Celah antara septum primum dengan bantalan endokardium disebut ostium primum. Septum primum terus tumbuh untuk menutup ostium primum dan terjadilah lubang kedua yang disebut ostium sekundum. Kemudian terjadilah ploriferasi dan absorbsi hingga terjadi sebuah lubang ditengah septum atrium, disebut sebagai foramen ovale, yang disebelah kiri dijaga oleh semacam katub. Dengan anatomi demikian, maka selama masa janin darah dapat melintas dari atrium kanan ke atrium kiri. Pasca lahir, darah tidak mengalir dari atrium kanan ke atrium kiri karena tekanan atrium kiri lebih tinggi dan tidak mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan karena mekanisme katub pada foramen ovale. Anak dengan defek septum atrium sebagian besar asimpomatik, meski sering ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan sebayanya. Pada anak besar mungkin terdapat penonjolan dada kiri akibat dari pembesaran ventrikel kanan. Pada auskultasi terdengar bunyi jantung 1 normal atau mengeras, dan bunyi jantung 2 terdengar terpecah lebar akibat tertundanya penutupan katup pulmonal, terutama karena waktu ejeksi yang memanjang akibat peningkatan volume ventrikel kanan. Pada anak normal bunyi jantung 2 terdengar split pada saat inspirasi, namun terdengar tunggal pada saat ekspirasi. Keadaan ini tidak terjadi pada defek septum atrium, oleh karena pirau dari kiri ke kanan melalui defek septum atrium menyebabkan jumlah darah dari sisi kanan jantung menetap. Akibatnya terdengar bunyi split jantung 2 yang lebar dan menetap baik pada saat inspirasi maupun ekspirasi, keadaan yang khas untuk defek septum atrium.

Status Gizi Pada Pasien ASD

Penilaian Status Gizi Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang tersedia. Data objektif dapat diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium perorangan, serta sumber lain yang dapat diukur oleh anggota tim penilai. Komponen penilaian status gizi meliputi (1) asupan pangan, (2) pemeriksaan biokimiawi, (3) pemeriksaan klinis dari riwayat mengenai kesehatan, (4) pemeriksaan antropometri, serta (5) data psikososial. Bagi pasien rawat inap, data berat dan tinggi badan, perubahan berat badan yang tidak lazim, perubahan nafsu makan, dan serum albumin harus didapat karena pengumpulannya tidak sulit, serta tidak memerlukan biaya tinggi. Dari data tersebut, kemudian dapat dijaring orang-orang yang berisiko tinggi malnutrisi. Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut : a. Umur

Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004). b. Berat Badan

Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengan melihat perubahan

Status Gizi Pada Pasien ASD

berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil, dapat mendeteksi kegemukan (over weight), baik untuk mengukur status gizi aku atau kronis, namun demikian pengukuran ini juga memiliki kekurangan yaitu dapat menginterpretasi atatus gizi yang keliru bila terdapat edema maupun asites, sering terjadi kesalahan dalam pengukuran seperti pengaruh pakaiana atau gerakan anak saat penimbangan, di daerah terpencil dan tradisional umur sering sulit ditaksir secara tepat karena pencatatan umur yang belum baik.

c.

Tinggi Badan

Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun. Keuntungan dari indeks TB/U adalah baik untuk menilai status gizi masa lampau, ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa. Kelemahannya adalah tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun, pengukuran relative sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak sehingga diperlukan dua orang untuk melakukannya. Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB) Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jellife pada tahun 1966 telah memperkenalkan indeks ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks BB/TB merupakan indicator yang baik untuk menilai status gizi saat ini. Indeks BB/TB adalah merupakan indeks yang independen terhadap umur. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, indeks BB/TB mempunyai beberapa keuntungan dan kelemahan. Keuntungannya adalah tidak memerlukan data umur, dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal dan kurus). Sedangkan kelemahannya adalah tidak dapat memberikan gambaran apakahn anak tersebut

Status Gizi Pada Pasien ASD

pendek, cukup tinggi badan atau kelebihan tinggi badan menurut umurnya, karena faktor umur tidak dipertimbangkan, membutuhkan dua alat ukur, pengukuran relative lama, membutuhkan dua orang untuk melakukannya, sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran terutama bila dilakukan oleh kelompok non professional. (I Dewa Spariasa, 2001 )

Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh. Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan langsung dengan angka kesakitan. Tabel 1 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS Pengelompokan 1 < -3 SD - 3 s/d <-2 SD - 2 s/d +2 SD > +2 SD 2 TB/U < -3 SD - 3 s/d <-2 SD - 2 s/d +2 SD > +2 SD 3 BB/TB < -3 SD - 3 s/d <-2 SD - 2 s/d +2 SD > +2 SD Sumber : Depkes RI 2004. No Indeks dipakai BB/U yang Batas Sebutan Status Gizi Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Sangat Pendek Pendek Normal Tinggi Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni persentil

Status Gizi Pada Pasien ASD

(persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anakanak dinegara-negara yang populasinya relative baik (well-nourished), sebaiknya digunakan presentil, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relative kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan.

Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS) No 1 Indeks yang digunakan BB/U TB/U BB/TB Interpretasi

Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++ Rendah Normal Rendah Sekarang kurang + 2 Normal Normal Normal Normal Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang 3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal Tinggi Rendah Tinggi Obese Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) : Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber : Depkes RI 2004. Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan mengurangi Nilai

Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan menggunakan rumus :

Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR

Status Gizi Pada Pasien ASD

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000 oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2. Untuk memperjelas penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai berikut Diketahui BB= 60 kg TB=145 cm Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan WHO-NCHS hanya dibatasi < 18 tahun maka disini dicontohkan anak laki-laki usia 15 tahun Table weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS Age Standard Deviations Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd 15 0 31.6 39.9 48.3 56.7 69.2 81.6 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985 Table weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS Stature Standard Deviations Cm -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd 145 0 24.8 28.8 32.8 36.9 43.0 49.2 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985 Table stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS Stature Standard Deviations Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd 15 0 144.8 152.9 160.9 169.0 177.1 185.1 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985 Jadi untuk indeks BB/U adalah = Z Score = ( 60 kg 56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD = status gizi baik Untuk IndeksTB/U adalah = Z Score = ( 145 kg 169 ) / 8.1 = - 3.0 SD = status gizi pendek Untuk Indeks BB/TB adalah +3sd 193.2 +3sd 55.4 +3sd 94.1

Status Gizi Pada Pasien ASD

= Z Score = ( 60 36.9 ) / 4 = + 5.8 SD = status gizi gemuk Definisi Operasional Status Gizi Sebenarnya untuk mendefinisikan operasional status gizi ini dapat dilakukan di klinik kesehatan swasta maupun pemerintah yang menyediakan pengukuran status gizi, namun demikian yang perlu diketahui masyarakat adalah pengertian dan pemahaman dari status gizi anak, selanjutnya ketika mengunjungi klinik gizi hasilnya dapat segera diketahui termasuk upaya-upaya mempertahankan status gizi yang baik. Status Gizi Anak Adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antroppometri (Suharjo, 1996), dan dikategorikan berdasarkan standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB Indikasi pengukuran dari variabel ini ditentukan oleh : 1. Penimbangan Berat Badan (BB) dan pengukuran Tinggi Badan (TB) Dilakukan oleh petugas klinik gizi sesuai dengan syarat-syarat penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan yang baik dan benar penggunaan timbangan berat badan dan meteran tinggi badan (mikrotoise) 2. Penentuan umur anak ditentukan sesuai tanggal penimbangan BB dan Pengukuran TB, kemudian dikurangi dengan tanggal kelahiran yang diambil dari data identitas anak pada sekolah masing-masing, dengan ketentuan 1 bulan adalah 30 hari dan 1 tahun adalah 12 bulan. a. Kriteria objektifnya dinyatakan dalam rata-rata dan jumlah Z score simpang baku (SSB) induvidu dan kelompok sebagai presen terhadap median baku rujukan (Waterlow.et al, dalam, Djuamadias, Abunain, 1990) Untuk menghitung SSB dapat dipakai rumus :
Skor Baku Rujukan = NIS NMBR NSBR

Dimana : NIS NMBR

: Nilai Induvidual Subjek : Nilai Median Baku Rujukan

Status Gizi Pada Pasien ASD

NSBR 1. a. b. c. 2. a. b. c.

: Nilai Simpang Baku Rujukan Untuk BB/U Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih TB/U Pendek Normal Tinggi Bila SSB < -2 SD Bila SSB -2 s/d +2 SD Bila SBB > +2 SD Bila SSB < - 2 SD Bila SSB -2 s/d +2 SD Bila SSB > +2 SD

Hasil pengukuran dikategorikan sbb

3. a. b. c.

BB/TB Kurus Normal Gemuk Bila SSB < -2 SD Bila SSB -2 s/d +2 SD Bila SSB > +2 SD

Dan juga status gizi diinterpretasikan berdasarkan tiga indeks antropomteri, (Depkes, 2004). Dan dikategorikan seperti yang ditunjukan pada tabel 3 Tabel 3 Kategori Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS) Indeks yang digunakan BB/U TB/U Normal, dulu kurang gizi Rendah Rendah Sekarang kurang ++ Rendah Tinggi Sekarang kurang + Rendah Normal Normal Normal Normal Sekarang kurang Normal Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang Normal Rendah Tinggi, normal Tinggi Tinggi Obese Tinggi Rendah Sekarang lebih, belum obese Tinggi Normal Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) : Interpretasi Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS BB/TB Normal Rendah Rendah Normal Rendah Tinggi Normal Tinggi Tinggi

Status Gizi Pada Pasien ASD

Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS Sumber: Depkes RI, 2004 Daftar kebutuhan Makanan Sehari-hari Menurut Umur Dan Jenis Makanan Jenis Makanan SUSU PROTEIN LAINNYA Telur Daging (Hati1x sminggu) BUAH/ SAYUR Sumber Vit C (Jeruk, tomat, melon, murbei) Sumber Vit 1 atau lbh A (Buah/ Sayur warna hijau atau 2 SDM 3 4 (=1/4G) G 1/3 G G 4x 1/3 G G G 1G 1G 1G 3x atau lebih 2 SDM 2 4 4-6 (2-3 oz) 6-8 (3-4 oz) 1 butir 1 1 1 1 1atau lbh 8 (4 oz) Pemberian Per hari 4x 1(tahun) G Jumlah Pemberian 2-3 -3/4 G 4-5 6-9 10-12 12-15 -3/4 G -1 G -1 G -1 G

Status Gizi Pada Pasien ASD

kuning) Kentang, Sayur lain Pisang, Apel dll BIJIBIJIAN (serealia) Roti Nasi, Spageti, Mie dll LEMAK DAN KH Mentega, Margarin 1SDM= 100kkal Kue-kue Sesudah Makan 1porsi= 100kkal sepadan dgn -1/3gelas pudding/ es krim 1 potong 1 potong 1 potong 3 potong 3 potong 3-6 potong 1 SDM 1 1 2 2 2-4 4x (potong) 1 G 1/3 G 1G G 1-2 G 2 G 2 1 G atau lebih G 1/3 G G 1G 1G 1G 2x 2 SDM 3 4(=1/4G) 1/3 G G G

Status Gizi Pada Pasien ASD

-1 oz kue /tart/biscuit -2SDM madu/selai /gula Sumber : Nelson Textbook of Pediatrics, 1987 Keterangan : 1 G = Gelas= 8 oz= 240 ml 1 SDM= ( sendok makan )= oz= 15 ml BAB III ANALISA KASUS Anak P perempuan usia 7 bulan 2 hari, BB 4 kg, datang dengan keluhan sesak. Ibu pasien juga mengeluhkan berat badan anaknya tidak naik, menetek hanya sebentar, setelah menetek nafas pasien menjadi cepat dan pasien terlihat kecapekan. Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa besar anaknya tidak sama dengan bayi lain yang seusianya. Ibu pasien juga mengatakan bahwa anaknya seperti tengkorak, yaitu tulang dada yang jelas terlihat, kulit pasien yang keriput tanpa daging. Rambut yang tumbuh sangat halus juga dikeluhkan ibu pasien. Menurut ibu pasien, anaknya selalu ingin minum susu dan selalu lapar. Tanda-tanda vital : Nadi : 145x/menit isi cukup, regular RR : 42x/menit Suhu : 36,5OC

Pemeriksaan fisik : - Status mental cengeng dan rewel - Rambut tampak sangat halus dan tipis - Pada wajah tampak seperti orang tua - Pada auskultasi terdengar bunyi murmur

Status Gizi Pada Pasien ASD

Pemeriksaan Penunjang: Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan Ht, Segmen, MCV, MCH, leukositosis, peningkatan eosinophil,limfositosis, dan peningkatan RDW Pemeriksaan di RST Kupang adalah EKG dengan hasil RAD + RVH, dan echocardiogram didapatkan diameter ASD sebesar 0,5 cm. Pemeriksaan Thorax foto tanggal 28 September 2012 di RSPAD dengan kesan: Cor dalam batas normal, pulmo suspek proses spesifik paru Pemeriksaan Echocardiography tanggal 3 November 2012 di RSPAD dengan hasil defek pada septum secundum atrial diameter 0,85 cm DIAGNOSIS KERJA 1. 2. ASD Gizi kurang

Diagnosis ASD tersebut ditegakkan berdasarkan anamnesis bahwa pada pasien terdapat tanda klinis pasien dengan penyakit jantung bawaan asianotik tipe ASD, yaitu anak yang menderita kelainan ASD sering menjadi sesak ketika menetek, menetek tidak kuat lama, dan pasien terlihat kelelahan setelah menetek ditunjang dengan hasil pemeriksaan fisik dengan ditemukannya murmur pada auskultasi jantung, pemeriksaan EKG dan echocardiografi di RST Kupang dengan hasil EKG RAD + RVH, dan hasil echocardiografi RST Kupang didapatkan diameter ASD sebesar 0,5 cm. Pemeriksaan echocardiografi ulang di RSPAD dengan hasil defek pada septum secundum diameter 0,85 cm. Dan pasien didiagnosa gizi kurang sesuai dengan keluhan ibu pasien yaitu besar anaknya tidak sama dengan bayi lain yang seusianya. Tulang dada yang jelas terlihat, kulit pasien yang keriput dan rambut yang tumbuh sangat halus ditambah dengan perhitungan dengan kurva WHO yang menyatakan bahwa pasien mengalami gizi kurang. Dalam kasus ini terdapat 2 permasalahan: 1. Atrial Septal Defect Kelainan jantung bawaan memberikan efek pada pertumbuhan bayi, bergantung pada perubahan hemodinamik yang diciptakan dari masing-masing kelainan. Kelainan asianotik dengan derajat left-

Status Gizi Pada Pasien ASD

to-right shunting yang besar kecenderungan akan mempengaruhi berat badan lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan pada awalnya. Ada satu studi yang mengemukakan bahwa kelainan jantung asianotik akan lebih memengaruhi pertumbuhan dibandingkan dengan tipe sianotik. Timbulnya hipertensi pulmonal pada anak disertai dengan pirau kiri ke kanan memengaruhi pertumbuhan; anak ini akan memiliki kecenderungan memiliki berat yang kurang dibandingkan dengan penyakit jantung tipe sianotik. Studi lainnya menggunakan kriteria Waterlow pada gagal tumbuh ditemukan prevalensi dari anak yang menderita malnutrisi dengan pirau kiri ke kanan adalah 83%; anak dengan hipertensi pulmonal akan memiliki masalah nutrisi yang lebih besar. Gejala klinis berupa nafas yang dangkal juga memengaruhi sang bayi ketika ia menyusu, dimana susu merupakan nutrisi yang utama bagi bayi. Sehingga asupan makanan yang masuk akan berkurang seiring dengan beratnya kedangkalan nafas dari bayi tersebut. 2. Status Gizi kurang Data antropometri saat masuk (Tanggal 27 September 2012, usia 7 bulan 2 hari) Berat badan Tinggi badan : 4 kg : 62 cm

Perhitungan berdasarkan WHO Growth Chart dilakukan dengan pertimbangan kelahiran pada 32 minggu dan masa koreksi kelahiran sampai usia 40 minggu. Umur saat ini 7 bulan dikurangi masa koreksi 8 minggu/ 2 bulan, sehingga usia perhitungan pada pasien ini pada umur 5 bulan. Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-5 tahun menurut gender perempuan Berat Badan Ideal (BB/U) : BB/U = 4/7 x 100 % = 57.1% Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-5 tahun menurut gender perempuan Tinggi Badan Ideal (TB/U) : TB/U = 62/64 x 100% = 96.8 % Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-2 tahun menurut gender perempuan (BB/TB) : BB/TB = 4/6.3 x 100 % = 63.4% Berdasarkan WHO Growth Chart Standard anak usia 0-5 tahun menurut gender perempuan dan

Status Gizi Pada Pasien ASD

berdasarkan Reference Growth Chart Lokakarya Antropometri Depkes 1974 & Puslitbang Gizi 1978 didapatkan : Status Gizi : Status Gizi Kurang

Berdasarkan interpretasi indikator pertumbuhan WHO: Height for age : normal Weight for age : Severely Underweight Weight for height : Severely Wasted BMI for age : Severely Wasted Kebutuhan Kalori dihitung berdasarkan RDA Calories : Kebutuhan kalori pasien : 100 kkal x BB 100 kkal x 6,9 kg = 690 kkal/hari Pendekatan yang biasa dilakukan untuk malnutrisi terdiri dari tiga fase. Fase pertama (1-7 hari) adalah fase stabilisasi. Pada fase ini, dehidrasi, jika ada, diatasi dan terapi antibiotik dimulai untuk mengontrol infeksi bakterial maupun parasit. Masukan oral juga dimulai dengan formula tinggi kalori, yang disarankan oleh WHO. Fase awal terapi oral dimulai dengan F75 (75kal/100mL). fase rehabilitasi digunakan F100 untuk masukan oral. Pemberian makanan dimulai dengan frekuensi yang sering dan volume yang sedikit; seiring dengan berjalannya waktu frekuensi dikurangi dari 12 kali pemberian menjadi 8 kali, lalu menjadi 6 kali pemberian dalam 24 jam. Masukan kalori pada fase awal berkisar dari 80-100 kkal/kg/hari. Memasuki rehabilitasi yang kedua (minggu 2-6) penggunaan terapi antibiotik dapat dilanjutkan dengan beberapa perubahan bila kombinasi awal tidak efektif. Dimulainya diet F100 dilakukan dalam fase ini, dengan target 100kkal/kg/hari. Fase ini berlangsung dalam 4 minggu. Apabila bayi tidak dapat makan melalui sendok, dan botol, penggunaan NGT menjadi pilihan. Terapi dengan preparat besi belum dimulai pada fase ini karena dapat menyebabkan hal yang berdampak buruk bagi pasien. Beberapa menganjurkan penggunaan antioksidan pada fase ini. Akhir dari fase kedua ini, edema yang tadinya ada biasanya sudah menghilang, infeksi pada pasien

Status Gizi Pada Pasien ASD

juga sudah terkontrol, anak sudah mulai dapat berinteraksi dengan sekitar, dan nafsu makan sudah kembali normal. Pada akhir dari fase ini anak sudah dapat masuk ke dalam tahap pemantauan akhir, yang terdiri dari pemberian makanan untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan seiring dengan stimulasi emosional dan stimulasi sensorik. Jadi pada pasien ini akan dimulai fase pertama dengan pemberian F75. Kebutuhan kalori pasien ini seperti yang sudah dihitung diatas adalah sebanyak 690 kkal/hari. Sehingga apabila direncanakan pemberian makanan sebanyak 12 kali, tiap kali makan pasien adalah 57.5 kkal. Pada fase awal, pasien ini diberikan F75 12 kali sebanyak 45 cc atau sebesar 33,75kkal per pemberian.

Usia Pasien 5 Bulan Kebutuhan Kalori 828 kkal Jam Pemberian Makan 06.00 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 20.00 22.00 24.00 02.00 04.00 Jenis & Ukuran F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc F75 sebanyak 45 cc

Total kalori yang didapatkan pasien dari F75 12 x 45 cc adalah 405 kkal, kekurangan kalori adalah 285 kkal. Kekurangan kalori ini dipenuhi dengan pemberian ASI sesuai dengan kemauan pasien (on demand), sehingga target kalori yang diberikan akan tercapai. Prognosis pasien ini dubia ad bonam. Ini terutama berdasarkan respon keluarga terhadap pengobatan pasien

Status Gizi Pada Pasien ASD

Status Gizi Pada Pasien ASD

DAFTAR PUSTAKA - Behrman, Richard E., MD., et. al. 2007. Nelson Textbook of Pediatrics 18th ed. Pennsylvania : W. B. Saunders Company. - William J. Marshall, Stephen K. Langert. 2008.Clinical Biochemistry 2e: Metabolic and Clinical Aspects.Philadelphia, Elsevier. - Jacqueline Jones Wessel and Patricia Queen Samour. 2005. Pediatric Nutrition 3rd ed. United States America, Jones and Bartlett Publishers. - Anthony C. Chang MD, Jeffery Jacobs MD. 1998. Pediatric Cardiac Intensive Care. Canada, William and Wilkins. - Joseph K. Perloff. 2012. Clinical Recognition of Congenital Heart Disease 6th ed.Philadelphia, Elsevier Saunders. - Mustafa H. Abdullah Al-Qbandi and Ziyad H. Hijazi. 2010. Transcatheter Closure of ASD and PFO A Comprehensive Assessment. USA, Cardiotext Publishing. - Arisman, MB, dr. 2009. Buku Ajar Ilmu Gizi, Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC.Jakarta - Corry Matondang, dr, Prof. 2000. Diagnosis Fisik pada Anak. CV.Sagung Seto. Jakarta - I Dewa Supariasa.2001. Penilaian Status Gizi.EGC.Jakarta - Soetjiningsih, dr, Sp.A(K).1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC.Jakarta - Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1998. Pedoman Tata Laksana Kekurangan Energi Protein pada Anak di Rumah Sakit Kabupaten/Kodya, edisi revisi. Jakarta : Departemen Kesehatan