Anda di halaman 1dari 5

1.

Kemanusiaan berasal dari kata manusia, kata adil mengandung makna bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas ukuran/ norma-norma yang obyektif atau tidak subjektif dan kata beradab berasal dari kata adab, yang artinya budaya. Kemanusiaan yang Adil dan beradab mempunyai arti bahwa, adanya kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya. Potensi kemanusiaan dimiliki oleh semua manusia di dunia, tanpa memandang ras, keturunan dan warna kulit, serta bersifat universal Ada 8 makna yang terkandung dalam sila ini, yaitu: - Mengakui persamaan derajat,persamaan hak dan persamaan kewajiban antar sesama manusia - Saling mencintai sesama manusia - Mengembangkan sikap tenggang rasa - Tidak semena-mena terhadap orang lain - Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan - Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan - Berani membela kebenaran dan keadilan - Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat Dunia Internasional dan dengan itu harus mengembangkan sikap saling hormat menghormati dan bekerja sama dengan Negara lain.

Kesimpulan dalam sila ini yaitu:

a. Dalam sila ini terkandung niali- nialai bahwa Negara harus menjunjung tinggi hakikat dan martabat manusia sebagi makhluk yang beradab. Oleh karena itu, peraturan perundang-undangan Negara harus mewujudkan tercapainya tujuan ketinggian harkat dan martabat manusia, terutama hak-hak sebagai hak asasi harus dijamin dalam peraturan perundang-undangan.

b. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah nilai yang mendasari sikap moral dan tingkh laku manusia dalam hubungan dengan norma-norma kebudayaan pada umumnya baik terhadapdiri sendiri, sesame manusia,maupun terhadap

lingkungannya.Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan pernyataan nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang berdaya, berakal dan berguna.

Dalam sila ini merupakan norma untuk menilai apa pun yang menyangkut kepentingan manusia sebagai mahkluk Tuhan yang mulai dengan kesadaran martabat dan derajatnya. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan kepada potensi budi nurani dalam hubungannya dengan norma-norma kebudayaan. Nilai-nilai dalam sila ini adalah merupakan refleksi dari martabat serta harkat manusia yang memiliki potensi kultural. Potensi tersebut sebagai hal yang bersifat universal atau keseluruhan dan dipunyai oleh semua bangsa tanpa kecuali. Menurut sila ini setiap manusia Indonesia adalah bagian dari warga dunia, yang menyakini adanya prinsip persamaan harkat dan martabatnya sebagai hamba Tuhan. Dalam sila kedua ini menyangkut nilai-nilai hak dan kewajiban asasi manusia Indonesia. Setiap Warganegara dijamin hak dan kebebasannya yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan orang seorang, atau masyarakatnya, dan alam lingkungannya. Di dalamnya mengandung nilai cinta kasih yang harus dikembangkan nilai etis yang menhargai keberanian untuk membela kebenaran, santun dan menghormati harkat kemanusiaan.

2. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. Eksistensi manusia selalu belum terpenuhi, ia makhluk membelum Tidak ada sesuatu yang tidak berhubungan secara antropologis dengan manusia; entah penerimaan atau penolakan. Dalam prinsip eksistensialis ini; manusia mengada oleh karena ia tahu, dan pengetahuan manusia tidak pernah dapat terpenuhi; oleh karenanya manusia disebut sebagai makhluk membelum. Artinya; sekalipun manusia itu adalah dosen fakultas dakwah, pengetahuannya tentang dakwah selalu saja belum dapat terpenuhi karena hakekat pengetahuan adalah a-lethea (tampak sekaligus tersembunyi).

Manusia merupakan kesatuan dengan alam jasmani, ia satu susunan dengan alam jasmani, manusia selalu mengkonstruksi dirinya, jadi ia tidak pernah selesai. Dengan demikian, manusia selalu dalam keadaan membelum; ia selalu sedang ini atau sedang itu.

Manusia itu memiliki kemerdekaan untuk membentuk dirinya, dengan kemauan dan tindakannya. Manusia dapat hidup dengan aturan-aturan integritas, keluhuran budi, dan keberanian, dan dia dapat membentuk suatu masyarakat manusia.

Bagi manusia, yang terpenting dan utama adalah keadaan dirinya atau eksistensi dirinya. Eksistensi manusia bukanlah statis tetapi senantiasa menjadi, artinya manusia itu selalu bergerak dari kemungkinan kenyataan. Proses ini berubah, bila kini sebagai sesuatu yang mungkin, maka besok akan berubah menjadi kenyataan. Karena manusia itu memiliki kebebasan, maka gerak perkembangan ini semuanya berdasarkan pada manusia itu sendiri. Eksistensi manusia justru terjadi dalam kebebassannya. Kebebasan itu muncul dalam aneka perbuatan manusia. Baginya bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan bagi hidupnya. Konsekuensinya, jika kita tidak berani mengambil keputusan dan tidak berani berbuat, maka kita tidak bereksistensi dalam arti sebenarnya.

5. Modernisasi ; Upaya untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang. Modernitas digunakan sebagai simbol kemajuan, pemikiran rasional, cara kerja efisien dan merupakan ciri masyarakat maju. Globalisasi ; Sebuah proses meluas atau mendunianya kebudayaan manusia karena difasilitasi media komunikasi dan informasi yang mendukung ke arah perluasan kebudayaan itu. Pembangunan budaya Indonesia, mau tidak mau akan bersentuhan dengan modernisasi dan globalisasi. Budaya Indonesia harus mampu berhadapan dan bersaing dengan budaya. Era globalisasi tidak terlepas dari modernisme yang membawa sistem sosial, ekonomi, politik, dan budaya antar masyarakat menjadi terhubung dan saling mempengaruhi. Di sini tercipta suatu hegemoni seperti yang dikatakan Antonio Gramsci. Sistem budaya yang kuat akan masuk dan melemahkan budaya lokal yang tidak terpelihara. Pada konteks Indonesia, penggunaan bahasa Inggris dan berlaku kebarat-baratan menjadi hal yang sangat dibanggakan, khususnya bagi masyarakat kota. Era globalisasi telah membawa perubahan yang cepat pada berbagai aspek kehidupan. Hal ini juga terjadi dalam aspek pertahanan yang antara lain berpengaruh terhadap

pola dan bentuk ancaman dari ancaman militer ke arah non-militer seperti terorisme, wabah penyakit, difusi kebudayaan negatif yang menimbulkan perubahan perilaku manusia Indonesia. Intinya adalah terjadi perubahan pola ancaman terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa yang semula bersifat konvensional berkembang menjadi multi dimensional, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri Corak atau ciri masyarakat globalisasi terus berkembang sebagai masyarakat pasca industri. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, persediaan bahan pangan, bahan energi dan bahan industri strategis semakin langka serta kesenjangan penguasaan teknologi semakin lebar menimbulkan kencenderungan yang

memperuncing perbedaan kepentingan antar negara dan pada gilirannya dapat menimbulkan konflik antar negara Kemajuan bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, serta makin menonjolnya kepentingan ekonomi dan perdagangan yang telah mendorong terwujudnya globalisasi, memberi peluang terjadinya infiltrasi budaya Barat sebagai ukuran tata nilai dunia. Tidak jarang terjadi, demi kepentingan ekonomi, suatu negara terpaksa menerima masuknya budaya Barat yang belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi negara itu sendiri dan berakibat pada pola pikir dan pola tindak yang ditandai dengan pemikiran Negara Federasi, hal ini membuat menurun-nya rasa

sosial dan semangat ke-bhineka-an yang mengarah pada disintegrasi bangsa dan pelanggaran hukum. Selain itu, masyarakat indonesia terjangkit pula pola hidup individualisme dan konsumerisme yang bertentangan dengan pola hidup sederhana dan semua itu bertentangan dengan nilai-nilai budaya asli bangsa Indonesia yang digali dari Pancasila. Selama ini pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan nilai-nilai dan kaidahkaidah yang berlaku sebagai kekayaan budaya masyarakat. Disharmoni pembangunan dan disrelasi antara supra dan infra struktur terjadi karena perubahan ke arah ekonomi dalam sudut pandang kepentingan nasional maupun lokal telah ditebus dengan cultural cost yang tinggi. Industrialisasi dan perubahan situasi lokal telah mengubah kearifan lokal. Beberapa kasus telah menunjukkan bahwa perubahan di dunia ekonomi mengakibatkan konflik yang dapat mengancam terjadinya disorganisasi dalam sistem sosial dan sistem budaya. Harmonisasi dapat dibentuk jika kebijakankebijakan politik yang menggerakkan seluruh proses pembangunan dan industrialisasi tidak hanya mempertimbangkan kepentingan-kepentingan ekonomi yang pragmatik

dan jangka pendek, tetapi kebijakan politik juga harus memperhatikan nilai-nilai dan kaidah-kaidah dasar budaya lokal sebagai bentuk penghargaan pluralistik, untuk selanjutnya mengakomodasikannya ke tuntutan perubahan yang terjadi. Mahasiswa bukan kelompok politik yang berusaha meraih kursikekuasaan. Melainkan suatu kekuatan moral (moral force) untuk memainkan peran bagi pencapaian cita-cita negara. Tugas mahasiswa adalah melakukan kritik terhadap keadaan sosial yang kacau. Tugas ini mirip sebagai intelektual resi dalam konsepsi kekuasaan di lingkungan budaya feudal -kolonial Jawa.