Anda di halaman 1dari 4

CEREBRAL PALSY

Paralisis serebri adalah keadaan cacat dibidang saraf dan otot karena kerusakan otak. Sebab paralysis serebri yang terpenting : 1. Gangguan perkembangan otak a. Gangguan pembentukan girus : terlalu kecil dan besar atau tidak terbentuk sama sekalidi tempat tertentu b. Bagian otak tertentu seperti korpus kalosum, serebelum tidak terbentuk/tidak sempurna pembentukkannya c. Di dalam otak dapat terjadi sebuah lubang/rongga yang berhubungan dengan salah satu ventrikel. Rongga ini mungkin dapat berhubungan dengan ruangan subarachnoid pada permukaan otak (porensefali) d. Susunan histologis jaringan otak mungkin pula tidak berkembang sempurna : mengandung terlalu banyak sel glia, susunan serabut saraf tidak teratur (marmoratus). 2. Kerusakan otak pada waktu persalinan Cedera yang mungkin terjadi pada waktu partus adalah perdarahan intrakranial. Hal ini disertai kerusakan jaringan otak, dapat terjadi pada partus yang sukar, pada keadaan disproporsi panggul ibu dan kepala anak, pada kelainan letak bayi, pada tindakan melahirkan bayi. Perdarahan dapat berupa ICH, SAH, SDH. Kerusakan jaringan otak terjadi bila otak mengalami kekurangan oksigen dalam waktu cukup lama. Hal ini dapat terjadi bila pembuluh darah otak tertekan oleh tekanan tulang kepala pada partus yang sukar, karena jalan napas tersumbat, pada solutio plasenta, bila ibu mengalami toksemia gravidarum, anemia berat, dll. Perdarahan otak dapat terjadi masif disatu tempat, yaitu peredaran yang diameternya >3cm atau terjadi tersebar dalam otak

dengan ukuran diameter lebih kecil. Peredaran dalam otak selalu disertai edema disekitarnya. SAH sering terjadi pada bayi premature, biasanya bilateral di lobus temporal, terjadi gangguan aliran darah otak, anoxia, edema, kerusakan sel dan serabut saraf. Pada pungsi lumbal didapat adanya darah. Perdarahan yang terjadi di dalam ventrikel berasal dari pleksus koroid biasanya mengakibatkan kematian. SDH menekan otak sehingga fungsinya terganggu. Hematom ini menyerap cairan dari sekitarnya sehingga mengembung. Karena itu hematom harus segera dikeluarkan. Gejala klinis berupa keadaan umum bayi tampak buruk. Sesudah lahir bayi tidak menangis /menangis lemah, mungkin terdapat keadaan syok. Gejala neurologis yang timbul ditentukan oleh lokasi lesi. Gejala lain, yaitu asfiksia. Otak bayi yang mengalami asfiksia, membengkak dan aliran darahnya terbendung., sel otak terutama di daerah hipokampus, ganglion basal, serebelum dan lapisan II, IV, V korteks serebri banyak yang rusak. Secara klinis terdapat 3 tingkat asfiksia, yaitu ringan, sedang, berat. Pada asfiksia ringan, pernapasan bayi lambat timbulnya dan setelah timbul tampak dangkal. Tonus otot dan refleks kornea tetap baik. Keadaan ini reversible. Pada asfiksia sedang, bayi tampak pucat, tonus oto, pernapasan lemah sekali, tetapi peredaran darah tetap baik. Pada asfiksia berat, bayi tampak pucat, asfiksia, peredaran darah terganggu, bayi tampak seperti mati, otot-otot lemas. Prognosa biasanya buruk, berupa kematian/sembuh dengan kerusakan SSP yang berat. 3. Radang otak dan selaput otak a. Radang selaput otak (meningitis) Infeksi yang mengenai meningen/ jaringan selaput otak. Biasanya jaringan otak juga turut meradang, sehingga sel saraf ikut mengalami gangguan. Kerusakan jaringan otak dapat terjadi karena gangguan aliran darah atau karena edema cerebri

yang berlangsung lama. Gambaran klinis yang didapat adalah sakit kepala dan disertai demam, tampak gelisah dan dapat disertai muntah. Pada pemeriksaan klinis ditemukan kaku kuduk (+), Brudzinsky 1 dan 2 (+), serta Kernig (+). b. Radang otak (ensefalitis) Radang pada jaringan otak yang biasanya disebabkan oleh bakteri ( staphylococcus aureus, Sreptococcus, E.coli ), dapat juga disebabkan oleh virus. Gambaran klinis sama dengan meningitis yaitu sakit kepala ringan sampai berat, disertai demam, kejang pada anak-anak, dapat pula disertai penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda defisit neurologis dan tanda-tanda tekanan intrakranial. 4. Gangguan peredaran darah dalam otak Terjadi pada peredaran, penyumbatan arteri/vena oleh bekuan darah atau benda asing lain, radang dinding pembuluh darah, kelainan bawaan pembuluh darah, penyakit darah. 5. Sebab lain Otak dapat menjadi sembab dan sel saraf mengalami kerusakan pada keadaan gangguan keseimbangan elektrolit yang timbul pada keadaan muntah, diare, kerentanan, alergi. Keracunan dapat pula menjadi sebab terjadinya paralysis serebri. Gejala neurology paralysis serebri : Tergantung pada lokasi dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan. Gejala yang sering dijumpai adalah hemiplegi, tetraplegi, paraplegi kedua tungkai, triplegi. Kelumpuhan ini mungkin flaksid/spastik/campuran. Selain ekstremitas, kelumpuhan juga dapat mengenai otot-otot leher yang berfungsi menegakkan kepala. Kelainan motorik yang mungkin dijumpai adalah atetosis, yaitu pergerakan spontan abnormal pada lengan, tungkai tubuh berputar pada sumbu memanjang. Kerusakan pada serebelum menyebabkan

terjadinya gangguan koordinasi oto, juga terdapat gangguan pancaindra seperti buta, tuli, afasia. Sebagian anak dengan paralysis serebri menderita epilepsy. Sering pula terdapat intelegensi yang kurang, serta gangguan emosi karena keterbatasan Terapi : Dalam keadaan akut, yaitu perbaiki ABC, obat simtomatik dan terapi empiris lain sebelum kausanya ditemukan. Setelah masa gawat terlewati, maka dilakukan fisioterapi untuk mencegah kontraktur dan atrofi otot. Selain itu jika timbul kecacatan, maka diperlukan rehabilitasi emosional.