Anda di halaman 1dari 19

TUGAS Farmasi Fisika

Oleh
Yovano Tiwow 201132019

YAYASAN GMIM DS A,Z,R WENAS UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TOMOHON FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 2013

Ikatan Kimia
Adalah ikatan yang terjadi antar atom atau antar molekul dengan cara sebagai berikut : a). b). atom yang 1 melepaskan elektron, sedangkan atom yang lain menerima elektron. penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom.

Tujuan pembentukan ikatan kimia adalah agar terjadi pencapaian kestabilan suatu unsur. Elektron yang berperan pada pembentukan ikatan kimia adalah elektron valensi dari suatu atom/unsur yang terlibat. Salah 1 petunjuk dalam pembentukan ikatan kimia adalah adanya 1 golongan unsur yang stabil yaitu golongan VIIIA atau golongan 18 (gas mulia). Maka dari itu, dalam pembentukan ikatan kimia; atom-atom akan membentuk konfigurasi elektron seperti pada unsur gas mulia. Unsur gas mulia mempunyai elektron valensi sebanyak 8 (oktet) atau 2 (duplet, yaitu atom Helium). Periode 1 2 3 4 5 6 Unsur He Ne Ar Kr Xe Rn Nomor Atom 2 10 18 36 54 86 K 2 2 2 2 2 2 L 8 8 8 8 8 M N O P

8 18 18 18

8 18 32

8 18

Kecenderungan unsur-unsur untuk menjadikan konfigurasi elektronnya sama seperti gas mulia terdekat dikenal dengan istilah Aturan Oktet. Lambang Lewis Adalah lambang atom yang dilengkapi dengan elektron valensinya. Lambang Lewis gas mulia menunjukkan 8 elektron valensi (4 pasang). Lambang Lewis unsur dari golongan lain menunjukkan adanya elektron tunggal (belum berpasangan). Berdasarkan perubahan konfigurasi elektron yang terjadi pada pembentukan ikatan, maka ikatan kimia dibedakan menjadi 4 yaitu : ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinat/koordinasi/dativ dan ikatan logam. 2

1). Ikatan Ion (elektrovalen) Terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil/rendah melepaskan elektron valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang mempunyai afinitas elektron besar/tinggi menangkap/menerima elektron tersebut (membentuk anion). Kedua ion tersebut kemudian saling berikatan dengan gaya elektrostatis. Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam sedangkan unsur yang cenderung menerima elektron adalah unsur non logam. Contoh 1 : Ikatan antara 11 Na dengan 17 Cl Konfigurasi elektronnya : 11 Na = 2, 8, 1 17 Cl = 2, 8, 7 Atom Na melepaskan 1 elektron valensinya sehingga konfigurasi elektronnya sama dengan gas mulia. Atom Cl menerima 1 elektron pada kulit terluarnya sehingga konfigurasi elektronnya sama dengan gas mulia.

Na

Na + + e

(2,8,1) (2,8)

Cl + e

Cl

(2,8,7) (2,8,8)

** ( Na + ) * Cl **

* *

Antara ion Na+ dengan Cl terjadi gaya tarik-menarik elektrostatis sehingga terbentuk senyawa ion NaCl. Contoh 2 : Ikatan antara Na dengan O Supaya mencapai oktet, maka Na harus melepaskan 1 elektron menjadi kation Na+ 3

Na

Na + + e

(2,8,1) (2,8) Supaya mencapai oktet, maka O harus menerima 2 elektron menjadi anion O 2

O + 2e
(2,6) (2,8)

O 2

Reaksi yang terjadi :

Na

Na + + e

(x2) (x1)

O + 2e
2Na + O

O 2
2 Na+ + O 2

Na2O

Contoh lain : senyawa MgCl2, AlF3 dan MgO Soal : Tentukan senyawa yang terbentuk dari : 1). Mg dengan F 2). Ca dengan Cl 3). K dengan O Senyawa yang mempunyai ikatan ion antara lain : Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA) Contoh : NaF, KI, CsF Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA) Contoh : Na2S, Rb2S,Na2O Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA) Contoh : CaO, BaO, MgS Sifat umum senyawa ionik : Titik didih dan titik lelehnya tinggi. Keras, tetapi mudah patah. Penghantar panas yang baik. Lelehan maupun larutannya dapat menghantarkan listrik (elektrolit). Larut dalam air. 4

Tidak larut dalam pelarut/senyawa organik (misal : alkohol, eter, benzena). 2). Ikatan Kovalen Adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom yang akan berikatan untuk melepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non logam). Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi serta beda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion. Atom non logam cenderung untuk menerima elektron sehingga jika tiap-tiap atom non logam berikatan maka ikatan yang terbentuk dapat dilakukan dengan cara mempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk pasangan elektron yang dipakai secara bersama. Pembentukan ikatan kovalen dengan cara pemakaian bersama pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan konfigurasi elektron pada unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He berjumlah 2 elektron). Ada 3 jenis ikatan kovalen : a). Ikatan Kovalen Tunggal. Contoh 1 : Ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom H membentuk molekul H2 Konfigurasi elektronnya :

H =1

Ke-2 atom H yang berikatan memerlukan 1 elektron tambahan agar diperoleh konfigurasi elektron yang stabil (sesuai dengan konfigurasi elektron He). Untuk itu, ke-2 atom H saling meminjamkan 1 elektronnya sehingga terdapat sepasang elektron yang dipakai bersama.

H + H H H
Rumus struktur Rumus kimia = H2 Contoh 2 : Ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom F membentuk molekul HF Konfigurasi elektronnya : = H-H

=1 5

= 2, 7

Atom H memiliki 1 elektron valensi sedangkan atom F memiliki 7 elektron valensi. Agar atom H dan F memiliki konfigurasi elektron yang stabil, maka atom H dan atom F masing-masing memerlukan 1 elektron tambahan (sesuai dengan konfigurasi elektron He dan Ne). Jadi, atom H dan F masing-masing meminjamkan 1 elektronnya untuk dipakai bersama.

H + F H F
Rumus struktur Rumus kimia = HF Soal : Tuliskan pembentukan ikatan kovalen dari senyawa berikut : (lengkapi dengan rumus struktur dan rumus kimianya) Atom C dengan H membentuk molekul CH4 Atom H dengan O membentuk molekul H2O Atom Br dengan Br membentuk molekul Br2 b). Ikatan Kovalen Rangkap Dua. Contoh : Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O2 Konfigurasi elektronnya : = H-F

O = 2, 6

Atom O memiliki 6 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi elektron yang stabil tiap-tiap atom O memerlukan tambahan elektron sebanyak 2. Ke-2 atom O saling meminjamkan 2 elektronnya, sehingga ke-2 atom O tersebut akan menggunakan 2 pasang elektron secara bersama.

+ O O
Rumus struktur

O O
: O=O

Rumus kimia : O2 Soal : 6

Tuliskan pembentukan ikatan kovalen dari senyawa berikut : (lengkapi dengan rumus struktur dan rumus kimianya) Atom C dengan O membentuk molekul CO2 Atom S dengan O membentuk molekul SO2 Atom C dengan H membentuk molekul C2H4 c). Ikatan Kovalen Rangkap Tiga. Contoh 1: Ikatan yang terjadi antara atom N dengan N membentuk molekul N2 Konfigurasi elektronnya :

N = 2, 5

Atom N memiliki 5 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi elektron yang stabil tiap-tiap atom N memerlukan tambahan elektron sebanyak 3. Ke-2 atom N saling meminjamkan 3 elektronnya, sehingga ke-2 atom N tersebut akan menggunakan 3 pasang elektron secara bersama.
** oo oo

ooo

Rumus struktur Rumus kimia : N2 Contoh 2:

: NN

Ikatan antara atom C dengan C dalam etuna (asetilena, C2H2). Konfigurasi elektronnya :

6 1

C
=1

= 2, 4

Atom C mempunyai 4 elektron valensi sedangkan atom H mempunyai 1 elektron. Atom C memasangkan 4 elektron valensinya, masing-masing 1 pada atom H dan 3 pada atom C lainnya. H CC H

ooo

**

***

***

H-CC-H 7

(Rumus Lewis)

(Rumus bangun/struktur)

3). Ikatan Kovalen Koordinasi/Koordinat/Dativ/Semipolar Adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama. Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ digambarkan dengan tanda anak panah kecil yang arahnya dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron. Contoh 1: Terbentuknya senyawa BF3-NH3 * ** * *F* * o **

H
H

* F* * * ** Atau

* F* * * **

F F B F

H N H H

Contoh 2: Terbentuknya molekul ozon (O3) Agar semua atom O dalam molekul O3 dapat memenuhi aturan oktet maka dalam salah 1 ikatan O-O, oksigen pusat harus menyumbangkan kedua elektronnya. oo oo
oo oo

oo

O +

oo

**

**

oo **

oo

oo

oo

**

+ O

oo

**

O ** O

* o

oo

* o

* o

* o

* o

* o

*F * **

**

N H

**

*F * **

* o

**

** * F* * ** o

* o

* o

B N H

* o

Rumus struktur : O=O O 4). Ikatan Logam Adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang bebas bergerak. Atom-atom logam dapat diibaratkan seperti bola pingpong yang terjejal rapat 1 sama lain. Atom logam mempunyai sedikit elektron valensi, sehingga sangat mudah untuk dilepaskan dan membentuk ion positif. Maka dari itu kulit terluar atom logam relatif longgar (terdapat banyak tempat kosong) sehingga elektron dapat berpindah dari 1 atom ke atom lain. Mobilitas elektron dalam logam sedemikian bebas, sehingga elektron valensi logam mengalami delokalisasi yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tersebut tidak tetap posisinya pada 1 atom, tetapi senantiasa berpindah-pindah dari 1 atom ke atom lain.

ion positif

awan elektron

Gambar Ikatan Logam Elektron-elektron valensi tersebut berbaur membentuk awan elektron yang menyelimuti ion-ion positif logam. Struktur logam seperti gambar di atas, dapat menjelaskan sifat-sifat khas logam yaitu : a). b). berupa zat padat pada suhu kamar, akibat adanya gaya tarik-menarik yang cukup dapat ditempa (tidak rapuh), dapat dibengkokkan dan dapat direntangkan menjadi kuat antara elektron valensi (dalam awan elektron) dengan ion positif logam. kawat. Hal ini akibat kuatnya ikatan logam sehingga atom-atom logam hanya bergeser sedangkan ikatannya tidak terputus.

c).

penghantar / konduktor listrik yang baik, akibat adanya elektron valensi yang dapat

bergerak bebas dan berpindah-pindah. Hal ini terjadi karena sebenarnya aliran listrik merupakan aliran elektron. Polarisasi Ikatan Kovalen Suatu ikatan kovalen disebut polar, jika pasangan elektron ikatan (PEI) tertarik lebih kuat ke salah 1 atom. Contoh 1 : Molekul HCl

H Cl
*o

oo oo

Meskipun atom H dan Cl sama-sama menarik pasangan elektron, tetapi keelektronegatifan Cl lebih besar daripada atom H. Akibatnya atom Cl menarik pasangan elektron ikatan (PEI) lebih kuat daripada atom H sehingga letak PEI lebih dekat ke arah Cl (akibatnya terjadi semacam kutub dalam molekul HCl).

oo

Cl
oo

oo

oo

Jadi, kepolaran suatu ikatan kovalen disebabkan oleh adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom-atom yang berikatan. Sebaliknya, suatu ikatan kovalen dikatakan non polar (tidak berkutub), jika PEI tertarik sama kuat ke semua atom. Contoh 2 :

H *o H

Dalam tiap molekul di atas, ke-2 atom yang berikatan menarik PEI sama kuat karena atomatom dari unsur sejenis mempunyai harga keelektronegatifan yang sama. Akibatnya muatan dari elektron tersebar secara merata sehingga tidak terbentuk kutub.

*o

Cl *o Cl
oo oo

oo

oo

oo

oo
10

Contoh 3 :

H
*o

H *o C

oo ** ** oo
1D

oo

Meskipun atom-atom penyusun CH4 dan CO2 tidak sejenis, akan tetapi pasangan elektron tersebar secara simetris diantara atom-atom penyusun senyawa, sehingga PEI tertarik sama kuat ke semua atom (tidak terbentuk kutub). Momen Dipol ( ) Adalah suatu besaran yang digunakan untuk menyatakan kepolaran suatu ikatan kovalen. Dirumuskan : Q r =Qxr ; = 3,33 x 10-30 C.m keterangan : = momen dipol, satuannya debye (D) = selisih muatan, satuannya coulomb (C) = jarak antara muatan positif dengan muatan negatif, satuannya meter (m)

Perbedaan antara Senyawa Ion dengan Senyawa Kovalen No 1 2 3 4 Sifat Titik didih Titik leleh Wujud Daya hantar listrik Senyawa Ion Tinggi Tinggi Padat pada suhu kamar Padat = isolator Lelehan = konduktor 5 6 Kelarutan dalam air Kelarutan dalam trikloroetana (CHCl3) Larutan = konduktor Umumnya larut Tidak larut Senyawa Kovalen Rendah Rendah Padat,cair,gas pada suhu kamar Padat = isolator Lelehan = isolator Larutan = ada yang konduktor Umumnya tidak larut Larut

Pengecualian dan Kegagalan Aturan Oktet 1). Pengecualian Aturan Oktet Senyawa yang tidak mencapai aturan oktet Meliputi senyawa kovalen biner sederhana dari Be, B dan Al yaitu atom-atom yang elektron valensinya kurang dari 4. 11

oo

*o

*o

H
O
oo ** oo

C O

Contoh : BeCl2, BCl3 dan AlBr3 Senyawa dengan jumlah elektron valensi ganjil Contohnya : NO2 mempunyai jumlah elektron valensi (5 + 6 + 6) = 17
oo o o o

O N
o

Oo

Senyawa dengan oktet berkembang Unsur-unsur periode 3 atau lebih dapat membentuk senyawa yang melampaui aturan oktet / lebih dari 8 elektron pada kulit terluar (karena kulit terluarnya M, N dst dapat menampung 18 elektron atau lebih). Contohnya : PCl5, SF6, ClF3, IF7 dan SbCl5 2). Kegagalan Aturan Oktet Aturan oktet gagal meramalkan rumus kimia senyawa dari unsur transisi maupun post transisi. Contoh : atom Sn mempunyai 4 elektron valensi tetapi senyawanya lebih banyak dengan tingkat oksidasi +2 atom Bi mempunyai 5 elektron valensi tetapi senyawanya lebih banyak dengan tingkat oksidasi +1 dan +3 Penyimpangan dari Aturan Oktet dapat berupa : Tidak mencapai oktet Melampaui oktet (oktet berkembang) Penulisan Struktur Lewis Langkah-langkahnya : Semua elektron valensi harus muncul dalam struktur Lewis Semua elektron dalam struktur Lewis umumnya berpasangan Semua atom umumnya mencapai konfigurasi oktet (khusus untuk H, duplet) Kadang-kadang terdapat ikatan rangkap 2 atau 3 (umumnya ikatan rangkap 2 atau 3 hanya dibentuk oleh atom C, N, O, P dan S) Langkah alternatif : (syarat utama : kerangka molekul / ion sudah diketahui) 12

oo

oo

Hitung jumlah elektron valensi dari semua atom dalam molekul / ion Berikan masing-masing sepasang elektron untuk setiap ikatan Sisa elektron digunakan untuk membuat semua atom terminal mencapai oktet Tambahkan sisa elektron (jika masih ada), kepada atom pusat Jika atom pusat belum oktet, tarik PEB dari atom terminal untuk membentuk ikatan rangkap dengan atom pusat Resonansi Suatu molekul atau ion tidak dapat dinyatakan hanya dengan satu struktur Lewis. Kemungkinan-kemungkinan struktur Lewis yang ekivalen untuk suatu molekul atau ion disebut Struktur Resonansi. Contoh :

oo ooo oo

oo

oo

oo

oo

oo
oo

oo

Dalam molekul SO2 terdapat 2 jenis ikatan yaitu 1 ikatan tunggal (S-O) dan 1 ikatan rangkap (S=O). Berdasarkan konsep resonansi, kedua ikatan dalam molekul SO2 adalah ekivalen. Dalam molekul SO2 itu, ikatan rangkap tidak tetap antara atom S dengan salah 1 dari 2 atom O dalam molekul itu, tetapi silih berganti. Tidak satupun di antara ke-2 struktur di atas yang benar untuk SO2, yang benar adalah gabungan atau hibrid dari ke-2 struktur resonansi tersebut.

Teori asam basa Lewis


Di tahun 1923 ketika Bronsted dan Lowry mengusulkan teori asam-basanya, Lewis juga mengusulkan teori asam basa baru juga. Lewis, yang juga mengusulkan teori oktet, memikirkan bahwa teori asam basa sebagai masalah dasar yang harus diselesaikan berlandaskan teori struktur atom, bukan berdasarkan hasil percobaan. Teori asam basa Lewis 13

oo

O S O oo

o oo

beresonansi

O S

oo oo

oo

oo

Asam: zat yang dapat menerima pasangan elektron. Basa: zat yang dapat mendonorkan pasangan elektron.

Semua zat yang didefinisikan sebagai asam dalam teori Arrhenius juga merupakan asam dalam kerangka teori Lewis karena proton adalah akseptor pasangan elektron . Dalam reaksi netralisasi proton membentuk ikatan koordinat dengan ion hidroksida. H+ + OH- H2O Situasi ini sama dengan reaksi fasa gas yang pertama diterima sebagai reaksi asam basa dalam kerangka teori Bronsted dan Lowry. HCl(g) + NH3(g) NH4Cl(s) Dalam reaksi ini, proton dari HCl membentuk ikatan koordinat dengan pasangan elektron bebas atom nitrogen. Keuntungan utama teori asam basa Lewis terletak pada fakta bahwa beberapa reaksi yang tidak dianggap sebagai reaksi asam basa dalam kerangka teori Arrhenius dan Bronsted Lowry terbukti sebagai reaksi asam basa dalam teori Lewis. Sebagai contoh reakasi antara boron trifluorida BF3 dan ion fluorida F-. BF3 + F-> BF4Reaksi ini melibatkan koordinasi boron trifluorida pada pasangan elektron bebas ion fluorida. Menurut teori asam basa Lewis, BF3 adalah asam. Untuk membedakan asam semacam BF3 dari asam protik (yang melepas proton, dengan kata lain, asam dalam kerangka teori Arrhenius dan Bronsted Lowry), asam ini disebut dengan asam Lewis. Boron membentuk senyawa yang tidak memenuhi aturan oktet, dan dengan demikian 14

adalah contoh khas unsur yang membentuk asam Lewis. Karena semua basa Bonsted Lowry mendonasikan pasangan elektronnya pada proton, basa ini juga merupakan basa Lewis. Namun, tidak semua asam Lewis adalah asam Bronsted Lowry sebagaimana dinyatakan dalam contoh di atas. Dari ketiga definisi asam basa di atas, definisi Arrhenius yang paling terbatas. Teori Lewis meliputi asam basa yang paling luas. Sepanjang yang dibahas adalah reaksi di larutan dalam air, teori Bronsted Lowry paling mudah digunakan, tetapi teori Lewis lah yang paling tepat bila reaksi asam basa melibatkan senyawa tanpa proton. Gilbert N. Lewis pada tahun 1923 mempublikasikan definisi asam basa berdasarkan teori ikatan kimia dimana definisi asam basa Lewis adalah sebagai berikut. Asam adalah aseptor pasangan elektron bebas sedangkan basa adalah donor pasangan elektron bebas. Teori asam basa Lewis mencakup pengertian yang lebih luas dibandingkan definisi asam basa Arrhenius dan Bronsted-Lowry. Konsep asam basa Bronsted-Lowry dengan Lewis adalah berbeda akan tetapi kedua konsep ini saling melengkapi. Basa Lewis adalah basa Bronsted-Lowry juga disebabkan dapat mendonorkan pasangan elektron bebasnya, akan tetapi asam Lewis belum tentu menjadi asam Bronsted-Lowry disebabkan asam BronstedLowry adalah donor proton sedangkan asam Lewis adalah acceptor elektron. Spesies apapun yang dapat menjadi aseptor pasangan elektron bebas bisa disebut sebagai asam lewis. Perlu diingat bahwa basa Lewis adalah donor pasangan elektron bebas, spesies berupa molekul atau ion yang memiliki tendensi untuk mendonorkan pasangan elektron bebasnya maka digolongkan dalam basa Lewis. Contoh basa Lewis adalah ion halide ( Cl-, F-, Brdan I-), ammonia, ion hidroksida, molekul air, senyawa yang mengandung N, O, atau S, senyawa golongan eter, ketone, molekul CO2 dan lain-lain. Gambar dibawah menunjukkan basa Lewis dengan pasangan elektron bebasnya.

15

Asam Lewis adalah aseptor pasangan elektron bebas. Contoh asam lewis adalah H+, B2H6, BF3, AlF3, ion logam transisi yang bisa mebentuk ion kompleks seperti Fe2+, Cu2+, Zn2+, dan sebagainya. Mungkin kamu berfikir bahwa untuk menjadi asam Lewis akan selalu diperlukan orbital kosong untuk menampung pasangan elektron yang didonorkan oleh basa Lewis tapi hal ini tidaklah mutlak sebab untuk menjadi asam Lewis tidak selalu suatu spesies menyediakan orbital kosong. Reaksi asam Lewis dan basa lewis dapat dicontohkan sebagai berikut:

Konstatnta Dielektrik
Sebagian besar reaksi kimia secara luas dilakukan di dalam larutan. Larutan terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pelarut (solvent) pada umumnya adalah zat yang berada pada larutan dalam jumlah yang besar, sedangkan zat lainnya dianggap sebagai zat terlarut (solute). Pelarut memenuhi beberapa fungsi dalam reaksi kimia, dimana pelarut melarutkan reaktan dan reagen agar keduanya bercampur, sehingga hal ini akan memudahkan penggabungan antara reaktan dan reagen yang seharusnya terjadi agar dapat merubah reaktan menjadi produk. Pelarut juga bertindak sebagai kontrol suhu, salah satunya untuk meningkatkan energi dari tubrukan partikel sehingga partikel-partikel tersebut dapat bereaksi lebih cepat, atau untuk menyerap panas yang dihasilkan selama reaksi eksotermik. Pada umumnya pelarut yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut : 1. Pelarut harus tidak reaktif (inert) terhadap kondisi reaksi. 2. Pelarut harus dapat melarutkan reaktan dan reagen. 16

3. Pelarut harus memiliki titik didih yang tepat. 4. Pelarut harus mudah dihilangkan pada saat akhir dari reaksi. Kriteria kedua adalah dengan menggunakan prinsip like dissolves like, dimana reaktan yang nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar sedangkan reaktan yang polar akan larut pada pelarut polar. Dalam hal ini juga terdapat tiga ukuran yang dapat menunjukkan kepolaran dari suatu pelarut yaitu : a. momen dipol b. konstanta dielektrik c. kelarutannya dengan air Molekul dari pelarut dengan momen dipol yang besar dan konsanta dielektrik yang tinggi termasuk polar. Sedangkan molekul dari pelarut yang memilki momen dipol yang kecil dan konstanta dielektrik rendah diklasifikasikan sebagai nonpolar. Sedangkan secara operasional, pelarut yang larut dengan air termasuk polar, sedangkan pelarut yang tidak larut dalam air termasuk nonpolar. Nilai momen dipol dan panjang dipol beberapa senyawa yang umum ditunjukkan pada Tabel di bawah. Berdasarkan kepolaran pelarut, maka para ahli kimia mengklasifikasikan pelarut ke dalam tiga kategori yaitu : a. Pelarut Protik Polar Protik menunjukkan atom hidrogen yang menyerang atom elektronegatif yang dalam hal ini adalah oksigen. Dengan kata lain pelarut protik polar adalah senyawa yang memiliki rumus umum ROH. Contoh dari pelarut protik polar ini adalah air H2O, metanol CH3OH, dan asam asetat (CH3COOH). b. Pelarut Aprotik Dipolar Aprotik menunjukkan molekul yang tidak mengandung ikatan O-H. Pelarut dalam kategori ini, semuanya memiliki ikatan yang memilki ikata dipol besar. Biasanya ikatannya merupakan ikatan ganda antara karbon dengan oksigen atau nitorgen. Contoh dari pelarut yang termasuk kategori ini adalah aseton [(CH3)2C=O] dan etil asetat (CH3CO2CH2CH3). c. Pelarut Nonpolar Pelarut nonpolar merupakan senyawa yang memilki konstanta dielektrik yang rendah dan tidak larut dalam air. Contoh pelarut dari kategori ini adalah benzena (C6H6), karbon tetraklorida (CCl4) dan dietil eter (CH3CH2OCH2CH3). Daftar Nilai Momen Dipol dan Panjang Dipol Beberapa Senyawa Umum Nama Senyawa Acetic acid Kondisi b Momen Dipol (1030p/(Cm)) 3.3 to 5.0 17 Panjang Dipol (lp/pm) 21 to 31

Acetone Benzene Ethanol Ethyl acetate Ethylene glycol Ethyl ether Hexane Methanol Water

l l b b b b l b l

10.0 0 5.7 6.2 6.7 4.2 0 5.5 6.7 to 10.0

62 0 35 39 42 26 0 34 42 to 62

Water g 6.2 39 Keterangan : kondisi setiap senyawa diatas, dimana pengukuran dilakukan, ditandai dengan simbol; b, substansi dalam larutan benzene; g, substansi sebagai gas; l, substansi sebagai cairan. Panjang dipol lp adalah sama dengan p/e dimanap adalah momen dipol dan e a

Daftar dibawah ini termasuk solvent pelarut, rumus kimia pelarut, titik didih pelarut, konstanta pelarut, dan massa jenis pelarut. Macam-Macam Pelarut
Solvent Pelarut Non-Polar CH3-CH2-CH2-CH2-CH2Heksana Benzena Toluena Dietil eter Kloroform Etil asetat Pelarut Polar Aprotic 1,4-Dioksana Tetrahidrofuran(THF) Diklorometana(DCM) Asetona Asetonitril (MeCN) /-CH2-CH2-O-CH2-CH2-O-\ 101 C /-CH2-CH2-O-CH2-CH2-\ CH2Cl2 CH3-C(=O)-CH3 CH3-CN 66 C 40 C 56 C 82 C 2.3 7.5 9.1 21 37 1.033 g/ml 0.886 g/ml 1.326 g/ml 0.786 g/ml 0.786 g/ml CH3 C6H6 C6H5-CH3 CH3CH2-O-CH2-CH3 CHCl3 CH3-C(=O)-O-CH2-CH3 69 C 80 C 111 C 35 C 61 C 77 C 2.0 2.3 2.4 4.3 4.8 6.0 0.655 g/ml 0.879 g/ml 0.867 g/ml 0.713 g/ml 1.498 g/ml 0.894 g/ml Rumus kimia Titik didih Konstanta Dielektrik Massa jenis

18

Dimetilformamida(DMF) Dimetil sulfoksida(DMSO) Pelarut Polar Protic Asam asetat n-Butanol Isopropanol (IPA) n-Propanol Etanol Metanol Asam format Air

H-C(=O)N(CH3)2

153 C

38

0.944 g/ml

CH3-S(=O)-CH3

189 C

47

1.092 g/ml

CH3-C(=O)OH CH3-CH2-CH2-CH2-OH CH3-CH(-OH)-CH3 CH3-CH2-CH2-OH CH3-CH2-OH CH3-OH H-C(=O)OH H-O-H

118 C 118 C 82 C 97 C 79 C 65 C 100 C 100 C

6.2 18 18 20 30 33 58 80

1.049 g/ml 0.810 g/ml 0.785 g/ml 0.803 g/ml 0.789 g/ml 0.791 g/ml 1.21 g/ml 1.000 g/ml

DAFTAR PUSTAKA Achmad Golib. 2009. Buku Pintar Kimia, Powerboks. Jogjakarta. Buku Ajar Kimia Dasar

19