Anda di halaman 1dari 22

DIFUSI DAN DISOLUSI

Difusi
Difusi pasif suatu zat melalui cairan, zat padat atau melalui membran adalah suatu proses yang sangat penting dalam ilmu farmasi Fenomena transpor massa yang diterapkan dalam bidang farmasi adalah disolusi obat dari tablet, serbuk dan granul, ultrafiltrasi, pelepasan obat dari basis salep, atau suppositoria, lewatnya uap air, gas, obat atau zat tambahan pada sediaan obat melalui penyalutan, serta permeasi dan distribusi molekul obat dalam jaringan hidup

Difusi didefinisikan ssebagai prosses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan molekuler secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas, misalnya suatu membran polimer.

Perjalanan suatu zat melalui suatu batas bisa terjadi oleh suatu permeasi molekuler sederhana atau gerakan melalui pori dan lubang. Difusi molekuler atau permeasi melalui media yang tidak berpori bergantung pada disolusi dari molekul yang menembus membran tersebut.

Dialisis, Hwang dan Kammermeyer mendefinisikan dialisis sebagai suatu proses pemisahan berdasakan kecepatan lewatnya zat terlarut dan pelarut yang tidak sama melalui membran yang berpori-pori sangat kecil secara kontinu

Osmosis, suatu proses yang berhubungan dengan dialisis. Osmosis mula-mula didefinisikan sebagai lewatnya zat terlarut dan pelarut melalui suatu membran, tapi sekarang didefinisikan sebagai suatu proses dimana hanya pelarut yang berpindah. Pelarut menembus membran semipermeabel untuk mengencerkan larutan. Lewatnya zat terlarut bersama-sama dengan pelarut sekarang ini disebut difusi atau dialisis

Ultrafiltrasi, proses ini digunakan untuk memisahkan partikel koloid dan molekul besar dengan menggunakan suatu membran. Tekanan hidrolik digunakan untuk menekan pelarut melewati membran, sedang membran mikropori mencegah lewatnya molekul zat terlarut yang besar.

Transport across the membranes


(Transcellular Transport) a)Passive Diffusion with a Concentration Gradient

CGI

CP h

Most drugs cross biologic membranes by passive diffusion. Diffusion occurs when the drug concentration on one side of the membrane is higher than that on the other side. Drug diffuses across the membrane in an attempt to equalize the drug concentration on both sides of the membrane. If the drug partitions into the lipid membrane, a concentration gradient can be established.

Equation 1: Rate of Diffusion


Ficks law of Diffusion
The rate of transport of drug across the membrane can be described by Fick's first law of diffusion: Rate of diffusion = dQ DAK

dt

CGI CP

dQ/dt = rate of diffusion; D = diffusion coefficient; K = lipid water patition coefficient of drug; A = surface area of membrane; h = membrane thickness; CGI-CP = difference between the concentration of drug in GIT and in the plasma

Disolusi
Bila tablet atau sediaan obat lain dimasukkan dalam beaker yang berii air atau dimasukkan ke dalam saluran cerna (GI), obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul ini mengalami pemecahan menjadi partikelpartikel yang halus.

Suatu sediaan farmasi akan mencapai sirkulasi sistemik setelah melalui beberapa tahapan. Tablet sebagai suatu sediaan yang paling umum, setelah ditelan akan mengalami desintegrasi dimana tablet akan pecah dilambung dan menjadi banyak partikel yang lebih kecil ( granul ), yang terdiri dari zat aktif bercampur zat-zat pembantu (gom, gelatin, dan sebagainya). Disintegrasi, deagregasi, dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diharapkan

Baru setelah granul pecah, zat aktif dibebaskan. Bila daya larutnya besar, zat aktif tersebut akan melarut dalam cairan lambung/usus tergantung dimana pada saat itu obat berada. Setelah obat melarut barulah obat akan di absorpsi oleh usus halus yang selanjutnya oleh sirkulasi darah dibawa kejaringan, dimana obat akan berikatan dengan reseptor dan menimbulkan efek farmakologi.

Salah satu proses penting agar obat dapat menimbulkan efek farmakologi dan terapi yang diinginkan adalah proses pelepasan atau pembebasan zat aktif dari sediaannya, peristiwa ini dinamakan disolusi. Disolusi berbeda dengan waktu hancur (desintegrasi ), suatu sediaan obat akan memiliki waktu hancur yang baik namun belum tentu dalam proses disolusinya berlangsung dengan baik pula sehingga obat tersebut dapat memberikan efek terapi yang diinginkan

Uji disolusi merupakan suatu parameter yang cocok untuk uji ketersediaan hayati secara in vitro, karena itu uji disolusi termasuk dalam evaluasi mutu tablet setelah dilakukan pengujian terhadap waktu hancurnya

Gambar Tahapan Disolusi

Tahap S1 S2

Jumlah yang diuji 6 6

Kriteria Penerimaan Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q + 5 % Rata-rata dari 12 unit (S1 + S2) adalah sama dengan atau lebih besar dari Q dan tidak satu unit

sediaanpun yang lebih kecil dari Q 15 %.

S3

12

Rata-rata dari 24 unit (S1 + S2 +S3) adalah sama dengan atau lebih besar dari Q, tidak lebih dari 2 unit

sediaan yang lebih kecil dari Q 15 % dan tidak satu


unitpun yang lebih kecil dari Q 25 %.

Laju dimana suatu padatan melarut dalam suatu pelarut (disolusi) telah dilakukan secara kuantitatif oleh Noyes dan Whitney. Persamaan tersebut bisa dituliskan sebagai :
dM = DS (Cs C) atau dC = DS (Cs C) dt h dt h dM/dt = zat terlarut yang dilarutkan dalam waktu (t) yaitu laju disolusi dari massa terssebut (massa/waktu). D, adalah koefisien difusi dari zat terlarut, S adalah luas permukaan zat padat yang menyentuh larutan, h ketebalan lapisan difussi. Cs kelarutan dari zat padat (konsentrasi larutan jenuh pada temperatur percobaan), dan C adalah konsentrasi zat terlarut pada waktu t.