Anda di halaman 1dari 7

JENIS-JENIS PENELITIAN

DIPOSKAN OLEH ERVIN OKTAVIANA SELASA, 02 NOVEMBER 2010

1. KOHORT Penelitian kohort sering juga disebut penelitian follow up atau penelitian insidensi, yang dimuali dengan sekelompok orang (kohor) yang bebas dari penyakit, yang diklasifikasikan ke dalam sub kelompok tertentu sesuai dengan paparan terhadap sebuah penyebab potensial terjadinya penyakit atau outcome. Penelitian kohort memberikan informasi terbaik tentang penyebab penyakit dan pengukurannya yang paling langsung tentang resiko timbulnya penyakit. Jadi ciri umum penelitian kohor adalah: dimulai dari pemilihan subyek berdasarkan status paparan, melakukan pencatatan terhadap perkembangan subyek dalam kelompok studi amatan, dimungkinkan penghitungan laju insidensi (ID) dan masing-masing kelompok studi, peneliti hanya mengamati dan mencatat paparan dan penyakit dan tidak dengan sengaja mengalokasikanpaparan. Terdapat beberapa jenis desain penelitian kohort: a. Studi kohort prospektif dengan kelompokpembanding internal b. Studi kohort prospektif dengan kelompok pembanding eksternal (studi kohort ganda) c. Studi kohort retrospektif d. Nested case control study Pada studi kohort prospektif dengan pembanding internal, kohort yang dipilih sama sekali belum terpajan factor resiko serta belum mengalami efek. Subyek tersebut diikuti, secara alamiah sebagian dari mereka akan terpajan factor resiko, sebagian lainnya tidak. Dilakukan folloe up untuk mendeteksi terjadinya efek pada kedua kelompok. Bila subyek yang dipilih sudah terkena factor resiko tetapi belum mengalami efek, dan kelompok pembandingnya dapat dipilih dari subyek lain yang tanpa pajanan factor resiko dan tanpa efek, maka kita berhadapan dengan studi kohort prospektif dengan kelompok pembanding eksternal. Suatu modifikasi kohort adalah melakukan penelusuran terhadap sekelompok kohort yang sudah mengalami efek, studi ini disebut studi kohort retrospektif. Contoh: Hubungan antara kebiasaan mandi di kali dengan terjadinya infeksi saluran kemih pada anak. Langkah-langkah pada studi kohort a. Merumuskan pertanyaan penelitian

b. Menetapkan kohort c. Memilih kelompok control d. Mengidentifikasi variable penelitian e. Mengamati timbulnya efek f. Menganalisis hasil Kelebihan dan kelemahan studi kohort: a. Kelebihan 1) Studi kohort merupakan desain yang terbaik dalam menentukan insidens dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti. 2) Studi kohort yang baik dalam menerangkan hubungan antara factor-faktor resiko dengan efek secara temporal. 3) Studi kohort merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progesif. 4) Studi kohort dapat dipakai untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari suatu factor resiko tertentu. 5) Karena pengamatan dilakukan secara kontinyu dan longitudinal, studi kohort memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah kesehatan yang makin meningkat. b. Kelemahan 1) Studi kohort biasanya memerlukan waktu yang lama 2) Sarana dan biaya biasanya mahal 3) Studi kohort sering kali rumit 4) Kurang efisien segi waktu maupun biaya untuk meneliti kasus yang jarang terjadi 5) Terancam terjadinya drop out atau terjadinya perubahan intensitas pajanan atau factor resiko dapat mengganggu analisis hasil 6) Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan subyek terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan subyek. 2. STUDI CROSS SECTIONAL Dalam studi cross sectional peneliti melakukan observasi atau pengukuran variable pada suatu saat. Kata suatu saat disini bukan berarti semua subjek penelitian

diamati tepat pada saat yang sama, tetapi artinya setiap subjek hanya di observasi satu kali saja dan pengukuran variable subjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut. Jadi pada studi cross sectional peneliti tidak melakukan tindak lanjut. Hasil pengamatan studi cross sectional untuk mengidentifikasi factor resiko kemudian disusun dalam table 2 x 2. Untuk desain seperti ini biasanya yang dihitung adalah rasio prevalens, yakni perbandingan antara prevalens kejadian penyakit atau efek pada suatu subyek dari kelompok dengan resiko, dengan prevalens penyakit atau efek subyek pada kelompok tanpa resiko. Studi cross sectional hanyalah merupakan salah satu jenis studi observasional untuk menentukan hubungan factor resiko dan penyakit. Studi ini mempelajari etiologi suatu penyakit terutama mempelajari factor penyakit yang mempunyai onset yang lama (slow onset) dan lama sakit (duration) yang panjang. Untuk penyakit yang mempunyai lama sakit yang pendek tidak tepat diteliti dengan studi cross sectional, karena hanya sedikit jumlah kasus yang diperoleh di dalam kurun waktu yang pendek. Desain studi cross sectional dapat dipergunakan untuk penelitian deskriptif, namun juga dapat digunakan untuk penelitian analitik. Contoh penelitian cross sectional deskriptif: a. Penelitian tentang prosentase bayi yang mendapat ASI eksklusif di suatu komunitas. b. Penelitian prevalens asma pada anak sekolah di Jakarta. c. Penelitian nilai normal laboratorium pada remaja. Contoh penelitian cross sectional analitik: a. Perbedaan proporsi pemberian ASI eksklusif berdasar tingkat pendidikan ibu. b. Perbedaan kadar kolesterol siswa SMP daerah kota dengan desa. c. Perbedaan prevalensi asma antara siswa lelaki dengan perempuan. Langkah-langkah studi cross sectional: a. Merumuskan pernyataan penelitian beserta hipotesis yang sesuai. b. Mengidentifikasi variable bebas dan tergantung. c. Menetapkan subyek penelitian. d. Melaksanakan pengukuran. e. Melakukan analisis. Kelebihan dan kekurangan studi cross sectional:

a. Kelebihan 1) Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum, tidak hanya yang mencari pengobatan, hingga generalisasinyacukup memadai. 2) Desain relative mudah, murah dan hasilnya cepat diperoleh. 3) Dapat dipakai untuk meneliti sekaligus banyak variable. 4) Tidak terancam loss to follow up (droup out). 5) Dapat dimasukkan ke dalam tahapan pertama suatu penelitian kohort atau eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya. 6) Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian berikutnya yang lebih konklusif. b. Kekurangan 1) Sulit menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data resiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan (temporal relationship tidak jelas). 2) Studi prevalens lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit yang panjang daripada mereka yang mempunyai masa sakit yang pendek. Hal ini disebabkan karena individu yang cepat sembuh atau cepat meninggal akan mempunyai kesempatan yang lebih kecil untuk terjaring dalam studi ini, sehingga akan terjadi salah interprtasi dari hasil temuan studi ini. 3. STUDI CASE CONTROL Penetilian kasus-kontrol yang sering juga disebut case-comparison study, casecompeer study, case-referent studi atau retrospective study, merupakan penelitian epidemiologic analitik observasional yang mengkaji hubungan antara efek (dapat berupa penyakit atau kondisi kesehatan) tertentu dengan resiko tertentu. Desain penelitian kasus control dapat dipergunakan untuk mencari hubungan seberapa jauh resiko mempengaruhi terjadinya penyakit (cause-effect relationship). Pada studi kasus-kontrol studi dimulai dengan mengidentifikasi kelompok dengan penyakit ataupun efek tertentu (kasus) dan kelompok tapa efek (control), kemudian secara retrospektif diteliti factor resiko yang mungkin dapat menerangkan mengapa kasus terkena efek, sedangkan control tidak. Contoh: a. Hubungan antara kanker serviks dengan perilaku seksual b. Hubungan antara tuberculosis anak dengan vaksinasi BCG c. Hubungan antara status gizi bayi berusia 1 tahun dengan pemakaian KB suntik

pada ibu Langkah-langkah pada penelitian kasus control: a. Menetapkan pernyataan penelitian dan hipotesis yang sesuai. b. Mendeskripsikan variable penelitian: factor resiko, efek. c. Menentuka populasi terjangkau dari sampel (kasus, control) dan cara untuk pemilihan subyek penelitian d. Melakukan pengukuran variable efek dan factor resiko. e. Menganalisis data Kelebihan dan kelemahan penelitian kasus-kontrol a. Kelebihan 1) Studi kasus-kontrol dapat atau kadang bahkan merupakan satu-satunya cara untuk meneliti kasus yang jarang atau yang masa latennya panjang. 2) Hasil dapat diperoleh dengan cepat 3) Biaya yang digunakan relative lebih sedikit 4) Memerlukan subyek penelitian yang lebih sedikit 5) Memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai factor resiko sekaligus b. Kekurangan 1) Data mengenai pajanan factor resiko diperoleh dengan mengandalkan daya ingat atau catatan medic. Daya ingat responden ini yang menyebabkan terjadinya recall bias, baik karena lupa, atau responden yang mengalami efek cenderung lebih mengingat pajanan terhadap factor resikodaripada responden yang tidak mengalami efek. Data sekunder dalam hal ini catatan medic rutin yang sering dipakai sebagai sumber data juga tidak begitu akurat. 2) Validasi mengenai informasi kadang-kadang sukar doperoleh. 3) Karena kasus dan control diperoleh oleh peneliti maka sukar untuk meyakinkan bahwa kedua kelompok itu sebanding dalam factor eksternal dan sumber bias lainnya. 4) Tidak dapat memberikan incidence rates. 5) Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari satu variable dependen, hanya berkaitan dengan suatu penyakit atau efek.

Macam dan jenis disain penelitian pada dasarnya adalah identik dengan macam dan jenis penelitian itu sendiri. Macam dan jenis penelitian

secara sederhana dapat dibedakan menjadi tiga, yakni: 1. Penelitian Historikal Pada penelitian ini, yang dimanfaatkan adalah data yang telah lampau. Data tersebut dapat berasal dari data-data kepustakaan (data sekunder) atau data yang dicari sendiri (data primer). Contoh: Meneliti tingkat kesehatan penduduk Indonesia pada tahun1945-1950. Di sini peneliti mengkaji semua data yang ada hubungannya dengan tingkat kesehatan penduduk Indonesia tahun 19451950. 2. Penelitian Survey Pada penelitian ini, yang dimanfaatkan adalah data yang terjadi secara alamiah dalam arti ada atau tidaknya data tersebut, bukan sebagai hasil dari perbuatan si peneliti. Data yang dimanfaatkan tersebutdapat pula berupa data masa lampau, namun pada pembahasannya tidak mengarah pada sesuatu yang bersifat sejarah. Penelitian survey dapat dibedakan menjadi dua macam: a. Penelitian survey tanpa kelompok pembanding Pada penelitian ini dilakukan penelitian terhadap satu kelompok populasi. Secara umum penelitian ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yakni: - Bersifat deskriptif sederhana: jika yang dibahas hanya suatu keadaan tertentu secara terpisah tanpa menghubungkannya dengan keadaan lainnya (misalnya: hanya umur, jenis kelamin, suku bangsa, dll). - Bersifat deskriptif korelatif: jika dalam pembahasannya dilihat hubungan antara satu keadaan dengan keadaan lainnya (misanya: hubungan antara umur dan jenis kelamin). b. Penelitian survey dengan kelompok pembanding Pada penelitian ini dilakukan penelitian terhadap dua kelompok populasi. Ada dua bentuk yang dikenal, yaitu: - Penelitian kohort: jika yang dibandingkan adalah kelompok terkena

paparan dengan yang tidak terkena paparan kemudian dilihat akibat yang muncul. Karena kohort mengacu pada masa depan, maka sifatnya adalah prospektif. Selanjutnya karena pengukuran penyebab dan akibat tidak dalam waktu yang bersamaan, maka penelitian kohort dikenal dengan penelitian yang bersifat longitudinal. - Penelitian kasus kelola (Case-Control): jika yang dibandingkan kelompok yang sakit dengan yang tidak sakit dan ingin diketahui penyebabnya. Karena kasus kelola (Case-Control) mengacu pada masa lampau, maka disebut penelitian yang bersifat retrospektif. 3. Penelitian Eksperimental Pada penelitian eksperimen dilakukan pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisa data yang dihasilkan dari adanya campurtangan si peneliti. Penelitian ini dibedakan menjadi 2 macam: a. Ditujukan hanya satu kelompok saja Contoh: Membandingkan hasil yang diperoleh sebelum suatu tindakan dengan hasil yang diperoleh sesudah tindakan yang ditujukan pada satu kelompok saja. EKsperimen semacam ini mudah dilakukan tapi tidak dianjurkan. b. Ditujukan pada dua kelompok Contoh: Dilakukan uji coba terhadap suatu obat baru dimana satu kelompok diberikan obat baru tersebut, sedangkan kelompok lainnya tidak diberikan. Data diperoleh, kemudian dianalisa untuk selanjutnya ditarik kesimpulan tentang baik atau tidaknya obat baru tersebut. Eksperimen seperti ini adalah yang paling sering dilakukan.