Anda di halaman 1dari 7

Sebagian besar fraktur pada usia lanjut terjadi di rumah, jatuh di kamar mandi, atau terpeleset oleh benda

kecil di ruang tamu. Sekitar fraktur colum femur terjadi di

lingkungan rumah. Terpeleset atau tersandung di lantai merupakan penyebab utama jatuh. Terdapat 3 jenis fraktur pada usia lanjut terutama sebagai akibat osteoporosis 1. Fraktur koksa 2. Fraktur pergelangan tangan 3. Fraktur columna vertebralis Fraktur colum femur adalah fraktur terpenting pada usia lanjut. Insiden paa wanita 3 kali dibanding pria dan osteoporosis merupakan faktor predisposisi utama. Fraktur pada femur merupakan masalah kesehatan penting pada usia lanjut dan sering kali merubah hidup seorang usia lanjut menjadi buruk, menyebabkan mortalitas yang cukup tinggi dan berbagai komplikasi berta dan kecacatan. Patogenesis fraktur pada osteoporosis adalah sebagai berikut: : fraktur kolum femur : fraktur colles

Sekali mengalami fraktur, kaput dan leher bergeser ke stadium yang semakin berat. Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV : fraktur yang tak sepenuhnya terimpaksi : fraktur lengkap tapi tidak bergeser : fraktur lengkap dengan pergeseran sedang : fraktur yang bergeser secara hebat

Gambaran klinik biasanya terdapat riwayat jatuh, yang diikuti nyeri pinggul, tungkai pasien terdapat pada posisi rotasi lateral, dan kaki tampak pendek.

Prinsip terapi adalah reduksi yang tepat, fiksasi secara erat dan aktivitas dini. Penatalaksanaanya adalah 1. Operative (umumnya dilakukan) atau Konservatif Lalu diberikan Fiksasi Internal 2. Pergantian prostetik 3. Total hip replacement Penatalaksanaan awal pada fraktur adalah stabilisasi. Reposition : menyesuaikan fragment distal terhadap fragment proksimal agar tercapai acceptable Retain : imobilisasi atau fiksasi luar/ dalam Rehabilitation : mengembalikan fungsi secepat mungkin dan menghindari kecatatan

Kejadian Osteoporosis ditandai dengan penurunan massa tulang dan kemerosotan mikroarsitektur yang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Kemerosotan mikroarsitektur tampak seperti spikulum tulang yang semakin sedikit dan tipis, serta adanya topangan horizontal yang abnormal yang tidak menyatu untuk membentuk trabekular sehingga tulang rentan terhadap fraktur . Pada osteoporosis pascamenopouse, pengurangan tulang terjadi paling parah di korpus vertebrae, yang mungkin menggalami fraktur dan kolaps. Pengurangan tulang serupa sering dialami oleh tulang lain yang menerima banyak beban, misalnya collum femoris, pelvis dan lain-lain. Perubahan mikroskopik utama adalah menipisnya trabekula dan melebarnya kanalis havers. Pada potongan mikroskopik aktifitas osteoklas ditemukan, tetapi tidak meningkat secara drastis. Kadungan mineral ditulang lainhya normal sehingga tidak terjadi perubahan dalam rasio mineral terhadap protein. Faktor Faktor Penyebab Resiko Osteoporosis 1. Wanita Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen. 2. Usia Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan

tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat. 3. Ras/Suku Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. 4. Keturunan Penderita Osteoporosis 5. Gaya Hidup Kurang Baik a. Minuman berkafein dan beralkohol. Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang

menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas). b. Malas Olahraga Mereka yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa. c. Merokok Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunansusunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan. d. Kurang Kalsium e. Mengkonsumsi Obat konsumsi steroid yang sering dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan anti kejang juga menyebabkan osteoporosis. Osteoporosis adalah suatu penyakit yang biasanya tidak diikuti gejala, makanya sering disebut sebagai the silent disease. ada beberapa gejala yang bisa jadi dasar untuk menentukan seseorang terkena osteoporosis atau tidak : Adanya nyeri di tulang belakang, pergelangan tangan, pangkal paha Adanya kecenderungan penurunan tinggi badan Postur tubuh kelihatan memendek(bungkuk) Tulang menjadi mudah patah

Kadang-kadang keluhan dapat langsung mengarah kepada diagnosis misalnya fraktur kolum femur, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi lama. Penatalaksanaan osteoporosis dengan cara menghambat aktivitas osteoklas (anti resoptif) dan meningkatkan kerja osteoblas (stimulator tulang). Yang termasuk golongan anti resoptif adalah estrogen, bifosponat dan kalsitonin. Yang termasuk stimulator tulang adalah Na-fluorida, PTH. Kalsium dan vitamin D tidak mempunyai efek anti resoptif dan stimulator tulang, tetapi diperlukan untuk optimalisasi mineralisasi osteoid setelah proses formasi osteoblas. Edukasi : 1. Anjurkan pasien untk melakukan aktivitas fisik yang teratur untuk memelihara kekuatan, kelenturan dan koordinasi sistem neuromuskular serta kebugaran sehingga dapat mencegah resiko jatuh. Latihan yang dapat dilakukan meliputi berjalan 30-60 menit/hari, bersepeda maupun berenang. 2. Jaga asupan kalsium 1000-1500mg/hari baik dari makanan ataupun suplementasi. 3. Hindari mengangkat yang berat. 4. Hindari hal yang dapat menyebabkan jatuh : misalnya lantai yang licin, obatobat sedatif, obat antihipertensi yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik. 5. Suplementasi vitamin D 400 IU/hari. Latihan dan program rehabilitasi Latihan dan program rehabilitasi sangat penting pada osteoporosis karena dengan latihan yang teratur, penderita akan lebih lincah, tangkas dan kuat otot-otonya sehingga tidak mudah terjatuh. Latihan juga mencegah perburukan osteoporosis karena terdapat rangsangan biofisikoelektrokemikal yang akan meningkatkan remodeling tulang. Bagi mereka yang telah terkena osteoporosis, pola latihannya berbeda dengan program pencegahan dan harus dilakukan dengan benar, hati-hati, dan perlahan. Pada tahap awal, latihan diutamakan pada kelenturan sendi dan secara bertahap ditingkatkan dengan pelatihan kekuatan dan anggota badan. Bila kekuatan dan daya tahan telah meningkat, waktu latihan harus ditambah. Pembedaan pola ini penting karena latihan tertentu dapat meningkatkan risiko fraktur, misalnya senam aerobik benturan keras, senam dingklik (step robic) dan sebagainya. Seseorang yang pernah mengalami fraktur karena osteoporosis

mungkin masih sering sakit waktu mulai berlatih. Karena itu, bagi yang telah mengalami fraktur tulang belakang pada enam bulan terakhir dan masih sering merasa sakit saat beraktivitas fisik mulailah berlatih pelan-pelan. Demikian pula bagi yang berisiko terkena fraktur walau belum pernah terjadi fraktur. Karena berkurangnya massa tulang (yang meningkatkan risiko untuk mengalami fraktur) akan meningkat jika seseorang tidak aktif dan terlalu lama beristirahat di tempat tidur. Bentuk Latihan yang harus dihindari Agar aman bagi yang sudah terkena osteoporosis, jangan berolahraga yang memberikan benturan dan pembebanan pada tulang punggung. Ini berarti jangan melompat, senam aerobik benturan keras (high impact aerobics). Jangan berolahraga atau beraktivitas fisik yang mengharuskan Anda membongkok ke depan dari pinggang dengan punggung melengkung. Ini berarti jangan sit up, meraih jari-jari kaki, atau berlatih dengan mesin dayung. Jangan pula beraktivitas yang mudah menyebabkan jatuh. Jadi jangan berlatih dengan trampolin atau senam dingklik (step aerobic), berlatih di lantai yang licin, atau menggunakan sepatu yang solnya keras atau licin. Jangan beraktivitas fisik yang memerlukan Anda menggerakkan kaki ke segala arah dengan beban. Pinggul yang telah melemah akan lebih mudah patah tulang lewat latihan ini Bentuk Latihan yang Aman Latihan yang aman adalah olahraga jalan kaki. Tentunya ini dilakukan secara bertahap. Pada kebanyakan orang yang osteoporosis, jalan sangatlah ideal. Meningkatkan daya tahan (endurance), kelincahan (agility), mengurangi kemungkinan jatuh, dengan risiko cedera yang kecil pula. Dapat juga mengangkat beban, baik perempuan maupun laki-laki, dari beban bebas (dumbel kecil) hingga mesin latihan beban. Terutama ditekankan pada latihan-latihan pada pinggul, paha, pinggang, lengan dan bahu. Latihan sebaiknya untuk meningkatkan perimbangan dan kelincahan, juga ekstensi punggung. Ini berlawanan dengan gerakan fleksi punggung, yang harus dihindari. Latihan ekstensi punggung dilakukan dengan melengkungkan punggung dan cukup aman. Latihan dapat dilakukan dengan duduk di kursi dengan atau tanpa beban, dengan dasar gerakan melengkungkan punggung. latihan-latihan ini menguatkan otot-otot yang besar yang menahan agar tulang punggung lurus, mengurangi kemungkinan bongkok, mengurangi rasa capai di punggung, dan menguatkan punggung.

Katarak senilis

merupakan katarak yang terjadi akibat proses penuaan dan

bertambahnya umur disebut katarak senilis. Katarak senilis merupakan semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu di atas 50 tahun. Penyebab katarak senilis sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti. Ada beberapa konsep penuaan yang mengarah pada proses terbentuknya katarak senilis: Jaringan embrio manusia dapat membelah 50 kali kemudian akan mati. Teori cross-link yang menjelaskan terjadinya pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi. Imunologis; dengan bertambahnya usia menyebabkan bertambahnya cacat imunologis sehingga mengakibatkan kerusakan sel. Teori radikal bebas.1

Semakin bertambah usia lensa, maka akan semakin tebal dan berat sementara daya akomodasinya semakin melemah. Pada katarak imatur terjadi kekeruhan yang lebih tebal, tetapi belum mengenai seluruh lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder. Penatalaksanaan pada katarak adalah dengan pembedahan untuk mengangkat kekeruhan lensa dengan harapan pasca bedah dapat dicapai tajam penglihatan yang baik. Tindakan pembedahan dilakukan dengan indikasi : katarak matur, katarak hipermatur, katarak yang belum matur namun sudah mengganggu pekerjaan sehari-hari, dan katarak dapat menimbulkan komplikasi (glaukoma dan uveitis).