Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN FIELDTRIP DASAR ILMU TANAH DI GUBUK KLAKAH PONCO KUSUMO KABUPATEN MALANG (CUBAN PELANGI)

Disusun Oleh : Kelompok C-1

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

LAPORAN FIELDTRIP DASAR ILMU TANAH DI DESA GUBUK KLAKAH, KECAMATAN PONCO KUSUMO MALANG (CUBAN PELANGI) Disusun Oleh : Kelompok C-1 Nama Kelas Asisten Praktikum
Bagoes Dwi Prasojo Ghassani Anggiah Agung Wicaksono Arfan Alfian M.Ramadhani Ladelan Nurul Setyaningsih Muhammad Saddam Rizky Darmawan S. Dhimas Sigit B. Ramadhani Mahendra Etty Wahyuningsih Moch.Illafi S. Rugun Pasaribu Mochamad Taufiqur R. Devia Nur Etrina Gema Rizki I. Andy Wijaya Dyah Ayu Laras Sukma Virdausi Nuzula Febrian Candra B.K C JOHANDRE C JOHANDRE C JOHANDRE C JOHANDRE C JOHANDRE C C C C C C C C C C C C C C C JOHANDRE JOHANDRE JOHANDRE JOHANDRE JOHANDRE JOHANDRE

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Profil tanah merupakan penampang tegak tanah yang memperlihatkan berbagai lapisan tanah. Pengamatan profil sangat penting dalam mempelajari sifat-sifat tanah secara cepat dilapangan, terutama yang berkaitan dengan genetis dan klasifikasi tanah. Sidik cepat beberapa sifat fisik, kimia dan biologi tanah juga biasanya dilakukan dengan bersamaan dan merupakan bagian pengamatan profil tanah. Evaluasi terhadap sifat-sifat tanah ini kemudian dilanjutkan secara lebih rinci di laboratorium dengan menggunakan contoh tanah. Contoh tanah dibedakan atas beberapa macam tergantung pada tujuan dan cara pengambilan. Bila contoh tanah diambil pada setiap lapisan untuk mempelajari perkembangan profil menetapkan jenis tanah maka disebut contoh tanah satelit. Contoh tanah yang diambil dari beberapa tempat dan digabung untuk menilai tingkat kesuburan tanah disebut contoh tanah komposit. Pengambilan contoh tanah secara komposit dapat menghemat biaya analisis bila dibandingkan dengan pengambilan secara individu ( Peterson dan calvin, 1986 ). Adalagi contoh tanah yang diambil dengan pengambilan sampel (care) dan disebut dengan contoh tanah utuh, yang biasanya digunakan untuk menetapkan sifat tanah disebut contoh tanah utuh karena strukturnya asli seperti apa adanya di lapangan sedangkan contoh tanah yang sebagian atau seluruh strukturnya telah rusak disebut contoh tanah terganggu.

B. TUJUAN PRAKTIKUM Adapun tujuan dari kedua acara praktikum ini adalah : 1. Untuk mempelajari sifat-sifat dari beberapa jenis tanah pada setiap lapisan atau horison 2. Mengambil contoh tanah di lapangan untuk dianalisis di laboratoirum. 3. Menyiapkan contoh tanah sebelum dianalisis.

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya pembuatan laporan praktikum makalah dasar ilmu tanah mengenai Sifat-sifat tanah. Pembuatan makalah dasar ilmu tanah ini merupakan salah satu tugas kelompok untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa fakultas pertanian Universitas Brawijaya terhadap dasar ilmu tanah mengenai Sifat-sifat Tanah. Harapan kami hal ini dapat menjadi laporan makalah yang baik untuk media pemahaman mengenai dasar ilmu tanah dikalangan mahasiswa fakultas pertanian Universitas Brawijaya. Terima kasih kami ucapkan Kak Novia selaku pendamping praktikum dasar ilmu tanah mengenai Sifat Tanah. Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna karenanya kami menerima saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata,semoga Laporan Praktikum ini dapat bermanfaat.

BAB II METODOLOGI 2.1 TEMPAT DAN WAKTU 2.1.1 Tempat Coban Pelangi terletak di: Desa :Gubuk Klakah Kecamatan :Poncokusumo Kabupaten :Malang Provinsi :Jawa Timur 2.1.2 Waktu Fieltrip dilakukan pada tanggal 17 Desember 2011. 2.2 Alat, Bahan, dan Fungsi 2.2.1 Alat 2.2.1.1 Pos 1 (Kimia) Bolpoin Buku Papan dada Modul DIT Kamera 2.2.1.2 Pos 2 (Fisika) Klinometer Kamera Bolpoin Buku Papan dada Modul DIT 2.2.1.3 Pos 3 (Biologi) Cetok Plastic Spidol OHP Kamera Bolpoin Buku Papan dada Modul DIT Lup Besi pembatas plot 2.2.1.4 Pos Pedologi Pisau lapang Scop Cangkul Munsell colour Lup Meteran Sabuk profil

: untuk menulis : sebagai media untuk menulis : alas untuk menulis : untuk panduan dalam praktikum : untuk dokumentasi : untuk mengukur kelerengan suatu tempat : untuk dokumentasi : untuk menulis : sebagai media untuk menulis : alas untuk menulis : untuk panduan dalam praktikum

: untuk mengambil organism dalam tanah : sebagai sampel tanah dan spesimen : untuk member tanda di plastik : untuk dokumentasi : untuk menulis : sebagai media untuk menulis : alas untuk menulis : untuk panduan dalam praktikum : untuk melihat organism dalam tanah : untuk membatasi plot yang akan di amati

: untuk membedakan antar horizon : untuk membuat singkapan : untuk membuat singkapan : untuk meneliti warna tanah : untuk mengamati pori tanah : untuk mengukur tinggi masing-masing horizon : sebagai pembanding kedalaman setiap horizon

Petunjuk lapang Botol Paku Bolpoin Buku Papan dada Modul DIT Kamera

: sebagai panduan atau petunjuk dalam praktikum lapang : untuk tempat air : untuk merekatkan sabuk profil di sampel tanah : untuk menulis : sebagai media untuk menulis : alas untuk menulis : untuk panduan dalam praktikum : untuk dokumentasi

2.2.2 Bahan 2.2.2.1 Pos (Kimia) 2.2.2.2 Pos 2 (Fisika) Sample tanah

: untuk mengamati erosi

2.2.2.3 Pos 3 (Biologi) Sample tanah : sebagai objek pengamatan 2.2.2.4 Pos 4 Pedologi Air : untuk menentukan konsistensi tanah Tanah : sebagai objek yang di amati 2.3 Cara Kerja 2.3.1 Pos 1 (Kimia) Menyiapkan alat dan bahan Penyampaian materi 2.3.2 Pos 2 (Fisika) Menyiapkan alat dan bahan Penyampaian materi Melakukan pengamatan kelerengan tempat Menggambar sketsa Mencatat hasil pengamatan Dokumentasi

2.3.3 Pos 3 (Biologi) Menyiapkan alat dan bahan Penyampaian materi Melakukan pengamatan pada plot Pengambilan specimen Mencatat hasil pengamatan Dokumentasi 2.3.4 Pos 4 (Pedologi) Menyiapkan alat dan bahan Membuat Singkapan Menentukan horizon Mengambil sample tanah Melakukan pengamatan Warna tanah Struktur tanah Tekstur tanah Kelekatan Pori tanah Konsistensi tanah Mencatat hasil pengamatan Dokumentasi

BAB III

KONDISI UMUM WILAYAH 3.1 KONDISI BIOFISIK PADA LOKASI PENGAMATAN Pada track 1 : Pada lokasi pengamatan yang dilakukan di daerah Coban pelangi ini, land use yang digunakan adalah lahan agroforesty, dengan land cover yaitu pohon pinus, karena sebagian besar yang mendominasi lahan tersebut adalah tanaman pinus, sedangkan pada bagian bawah bukit land use yang digunakan adalah lahan tegalan yang terdapat land cover antara lain tanaman wortel, tanaman bawang merah, tanaman jahe . Land cover yang menutupi land use di daerah pengamatan cocok dengan pengolahan tanah pada daerah tersebut dikarenakan kemiringan pada lahan tersebut 70. Oleh karena itu, cocok ditanami vegetasi yang memiliki akar panjang dan kemungkinan terjadi erosi sangat rendah karena vegetasi yang memiliki akar panjang mampu menahan erosi. Lokasi track 2 : Pada lokasi ini land use yang digunakan terbagi dalam 2 bagian yaitu bagian atas bukit yang disebut sebagai lahan hutan yang memiliki land cover berupa pohon pinus, sedangkan pada bagian bawah bukit land use yang digunakan adalah lahan tegalan yang terdapat land cover antara lain tanaman jagung, tanaman bawang daun, tanaman kubis dan beberapa terdapat tanaman kopi. Land cover yang menutupi land use di daerah pengamatan tidak cocok dengan pengolahan tanah pada daerah tersebut dikarenakan kondisi lahan pada pegunungan sangat curam hingga mencapai 80. Oleh karena itu, tidak cocok ditanami vegetasi yang memiliki akar pendek (vegetasi tegalan) karena kemungkinan terjadi erosi sangat tinggi. Sedangkan pada tingkatan pengolahan lahan adalah penggaruan, menghancurkan bongkah tanah hasil pengolahan tanah pertama yang besar menjadi lebih kecil dan sisa makanan dan sisa tanaman dan gulma yang terbenam di potong lagi menjadi lebih halus sehingga akan mempecepat proses pembusukan.

3.2 Kondisi Fisiologi lokasi Pengamatan (lereng dan relief pada track 2) Hasil Pengamatan fisiologis pada saat pengamatan pada track 1 dan track 2 kondisi lereng sangat curam , hal ini menyebabkan kemungkinan terjadi erosi cukup besar. Sehingga lahan tersebut cocok dijadikan sebagai lahan hutan yang vegetasinya memiliki akar yang kuat, bukan dijadikan lahan tegalan yang rata rata vegetasinya memiliki akar yang lemah atau pendek. Kemiringan pada lereng di lahan track 1 70 dan pada track 2 sebesar 80, data tersebut menunjukkan lahan tersebut sangat curam.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Deskripsi Lingkungan dan sketsa lokasi (Fisika Tanah) Lingkungan di daerah Cuban Pelangi yang merupakan lokasi praktikum lapang Dasar Ilmu Tanah kelompok P2 (track 1) merupakan Agroforestri atau dapat di katakan sebagai hutan sekunder. Tanaman pokok di lahan tersebut adalah pohon pinus, dimana pohon ini sebagai penghasil bahan pembuatan karet yang di ambil dari getahnya. Dengan kelerengan 70 maka sangat memungkinkan terjadinya erosi. Baik erosi selokan maupun longsor sekalipun jika intensitas air hujan yang turun sangat desar dan dalam jangka waktu yang lama. Pada daerah ini juga di tanami tanaman budi daya sejenis kacang-kacangan dan beberapa jenis sayuran. Namun di dominasi olek semak. Ada beberapa lahan yang sudah mengalami erosi dan tanah longsor di daerah atau track 1 ini. Faktor yang mempengaruhi erosi tersebut antara lain intensitas air hujan yang turun, kecuraman lereng, maupun kekosongan lahan tanaman budidaya yang terlalu lama di biarkan hampa. 4.2 Hasil pengamatan biodiversitas tanah ( Biologi Tanah ) Pada pengamatan di pos biologi dibuat plot sebesar 50 x 50 cm dan di dalam plot tersebut terdapat organisme sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Cacing Tanah sebanyak 1 ekor Kelabang sebanyak 1 ekor Laba laba sebanyak 1 ekor Semut sebanyak 1 ekor Rumput sebanyak

Banyaknya jenis organisme dalam plot tersebut menunjukkan bahwa biodiversitas pada lahan tersebut terjaga,dan menunjukkan bahwa adanya makanan bagi organisme.Hal ini menunjukkan tanah tersebut subur.Dan Vegetasi yang ada sangat mempengaruhi cadangan karbon,yaitu dengan adanya tanaman tahunan. Bahan Organik adalah sisa makhluk hidup baik tanaman maupun hewan yang tertimbun dalam tanah. Sedangkan,bahan organik tanah adalah bahan organik yang telah mengalami pelapukan oleh mikroorganisme. Dan seresah adalah bagian tanaman yang telah mati dan menutupi tanah. Dampak penggunaan dari lahan yang diamati tersebut adalah jika tidak seimbang akan mengganggu keseimbangan ekosistemnya. Dan jika lahan tersebut hanya ditanami tanaman budidaya maka kemungkinan erosi dalam lahan tersebut sangat besar. 4.3 Hasil Pengamatan Tingkat kesuburan tanah ( Kimia Tanah) Hubungan vegetasi yang diamati di pos kimia dengan defisiensi unsur hara adalah tanaman atau vegetasi mengalami berbagai kerusakan dan pertumbuhan yang tidak baik. Misalnya, tanaman menjadi kekuningan yang menunjukkan bahwa tanah kekurangan unsur N. Sedangkan, beberapa tanaman tersebut banyak yang tidak membentuk bunga dan buah. Hal ini menunjukkan bahwa tanah

juga kekurangan unsur P. Dan apabila daun berwarna kecoklatan maka tanah tersebut kekurangan unsur K. Hubungan antara tanaman yang ada dengan kesuburan tanah adalah apabila tanaman tersebut tumbuhnya tidak baik maka kesuburannya pun juga buruk. Selain itu, juga dipengaruhi oleh persaingan untuk memperoleh unsur hara tertentu karena tanaman tersebut kekurangan unsur hara. Hubungan sifat sifat kimia tanah dengan sifat lain antara lain adalah 1. Semakin curam lereng maka semakin tinggi erosi, sehingga unsur hara akan tertimbun di bagian bawah. 2. Semakin banyak vegetasi dan organisme maka akan semakin banyak bahan organik dan mikroorganisme yang akan mendekomposisi sehingga akan menjadi unsur hara di tanah. 3. Apabila suatu tanah terbentuk oleh bahan induk maka akan mempengaruhi sifat kimia tanah, seperti pH dan unsur esensial dalam tanah. Faktor yang mempengaruhi dekomposisi bahan organik adalah 1. pH 2. Kelembaban 3. Suhu tanah 4. Jenis Bahan Organik 5. Aerasi
6. 4.4 Hasil Deskripsi Profil Tanah (Pedologi) 7. Dari pengamataan lapang yang diakukazn di Coban Pelangi diperoleh data profil tanah (Pedologi) sebagai berikut: Lokasi Survei : Coban Pelangi Pemeta : P2 Tanggal : 17 Desember 2011 Desa : Gubuk Klakah Kecamatan :Ponco Kusumo Kabupaten : Malang Provinsi : Jawa Timur Jenis pengamatan: Singkapan Fisiografi : Lereng Bahan Induk :Batuan vulkanik Jenis Relief 8. Relief Makro:Berombak 9. Relief Mikro:Gilgai Jenis Lereng : Lereng Tunggal Kemiringan : 70 % Aliran Permukaan :Sedang Drainase alami : 4-baik Permeabilitas :Sedang Genangan :Sangat Jarang Pengelolaan : Drainase

Erosi Bahaya Erosi Padas

: Permukaan :Ringan :Tapak-bajak

Vegetasi dan penggunaan Lahan: Tegalan Vegetasi alami :..... Tanaman Utama:Pinus Tanaman Lain :..... Sistem penanaman: Tumpang Sari Sumber Hujan : hujan Epipedon :......... Endopedon :........ Ordo :....

Profil Tanah

Horizon Kedalaman Deskripsi A 0-34 Warna: 10 YR 3/3 Struktur: granular Konsistensi * Kering: Tidak Mantap * Basah: Gembur Pori *Halus: Banyak *Sedang: Biasa *Kasar: Sedang Perakaran *Jumlah: Banyak *Ukuran:Kasar Warna:10 YR 3/3 Struktur: granular Konsistensi * Kering: Tidak Mantap * Basah: Gembur Pori *Halus: Biasa *Sedang:Sedang *Kasar: Sedang Perakaran *Jumlah: Banyak *Ukuran:Sedang Warna:10YR 3/3 Struktur: granular Konsistensi * Kering: Tidak Mantap * Basah: Gembur Pori *Halus: Banyak *Sedang: Biasa *Kasar: Sedang Perakaran *Jumlah: sedang *Ukuran:Sedang Warna:10YR 4/4 Struktur: granular Konsistensi * Kering: Tidak Mantap * Basah: Gembur Pori *Halus: Banyak

34-79

79-97

97-106

*Sedang: Biasa *Kasar: Sedang Perakaran *Jumlah: sedang *Ukuran:Halus

106-114

Warna: 10 YR 4/5 Struktur: granular Konsistensi * Kering:Mantap * Basah: Gembur Pori *Halus: Banyak *Sedang: Biasa *Kasar: Sedang Perakaran *Jumlah: sedang *Ukuran:Halus Warna: 10 YR 3/4 Struktur: granular Konsistensi * Kering: Tidak Mantap * Basah: Gembur Pori *Halus: Banyak *Sedang: Biasa *Kasar: Sedang Perakaran *Jumlah: sedang *Ukuran:Halus

114-128

BAB V PEMBAHASAN
5.3 Pengaruh penggunaan lahan dan pengolahan terhadap biodiversitas fauna tanah? Penggunaan dan pegolahan lahan yang baik dan sesuai dengan kondisi yang ada akan mendukung biodiversitas fauna tanah. Biodiversitas tanah dapat hidup dan berkembang biak di dalam tanah bila terdapat cukup air, oksigen, dan makanan sebagai sumber energi dan nutrisi untuk hidup dan pertumbuhannya. Karena mereka umumnya heterotroph maka makanannya adalah bahan organik yang dihasilkan oleh autotroph dan organisme tanah yang telah mati. Sampah organik merupakan sumber bahan organik untuk makanan biodiversitas tanah. Pembuatan lubang yang relatif kecil ke dalam tanah dapat memperluas permukaan vertikal yang dapat menampung sampah organik dan meresapkan air dalam lubang dengan lancar ke segala arah. Dimensi lubang yang kecil dapat memudahkan proses pembuatannya. Aktivitas biodiversitas tanah dapat mempercepat pelapukan sampah organik serta meningkatkan pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air dan pertukaran O2 dan CO2 di dalam tanah (aerasi). Maka dari itu pengolahan lahan harus disesuaikan dengan penggunaanya sehingga dapat menjaga kesuburan lahan yang didukung oleh biodiversitas fauna tanah. 5.4 Pengaruh pengolahan dan fisiografis lingkungan terhadap pembentukan dan perkembangan tanah? Pengolahan dan kondisi fisiografis lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan tanah. Jika tanah diolah dengan baik maka akan membantu dalam proses pembentukannya dan perkembangan kesuburan tanah. Fisiografis adalah deskripsi tentang genesis dan wilayah yang dipandang dari faktor dan proses pembentukannya. Fisiografis mempengaruhi pembentukan tanah yang secara langsung menyebabkan terbukanya permukaan bumi terhadap pengaruh matahari angin dan udara dan secara tidak langsung mempengaruhi drainase run-off dan erosi. Relief datar : permukaan tanah yang datar atau hampir datar tanpa kenampakan tanda-tanda run-off dan erosi, tetapi juga tidak menjadi tempat penggenangan air atau penimbunan bahan yang dihanyutkan.

BAB VI KESIMPULAN

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa jenis tanah pada Lahan yang diamati adalah