Anda di halaman 1dari 6

REVOLUSI DAN PEMBERANTASAN KORUPSI POLITIK Studi Kasus: Revolusi Mesir 2011

Esai opini ini akan mendiskusikan isu revolusi sebagai salah satu cara untuk memberantas korupsi politik. Selama ini resep-resep yang dikeluarkan oleh kubu neoliberalisme maupun strukturalisme dianggap tidak mampu menyelesaikan

permasalahan korupsi politik. Neoliberalisme yang kental dengan reformasi struktural dianggap tidak memperhatikan bahwa lembaga-lembaga politik mempunyai kepentingan. Sedangkan strukturalisme dianggap membuka kesempatan baru untuk terciptanya korupsi politik dengan penerapan desentralisasi. Oleh karena itu ketika resep-resep tersebut dianggap tidak mampu untuk menghilangkan atau memberantas korupsi, saya percaya bahwa revolusi merupakan alternatif lain yang mampu menghilangkan atau memberantas korupsi. Untuk mendukung tesis tersebut, maka saya akan memfokuskan pada tiga argumen utama dengan melihat revolusi yang terjadi di Mesir tahun 2011. Pertama revolusi mampu menggulingkan sistem politik dan pemerintahan yang sarat akan tindak korupsi politik, kedua revolusi terutama yang terjadi di dalam sistem politik yang otoriter akan menghilangkan missing alternative dalam pemilu, dan ketiga revolusi akan semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahasa korupsi dan memastikan peran masyarakat sebagai pengawas dalam hubungan patron-client. Salah satu penyebab yang memicu kemarahan rakyat Mesir sehingga muncul gerakan revolusi adalah korupsi masif yang dilakukan oleh Mubarak dan kroninya. Selama Mubarak menjabat sebagai presiden, korupsi politik dilakukan baik untuk mempertahankan atau mengamankan kekuasaan dan mendapatkan keuntungan material. Hal ini bisa dilihat dari pengimplementasian emergency law di Mesir selama 30 dan reformasi ekonomi yang

dilakukan

oleh

rezim

Mubarak

yang

hanya

menguntungkan

kroni-kroninya.

Pengimplementasian emergency law selama 30 tahun masa kekuasaan Mubarak menjadi kunci penting bagi langgengnya kekuasaan Mubarak. Melalui hukum yang diterapkan pasca pembunuhan Anwar Sadar, Mubarak membuat Mesir menjadi sebuah police state dimana rezim Mubarak menyebarkan budaya takut terhadap pihak berwenang dan menganggap setiap gerakan oposisi politik sebagai ancaman bagi keamanan nasional. 1 Dengan demikian, pada masa pemerintahan Mubarak tidak ada satupun gerakan oposisi yang besar dan mampu mengimbangi rezim serta melakukan kontrol terhadap rezim Mubarak, khususnya hubungan patron-client yang menjadi unsur dalam korupsi politik. Kebijakan reformasi ekonomi di Mesir yang mulai diterapkan pada awal tahun 1990an pada akhirnya menciptakan crony capitalism. Melalui kebijakan reformasi ekonomi, pemerintahan Mubarak melakukan privatisasi sejumlah perusahaan milik negara. Namun, perusahaan-perusahaan negara tersebut dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga sebenarnya kepada kroni-kroninya. Sistem ini juga diaplikasikan pada penjualan lahan milik negara. Misalnya saja penjualan lahan milik negara di daerah dekat Luxor kepada Hussein Salam, pebisnis yang dekat dengan Mubarak oleh Yussef Wali mantan menteri pertanian Mesir dengan harga LE 8 juta.2 Padahal lahan tersebut diperkirakan bernilai lebih dari LE 208 juta. 3 Adanya crony capitalism di Mesir ini mengakibatkan tingginya disparitas ekonomi di Mesir. Dengan jumlah kurang lebih 40% rakyat Mesir hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan kurang dari $2 per hari, 4 maka tidak mengherankan ketika masyarakat Mesir yang sudah sangat lama menderita
1

S. El Deeb, Egypt Emergency Law Lapses, Huff Post WORLD (online), 31 Mei 2012, <http://www.huffingtonpost.com/2012/05/31/egypt-emergency-law-lapse_n_1559110.html>, diakses 10 Juni 2012. 2 R. Collard, Crony Capitalism undermines Egyptian Food Security, THENATIONAL (online), <http://www.thenational.ae/arts-culture/crony-capitalism-undermines-egyptian-food-security>, diakses 5 Juni 2012. 3 Collard, Crony Capitalism undermines Egyptian Food Security, diakses 5 Juni 2012. 4 S. Ismail, A private estate called Egypt, theguardian (online), 6 Februari 2011, <http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2011/feb/06/private-estate-egypt-mubarak-cronies>, diakses 5 Juni 2012.

akhirnya melakukan demonstrasi-demonstrasi yang meminta agar Mubarak turun. Demonstrasi yang bertujuan untuk merubah atau mereformasi secara keseluruhan keadaan di Mesir ini akhirnya mampu membuat rezim Mubarak yang sarat akan tindak korupsi politik runtuh. Hal ini membuktikan bahwa revolusi dapat meruntuhkan sistem politik dan pemerintahan yang sarat akan tindak korupsi politik, sehingga pada akhirnya mampu memberantas tindak korupsi politik. Dengan keberhasilan revolusi politik di Mesir dalam menggulingkan pemerintahan Mubarak, maka revolusi tersebut juga mampu menghilangkan missing alternative yang biasanya menjadi alasan mengapa pemerintah atau pejabat yang korup dapat terpilih kembali. Dalam kasus Mesir, selama Mubarak menjabat, tidak pernah ada partai politik oposisi maupun calon presiden yang benar-benar menjadi lawan kuat dari partai pemerintah yaitu National Democratic Party (NDP) dan Mubarak sendiri. Apalagi pembentukan partai politik yang baru sangat sulit di bawah Undang-undang Partai Politik. Pada pemilu tahun 1987, NDP kembali memenangkan pemilu parlemen. Sedangkan Mubarak kembali terpilih menjadi presiden melalui referendum nasional berturut-turut pada tahun 1987, 1993 dan 1999. Mubarak kembali menjabat sebagai presiden Mesir lewat pemilihan umum yang diadakan untuk pertama kalinya di Mesir pada tahun 2005. Pada setiap pemilu tersebut, lagi-lagi tidak ada lawan yang berat dan mampu meruntuhkan kekuatan partai NDP dan kroni mereka. Selain itu, jika ada kandidat yang menang sebagai anggota parlemen, biasanya mereka telah mengeluarkan banyak uang untuk memberli suara. Pengorbanan uang tersebut ditebus dengan keistimewaankeistimewaan dari posisi mereka sebagi elit politik seperti akses ke sumber daya negara dan kekebalan dari pengadilan criminal atas tindak korupsi. Elit politik tersebut biasnaya berasal dari keluarga-keluarga yang memiliki pengaruh dan pebisnis-pebisnis yang

menginginkan bisnis mereka sukses.5 Dengan adanya revolusi di Mesir, runtuhnya rezim Mubarak membuka keran bagi munculnya alternatif-alternatif lain yang bagi rakyat Mesir benar-benar menginginkan adanya perubahan di Mesir sehingga tidak lagi menjadi negara yang dikuasai oleh sekelompok orang untuk kepentingan kelompok tersebut. Terakhir, salah satu alasan mengapa revolusi dapat menjadi jalan bagi pemberantasan korupsi adalah gerakan revolusi semakin menyadarkan masyarakat akan bahaya korupsi politik dan membuat masyarakat tetap waspada terhadap segala tindak korupsi politik. Selama ini masyarakat sebenarnya sadar akan bahaya korupsi, hanya saja masyarakat tidak mengetahui bagaimana untuk mereformasi keadaan. Dengan adanya gerakan revolusi ini, masyarakat sudah mengetahui bagaimana cara untuk mereformasi keadaan di Mesir agar terlepas dari tindak korupsi politik. Melalui gerakan revolusi, masyarakat Mesir mampu menurunkan politisi-politisi yang korup dari jabatan mereka. Turunnya politisi-politisi tersebut merupakan langkah awal bagi reformasi di Mesir, khususnya berkaitan dengan korupsi politik. Beberapa bulan yang lalu misalnya, telah diluncurkan proyek aksi bersama anti-korupsi oleh Egyptian Junior Business Association yang bekerjasama dengan United Nations Global Compact di Kairo.6 Selain itu, upaya pengadilan tinggi Mesir dalam menindak politisi-politisi yang korup seperti Husni Mubarak sendiri pasca runtuhnya kekuasaannya dapat menjadi salah satu indikasi bahwa korupsi dapat diberantas melalui gerakan revolusi. Apalagi masyarakat Mesir saat ini sangat awas dan waspada terhadap setiap perilaku negara, terutama yang berhubungan dengan masyarakat. Secara keseluruhan, ketiga argumen yang telah disampaikan sebelumnya yaitu revolusi mampu menggulingkan sistem politik dan pemerintahan yang sarat akan tindak
5

L. Blaydes, Authoritarian Management and Elite Management: Theory and Evidence from Egypt, April 2008, <http://www.princeton.edu/~piirs/Dictatorships042508/Blaydes.pdf>, diakses 5 Juni 2012, hal. 11-12. 6 United Nations Global Compact, Anti-Corruption Collective Action Project Launched in Egypt, United Nations Global Compact (online), 27 Maret 2012, < http://www.unglobalcompact.org/news/204-03-272012>, diakses 13 Juni 2012.

korupsi politik, revolusi terutama yang terjadi di dalam sistem politik yang otoriter akan menghilangkan missing alternative dalam pemilu, dan ketiga revolusi akan semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahaya korupsi dan memastikan peran masyarakat sebagai pengawas dalam hubungan patron-client menunjukkan bahwa revolusi merupakan alternatif lain untuk memberantas korupsi. Dengan adanya revolusi yang berarti perubahan total baik dalam bidang politik maupun sosial, korupsi politik yang selama ini tidak bisa diatasi melalui reformasi struktural maupun melalui resep desentralisasi pada akhirnya dapat diberantas. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa korupsi politik dapat diberantas bukan dengan cara-cara yang halus melainkan dengan cara-cara yang keras seperti revolusi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Blaydes, L., Authoritarian Management and Elite Management: Theory and Evidence from Egypt, April 2008,

<http://www.princeton.edu/~piirs/Dictatorships042508/Blaydes.pdf>, diakses 5 Juni 2012. Collard, R., Crony Capitalism undermines Egyptian Food Security, THENATIONAL (online), <http://www.thenational.ae/arts-culture/crony-capitalism-undermines-

egyptian-food-security>, diakses 5 Juni 2012. El Deeb, S., Egypt Emergency Law Lapses, Huff Post WORLD (online), 31 Mei 2012, <http://www.huffingtonpost.com/2012/05/31/egypt-emergency-lawlapse_n_1559110.html>, diakses 10 Juni 2012. Ismail, S., A private estate called Egypt, theguardian (online), 6 Februari 2011, <http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2011/feb/06/private-estate-egyptmubarak-cronies>, diakses 5 Juni 2012. United Nations Global Compact, Anti-Corruption Collective Action Project Launched in Egypt, United Nations Global Compact (online), 27 Maret 2012, <

http://www.unglobalcompact.org/news/204-03-27-2012>, diakses 13 Juni 2012.