Anda di halaman 1dari 111

Diperkosa atau Tidak???

Kelompok 4 Dr.Meilani

Pemicu 4
Xe, seorang perempuan berumur 15 tahun diantar oleh keluarganya ke sebuah RS untuk dibuatkan visum. Ia mengaku telah diperkosa sekitar 12 jam yang lalu oleh tetangganya, Qe yang berumur 20 tahun. Menurut penuturan nya kejadian berawal dari Xe pulang bersama mobil. Merasa kenal baik dengan tetangganya itu, ia tidak menolak. Ditengah perjalanan , Qe mengajak Xe mampir ke sebuah caf teman nya. Tanpa curiga, Xe memesan minuman bersoda.Xe mengaku setelah minum soda tersebut saat masuk ke mobil, kepalanya terasa berat dan akhirnya tak sadarkan diri. Ia terbangun keesokan harinya di sebuah rumah dalam keadaan tak berpakaian dan mersa sakit di daerah kemaluannya. Qe mengancam Xe u ntuk tidak menceritakan ke siapapun karena Qe akan bersikeras hubungan sex itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Tetapi Xe tetap mengadu ke orang tuanya.

Pemicu 4
Sesampainya di Rs, dokter yang bertugas menyuruh jedua orang tua Xe melapor terlebih dahulu ke kantor polisis terdekat. Setelah itu, dokter baru memeriksa keadaan Xe secara menyeluruh dan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang. Dari pemeriksaan fisik secara menyeluruh ditemukan :
Laserasi didasar hymen pada jam 6 Spermatozoa dalam keadaan motil didalam vagina

Dokterr kemudian mengobati Xe dan membuat visum et repertum. Sementara Qe diperiksa polisis lebih lanjut. Orang tua Qe marah dan akan menuntut balik Xe, pihak polisi dan dokter yang memeriksa karena telah menuduh anaknya melakukan perbuatan asusila. Apa yang anda Pelajari dari kasus di atas?

Kelompok 4
405070010 405080024 405080027 405080040 405080041 405080132 405080139 405080163 405080166 405080186 405080191 405080198 Andi surya jaya Handri yanto(ketua) victoria Mandy adine setiawan Sabri Hifzi (sekretaris) Cicilia yunita p Paramitha Adinda p Wismaytra condro Purbo prawiro Suci megasari Meiliani (penulis) Dvia arista sani

LO1
Pemeriksaan pada kasus pemerkosaan

Pemeriksaan Terhadap Dugaan Tidakan Perkosaan


Persetubuhan (pasal 284,285,286,287,288,293,294) Luka/kekerasan (pasal 285,288) Luka berat (pasal 286,287,288) Pingsan/tidak berdaya (pasal 285,286) Umur (pasal 287,293,294) Belum pantas untuk dikawin (pasal 287,288)

1.Persetubuhan
Persetubuhan (biologis) = Suatu perbuatan yang memungkinkan terjadinya kehamilan (untuk prokreasi), sehingga harus terjadi : *erectio penis *penetratio penis ke dalam vagina *ejaculatio dalam vagina

Dokter memeriksa ada tidaknya ejaculatio dalam vagina dengan mencari spermatozoa dalam sedian hapus cairan vagina (vaginal swab) tanpa pewarnaan Sebagai hasil pemeriksaan ini terdapat 2 kemungkinan:

B. Ditemukan spermatozoa a. dalam keadaan hidup Dapat dikatakan bahwa spermatozoa itu dapat bertahan hidup dalam vagina selama 3 x 24 jam. b. dalam keadaan mati Dapat dikatakan bahwa dalam bentuk mati spermatozoa masih dapat ditemukan selama 7 x 24 jam.

2.Luka/kekerasan
Pada umumnya luka/kekerasan ini tidak sulit ditemukan oleh dokter. Muka, leher, buah dada, bagian dalam paha dan sekitar alat kelamin merupakan tempat-tempat yang perlu diperhatikan. Yang dapat menjadi persoalan ialah, apakah lukaluka itu bukannya dibuat oleh si wanita sendiri dengan tujuan pemerasan

3.Luka Berat
Jika ditemukan luka-luka, maka perlu ditentukan apakah termasuk yang disebut dalam K.U.H.Pidana pasal 90 atau tidak

4.Pingsan/tidak berdaya
Keadaan ini sering disebabkan oleh obat bius/tidur/penenang. Perlu diambi contoh darah untuk diperiksakan ke laboratorium untuk menentukan kaar obat itu dan harus dilakukan secepat-cepatnya. Dapat juga diambil urine untuk bahan pemeriksaan

5.Umur
Penentuan umur paling tepat ialah dengan adanya Akte Kelahiran, tapi sayangnya sebagian anggota masyarakat tidak memiliki akte ini

6.Pantas untuk dikawin

Pasal 285 KUHP


Barangsiapa dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Yang perlu diperiksa dokter oleh si wanita: a. Adanya kekerasan atau ancaman kekerasan b. Memaksa seorang wanita c. Bersetubuh di luar perkawinan dengan dia (pelaku)

Pasal 285 KUHP


Barangsiapa dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Yang perlu diperiksa dokter oleh si wanita: a. Adanya kekerasan atau ancaman kekerasan b. Memaksa seorang wanita c. Bersetubuh di luar perkawinan dengan dia (pelaku)

K.U.H. Pidana bab XIV Kejahatan Terhadap Kesusilaan


Pasal 281 Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah: barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan; barang siapa dengan sengaja dan di depan orang lain yang ada di situ bertentangan dengan kehendaknya, melanggar kesusilaan

Pasal 282
(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, atau barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin tulisan, gambaran atau benda tersebut, memasukkannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkannya atau menunjukkannya sebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. (2) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, ataupun barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin, memasukkan ke dalam negeri, meneruskan mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkan, atau menunjuk sebagai bisa diperoleh, diancam, jika ada alasan kuat baginya untuk menduga bahwa tulisan, gambazan atau benda itu me!anggar kesusilaan, dengan pidana paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (3) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam ayat pertama sebagai pencarian atau kebiasaan, dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak tujuh puluh lima ribu rupiah.

Pasal 283
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah, barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, maupun alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan kepada seorang yang belum dewasa, dan yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umumya belum tujuh belas tahun, jika isi tulisan, gambaran, benda atau alat itu telah diketahuinya. (2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa membacakan isi tulisan yang melanggar kesusilaan di muka oranng yang belum dewasa sebagaimana dimaksud dalam ayat yang lalu, jika isi tadi telah diketahuinya. (3) Diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan atau pidana kurungan paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah, barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan, tulis- an, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, maupun alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan kepada seorang yang belum dewasa sebagaimana dimaksud dalam ayat pertama, jika ada alasan kuat baginya untuk menduga, bahwa tulisan, gambaran atau benda yang melang- gar kesusilaan atau alat itu adalah alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan.

Pasal 283 bis


Jika yang bersalah melykukan salah satu kejahatan tersebut dalam pasal 282 dan 283 dalam menjalankan pencariannya dan ketika itu belum lampau dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi pasti karena kejahatan semacam itu juga, maka dapat di cabut haknya untuk menjalankan pencarian tersebut.

Pasal 284
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan: l. a. seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 Kitab Undang - Undang Hukum Perdata berlaku baginya, I. b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27 Kitab Undang - Undang Hukum Perdataberlaku baginya; 2. a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin; 2. b. seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 Kitab Undang - Undang Hukum Perdataberlaku baginya. (2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga.

3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75. (4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai. (5) Jika bagi suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.
Yg perlu diperiksa oleh dokter thdp si wanita: - Adanya persetubuhan

Pasal 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Yg perlu diperiksa oleh dokter thdp si wanita: - Adanya persetubuhan - Adanya tanda tanda kekerasan - Adanya tanda bekas pingsan atau tidak berdaya Pasal 286 Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun Yg perlu diperiksa oleh dokter thdp si wanita: - Adanya persetubuhan - Adanya tanda bekas pingsan atau tidak berdaya

Pasal 287 (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bawa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. Yg perlu diperiksa oleh dokter thdp si wanita: Adanya persetubuhan Umur si wanita (15 thn, 12 thn) Jika tdk jelas 15 thn, apakah sudah pantas untuk dikawin Adanya luka berat (sehubungan pasal 291)

Pasal 288 (1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seormig wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus didugunya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Yg perlu diperiksa oleh dokter thdp si wanita: - Adanya persetubuhan - Adanya luka/ luka berat - Apakah sudah pantas untuk dikawin

Pasal 289 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Pasal 290 Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun: 1. barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya; 2. barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umumya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin: 3. barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas yang bersangkutan atau kutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.

Pasal 291 Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 286, 287, 289, dan 290 mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun; (2) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 285, 2 86, 287, 289 dan 290 mengakibatkan kematisn dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 292 Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Pasal 293 (1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakkan seorang belum dewasa dan baik tingkahlakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum kedewasaannya, diketahui atau selayaknya harus diduganya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu. (3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masing-masing sembilan bulan dan dua belas bulan.

Pasal 294 (1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengm anaknya, tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaanya, pendidikan atau penjagaannya diannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (2) Diancam dengan pidana yang sama:
1. pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya, 2. pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pen- didikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.

Pasal 293 & 294 Yg perlu diperiksa oleh dokter thdp si wanita: - Adanya persetubuhan - Umur 21 thn

Pasal 295 Diancam: 1. dengan pidana penjara paling lama lima tahun barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau oleh orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain; 2. dengan pidana penjara paling lama empat tahun barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul, kecuali yang tersebut dalam butir 1 di atas., yang dilakukan oleh orang yang diketahuinya belum dewasa atau yang sepatutnya harus diduganya demikian, dengan orang lain. (2) Jika yang rs me lakukan kejahatan itu sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah sepertiga.

lo2
Prosedur pemeriksaan

Kasus pemerkosaan
Siapakah penyidik ? KUHAP Pasal 6 dan KUHAP Pasal 2 Siapakah ahli ? KUHAP Pasal 133 Ayat 1

Penyidik Mengirimkan surat permohonan kepada ahli untuk memeriksa (KUHAP Pasal 133 Ayat 2)

KUHP Pasal 224 9 Bulan Penjara

Ahli Menolak

Ahli Setuju

Pemeriksaan terhadap korban


Maksimum 1 hari untuk memberi kesimpulan KUHAP Pasal 19

Pembuatan Visum et Repertum sementara yang diperkuat sumpah (KUHAP 187)

Saksi

Kesimpulan Visum et Repertum sementara Keluarga

Bukan Keluarga

Tidak ada bukti persetubuhan

Ada bukti persetubuhan

Disetujui oleh Tidak hakim disetujui oleh hakim

Diperbolehkan Tidak memberi diperbolehkan keterangan memberi (KUHAP Pasal keterangan 169) (KUHAP Pasal 168)

Kasus Pemeriksaan Terdakwa dibatalkan lebih lanjut ditahan sampai Pengadilan (KUHAP Pasal 21 Ayat 4) Kesimpulan penyidikan

Pembuatan Visum et Tidak Repertum yang bersedia diperkuat sumpah memberi (KUHAP 187) kesaksian

Bersedia memberi kesaksian

Saksi dapat hadir ke pengadilan

Saksi tidak dapat hadir ke pengadilan

Ahli dapat hadir ke pengadilan

Ahli tidak dapat hadir ke pengadilan

Keterangan dicatat dan Ahli tidak dibacakan saat bersedia pengadilan memberi (KUHAP Pasal 162) keterangan
Sumpah akan bersaksi jujur (KUHAP Pasal 160 Ayat 3)
KUHP Pasal 522 Denda Rp.9.900,00

Ahli bersedia memberi keterangan Sumpah akan Visum et Repertum Sumpah akan bersaksi jujur dibacakan bersaksi jujur (KUHAP Pasal 160 (KUHAP Pasal 160 Ayat 3) Ayat 3)

KUHP 322 Penjara 9 bulan

Keterangan saksi

KUHP Pasal 50

Keterangan ahli

Surat Ahli

Keterangan terdakwa

Apakah alat bukti yang sah ? KUHAP Pasal 184

Penentuan alat bukti yang sah

Apa dasar kesimpulan sidang ?


KUHAP Pasal 183

Penentuan kesimpulan sidang

Bersalah

Tidak Bersalah

Terdakwa dibebaskan

Kejahatan seksual dalam kaitan dengan persetubuhan yg dapat dikenakan hukuman :


Dlm Perkawinan

> 15 thn (ps 284)


Dg persetujuan si < 15 thn (ps 287) Diluar Perkawinan Dg kekerasan /ancaman kekerasan (ps 285) persetujuan si Si dlm keadaan pingsan/tdk berdaya (ps 286)

LO3
Visum et Repertum

Dasar Hukum
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan. Menurut Budiyanto dkk (Ilmu Kedokteran Forensik,1997) , dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut :

Pasal 133 KUHAP menyebutkan: (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Selanjutnya,keberadaan Visum et Repertum tidak hanya diperuntukkan kepada seorang korban (baik korban hidup maupun tidak hidup) semata, akan tetapi untuk kepentingan penyidikan juga dapat dilakukan terhadap seorang tersangka sekalipun seperti VR Psikiatris. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam KUHAP yaitu :

Pasal 120 (1) KUHAP Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. Apabila pelaku perbuatan pidana tidak dapat bertanggung jawab, maka pelaku dapat dikenai pidana. Sebagai perkecualian dapat dibaca dalam Pasal 44 KUHP sebagai berikut:

Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana. Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan dalam Rumah Sakit Jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan. Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri.

Dalam menentukan adanya jiwa yang cacat dalam tumbuhnya dan jiwa yang terganggu karena penyakit, sangat dibutuhkan kerjasama antar pihak yang terkait, yaitu ahli dalam ilmu jiwa (dokter jiwa atau kesehatan jiwa), yang dalam persidangan nanti muncul dalam bentuk Visum et Repertum Psychiatricum, digunakan untuk dapat mengungkapkan keadaan pelaku perbuatan (tersangka) sebagai alat bukti surat yang dapat dipertanggungjawabkan

Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP. Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena Visum et Repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta Visum et Repertum , karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP). Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana :

Pasal 216 KUHP : Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

Dasar hukum
Dalam KUHAP pasal 186 dan 187. (adopsi: Ordonansi tahun 1937 nomor 350 pasal 1) Pasal 186: Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Pasal 187(c): Surat keterangan dari seorang ahli yang dimuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. Kedua pasal tersebut termasuk dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP.

Jenis Visum et repertum


A. Untuk orang hidup VeR perlukaan (termasuk keracunan) VeR kejahatan susila VeR psikiatrik B. Untuk Orang Mati VeR jenazah

Visum et Repertum pada Kasus Perlukaan


Thdp setiap pasien yang diduga korban tindak pidana meskipun belum ada surat permintaan VeR dari polisi, dokter harus membuat catatan medis atas semua hasil pemeriksaan medisnya secara lengkap dan jelas dapat digunakan untuk pembuatan VeR. Korban dg luka ringan datang ke dokter setelah melapor ke penyidik, sehingga membawa surat permintaan VeR, sedangkan Korban dengan luka sedang/berat akan datang ke dokter sebelum melapor ke penyidik, sehingga surat permintaan datang terlambat Keterlambatan dapat diperkecil dengan komunikasi dan kerjasama antarainstitusi kesehatan dengan penyidik

Di dalam bagian pemberitaan biasanya disebutkan :


keadaan umum korban sewaktu datang luka-luka atau cedera atau penyakit yang diketemukan pada pemeriksaan fisik berikut uraian tentang letak, jenis dan sifat luka serta ukurannya pemeriksaan khusus/penunjang tindakan medis yang dilakukan riwayat perjalanan penyakit selama perawatan dan keadaan akhir saat perawatan

Visum et Repertum Korban Kejahatan Susila


Biasanya kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan,perkosaan, persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur, serta perbuatan cabul) Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan atau perbuatan cabul, adanya kekerasan (termasuk keracunan), serta usia korban Selain itu juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan psikiatrik sebagai akibat dari tindakan pidana tersebut Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan

Dalam kesimpulan diharapkan tercantum :


Perkiraan tentang usia korban Ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin, menyebutkan kapan perkiraan terjadinya Ada atau tidaknya tanda kekerasan Bila ditemukan adanya tanda-tanda ejakulasi atau adanya tanda-tanda perlawanan berupa darah pada kuku korban, dokter berkewajiban mencari identitas tersangka melalui pemeriksaangolongan darah serta DNA dari benda-benda bukti tersebut

Visum et repertum jenazah


Jenazah yang akan dimintakan VeR harus diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan, diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya Harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta : apakah pemeriksaan luar (pemeriksaan jenazah) pemeriksaan dalam/autopsi (pemeriksaanbedah jenazah)

Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi : 1. Pemeriksaan luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan jenazah secara teliti dan sistematik 2. Pemeriksaan bedah jenazah, pemeriksaan secara menyeluruh dengan membuka rongga tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Kadangkala dilakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi, dsb Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab, jenis luka atau kelainan, jenis kekerasanpenyebabnya, sebab dan mekanisme kematian, serta saat kematian seperti tersebut di atas

Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Mayat : 1. Permintaan secara tertulis oleh yang berwenang 2. Jenis pemeriksaan disebut 3. Dugaan sebab kematian dengan kata-kata mencerminkan peristiwa pidana 4. Mayat diberi label, di lak, dan cap jabatan 5. Keluarga korban setuju 6. Surat permintaan dikirim bersama mayat

Visum et repertum psikiatrik Status mental Biasanya untuk tersangka pelaku Dasar Hukum : Pasal 120 Dikeluarkan oleh dokter Psikiatri

Kegunaan V et R
AWAL PENYIDIKAN
BUKTI ADANYA TINDAK PIDANA BUKTI PENAHANANPERPANJANGAN MEMBANTU PENYIDIK dlm hal :
Jenis luka dan penyebabnya Hubungan ant sebab kematian dan luka-2yang ada pada tubuh korban.ada hubungan atau tidak Identitas

MEMBANTU DLM MENENTUKAN JENIS TUNTUTAN

PERSIDANGAN
UPAYA BUKTI YG SYAH BAHAN PERTIMBANGAN DLM MEMUTUS PERKARA

Bagian-bagian VeR
PROJUSTITIA: (arti demi keadilan); bebasmeterai PENDAHULUAN:
Memuat:
Identitas pemohon V et R Identitas dokter yg memeriksa Identitas korban Tempat dilakukan pemeriksaan Keterangan lain:
kapan korban dirawat kapan korban mati cara kematian korban

PEMBERITAAN:
Memuat:
Korban hidup
Keadaan umum Status generalis Status lokalis Pem.tambahan / laboratorium

Korban Jenazah
Pemeriksaan luar Pemeriksaan dalam Pemeriksaan tambahan / laboratorium

KESIMPULAN:
Memuat:
Korban hidup :
Identitas yg diperiksa Luka-luka dan penyebab Penyakit /kelainan yg mempermudah Derajat luka

Korban mati :
Identitas yg diperiksa Sebab perlukaan/kematian dan luka2 yg berkaitan Kelainan/penyakit yg mempercepat kematian

PENUTUP:
Memuat:
Pernyataan V et R dibuat berdasarkan sumpah sesuai KUHP pasal 120 ayat 2 dan tanda tangan dokter

Contoh Visum et Repertum

Yang Berhak Meminta VeR


Menurut K.U.H.A.P. Pasal 133: Penyidik Penyidik (menurut K.U.H.A.P. Pasal 6) 1) Penyidik adalah:
a) Pejabat polisi negara R.I. b) Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh U.U.

2) Syarat kepangkatan pejabat diatur lebih lanjut dalam P.P (Sekarang sekurangkurangnya Pelda)

PEJABAT PEMINTA VeR Penyidik adlh pejabat polisi Negara RI tertentu sekurang-kurangnnya berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi (Ajun Inspektur Dua) Penyidik pembantu adlh Pejabat polisi Negara RI tertentu yg sekurang-kurangnya berpangkat sersan dua (Brigadir Dua)

Yang Berhak Melakukan Pemeriksaan


K.U.H.A.P. Pasal 133:
Ahli Kedokteran Kehakiman Dokter Ahli lain

Tatacara Permintaan VeR


1. Pasal 133 ayat (2) KUHAP : Permintaan Keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka pemeriksaan mayat atau pemeriksaan bedah mayat

SPVR harus dibuat dengan menggunakan format sesuai dg jenis kasus yg sedang ditangani SPVR harus ditandatangani oleh penyidik yg syarat kepangkatan dan pengangkatannya diatur dlm BAB II pasal 2 PP no. 27 th 1983 Korban yg meninggal dunia harus diantar oleh seorang anggota POLRI dg membawa SPVR Korban yg meninggal harus diberi label sesuai pasal 133 ayat (3) KUHAP Sebaiknya penyidik yg meminta VeR mengikuti jalannya pemeriksaan bedah jenazah

Macam-macam Visum et Repertum


Ditinjau dari segi visum:
V et R Sementara V et R Lanjutan V et R Difinitif

V et R Sementara
Dibuat untuk korban hidup di mana kwalifikasi luka belum dapat ditentukan Ciri:
Pada kop tertulis: V et R Sementara Kesimpulan: Hanya dapat ditulis jenis luka & jenis kekerasan Demikianlah V et R Sementara dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan Hanya berlaku 20 hari Hanya dibuat 1x

Guna:
Menentukan ada tidaknya tindak pidana Mengarahkan penyidikan Menentukan penahanan sementara (bagi polisi) Menentukan tuntutan (bagi jaksa) Data dasar tindak lanjut terapi penyakitnya (bagi dokter)

Kesimpulan V et R Sementara terdiri dari 3 kriteria:


Macam luka Penyebab terjadinya luka Memerlukan perawatan atau tidak

Contoh V et R Sementara: Terdapat luka di korban akibat (kekerasan ) Korban tersebut setuju / menolak perawatan. Perawatan / pengobatanlanjutan dilakukan di poliklinik / puskesmas/ R.S. bagian dengan registrasi no. (oleh dokter ) V et R Lanjutan akan dibuat setelah perawatan / pengobatan lanjutan selesai oleh dokter yang mengobati korban

V et R Lanjutan
Dibuat jika si korban telah selesai dirawat Ciri:
Pada kop tertulis: V et R Lanjutan Kesimpulan: Selain jenis luka dan jeniskekerasan, juga dapat ditentukan derajat penyakit / lukanya Demikianlah V et R Lanjutan dibuat dgn mengingat sumpah pada waktu menerimajabatan Hanya berlaku untuk waktu 20 hari Bisa dibuat lebih dari 1 buah

Guna = V et R Sementara Contoh V et R Lanjutan:


Kesimpulan (luka sedang): Terdapat luka di korban, akibat yang sesuai dengan V et R Sementara no. ternyata telah memerlukan perawatan / pengobatan lanjutan korban selama hari / bulan. Korban tidak dapat menjalankan tugas jabatan / mata pencaharian sebagai (menurut polisi / korban sendiri) selama hari / bulan

V et R Definitif
Mencakup V et R seketika / langsung(diberikan pada luka ringan atau V et R Jenazah) dan V et R Lanjutan yg paling akhir (luka sedang atau berat) Ciri:
Pada kop tertulis V et R Definitif Kesimpulan:
Sebab kematian Mekanisme Perkiraan saat kematian

Demikianlah V et R Definitif dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan Berlaku seterusnya sampai ke pengadilan

Contoh V et R Definitif Kesimpulan:


Matinya orang ini akibat (sebab) di (regio) yang menyebabkan (mekanisme) Perkiraan saat kematian adalah antara (jam / tanggal ) sampai jam / tanggal

Pasal 162 KUHAP 1) Jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir disidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, maka keterangan yang telah diberikannya itu dibacakan 2) Jika keterangan itu sebelumnya telah diberikan dibawah sumpah, maka keterangan itu disamakan nilainya dengan keterangan dibawah sumpah yang diucapkan di sidang

Pasal 170 KUHAP 1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat diminta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi,yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka 2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut

Pasal 179 KUHAP


1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan 2) Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya

Pasal 224 KUHAP Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya diancam :
1. Dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama 9 bulan 2. Dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama 6 bulan

LO4
Kewajiban dokter dalam proses peradilan

Standar profesi dokter di bidang kedokteran forensik : standar keilmuan dan keterampilan minimal yang harus dikuasai seorang dokter dalam mengunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk membantu penegakan hukum, keadilan, dan memecahkan masalahmasalah hukum. Profesi dokter mempunyai tugas yang tak kalah penting dari sekedar memberikan pelayanan medis klinis kepada masyarakat, yaitu memberikan bantuan terhadap penegakan hukum dan keadilan (medical for law). Seperti juga hak kehidupan, kesehatan, kesembuhan maka keadilan dan perlindungan hukum merupakan hak asasi manusia yang wajib dipenuhi dan dilindungi oleh negara.

Ilmu Kedokteran Forensik


Salah satu cabang ilmu kedokteran yang begitu akrab dengan permasalahan penegakan hukum dan keadilan adalah ilmu kedokteran forensik. Kata Forensik berasal dari Forum yang berarti pasar. Pada zaman Romawi kuno pasar digunakan sebagai tempat pengadilan. Berkembang pengertian ilmu kedokteran forensik merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologinya untuk membantu penegakan hukum dan keadilan.

Tugas pokok seorang dokter dalam bidang forensik adalah membantu pembuktian melalui pembuktian ilmiah termasuk dokumentasi informasi/prosedur, dokumentasi fakta, dokumentasi temuan, analisis dan kesimpulan, presentasi (sertifikasi). Prinsip kerja kedokteran forensik berdasarkan sumpah dokter, etika, dan standar kebebasan profesi yang mempertimbangkan aspek obyektifitas ilmiah, impartial, komprehensif, menyeluruh dan sesuai prosedural.

Peranan
Peranan dari kedokteran forensik dalam penyelesaian perkara pidana di Pengadilan adalah membantu hakim dalam menemukan dan membuktikan unsur-unsur yang di dakwakan dalam pasal yang diajukan oleh penuntut. Serta memberikan gambaran bagi hakim mengenai hubungan kausalitas antara korban dan pelaku kejahatan dengan mengetahui laporan dalam visum et repertum.

Peranan
Memeriksa korban maupun memberikan keterangan untuk kepentingan hukum dan peradilan. Memastikan sebab, cara, dan waktu kematian pada peristiwa kematian tidak wajar karena pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan atau kematian yang mencurigakan. Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui identitas korban. Memeriksa korban penganiayaan, pemerkosaan, pengguguran kandungan dan peracunan.

Dinilai menurut waktu penyelidikan hingga persidangan dokter mempunyai peran sebagai berikut: Masa Penyelidikan
Pemeriksaan di TKP dan analisis data yang ditemukan

Masa Penyidikan
Pembuatan visum et repertum dan BAP saksi ahli

Masa Persidangan
Dokter berperan dalam memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli pemeriksa, menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR dengan temuan ilmiah alat bukti sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang belum jelas dari sisi ilmiah.

Tujuan
Peranan ahli (expert) termasuk dokter dalam bidang Kedokteran Forensik adalah dalam rangka membuka tabir suatu peristiwa yang dapat menjawab 7 pertanyaan :
Apa yang terjadi (what) Siapa yang terlibat (who) Di mana terjadi (where) Kapan terjadi (when) Bagaimana terjadinya (how) Dengan apa melakukannya (with what) Kenapa terjadi peristiwa tersebut (why)

Penolakan
Tidak ada alasan bagi dokter untuk tidak memberikan bantuan dalam penegakan hukum dan keadilan. Dokter dapat menerima sanksi bila tidak memberikan bantuan tersebut seperti tercantum dalam pasal 224 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang menjadi saksi ahli atau juru bahasa dengan sengaja tidak menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus dijalankannya dalam kedudukan tersebut di atas, dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan dan untuk perkara lain dihukum dengan hukuman selama-lamanya 6 bulan.

Perundang-undangan dan Peraturan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan Dokter dalam Membantu Peradilan
Pasal 1(28) KUHAP Pasal 120 KUHAP Pasal 133 KUHAP Pasal 134 KUHAP Pasal 135 KUHAP Pasal 136 KUHAP Pasal 160 KUHAP Pasal 161 KUHAP Pasal 162 KUHAP Pasal 170 KUHAP

LO5
Penatalaksanaan dalam kasus pidana pemerkosaan

Penanganan medis korban perkosaan 1. Memberikan pelayanan klinis riwayat pemeriksaan perawatan konseling 2. Mengumpulkan bukti forensik 3. Merujuk untuk intervensi krisis lebih lanjut

prosedur
SERAH TERIMA KORBAN Korban datang diantar petugas Surat permintaan VER ditanda tangani penyidik Dokter pemeriksa mencocokkan nama tersebut dalam surat dengan korban, bila tidak sesuai harap dilembalikan kepada penyidik Buku ekspedisi milik penyidik ditanda tangan oleh petugas RS atau dokter Petugas pengantar menulis nama, pangkat dan jabatan serta tanda tangan

IJIN UNTUK DIPERIKSA Pernyataan tertulis bahwa korban bersedia diperiksa dokter Bila korban anak-anak pernyataan dibuat oleh orang tua atau wali Bila korban tidak sadar, ijin keluarga atau pembuatan V e R dapat ditunda sampai perawatan selesai Selama pemeriksaan korban harus didampingi perawat

PEMERIKSAAN KORBAN Dicatat nama dokter pemeriksa dan perawat pembantu Dicatat tanggal dan jam pemeriksaan

Anamnesa
UMUM Identitas korban : nama , umur , pekerjaan Status perkawinan : gadis, sudah menikah, janda Haid terakhir, pola haid Riwayat penyakit, penyakit kelamin, penyakit kandungan Apakah memakai kontrasepsi

Anamnesa khusus
1. Siapa yang melaporkan ke polisi : Korban Keluarga Masyarakat 2. Saat kejadian : tanggal dan jam 3. Tempat kejadian 4. Apakah korban melawan 5. Apakah korban pingsan 6. Apakah korban kenal dengan pelaku 7. Apakah terjadi penetrasi penis dan terjadi ejakulasi 8. Apakah ada deviasi sexual 9. Jumlah pelaku 10. Apakah setelah kejadian korban : Mencuci kemaluan Mandi Ganti pakaian

pemeriksaan
PEMERIKSAAN BAJU KORBAN 1. Dicatat helai demi helai pakaian luar dan dalam korban 2. Diperiksa apakah ada bercak : Darah Air mani Lumpur, kancing putus, robekan, dll Bila ada digunting dan dikirim ke Labkrim

PEMERIKSAAN UMUM ( BADAN ) 1. Tingkah laku : Gelisah Depresi 2. Penampilan : Rapi Kusut/ acak-acakan 3. Tanda-tanda bekas hilang kesadaran atau dibawah pengaruh alkohol, obat tidur/ bius, needle mark 4. Tanda-tanda bekas kekerasan dari daerah kepala sampai kaki : Macam luka : lecet, memar, robek, atau patah tulang Love bite atau cupang 5. Ada tidaknya Trace Evidence yang menempel pada tubuh : tanah, rumput, darah

PEMERIKSAAN KHUSUS ( ALAT GENITAL ) 1. Adakah rambut kemaluan yang melekat, bila ada digunting dan kirim ke Labkrim 2. Adakah rambut asing ( dengan cara menyisir rambut pubis ) , bila ada tempel pada selotipe dikirim ke Labkrim 3. Adakah bercak air mani di sekitar alat kelamin, bila ada dikerok dengan skalpel/ dihapus dengan kapas basah kirim ke Labkrim 4. Pemeriksaan himen Bentuk himen Ukuran lubang himen Ada robekan baru atau lama Lokasi robekan 5. Pemeriksaan vagina dan cervix dengan speculum : Adakah tanda-tanda penyakit kelamin : Dinding vagina luka / tidak Fornix posterior luka / tidak Ostium uteri keluar darah / tidak 6. Pemeriksaan dalam / colok dubur : rahim membesar atau tidak 7. Pengambilan bahan pemeriksaan laboratorium : Spermatozoa Semen Penyakit kelamin

PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Pemeriksaan spermatozoa Bahan diambil dari cairan vagina atau canalis cervicalis Dengan pipet atau ose Dengan pewarnaan : - Dibuat preparat hapus - Difiksasi dengan api - Pewarnaan HE atau GramTanpa pewarnaan : - Diletakkan diatas obyekglas - Pembesaran 500 kali - Spermatozoa bergerak / mati / tidak ada

2. Pemeriksaan bercak sperma pada pakaian : Visual : - Bercak berbatas jelas - Lebih gelap dari sekitarnyaSinar Ultra Violet menunjukkan fluoresensi putih Taktil : - Kaku - Permukaan bercak teraba kasar

Pemeriksaan rektal
Dilakukan sesuai indikasi berdasarkan anamnesa pasien,dilakukan inspeksi ,apusan kapas lidi yamg sudah dibasahi NaCl 0,9% dan kultur gonore,kapas lidi diusapkan pada lipatan-lipatan mukosas (kripti),bukan ditengah anus.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penentuan golongan darah,tes kehamilan ,tes serologi untuk sifilis(VDRL,wasserman,kahn)dan tes toksikologi bila terdapat indikasi

Penatalaksanaan
Meliputi 3 tujuan yaitu,pencegahan untuk penyakit infeksi menular sexual,pencegahan kehamilan dan penatalaksanaan trauma pada korban

Penatalaksanaan
Infeksi yang dideteksi dalam 24 jam setelah kejadian sebagian besar telah diderita sebelum kejadian. Untuk mencegah penyakit menular seperti gonore dan sifilis, berikan penisilin 4,8 juta unit atau amoksisilin 3 g dan probenesid 1 g atau seftriakson 250 mg intramuskular. Bila alergi penisilin, berikan spektinomisin 2 g intramuskular diikuti doksisiklin 100 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari. Wanita hamil diberikan eritromisin 500 mg 4 kali sehari selama 7 hari, sedangkan anak-anak 30-50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis. Pemberian tergantung pula pada hasil sensitivitas bakteri lokal. Untuk klamidia dapat diberikan azitromisin 1 g dosis tunggal oral. Untuk anak-anak tidak direkomendasikan profilaksis, kecuali tersangka diketahui infeksi.

Pemeriksaan dan penatalaksanaan HPV, HIV, hepatitis dan hespes simpleks masih menjadi kontroversi karena masa latennya yang panjang. Untuk mencegah kehamilan dapat diberikan pil kontrasepsi pascasenggama bila masih dalam waktu yang ditentukan (keterangan mengenai pil yang digunakan dapat dibaca dalam subbab Kontrasepsi). Lakukan tes kehamilan yang efektif sebelum dilakukan pengobatan bila dicurigai terdapat kehamilan sebelumnya.

Trauma fisik umumnya. Bila perlu diberikan suntikan tetanus toksoid pada luka yang cukup dalam. Yang paling penting adalah trauma psikologis yang diderita, biasanya terdiri dari fase akut dan fase jangka panjang. Mula-mula pasien dapat bersikap ekspresif, termasuk marah, sedih, dan ansietas, atau bersikap terkontrol. Gangguan paling umum diderita adalah somatisasi dan dapat berlangsung selama 3-6 bulan. Fase jangka panjang dapat berlangsung bertahun-tahun, termasuk depresi, disfungsi seksual, penyalahgunaan zat, percaya diri yang rendah, obesitas, dan nyeri panggul kronik. Dilakukan pemeriksaan ulang 7-14 hari kemudian untuk tes serologi dan kultur gonore tetap negatif, pasien tidak hamil, dan terapi psikologis yang diperoleh sesuai.

Mencegah kehamilan:
< 5 hari Lebih disukai: dosis tunggal 1,5 mg levonorgestrel Atau: ethinylestradiol 100 mcg + levonorgestrel 0,5 mg, dua dosis terpisah 12 jam (Yuzpe) Alternatif: IUD (sangat efektif, tetapi dibutuhkan ketrampilan!) Perawatan luka Membersihkan dan mengobati luka Memberikan propilaksis tetanus dan vaksinasi Rujuk pada pelayanan tingkat yang lebih tinggi jika diperlukan Perawatan

Kesimpulan
Setelah dilakukan PF oleh dokter ditemukan tanda-tanda persetubuhan:laserasi pada dasar hymen pada jam 6, spermatozoa dalam keadaan motil. Dlm pemeriksaan forensik dokter dilindungi oleh UU

Saran
Dokter dalam kasus ini tidak perlu takut jika telah melakukan pemeriksaan forensik sesuai prosedur dalam UU.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Munim Idries,2009. Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Forensik. Abdul Minim Idries,2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Soeparmono,2002. Kedokteran Forensik di Indonesia. Juliana Lubis, 2008.Peranan Dokter dalam Pembuktian Tindak Pidana. Budiyanto,1997.Ilmu Kedokteran Forensik. Sri Ingeten,2008.Peranan Dokter dalam Pembuktian Perkara Pidana. Widy Hargus,2006.Peranan Visum et Repertum dalam Pembuktian Tindak Pidana Penghilangan nyawa orang dengan Racun. Budi Sampurna,2009.Pengantar Mediko-Legal. Dedi Afandi,2008.Visum et Repertum Pada Korban Hidup.

Pertanyaan
Dedek:boleh tidak korban ditangani oleh keluarga sndri Wil:15 thn dibwh umur/tdk? Suka sama suka dipidana/tdk? Pelaku dibwh umur dipidana? Erwin:knp hny RS pemrnth yg hny blh mlkkn pem.forensik? Pelaku dibwh umur hkman sama tdk dgn dwsa? Jes:incest, penanganan pd korban hamilpny anak? Pemerkosaan suami istri? Cio:sanksi hkm dktr menolak ada yg lain? Eric:aborsi dlm pemerkosaan ada hkm yg matur?