Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Angina Pectoris Angina pectoris ialah suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri. Nyeri dada tersebut biasanya timbul pada saat melakukan aktivitas dan segera hilang bila aktivitas dihentikan. Merupakan kompleks gejala tanpa kelainan morfologik permanen miokardium yang disebabkan oleh insufisiensi relatif yang sementara di pembuluh darah koroner. 2.2. Epidemiologi Angina Pectoris Di negara-negara maju dan beberapa negara berkembang seperti Indonesia, PJK merupakan penyebab kematian utama. Di Amerika Serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50 % dari penderita PJK mempunyai manifestasi awal Angina Pectoris Stabil (APS). Jumlah pasti penderita angita pectoris ini sulit diketahui. Dilaporkan bahwa insidens angina pectoris pertahun pada penderita diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita per 100.000 penduduk. Asosiasijantung Amerika memperkirakan ada 6.200.000 penderita APS ini di Amerika serikat. Tapi data ini nampaknya sangat kecil bila dibandingkan dengan laporan dari dua studi besar dari Olmsted Country dan Framingham, yang mendapatkan bahwa kejadian infark miokard akut sebesar 3% sampai 3.5% dari penderita APS pertahun, atau kurang lebih 30 penderita APS untuk setiap penderita infark miokard akut. Unstable angina cenderung lebih sering menyerang orang lanjut usia, sedangkan pada varian angina biasanya terjadi pada yang masih muda. Walaupun demikian jenis varian ini sangat jarang terjadi yaitu 2 dari 100 kasus angina. Faktor Resiko Yang tidak dapat diubah 1. 2. 3. Usia Jenis kelamin Riwayat keluarga
11

4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3.

Ras Yang dapat diubah Peningkatan lipid serum Hipertensi Merokok Gangguan toleransi glukosa Diet tinggi lemak jenuh,kolesterol dan kalor Gaya hidup yang kurang bergerak Stress psikologik Tipe kepribadian

Mayor :

Minor

Ateroma bisa menonjol ke dalam arteri dan menyebabkan arteri menjadi sempit. Jika ateroma terus membesar, bagian dari ateroma bisa pecah dan masuk ke dalam aliran darah atau bisa terbentuk bekuan darah di permukaan ateromatersebut. Supaya bisa berkontraksi dan memompa secara normal, otot jantung (miokardium) memerlukan pasokan darah yang kaya akan oksigen dari arteri koroner. Jika penyumbatan arteri koroner semakin memburuk, bisa terjadi iskemi (berkurangnya pasokan darah) pada otot jantung sehingga menyebabkan kerusakan jantung. Penyebab utama dari iskemi miokardial adalah penyakit arteri koroner. Komplikasi utama dari penyakit arteri koroner adalah angina dan serangan jantung (infark miokardial) 2.3. Patofisiologi Angina Pectoris Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suplai oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekauan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan penyakit arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat, maka arteri koroner
12

berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung. Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplaidarah) miokardium. Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi NO (nitratOksid) yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energy mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kebutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya penimbunan asam laktat, maka nyeri angina pektorismereda. Dengan demikian, angina pektoris merupakan suatu keadaan yang berlangsung singkat. 2.4. Klasifikasi Angina Pectoris 2.4.1. Angina Pektoris Tidak Stabil Yang dimasukkan dalam angina tidak stabil yaitu : a. b. Pasien dengan angina yang masih baru dalam 2 bulan, dimana angina cukup berat dan frekuensi cukup sering > 3x sehari Pasien dengan angina yang bertambah berat, sebelumnya angina stabil, lalu serangan angina timbul sering , lebih berat sakit dadanya, sedangkan faktor presipitasi makin ringan c. Pasien dengan serangan angina pada waktu istirahat Pada tahun 1989 Braunwald menganjurkan dibuat klasifikasi supaya ada keseragaman. a. Berdasarkan beratnya angina :
13

Kelas I : angina yang berat untuk pertama kali, atau makin bertambah beratnya nyeri dada Kelas II : angina pada waktu istirahat dan terjadinya subakut dalam 1 bulan tapi tidak ada serangan angina dalam waktu 48 jam terakhir

Kelas III : adanya serangan angina waktu istirahat dan terjadinya secara akut baik sekali atau lebih dalam waktu 48 jam terakhir

b.

Keadaan klinis Kelas A : angina tak stabil sekunder, karena adanya anemia, infeksi lain dan febris Kelas B : angina tak stabil yang primer, tidak ada faktor ekstrakardial Kelas C : angina yang timbul setelah serangan infark jantung

c.

Intensitas pengobatan Tak ada pengobatan atau hanya mendapat pengobatan minimal Timbul keluhan serangan angina walaupun telah dapat terapi yang standart Masih timbul serangan angina walaupun telah diberikan pengobatan yang maksimum, dengan penyekat beta, nitrat dan antagonis kalsium.

1.

Diagnosis Tabel 3. Pemeriksaan anamnesa dan pemeriksaan fisik pada angina pectoris tidak stabil
ANAMNESA PEMERIKSAAN FISIK 14

Nyeri dada pada substernal Nyeri semakin memberat dari biasanya Nyeri saat aktivitas dan pada saat istirahat Durasi nyeri < 15-20 menit Nyeri menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang Sesak napas Mual, muntah Keringat dingin

Tidak ada tanda khas yang di dapatkan

Tabel 4. Pemeriksaan penunjang pada angina pectoris tidak stabil EKG & EKOKARDIOGRAFI EKG : Adanya depresi segmen ST yang baru iskemia akut. Gelombang T negative, LABORATORIUM Menurut European society of cardiology (ESC) dan american bila troponin T atau I positif

menunjukkan kemungkinan adanya college of cardiology (ACC) : juga dalam 24 jam, dianggap ada menunjukkan tanda iskemia akut atau mionekrosis. Troponin T positif sampai 2 minggu. Maka resiko NSTEMI. ECHO : kematian juga akan makin bertambah. CK-MB meningkat, namun

Adanya gangguan faal ventrikel kiri. adanya insufisiensi mitral. Abnormalitas regional jantung. Ekokardiografi membantu stress juga menegakkan gerakan

dinding kurang spesifik, dan akan kembali normal dalam 48 jam. dapat adanya

iskemia miokardium.

2.

Penatalaksanaan Tindakan umum : bedrest, diberi penenang, oksigen, bisa diberikan morfin atau peptidin jika masih sakit dada walaupun sudah diberikan nitrogliserin. Terapi medikamentosa :
15

a.

Obat anti iskemia 1). Nitrat. Menyebabkan vasodilatasi pembuluh vena dan arteriol perifer, dengan efek mengurangi preload, dan afterload sehingga dapat mengurangi wallstress dan kebutuhan oksigen. Dalam keadaan akut nitrat/isosorbid diberikan secara sublingual atau melalui infuse IV : dengan dosis 1-4 mg per jam 2). Penyekat beta Dapat menurunkan kebutuhan oksigen miokardium melalui efek penurunan denyut jantung dan daya kontraksi miokardium. Kontraindikasi pemberian penyekat beta adalah pasien dengan asma bronchial, pasien dengan bradiaritmia 3). Antagonis kalsium Terdapat 2 golongan besar : dihidropiridin (nifedipin) nondihidropiridin darah. (diltiazem, verapamil). Keduanya menyebabkan vasodilatasi koroner dan menurunkan tekanan

b.

Obat antiagregasi trombosit 1). Aspirin Dapat mengurangi infark fatal maupun non fatal pada pasien angina tak stabil. Dosis awal 160mg per hari dan dosis lanjutan 80- 325 mg per hari 2). Tiklopidin Obat lini kedua dalam pengobatan angina tdk stabil bila pasien tidak tahan aspirin 3). Klopidogrel Menghambat agregasi trombosit, mengurangi strok, infark dan kematian kardiovaskuler

c.

Obat antitrombin 1). Heparin


16

Glikosaminoglikan yang terdiri dari berbagai polisakarida yang bekerja menghambat thrombin dan faktor Xa. 2.4.2. Angina Pektoris Stabil Angina pectoris stabil adalah suatu nyeri dada atau ketidaknyamanan yang biasanya terjadi saat aktivitas atau saat stress. Ketidaknyamanan pada nyeri dada dikarenakan ketidkamampuan aliran darah yang melewati pada pembuluh darah (arteri coronary) pada otot jantung (miokardium). Tipe nyeri pada angina pectoris stabil yaitu : a. b. c. Berlangsung setelah aktivitas, stress, atau saat bekerja Berlangsung sekitar 1-15 menit Mereda saat istirahat atau setelah di berikan obat nitrogliserin

Gradasi beratnya nyeri dada telah di buat oleh Canadian cardiovaskuler society sebagai berikut : a. Kelas 1. Aktivitas sehari-hari seperti jalan kaki, berkebun, naik tangga 1-2 lantai dan lain-lain tidak menimbulkan nyeri dada. Nyeri dada baru timbul pada latihan yang berat, berjalan cepat serta terburu-buru waktu kerja atau bepergian. b. Kelas 2. Aktivitas sehari-hari agak terbatas, misalnya nyeri timbul bila melakukan aktivitas lebih dari biasanya, seperti jalan kaki 2 blok, naik tangga 1 lantai atau terburu-buru, berjalan menanjak atau melewan angina dan lain-lain. c. d. Kelas 3. Aktivitas sehari-hari nyata ternbatas. Angina timbul bila berjalan 1-2 blok, naik tangga 1 lantai dengan kecepatan yang biasa. Kelas 4. Angina timbul waktu istirahat sekalipun. Hampir semua aktivitas dapat menimbulkan angina, termasuk mandi, menyapu dan lain-lain. 1. Diagnosis Tabel 5. Pemeriksaan anamnesa dan pemeriksaan fisik pada angina pectoris stabil
ANAMNESA Nyeri dada pada substernal Nyeri menjalar ke lengan, bahu, leher, PEMERIKSAAN FISIK Palpasi : nadi dorsum pedis/tibialis posterior tidak 17

rahang Nyeri seperti rasa tertekan benda berat, seperti rasa tertusuk, terbakar, atau seperti rasa diperas. Nyeri saat aktivitas, mereda saat istirahat. Nyeri kurang dari 20 menit lamanya Lemah, letih, lesu Sesak napas

teraba. Auskultasi : terdengar murmur, split S2 paradoksal, ronki basah di bagian basal paru.

Tabel 6. Pemeriksaan penunjang pada angina pectoris stabil


EKG & EKOKARDIOGRAFI EKG : Waktu istirahat : biasanya normal, tetapi iskemia bisa didapatkan segmen ST-T yang sesuai dengan miokardium. Adanya Q abnormal juga bisa didapatkan. Waktu aktivitas : didapatkan BBB dan depresi ST ringan. ECHO : Bila echo dilakukan dalam waktu sampai 30 menit dari serangan angina, mungkin sekali akan didapatkan segmen miokardium yang mengalami disfungsi karena iskemia akut. LABORATORIUM Terdapat peningkatan troponin T&I, CK-MB bisa meningkat

perubahan pada pemeriksaan.

2.

Penatalaksanaan Tindakan umum a. b. c. d. Perubahan pola hidup Penurunan berat badan Penyesuaian diet Olahraga secara teratur
18

Tindakan medikamentosa a. b. c. d. e. f. g. Aspirin Penyekat beta Angiotensin converting enzyme terutama bila hipertensi dan disfungsi LV Pemakaian obat penurun LDL Nitrogliserin Antagoniis kalsium Clopidogrel

19

Anda mungkin juga menyukai