Anda di halaman 1dari 35

AGREGAT

KLASIFIKASI
Klasifikasi batuan didasarkan pada berbagai hal, yaitu : 1. Berdasarkan Engineering Properties ditemui pada jenis batu yang sama tetapi sifatnya berbedabeda tergantung dari kandungan mineral yang ada di dalamnya. 2. Berdasarkan proses alami terbentuknya batuan a. Batuan alami natural aggregate: -. batuan beku igneous rock / vulcanic -. batuan sedimen sedimentary rock -. batuan metamorf metamorphic rock ---------- Petrology b. Batuan buatan ( artificial rock ) --- manufactured sebagai contoh batuan yang dibuat dari hasil terak tanur besi/baja (steel slag); cooper slag; nickel slag; bottom ash, fly ash (coal ash) c. Batuan bekas / sisa / limbah (waste material ) crushed waste concrete; brick (coated with cement) granulated/shreded waste plastic ----- Plasphalt; Plastiphalt shredded waste tyre crushed glass --- Glassphalt abu limbah tebu, etc. 3. Berdasarkan Gradasi a. b. c. Gradasi rapat ( dense grading ) Gradasi terbuka ( open grading ) Gradasi timpang ( gap grading )
PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -29

d. 4.

Gradasi uniform

Berdasarkan Ukuran Butir a. b. c. Agregat Kasar (Coarse Aggregate - CA), butiran tertahan saringan #4 (4.75m)-AASHTO/AI; #8 (2.36mm) BM, BSI Agregat Halus (Fine Aggregate - FA), saringan #4 dan tertahan saringan #200 Agregat pengisi/filler, butiran lolos saringan #200 butiran lolos

5. Berdasarkan Bentuk Butiran a. kubikal / cubical --- angular terdpt 2 atau lebih bidang pecah b. bulat / rounded --- gravel c. tak teratur / irregular 6. Berdasarkan Proses Terjadinya Agregat dari asli sampai terbentuknya butiran agregat , dapat terjadi karena : -. diangkut air -. angin -. Kasar - rough -. sedang -. Halus - smooth Untuk pekerjaan jalan batuan yang biasa dipakai adalah batuan alami dari jenis batuan beku, namun tidak menutup kemungkinan dari jenis batu lain apabila ternyata persediaan di quarry cukup dan memenuhi syarat yang telah ditentukan. Batuan beku dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan kekerasan kristal batuannya :
PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -30

-. korosi -. dengan pemecah batu

7. Berdasarkan Tekstur Permukaan

1. plutonic, kristalnya kasar, keras dan ulet 2. hypabisal, kristalnya sedang, tidak tahan abrasi 3. vulcanic, kristalnya halus dan kekuatannya rendah.

PEMERIKSAAN KUALITAS AGREGAT


1. Crushing --------------- tughness a. ketahanan terhadap slow loading alat hasil : Aggregate Crushing Test : Aggregate Crusshing Value ( ACV ) jumlah butiran kecil yang terbentuk oleh ACT b. ketahanan terhadap rapid loading alat hasil : Aggregate Impact Test : Aggregate Impact Value ( AIV ) jumlah butiran kecil yang terbentuk oleh AIT 2. Abrassion ---------- hardness a. Deval Test prinsip kerja alat b. Los Angeles Test prinsip kerja alat impact 3. Polishing -. digunakan untuk agregat bahan lapis permukaan wearing course -. alat -. hasil 4. Stripping : Accelerated Polishing Test : Polishing Stone Value : Abrasi dan impact memeriksa ketahanan agregat terhadap abrasi dan : Abrasi memeriksa ketahanan agregat terhadap abrasi

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -31

5. Weathering (water absorbtion, soundness test, wetting and drying, freezing and thawing)

AGREGAT SEBAGAI BAHAN JALAN


Jenis agregat yang dapat digunakan sebagai bahan jalan : -. batuan beku -. batuan sedimen -. batuan metamorf Syarat agregat dapat digunakan sebagai bahan jalan : 1. Tahan lama ( durable - resistance to abrassive ) batuan harus mempunyai kualitas yang cukup tahan terhadap pemecahan degradasi dan disintegrasi. Degradasi adalah timbulnya bahan-bahan yang halus yang besarnya lolos saringan #100 dan tertahan #200 yang disebabkan oleh adanya gaya-gaya mekanis (lalulintas) atau gaya yang berlebihan sebelum dilakukan mixing (pencampuran). Disintegrasi adalah pemecahan atau pemisahan partikelpartikel batuan yang disebabkan karena gaya-gaya kimia (oleh air). 2. Mempunyai kekerasan yang cukup. Tahan terhadap attrition dan abrassion 3. Tahan terhadap polishing Batuan dapat memyediakan gaya gesek yang cukup dan tahan lama (tahan terhadap gaya gelincir/ skid resistance). -. batuan buatan -. batuan sisa

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -32

4. Batuan tahan terhadap stripping (pengelupasan permukaan batuan) Batuan dituntut mempunyai adhesi yang baik dengan bahan ikatnya. Untuk mengetahui seberapa jauh daya adhesi ini dilakukan dengan test kelekatan aspal tehadap batuan.

UKURAN AGREGAT
Ukuran batuan dinyatakan dengan diameter () butiran. Butiran agregat mempunyai bentuk yang tidak seragam, ukuran masingmasing sisi yang tidak seragam; untuk mendapatkan ukuran batuan yang sama persis dalam jumlah yang besar sangat mustahil. Untuk itu ukuran butiran biasanya dinyatakan dengan lolos suatu saringan dengan ukuran tertentu atau tertahan pada saringan dengan ukuran tertentu. Untuk mendapatkan ukuran agregat dilakukan dengan analisis saringan. Ukuran saringan dapat terdiri dari : -. space, dan -. mesh Space, adalah ukuran sebenarnya dari ruangan bersih antara kawat-kawat ayakan; misalnya : -. 2" -. 1" Mesh, -. 1" -. 1" -. 7/8" -. " -. " -. 3/8" -. " -. 1/8"

adalah jumlah lubang yang terdapat dalam jarak satu sehingga 1 sq inch ada 16 -. #60 -. #80 0,25mm 0,177mm

inchi diukur dari sumbu ke sumbu kawat. Contoh #4, artinya dalam satu inchi dibagi 4 lubang, -. #4 -. #8 4,76mm 2,36mm lubang. Ukuran mesh yang biasa digunakan antara lain :

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -33

-. #10 -. #30 -. #40

2,00mm 0,60mm 0,42mm

-. #100 -. #120 -. #140 -. #200

0,15mm 0,12mm 0,105mm

0,074mm

Untuk mengetahui ukuran butiran dilakukan pengayakan pada susunan ukuran tertentu. Susunan ukuran ayakan yang dipasang sesuai dengan kebutuhan atau syarat spesifikasi yang dituntut. Caranya dilakukan sebagai berikut : 1. agregat yang akan disaring dikeringkan, diambil sebagian dan ditimbang, 2. diayak dengan susunan ayakan tertentu, dapat dilakukan dengan 3. pada mengguncang-guncang ayakan atau akan dengan tertinggal bantuan agregat, vibrator, dilakukan beberapa saat masing-masing kemudian ditimbang 4. dihitung prosentase pada masing-masing ayakan terhadap total agregat yang diayak. Contoh : berat agregat yang diayak = G gram berat agregat tertinggal #10 = g10 gram = g10/G x 100% = p10 % Misal disaring agregat sebanyak 6304 gr, pengayakan diperoleh hasil sebagai berikut : setelah dilakukan

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -34

Saringa n

Berat tertinggal (gram)

Komulatif berat tertinggal (gram) --68 308 818 3248 5163 5814 6147 6276 6286 6290 6293 6304

Prosentase komulatif tertingg al 0 0 1 4,9 12,9 51,5 81,9 92,2 97,5 99,5 99,7 99,8 99,8 100 lolos 100 100 99 85,1 87,1 48,5 18,1 7,8 2,5 0,5 0,3 0,2 0,2 0

2" 1" 1" " " 3/8" " #4 #10 #20 #40 #80 #200 pan TOTAL

0 0 68 240 510 2430 1915 651 333 129 10 4 3 11 6304

Dari tabel di atas dapat dibaca bahwa pada saringan #4 : % butir yang lolos = 7,8 % % butir tertinggal = 92,2 % 92,2 % agregat berdiamater > dari 4,76 mm Jika didasarkan jenis agregat : -. agregat kasar (tertinggal #4) -. agregat halus (#4 - #200) = -. agregtar filler (lolos #200) = = 92,2 % 7,6 % (7,8 - 0,2) 0,2 % (11 gr)

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -35

AGREGAT BERBUTIR KASAR


Sifat :
1. Cukup kuat dan keras Agregat sebagai bagian yang mendukung stabilitas perkerasan dituntut keras dan kuat, karena jika tidak terpenuhi terjadi kerusakan oleh beban lalulintas. 2. Bentuk butiran Bentuk butiran yang dituntut adalah saling menyudut, sehingga akan saling mengunci, setelah nantinya dipadatkan maka agregat akan lebih padat dan lebih stabil. 3. Porositas. Sifat porositas agregat berkaitan dengan jumlah aspal dalam suatu campuran agregat - aspal. Jika porositas batuan tinggi maka aspal yang terserap akan banyak sehingga kebutuhan aspal menjadi banyak. 4. Kekasaran permukaan Sifat ini berpengaruh terhadap ikatan antara batuan dan aspal. Jika permukaan agregat halus, agregat akan mudah terbungkus aspal, namun sulit mempertahankan agar film (lapisan tipis) aspal tetap melekat. 5. Bersih. Agregat kasar harus bersih dari lempung, debu, oksida besi dan bahan organik lainnya. Hal ini berkaitan dengan akan terganggunya kelekatan antara aspal dan agregat.

Pemeriksaan Laboratorium
1. Keausan/abrasi (dengan mesin Los Angeles)
PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -36

Agregat yang akan diperiksa dimasukkan mesin, disertai bola-bola baja (efek impak dan abrasi), selanjutnya diputar pada rpm tertentu sehingga terjadi proses ausan, kemudian diangkat dan diayak pada #12 (standar), ditimbang yang lolos dan dibandingkan dengan berat semula; makin banyak agregat yang lolos ausan makin besar. 2. Keawetan (dengan Soundness test) dimaksudkan untuk memeriksa ketahanan agregat terhadap cuaca; ditest dengan larutan Na2SO4 atau Mg2SO4. 3. Lekatan agregat dengan aspal dan bentuk butiran 4. Berat jenis, dll. 5. flat and elongated 6. angularity

AGREGAT BERBUTIR HALUS


Sifat :
-. bersih; keras; awet; -. bebas lumpur, debu dan bahan organik lain

Pemeriksaan Laboratorium
1. 2. 3. 4. 5. Keausan/abrasi (dengan mesin Los Angeles) Keawetan (dengan Soundness test) Kandungan debu (dengan Sand Equivalent test) berat jenis angularity

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -37

GRADASI AGREGAT
Pada pekerjaan jalan, penggunaan agregat ditunjukkan dengan gradasi, sebagai contoh agregat untuk Base course disyaratkan :

Saringa n 1" 1" " #4 #200

% butiran lolos 100 75 - 95 35 - 65 30 - 40 0-7

Kenyataan di lapangan banyak dijumpai kesulitan menemukan agregat dengan syarat gradasi yang dimaksud. Untuk mengatasinya dilakukan dengan mencampur beberapa agregat (yang ada di lapangan) dengan gradasi yang berbeda. Contoh kasus : Agregat A dan agregat B dengan gradasi yang berbeda harus dicampur sehingga mendapatkan campuran yang memenuhi syarat grading limit C. Saringa n 2" 1" " #4 #10 Prosentase (%) lolos A 100 100 63 25 15 B 100 95 85 50 36 C-spec 100 90 - 100 65 - 80 30 - 40 20 - 35

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -38

#200

0-5

Penyelesaiannya dilakukan dengan Semigraphical Methode. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Membuat empat persegi panjang dengan sisi kiri dan kanan menunjukkan % lolos masing-masing gradasi (gradasi A di kiri dan gradasi B di kanan); sisi atas menunjukkan % agregat A dengan arah ke kiri, sisi bawah menunjukkan % gradasi B dengan arah ke kanan. 2. Gradasi agregat A digambarkan pada sisi kiri (masingmasing ukuran), 3. Gradasi agregat B digambarkan pada sisi kanan (masingmasing ukuran), 4. Titik pada gradasi A dan B yang mempunyai ukuran butiran yang sama saling dihubungkan, diperoleh garis-garis sesuai ukuran saringan, 5. Pada garis-garis hubung tersebut, digambarkan batas-batas gradasi agregat C untuk ukuran saringan yang sama, akan diperoleh daerah dimana dipenuhi batas-batas gradasi C. 6. Pada-garis-garis tersebut dapat ditentukan daerah ( range) dimana memenuhi batasan spesifikasi gradasi C, sehingga akan didapat perbandingan campuran gradasi A dan B yang memenuhi gradasi C. Hasil yang diperoleh : Untuk mendapatkan gradasi C sesuai syarat dari campuran gradasi A dan B diperoleh perbandingan : Gradasi A = (46 - 75) % Gradasi B = (25 - 54) %

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -39

Sehingga

gradasi

dapat

diperoleh

dengan

mencampurkan : -. 50 % A + 50 % B -. 60 % A + 40 % B -. 54 % A + 46 % B, dst.

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -40

A%
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 100 80 60 40 20

100 90 80

70 60 50 40

#4 #10 #20 0 20

30 20 10 40 60 80 100 0

B% Gambar Pencampuran Agregat. Sebagai contoh dicoba campuran dengan 60 % A + 40 % B : Saringa n Gradasi A 2" 1" " #4 #10 #200 100 100 63 25 15 3 B 100 95 85 50 36 7 Prosentase (%) lolos A= 60% 60 60 37,8 15 9 1,8 B= 40% 40 38 34 20 14,4 2,8 Hasil (%) 100 98 71,8 35 24,4 4,6 Grading limit (%) 100 90 100 65 80 30 40 20 35 05

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -41

Pada kondisi lain, untuk mendapatkan agregat sebagai bahan lapis permukaan, yang umumnya membutuhkan ukuran butiran yang lebih beragam, mencampurkan dua sering tidak dapat hanya dengan gradasi batuan namun dengan Cara penyelesaian yang

mencampurkan tiga gradasi batuan. tambahan langkah di depannya.

dilakukan hampir sama dengan metode di atas namun ada

Sebagai contoh kasus disampaikan sebagai berikut : Agregat F1 , agregat F2 dan agregat F3 dengan gradasi yang berbeda harus dicampur sehingga mendapatkan campuran yang memenuhi syarat grading limit X. gradasi agregatnya : Saringa n " " 3/8" #4 #8 #30 #100 #200 F1 100 74 12 3,0 2,5 2,0 1,8 1,5 F2 100 100 90 52 18 4,0 3,2 2,0 F3 100 100 100 100 98 55 30 15 X 100 80 - 100 70 90 55 75 40 55 20 30 10 18 4 10 Prosentase (%) lolos Data

Penyelesaiannya dilakukan dengan Graphical Methode. Bahan yang dipersiapkan untuk penyelesaian adalah : 1. Untuk Grafik I, berupa gambar yang digunakan untuk menggambarkan gradasi dari masing-masing fraksi agregat yang ada (F1, F2 dan F3).

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -42

2. Untuk Grafik II, membuat dua buah empat persegi panjang dengan sisi kiri dan kanan menunjukkan % lolos masingmasing gradasi; pada persegi panjang yang pertama gradasi F1 di kiri dan gradasi F2 di kanan, menunjukkan % gradasi F2 dengan arah ke kanan. Pada persegi panjang yang kedua gradasi gabungan F1 + F2 di kiri dan gradasi F3 di kanan; sisi atas menunjukkan % agregat gabungan F1 +F2 dengan arah ke kiri, sisi bawah menunjukkan % gradasi F3 dengan arah ke kanan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Dari grading limit (spesifikasi) agregat X dicari titik tengahnya dimana dianggap sebagai gradasi yang akan menjadi sasaran. Pada titik tengah masing-masing saringan kemudian digambarkan pada Grafik I, garis vertikal pada nilai tengah tersebut sebagai garis ukuran pada ukuran saringan. Sebagai contoh untuk #" nilai tengahnya 100%, maka pada 100 % (ukuran skala di bawah) dianggap sebagai letak ukuran #", untuk ukuran #" nilai tengahnya (80+100)/2 = 90%, maka pada 90% (skala di bawah) ditarik vertikal dianggap sebagai letak ukuran #", dan seterusnya. (tampak garis tebal pada gambgar Grafik I). 2. Dari tabel gradasi F1, F2 dan F3 digambarkan pada Grafik I sesuai dengan ukuran dan prosentasenya, sehingga diperoleh gambar-gambar gradasi F1, F2, dan F3. sisi atas menunjukkan % agregat F1 dengan arah ke kiri, sisi bawah

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -43

Gambar form Grafik I.

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 20 40 60 80 100

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -44

Gambar form Grafik II. F1 %


100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 20 40 60 80 100 80 60 40 20 100 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 100 0 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 20 40 60 80 100 80 60

F1+F2 %
40 20 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 100 0

F2 %

F3 %

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -45

3. Tahap

berikutnya

adalah

menentukan

perbandingan

sementara antara F1, F2, dan F3 dengan menggunakan Grafik I. Caranya : a. Dengan menggunakan penggaris dibuat garis vertikal sedemikian rupa sehingga jarak antara garis horizontal terbawah (0%) ke garis gradasi F1 sama dengan jarak antara garis horizontal teratas (100%) ke garis gradasi F2. Garis vertikal ini kemudian dipotongkan dengan Titik perpotongan ditarik garis diagonal pada Grafik I.

garis horizontal ke kanan sehingga memotong pembatas kanan dan menunjukkan prosentase F1 yang diukur dari atas. Misal garis ini memotong di angka 79 %, maka prosentase F1 = (100 - 79)% = 21%. b. Dengan cara yang sama untuk mendapatkan prosentase F2 dilakukan dengan membandingkan antara garis gradasi F2 dan gradasi F3. Dibuat garis vertikal sedemikian sehingga jarakantara garis horizontal

terbawah (0%) ke garis gradasi F2 sama dengan jarak antara garis horizontal teratas (100%) ke garis gradasi F3. Garis vertikal ini kemudian dipotongkan dengan Titik perpotongan ditarik garis diagonal pada Grafik I.

garis horizontal ke kanan sehingga memotong pembatas kanan dan menunjukkan prosentase F1+F2 yang diukur dari atas. Misal garis ini memotong di angka 63%, maka prosentase F1+F2 = (100 - 52)% = 48%. Dari (a) telah diperoleh F1 = 21%, maka diperoleh prosentase F2 = (48 - 21)% = 37%. 4. Selanjutnya dilakukan langkah untuk menentukan komposisi campuran dengan menggunakan Grafik II.
PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -46

a. Pada

segi

empat

yang

pertama

digunakan

untuk

mendapatkan komposisi campuran F1 dan F2. Cara yang dilakukan dengan menggambarkan Gradasi F1 pada sisi kiri (masing-masing ukuran), Gradasi agregat F2 digambarkan pada sisi kanan (masing-masing ukuran), titik pada gradasi F1 dan F2 yang mempunyai ukuran butiran yang sama saling dihubungkan, diperoleh garisgaris sesuai ukuran saringan. Digambar garis vertikal yang menggambarkan proporsi F1 dan F2 sesuai dengan hasil yang diperoleh pada Grafik I. Dari Grafik I diperoleh : F1 F2 = 21 % = 37 %

Total= 58 % komposisi thd F1+F2 : F1 = (21/58) x 100% = 36,2% F2 = (37/58) x 100% = 63,8% Dibuat garis vertikal pada F1 = 36,2% (atau F2 = 63,8%), garis vertikal ini akan berpotongan dengan garis-garis hubung sesuai ukuran saringan. merupakan titik gabungan F1+F2. b. Dari titik-titik potong ini selanjutnya ditarik garis horizontal ke kanan sampai memotong garis sisi kiri pada segi empat kedua. Pada segi empat kedua ini pada sisi kanan digambarkan gradasi F3. Titik pada gradasi F1+F2 dan F3 yang mempunyai ukuran butiran yang sama saling dihubungkan, diperoleh garis-garis sesuai ukuran saringan, pada ukuran saringan yang di F1+F2 Titik-titik potongnya

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -47

tidak dijumpai berarti dari F3 dihubungkan dengan titik 0. b. Pada garis-garis hubung tersebut, digambarkan batasbatas gradasi agregat X untuk ukuran saringan yang sama, akan diperoleh daerah dimana dipenuhi batasbatas gradasi X. spesifikasi gradasi Pada garis-garis tersebut dapat X, sehingga akan didapat ditentukan daerah (range) dimana memenuhi batasan perbandingan campuran gradasi F1+F2 dan F3 yang memenuhi gradasi X. Hasil yang diperoleh : Untuk mendapatkan gradasi X sesuai syarat dari campuran gradasi F1+F2 dan F3 diperoleh perbandingan: Gradasi F1+F2 = (49 - 67) % Gradasi F3 F1+F2 F1 F2 = (33 - 51) % Sebagai contoh diambil F3 = 40%, maka : = (100 - 40) % = 60% maka proporsi F1 dan F2 dihitung sebagai berikut : = 36,2% x 60% =21,72% diambil F1 = 21,7% = 63,8% x 60% = 38,28, diambil F2 = 38,3%

Dari hasil ini dicoba ditabulasikan menjadi :

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -48

Gambar penentuan proporsi campuran dengan menggunakan Grafik I.


#20 0 #10 0 #30 #8 #4
3

/8

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

F1=21%

F2=37%

F3=42%

20

40

60

80

100

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -49

Gambar penentuan proporsi campuran dengan menggunakan Grafik II. F1 %


100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 20 40 60 80 100 80 60 40 20 100 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 100 0 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 20 40 60 80 100 80 60

F1+F2 %
40 20 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 100 0

F2 %

F3 %

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -50

Saringa n " " 3/8" #4 #8 #30 #100 #200 F1 100 74 12 3,0 2,5 2,0 1,8 1,5

Gradasi F2 100 100 90 52 18 4,0 3,2 2,0 F3 100 100 100 100 98 55 30 15

Prosentase (%) lolos 21,7% F1 21,7 16,1 2,6 0,7 0,5 0,4 0,4 0,3 38,3% F2 38,3 38,3 34,5 19,9 6,9 1,5 1,2 0,8 40 % F3 40,0 40,0 40,0 40,0 39,2 22,0 12,0 6,0

Hasil X (%) 100,0 94,4 77,1 60,6 46,6 24,0 13,6 7,1

Grading limit (%) 100 80 - 100 70 90 55 75 40 55 20 30 10 18 4 10

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -51

JALAN TAK BERASPAL


PENDAHULUAN
Menggunakan bahan soil aggregate mixture -. Campuran batu, tanah, pasir, silt dan clay -. Dibuat dengan perbandingan dan gradasi tertentu, setelah dipadatkan menjadi lapis konstruksi yang kuat dan rapat Pertimbangan pemilihan jenis : Volume lalulintas volume lalulintas jalan yang tidak terlalu penutup besar, aspal untuk dapat sementara ditangguhkan * LHR 50 kendaraan/hari, jalan tak beraspal masih dapat memenuhi kebutuhan, karena timbulnya debu dan lepasnya material oleh kendaraan belum mengganggu dan belum butuh pemeliharaan intensif * LHR meningkat 100 kendaraan/hari, timbulnya debu dan * LHR lepasnya mencapai material 300 oleh kendaraan sudah mengganggu, sehingga butuh pemeliharaan intensif kendaraan/hari, pekerjaan pemeliharaan terlalu tinggi, shg jalan tak beraspal menjadi tidak murah, maka perlu lapisan penutup aspal dengan

1.BAHAN JALAN
Bahan jalan terdiri dari : -. batu, berfungsi untuk menerima dan meneruskan beban yang diterima,

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -52

-. pasir, bersama dengan silt sebagai bahan poengisi, dan -. tanah yang menggandung clay dan silt, utamanya clay (lempung) sebgai bahan ikat Setelah dicampur, kemudian dipadatkan sehingga dapat menampung arus lalulintas dan tahan cuaca Syarat batuan yang digunakan sebagai bahan : 1) keras dan kuat, 2) bentuk butiran cubical, tajam dan kasr permukaannya, 3) gradasi batuan rapat (dense graded), ukuran butiran maksimum 2 cm; jika lebih besar maka sulit diperoleh permukaan yang rata dan sulit pemeliharaannya Campuran bahan dapat diperoleh : 1) langsung dari alam, atau 2) mencampur bahan dari beberapa tempat ---- dapat diusahakan penggunaan material setempat, --menurunkan biaya pelaksanaan --- jalan murah Gradasi batuan : Ayakan No. 1" 3/8" #4 # 10 # 40 # 200 Prosentase lolos (%) 100 50 85 35 65 25 50 15 30 5 - 15 100 60 100 50 85 40 70 25 45 5 20

2.

LAPIS PERMUKAAN JALAN

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -53

Bagian-bagian penampang jalan tidak beraspal hampir sama dengan jalan beraspal. Lapis permukaan dapat dibuat dari bahan yang berbeda-beda, dikenal: a. Jalan murah lapis permukaan dari tanah setempat yang kadang-kadang bercampur dengan kerikil atau batu pecah b. Jalan macadam basah bahan lapis permukaan : batu pecah ukuran 2 - 5 cm, dan batu pengunci ukuran 1 - 1 cm, dan bahan ikat dari tanah liat c. Jalan kerikil lapis permukaan dengan kerikil, ukuran butiran maksimum 2 cm; kerikil dicampur dengan pasir (bahan pengisi) dan tanah liat (bahan ikat)

3. BAHU JALAN DAN SELOKAN


a. Bahu jalan untuk jalan tidak beraspal fungsi bahau jalan a.l. untuk menahan lapis keras, pada jalan tak beraspal bahan bahu jalan dari tanah dan ditanami rumput Kemiringan jalan tak beraspal > dari kemiringan jalan beraspal (untuk lebih mempercepat mengalirnya air) yaiut 4 %, dan kemiringan bahu jalannya 6 %; lebar bahu jalan 1 - 1 m (karena vol. lalulintas rendah dan untuk mempercepat air masuk selokan). b. Selokan Jalan tak beraspal sangat peka air --- perlu cepat disalurkan keluar dengan selokan samping; selokan harus cukup

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -54

sehinggaair yang masuk akan selalu di bawah lapis pondasi (shg tidak merembes ke lapis permukaan dan merusakkan)

4. KERUSAKAN PADA JALAN TAK BERASPAL


Bahan ikat dari tanah liat, sehingga sifat-sifatnya sangat dipengaruhi oleh air sehingga cukup peka thd air. Jenis-jenis kerusakan yang biasa timbul : a. Pengausan bertambahnya air --- daya ikat berkurang dan melemahkan ikatan antara batuan; roda kendaraan yang lewat akan mengikis lapis permukaan dan batu-batu akan lepas --jalan tidak rata dan tidak nyaman b. Bergelombang penyebab : berkumpulnya butiran-butiran kecil membentuk gundukan dan diantara gundukan nampak butiran kasar karena ikat yang lemah, butiran kecil akan lepas dan berkumpul dalam gundukan c. Alur dan cekungan air melemahkan daya dukung perkerasan. Akibat beban roda permukaan akan turun, karena jalan sempit jejeak roda akan berada pada tempat yang sama maka terjadi alur dan cekungan --- permukaan tidak rata d. Lubang terjadi karena batu yang ikatannya lemah akan lepas dan terjadi lubang, jika dibiarkan akan bertambah dan lebar e. Erosi permukaan dan bahu jalan

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -55

pada daerah landai besar (tanjakan & turunan) --- air mengalir dengan arah yang hampir sama --- pada daerah landai terkumpul dan cepat --- erosi f. Tanah dasar menjadi lembek Air dapat menembus ke tanah dasar (karena jalan tidak rata, air hujan menggenang dan menembus ke badan jalan), disebabkan : -. air tanah cukup tinggi, tanpa selokan samping yang dalam --- akan merembes ke tanah dasar -. air dari selokan merembes ke tanah dasar (selokan tidak dapat mengalirkan air dengan baiak)

5. PEKERJAAN PEMELIHARAAN
Usaha yang penting : mengusahakan agar air dapat segera mengalir keluar badan jalan a. mengusahan agar selokan berfungsi baik b. mengusahakan permukaan jalan tetap rata dan baik, dengan menutup lubang-lubang yang timbul dan menjaga kemiringan permukaan c. merawat bahu jalan dengan kemiringan 6 %, dengan membuang tumpukan tanah yang ada di bahu jalan dan jika bahu jalan lebih tinggi dibuat alur-alur yang memotong bahu jalan d. pada bagian jalan dengan landai > 7 % dengan panjang > 100 m, sebaiknya diberi lapis aspal (untuk memberikan ikatan yang baik pada musim hujan)

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -56

KADAR ASPAL DALAM CAMPURAN ASPAL DAN AGREGAT


PENDAHULUAN
Aspal sbg bahan ikat pada campuran aspal dan agregat. Perkerasan : -. terbuka di alam -. langsung dipengaruhi perubahan cuaca Kadar aspal : -. lebih rendah dari optimal, maka ikatan yang timbul kurang sempurna -. berlebihan, memberikan ikatan yang baik tetapi pada suhu tinggi kelebihan aspal berakibat tidak baik ---- perlu ditentukan kadar aspal yang tepat. Metode penentuan kadar aspal : 1. Metode Ruang Kosong 2. Metode Luas Permukaan 3. Percobaan Laboratorium -. Percobaan Marshall -. Percobaan Hveem 1. METODE RUANG KOSONG Pada pelaksanaan pemadatan, untuk mendapatkan kepadatan maximum secara teoritis adalah sukar, sehingga masih dimungkinkan adanya ruang kosong diantara butir tersebut. Dalam campuran antara batu dengan aspal, diisyaratkan setelah dipadatkan harus masih mempunyai ruang kosong

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -57

(voids) antara 2-7%. Persyaratan adanya ruang kosong ini dimaksudkan bilamana : -. aspal mengembang jika suhu bertambah tinggi. -. campuran batu dan aspal menjadi lebih mampat karena tekanan roda yang lewat diatasnya. Prosentase Voids (V) ditentukan dengan persamaan :
V = 100

untuk

memberikan

persediaan

ruangan

(D d)
D

= 100 * ((Gmm-Gmb)/Gmm)

= 100*(1-(Gmb/Gmm)) -------------------------- VIM dengan : V = Prosentase Voids d = berat volume campuran aspal, setelah dipadatkan --density D = berat volume maximum secara teoritis dari campuran aspal (tanpa adanya ruang kosong). Berat Volume maximum (D) ditentukan dengan persamaan :
D= 100 Wa Wb + Ga Gb

Wa = Wb = Ga= Gb=

prosentase berat bahan butiran prosentase berat bahan ikat (aspal) berat jenis butiran berat jenis bahan ikat (aspal)

Sehingga prosentase voids (V) didapat :


V = 100

(D d)
D

d = 100 1 D

Wa Wb + Gb 1 d Ga V = 100 100

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -58

Wa Wb V = 100 d + Ga Gb

Jika bahan butiran terdiri atas campuran dari beberapa fraksi yaitu kasar, halus dan pengisi dengan : - Prosentase berat masing-masing butiran = Wa1, Wa2, Wa3 - berat jenis masing-masing butiran Maka persamaan D menjadi :
D= 100 Wa1 Wa2 Wa3 Wb Ga + Ga + Ga + Gb 2 3 1

= Ga1, Ga2, Ga3

Dan persamaan (V) menjadi :


Wa1 Wa2 Wa3 Wb V = 100 d Ga + Ga + Ga + Gb 2 3 1

Jadi ruang kosong yang akan diisi dengan aspal dapat dihitung dengan: Ruang kosong untuk aspal = Berat volume campuran setelah dipadatkan - jumlah volume butiran. Ruang kosong yang tersisa = 2 - 7 %. Dengan demikian kadar aspal adalah volume campuran dikurangi jumlah volume butiran dan ruang kosong yang tersisa (2-7)%. Contoh : Berat volume campuran setelah dipadatkan - 2,22kg/dm 3 Butiran terdiri atas 3 fraksi dengan perbandingan 50%,40% dan 10%, berat jenis masing-masing 2,9; 2,6; dan 2,9. Berat jenis aspal 0,98. Berapa besar volume aspal ? Volume masing-masing fraksi agregat:

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -59

Volume fraksi I = 0,50 (2,22/2,9) = Volume fraksi II = Volume fraksi III =

0,38276 dm3 0,34154 dm3 0,07655 dm3 0,80085 dm3

0,40 (2,22/2,6) = 0,10 (2,22/2,9) =

Jumlah volume butiran

Dalam hal ini berarti dalam 1 dm 3 dari campuran batu tersebut jika dipadatkan secara sempurna (tidak ada ruang kosong), hanya akan mengisi ruangan sebesar 0,80085 dm3. Ruang kosong = (1-0,80085) dm3 = 0,19915 =
0,19915 100 % 1

dm3 = 19,915%

Ruang kosong yang tersisa diambil = 4 % Prosentase aspal yang diperlukan dalam 1 dm3 campuran = 19,915 - 4 = 15,915%. Cara mengukur jumlah aspal dalam % volume ini adalah tidak praktis. Cara yang lazim adalah dinyatakan terhadap % seluruh campuran (batu+aspal). Sehingga : - aspal 15,915% = 0,15915 dm3. - berat jenis - berat aspal = 0,98 = 0,98 x 0,15915 =
0,1559 100 % 0,1559+ 2,22

= 0,1559 kg. = 6,56%

Dari contoh perhitungan diatas nampak bahwa cara ini adalah cukup sederhana dan cocok untuk bahan batuan yang mempunyai gradasi rapat.

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -60

2. METODE LUAS PERMUKAAN.


Metode ini mendasarkan pada : bahwa hampir seluruh jumlah aspal akan dugunakan untuk menyelubungi luar permukaan yang sebenarnya dari butiran bahan. Jadi bahan butiran bahan harus diselubungi aspal seluruhnya agar pengaspalan itu berhasil baik. Cara ini memerlukan percobaan empiris mengenai hubungan antara gradasi bahan butiran, bentuk susunan permukaan dengan jumlah aspal yang diperlukan untuk menyelubungi permukaan tiap-tiap butiran. Data yang diperlukan : a. pembagian besarnya butiran b. data, hubungan antara pembagian besarnya butiran dengan luas permukaan butiran c. macam aspal yang dipakai. d. data, hubungan antara luas permukaan dengan jumlah aspal yang diperlukan e. berat jenis butiran Prosentase aspal Ditentukan berdasarkan persamaan berikut : P=SxKxT dengan : P = prosentase aspal yang diperlukan. T = prosentase aspal yang diperlukan untuk menyelubungi seluruh luas permukaan butiran. Besarnya dipengaruhi oleh jenis aspal yang digunakan dan nilai T dapat

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -61

diperoleh pada tabel hasil pengamatan secara empiris pada bahan batuan dengan berat jenis 2,65. K = Faktor koreksi, karena kekasaran permukaan. Luas permukaan butiran masih dipengaruhi oleh : - bentuk butir (tidak teratur) - ada tidaknya kotoran pada permukaan butiran. S = faktor koreksi, karena berat jenis bahan butiran berbeda (

) dengan berat jenis pada penentuan T


S = 2,65/

Besarnya

Penggunaan : Untuk lapisan permukaan diisyaratkan agar masih ada ruang kosong (voids) : 3 - 5% Untuk mencegah kehilangan stabilitas pada campuran karena jumlah aspal yang ada mungkin kelebihan, maka hasil perhitungan ai atas perlu dikoreksi, yaitu dikurangi sebesar : 0,5 %, untuk campuran aspal dan pasir 0,4 %, untuk campuran aspal beton dengan gradasi rapat. 0,3 %, untuk campuran aspal beton dengan gradasi terbuka.

3. PERCOBAAN LABORATORIUM
PERCOBAAN MARSHALL Tujuan Percobaan : melakukan Kualitas meliputi :
PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -62

pengamatan/pengetesan disebut sebagai

terhadap

kualitas

campuran aspal dan batuan campuran Marshall Properties

1. Stabilitas 2. Kelelehan (flow) 3. Rongga dalam campuran (VIM : void in mix) 4. Rongga terisi aspal (VFWA : void filled with asphalt) Dari harga-harga lalu dibandingkan dengan spesifikasi yang telah ditentukan, maka kadar aspal optimum dapat dicari secara grafis. Stabilitas: kemampuan suatu perkerasan menahan beban lalulintas tanpa terjadi deformasi/perubahan bentuk. Besarnya stabilitas dipengaruhi oleh kohesi dan gaya gesek (friction). Gaya gesek tergantung tekstur permukaan, gradasi agregat, bentuk batuan, kerapatan campuran, dan kuantitas aspal. Kohesi dipengaruhi faktor-faktor sifat rheologi, gradasi agregat, kepadatan, adesi antara aspal dan batuan. Kelelehan (flow) Besarnya perubahan bentuk atau deformasi yang berupa penurunan contoh yang diukur dalam mm pada beban maksimum. Flow rendah, maka campuran cenderung menjadi getas; jika flow tinggi campuran cenderung plastis (apalagi bila stabilitas rendah). VIM (void in mix): prosentase rongga terhadap volume total campuran setelah dipadatkan. VFWA (void filled with asphalt): prosentase rongga dalam campuran yang terisi aspal

PPI-Bahan Jalan (ed: 2002) -63