Anda di halaman 1dari 6

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HALUSINASI a.

Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis untuk mengumpulkan data, menganalisa dan menentukan diagnosa keperawatan (Depkes RI, 1981) Prilaku klien yang mengalami halusinasi sangan tergantung pada jenis halusinasinya, apakah halusinasinya merupakan halusinasi pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecap, peraba, kinestetik atau chanesthetik. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda-tanda dan perilaku halusinasi, maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak sekedar mengetahui jenis halusinasinya saja, validasi informasi tentang halusinasinya sangat diperlukan meliputi : 1. Isi halusinasi yang dialami klien Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, berkata apabila halusinasi yang dialami adalah halusinasi dengan atau bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, bila halusinasinya adalah halusinasi penglihatan, bau apa yang tercium untuk halusinasi bau atau hirup, rasa apa yang dikecap, untuk halusinasi pengecapan, atau merasakan apa yang dipermukaan tubuh bila halusinasi perabaan. 2. Waktu dan frekuensi halusinasi Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Bila memungkinkan klien diminta menjelaskan kapan persisnya waktu terjadi halusinasi tersebut. Informasi ini penting untuk mengidentifikasikan pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu diperhatikan saat mengalami halusinasi. 3. Situasi pencetus halusinasi Perawat perlu menidentifikasi situasi yang di alami klien sebelum mengalami halusinasi. Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kejadian yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga dapat mengobservasi apa yang dialami klien menjelang muncul halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien. 4. Respon klien Adapun data yang didapat pada klien dengan perubahan persepsi sensori antara lain : Data subyektif

Menyatakan mendengar suara-suara dan melihat sesuatu yang tidak nyata, tidak percaya terhadap lingkungan, sulit tidur, tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi, merasa berdosa, menyesal dan bingung terhadap halusinasinya, perasaan tidak aman, merasa cemas, takut dan kadang-kadang panic, kebingungan. Data obyektif

Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata, pembicaraan kacau kadang tidak

masuk akal, sulit membuat keputusan, tidak perhatian terhadap perawatan dirinya, sering menyangkal dirinya sakit atau kurang menyadari adanya masalah, ekpresi wajah sedih, ketakutan atau gembira, klien tampak gelisah, insight kurang, tidak minat untuk makan. Dari data tersebut diatas, kemudian didapat rumusan masalah sehingga ditemukan diagnose keperawatan. b. Diagnose keperawatan Harga Diri Rendah Kerusakan Interaksi social Gangguan Persepsi Sensori (Halusinasi) Risiko Mencederai Diri Sendiri dan Orang Lain (PK) Defisit perawatan diri

c. Perencanaan 1. Perubahan sensori (a) TUM: klien tidak mengalami perubahan persepsi sensori (b) TUK (1) Klien dapat membina hubungan saling percaya untuk mengendalikan emosinya. Rasional: hubungan saling percaya dapat mempererat hubungan dan menjadi dasar interaksi klien dengan perawat. Tindakan Keperawatan (a) Bina hubungan saling percaya Rasional : meningkatkan kepercayaan klien kepada perawat atau orang lain (b) Ciptakan lingkungan yang hangat Rasional : untuk menciptakan rasa kebersamaan (c) Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : agar klien bias menceritakan masalahnya dengan terbuka. (2) Klien dapat mengenal halusinasinya (a) Adakan kontak sering dan singkat Rasional : untuk menghindari rasa jenuh klien dengan perawat (b) Observasi perilaku (verbal dan non verbal ) yang berhubungan dengan halusinasi Rasional : mencegah klien hanyut dalam halusinasinya (c) Bantu klien mengenal halusinasinya Rasional : membantu klien mengenal halusinasinya (d) Identifikasi dengan klien tentang waktu munculnya halusinasi dan frekuensi timbulnya halusinasi Rasional : membantu klien mengidentifikasi halusinasi (e) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya ketika muncuk halusinasi Rasional : untuk mengetahui perasaan klien ketika halusinasi muncul

(f) Diskusikan dengan klien tentang perasaannya saat terjadi halusinasi Rasional : untuk mengetahui perasaan klien saat terjadi halusinasi (3) Klien dapat mengenadalikan halusinasinya Tindakan keperawatan (a) Identifikasi bersama klien tindakan yang biasa dilakukan bila bayangan dan suara-suara tersebut ada Rasional : untuk mengetahui kemampuan klien menghadapi halusinasinya (b) Beri penguatan dan pujian terhadap tindakan klien yang positif Rasional : pujian akan mendorong klien untuk melakukan tindakan (c) Bersama klien merencanakan kegiatan untuk mencegah terjadinya halusinasi Rasional : agar dapat mencegah timbulnya halusinasi (d) Diskusikanlah cara mencegah timbulnya halusinasi Rasional : membantu klien mengendalikan halusinasinya sehingga tidak terjadi perilaku kekerasan (e) Dorong klien untuk memilih cara yang akan digunakan dalam menghadapi halusinasi Rasional : memotivasi klien untuk melakukan aktivitas dalam menghadapi halusinasinya (f) Beri penguatan dan pujian terhadap pilihan klien yang benar Rasional : pujian akan mendorong klien dalam melakukan kegiatan (g) Dorong klien untuk melakuka tindakan sesuai dengan cara yang telah dipilih dalam menghadapi halusinasinya Rasional : memberikan kesempatan pada klien untuk mencoba melakukan kegiatan yang dipilih dengan menghadapi halusinasinya (h) Libatkan klien dalam kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Rasional : dengan TAK akan membantu klien mengontrol halusinasinya. (i) Beri penguat atas upaya yang berhasil dan beri jalan keluar upaya yang belum berhasil Rasional : pujian akan mendorong klian melakukan kegiatan (4) Klien dapat dukungan untuk mengendalikan halusinasinya Tindakan keperawatan (a) Bina hubungan saling percaya dengan keluarga Rasional : meningkatkan kepercayaan keluarga dengan perawat atau orang lain (b) Kaji pengetahuan keluarga tentang halusinasi dan tindakan yang dilakukan dalam merawat klien Rasional : menambah pengetahuan keluarga untuk merawat kliean (c) Beri penguatat dan pujian terhadap tindakan yang positif Rasional : pujian akan mendorong keluarga melakukan kegiatannya (d) Diskusikan dengan keluarga tentang halusinasi, tanda dan cara merawat klien di rumah Rasional : membantu keluarga mengenal halusinasi klien (e) Anjurkan keluarga mendemontrasikan cara merawat klien di rumah Rasional : untuk mengetahui pengetahuan keluarga keluarga tentang cara merawat klien

(f) Beri penguat dab oujian terhadap tindakan yang tepat Rasional : pujian akan mendorong keluarga untuk merawat klien (5) Klien dapat menggunakan obat untuk mengendalikan halusinasinya (a) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat untuk mengendalikan halusinasi Rasional : membantu klien agar mau minum obat (b) Bantu klien untuk pastikan bahwa klien minum obat sesuai dengan program dokter Rasional : membantu penyembuhan klien dengan minum obat (c) Observasi tanda dan gejala terkait dengan halusinasi dan efek samping obat Rasional : mengobservasi keefektifan obat (d) Diskusikan dengan dokter tentang efek samping obat Rasional : keluarga dank lien memahami efek samping obat d. Pelaksanaan Merupakan tahap pelaksana rencana tindakan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal. Dalam pelaksanaann disesuaikan dengan rencana keperawatan dan kondisi klien e. Evaluasi Evaluasi yang ingin dicapai diantaranya : 1) klien dapat membina hubungan saling percaya 2) klien mengenal halusinasinya 3) klien dapat mengontrol halusinasinya 4) klien mulai dan mempertahankan hubungan dengan orang lain 5) klien mengerjakan aktifitassehari-hari dan aktifitas yang disenangi 6) klien dapat berinteraksi di dalam kelompok

Daftar Pustaka

Keliat , Budi Anna. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa . EGC. Jakarta.

Stuart dan sundeen . 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa . Edisi 3. EGC.Jakarta .

Townsend . 1995. Nursing Diagnosis In Psychiatric Nursing a Pocket Guide For Care Plan Construction . Edisi 3 . EGC. Jakarta.

SEIZURE DAN EPILEPSI DISORDER


Didefinisikan dearangement paroximal transient dari system saraf yang menimbulkan pelepasan listrik abnormal dari neuron. Manifestasi epilepsy episode kehilangan kesadaran partial atau complit, pergerakan involuntary motor baik local atau menyeluruh, gangguan sensory, atau gejala autonomic

CLASIFICASI INTERNASIONAL GERAKAN EPILEPSI TRADISIONAL TERMINOLOGI I. Fokal motor; jacksonian seizure (kadang 1. kala menjadi secondarily generalized ) 2. 3. 4. NEW NOMENCLATUR Partial seizure ( pergerakan awal local ) Simple Dengan gejala motor Dengan gejala khusus sensory dan somatosensory Dengan gejala autonomic Dengan gejala fisik

B. Complex (dengan kerusakan kesadaran) Temporal lobe atau psychomotor seizure 1. Serangan Simple partial di ikuti dengan kerusakan kesadaran dengan atau tidak dengan automatism 2. Serangan timbulnya disertai kerusakan kesadaran dengan atau tidak dengan automatism C. Secondarily generalized ( timbulnya serangan evolving ke gerakan tonic-clonic umum

II.

Generalized seizure ( bilateral symmetric tanpa serangan local )

Petit mal Minor motor Limited grand mal Grand mal Drop attack

A.

Absence, Myoclonic seizure, Clonic seizure, Tonic seizure, Tonic-clonic seizure, Atonic seizure

G.

Infantile spasm, Unclassified seizure ( Karena

data tak lengkap ), Status epilepticus ( masa pulih yang lama partial dan general diantara serangan