Anda di halaman 1dari 4

Aldora Oktaviana / 1102011019 SKENARIO 2 LO 1 Memahami dan Menjelaskan tentang Campak 1.

1 Definisi Campak merupakan penyakit infeksi, akut, jinak, dan sangat menular yang disebabkan oleh togavirus dari genus Rubivirus, paling sering menyerang anak-anak serta dewasa muda yang tidak kebal . 1.2 Etiologi Virus campak adalah virus RNA yang dikenal hanya mempunyai 1 antigen. Struktur virus ini mirip dengan virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza. Setelah timbulnya ruam kulit, virus aktif dapat ditemukan pada secret nasofaring, darah, dan air kencing dalam waktu sekitar 34 jam pada suhu kamar. Virus campak dapat bertahan selama beberapa hari pada temperature 0 0C dan selama 15 minggu pada sediaan beku. Di luar tubuh manusia virus ini sudah mati. Pada suhu kamar sekalipun, virus ini akan kehilangan infektivitasnya sekitar 60% selama 3-5 hari. Virus campak mudah hancur oleh sinar ultraviolet. 1.3 Epidemiologi Campak merupakan penyakit endemic di banyak Negara terutama di Negara berkembang. Angka kesakitan di seluruh dunia mencapai 5-10 kasus per 10.000 dengan jumlah kematian 1-3 kasus per 1000 orang. Campak masih ditemukan di Negara maju. Di Indonesia, campak masih menempati urutan ke 5 dari 10 penyakit utama pada bayi dan anak balita (1-4 tahun) berdasarkan laporan SKRT tahun 1985/1986. Angka kesakitan campak di Indonesia tercatat 30.000 kasus per tahun yang dilaporkan, meskipun kenyataannya hamper semua anak setelah usia balita pernah terserang campak. Sebelum penggunaan vaksin campak, penyakit ini biasanya menyerang anak yang berusia 5-10 tahun. Setelah masa imunisasi, campak sering menyerang anak usia remaja dan orang dewasa muda yang tidak mendapat vaksinasi sewaktu kecil, atau mereka yang diimunisasi pada saat usianya lebih dari 15 bulan. Penelitian di rumah sakit selama tahun 1984-1988 melaporkan bahwa campak paling banyak terjadi pada usia balita, dengan kelompok tertinggi pada usia 2 tahun (20,3%), diikuti oleh bayi (17,6%), anak usia 1 tahun (15,2%), usia 3 tahun (12,3%), dan usia 4 tahun (8,2%). 1.4 Patogenesis Virus rubella mula-mula menginfeksi saluran nafas atas, lalu menyebar ke kelenjar getah bening local, terjadi limfadenopati. Kemudian terjadi viremia, virus menyebar ke seluruh tubuh dan terjadi infeksi jaringan lain, terjadi rash ringan. Gejala prodromal ini berlangsung sekitar 2 minggu. Selama masa prodromal sampai 2 minggu setelah rash timbul, penderita masih dapat menyebarkan virus melalui percikan secret pernafasan.

1.5 Manifestasi klinik Infeksi rubella pada masa anak-anak atau dewasa biasanya ringan, dan banyak infeksi bersifat subklinis. Gejala rubella dapat berupa rash makulopapular, limfadenopati, demam ringan, konjungtivitis, serak dan nyeri sendi (artralgia). Rash adalah gejala menonjol dan dijumpai pada 95% kasus. Biasanya gejala klinis menghilang dalam beberapa hari,tetapi pada orang dewasa kadang-kadang dapat terjadi gejala yang lebih berat seperti artropati, trombositopenia atau enselopati. Poliartralgia dan radang sendi akut cukup banyak terjadi setelah infeksi rubella, yaitu dari kasus klinis dapat mencapai 52% pada wanita dewasa dan 9% pada pria dewasa. Gejala pada wanita biasanya lebih berat. Gejala ini biasanya menghilang dalam beberapa minggu, meskipun kadang-kadang dapat bertahan selama beberap atahun. Gejala artropati dapat pula timbul setelah vaksinasi dengan frekuensi lebih rendah. Meskipun turunnya jumlah trombosit sering terjadi pada kasus rubella, gejala berupa purpura trombositopenia juga dapat terjadi pada saat rash tidak dijumpai. Keadaan ini dapat sembuh sendiri. 1.6 Diagnosis dan pemeriksaan penunjang Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium berupa isolasi virus dan pemeriksaan serologi. Untuk diagnosis pasti rubella bawaan, selain gejala klinis, juga diperlukan : a) isolasi virus rubella, b) adanya IgM spesifik virus rubella di darah umbilicus atau serum, c) terdapat IgG spesifik virus rubella di serum bayi dalam kadar tinggi yang menetap dan lebih tinggi daripada bila IgG hanya berasal dari ibunya. Bila tidak ada hasil laboratorium, diagnosis rubella bawaan didasari atas adanya dua gejala berupa : katarak dan/atau glaucoma bawaan, penyakit jantung bawaan, tuli. Jika hanya ada satu gejala dari gejala-gejala di atas, maka cukup salah satu dari gejala tadi ditambah dengan purpura, kuning, mikrosefali, mental terbelakang, meningoensefalitis. Untuk mengenali kehamilan dengan risiko infeksi rubella, penitng diketahui status kekebalan ibu selama hamil. Ibu yang seronegatif perlu diawasi selama kehamilan muda dan setelah bayi lahir imunisasi ibu perlu dipertimbangkan. Bila pada saat kehamilan ibu seronegatif menderita gejalagejala yang menyerupai rubella, perlu dinilai risiko fetus terhadap rubella dengan cara isolasi virus rubella dari ibu, pemeriksaan IgM, dan penentuan tahap kehamilan. Sedikit IgM dapat ditemukan di serum fetus pada 15 minggu kehamilan, tetapi baru setelah 21 minggu, pada saat darah umbilikalis fetus dapat diambil, dapat diketahui apakah fetus terinfeksi rubella atau tidak. Perlu diingat bahwa adanya IgM atau IgA spesifik virus rubella di serum fetus hanya memastikan adanya infeksi intrauterine, dan tidak selalu berarti adanya kerusakan fetus. Sebaliknya dapat terjadi pula bayi lahir dengan sindrom rubella bawaan tanpa didahului dengan ditemukannya IgM spesifik virus di darah umbilicus. Diagnosis antenatal rubella bawaan dapat pula dilakukan dengan isolai virus dari cairan amnion. Selain itu, mungkin pula diterapkan teknik hibridasi asam nukleat pada biopsy villus korion. Isolasi virus relatif mahal dan sulit, karena itu hanya dilakukan pda keadaan tertentu, misalnya pada rubella bawaan atau pada kasus komplikasi tertentu dengan kecurigaan adanya rubella. Virus diisolasi dan dideteksi melalui interferensinya terhadap replikasi virus ECHO 11 di biakan primer sel ginjal kera hijau Afrika. Untuk pemastian virus rubella dilakukan reaksi netralisasi dengan anti serum atau imunofluoresensi. Pada rubella didapat, virus termudah diisolasi dari hapusan faring atau nasofaring 6 hari sebelum dan setelah timbulnya rash. Specimen harus segera dikirim ke

laboratorium dalam larutan garam faal yang mengandung 1% albumin sapid an antibiotic dan didinginkan dengan es, atau dikirim beku dalam es kering. Pada rubella bawaan virus diisolasi dari secret nasofaring, tinja, dan urin selama masa neonatal. Setelah masa itu, virus lebih mudah didapat di tenggorokan dan cairan serebrospinal. Pada 30% kasus rubella bawaan dengan kelainan syaraf, virus dapat diisolasi dari cairan serebrospinalnya. Serologi adalah alat diagnosis utama bagi infeksi rubella didapat maupun bawaan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah tes fiksasi komplemen, hambatan hemaglutinasi, netralisasi, imunofluoresensi, ELISA, tes agltunasi pasif dan radioimmunoassay. Pemastian infeksi rubella didapat dari kenaikan titer antibody lebih dari empat kali pada serum akutdan serum konvalesen atau adanya aktivitas IgM. IgM biasanya ditemukan pada saat infeksi aktif dan amat jarang ditemukan 5-10 minggu setelah gejala mereda. Dengan tes yang amat sensitive, IgM mungkin ditemukan sampai setahun setelah infeksi. 1.7 Tata laksana a. Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari : 1. Pemberian cairan yang cukup 2. Kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi 3. Suplemen nutrisi 4. Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder 5. Anti konvulsi apabila terjadi kejang 6. Pemberian vitamin A. b. Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 390C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi. c. Campak tanpa komplikasi : 1. Hindari penularan 2. Tirah baring di tempat tidur 3. Vitamin A 100.000 IU, apabila disetai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari 4. Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi d. Campak dengan komplikasi : 1. Ensefalopati/ensefalitis a. Antibiotika bila diperlukan, antivirus dan lainya sesuai dengan PDT ensefalitis b. Kortikosteroid, bila diperlukan sesuai dengan PDT ensefalitis c. Kebutuhan jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit 2. Bronkopneumonia : a. Antibiotika sesuai dengan PDT pneumonia b. Oksigen nasal atau dengan masker c. Koreksi gangguan keseimbangan asam-basa, gas darah dan elektrolit 3. Enteritis : koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi

4. Pada kasus campak dengan komplikasi bronkhopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau terhadap adanya infeksi TB laten. Pantau gejala klinis serta lakukan uji Tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan. 5. Pantau keadaan gizi untuk gizi kurang/buruk. 1.8 Komplikasi Dehidrasi Otitis media Laringotrakeobronkitis (croup) Bronkopneumonia Ensefalitis akut, Reaktifasi tuberkulosis Malnutrisi pasca serangan campak Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), suatu proses degeneratif susunan syaraf pusat dengan gejala karakteristik terjadi deteriorisasi tingkah laku dan intelektual, diikuti kejang. Disebabkan oleh infeksi virus yang menetap, timbul beberapa tahun setelah infeksi merupakan salah satu komplikasi campak onset lambat. 1.9 Prognosis Bayi dengan sindroma rubella spectrum komplit mempunyai prognosis yang buruk, terutama bila penyakit terus memburuk selama masa bayi. Prognosis jelas lebih baik pada penderita yang hanya mempunyai sedikit stigmata sindroma, kemungkinan pada mereka terinfeksi pada akhir kehamilan. 1.10 Pencegahan Imunisasi campak yang diberikan pada bayi berusia 9 bulan merupakan pencegahan yang paling efektif. Vaksin campak berasal dari virus hidup yang dilemahkan. Vaksin diberikan dengan cara subkutan dalam atau intramuscular dengan dosis 0,5 cc. pemberian imunisasi campak satu kali akan memberikan kekebalan selama 14 bulan, sedangkan untuk mengendalikan penyakit diperlukan cakupan imunisasi paling sedikit 80% per wilayah secara merata selama bertahuntahun. Daftar Pustaka 1. Parwati SB. Campak dalam perspektif perkembangan imunisasi dan diagnosis. Pediatri pencegahan mutakhir I, CE IKA Unair, 2000 : 73-92. 2. Staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran (2012). Edisi revisi. Binarupa Aksara : Tangerang.