Anda di halaman 1dari 4

2.1 Ekosistem Pantai Daerah pantai merupakan daerah perbatasan antara ekosistem laut dan ekosistem darat.

Karena hempasan gelombang dan hembusan angin maka pasir dari pantai membentuk gundukan ke arah darat. Setelah gundukan pasir itu biasanya terdapat hutan yang dinamakan hutan pantai. Tumbahan pada hutan pantai cukup beragam. Tumbuhan tersebut bergerombol membentuk unit-unit tertentu sesuai dengan habitatnya. Suatu unit vegetasi yang terbentuk karena habitatnya disebut formasi. Setiap formasi diberi nama sesuai dengan spesies tumbuhan yang paling dominan. Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai dapat dibedakan menjadi 2, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia. 1. Formasi Pres-Caprae Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius(pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens(babakoan). 2. Formasi Baringtonia Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (waru laut), Terminalia catapa(ketapang).

Di daerah pasang surut sendiri dapat terbentak hutan, yaitu hutan bakau. Hutan bakau biasanya sangat sukar ditempuh manusia karena banyaknya akar dan dasarnya terdiri atas lumpur. 2.2 Biota pada ekosistem pantai berpasir Pada pantai berpasir terdapat zona-zona berbeda tempat biota hidup, yaitu : a. Zona Supralittoral / zona Supratidal supralittoral atau disebut juga sebagai zona supratidal, adalah area yang berada diatas batas pasang, secara reguler terkena atau terciprat oleh air laut, namun tidak tenggelam dalam air. Air laut hanya menggenangi wilayah ini pada saat pasang tinggi pada saat badai. Zone ini dibagi dengan melihat kondisi alamiah pantai tersebut, yang mana diawali oleh tumbuhnya beberapa vegetasi pantai berlumpur dan badan pasir. StormDriven di daerah supratidal ikut serta di dalam mensuplai sedimen sehingga menciptakan lapisan sedimen hanya dalam beberapa jam. Lapisan ini yang terbentuk

akibat badai akan terjadi pengkayaan karbon oleh ganggang organik, yang berkembang biak saat terjadi badai. Pada bagian lain dari daerah supralittoral dominasi ganggang hijau biru berfilamen menjerat dan mengikat sedimen berbutir halus lewat alga yang ada di daerah subtidal. Pengikatan sedimen oleh alga di daerah subtidal sehingga terjadi penumpukan sedimen di muara sungai, disamping itupula banyaknya sedimen diakibatkan oleh banjir. Dominasi pasang surut, mengakibatkan pelumpuran sehingga pada waktu penggenangan akan terbentuk beting-beting lumpur sedangkan pada saat surut akan mengalami pengeringan. Organisme yang hidup di zona supralittoral harus menghadapi kondisi tertentu, seperti terekspos dengan udara, air tawar dari hujan, hawa panas dan dingin, serta predasi dari hewan darat dan burung laut. Bagian atas dari supralittoral biasa dihuni oleh dark lichen yang terlihat sebagai kerak pada batuan. Beberapa Scylla olivacea, Scylla serratadan Scylla paramamosain, Scylla olivacea. Beberapa Neritidae dan Isopod yang memakan detritus menghuni supralittoral bagian bawah. b.Zona Eulittorial / Intertidal Zona Eulitorrial, biasa disebut sebagai zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah. Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter. Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah / wetlands. Organisme yang terdapat pada zona intertidal ini telah beradaptasi terhadap lingkungan yang ekstrem. Pasokan air secara reguler tercukupi dari pasang-surut air laut, namun air yang didapat bervariasi dari air salin dari laut, air tawar dari hujan, hingga garam kering yang tertinggal dari inundasi pasang surut, membuat biota yang berada di zona ini harus beradaptasi dengan kondisi salinitas yang variatif. Suhu di zona intertidal bervariasi, dari suhu yang panas menyengat saat wilayah terekspos sinar matahari langsung, hingga suhu yang amat rendah saat iklim dingin. Zona intertidal memiliki kekayaan nutrien yang tinggi dari laut yang dibawa oleh ombak. Lingkungan ekologis yang terlihat di zona intertidal adalah lingkungan ekosistem mangrove yang didominasi oleh vegetasi mangrove. Vegetasi mangrove memiliki tingkat adaptasi yang sangat tinggi terhadap keadaan yang ekstrim di wilayah intertidal. Biota yang berada di zona intertidal memiliki mekanisme adaptasi khusus yang memungkinkan mereka untuk hidup. Contohnya siput Littorina yang akan terus berada dalam cangkangnya yang tertutup rapat apabila air surut, melindunginya dari panas ekstrim dan mencegah penguapan berlebih. Adaptasi morfologis pada beberapa spesies dapat dilihat dari beberapa jenis mollusca seperti teritip limpet dan polyplacophora memiliki cangkang hidrodinamik. Adaptasi lainnya adalah penempelan terhadap substrat untuk melawan kekuatan ombak dan arus agar biota tidak ikut terseret, contohnya bentuk suction tube pada bintang laut agar ia bisa

menempel kuat pada substrat, isopoda yang memiliki organ mirip kait yang memungkinkannya untuk bisa bergantung pada rumput laut seperti laminariles/kelp, dan beberapa kerang-kerangan (mussel) yang menempel pada substratnya dengan byssusnya (filamen yang berfungsi merekatkan bivalvia pada substrat). Pada bagian bawah wilayah intertidal terdapat subzona yang hampir permanen terendam oleh air dan kondisi lingkungannya tidak seekstrim subzona diatasnya, yang biasa disebut sebagai Lower Littoral. Pada subzona lower littoral, terjangan ombak tidak besar dan juga tidak terjadi perubahan suhu yang sangat ekstrem karena jarang sekali zona ini terekspos langsung oleh sinar matahari. Pada subzona ini dapat ditemukan berbagai jenis biota, seperti Scaphopoda (keong gading),Crustacea, Cacing policaeta, bivalva, Donax sp. Mytilus edulis,abalon, anemon, rumput laut coklat, teritip, chiton, kepiting, alga hijau, hidroid, isopoda, mussel, sculpin, timun laut, lettuce laut, palem laut, bintang laut, bulu babi, udang, siput laut, spon, cacing tuba, dan sebagainya. Biota pada wilayah ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, selain karena keadaan lingkungannya yang cukup stabil, juga karena wilayah ini terjaga dari predator seperti ikan karena ketinggian airnya yang cukup dangkal, dan vegetasi perairan dapat melakukan fotosintesis dengan efektif karena mendapat banyak sinar matahari. c. Zona Subtidal Zona subtidal merupakan bagian terdalam dari zona littoral, dimana dalam zona ini dasar perairan tergenang air secara permanen, dan biasanya memanjang hingga ujung continental shelf, pada kedalaman 200 meter. Pada biologi laut, subtidal merujuk kepada area dimana sinar matahari tembus hingga ke dasar lautan, dimana perairan tidak terlalu dalam dan masih merupakan zona fotik. Area bentik pada zona subtidal lebih stabil daripada zona intertidal dengan temperatur, tekanan air, dan jumlah pencahayaan matahari relatif konstan. Hewan karang / koral lebih banyak hidup pada zona subtidal dibanding pada zona intertidal Biota yang banyak terdapat pada daerah subtidal adalah ikan badut, ikan lepu, ikan barakuda, ikan baronang, botana, Kepe strip delapan, Kepe coklat,kepe monyong zebra, kambingan, Platak asli, Brown Kelly, Brajanata, keling kalong, Kenari biasa, Kerapu layar, Dokter ular bibir merah, Dokter neon, Zebra ekor hitam, Bluester Biasa, Betok , Enhalus acoroides,Halophila ovalis, Halophila minor, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium. (http://adios19.wordpress.com/2011/05/15/)

2.3 Fungsi Pantai Berpasir Tempat beberapa biota meletakkan telurnya Tidak dapat menahan air dengan baik karena sedimennya yang kasar akibatnya lapisan permukannya menjadi kering sampai sedalam beberapa cm di bagian atas pantai yang terbuka terhadap matahari pada saat pasang surut. (scribd.com)

4.2 Pembahasan Daerah pantai berpasir didominasi oleh biota crustacea, Gastropoda, dan Polychaeta. Dari praktikum yang sudah dilakukan, biota crustacea tinggal di daerah supratidal yaitu Amphipoda dan Copepoda. Polychaeta cenderung hidup di daerah intertidal dan gastropoda lebih banyak di daerah subtidal. Copepoda dan amphipoda menempati daerah supratidal, hidup terbenam dan mempunyai dominansi yang rendah.Polychaeta hidup di daerah intertidal dengan hidup terbenam dan memiliki dominansi sedang. Gastropoda juga tinggal di daerah yang berdominansi sedang namun menempati zona subtidal.