Anda di halaman 1dari 8

TUGAS :

# PERMASALAHAN KOTA DAN SOLUSINYA (KOMENTAR) #

Kota adalah suatu daerah yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan. Sebuah kota menjadi semakin komplek dari waktu kewaktu, membawa permasalahan yang khas dari Sabang sampai Merauke. Permasalahan itu antara lain adalah:

1. Permukiman

Ada beberapa masalah perkotaan yang berhubungan dengan permukiman, salah satunya adalah permukiman kumuh (Slum area). Keadaan ini selalu muncul disetiap kota. Hal ini dikarenakan bahwa ada sebagian warga kota yang tidak mempunyai pendapatan yang cukup untuk membeli rumah didaerah pinggiran. Jadi mereka mendirikan rumah-rumah dipinggiran sungai, bawah jembatan layang, maupun yang lainnya. Biasanya, daerah permukiman kumuh dituduh sebagai sarang kriminalitas kota. Masalah lain yang juga berkaitan erat dengan masalah permukiman adalah masalah air dan penataan ruang.

Permasalahan air yang terjadi disebabkan karena kerusakan lingkungan di wilayah Bandung Utara seperti kerusakan hutan sebagai wilayah tangkapan air, berubahnya fungsi lahan konservasi menjadi peruntukan lain yang tidak mendukung fungsi konservasi. Akibat yang ditimbulkan adalah : Pertama Masalah kelangkaan air baku, kedua Menurunnya permukaan air tanah, ketiga Menurunnya kualitas air tanah, keempat, Banjir, dan kelima Erosi dan sedimentasi. Konsep dekonsentrasi planologis dengan terciptanya kota-kota kecil disekitar Kota Bandung dengan fungsi tertentu dan diarahkan sebagai Counter Magnet tidaklah mudah. Bahkan cenderung semakin menyatu. Tidak jelasnya struktur perkotaan berakibat dengan semakin beratnya kota sebagai inti untuk menanggung aktivitas penduduk

Komentar : Ada beberapa solusi mengenai permasalahan permukiman, salah satunya upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah. Banyak hal yang telah digagas oleh pemerintah. Salah satunya adalah rusunawa dengan tata ruang yang sederhana dan layak huni dengan fasilitas yang cukup memadai. Rumah susun ini dibangun agar masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh lebih terkontrol. Tapi terkadang pengguna rusun ini tidak tepat sasaran. Seperti contoh di Jogja, rusunawa di code banyak yang disewa oleh orang-orang dari Bantul.

Pemerintah mengatakan akan memprioritaskan pemecahan masalah permukiman yang dihadapi kota-kota seperti Ibu Kota Jakarta ke dalam master plan pembangunan ekonomi Indonesia yang penyusunannya dijadwalkan selesai secara cepat dan tepat.

Dalam master plan nanti pemerintah juga mengatakan akan menargetkan terbangunnya konektivitas antar pulau di seluruh kawasan Indonesia pada 15 tahun mendatang.

Khusus untuk kawasan luar Pulau Jawa, lanjut dia, pemerintah Indonesia akan mengupayakan pembangunan ekonomi yang seimbang antara kota dan desa melalui pembentukan klaster industri. Namun, kita kembali pada pelaksanaannya nanti.

2. Sampah

Masalah sampah menjadi masalah yang klasik. Kota dengan penduduk yang banyak menghasilkan sampah yang banyak pula setiap harinya. Terkadang daya tampung kota tidak mencukupi untuk menampung sampah. Kebiasaan masyarakat membuang sampah disungai juga merupakan sebuah masalah yang serius. Hal ini bisa menyebabkan sungai mampet, menjadi sarang penyakit, dan tidak mampu mengalirkan air saat hujan tiba, yang akhirnya akan meluapnya air sungai.

Komentar : Sistem pembuangan sampah yang baik mutlak dimiliki oleh sebuah kota. Hal ini sungguh bermanfaat bagi kesehatan fisik dan psikologis warganya. Kota yang bersih dan sehat tentu saja lebih produktif dan menyenangkan daripada kota kumuh yang dipenuhi sampah.

Seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, harus menjaga kebersihan terutama dari hal yang bernama sampah, karena sampah bukan masalah sepele yang bisa terus kita abaikan. Lingkungan pun ingin diperhatikan. Lingkungan ingin lepas dari jerat-jerat sampah. Jangan sampai sebuah kota benar-benar menjadi kota sampah. Yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran masyarakat mengenai masalah sampah. Caranya, bisa dengan penyuluhan yang dilakukan oleh beberapa bahkan seluruh mahasiswa sebagai agent of change (pembawa perubahan) dan pemerintah setempat.

Disamping itu, perlu ditanamkan pada diri masyarakat agar tidak membiasakan diri membuang sampah di sungai. Masyarakat juga dapat diarahkan dalam hal pengolahan sampah plastik dengan cara mendaur ulang (recycle) menjadi satu bahan yang berguna. Sebab sampah jenis ini sangat sulit terurai, bahkan membutuhkan waktu sampai seribu tahun untuk terurai.

3. Transportasi

Pertambahan penduduk dan infra struktur perkonomian yang semakin terus meningkat menyebabkan pergerakan lalu lintas semakin membesar. Kondisi ini tidak diantisipasi dengan prasarana yang ada terutama jaringan jalan. Indikasi seriusnya masalah ini adalah : a. Kapasitas jalan menurun (perbandingan panjang jalan dan jumlah kendaraan sudah tidak proposional.) b. Pelayanan angkutan umum belum memadai, seharusnya angkutan umum terpadu sudah berjalan, serta lebih banyak menggunakan bus. c. Pengaturan lalu lintas yang tidak berjalan dengan baik.

d. Sarana parkir yang kurang , dan trotoar yang menjadi tempat PKL. Salah satu kota yang terkenal memiliki masalah dalam hal transportasi adalah kota Bandung. Semakin lama masalah transportasi di kota Bandung tampaknya semakin parah. Jumlah kendaraan semakin bertambah, sementara lebar jalan tidak mampu mengatasi pertambahan jumlah kendaraan yang demikian cepat. Kemacetan terutama terjadi pada jam-jam sibuk (rusu'h hours) pada pagi ketika orang memulai aktivitas dan pergi ke sekolah, kantor, pasar, dsb.

Komentar : Kota luas dengan penduduk yang padat, memerlukan sistem transportasi yang baik pula. Hal ini dikarenakan tren kota yang menempatkan daerah permukiman di pinggir kota dan perkantoran di pusat kota. Setiap pagi dan petang arus lalu lintas menjadi sangat padat. Jika transportasi tidak baik maka akan terjadi kemacetan lalu lintas. Kemacetan tersebut merupakan pemborosan bbm dan waktu.

Sebuah kota yang baik haruslah didukung oleh transportasi massal yang canggih, murah, dan mudah dijangkau sampai pinggiran kota. Dengan adanya transportasi yang baik maka, kemacetan dapat dicegah, bbm bisa dihemat, waktu yang terbuang oleh kemacetan bisa berkurang (jam produktif jadi lebih banyak), perekonomian kota pun menjadi lancar.

Permasalahan kota banyak bermuara pada perilaku manusia. Jadi kita perbaiki dulu itu sebelum mencoba alternatif baru yang mungkin membuat kota ini tambah ruwet. Perlu keoptimisan bahwa penataan angkot, terutama perilaku dan tempat berhenti akan membuat sistem transportasi kota ini berubah secara signifikan tanpa khawatir ada demo.

Pertama, kota-kota seperti Bandung perlu angkutan massal yang bagus. Terlalu banyak angkot yang suka-suka berhenti di jalan yang jelas memberikan masalah tambahan bagi transportasi kota. Apalagi jika tidak ada lokasi khusus untuk pemberhentian angkot tersebut. Tidak menutup

kemungkinan, kota-kota tersebut perlu bis-bis ukuran tiga perempat, mungkin seperti ukuran bis Antapani-KPAD (yang inipun sudah tua armadanya) yang lebih diperbanyak.

Kedua, komplek-komplek perumahan bagusnya dilengkapi dengan berbagai sarana-prasana dan fasilitas publik yang mencukupi, dari pasar, toko atau super market, sarana pendidikan, taman untuk rekreasi dan hiburan, rumah sakit atau klinik, dan lainnya, sehingga orang tidak harus keluar komplek perumahan untuk mencari berbagai kebutuhannya.

4. Kepadatan Penduduk

Bapak M. Danil Daud menyatakan masalah yang timbul dan mengemuka seputar masalah perkotaan dan tata kota. Beliau mengatakan bahwa kota-kota besar di Dunia sudah terlalu padat. Kepadatan itu terjadi karena pertumbuhan populasi penduduk dunia yang semakin meningkat secara signifikan dari waktu ke waktu. Meningkatnya populasi dunia adalah hal yang wajar terjadi dari dulu, peningkatannya pun berbanding lurus dengan deret ukur. Jumlah dari penduduk dunia yang terus bertambah ini juga terjadi karena angka natalitas selalu lebih besar dari angka mortalitas.

Perkembangan kota-kota yang semakin tak teratur pun terjadi bukan hanya semata-mata karena pertumbuhan populasi yang besar. Kecenderungan angka urbanisasi lebih besar dari angka reurbanisasi. Dengan kata lain, orang lebih senang melakukan migrasi ke kota daripada ke luar kota. Mungkin hal ini muncul karena adanya pandangan bahwa kota dapat menyediakan kehidupan yang lebih baik dari pada tinggal di pedesaan. Memang semua fasilitas kehidupan tersedia di kota. Dan terjadilah berbagai efek dari memadatnya kota tersebut. Kota menjadi semakin tidak teratur, baik dilihat secara fisik maupun dari kacamata kehidupan sosial yang terjadi.

Permasalahan ini sebetulnya tidak timbul baru-baru ini. Pada awal abad ke 20, ketika Revolusi Industri bergulir, orang mulai menyadari masalah yang timbul pada kota-kota modern di Eropa. Populasi meningkat dengan cepat karena era mesin menyebabkan pabrik-pabrik yang ada di kota

memerlukan buruh dalam jumlah besar. Muncul beberapa teori perencanaan kota dari Arsitekarsitek terkenal saat itu. Le Corbusier menyodorkan The Radiant City, Ebenezer Howard dengan The Garden City, dan Frank Lloyd Wright dengan Broadacre City-nya. Ketiganya mencoba mengatasi masalah perkotaan yang ada dengan berdasarkan idealisme mereka sendiri. Ide-ide tentang perencanaan kota yang muncul kemudian lebih merupakan perkembangan atau kombinasi dari konsep yang di bawa oleh ketiga arsitek besar tadi.

Sekarang coba kita meninjau masalah yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan masalah yang terjadi pada kota-kota besar di dunia. Seberapa besarkah relevansi antara masalah perkembangan kota di dunia dengan yang ada di Indonesia. Ternyata, justeru masalah yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia lebih kompleks dan lebih besar intensitasnya dari pandangan orang selama ini terhadap masalah urban internasional. Kasus perkotaan yang terjadi di Indonesia, secara umum, mirip dengan apa yang terjadi di dunia. Yang menjadikannya berbeda adalah karena kondisi sosial kultural yang ada di Indonesia memiliki kekhususan tersendiri.

Sentralisasi menjadi tema sentral yang mengemuka. Pemusatan penduduk pada satu daerah urban menimbulkan masalah-masalah yang cukup pelik. Indonesia dengan penduduk yang terbesar kelima di dunia, mayoritas penduduknya tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau terkecil dari lima pulau utama Kepulauan Indonesia.

Permasalahan yang terjadi karena pemadatan penduduk beraneka ragam. Dimulai dari masalah fisik sampai masalah sosial. Masalah fisik yang terjadi contohnya seperti munculnya permukiman kumuh, pencemaran udara, sulitnya air bersih, menumpuknya sampah, kemacetan yang terjadi hampir setiap detik, dan segudang permasalahan lainnya. Masalah sosial yang muncul tidak kalah peliknya dengan masalah fisik. Deviasi yang terlalu besar dari masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan, status sosial, kekayaan, dll menimbulkan permasalahan seperti pengangguran, kriminalitas, segregasi sosial, dan masalah lainnya yang diakibatkan ketimpangan yang ada.

Permasalahan utama kependudukan dari segi kualitas dan kuantitas akan langsung menyangkut pada perkembangan kota yang diindikasi dengan : a. Meluasnya kawasan perkotaan yang mengarah pada koridor Barat-Timur. b. Meluasnya kawasan perkotaan yang mengancam daerah konservasi Utara-Selatan. c. Berkembangnya kawasan perkotaan di kota-kota tertentu seperti Cimahi, Batu Jajar, Cicalengka, Cikeruh, Cimanggung dll. d. Meningkatnya pertumbuhan dan konsentrasi penduduk di bagian timur Bandung dan sebaliknya terjadi penurunan di kota lama. e. Meningkatnya kepadatan penduduk di perbatasan kota inti dan pinggiran.

Dengan bertambahnya penduduk dan kegiatan kota lainnya menimbulkan masalah perkotaan dan sudah menjadi masalah regional seperti : Pengelolaan Limbah padat, Udara, serta Penduduk Komuter.

Komentar : Tidak menutup kemungkinan kita dapat belajar dari kesuksesan China. Setidaknya, dari segi jumlah penduduk dan luas lahan, kita sedikit banyak mempunyai kesamaan. Bahkan kita diuntungkan dengan kesuburan tanah yang lebih baik. Belum lagi, potensi laut kita yang menjadi nilai tambah tersendiri. Sudah saatnya rakyat Indonesia melakukan trasnformasi paradigma bahwa kekuatan kita (SDA) sebetulnya belum dioptimalkan. Salah satu cara untuk mewujudkan pandayagunaan SDA adalah dengan merencanakan program desentralisasi. Pertama harus dipahami bahwa desentralisasi hanya bisa diwujudkan jika pemerintah dapat menjamin bahwa dengan desentralisasi, taraf kehidupan masyarakat tidak akan lebih rendah dari sebelumnya. Pemerintah harus bisa memastikan bahwa kualitas kehidupan masyarakat sebagai objek desentralisasi dapat dicapai dengan baik (bahkan lebih baik jika dibandingkan tetap tinggal di daerah urban).

Dalam hal ini perlu kesiapan sarana dan prasarana daerah, kaitannya kepada pemerintah daerah juga manajemen dan operasionalnya harus rapi dan tertata dengan baik, misalnya dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan sebagai petani, sehingga orang tidak bertumpuk di kota tetapi kembali ke desa. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya dapat menyadarkan masyarakat untuk bisa membangun daerahnya untuk kepentingan bangsa. Bukannya pro terhadap konsep Broadacre-nya Frank Lloyd Wright, yang mengutamakan desentralisasi secara ekstrem, tetapi lebih kepada menyesuaikan teori perencanaan kota yang ada terhadap konteks Indonesia. Dan penyebaran kembali (desentralisasi) adalah satu solusi. Pada prakteknya, peran pemerintah diharapkan lebih optimal untuk secara adil memberikan kesejahteraan pada penduduk kota dan penduduk desa dan kesemuanya itu bergantung dari pelaksanaan.

Disamping itu, salah satu cara yang juga bermanfaat untuk mencegah ledakan jumlah penduduk adalah dengan melakukan penyuluhan mengenai program KB terutama bagi rakyat kecil yang tidak menutup kemungkinan nantinya akan kewalahan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.